BILA GURU MAU MENULIS


bila-guru-mau-menulis.doc Oleh Tabrani Yunis *)  
            Beberapa penulis yang telah berpengalaman, seperti Eka Budianta, pernah mengungkapkan kepada public bahwa menulis itu mudah. Kalau tidak percaya, baca saja bukunya yang berjudul menggebrak dunia mengarang. Bahkan sang penulis yang berambut gondrong, yang menerbitkan sebuah tabloid remaja terkenal di tanah air, Arswendo Atmowiloto, mengatakan bahwa menulis itu gampang. Tidak juga percaya ? Baca saja bukunya Menulis itu gampang. Banyak lagi penulis lain yang selalu memotivasi para remaja, orang tua atau siapa saja untuk menulis. Hernowo, lelaki kelahiran Magelang yang kini menjadi penulis best seller di penerbit MLC yang sangat produktif dalam menuliskan kiat-kiat menulis juga mengatakan menulis itu sangat mudah. Salah satu bukunya yang masih baru adalah Menjadi Guru Yang Mau dan Mampu Membuat Buku. Berbagai kiat atau resep menulis ditawarkan kepada guru. Dalam kata pengantar di buku terbitan MLC itu, Hernowo berpesan berharap” saya ingin para pengajar di seluruh Indonesia dapat menulis buku untuk para muridnya. Saya ingin sekali para pengajar itu dapat memperkaya para muridnya dengan cerita-cerita yang mengasyikkan, ditulis oleh mereka di karya-karya tulis mereka. Hernowo dengan bahasa yang cair itu menyuguhkan cara-cara yang mudah untuk menulis. Namun, mengapa tidak banyak guru yang mau menulis ?         
 
            Banyak bukti untuk menerangkan tentang rendahnya budaya menulis di kalangan guru. Kita tidak perlu membuat indikator terlalu banyak. Cobalah amati buku-buku di perpustakaan atau di toko-toko buku. Hitunglah, berapa banyak buku yang ditulis oleh para guru. Anda membaca surat kabar ? Hitunglah berapa banyak artikel yang ditulis oleh para guru. Pasti jarang sekali. Bukan ? 
 
            Benarkah guru tidak mampu menulis atau tidak terbiasa menulis? Jawabannya pasti bermacam ragam. Namun dalam realitasnya, memang sangat sedikit guru yang menulis. Jangankan untuk menulis di media massa, jurnal atau yang lainnya, untuk membuat karya tulis yang diajukan dalam pengurusan kenaikan pangkat saja, banyak yang tidak bisa. Padahal, guru harus membuat karya tulis kalau mau cepat naik pangkat. Ketidak mampuan ini telah melahirkan sebuah kebohongan baru di dalam diri sebagian guru yang ingin cepat naik pangkat. Caranya banyak, bisa dengan meminta tanaga orang lain, dengan cara membayar dan bahkan bahkan dengan melakukan tindakan pemalsuan. Ini sebuah tindakan memalukan dan merendahkan kredibilitas guru. Padahal, kalau bisa menulis karya tulis sendiri, aktivitas ini adalah sebuah upaya pengembangan diri guru dalam mengekspresikan diri.
Namun sekali lagi, budaya menulis di kalangan guru itu sangat rendah. Idealnya, seorang guru harus mau dan pintar menulis. Mengapa demikian ? 
 
            Dilihat dari perspektif guru sebagai subjek, sebagai praktisi pendidikan para guru memiliki potensi menulis yang sangat besar. Ya, guru sebenarnya memiliki segudang bahan berupa pengalaman pribadi tentang system dan model pembelajaran yang dijalankan. Guru bisa menulis tentang indahnya menjadi guru, atau bisa juga menuliskan soal duka cita menjadi guru. Bisa pula memaparkan tentang sisi-sisi kehidupan guru dan sebagainya. Di pihak lain, sebagai objek, selama ini banyak orang menjadikan guru sebagai bahan perbincangan, sebagai bahan tulisan. Berbagai sorotan dan kritik dilemparkan orang dalam tulisan mengenai profesi guru yang semakin marginal ini. Berbagai keprihatinan terhadap profesi guru yang semakin langka ini, menjadi sejuta bahan untuk ditulis. Sayangnya, tulisan-tulisan mengenai guru, kebanyakan tidak ditulis oleh para guru. Padahal, kalau semua ini ditulis oleh guru, maka penulisan sang guru itu akan menjadi sebuah proses pembelajaran bagi semua orang.         
 
            Betapa banyak hikmah dan keuntungan yang dapat dipetik guru, kalau mereka mau menulis. Keuntungan-keuntungan itu antara lain: *Pertama*, kegiatan menulis adalah sebuah aktivitas yang dapat memberikan motivasi tinggi kepada guru.
Ketika tulisan–tulisan (karya tulis) dipublikasikan di media, kita biasanya sangat senang (fun) serta terdorong untuk menulis lagi. Kita juga merasa bangga (pride) dengan pemuatan itu. Ini sering menjadi motivasi. Nah, bila guru banyak menulis, maka sang guru akan sangat termotivasi bahwakan mendapat nilai tambah (added value) karena bisa digolongkan ke dalam kelompok intelektual. Ini salah satu nilai positifnya. *Kedua,*kegiatan menulis bisa membuat guru menjadi manusia pembelajar (istilah yang dipakai penulis Harefa). Karena kalau guru mau atau akan menulis, ia pasti harus melakukan aktivitas membaca. Membaca dalam arti ril seperti membaca berbagai referensi atau literature dan juga membaca realitas social. Pada proses ini sang guru yang suka menulis akan terbiasa dengan aktivitas belajar mengidentifikasi masalah, belajar menganalisisnya serta mengasah kemampuan mencari solusi. Pembelajaran yang demikian bisa membuat guru menjadi sosok pendidik yang kritis. Kalau ini dilakukan, kesan guru malas belajar akan pupus. *Ketiga*, percaya atau tidak, menulis bisa memberikan keuntungan popularitas. Para penulis yang sering menulis di media massa, biasanya akan dikenal oleh banyak orang. Apalagi kalau ia mampu menyajikan hal-hal yang menarik, pasti para pembaca akan selalu teringat dengan si penulisnya. Guru juga akan bisa memiliki banyak penggemar di bidang ini.
            Sekali lagi, kalau guru mau menulis. “Keempat”, tak dapat dipungkiri bahwa menulis sebenarnya bisa menambah *income*. Tidak percaya ? Coba saja kirim tulisan atau karya tulis ke media. Bila tulisan dimuat, maka kocek akan bertambah. Bagi guru menulis bisa mengatasi kesulitan ekonomi yang dihadapi para guru yang selama ini dirasakan masih rendah tingkat kesejahteraannya. Dan Andai guru mau aktif menulis di media atau menulis buku, performance guru pasti berubah. Hasil menulis di media, bisa lebih besar dibandingkan gaji guru yang diterima setiap bulannya. Tidak percaya ? Silakan coba. *Kelima*, ada nilai tambah dari menulis yang bisa dipetik sang guru. Dengan menulis, guru bisa menambah angka kredit. Kredit ini lebih bergengsi dan jumlahnya lebih besar dari mengajar selama satu semester. Bayangkan saja, satu artikel yang dimuat di media massa, nilai kreditnya 2 point. Kalau guru bisa menulis dengan baik, guru tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk membayar ongkos menulis sebuah karya tulis untuk kenaikan pangkat. Banyak sekali keuntungan menulis bagi guru,kalau guru mau menulis. Betapa sayangnya, kalau guru malas, atau tidak bisa menulis. Padahal, kata Dylan Thomas “Menulislah, karena hanya itu cara untuk membuat dunia tahu apa yang engkau pikirkan”
 
            Agaknya, memang tidak ada kata terlambat bagi para guru untuk mengembangkan kreativitas menulis. Banyak jalan agar para guru bisa menulis. Bukankah para guru sebenarnya memiliki potensi yang besar dalam menulis. Guru memiliki sejuta masalah yang membutuhkan langkah analisis dan solusif ? Bukankah merubah paradigma pembelajaran itu lebih cepat terjadi kalau guru banyak membaca dan kemudian mengekspresikan hasil bacaan itu ke dalam sebuah tulisan, apapun bentuknya. Apakah para guru harus diberikan dorongan ekstra ?        
 
