Posted on: March 26, 2009 Posted by: Wijaya Kusumah Comments: 0

Bunga Tak Pernah Bersuara

Membaca tulisan Gede Prama di koran Kompas kemarin, Rabu 25 Maret 2009 sungguh sangat menyejukkan. Ada beberapa kalimat yang membuat saya terhanyut untuk membuat tulisan. Ada bait kalimat yang membuat saya tersadarkan akan sebuah rahasia hidup. RAHASIA HIDUP MANUSIA.

Bunga mekar mewakili keindahan. Namun, seberapa indah pun bunga, beberapa waktu kemudian harus ikhlas menjadi sampah. Dan, baik tatkala diberi sebutan indah maupun sebutan sampah, bunga tidak pernah bicara. Siapa yang hidupnya mengalir sempurna dari bunga (sukses, dipuja) menjadi sampah (gagal, dicerca), kemudian (bila bisa mengolahnya) menjadi bunga lagi, ia sudah membuka salah satu pintu rahasia.

Kalimat ini begitu mendalam dalam perjalanan hidup manusia. Banyak manusia yang hanya mengejar kekayaan dan kekuasaan. Seolah-olah kesuksesan hidup hanya terukur oleh banyaknya harta yang dimiliki dan kewenangan yang tak terbatas. Bukankah kekakayaan dan kekuasaan tak membuat orang bahagia? Bukankah kebahagian itu terletak di hati dan bukan menumpuk di banyaknya harta benda yang dimiliki? Apalagi banyaknya kekuasaan yang berada digengaman? Lalu mengapa begitu banyak orang memperebutkan kursi kekuasaan?

Oh, alangkah indahnya bunga. Ia mekar dan tumbuh menjadi enak dipandang mata. Harum baunya menyegarkan setiap insan yang menghirupnya. Dalam pesta-pesta anak manusia pasti terihat bunga. Dalam dukacita bunga pun menjadi pengiring insan yang meningggalkan dunia fana. Tapi, ia tak pernah bersuara, ia hanya diciptakan untuk memperindah suasana. Suasana hati gembira dan dukapun akan bisa bersamanya. Hanya orang yang arif dan bijaksana yang bisa belajar dari bunga. Bunga mengandung banyak pembelajaran yang hakiki akan kehidupan manusia di alam fana ini. Bunga memang tak berbicara, tapi bunga adalah guru yang tak pernah marah. Menyebarkan keindahan dan memperindah suasana.

Bunga pun siap menjadi sampah. Di buang dan dimasukkan ke dalam tong sampah. Setelah keindahannya dinikmati. Setelah harum wanginya dihirup manusia. ia pun tak bersuara. Ia terus bersiklus di pembuangan dan terus tumbuh kembali di pucuk-pucuk tanaman bunga. ia menjadi pupuk menyatu dengan tanah. Ia mampu menyuburkan tanaman lainnya. Ia ber-reinkarnasi. Seonggok sampah tak berguna, kini muncul kembali berupa keindahan ciptaan Tuhan. Bunga siap di buang, bunga siap dicerca, bunga siap dicaci maki. Lagi-lagi bunga pun tak bersuara. Ia terus bersiklus dan menyebarkan keindahan warna-warni.

Kalau saja para pemimpin negeri ini selalu memancarkan keindahan seperti bunga, tentu akan indahlah warna-warni negeri. Bumi pertiwi pun akan bahagia karena anak negeri mampu saling berbagi. Tak ada caci maki, tak ada saling adu domba. Yang ada hanyalah kasih sayang yang begitu indah, seindah warna-warni bunga yang baru merekah. Mewangi dan segar dihirup harumnya seperti bunga melati. Tak terlihat lagi kepongahan atau kesombongan, yang terlihat hanyalah saling cinta dan mencintai.

Mari kita baca sebagaian tulisan gede Prama berikut ini.

Seorang guru berbisik kepada muridnya: memandanglah seperti langit, bertindaklah seperti ibu pertiwi. Langit memayungi semuanya, ibu pertiwi bertindak ketat mengikuti hukum alam. Bila menanam jagung, buahnya jagung. Kalau memelihara kelapa, buahnya kelapa.

Alangkah indahnya bila pemimpin negeri ini yang terpilih nanti mampu menjadi seperti langit. Memayungi semuanya. Mampu memberikan contoh dan teladan bagi anak negeri. Ibu pertiwi membutuhkan para pemimpin bangsa seperti ini. Mampu menebarkan kebaikan dan kebajikan. Siapa yang menebarkan kebaikan akan berbuah kebaikan, Siapa yang menebarkan kebajikan akan berbuah kebajikan pula. Adakah semua itu menyatu dalam diri kita?

Selamat hari Raya Nyepi dan Tahun Baru Saka 1931

Categories:

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.