Posted on: January 18, 2010 Posted by: Wijaya Kusumah Comments: 3

Anak Berbakat dan Sistem Pendidikan Umum Kita

Anak Berbakat dan Sistem Pendidikan Kita
Anak Berbakat dan Sistem Pendidikan Kita

Anak Berbakat dan Sistem Pendidikan Umum Kita

Oleh: Sis12

http://edukasi.kompasiana.com/2010/01/18/anak-berbakat-dan-sistem-pendidikan-umum-kita/

Anak saya yang sambil kuliah menyempatkan diri mengajar sebagai guru ‘ekskul’ di sebuah sekolah swasta suatu hari secara sambil lalu bercerita kepada saya, bahwa salah seorang muridnya (SMA) memberinya file lagu-lagu yang pernah dimainkannya dalam sebuah konser musik. File lagu-lagu tersebut diberikannya sebagai rasa terima kasih karena sering diajar “bahasa gaul” dalam percakapan bahasa Inggris yang sering ditanyakannya. Yang membuat saya terkejut adalah, ternyata konser musik yang dimaksudkannya adalah: Java Jazz – Jakarta dan berbagai pagelaran Jazz International di berbagai belahan dunia!

Tentu saja saya terkejut, karena konser musik yang sering diikutinya itu bukan kelas ecek-ecek, tapi kelas dunia. Saya segera mendengarkan rekaman tersebut, dan ternyata tak salah dugaan saya, ia seorang pianis handal! Ketika saya telusuri lebih jauh lagi, maka dugaan saya yang lain juga tak salah: ia anak salah seorang pemusik jazz Indonesia yang ternama sekaliber Indra Lesmana. Karena insting saya, maka dengan segera saya tanyakan kepada anak saya bagaimana prestasi anak tersebut di sekolah. Dan sekali lagi, dugaan saya tak meleset: Ia banyak ditegur kepala sekolah karena sering absen, bahkan terakhir ijin bolosnya sering tak dikabulkan karena nilai-nilai pelajarannya amburadul! Hmmm….

“Hmmm…” yang saya gumamkan itu sangat banyak artinya. Perasaan saya yang paling sering muncul sejak saya masih muda adalah pemberontakan terhadap sistem pendidikan umum. Saya banyak menyimpan “rasa marah” di dalamnya, marah melihat sudah begitu banyak korban di dalamnya, yang antara lain adalah pengangguran orang-orang sekolahan yang terus bertambah dan bertebaran di seluruh Indonesia dan begitu banyak anak-anak kreatif yang menderita di dalamnya. Perasaan dan pikiran saya itu pernah saya tuliskan disini http://edukasi.kompasiana.com/2009/02/26/aneka-tips-negara-sehat-2/ 

Tetapi yang saya hadapi, Sistem Pendidikan Umum itu, adalah sosok raksasa dungu yang amat kuat daya cengkeramnya, yang puluhan tahun sudah membuat banyak orang pintar tak berdaya dan kehilangan akal sehatnya. Saya seperti Goliat kecil yang memukuli raksasa dengan tangan kosong, tak punya katapel sakti untuk melontarkan pelor ke kepalanya. Lebih sial lagi, malahan saya sendiri hampir dicengkeramnya, untung nasib saya agak lebih baik.

Saya juga punya anak berbakat yang sewaktu SMA pernah diijinkan kepala sekolah hanya sekolah satu hari dalam seminggu, hari Sabtu saja! Anak ini perlu latihan khusus, oleh pelatih khusus dan dengan jadwal waktu yang khusus pula. Dia juga sering harus bertanding ke luar kota bahkan ke luar negeri. Ia jelas tak bisa diikat dalam rutinitas sekolah umum. Ketika kami pamit kepada kepala sekolah untuk berhenti sekolah dulu, ia terperanjat! Ia sadar sekali, ia harus mengambil keputusan dan tak bisa mengelak lagi, dan keputusan itu amat berat.