            Wah, alangkah bermakna dan berharganya kalau guru mau berlatih, bertlatih dan berlatih menulis. Betapa terangkatnya martabat guru, kalau guru bisa dan mau menulis. Kalau guru mau menulis,pasti akan banyak anak didik yang b
isa menjadi penulis andalan. Kiranya tidak ada kata terlambat bagi para guru untuk menulis. Yang ada mari mencoba, membangun diri dengan menulis Semoga.          
 
*) Tabrani Yunis (Peminat masalah sosial dan Pendidikan, berdomisili di Banda Aceh)     
Director Center for Community Development and Education (CCDE)          
Jl.
Elang Timur No. 64 Blang Cut – Lueng Bata    
PO. Box 141 Banda Aceh 23001 Indonesia                     
Telp. +62 651 7428446  
Fax. +62 651 26995      
Email.
ccde.aceh@gmail.com    
 

Sumber : http://groups.yahoo.com/group/pendidikan/message/3190

SERTIFIKASI GURU YANG MELELAHKAN


SERTIFIKASI GURU YANG NELELAHKANSenang rasanya karena mendapatkan panggilan untuk mengikuti sertifikasi guru. Namun, perasaan senang itu hanya sebentar. Mengapa? Karena kami harus mengumpulan berkas portofolio untuk sertifikasi hanya dalam dua hari saja. Coba anda bayangkan! Dalam waktu hanya dua hari kami harus mengumpulkan dokumen portofolio yang merupakan kumpulan kinerja selama kami menjadi guru.

Kami mencoba menginventarisasi dokumen portofolio, mulai dari sertifikat sampai dengan modul pembelajaran yang telah kami buat. Di internet tertulis: kelulusan guru dalam program sertifikasi guru nasional akan dititikberatkan pada penilaian portofolio atau riwayat hidup guru tersebut. Jika penilaian portofolio masih dirasa kurang, baru diberi pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan portofolio guru tersebut.Mengumpulkan dokumen portofolio tidak semudah yang kami bayangkan. Perlu kerja keras, kerja cerdas, dan kerja tuntas. Kita sering melupakan hal-hal kecil. Kita letakkan begitu saja sertifikat yang telah kita dapatkan, baik dalam mengikuti seminar maupun pelatihan. Guru belum memiliki kemampuan untuk mengumpulkan berkas portofolionya dengan manajemen yang baik. Alhasil, sistim kebut semalam (SKS) itulah yang sering dikerjakan oleh para sebagian guru. Pusing rasanya mencari dokumen yang kita sendiri lupa meletakkannya. Mulai dari ijazah S1, sertifikat pelatihan, surat-surat tugas, SK pengangkatan guru, rencana pembelajaran dan lain-lain.Portofolio adalah bukti dokumen yang menggambarkan pengalaman berkarya yang dicapai dalam menjalankan tugas profesi sebagai guru dalam interval waktu tertentu. Dokumen ini terkait dengan unsur pengalaman, karya, dan prestasi selama guru yang bersangkutan menjalankan peran sebagai agen pembelajaran (kompetensi kepribadian, pedagogik, profesional, dan sosial). Sertifikasi bagi Guru dalam Jabatan, komponen portofolio meliputi: (1) kualifikasi akademik, (2) pendidikan dan pelatihan, (3) pengalaman mengajar, (4) perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, (5) penilaian dari atasan dan pengawas, (6) prestasi akademik, (7) karya pengembangan profesi, (8) keikutsertaan dalam forum ilmiah, (9) pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan sosial, dan (10) penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan.

Hampir saja saya terjebak dalam memenuhi berkas penilaian portofolio. Teman saya yang menjadi asesor mengingatkan ”guru-guru dalam mengikuti uji sertifikasi jangan terjebak pada upaya memenuhi penilaian portofolio semata. Sebab, penilaian portofolio yang kurang masih bisa diatasi dengan mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat). Untuk memenuhi portofolio jangan sampai guru itu mengada-adakan apa yang tidak ada. Sekarang ini, kesannya banyak guru yang panik. Karena merasa seolah-olah kelengkapan portofolio sebagai satu-satunya jalan untuk lulus”.Saya jadi tertawa geli sendiri kalau ingat itu. Teman-teman yang ikut sertifikasi sudah tidak berkonsentrasi lagi dalam mengajar. Mereka semua mengakui itu dengan jujur. Termasuk saya. Belum banyaknya dokumen yang diperlukan membuat kami panik, dan kepikiran terus, dimana kami menyimpan berkas itu. Belum lagi ijazah yang belum dilegalisir, tanda tangan pengawas, dan lain-lain yang sangat memusingkan. Sertifikasi guru dengan penilaian portofolio telah mengunci pikiran kami. Dalam otak kami adalah bagaimana caranya agar dapat lulus sertifikasi, sehingga tidak perlu lagi ikut diklat. Mulailah kami bergotong royong sesama guru. Kebetulan ada 20 orang disekolah kami yang dipanggil untuk mengikuti sertifikasi. Kami mulai berbagi tugas. Ada yang kebagian mengumpulkan kegiatan-kegiatan pelatihan yang telah dilakukan, mengumpulkan surat tugas,  SK pengangkatan guru sampai mengumpulkan foto dan sertifikat teman-teman yang hilang atau tercecer karena lupa. Semua itu kita lakukan dengan penuh ketekunan, kejujuran, dan keikhlasan.

Kami saling melengkapi, dan tidak mementingkan diri sendiri. Bila dari kami banyak yang lulus, maka kredibilitas sekolah pun akan terangkat. Kami pun sangat bersemangat dalam mengumpulkan berkas. Bahkan sampai menginap di sekolah. Tak ada yang santai. Semua bekerja, dan saling mengingatkan kalau ada diantara kami yang kurang dalam mengumpulkan point yang harus dilampaui agar mendapat nilai 850 sebagai syarat kelulusan.

Sertifikasi guru sungguh melelahkan. Semua mencoba berbagi tugas. Kepala TU pergi ke rumah pengawas untuk meminta tanda tangan.  Kepala sekolah, dengan penuh kesabaran menanda tangani berkas-berkas kami sebagai syarat legalisasi. Ketua MPO (Majelis Pembina Osis) membagikan surat tugas kegiatan. Ketua MPE (Majelis Pembina Ekskul) memberikan surat keterangan bagi guru yang mendampingi siswa dalam berbagai perlombaan. Tak ada yang tertidur pulas. Point demi point kami kumpulkan. Kami baca kembali buku panduan portofolio.                                   Sayangnya, kami lemah dalam pembuatan media pembelajaran dan kurang melakukan kegiatan sosial di luar, karena waktu kami sudah habis di sekolah. Kemampuan menulis karya tulis pun lemah. Dari 20 orang guru itu hanya ada satu orang yang sudah mengikuti lomba karya tulis guru tingkat nasional. Padahal setiap tahun depdiknas melaksanakan lomba karya tulis, baik lomba keberhasilan guru dalam pembelajaran, karya inovasi guru, lomba karya tulis imtak, dan lomba karya tulis untuk siswa akselerasi. Kemampuan guru juga sangat lemah dalam membuat buku. Hanya beberapa guru saja yang membuat sendiri buku pelajarannya. Belum ada diantara kami yang mendapatkan penghargaan sebagai guru teladan tingkat nasional. Kalaupun ada baru tingkat sekolah dimana tempat kami bekerja dan berkarya.                                      Portofolio berfungsi untuk menilai kompetensi guru dalam menjalankan tugas dan perannya sebagai agen pembelajaran. Kompetensi pedagogik dinilai antara lain melalui dokumen kualifikasi akademik, pendidikan dan pelatihan, pengalaman mengajar, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran. Kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial dinilai antara lain melalui dokumen penilaian dari atasan dan pengawas.  Kompetensi profesional dinilai antara lain melalui dokumen kualifikasi akademik, pendidikan dan pelatihan, pengalaman mengajar, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, dan prestasi akademik.                                       .          

