KEBAHAGIAAN SEJATI


Semoga sapaan saya hari ini menemui kita semua dengan wajah yang senantiasa tersenyum dan selalu mengucap syukur untuk setiap berkat yang kita terima dari Tuhan. Kebahagiaan adalah sesuatu yang dicari oleh setiap orang di dunia ini. Orang mencari kebahagiaan dengan berbagai cara, misalnya dengan menikmati gaya hidup hedonisme (mencari kesenangan duniawi).

Ada juga yang mencarinya melalui hubungan dengan roh-roh jahat. Namun semuanya sia-sia, karena kebahagiaan yang ditempuh dengan cara itu adalah kebahagiaan semu. Kalau begitu bagaimana kita bisa memperoleh kebahagiaan sejati? Tidak banyak yang tahu kejadian buruk yang pernah menimpa Thomas Alva Edison di usianya yang ke 67.

Ketika itu kobaran api yang sangat besar melahap dan membakar habis gedung laboratoriumnya. Laboratorium dimana dia telah menghabiskan sepanjang hidupnya untuk menghasilkan karya selama bertahun-tahun, habis dalam sekejab. Tapi apa yang dikatakannya tidak lama setelah dia menyaksikan kebakaran hebat itu? “Aku baru berusia 67 tahun dan belum terlalu tua untuk memulai lagi”. Saya tidak sanggup membayangkan seandainya kejadian seburuk itu menimpa saya. Saya begitu kagum dengan keputusan yang dia ambil dalam menyikapi sebuah kejadian. Edison tidak marah ataupun menyesali kejadian buruk tersebut. Yang dia lakukan hanyalah memperkatakan hal yang positif. Dan dia berhasil menelurkan gagasannya lagi sepanjang 17 tahun ke depan. Dia menyadari sepenuhnya bahwa apapun yang terjadi adalah hal yang terbaik bagi dirinya, meskipun itu samasekali bukan kejadian yang baik. 

Masalah adalah tanda penghormatan alam kepada mu.(MTSN – You Are Only As Honorable As What You Do)

Jika Thomas Alva Edison memutuskan bersikap positif terhadap hal buruk yang menimpanya, sebaliknya dengan Shriver, istri seorang aktor yang sangat terkenal Arnold Schwarzenegger. Hari itu acara CBS Morning yang dipandunya dibatalkan. Ia berkata bahwa “dirinya bernasib sial”. Hanya karena sebuah hal sekecil itu dia melupakan semua keberhasilan dan kekayaan yang telah ia peroleh selama hidup. Hanya karena sebuah acara yang gagal tayang, dia lupa akan semua yang dia miliki, seperti karir yang cemerlang, anak-anak yang sehat, juga buku-buku biografinya yang sangat laris. Lalu keputusan mana yang akan kita ambil? Sikap seperti apa yang akan kita pilih saat kegagalan menimpa diri kita? Dennis Prager mengatakan,

“Semua orang yang berbahagia selalu bersyukur. Orang yang tidak bersyukur tidak dapat berbahagia”.

Kita sering salah persepsi dan cenderung berpikir bahwa karena tidak bahagia, orang mengeluh. Padahal yang benar adalah, orang mengeluh maka ia tidak berbahagia. Mungkin sekaranglah saatnya kita harus belajar untuk mengucap syukur dalam segala hal. Tuhan seringkali mengijinkan kegagalan untuk mengukur iman kita, apakah kita tetap berterimakasih dan mengucap syukur dalam segala hal? Apakah kita hanya mau menerima yang baik dari Tuhan, tapi tidak mau menerima yang buruk? Thomas Alva Edison tidak mengeluh bahkan tetap bersyukur saat laboratoriumnya habis terbakar. Dan hasil yang dia peroleh adalah tidak hanya kekuatan baru yang membuatnya menggapai keberhasilan, namun juga kebahagiaan sejati dan damai sejahtera. Karena bersyukur adalah kunci agar tidak kehilangan kebahagiaan dan damai sejahtera. Apapun yang terjadi kepada Anda, akan tetap menjadi sesuatu yang menguatkan Anda, bila Anda tidak mengijinkannya untuk melemahkan Anda.(MTOF Mercury)  

Best Regards dan Salam Super,

Maya Pardede | SM 0916 | Cemerlang Financial SVCS, LLC | 08121209898 

PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)


Oleh : Prof. Dr. Suwarsih Madya

 Pendahuluan 

Anda adalah guru yang sudah banyak jam terbangnya, bukan? Pasti Anda punya banyak pengalaman, baik  manis maupun pahit, dalam mengajar. Pengalaman manis dapat Anda rasakan ketika siswa-siswa Anda berhasil meraih prestasi, yang sebagian merupakan kontribusi Anda. Dan, Anda pasti menginginkan siswa-siswa Anda selalu berhasil meraih prestasi terbaik. Namun, mungkin keinginan Anda yang mulia tersebut lebih sering tidak tercapai karena berbagai alasan. Misalnya, mungkin Anda sering menemukan siswa-siswa tidak bersemangat, kurang termotivasi, kurang percaya diri, kurang disiplin, kurang bertanggung jawab dsb. Pasti Anda sudah melakukan upaya untuk mengatasinya, tetapi mungkin hasilnya masih jauh dari yang Anda inginkan.            

