Posted on: January 17, 2010 Posted by: Wijaya Kusumah Comments: 2

Kenapa Aku Cinta Bekasi?

Kenapa Aku Cinta Bekasi?

Kenapa aku Cinta bekasi? Pertanyaan itulah yang tiba-tiba hinggap dalam alam pikiranku. Nggak tahu kenapa, tiba-tiba kuingin menuliskan tentang Bekasi yang aku cintai ini. Bukan karena aku tinggal di sini, tetapi aku merasakan betapa Bekasi itu sebuah kota yang unik, kota yang wilayahnya masuk dalam kabupaten Bekasi dan satunya lagi kotamadya Bekasi. Artinya bicara soal Bekasi, maka tak lepas dari kepemimpinan Walikota Bekasi yang saat ini dijabat oleh Pak Muchtar Muhammad dan Bupati Bekasi yang dijabat oleh Pak Sa’duddin.

Aku masih ingat, ketika pertama kali pindah ke Bekasi. Waktu itu tahun 1983. Bekasi belum seperti sekarang ini. Banyak orang bilang kalau bekasi itu adalah kota dimana “jin buang anak”. Tol Cikampek belum diresmikan. Kami masih melewati kalimalang kalau mau ke rumah baruku di Bekasi. Itulah satu-satunya jalan yang saya ketahui bila ingin ke rumahku di Jatibening, Bekasi.

Waktu itu, masih banyak pohon sawo, kecapi, rambutan, dan nangka ada di sini. saat itu aku menganggap kalau Bekasi itu kota pohon. Sebab banyak saya temui pohon besar di sana-sini. Belum lagi kalau melihat kalimalang yang airnya lebih bagus warnanya daripada air sungai di Jakarta yang bau dan hitam itu. Melihat kalimalang yang tenang, membuat saya merasa nyaman berada di Bekasi ini. Membuat para petani merasakan benar pentingnya air untuk pertanian. Saya masih melihat masih banyak sawah berada di sekitar kalimalang.

Walaupun aku pendatang baru di kota ini dan bukan penduduk asli, tapi aku langsung cinta dengan kota Bekasi. Aku merasa nyaman tinggal di Bekasi. Sampai-sampai ketika aku menikah, aku membeli rumah di Bekasi juga. Cuma kalau yang ini namanya BSD, Bekasi Sonoan Dikit maksudnya alias sudah masuk wilayah Tambun dan Cibitung.hehehhehe.

Mulai tahun 1998, aku menjadi warga cibitung, tepatnya di Bekasi Regency I, Wanasari Cibitung. Sepuluh tahun aku dan keluargaku tinggal di sana. Merasakan benar kemacetan yang ada di sepanjang jalan menuju tempat kerjaku di Rawamangun. Menjadi guru di  sekolah swasta favorit yang ada di Jakarta. Sekitar 35 km dari rumah menuju sekolah setiap harinya aku tempuh, dan kalau bolak baik kawan bisa membayangkan, aku menempuh 70 km setiap harinya. Dari situlah aku menjelajahi dua propinsi sekaligus, propinsi Jawa Barat, dan DKI Jakarta. Antar kota, antar propinsi.

Cukup jauh juga setiap harinya aku menempuh perjalanan. Mulai dari pasar induk cibitung sampai pasar tambun, terus menuju terminal bekasi. Dari terminal terus ke pasar kranji, dan lalu berbelok melewati stasiun Cakung. Dari cakung aku menuju stasiun Pondok Kopi dan terus sampai buaran menuju arah kawasan industri pulogadung, lalu menuju ke jalan pemuda dan sampailah aku di sekolah. Tempat pengabdianku selama ini.

Satu setengah jam kutempuh perjalanan setiap berangkat sekolah. Bisa kau bayangkan kawan, kalau aku sudah harus berangkat pagi hari selepas sholat subuh, bahkan terkadang aku sholat subuh di stasiun Tambun. Menunggu kereta dari  jawa yang datang pagi-pagi bila aku tak memakai motor.

Tinggal di Bekasi dan bekerja di Jakarta membuatku menjadi pekerja komuter. Hidupku sebenarnya lebih banyak di Jakarta, karena Bekasi hanya tempat untuk tidurku saja, hahahahaha. Makanya jangan heran kalau hari Sabtu atau Minggu dan hari libur, banyak banget orang yang bekerja di Jakarta kumpul di rumahnya masing-masing. Melepas lelah dari pekerjaannya yang jauh di jakarta sana, mencari nafkah untuk anak dan istri.

Akhirnya, harus kuakui kawan kalau aku begitu cinta dengan Bekasi. Begitu banyak kenangan berada di sini. Lain waktu akan kuceritakan kembali kisahku tinggal di Bekasi, dan mengapa aku mencintainya. Masih banyak sebenarnya yang ingin aku ceritakan di postinganku ini. Tentang banyaknya industri, dan mall-mal berdiri. Stasiun kereta api, dan terminal Bekasi yang amburadul penangannya. Sampah yang berserakan dimana-mana. Semakin ramainya perumahan dibangun, dan semakin hebatnya Bekasi dipimpin oleh seorang pemimpin yang mau peduli dengan warganya.

Kapan-kapan kusambung lagi kawan, dan aku harapkan ada komentar dari siapa saja yang membaca ini. Maklumlah, tulisanku ini akan aku ikutkan dalam lomba menulis di blogger bekasi. Kalau aku yang dapat hadiahnya, akan kutraktir kau kawan! Bantu aku komentar di sini ya, please!

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

Tulisan ini ini aku link juga ke sini

Categories:

2 People reacted on this

  1. Salut buat Pak Jay, semoga semakin sukses. Kapan ya saya bisa seperti Pak Jay. Pak Jay, ternyata pernah tinggal di Bekasi Regensi I ya, tepatnya dimana. Dan sekarang tinggal di daerah mana?. Saya kebetulan warga Bekasi Regensi I juga (RT 06 RW 03), sejak tahun 1997-sekarang.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.