Sertifikasi guru memang melelahkan. Tetapi kalau kita sudah menyiapkan diri dari jauh-jauh hari, maka kelelahan itu akan menjadi kegembiraan. Dari teman yang telah lulus sertifikasi di gelombang pertama mengatakan,” perlu waktu enam bulan untuk mengumpulkan berkas-berkas portofolionya”. Sebenarnya masalah sertifikasi itu berakar pada masalah kualitas guru dan kesejahteraan guru. Bila guru berkualitas, maka kesejahteraan pun akan datang menghampirinya.

Dalam bulan Januari 2008, kita berdoa agar lulus dan tertulis di website sertifikasiguru.org. Kalau ternyata tidak lulus, harus siap ikut diklat. Walaupun akhirnya waktu untuk keluarga terkurangi, karena dilakukan pada hari Sabtu-Minggu.Sertifikasi guru sungguh melelahkan. Tapi buat dosen sebagai asesor sangat membahagiakan. Semoga pemerintah kita selalu memperhatikan terus nasib para guru.  Wijaya Kusumah, S.Pd

Guru SMP Labschool Jakarta HP. 08159155515  

Belajar Membuat Blog Bersama Pak Iwan


iwan

iwan

Sore ini saya ditemani pak Iwan, guru komputer /TIK dari SD Perguruan CIkini Jakarta Pusat. Beliau orang yang sangat hebat di bidang komputer. Saya banyak belajar dari beliau. Kalau mau tanya soal photoshop atau soal foto memfoto beliau jagonya. Disain apapun beliau bisa. Terus terang saya sangat senang berteman dengan beliau. Orangnya ramah dan mudah menolong.

 

 


TIPS BAGI SEORANG GURU, DOSEN ATAU TRAINER


Tips buat guruTIPS BAGI SEORANG GURU, DOSEN ATAU TRAINER

Oleh Uwes A.Ch.

Anda seorang guru, dosen atau pelatih? Mungkin, beberapa tips berikut akan bermanfaat bagi Anda. Mari kita lihat!

Tips #1: Kuasai Materi Secara Komprehensif       
Penguasaan materi sanngat esensial untuk dapat melaksanakan tugas mengajar dengan baik dan menarik. Pasalnya kenapa? Ketika suatu ketika saya diminta berbicara tentang Training Needs Assessment oleh suatu lembaga, jujur saya tidak PeDe, walaupun mengetahui tentang training needs assessment. Tapi ketika saya mengajar mahasiswa tentang pengantar teknologi pendidikan, katakanlah. Kepercayaan diri tinggi, karena memang menguasai betul tentang hal tersebut. Jika kita menguasai secara komprehensif, tentu akan mampu memberikan contoh, analogi, ilustrasi yang beragam dan sesuai dengan konteks serta dapat menyesuaikan dengan latar belakang audiens.Coba kalau kita tidak benar-benar menguasai, wauah bakal keringet dingin. Betul, gak? Kunci pertama, menguasai materi.

Tips #2: Libatkan Peserta Secara Aktif      
Ketika saya diminta untuk menjadi pembicara dalam suatu pelatihan, atau mengajar untuk suatu mata kuliah tertentu, hal pertama yang saya pikirkan adalah “Pengalaman belajar (aktifitas belajar) seperti apa saja yang harus saya siapkan agar peserta terlibat aktif.” Memikirkan strategi pembelajaran aktif seperti ini bukan perkara mudah, tapi secara kreatif mutlak kita lakukan atau. Pembelajaran tanpa melibatkan peserta belajar secara aktif, ibarat menabur garam di laut. Bahkan seorang orator ulungpun pada dasarnya telah berusaha mengaktifkan otak audiensya dengan berbagai cara sehingga terpukau (hypnoteaching).
Ada ungkapan mengatakan bahwa, “We can teach fast, but they can forget it much more faster!”. Jadi, upayakan jangan selalu terpaku pada ceramah atau mencekoki informasi saja.

Tips #3: Upayakan untuk Melakukan Interaksi Informal dengan Peserta          
Kadang-kadang guyon, atau berbincang di sela-sela istirahat atau sebelum memulai materi sangat penting untuk mencairkan suasana. Dan tidak hanya itu, akan membangkitkan motivasi dan keterlibatan peserta dalam pembelajaran. Jangan sampai, sudah datang terlambat, langsung bicara, “Baik Bapak dan ibu sekalian, sesi ini kita akan ,……………”. Basa-basi, kalau perlu dengan guyon terutama diawal-awal memulai pembicaraan biasanya sangat ampuh. Saya biasa menyiapkan “ice breaker” yang lucu sebelum memulai pelatihan atau perkuliahan.

Tips #4: Beri Kesempatan Peserta Kewenangan dan Tanggung Jawab atas Belajarnya
Peserta akan termotivasi jika mereka diberi kewenangan untuk menentukan sendiri cara belajarnya. Saya, biasanya membangun komitmen atau aturan bersama sebelum memulai pelatihan atau perkuliahan. Dalam membangun komitmen atau aturan bersama ini, dibahas bebagai hal yang harus dilakukan dan apa yang tidak harus dilakukan, dimana keputusannya diambil bersama. Misalnya, bentuk tugas akhir mau seperti apa, apakah temanya bebas, atau tertentu dan lain-lain. Atau selama perkuliahan HandPhone harus seperti apa, dan lain-lain. Ternyata teknik seperti ini walaupun tidak ada hukuman, tapi karena disepakati bersama dan menjadi komitmen bersama akan sangat membantu, dengan catatan konsisten dilaksanakan bersama. Tentu saja ini adalah salah satu contoh upaya memberikan kewenangan kendali belajar kepada mereka.

Tips #5: Yakini Bahwa Manusia Belajar dengan Cara yang Berbeda Satu Sama lain
Dengan demikian, jangan perlakukan semua peserta dengan cara yang sama. Implikasinya adalah laksanakan tips 2 dan 4 di atas.

Tips #6: Yakinkan Peserta Bahwa Mereka Mampu          
Mempersepsi sejak awal bahwa semua peserta atau mahasiswa kita adalah mampu, dan meyakinkan bahwa mereka mampu akan meningkatkan efektifitas pembelajaran. Motivasi belajar akan menurun ketika mereka merasa tidak mampu. Oleh karena itu, tips ke 5 di atas bisa diterapkan disini. dalam artian, jangan sampai memberikan kegiatan belajar yang tidak mungkin mampu mereka capai. Harus yakin bahwa tugas yang kita berikan memang bisa dilakukan dan mereka merasa puas dengan hasil yang telah dilakukannya.

Tips #7: Beri Kesempatan kepada Peserta untuk Melakukan sesuatu Secara Kolaboratif atau Kooperatif
Hal tersebut akan meningkatykan motivasi dan kemenarikan pembelajaran karena ada sedikit kompetisi, apalagi kalau mereka diberi kesempatan untuk saling berbagi ide, pengalaman, argumen secara bebas tanpa harus saling menjatuhkan satu sama lain.

Tips #8: Upayakan Materi yang Disampaikan Kontekstual         
Guru atau dosen harus pandai pandai mengaitkan materi yang diajarkan dengan pengetahuan awal audiens atau peserta. Untuk orang dewasa, seperti dalam pelatihan, materi yang tidak relevan atau tidak ada kaitannya dengan kehidupan atau pekerjaan sehari-hari yang ia lakoni maka walaupun harus berbusa-busa kita bicara, tidak akan ada manfaatnya.

Tips #9: Berikan Umpan Balik Segera dan bersifat Deskriptif     
Hal ini akan membantu mereka manyadari sudah sejauh mana perkembangan pemehaman atau penguasaan mereka terhadap pengetahuan, keterampilan atau sikap tertentu.

Tips #10: Tingkatkan Jam Terbang
Sebagai penutup, saya ingin mengatakan bahwa tidak ada yang bisa mengalahkan pengalaman. Sembilan tips di atas akan sempurna dengan senjata pamungkas nomor sepuluh ini.
Semoga bermanfaat

(Sumber sebagian diambil dari “Principle of Effective Teaching and Learning, University of Toronto, 1990

Urgensi Gerakan Melek ICT


Urgensi Gerakan Melek ICT by Uwes Anis Chaeruman

Tahukah Anda ranking e-learning readiness Indonesia diantara sekian banyak negara di dunia? Berdasarkan survey yang dilakukan oleh economiest intelligent unit, tahun 2003 Indonesia menduduki peringkat 53. Tahun 2004 turun menjadi peringkat 59 dan tahun 2005 turun lagi menjadi peringkat 60. Untuk skala regional Asia-Pasifik, tahun 2004 dan 2005 Indonesia menduduki peringkat 14, setingkat dibawah Srilangka dan setingkat diatas Vietnam. Sementara Korea menduduki peringkat lima, setingkat dibawah Singapura.