Read More »


Cara Mudah Bersyukur


Cara Mudah Bersyukur
Oleh : Idris Thaha

”Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Alnahl [16]: 18). Bersyukur merupakan salah satu kewajiban setiap orang kepada Allah. Begitu wajibnya bersyukur, Nabi Muhammad yang jelas-jelas dijamin masuk surga, masih menyempatkan diri bersyukur kepada Allah.

Dalam sebuah hadis disebutkan, Nabi selalu menunaikan shalat tahajud, memohon maghfirah dan bermunajat kepada-Nya. Seusai shalat, Nabi berdoa kepada Allah hingga shalat Subuh.Bersyukur merupakan salah satu ibadah mulia kepada Allah yang mudah dilaksanakan, tidak banyak memerlukan tenaga dan pikiran. Bersyukur atas nikmat Allah berarti berterima kasih kepada Allah karena kemurahan-Nya. Dengan kata lain, bersyukur berarti mengingat Allah yang Mahakaya, Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Maha Penyantun.Para ulama mengemukakan tiga cara bersyukur kepada Allah.

Pertama, bersyukur dengan hati nurani. Kata hati alias nurani selalu benar dan jujur. Untuk itu, orang yang bersyukur dengan hati nuraninya sebenarnya tidak akan pernah mengingkari banyaknya nikmat Allah. Dengan detak hati yang paling dalam, kita sebenarnya mampu menyadari seluruh nikmat yang kita peroleh setiap detik hidup kita tidak lain berasal dari Allah. Hanya Allahlah yang mampu menganugerahkan nikmat-Nya.

Kedua, bersyukur dengan ucapan. Lidahlah yang biasa melafalkan kata-kata. Ungkapan yang paling baik untuk menyatakan syukur kita kepada Allah adalah hamdalah. Dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda, ”Barangsiapa mengucapkan subhana Allah, maka baginya 10 kebaikan. Barangsiapa membaca la ilaha illa Allah, maka baginya 20 kebaikan. Dan, barangsiapa membaca alhamdu li Allah, maka baginya 30 kebaikan.”Ketiga, bersyukur dengan perbuatan, yang biasanya dilakukan anggota tubuh. Tubuh yang diberikan Allah kepada manusia sebaiknya dipergunakan untuk hal-hal yang positif. Menurut Imam al-Ghazali, ada tujuh anggota tubuh yang harus dimaksimalkan untuk bersyukur. Antara lain, mata, telinga, lidah, tangan, perut, kemaluan, dan kaki. Seluruh anggota ini diciptakan Allah sebagai nikmat-Nya untuk kita. Lidah, misalnya, hanya untuk mengeluarkan kata-kata yang baik, berzikir, dan mengungkapkan nikmat yang kita rasakan. Allah berfirman, ”Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).” (QS Aldhuha [93]: 11). 

Membuat Blog dengan WordPress


MEMBUAT BLOG DI WORDPRESSOleh fatihsyuhud.com Setelah kita pelajari dan praktekkan cara buat blog di wordpress.com, maka berikut tutorial lengkap wordpress untuk memahami menu-menu yang ada di Dasbor atau Dashboar wordpress. Tutorial wordpress kali ini saya harap cukup mewakili setiap pertanyaan blogger pemula yang ngeblog di wordpress.  Setelah login, kita akan langsung masuk ke Dashboard atau Dasbor. Di situ terdapat dua baris menu utama. Yang bagian atas atau sebut saja “menu atas” ada menu Dasbor (Dashboard), (a) Tulis (Write), (b)  Kelola (Manage), (c)  Komentar (Comment), (d)  Blogroll, (e)  Tampilan (Presentation), (f)   Pengguna (Users), (g)  Opsi (Option),(h)  Upgrade.Di bawahnya (saya sebut “menu bawah”) ada menu (a) Statistik blog (Blog Statistic), (b) Peselancar Blog (Blog Surfer), (c) Komentar Saya (My Comment), (d) Penyelancar Tag (Tag Surfer). 1. Fungsi Menu-menu bagian Atas A. Tulis (Write): untuk menulis / posting tulisan kita B. Kelola (Manage), kalau diklik akan muncul 6 (enam) submenu lagi sbb:b.1. Tulisan (posts) berfungsi menampilkan artikel-artikel yang sudah kita posting. Kita juga dapat mengedit (menyunting) tulisan-tulisan tersebut dengan mengklik “sunting” atau “edit” di artikel yang akan diedit.b.2.  Halaman (pages), berfungsi menampilkan halaman statis / Pages yang sudah kita buat. Di sini kita bisa mengedit halaman yang ada atau membuat halaman baru.b.3.  Unggah (Upload), berfungsi mengupload file.b.4.  Kategori (Category), untuk mengedit, mendelete atau membuat kategori baru.b.5.  Impor (Import), untuk mengimpor file dari blog lainb.6.  Ekspor (Export), untuk mengekspor file di blog wordpress Anda ke blog lain. C. Komentar (Comment), kalau diklik akan muncul 3 (tiga) submenu lagi sbb:c.1.  Komentar, menampilkan seluruh komentar di blog Anda. Di sini kita bisa   mengedit atau mendelete komentar yang ada.c.2.  Menunggu Moderasi (Waiting Moderation), kalau diklik akan menampilkan   komentar yang masuk daftar moderasi yang bisa Anda edit dengan “setujui” (approve), hapus (delete), spam (dianggap spam).c.3.  Akismet Spam, kalau diklik akan menampilkan komentar yang masuk daftar spam (sampah). D. Blogroll (tambah link)
Kalau diklik akan muncul 4 (empat) submenu sbb:
d.1. Kelola (manage) blogroll, untuk mengedit, merubah atau menghapus taut (link) yang ada.
d.2. Tambahkan taut (Add link), untuk menambah link baru.
d.3. Impor taut (Import link), untuk mengimpor daftar link dg OPML atau file di komputer kita.
d.4. Kategori (category), kategorisasi link. Bedakan dengan kategori posting (lihat, b.4.)