Anak saya sangat cemerlang nilai-nilai pelajarannya di sekolah, biarpun dia sangat minim belajar. Dia termasuk anak jenius. Jangan salah, saya sama sekali tak pernah memaksanya harus belajar. Dia menyelesaikannya sendiri (hanya kadang-kadang saja saya membantu) dengan amat sangat cepat dan hasilnya mengagumkan. Dia selalu masuk ranking 3 besar di kelasnya meskipun dengan belajar seadanya. Saya teringat, bahwa di usia 1,5 tahun saja dia bisa menghafal puluhan lagu dan menyanyikannya dengan suara cadelnya; dia bisa menyelesaikan sebuah permainan mengatur pasel untuk anak belasan tahun dengan cepat sekali sementara dia sendiri belum bisa menempelkannya pada tempatnya (menyuruh saya untuk menempelkannya sambil menunjuk tempatnya). Dengan kemampuan semacam itu dan berbagai prestasi tingkat daerah serta nasional yang dicapainya, saya tahu sekali bagaimana beratnya hati kepala sekolah tersebut untuk memutuskan permintaan kami untuk berhenti sekolah sementara, apalagi dia juga seorang Suster yang tekun hidup dalam biara dan mendalami misi pelayanan.

Salah satu alasan anak saya ingin berhenti sekolah sementara adalah karena merasa tidak enak dengan teman-temannya ketika harus mengerjakan tugas kelompok. Dia tak bisa diikat dengan waktu hadir, dan ketika harus berhubungan dengan hal itu, ia merasa tersiksa dan jadwalnya kacau, pikirannya tak tenang. Sebagai orang tua saya tahu pasti masalahnya. Tetapi saya sudah sedari muda bersikap kritis terhadap raksasa yang bernama Pendidikan Umum itu, sehingga saya tak mau sujud menyembahnya. Saya dan anak saya memilih jalan sendiri.

Anak saya menangis di hadapan Suster ketika mengambil keputusan itu. Saya memakluminya, hatinya sedang gundah. Keputusan itu datang dari dia sendiri dan saya dukung dengan pertimbangan matang, bukan saya memaksa dia. Saya sama sekali bukan orang tua otoriter, jauh dari itu. Saya hanya memposisikan diri sebagai pengarah dan pembimbing. Anak saya ini bukan milik saya. Saya tak ingin memperlakukannya seperti tanah liat yang bisa saya bentuk sesuka hati saya. Saya sangat menghargai kemerdekaannya, pilihan-pilihannya, dan saya hanya berusaha memperlebar cakrawala pemikirannya dan menjaga arahnya agar tidak kacau. Dia punya jalan sendiri, dan itu adalah hasil kerja-sama antara dia, kami orang tuanya, lingkungannya dan Tuhan di atas sana.

Cukup lama kami menunggu jawaban dari Suster kepala sekolah. Dia menanyakan semua persoalan yang kami hadapi dan kami menerangkan sejelas-jelasnya. Pertanyaan selanjutnya kepada anak saya: “Kalau begitu, hari apa kamu bisa hadir di sekolah?” Dan sesuai jadwal, anak saya menjawab: “Hanya hari Sabtu yang pasti bisa, selebihnya lebih banyak tak bisa, demikian juga tugas-tugas kelompok.”

Keputusan akhir Suster itu sungguh tak kami sangka: “Baiklah, saya percaya padamu, percaya juga dengan jalanmu karena sudah kamu tunjukkan semuanya kepada kami. Kamu tak perlu berhenti sekolah. Saya mengijinkan kamu hanya sekolah pada hari Sabtu saja dan sebisanya datanglah di lain hari ketika kamu ada waktu, tak tepat waktu juga tak apa-apa. Aturlah sendiri bagaimana kamu harus menyelesaikan pelajaran sekolah tanpa dibimbing guru yang kami sediakan setiap hari. Ada banyak guru di luar sana. Kalian, orang tua dan anak, bebas mengaturnya sendiri dan kami akan tetap mengakui anak ini sebagai murid kami yang layak mengikuti semua ulangan susulan dan ujian akhir. Saya akan menjelaskannya kepada semua guru dan silakan ambil jalan kalian, kami mendukung. Hanya ini yang bisa saya lakukan, kami belum punya program khusus untuk menghadapi kasus-kasus seperti ini. Yang saya lakukan adalah keberpihakan saya kepada inti pendidikan. Kepada siapa lagi pendidikan harus mengabdi jika bukan kepada kemanusiaan? Bukan manusia yang harus mengabdi kepada sistem pendidikan, tetapi sistem pendidikan yang harus mengabdi kepada manusia dan kemanusiaannya.”

Sejenak saya tak bisa berkata apa-apa. Hampir saja saya menitikkan air mata kalau tidak saya tahan sekuat hati. Sikap dan tindakan Suster itu seolah cermin diri saya sendiri. Kami telah berhasil membuat raksasa yang bernama Sistem Pendidikan Umum itu tunduk. Tetapi kami belum bisa membuatnya tunduk dalam skala yang lebih luas, dalam skala nasional. Secara sadar saya akan terus berusaha melakukannya. Saya tak mau sekedar mempertanyakan, saya berusaha mereformasinya dengan kemampuan saya yang kecil ini. Selalu muncul rasa marah di hati saya melihat korban terus terkapar dimana-mana oleh kedunguan yang tak terkirakan. Kapan kebodohan harus dilawan dan disingkirkan, itu adalah masalah krusial Negara ini.