Pertanayaanya, apa yang menyebabkan Korea, Singapura atau katakanlah Malaysia beberapa langkah lebih maju dalam hal pendayagunaan ICT untuk pendidikan (e-Learning)?

Ternyata, salah satu kunci utamanya adalah ”e-Leadership” dari orang nomor 1 di negara tersebut. Lihatlah Malaysia, dengan super-cyber-coridor yang dicanangkan PM Mahattir Mohammad, telah menempatkan Malaysia pada posisi e-learning readiness peringkat 8 di Asia-Pasifik dan peringkat 35 didunia pada tahun 2005 dimana Indonesia menempati posisi pamungkas, yaitu 60.

Begitu pula halnya dengan Korea Selatan, dalam pidato kenegaraan menyongsong tahun baru 2000 (millenium), Presiden Korea menyatakan dengan tegas ungkapan sebagai berikut:
“… I will have the Master Plan for ICT Use in Education completed by the end of this year, two years in advance. I will make our children build their ICT skills in this knowledge and information society…”

Janjinya terpenuhi. Akhir tahun 2000 Korea telah memiliki Master Plan ICT untuk Pendidikan. Tentu saja bukan hanya sekedar dokumen semata. Tapi benar-benar diimplementasikan. Bahkan lebih hebat lagi, dalam buku putih berjudul “Adapting ICT into Education”, struktur organisasi kementrian pendidikan Korea Selatan berubah total karena masuknya unsur ICT dalam pendidikan. RUARRR BIASA.

Hikmah apa yang dapat kita ambil dari pelajaran ini? Pertama, negara maju, atau negara yang berpikiran jauh ke depan adalah negara yang menyadari betul urgensi ICT sebagai ”enabler” untuk proses pendidikan yang akan menjadikan warganya sebagai masrakat berpengetahuan (knowledge-based scoiety) sebagai syarat atau kebutuhan hidup di era global saat ini dan akan datang. Namun demikian, sebagus apapun Master Plan ICT untuk Pendidikan suatu negara, tidak akan pernah berhasil tanpa adanya ”e-Leadership” yang kuat dan kontinyu mulai dari orang nomor satu sampai pejabat atau pimpinan dibawahnya.

Mengacu pada hal tersebut di atas, saya berpandangan bahwa sudah saatnya ”GERAKAN MELEK ICT (ICT LITERACY MOVEMENT)” menjadi gerakan nasional yang sama ”urgent”nya atau lebih ”urgent” dibandingkan dengan GERAKAN KELUARGA BERENCANA di jaman Orde Baru dahulu kala. Mudah-mudahan, dengan dibentuknya Dewan TIK Nasional (DeTIKNas) berdasarpan Keputusan Presiden No 20 tahun 2006, benar-benar tidak hanya dewan di atas sehelai SK Presiden. Dan juga, mudah-mudahan salah satu flagship utama dari DeTIKNas tersebut, yaitu ”e-education” di bawah Mendiknas benar-benar dioperasionalkan kedalam langkah-langkah yang lebih kongkrit demi kemajuan pengembangan SDM Indonesia.

Semoga, tidak cukup bagi kita hanya dengan mengucapkan AMIN. Mari kita lakukan berbagai bentuk ”advocacy” dalam rangka GERAKAN MELEK ICT.

Trackback URL

Some Responses to “Urgensi Gerakan Melek ICT” :

  1. On August 1st, 2007 Seperti Apa Posisi Indonesia dalam ICT untuk Pendidikan ? said:[…] Ketika melihat e-learning readiness index tersebut saya langsung menulis tentang “URGENSI GERAKAN MELEK ICT“. Baca deh tulisan tersebut! Berdasarkan survey world economic forum (2005), Networked […]
  2. On August 1st, 2007 bayu said:wah kalo patokannya melek it semata2 atau cuma dari jumlah user yang pake teknologi mungkin susah…wong jumlah penduduk indonesia saja makin hari makin banyak yang lahir…lebih besar tambah penduduknya dibanding orang yang belajar atau pake IT…jelas aja pembaginya gak seimbang…kalo itu dilihat dari gimana hasil dan aplikasi yang ada agak lebih bisa dibanggakan.. maksudnya ya.. manajemen SDM nya harus lebih di manfaatkan.. khan banyak tuh orang indonesia yang juara di berbagai kejuaraan it tingkat dunia… gak jelek koq prestasi orang indonesia dalam hal ini…sayangnya peran pemerintah menurutku masih kurang..kalo mereka diberikan kompensasi yang jelas atas keahliannya mungkin mereka mau berbakti untuk bangsanya..
  3. On August 1st, 2007 Uwes Anis Chaeruman said:yap. dikau betul juga. Tapi kalau kita bicara secara keseluruhan memang demikian adanya. apa perlu kita lakukan pemekaran negara? he he he )

PENINGKATAN IMTAK SISWA


KATA PENGANTAR 

Assalamu’alaikum Wr.Wb.            

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, akhirnya penulisan karya tulis ini dapat diselesaikan dalam upaya meningkatkan imtak siswa di kelas VII SMP Labschool Jakarta melalui pengintegrasian imtak-iptek dalam proses Pembelajaran Word dengan menggunakan metode CTL dan Penilaian Portofolio.            

Pembelajaran tanpa metode yang tepat akan menimbulkan ketidaktertarikan siswa dalam belajar, sehingga proses pembelajaran menjadi tidak berhasil. Melihat kenyataan tersebut, pemilihan metode yang tepat oleh guru untuk meningkatkan imtak akan menghasilkan banyak manfaat dalam pembelajaran, antara lain : pembelajaran menjadi lebih bermakna, sangat menarik, menyenangkan, merubah perilaku siswa, serta menumbuhkan minat dan kemandirian siswa dalam belajar. Teknik evaluasi yang akurat juga sangat berperan dalam meningkatkan kemampuan siswa dalam pembelajaran. Namun demikian, peran guru dan orang tua tetap sangat besar kontribusinya dalam pembelajaran yang holistik.            

Karya tulis ini dibuat untuk mengikuti Lomba Karya Tulis Imtak 2007 yang mendiskripsikan pengintegrasiam imtak-iptek. Penulis mengucapkan terima kasih atas dukungan dari keluarga, pimpinan sekolah, teman-teman guru, dan bimbingan dari Bapak Drs. Faried Wadji (bidang iptek), M.Pd dan Ibu Dra. Hj. Junizar Sofjan (bidang imtak) serta Ibu Prof. Dr. Conny R. Semiawan (bidang pendidikan anak) yang banyak memberikan masukan dalam penulisan PTK ini.                

Akhirnya penulis mengharapkan semoga karya tulis ini dapat menjadi bahan studi banding bagi tiap sekolah dan bermanfaat bagi pengembangan pendidikan di Indonesia pada umumnya dan pembelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) khususnya yang telah menjadi pelajaran wajib di SMP. Penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan kontribusi dalam tulisan ini, sehingga enak dibaca dan mudah dipahami.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.                                                                                                       Jakarta, September 2007                                                                                                       Penulis,Wijaya Kusumah, S.Pd.


ABSTRAK Wijaya Kusumah. Peningkatan Imtak Siswa Berbasis Proses Pembelajaran Word Melalui CTL dan Portofolio (Suatu Upaya Mengintegrasikan Imtak-Iptek di Kelas VII SMP Labschool Jakarta), September 2007.                    