E. Tampilan (Presentation), kalau diklik akan muncul 5 (lima) submenu sbb:

e.1. Tema (Theme), menampilkan daftar template yang bisa kita pilih untuk blog kita. Tinggal klik template yang kita suka.
e.2. Widgets, untuk mengaktifkan widget dan memilih widget yang ingin kita tampilkan di sidebar.
e.3. Extras, untuk mengaktifkan atau menon-aktifkan pratilik Snap. By default (aslinya) sudah aktif, klik tanda tik (uncheck) supaya tidak aktif. Saya lebih menganjurkan fasilitas Snap ini dinonaktifkan saja karena cukup mengganggu.
e.4. Current Theme Options, berfungsi untuk (a) merubah header blog. Bisa diganti dengan header buatan sendiri; (b) Setting warna dan posisi sidebar blog; (c) Mengisi informasi personal untuk ditampilkan sebagai data waktu memberi komentar; dan (d) untuk reset (menghapus dan mengembalikan ke setting-an awal.
e.5. Edit CSS, untuk merubah CSS template blog. Ini bagi blogger lanjut, tak cocok bagi pemula.

F. Pengguna (Users)Untuk menambah user / pengguna yang memiliki akses ke blog Anda sebagai kontributor, co-author, atau subscriber. Anda bisa memiliki lebih dari satu user untuk akses ke blog Anda.

G. Opsi (Options). Kalau diklik akan muncul 8 (delapan) submenu sbb:g.1. Opsi Umum, berfungsi untuk (a) Membuat atau mengedit judul blog, (b) Slogan (deskripsi) blog, (c) Memilih / mengedit bahasa yang digunakan di blog, (e) Dll.g.2. Menulis atau Opsi Menulis, yang terpenting dalam submenu ini adalah menu “Kategori tulisan standar”. Pilih dari daftar kategori tentang kategori apa yang akan dipakai secara by-default di posting (saya piliha kategori fatih-syuhud). Ini artinya kalau saya lupa memakai kategori dalam sebuah posting, maka otomatis artikel tersebut akan masuk kategori fatih-syuhud.g.3. Membaca atau Opsi Membaca. (a) Halaman Depan (Frontpage), pilih “Tulisan Terakhir” (sudah otomatis); (b) Halaman Blog (Blog post), pilih berapa artikel yang tampil di halaman utama; (c) Umpan Sindikasi (Syndicated Feed), “Tunjukkan yang terkini:” pilih 10; “Untuk tiap artikel, tunjukkan:”, pilih Teks Penuh; (d) Feeds yang diperkaya (Rich feeds), kasih tanda tik (check) di semua kotak. Jangan lupa klik “Perbarui Opsi” atau “Update Options”g.4. Diskusi atau Opsi Diskusig.4.i. Di “Penataan biasa untuk sebuah artikel:” yang terpenting di sini adalah kotak ketiga. Kasih tanda tik di “Izinkan orang untuk mengirim komentar pada artikel” supaya kotak komentar terbuka di bawah setiap artikel Anda.g.4.ii. Di “E-mail saya setiap kali:” (a) kasih tanda tik di kotak pertama bila Anda ingin dapat laporan ke email Anda setiap ada yang berkomentar di blog Anda; dan (b) kasih tanda tik di “Sebuah komentar ditahan untuk moderasi” apabila Anda ingin dapat email setiap ada komentar yang dimoderasi. Yang (b) ini khusus bagi blogger yang memoderasi kotak komentarnya.g.4.iii. Di “Sebelum sebuah komentar muncul:” (a) Kasih tanda tik apabila ingin memoderasi setiap komentar (saran, sebaiknya tidak dimoderasi); (b) Kasih tanda tik di “Penulis komentar harus mengisi nama dan e-mail” apabila Anda ingin setiap komentator menulis alamat email dan situsnya; (c) Di “Penulis komentar harus mempunyai komentar yang disetujui sebelumnya” sebaiknya tidak dikasih tanda tik.g.5. Privasi (Privacy). Opsi Privasi. Kasih tanda tik di “Saya ingin blog ini tampak di mesin pencari seperti Google dan Sphere, dan di senarai publik milik WordPress.com.” supaya masuk mesin pencari google, yahoo, msn, dll.g.6. Hapus Blog atau Delete Blog.
Awas! Menu ini jangan dibuka-buka, kecuali kalau memang Anda dan blog Anda sudah bosan hidup.
g.7 yaitu OpenID dan g.8 Domain-domain. Submenu ini tidak begitu penting, yang penasaran silakan lihat sendiri.