Saya tak berniat menjadikan sekolah dengan tujuan akhir memproduksi tenaga kerja, tetapi lebih menitik-beratkan kepada tempat untuk menemukan keberanian mengenali kemampuan diri sendiri dan sebagai tempat yang sebanyak-banyaknya menyediakan sarana untuk meningkatkan kemampuan intelektual, ilmu pengetahuan, bahasa dan kreatifitas. Antara ilmu dan bekal untuk usaha mempertahankan hidup harus berjalan bersamaan. Belajar sampai suntuk di sekolah tetapi akhirnya sia-sia semuanya adalah sesuatu yang mubazir dan pasti ada yang salah di dalam pemilihan jenjang pendidikannya.

Kadang saya memaklumi begitu banyak orang yang kalah oleh tekanan yang demikian besarnya. Tapi para guru tidak boleh terus kalah dan jadi budak raksasa dungu itu. Saya butuh seorang menteri dan presiden yang berani melihat kenyataan. Saya sedih kalau tingkatan mereka hanya seorang pekerja atau malahan celangap tak bisa apa-apa. Saya butuh seorang pendobrak di tingkat atas. Saya tak hendak melihat status pendidikan formal seorang pemimpin, saya butuh komitmennya terhadap kebenaran. Komitmen itu menyangkut konsep dan tindakan yang harus diambil untuk melawan raksasa dungu yang telah menyengsarakan banyak orang itu.

Sampai hari ini saya masih sangat meyakini, bahwa konsep pendidikan dasar (SD+SMP) yang total hanya 7 tahun (bukan 9 tahun) seperti yang saya usulkan di link tulisan saya di atas (http://edukasi.kompasiana.com/2009/02/26/aneka-tips-negara-sehat-2/)  dan penyederhanaan kurikulum di tingkat Sekolah Dasar (yang baru) adalah cara terbaik pertama yang bisa ditempuh oleh Negara. Pemendekan dan penyederhanaan itu akan membawa dampak positip yang amat besar dalam banyak segi, termasuk di dalamnya memberi kesempatan para anak berbakat untuk lebih berkembang sesuai dengan pembawaannya di sekolah lanjutan.

Langkah berikutnya adalah memperbanyak pemecahan jurusan-jurusan di berbagai sekolah lanjutan yang berdurasi sekitar 2, 3 atau 4 tahun sesuai dengan bidangnya masing-masing. Disini anak-anak akan disiapkan secara lebih khusus untuk menjadi spesial. Akan semakin banyak guru-guru berkemampuan spesial yang akan mengisi tempat ini, dan tidak usah takut untuk memulainya meskipun jelas masih banyak kendalanya. Tidak ada program yang semuanya akan berjalan langsung mulus, tetapi arah yang benar dari sebuah program pendidikan pasti lebih menghasilkan berkah daripada arah yang salah.

Langkah berikutnya lagi adalah menata Universitas agar lebih professional dan tidak bertele-tele karena sudah didukung oleh sekolah kejuruan di bawahnya. Dan yang paling penting adalah membuat suatu perlindungan profesi agar bidang-bidang yang seharusnya dikerjakan oleh para professional tidak lagi bisa dikerjakan oleh sembarang orang yang tidak memiliki ijin untuk itu. Profesionalitas ini akan melindungi mutu pekerjaan dan mengarah kepada standar gaji yang layak untuk para kaum professional tersebut, sehingga tidak sia-sialah mereka belajar begitu lama. Pada akhirnya para kaum professional ini juga harus lebih banyak dimanfaatkan untuk memangku jabatan di  Badan Usaha Milik Negara dan Pemerintahan, sehingga pemikirannya diharapkan bisa mempercepat datangnya kesejahteraan bagi seluruh rakyat.

Sekian, mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat dan dibaca oleh orang-orang yang bersangkutan dengannya. Salam.

 Note:

 

Saya sertakan juga postingan saya ini ( http://edukasi.kompasiana.com/2009/04/23/siswa-brilian-hijrah-ke-luar-negeri-bukan-salah-mereka/ ) untuk melengkapi tulisan saya tentang dunia pendidikan kita.

 

 

**************

 

Categories:

3 People reacted on this

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.