Tujuan penulisan dalam karya tulis ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk pengintegrasian imtak dan iptek dengan materi Microsoft Word dalam mata pelajaran TIK di SMP melalui metode CTL dan penilaian portofolio. Selama ini modul praktik komputer dengan materi Word yang digunakan di sekolah-sekolah masih kurang menyentuh sisi imtak. Para guru TIK mengganggap bila muatan imtak dimasukkan, maka akan mempengaruhi jumlah pertemuan yang dibuat oleh guru. Lihatlah modul-modul praktik dan buku-buku komputer yang sampai ke tangan siswa di sekolah. Hampir semua buku dan modul praktik lebih mengedepankan perkembangan iptek dalam mata pelajaran TIK. Akhirnya tanpa disadari, para guru TIK telah melupakan unsur imtak dalam proses pembelajarannya.  Berdasarkan hal tersebut di atas, Guru TIK membuat modul praktik komputer berbasis Word yang terintegrasi dengan perkembangan aspek kognitf, psikomotor, afektif, dan kreatif dalam meningkatkan imtak siswa di kelas VII SMP Labschool Jakarta yang mayoritas beragama Islam. Pembelajaran ini juga mengintegrasikan lima metode yang berpengaruh dalam pendidikan anak dalam ajaran Islam, yaitu : pendidikan dengan keteladanan, adat kebiasaan, nasehat, memberikan perhatian, dan memberikan hukuman. Pembelajaran diarahkan untuk lebih mengenal ARI (Allah sebagai Tuhannya, Rasullullah Muhammad SAW sebagai Nabinya, dan Islam sebagai Agama yang paling sempurna) dengan tidak melupakan tiga aspek ajaran Islam yaitu :  TIA (Tauhid, Ibadah, dan Akhlak).  Proses pembelajaran berbasis Word dilaksanakan di Laboratorium Komputer SMP Labschool Jakarta. Melalui modul praktik Word bermuatan imtak, keteladanan guru di sekolah, dan budaya sekolah yang melibatkan orang tua siswa diharapkan terjadi peningkatan imtak siswa berbasis proses pembelajaran Word dengan metode CTL dan Penilaian Portofolio. Pembelajaran diharapkan benar-benar bermakna dan bersifat holistik bagi kehidupan siswa sehari-hari dan guru dapat mengumpulkan hasil kerja siswa berupa disket/flashdisk ke dalam format portofolio yang dibuat oleh guru dan diketahui oleh orang tua siswa.            

Dari hasil Penelitian Tindakan Kelas (PTK), Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) yang dibuat dalam Silabus dan RPP tercapai. Siswa pun dapat terampil menggunakan program Word dengan baik dan benar serta sekaligus dapat menambah pengetahuannya di bidang agama. Sehingga terjadi integrasi antara imtak dan iptek secara terpadu di kelas VII SMP Labschool Jakarta.  Karya tulis imtak ini dapat dijadikan studi banding oleh sekolah lainnya, karena pembelajaran yang mengintegrasikan imtak-iptek belum banyak diterapkan di sekolah-sekolah di Indonesia, khususnya dalam pelajaran TIK di SMP.


 

Budaya Labschool


MENCIPTAKAN BUDAYA SEKOLAH YANG TETAP EKSIS

(Sebuah Upaya untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan)

MAKALAH YANG DITULIS UNTUK MENGIKUTIKONFERENSI GURU INDONESIA (KGI)

Oleh :WIJAYA KUSUMAH

Juni 2007

Jl. Pemuda Komp. UNJ Rawamangun Jak-Tim 13220 Telp/Fax. 4755542

Website Labschool : http://www.labschool-unj.sch.id


KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, karena berkat dan kekuatan-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul MENCIPTAKAN BUDAYA SEKOLAH YANG TETAP EKSIS.

Penyusunan makalah ini diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Melalui Konferensi Guru Indonesia (KGI) 2007 penulis merasa terpanggil untuk membuat makalah tentang pengalaman penulis yang telah mengajar di sekolah hampir 15 tahun di SMP Labschool Jakarta.

Dengan terselesaikannya penyusunan makalah ini, penulis tidak lupa menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. H. Ali Chudori, S.Pd, selaku Kepala SMP Labschool Jakarta, yang telah memberikan petunjuk dan pengarahan demi terwujudnya penulisan ini.

2. Istri (Siti Rokayah) dan kedua anak (Intan dan Berlian) yang banyak memberikan semangat dan dorongan.

3. Segenap teman-teman Guru di lingkungan sekolah dan para siswa kelas VIII yang telah banyak membantu dalam penyelesaian makalah ini.

4. Pengurus POMG dan segenap jajarannya yang telah mengkreditkan Laptop tanpa bunga, sehingga penulis dapat terus menulis dan menghasilkan karya tulis. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu dengan rasa senang hati, penulis mengharapkan saran dan kritikan yang bersifat konstruktif dari pembaca demi kesempurnaan dalam penyusunan makalah selanjutnya. Akhirnya penulis berharap semoga tulisan yang sederhana ini dapat bermanfaat bagi para pembaca pada umumnya, para pendidik di pelosok nusantara yang penuh dedikasi mengajar, dan khususnya bagi penulis sendiri. Jakarta, 30 Juni 2007 Penulis, Wijaya Kusumah, S.Pd


ABSTRAK Menciptakan Budaya Sekolah Yang Tetap Eksis (Sebuah Upaya Untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan), Juni 2007.Salah satu keunikan dan keunggulan SMP Labschool Jakarta yang tidak dimiliki oleh sekolah lainnya adalah budaya sekolah (school culture) yang kokoh, dan tetap eksis. Perpaduan semua unsur baik siswa, guru, dan orang tua yang bekerjasama dalam menciptakan komunitas yang lebih baik melalui pendidikan yang berkualitas, serta bertanggung jawab dalam meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah, menjadikan sekolah Labschool unggul dan favorit di masyarakat. SMP Labschool Jakarta sebagai sekolah favorit di masyarakat harus melaksanakan aktifitasnya secara profesional dan bertanggung jawab. Profesional memiliki pengertian bahwa sekolah melaksanakan tugas pokok menyelenggarakan proses belajar mengajar dan manajemen yang baik. Bertanggungjawab memiliki pengertian bahwa sekolah melaksanakan pendidikan secara akuntabilitas kinerja/ dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat dan pemerintah.Karena budaya sekolah itulah yang tertanam di hati para siswa. Hampir bisa dikatakan seratus persen sekolah kami jauh dari narkoba, merokok, minuman keras, tawuran antar pelajar, dan ’penyakit kenakalan pelajar lainnya. Siswa terbaik akan terukir namanya dalam batu prasasti yang selalu diperebutkan sampai dengan angkatan ke-15. Alumni SMP Labschool Jakarta selalu menyebar ke sekolah-sekolah SMA favorit papan atas dan menjadi leader di SMA-nya masing-masing.


MENCIPTAKAN BUDAYA SEKOLAH YANG TETAP EKSIS(Sebuah Upaya untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan)

A. Pendahuluan

Tahun ajaran baru belum lagi mulai, tetapi sekolah kami sudah membuka pendaftaran siswa baru. Setiap kali dibuka, respon masyarakat terhadap sekolah kami kian meningkat. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya jumlah orang tua yang mendaftarkan putra-putrinya untuk mengikuti tes ujian masuk yang setiap tahunnya mengalami grafik kenaikan. Respon yang begitu besar itu membuat kami harus bersyukur dan merenung, karena sebagai sekolah swasta umum kami harus bersaing dengan sekolah-sekolah yang ada di sekitarnya yang jumlahnya sudah puluhan. Dari sekian banyak sekolah yang ada, sekolah kami, SMP Labschool Jakarta menjadi pilihan favorit dari para orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya. Mengapa sekolah kami yang dipilih dan tidak yang lain? Apa nilai unggulnya? Dan mengapa mereka begitu antusias, padahal untuk bisa bersekolah di sekolah kami membutuhkan biaya yang tidak sedikit, bahkan sampai puluhan juta rupiah? Keunggulan apa yang dimiliki oleh sekolah kami? Fasilitaskah? Jelas tidak, karena sekolah-sekolah yang ada di sekitarnya memiliki fasilitas yang jauh lebih lengkap dan canggih. Prestasi dalam Ujian Nasional? Tidak juga, karena sekolah kami hanya menempati posisi rata-rata saja di Indonesia. Di DKI Jakarta saja, sekolah kami hanya menempati posisi sepuluh besar sekolah swasta dalam Ujian Nasional 2007. Lalu apa sih yang unggul dan menarik dari SMP Labschool Jakarta? Apakah sistem pendidikannya? Ataukah proses pembelajarannya yang berbeda dengan sekolah lain?