Salam ngeblog, 

Setting Outlook 2007


Kalau langsung setting ke Outlook 2007 susah Oom, karena yahoo
merekomendasikan pakai outlook 98 atau outlook 2000. Tapi bisa
diakalin
1. Hapus account di Outlook 2007
2. Bikin account dulu pakai Outlook Express, kalau dicoba sudah
berhasil. buka Outlook 2007, nanti khan ada pertanyaan apakah
import dari OE, jawab yes ….. selesai
3. Adapun setingan OE nya sbb :

1. Dari menu Tools, pilih “Accounts.”
2. Pilih tab “Mail.”
3. Klik tombol “Add”.
4. Dari menu Add, klik “Mail.”
5. Pada kotak teks berlabel Display Name, ketik nama Anda dan klik “Next.”
6. Pada kotak Email Address, ketik alamat Surat Yahoo! Anda (pastikan untuk mencantumkan “@yahoo.co.id”) and click “Next.”
7. Di bawah “My incoming mail server is a…” pilih “POP3.”
8. Ketik “pop.mail.yahoo.
co.id” pada kotak Incoming Mail (POP3, IMAP, atau HTTP) Server.
9. Ketik “smtp.mail.yahoo.
co.id” pada kotak Outgoing Mail (SMTP) Server.
10. Klik “Next.”
11. Dalam kotak Account Name, ketik ID Surat Yahoo! Anda (alamat email Anda tanpa “@yahoo.co.id”).
12. Pada kotak Password, ketik sandi Surat Yahoo! Anda.
13. Jika Anda ingin Outlook Express mengingat sandi Anda, centang kotak “Remember password.”
14. Jangan mencentang kotak berlabel “Log on using Secure…”
15. Klik “Next.”
16. Klik “Finish.”

Susunan Acara Seminar ICT 15 April 2008 di UNJ


SUSUNAN ACARA SERIAL SEMINAR NASIONAL“THE POWER OF ICT IN EDUCATION” 

PUKUL ACARA KETERANGAN
07.30 – 08.00 Registrasi Peserta/Hiburan Seksi Pendaftaran
08.00 – 08.30 Pembukaan acara Seminar NasionalTHE POWER OF ICT IN EDUCATIONSambutan-sambutana.  Laporan Ketua Panitia Pelaksanab.  Sambutan Direktur Pasca Sarjana Sia Acara dan MC
08.30 – 10.00 ”Pemanfaatan ICT di sekolah dan Tantangan yang dihadapi”a.  Pengalaman Guru di sekolahSD Global Jaya, (Agus Sampurno)SMP Labschool Jakarta, (Wijaya Kusumah)SMA 13 Jakarta(Adriansyah)SMK Negeri 3 Jakarta (Dedi Dwitagama)b.  Dr. Onno W. Purbo (Pakar Internet)c.   Dr. Baedhowi (Dirjen PMPTK) Sia Acara dan  MC  Moderator Drs. Faried Wadjdi, M.Pd.,MM(Kepala Unit PPL UNJ)
10.00 -10.30 Hiburan / Doorprize / Games dari sponsor
10.30 – 12.00 ”Implementasi ICT dalam pendidikan; tantangan dan peluang di era globalisasi”a.  Dirjen Telematika DepkominfoCahjana Ahmad Jayadi b.  Prof. Dr. Yusufhadi Miarsoc.   Sonny Trilaksono, Indosat Training Centred.  Indra Utoyo, Direktur IT PT. Telkom Sie Acara dan MC Moderator Drs. Abu Bakar Alatas, M.Sc (Pustekkom)
12.00 -13.00 Istirahat, sholat, dan makan siangHiburan Musik dan pembagian Doorprize dari sponsor Si Konsumsi/ Perlengkapan
13.00 -14.30 Membangun Model Pembelajaran berbasis ICT di sekolaha.  DR. Romi Wahono pakar e-learningb.  Uwes A. Chairuman, Pustekkomc.   Tahir Abdullah, Education Manager, Toshiba Indonesiad.  Dra. Dewi Salma Prawiradilaga, M.Sc (FIP/UNJ) Sie Acara dan MCModerator Drs, Khaerudin, M.Pd(Dosen FIP UNJ)
14.30 -15.00 Hiburan/Dorprize/Games dari sponsor Sie Acara dan MC
15.00 -15.30 Penutupan dan Pembagian Sertifikat Sie Pendaftaran

Workshop ICT di UNJ 19 dan 26 April 2008


 JADWAL WORKSHOP ICT HARI PERTAMA SABTU, 19 APRIL 2008 

NO WAKTU MATERI KEGIATAN

1.

08.00 – 09.30

DISAIN PEMBELAJARAN

OLEH : DRA. DEWI SALMA

TUTORIAL

2.

09.30 – 10.00

COFFE BREAK

 

3.

10.00 – 12.00

PEMBUATAN DISAIN PEMBELAJARAN DGN KOMPUTER

PRAKTEK

4.

12.00 – 13.00

ISHOMA

 

5.

13.00 – 14.30

TEKNIK PRESENTASI YANG EFEKTIF DENGAN POWER POINT OLEH IWAN SETIAWAN

TUTORIAL

6.

14.30 – 16.00

PEMBUATAN MATERI PEMBELAJARAN DGN POWER POINT

PRAKTEK

   JADWAL WORKSHOP ICT HARI KEDUASABTU, 26 APRIL 2008 

NO WAKTU MATERI KEGIATAN

1.

08.00 – 09.30

PENGENALAN PEMBUTAN EMAIL, BLOG DAN WEBSITE

TUTORIAL

2.

09.30 – 10.00

COFFE BREAK

 

3.

