Posted on: May 28, 2009 Posted by: Wijaya Kusumah Comments: 0

Sertifikasi Guru yang Tak Terlupakan

aya kusumah – 27 Mei 2009 – Dibaca 44 Kali –

Diklat Sertifikasi Guru 2008Diklat Sertifikasi Guru 2008

Sebagai guru ada perasaan sedih dan juga ada perasaan bahagia dalam diri saya, bila mendengar kata sertifikasi guru. Perasaan sedih terlihat ketika saya harus mengumpulkan satu persatu sertifikat yang saya dapatkan dulu, merapihkannya satu persatu dalam map untuk ditanda tangani oleh kepala sekolah lalu beberapa bulan kemudian saya dinyatakan tidak lulus sertifikasi guru karena persoalan administrasi.

Begitu tebalnya portofolio saya pada saat itu. Bahkan teman-teman menyangka saya pasti akan lolos murni. Tetapi, ketika saya dinyatakan tidak lulus sertifikasi guru, karena alasan administrasi dimana dokumen portofolio saya dinilai tidak lengkap oleh panitia sertifikasi guru membuat saya sedih dan tertunduk lesu. Betapa semerawutnya proses sertifikasi guru ini. Bagaimana mungkin dokumen yang tebal bisa hilang ditelan awan? Kehilangan dokumen membuat saya dan teman-teman lainnya yang tidak lulus merasa dikecewakan oleh panitia.Coba saja anda bayangkan, mengumpulkan dokumen-dokumen portofolio selama 15 tahun saya mengabdi menjadi guru, tentu bukan suatu pekerjaan yang mudah. Tetapi apa mau di kata, peraturan menteri tentang sertifikasi guru membuat saya harus berjuang untuk lulus. Melalui PLPG (Pendidikan dan Pelatihan Guru)  yang saya ikuti hampir seminggu di Fakultas Teknik UNJ (Universitas Negeri jakarta), dengan perjuangan  yang tak kenal lelah, akhirnya saya lulus juga dan memperoleh sertifikat guru profesional dari rektor UNJ.

Tentu ada kebahagiaan dan kebanggaan. Perjuangan saya tidak sia-sia. Beberapa waktu lalu, danapun turun untuk enam bulan. Jumlahnya hampir sembilan juta. Jumlah yang cukup banyak bagi saya yang berprofesi sebagai seorang guru. Ada kebahagiaan dan rasa syukur menghampiri kami yang mendapatkan uang sertifikasi guru, lalu bagaimana dengan teman-teman kami yang tak mendapatkannya? Tentu ada perasaan sedih, kecewa menyatu jadi satu.

Untuk mengobati rasa sedih, dan kecewa teman-teman, kami yang lulus sertifikasi guru bersama-sama mengumpulkan dana untuk makan bersama dengan semua guru di sekolah yang belum lulus sertifikasi guru. Rasanya tak ada kebahagiaan yang hakiki selain kenikmatan untuk saling berbagi.

Kalau kita belajar ilmu matematika, sembilan juta dikurangi sejuta tentu akan menjadi delapan juta. Tetapi bagi anda yang terbiasa berbagi dan beramal, jumlahnya bukan delapan juta, melainkan menjadi sepuluh juta. Allah akan melipat gandakan uang orang-orang yang membagi penghasilannya untuk kebaikan kepada sesama.

Begitu banyak rezeki yang Allah berikan kepada kami yang telah lulus sertifikasi guru.  Satu persatu, teman-teman kami mendapatkan tawaran job lain selain mengajar di sekolah. Ada yang menjadi pembicara nasional, ada yang menjadi konsultan pendidikan, ada yang menjadi MC profesional, ada yang menjadi perancang pembelajaran, fasilitataor pembuatan bahan ajar, dan masih banyak lagi rezeki yang datang bila kita kreatif setelah lulus sertifikasi guru.

Sertifikasi guru memang menuai pro dan kontra. Saya hanya berharap pemerintah mampu untuk berlaku adil kepada teman-teman guru di seluruh Indonesia. Jangan biarkan mereka-mereka yang seharusnya lulus sertifikasi dan mendapatkan bonus sertifikasi sebagai guru profesional menjadi terlantar dan terdampar hanya karena sistem portofolio yang belum berpihak kepada semua guru. Saya hanya menyarankan alangkah baiknya portofolio diganti menjadi uji kompetensi guru sesuai dengan UU Guru dan Dosen sehingga pemerintah hanya memberikan dana sertifikasi guru hanya kepada guru yang memiliki uji kompetensi yang tinggi.

Sertifikasi guru memang tak terlupakan. Perlu pengorbanan dan perjuangan untuk mendapatkannya. Bagi anda yang belum mendapatkannya, bersabarlah dan kumpulkan terus portofolio anda. Bila anda sudah mendapatkannya, maka bersyukurlah dan berbagilah selalu kepada sesama teman guru, baik pengalaman, maupun pengetahuan. Mari kita tunggu, kebijakan pemerintah tentang sertifikasi guru, apakah akan terus berpihak pada guru atau hanya menjadi proyek pemerintah yang mengorbankan guru sebagai tumbalnya.

Akhirnya, sertifikasi guru akan membuat para guru berjuang dan terus berjuang untuk menjadi insan cendekia harapan ibu pertiwi.  Cerdaskan negeri, walaupun gajimu masih gaji guru “Oemar Bakri”.

Salam Blogger Kompasiana

Categories:

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.