Dari hasil wawancara dengan para orang tua siswa dan juga para siswa SMP Labschool Jakarta, ternyata jawabannya selain memiliki budaya organisasi dan budaya kerja, SMP labschoool Jakarta mempunyai budaya sekolah yang tetap eksis dan semakin disempurnakan. Mempunyai misi dan visi yang jelas yaitu sekolah yang mempersiapkan pemimpin masa depan yang bertakwa, berintegritas tinggi, mempunyai daya juang yang kuat, mempunyai kepribadian yang utuh, berbudi pekerti luhur, mandiri serta mempunyai kemampuan intektual yang tinggi.

Salah satu keunikan dan keunggulan yang tidak dimiliki oleh sekolah lainnya adalah budaya sekolah (school culture) yang kokoh, dan tetap eksis. Perpaduan semua unsur baik siswa, guru, dan orang tua yang bekerjasama dalam menciptakan komunitas yang lebih baik melalui pendidikan yang berkualitas, serta bertanggung jawab dalam meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah, menjadikan sekolah kami unggul dan favorit di masyarakat. Keberadaannya sudah menjadi buah bibir. Para orang tua akan berusaha dengan segala cara menyekolahkan anaknya ke tempat kami walaupun dalam ujian tes tertulis, putra-putrinya tidak diterima karena terbatasnya kelas dan tempat yang ada di sekolah.

B. Menciptakan Budaya Sekolah yang Tetap Eksis

Menurut Deal dan Peterson (1999), budaya sekolah adalah sekumpulan nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh kepala sekolah, guru, petugas administrasi, siswa, dan masyarakat sekitar sekolah. Budaya sekolah merupakan ciri khas, karakter atau watak, dan citra sekolah tersebut di masyarakat luas. SMP Labschool Jakarta mempunyai misi menciptakan budaya sekolah yang menantang dan menyenangkan, adil, kreatif, terintegratif, dan dedikatif terhadap pencapaian misi, menghasilkan lulusan yang berkualitas tinggi dalam perkembangan intelektualnya dan mempunyai karakter takwa, jujur, kreatif, mampu menjadi teladan, bekerja keras, toleran dan cakap dalam memimpin, serta menjawab tantangan akan kebutuhan pengembangan sumber daya manusia yang dapat berperan dalam perkembangan ilmu pengetahuan, dan teknologi. Budaya sekolah yang telah diciptakan dan tetap eksis di SMP Labschool Jakarta selama 15 tahun Labschool berdiri adalah :

budaya salam, dimana setiap kali bertemu (guru, siswa dan orang tua) saling mengucapkan salam dan berjabat tangan,

upacara bendera yang rutin dilaksanakan setiap minggu kedua dan keempat,

Penasehat akademis atau pertemuan wali kelas dengan para siswanya setiap Senin pagi untuk berbagi informasi, juga pertemuan antara wali kelas dengan pimpinan sekolah

Tadarus dan kebaktian setiap Senin dan Kamis pagi sebelum pelajaran dimulai dan dipimpin oleh wali kelas,

Seragam sekolah yang berbeda setiap hari Kamis dan Jum’at,

Sholat berjamaah di masjid sekolah pada saat jam istirahat,

Olah raga Jum’at pagi dengan mengelilingi kampus UNJ,

Lima hari belajar (Senin-Jum’at) dari pukul 06.30 s.d. 15.30,

Majalah sekolah yang dibuat oleh siswa untuk melatih bakat jurnalistiknya,

Dialog interaktif dengan para pakar di bidangnya, mulai dari masalah seks sampai teknologi terbaru, Lintas juang untuk mendidik siswa menjadi calon pengurus OSIS,

Studi Kepemimpinan Siswa untuk melatih kepemimpinan siswa menjalankan organisasi,

Studi Amaliah Ramadhan mendidik siswa dalam kegiatan pesantren ramadhan,

Pelepasan siswa yaitu melepas siswa kelas sembilan yang telah lulus dari sekolah,

Buku tahunan adalah buku yang merekam kegiatan siswa dari mulai masuk sampai lulus sekolah, POMG (Persatuan Orang tua Murid dan Guru) adalah kegiatan orang tua siswa yang menunjang kegiatan sekolah dalam meningkatkan mutu pelayanan pendidikan,

budaya bersih adalah kegiatan kebersihan sekolah dan kebersihan diri sendiri,

Kegiatan praktek ibadah adalah kegiatan keagamaan siswa yang dinilai oleh guru agama masing-masing,

PHBI dan Nasional adalah kegiatan hari besar keagamaan dan nasional,

melakukan Doa sebelum/sesudah belajar dipimpin oleh kepala sekolah melalui pengeras suara yang diletakkan di setiap kelas, Doa bersama juga dilakukan sebelum pelaksanaan UNdan US bersama dengan seluruh orang tua siswa kelas IX

Labs channel yaitu kegiatan siswa di jam istirahat dengan menjadi penyiar radio sekolah,

Labs TV yaitu kegiatan siswa yang meliput kegiatan sekolah dan merekamnya dalam televisi sekolah, Budaya disiplin dimana siswa tidak diperkenankan masuk kelas bila terlambat dan melakukan pelanggaran tata tertib sekolah,

budaya kerja keras, cerdas dan ikhlas adalah siswa dilatih menyelesaikan tugas-tugasnya dengan cepat, tepat waktu, dan berharap mendapatkan pahala dari Allah,

budaya Kreatif yaitu melatih siswa menciptakan inovasi sesuai bakat dan minatnya, Mandiri & bertanggung jawab yaitu melatih siswa untuk bekerja sendiri tanpa bantuan orang lain dan bertanggung jawab penuh terhadap tugas yang diberikan guru,

Pentas Seni (Pensi) melatih siswa melaksanakan kegiatan bernuansa seni baik kesenian tradisonal maupun kesenian modern atau yang sedang ’ngetren’ saat ini,

Kunjungan museum yaitu mengenalkan kepada siswa tentang warisan budaya bangsa yang harus dilestarikan, Kunjungan Industri yaitu mengenalkan siswa tentang kegiatan-kegiatan yang ada di industri atau pabrik yang berkaitan dengan mata pelajaran sains dan ekonomi,

SAKSI (Studi dan Apesiasi Kepemimpinan Siswa Indonesia) yaitu kegiatan kesiswaan yang mengundang sekolah lain di Indonesia untuk bersama-sama berlatih kepemimpinan dengan nara sumber dari KOSTRAD TNI AD di Pusat latihan Perang Sangga Buana Karawang Jawa Barat,

Career Day yaitu kegiatan yang mengarahkan siswa untuk menggapai cita-citanya dengan mengundang beberapa tokoh yang sukses dalam meniti karirnya,

Ekstrakurikuler adalah kegiatan non akademik yang memberi wadah /kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kreatifitasnya sesuai dengan bakat dan minatnya masing-masing (ada sekitar 34 jenis ekskul yang terangkum dalam buku panduan ekskul), dan Sport and Art yaitu kegiatan seni dan olahraga antar kelas untuk unjuk gigi di hari Jum’at.

Dengan motto Iman, Ilmu, Amal, Kreatif dan Berprestasi SMP Labschool Jakarta menjadi sekolah yang unggul dan berkualitas. Banyaknya tamu yang datang berkunjung dari lembaga pendidikan di berbagai daerah di Indonesia ke sekolah kami ( ± 4 lembaga) untuk melakukan studi banding setiap bulannya, membuat kami agak merasa tersanjung dan juga banyak belajar dari mereka dengan kunjungan balasan. SMP Labschool Jakarta sebagai sekolah favorit di masyarakat harus melaksanakan aktifitasnya secara profesional dan bertanggung jawab. Profesional memiliki pengertian bahwa sekolah melaksanakan tugas pokok menyelenggarakan proses belajar mengajar dan manajemen yang baik. Bertanggungjawab memiliki pengertian bahwa sekolah melaksanakan pendidikan secara akuntabilitas kinerja/ dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat dan pemerintah.

Tuntutan sekolah yang profesional membutuhkan pengelolaan yang tepat melalui pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Sebab dengan MBS, lembaga dapat menginventarisir kekuatan-kekuatan dan kebutuhan-kebutuhannya, peluang, hambatan, dan tantangan yang mungkin ada. Pendekatan ini sering disebut dengan analisa SWOT, dari analisis tersebut akan tampak perbedaan karakteristik sebuah sekolah dengan sekolah lainnya. Karenanya, dalam konteks penerapan MBS, Sergiovanni menyarankan agar para pengambil kebijakan, para penilik, dan kepala sekolah menggunakan pendekatan budaya sekolah atau school culture approach.