10.00 – 12.00

PRAKTIK PEMBUATAN EMAIL, BLOG DAN WEBSITE DGN KOMPUTER OLEH FATAH

PRAKTEK

4.

12.00 – 13.00

ISHOMA

 

5.

13.00 – 14.30

PENGENALAN MACROMEDIA FLASH OLEH YORDIANSYAH

TUTORIAL

6.

14.30 – 16.00

PEMBUATAN MATERI PEMBELAJARAN DGN FLASH

PRAKTEK

  

TUTORIAL PAGE MAKER 7.0


TOTORIAL PAGE MAKER 7.0PageMaker merupakan merupakan program Desktop Publishing yang menjadistandar industri publikasi . Bagi orang yang bekerja pada dunia penerbitan maupunadvertising tentu sudah tidak asing lagi karena PageMaker dirancang untuk membuattampilan halaman majalah, buku, leaflet, booklet, kartu undangan, kartu nama, dansejenisnya menjadi mudah dan inovatif. Dengan kemampuannya untuk menggabungkantulisan, foto dan ilustrasi, PageMaker membuat proses produksi berlangsung secara efisien

Silhakan dilihat di file.pdf

THE POWER OF ICT IN EDUCATION


rapat-seminar.jpg

Perubahan era industrialisasi menjadi era informasi telah terjadi, era industri yang ditandai dengan dibangunnya pabrik-pabrik berskala menengah dan besar telah mengguncang dunia, baik secara ekonomi maupun secara sosial. Tahun 2000, era informasi juga telah mengguncangkan dunia, bahkan lebih dahsyat dari yang pernah dibayangkan oleh masyarakat, informasi dapat diakses dengan mudah dan cepat. Setiap perkembangan, dapat dengan mudah dan cepat diinformasikan kepada masyarakat, batasan ruang dan waktu telah dihilangkan. Alvin Toffler benar, era industrialisasi akan berakhir dengan dimulainya era baru, yakni era informasi. 

Era informasi telah dimulai, teknologi menjadi suatu keharusan, tidak ada satu bidang pun didunia ini yang tidak tersentuh oleh teknologi, termasuk teknologi informasi dan komunikasi. Kecepatan dan ketepatan kita dalam mendapatkan informasi menjadi suatu peluang dan kekuatan, karena dengan mendapatkan informasi, kita dapat menentukan sesuatu lebih akurat. Information and communication technology (ICT) atau lebih dikenal dengan istilah Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) adalah suatu alat, alat untuk mempermudah dan mempercepat kita dalam mendapatkan informasi. Perkembangan ICT di Tanah Air masih tertinggal jauh dibandingkan negara-negara lain. Cina, Singapura, Malaysia, dan India, lebih maju dari kita dilihat dari sisi pengetahuan dan pemanfaatan ICT.

Perkembangan ICT sangat dipengaruhi oleh peran pemerintah dan dukungan masyarakat, peran pemerintah dapat dinilai dari upaya-upaya yang telah ditetapkan, baik regulasi  pemerintah dari segi peraturan atau perangkat hukum, maupun regulasi dari segi penyediaan sarana dan prasarana ICT. Masyarakat, selaku pengguna dan pemakai secara langsung, juga menentukan cepat atau lambatnya perkembangan ICT. Namun kesadaran masyarakat juga tidak terlepas dari peran pemerintah. Di Indonesia sudah ada badan yang mengurus perkembangan teknologi informasi, yaitu Tim Koordinasi Telematika Indonesia (TKTI). Salah satu target mereka adalah pelaksanaan pemerintahan online atau e-government. Dengan e-government, pemerintah dapat menjalankan fungsinya melalui media internet. Tujuannya adalah memberi pelayanan kepada publik secara transparan dengan akses yang lebih mudah.          

Pendidikan tidak dapat terlepas dari ICT, karena proses pembelajaran dalam pendidikan akan lebih cepat dan efektif ketika dapat memanfaatkan ICT. Selain perubahan paradigma guru, dosen dan praktisi pendidikan dalam menggunakan ICT untuk proses pembelajar tentu sangat berharap adanya kebijakan yang mendukung dalam bidang ICT dari pemerintah. Kebijakan Depdiknas, Depkominfo dan lembaga-lembaga lainnya untuk mensukseskan percepatan dan maksimalisasi pemanfaatan ICT dalam pendidikan sangat ditunggu-tunggu oleh dunia pendidikan, karena kebijakan tersebut akan menjadi salah satu kunci suksesnya penerapan ICT dalam pendidikan di Indonesia. Untuk suksesnya penerapan ICT dalam pendidikan di semua lini, Selain dukungan Pemerintah, maka diperlukan penguasaan para guru, dosen dan praktisi pendidikan di bidang ICT. Dengan meleknya mereka pada ICT, diharapkan pendidikan di Indonesia lebih maju dan cepat berkembang. 

