Guru Belum Miliki Tradisi Penelitian

MUTU PENDIDIKAN
Guru Belum Miliki Tradisi Penelitian

Kamis, 8 Oktober 2009 | 04:03 WIB

Jakarta, Kompas – Untuk meningkatkan mutu tenaga pendidik dan kualitas pengajaran seharusnya penelitian-penelitian kependidikan digiatkan. Sayangnya, tidak banyak tenaga pendidik yang mampu atau bersedia mengembangkan kemampuan mengajarnya dengan melakukan penelitian.

”Tanpa penelitian kependidikan, tenaga pendidik tidak akan tahu apa yang seharusnya dilakukan,” kata Wakil Dekan Kantor Penelitian Pendidikan Institut Pendidikan Nasional di Nanyang Technological University (NTU) Singapura S Gopinathan seusai upacara inaugurasi Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Kebangkitan Nasional atau Sampoerna School of Education (SSE), Rabu (7/10) di Jakarta.

”Guru harus melihat dirinya sebagai peneliti, harus selalu ingin tahu seluk-beluk mengajar, tahu masalah yang dihadapi siswanya, serta tahu cara meningkatkan motivasi belajar siswanya,” kata Gopinathan.

Penelitian itu pun tidak perlu muluk-muluk. Yang penting, tenaga pendidik tidak boleh kenal lelah mengumpulkan informasi untuk meningkatkan kemampuan mengajar. Meski tidak perlu muluk-muluk, Direktur Ketenagaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Muchlas Samani mengakui, tetap saja tak banyak tenaga pendidik yang tertarik melakukan penelitian kependidikan. Padahal dengan penelitian-penelitian tersebut diharapkan akan muncul berbagai macam ide kreatif dan inovatif dari tenaga pendidik sehingga mutu pendidikan akan meningkat.

”Metode pengajaran harus diubah. Pola pendidikan sudah tak sesuai lagi dengan era teknologi saat ini. Kita perlu model belajar baru untuk kemajuan guru dan siswa,” kata Muchlas.

Prioritaskan pendidikan

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Hukum dan HAM Hafid Abbas mengingatkan pemerintah harus memprioritaskan sektor pendidikan. ”Pengelolaannya juga harus terarah dan profesional,” katanya.

Rektor Universitas Negeri Yogyakarta Rochmat Wahab secara terpisah mengatakan, kesadaran profesional sebagai pendidik yang mesti menjalankan profesinya secara total dan sepenuh hati mesti terus dibangun di dalam diri guru. Dengan kesadaran terhadap tanggung jawab profesinya, setiap guru diharapkan akan terus mendorong dirinya untuk memberikan yang terbaik dalam pendidikan bagi siswa.

”Proses sertifikasi guru dengan penilaian portofolio itu sebenarnya baru menunjukkan performa guru pada masa lalu. Jadi, guru jangan puas dengan cap pendidik bersertifikat. Oleh karena itu, pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kinerja guru harus terus dilakukan,” kata Rochmat.(LUK/ELN)

by

Teacher, Trainer, Writer, Motivator, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, Simposium, Workshop PTK dan TIK, Edupreneurship, Pendidikan Karakter Bangsa, Konsultan manajemen pendidikan, serta Praktisi ICT. Sering diundang di berbagai Seminar, Simposium, dan Workshop sebagai Pembicara/Narasumber di tingkat Nasional. Dirinya telah berkeliling hampir penjuru nusantara, karena menulis. Semua perjalanan itu ia selalu tuliskan di http://kompasiana.com/wijayalabs. Omjay bersedia membantu para guru dalam Karya Tulis Ilmiah (KTI) online, dan beberapa Karya Tulis Ilmiah Omjay selalu masuk final di tingkat Nasional, dan berbagai prestasi telah diraihnya. Untuk melihat foto kegiatannya dapat dilihat dan dibaca di blog http://wijayalabs.wordpress.com Hubungi via SMS : 0815 915 5515/081285134145 atau kirimkan email ke wijayalabs@gmail.com atau klik hubungi omjay yg disediakan dalam blog ini, bila anda membutuhkan omjay sebagai pembicara atau Narasumber.

One thought on “Guru Belum Miliki Tradisi Penelitian

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.