Alasannya: Pertama, pendekatan budaya lebih menitikberatkan faktor manusia di atas faktor-faktor lainnya. Peran manusia amat sentral dalam suatu proses perubahan berencana. Sesuai dengan pepatah man behind the gun, manusia adalah faktor yang menentukan keberhasilan perubahan, bukan struktur atau peraturan legal. Kedua, pendekatan budaya menekankan pentingnya peran nilai dan keyakinan dalam diri manusia. Aspek ini merupakan elemen yang sangat berpengaruh dalam membentuk sikap dan perilaku. Karenanya, pendekatan budaya menomorsatukan transformasi nilai dan keyakinan terlebih dahulu sebelum perubahan yang bersifat legal-formal. Ketiga, pendekatan budaya memberikan penghormatan dan penerimaan terhadap perbedaan-perbedaan yang ada. Sikap menerima dan saling hormat akan menciptakan rasa saling percaya dan kebersamaan di antara anggota organisasi. Rasa kebersamaan akan memunculkan kerja sama, dan kerja sama akan mewujudkan sikap profesionalisme yang membawa perubahan sehingga mengubah nilai-nilai lama yang menghambat dengan nilai baru yang mendukung MBS.

Dengan kurikulum baru KTSP 2006 (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) membuat guru lebih aktif, kreatif, kompetitif, berinisiatif, independen dan inovatif dalam menemukan dan mengembangkan kurikulum baru. Sekolah diberi kebebasan dalam membuat program kerja oleh pemerintah melalui Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang merupakan salah satu dari delapan standar nasional pendidikan sebagaimana tertuang dalam Bab II pasal 2 (1) Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, meliputi standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan.Sekolah di Labschool telah memiliki sistem pengembangan budaya sekolah yang terintegrasi dan terimplementasi dalam proses pembelajaran.

Sekolah juga telah melakukan inovasi-inovasi kegiatan budaya sekolah dan terinventarisasikannya budaya sekolah Labschool yang sesuai dengan nilai-nilai lokal, nasional, dan internasional.

Semuanya itu telah menyatu ke dalam kegiatan akademik dan kegiatan kesiswaan melalui kegiatan yang bersifat intrakurikuler dan ekstrakurikuler sehingga nantinya SMP Labschool Jakarta akan menjadi Sekolah Bertarap Internasional (SBI) dengan membuka kelas bilingual yang telah berjalan beberapa tahun belakangan ini.

Pengelola sekolah membangun sebuah sistem yang di dalamnya mengutamakan kerjasama atau team work. Kesuksesan dibangun atas dasar kebersamaan dan bukan kerja satu orang kepala sekolah atau one man show. Pimpinan sekolah atau kepala sekolah boleh datang silih berganti, tetapi sistem akan terus berjalan mendampingi siapapun pemimpinnya.

Melalui budaya organisasi, Labschool terus menata kembali status kelembagaan, struktur organisasi, komitmen civitas akademika, aturan kepegawaian dan kesejahteraan, penggunaan teknologi dengan menempatkan hot spot di tiap sudut sekolah agar siswa dapat online ke internet melalui laptop pribadinya, sistem pemeliharaan fasilitas yang berbasis ICT, pengembangan program dan layanan pendidikan, dan sumber keuangan sekolah.

Suatu sekolah harus dapat menciptakan budaya sekolahnya sendiri sebagai identitas diri, dan juga sebagai rasa kebanggaan akan sekolahnya. Kegiatan tidak hanya terfokus pada intrakurikuler, tetapi juga ekstrakurikuler yang dapat mengembangkan kreativitas, bakat dan minat siswa. Selain itu, dalam menciptakan budaya sekolah yang kokoh, kita hendaknya juga berpedoman pada misi dan visi sekolah yang tidak hanya mencerdaskan otak saja, tetapi juga watak siswa yang selalu disampaikan oleh tokoh pendidikan Indonesia Bapak Arief Rachman, serta mengacu pada 4 tingkatan kecerdasan yaitu : kecerdasan intektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), kecerdasan rohani (SQ) dan kecerdasan sosial (EC).

Budaya sekolah harus dapat mencakup akademik, nonakademik, kerohanian, kesenian, keolahragaan, dan kemasyarakatan. Guru, orang tua, dan siswa harus menyatu menjadi tree in one yang memiliki tugas dan komitmen bersama untuk menggali dan menyuburkan budaya sekolah agar tetap eksis dan mencapai kesempurnaan. Budaya sekolah akan subur bila orang tua siswa dilibatkan dalam menjunjang kegiatan kesiswaan. Melalui kegiatan Indonesian Parenting Forum, orang tua diberi kesempatan melakukan kegiatan sekolah. Karena kegiatan inilah Mendiknas, Bambang Sudibyo mau meluangkan waktunya membuka Seminar nasional yang diselenggarakan oleh POMG SMP Labschool Jakarta pada 12 Mei 2007 di Shangrila Hotel Jakarta.

Kegiatan POMG telah menjadi budaya sekolah yang kental dan didukung penuh oleh pimpinan sekolah. Hasilnya, POMG dapat mengumrohkan para guru ke tanah suci Mekah, Rekreasi guru dan keluarga, Studi banding ke sekolah di luar negeri, mengkreditkan laptop tanpa bunga kepada guru, dan lain-lain yang sangat menunjang untuk kesejahteraan para guru.

Tanpa peran dari POMG, sekolah akan terasa seperti sayur tanpa garam. Namun demikian, kegiatan POMG tetap berjalan dalam koridor tidak ’mengobok-obok’ kurikulum sekolah yang telah dibuat oleh sekolah dan pengurus yayasan pembina Universitas Negeri Jakarta.

Keterlibatan orang tua dalam menunjang kegiatan akademik dan kesiswaan, keteladan guru, dan prestasi siswa adalah tiga hal yang menyuburkan budaya sekolah.

Dari mulai masuk di kelas tujuh, para siswa sudah dibekali dengan kegiatan Masa Orientasi Siswa (MOS). Portofolio siswa sudah terekam dengan rapi dari mulai masuk hingga pada saat keluar dan lulus dari sekolah. Siswa terus dibekali dengan kegiatan Buku Tahunan dan Pelepasan lulusan kelas sembilan yang memotret tentang portofolionya selama belajar di SMP Labschool Jakarta. Kegiatan-kegiatan itu telah menjadi budaya sekolah yang tetap eksis dan menjadi gengsi tersendiri dalam suatu sistem yang utuh (komprehensif) melalui indikator yang jelas, sehingga karakter atau watak siswa SMP Labschool Jakarta dapat terpotret secara optimal melalui kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh sekolah. Kegiatan itu telah menjadi budaya dan berpengaruh dalam perkembangan siswa selama sekolah di SMP Labschool Jakarta.

Karena budaya sekolah itulah yang tertanam di hati para siswa. Hampir bisa dikatakan seratus persen sekolah kami jauh dari narkoba, merokok, minuman keras, tawuran antar pelajar, dan ’penyakit kenakalan pelajar lainnya. Sekolah kami menjadi contoh dan teladan bagi sekolah lainnya dalam mengembangkan budaya sekolahnya. Siswa terbaik akan terukir namanya dalam batu prasasti yang selalu diperebutkan sampai dengan angkatan kelima belas. Alumni SMP labschool Jakarta selalu menyebar ke sekolah-sekolah SMA favorit papan atas.Lingkungan pendidikan yang harmonis dalam suasana kekeluargaan merupakan faktor yang mendukung terselenggaranya kegiatan belajar mengajar yang baik. Sebab dengan lingkungan yang aman dan nyaman serta bersahabat siswa akan tenang dalam belajar. Salah satu usaha menciptakan keharmonisan tersebuat adalah dengan budaya salam yang kental tanpa membedakan Suku, Agama, dan Antar Golongan (SARA) sehingga terbangun tata krama yang sistematik dan dapat membangun akhlaqul karimah yang dicontohkan oleh nabi Muhammad SAW. C.