Penelitian Kuantitatif


Pengaruh Tehnik Pembelajaran Kreatif dan Kemampuan Penalaran Terhadap Hasil Belajar Siswa SMP 
The Effects Of CreatiVE Intructional Techniques And LogicaL Thinking Ability On Students Process Skills In Science 
oleh : Ahmad Sopyan
Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Semarang (UNNES)  

Abstrak

Tujuan penelitian ini untuk menentukan pengaruh tehnik pembelajaran, kemampuan penalaran dan hubungan antara kedua variabel terhadap penguasaan keterampilan proses IPA. Penelitian dilakukan secara experimen pada SLTP di Tasikmalaya dengan sampel berjumlah 94 siswa yang dipilih secara acak. Hasil yang diperoleh sebagai berikut: (1) Penerapan tehnik pembelajaran kreatif divergen memberikan hasil keterampilan proses yang lebih baik dalam IPA ( CD = 28.14 ) dibandingkan dengan tehnik pembelajaran kreatif konvergen ( AK = 26.60) ( Fo = 11.67 > Ft  = 3.92 ). (2) ada interaksi antara teknik pembelajaran dan kemampuan penalaran yang memberikan pengaruh yang berbeda terhadap keterampilan proses IPA (3) untuk siswa yang berpenalaran formal, tehnik pembelajaran kreatif divergen yang menghasilkan perbedaan prestasi yang tidak signifikan dibandingkan dengan aktif divergen (Fo = 2.28 < F’ = 8.04), (4) untuk siswa yang kemampuan penalaran pada oprasi konkrit, tehnik pembelajaran kreatif divergen memberikan prestasi yang lebih baik ( CD = 29.39) dibanding dengan aktif konvergen ( AC = 24.33) (Fo = 28.76 > F’ = 8.04). Kata kunci: Tehnik pembelajaran kreatif, kemampuan penalaran, dan  keterampilan proses dalam IPA

Abstract

 The aims of this research were to determine the effects of instructional techniques, logical thinking ability and the interaction of both variables on students process skills in science. The research was conducted in a goverment junior high school in Tasikmalaya with a simple of n = 94 selected randomly.           The results obtained were as follows: (1) The application of the creative-divergent instructional technique gives a better process skills in science ( CD = 28.14 ) compared to that of the active-convergent one ( AK = 26.60) ( Fo = 11.67 > Ft  = 3.92 ). (2) There is an interaction between  instructional  technique and logical thinking ability which exert differences on students’ process skills in science   (Fo=20.73  > Ft=3.92).  Further analysis using the Scheffe’s test revealed that (3) for students having a formal logical thinking ability, the creative divergent instructional technique resulted in a non-significant difference of achievement compared to the active-convergent one (Fo = 2.28 < F’ = 8.04), (4) for students having concrete operational logical thinking ability, the creative-divergent instruc-tional technique give a better achievement ( CD = 29.39) compared to active-convergent one ( AC = 24.33) (Fo = 28.76 > F’ = 8.04).

Key words: Creative instructional techniques, logical thinking ability, and the process skill in science

  


PENDAHULUAN

       Faktor penting dalam penguasaan teknologi adalah sumber daya manusia yang dikembangkan melalui pendidikan. Karena itu pendidikan sebaiknya berisikan program yang diarahkan untuk menyiapkan anak didik agar mampu menyerap teknologi yang selalu berubah. Program pendidikan terarah mendidik siswa selalu siap dengan perubahan-perubahan. Untuk membina fleksibilitas  ini maka perlu ditingkatkan kemampuan berpikir logis, kritis, berinisiatif, dan kreatif. Kesadaran dan skebijakan pentingnya pengembangan berpikir kreatif menjadi modal dasar untuk   melakukan inovasi  pada pendidikan IPA. Pengembangan kreativitas pada pendidikan IPA telah diterapkan dalam bentuk “Keterampilan Proses”, sesuai dengan definisi kreativitas oleh Torrence (1988). Conny Semiawan (1989) menyatakan bahwa pengembangan kreativitas anak didik dapat terlaksana jika dalam pembelajaran diterapkan keterampilan proses.

            Mengkaji tujuan pengajaran IPA untuk SD, SLTP, dan SMU, baik pada kurikulum  1975, 1984, maupun 1994, terlihat bahwa upaya menerapkan pendekatan keterampilan proses atau mengembangkan kemampuan siswa dalam menggunakan metode ilmiah telah dilakukan sedini mungkin, dan secara berkelanjutan, serta telah berlangsung selama dua puluh tahun.  Namun lamanya waktu yang telah dilewatkan sejak pencanangan pelaksanaan pendekatan keterampilan proses, tidak menjamin tercapainya keberhasilan yang diharapkan. Hasil-hasil penelitian yang dilakukan Muhamad Nur (1993) dan Ratna Wilis Dahar (1985) menunjukkan bahwa penguasaan siswa terhadap keterampilan proses belum utuh. Penerapan pendekatan keterampilan proses yang dilaksanakan sejak kurikulum 1975, 1984, sampai 1994, belum dapat meningkatkan minat dan motivasi siswa terhadap pelajaran IPA seperti diharapkan.             Penerapan pendekatan keterampilan proses dalam pembelajaran IPA tampaknya bukan sekedar masalah teknis metodologis saja, melainkan berkaitan dengan masalah yang lebih mendasar  yaitu sosial budaya dengan lebih khusus faktor psikologis anak. Karena itu perlu kiranya dilakukan inovasi dalam pembelajaran IPA untuk meningkatkan minat dan motivasi siswa terhadap IPA dengan mengembangkan tidak hanya berpikir logis dan analitis namun juga inisiatif dan kreatif.  

Rumusan Masalah    

Masalah penelitian dirumuskan sebagai berikut: (1) Secara keseluruhan, apakah ada perbedaan hasil belajar berupa keterampilan proses IPA antara siswa SLTP yang diajar dengan Teknik Pembelajaran Kreatif divergen dan mereka yang diajar dengan Teknik Pembelajaran Aktif konvergen?, (2) Apakah terdapat interaksi antara Teknik Pembelajaran dengan Kemampuan penalaran yang memberikan perbedaan pengaruh terhadap hasil  belajar IPA siswa SLTP?, (3) Untuk siswa yang berpenalaran operasi formal, apakah hasil belajar IPA siswa yang diajar dengan Teknik Pembelajaran Aktif konvergen lebih tinggi daripada siswa yang diajar dengan Teknik Pembelajaran Kreatif divergen?, (4)  Untuk siswa yang berpenalaran operasi konkrit, apakah hasil belajar IPA siswa yang diajar dengan Teknik Pembelajaran Kreatif divergen lebih tinggi daripada siswa yang diajar dengan Teknik Pembelajaran Aktif konvergen?

Tujuan

Tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui apakah ada perbedaan hasil belajar antara siswa SLTP yang diajar dengan tehnik pembelajaran kreatif divergen dengan tehnik pembelajaran aktif konvergen. (2) untuk mengetahui apakah ada interaksi antara teknik pembelajran kreatif dan kemampuan penalaran terhadap keterampilan proses IPA ManfaatPenelitian ini diharapkan bermanfaat bagi pelaksanaan pengembangan pembelajaran IPA untuk menumbuhkembangkan keterampilan proses dan dapat menjadi dasar dalam mengembangkan model-model pembelajaran yang berbasis keterampilan ilmiah 

Hipotesis 

           Berdasarkan diskripsi teoritis,  dan  kerangka  berpikir yang telah disajikan, maka hipotesis  penelitian  dirumuskan sebagai berikut: (1) secara keseluruhan hasil belajar berupa keterampilan proses IPA pada  siswa  yang  belajar dengan teknik kreatif-divergen lebih baik daripada siswa yang  belajar dengan teknik aktif-konvergen, (2) ada interaksi antara Teknik Pembelajaran Kreatif dan Kemampuan Penalaran terhadap hasil belajar siswa, berupa penguasaan keterampilan proses IPA, (3) bagi  siswa  berpenalaran  formal,  hasil belajar berupa keterampilan proses IPA pada  siswa  yang  belajar dengan teknik aktif-konvergen lebih baik dari-pada siswa yang  belajar dengan teknik kreatif-divergen, (4) bagi  siswa  berpenalaran konkrit,  hasil belajar berupa keterampilan proses IPA pada  siswa  yang  belajar dengan teknik kreatif-divergen lebih baik daripada siswa yang  belajar dengan teknik aktif-konvergen.  

METODOLOGI PENELITIAN

            Populasi dari penelitian ini adalah, siswa kelas 2 SLTP  Negeri 9 Tasikmalaya. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara berkelom-pok (cluster Sampling). Pertama pengacakan dilakukan terhadap sekolah tempat penelitian dilaksanakan. Pengacakan kedua dilakukan pada kelas yang digunakan untuk pelaksanaan perlakuan.  Satu kelas dilakukan perlakuan berupa pengajaran IPA dengan teknik pembe-lajaran kreatif-divergen, dan satu kelas lagi pengajaran IPA dengan teknik pembelajaran aktif-konvergen.

            Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen, yang dilaksanakan dengan menggunakan rancangan faktorial 2×2, dengan variabel-variabel bebas adalah  teknik pembelajaran dan kemampuan penalaran  siswa. Variabel terikat adalah hasil belajar berupa penguasaan keterampilan proses IPA.

            Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data terdiri dari dua buah instrumen, yaitu (1) Tes Hasil Belajar berupa kemampuan keterampilan proses IPA. Uji validitas isi dilakukan dengan mengacu kepada Kurikulum Pendidikan Dasar Tahun 1994 bidang Studi IPA. Penghitungan koefesien reliabilitas dilakukan dengan menggunakan rumus Kuder Richardson (KR-20) dengan hasil koefesien reliabilitas 0,71, dan (2) instrumen kedua berupa tes kemampuan penalaran Formal Siswa. Instrumen ini dikembangkan oleh Tobin & Capie (1991). Instrumen ini telah diuji kembali reliabilitasnya dengan menggunakan KR-20, dan menghasilkan r = 0,48 dan digunakan untuk memilah siswa ke dalam dua kelompok yaitu kelompok siswa berkemampuan penalaran formal, dan siswa berkemampuan penalaran konkrit. Teknik analisis data yang digunakan untuk pengujian hipotesis adalah ANAVA 2-jalan yang dilanjutkan dengan uji perbandingan ganda teknik Scheffé.

  

HASIL PENELITIAN DAN Pembahasan

Tabel 1  : Deskripsi Data Hasil Belajar

                 

Sumberstatistik  A-1  A-2  å
 B-1 ns 2026,403,21 1628,183,31 3627,193,33
 B-2  ns 2829,392,88 3024,334,25 5826,704,43
 å ns 4828,143,34 4625,604,33 9426,943,63

Keterangan:

A-1           = Kelompok siswa yang belajar IPA dengan teknik pembelajaran kreatif-divergen
A-2 = Kelompok siswa yang belajar IPA dengan teknik pembelajaran aktif-konvergen
B-1 =  Kelompok siswa berkemampuan pena-laran formal
B-2 =  Kelompok siswa berkemam-puan pena-laran konkrit
n =  Banyak sampel pada setiap kelompok
=  Rata-rata skor hasil belajar
s =  Standar deviasi

   

Pengujian hipotesis

            Pengujian hipotesis penelitian dilakukan dengan teknik analisis varian dua jalan, dan kemudian dilakukan uji lanjut dengan menggunakan uji Scheffé.  Hasil analisis varians disajikan pada tabel 2.    