Penutup

Budaya sekolah yang harus diciptakan selain hal-hal tersebut di atas adalah budaya unggul dan mampu bersaing di dunia global. Memiliki daya juang yang tinggi, tanpa kehilangan jati diri suatu bangsa, dan tak mengenal kata ’putus asa’. Sekolah harus dapat melestarikan budaya lokal dengan tetap mengikuti tren budaya global yang berkembang, misalnya bahasa daerah, gamelan, dan tarian tradisional perlu dilestarikan sebagai warisan budaya bangsa. Tetapi tidak dapat kita pungkiri pula bahwa penguasaan bahasa asing, band, dan modern dance harus juga dipelajari sebagai budaya global yang disukai remaja saat ini.Karena itu, nuansa religius di sekolah dengan pelaksanaan tadarus dan kebaktian sebelum pembelajaran dilaksanakan harus dijadikan aktivitas rutin di hari Senin dan Kamis. Membudayakan salam dan saling menegur dengan bahasa yang ramah harus menjadi fenomena yang biasa. Budaya keteladanan, kedisiplinan, dan kerja sama, baik orang tua, guru, dan siswa harus terus dikembangkan dan memiliki tanggung jawab untuk memajukan sekolah.

Melalui kegiatan Persatuan Orang Tua Murid dan Guru (POMG) atau komite sekolah, para orang tua telah diberikan kesempatan untuk berperan membantu program-program yang dibuat oleh sekolah sehingga dapat membawa nama baik sekolah di masyarakat. Rendahnya mutu pendidikan kita saat ini disebabkan oleh lemahnya komitmen warga sekolah dalam mewujudkan budaya sekolah dan kurangnya pemahaman masyarakat terhadap pendidikan sehingga akan berdampak pada rendahnya peran serta dan partisipasi masyarakat terhadap pendidikan baik secara moril maupun materiil.Kredibilitas sekolah di mata masyarakat, akuntabilitas kinerja sekolah, dan sigma kepuasan orang tua siswa harus sudah terbentuk, sehingga membawa sekolah memiliki budaya sekolah yang tetap eksis. Bertakwa, kreatif, disiplin, lima hari belajar, fleksibel, toleransi, kerja keras, mandiri, dan jujur adalah contoh sebagian budaya sekolah yang telah diciptakan. Guru, orang tua, dan siswa harus dapat bekerja sama menciptakan budaya sekolah yang tetap eksis di tengah era derasnya globalisasi dan pesatnya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.

Budaya sekolah terbentuk dari eratnya kegiatan akademik dan kesiswaan, seperti mata uang logam yang tak dapat dipisahkan. Melalui kegiatan ekstrakurikuler yang beragam dalam bidang keilmuan, keolahragaan, dan kesenian membuat siswa dapat menyalurkan minat dan bakatnya masing-masing. Mempunyai integritas, menjunjung kejujuran, dan memiliki potensi unggul tanpa kehilangan jati diri. Budaya sekolah dapat dimulai dari hal kecil seperti penataan kelas dan ruang guru, serta pemasangan hasil karya siswa, foto-foto, dan moto. Penataan tempat duduk siswa yang berpusat pada guru harus diubah menjadi tempat duduk yang mendorong interaksi antarsiswa sehingga mereka dapat belajar dengan aktif, kreatif, dan menyenangkan. Hasil karya siswa yang berupa gambar, karangan, puisi, dan kerajinan harus dipasang di ruangan kelas dan tempat-tempat terbuka di sekolah untuk mendorong kebanggaan berprestasi. Nama-nama siswa berprestasi ditulis diprasasti sekolah. Foto-foto ilmuwan serta karya-karyanya perlu juga dipajang guna merangsang motivasi belajar siswa. Sekarang ini, keunggulan suatu sekolah tidak ditentukan oleh besar kecilnya dana yang tersedia, tetapi lebih pada komitmen dan dedikasi para guru juga peran serta orang tua dalam memajukan sekolah dan dapat menciptakan budaya sekolah yang tetap eksis dengan terus membangun kredibilitas dan akuntabilitas kinerja, sehingga melahirkan sigma kepuasan di kalangan masyarakat dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan.

DAFTAR ACUAN

  • http://www.depdiknas.go.id/
  • http://www.kompas.co.id/
  • http://www.republika.co.id/
  • http://www.mediaindonesia.co.id/
  • Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi. 3- cetakan.1. – Jakarta : Balai Pustaka 2001
  • Makalah Seminar Nasional, Arief Rachman, 2007, Peran Orang tua dalam Mempersiapkan Remaja Menuju Masa depan Sukses, Jakarta, 12 Mei 2007
  • Tim SMP Labschool Jakarta, Pedoman kegiatan Kesiswaan SMP Labschool Jakarta, 2007.
  • Tim SMP Labschool Jakarta, Program Kerja SMP Labschool Jakarta, 2007.

BIODATA PENULIS MAKALAH

Nama : Wijaya Kusumah, SPd. Guru : Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) SMP Labschool Jakarta. Alamat : Jl. Pemuda Komplek UNJ Rawamangun Jaktim 13220 Telp. : 4755542 Hp. 08159155515 Fax. 4897289. Email : wijayalabs@hotmail.com

Website : http://www. omjay.8m.com

Peningkatan Kualitas Pembelajaran Internet


A. LATAR BELAKANG

Sekarang ini, pembelajaran Information and Communication Technology (ICT) atauTeknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), telah menjadi tren tersendiri dalam dunia pendidikan, terutama untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) serta meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Pembelajaran TIK perlu diperkenalkan, dipraktikkan, dan dikuasai siswa sedini mungkin agar mereka memiliki bekal yang dapat membantu mereka untuk menyesuaikan diri dalam kehidupan global yang ditandai dengan perubahan yang sangat cepat.

Read More »


Hello world!


Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Tentang Omjay

Wijaya Kusumah, S.Pd, M.Pd,

Teacher, Trainer, Writer, Motivator, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, Simposium, Workshop PTK dan TIK, Edupreneurship, Pendidikan Karakter Bangsa, Konsultan manajemen pendidikan, serta Praktisi ICT. Sering diundang di berbagai Seminar, Simposium, dan Workshop sebagai Pembicara/Narasumber di tingkat Nasional. Dirinya telah berkeliling hampir penjuru nusantara, karena menulis. Semua perjalanan itu ia selalu tuliskan di http://kompasiana.com/wijayalabs.

Omjay bersedia membantu para guru dalam Karya Tulis Ilmiah (KTI) online, dan beberapa Karya Tulis Ilmiah Omjay selalu masuk final di tingkat Nasional, dan berbagai prestasi telah diraihnya.

Untuk melihat foto kegiatannya dapat dilihat dan dibaca di blog http://wijayalabs.wordpress.com

Hubungi via SMS : 0815 915 5515 atau kirimkan email ke wijayalabs@gmail.com atau klik hubungi omjay yg disediakan dalam blog ini, bila anda membutuhkan omjay sebagai pembicara atau Narasumber.

Wijaya Kusumah

Buat Lencana Anda


Jumlah Pengunjung

Flag Counter
free counters


Artikel Terkini


Tulisan Wijaya per bulan


Blog Pendidikan Terkeren di Dunia Maya

Blog ini didedikasikan untuk kemajuan Pendidikan di Indonesia. Blog ini mengajak anda untuk dapat kreatif dalam menulis.

Ciptakan tulisan-tulisan anda yang bermutu dan kirimkan kepada kami untuk ditayangkan di blog ini.

Kirimkan ke wijayalabs@gmail.com atau sms ke 08159155515. Dengan senang hati akan ditampilkan di blog pendidikan ini.

Selamat Membaca!


Jadwal Kegiatan Omjay

Jadwal Kegiatan Omjay: dapat dilihat di Biodata Omjay. Omjay baru bisa mengiasi kegiatan seminar & Workshop hari Sabtu dan Minggu. Hari kerja setelah pukul 16.00 WIB. Kirim ke wa 08159155515


Internet Sehat & Facebook Omjay


Jadwal Kegiatan dapat dilihat di blog http://wijayalabs.com

November 2019
M T W T F S S
« Oct    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  




Komentar blog


komentar blog



Yuk Menulis Setiap Hari! Lalu Perhatikan Apa Yang Terjadi