Tabel 2. Daftar Anava Skor Hasil  Belajar  IPA

Sumber varians Jumlah kuadrat   ( KJ )    ( dk ) rata-ratakuadrat(MK) FHitung FTabel(a 5%)
Antar kolom(Tek. Pemb.)      63,74  1     63,74                             5,16*     3,92
Kolom dan baris(interaksi)    274,00  1    274,00   22,20ns     3,92
Dalam kelompok 1110,58 90     12,33    
Total 1453,02 93      

 * signifikanns non signifikan  Perbedaan hasil belajar IPA siswa yang belajar dengan Teknik Kreatif-divergen dengan Teknik aktif-konvergen.

Hasil perhitungan menunjuk-kan bahwa  Fo =  5,16  >  Ft  = 3,92  ini berarti  hipotesis nol pertama ditolak. Kesimpulan, secara keselu-ruhan terdapat perbedaan hasil belajar IPA antara kelompok siswa yang belajar dengan teknik kreatif-divergen dengan kelompok siswa yang belajar dengan teknik aktif-konvergen.

Ditinjau dari besarnya angka rata-rata skor hasil belajar IPA  siswa yang belajar dengan teknik kreatif-divergen  lebih besar ( A1 = 28,14) dibanding dengan siswa yang belajar dengan teknik aktif-konvergen ( A2  = 25 ,60).

Untuk meyakinkan hal ini maka dilakukan uji lanjut dengan cara Scheffe, ternyata hasilnya menunjukkan bahwa perbedaan angka tersebut signifikan. Dengan demikian hipotesis penelitian yang menyatakan, bahwa hasil belajar IPA berupa penguasaan keterampilan proses pada siswa yang belajar dengan teknik kreatif-divergen lebih baik daripada siswa yang belajar dengan teknik  aktif, teruji kebenaranya

  Interaksi antara teknik pembelajaran dan kemampuan penalaran terhadap hasil belajar IPA siswa SLTP

            Berdasarkan hasil perhitungan yang ditunjukkan pada tabel 2 bahwa  pada taraf kepercayaan  a = 0,05 harga F hitung lebih besar daripada F tabel (Fo = 22,20  > Ft  = 3,92)  ini berarti  hipotesis nol ketiga ditolak. Dengan demikian hipotesis penelitian yang menyatakan, bahwa ada interaksi antara Teknik Pembelajaran dan kemampuan penalaran terhadap hasil belajar siswa berupa penguasa-an keterampilan proses teruji kebenarannya.

            Jadi dapat disimpulkan bahwa terdapat interaksi antara teknik pembelajaran dengan kemampuan penalaran siswa yang memberikan perbedaan pengaruh terhadap hasil belajar berupa keterampilan proses IPA siswa. Dengan terbuktinya secara signifikan interaksi tersebut, maka dilakukan uji lanjut dengan menggunakan Uji Scheffé.

            Hasil perhitungan uji lanjut analisis varian dengan menggunakan teknik Scheffé untuk kelompok yang dibandingkan, disajikan pada tabel 3.

  

Tabel 3. Hasil Uji Lanjut Analisis Varians dengan Teknik Scheffe

Perbandingan

Rerata Kelompok

F  hitung

1 dengan 2

2,28 ns

3 dengan 4

28,76*

7 dengan 8

12,76*

 Catatan alfa = 5% Keterangan: 

1 = Kelompok siswa berkemampuan penalaran operasi formal yang belajar IPA dengan teknik pembelajaran kreatif-divergen
2 = Kelompok siswa berkemampuan penalaran operasi formal yang belajar IPA dengan teknik pembelajaran aktif-konvergen
3 = Kelompok siswa berkemampuan penalaran operasi konkrit yang belajar IPA dengan teknik pembelajaran kreatif-divergen
4 = Kelompok siswa berkemampuan penalaran operasi konkrit yang belajar IPA dengan teknik pembelajaran aktif-konvergen
7 = Kelompok siswa yang belajar IPA dengan teknik pembelajaran kreatif-divergen secara keseluruhan
8 = Kelompok siswa yang belajar IPA dengan teknik pembelajaran kreatif-divergen secara keseluruhan

Perbedaan hasil belajar IPA antara siswa yang diajar dengan teknik kreatif-divergen dan teknik aktif-konvergen untuk kelompok siswa berpenalaran formal

            Tabel 3 di atas menunjukkan bahwa harga F-hitung untuk perbandingan antara kelompok siswa berkemampuan penalaran operasi formal yang belajar IPA dengan teknik pembelajaran kreatif-divergen dan aktif-konvergen lebih kecil dibandingkan F-tabel ( Fo = 2,28 < F’ = 8,84 ). Dengan demikian, Ho diterima yaitu bahwa untuk siswa berpenalaran formal tidak ada perbedaan pengaruh antara mereka yang diajar dengan teknik pembelajaran kreatif-divergen dan aktif-konvergen. Hal ini memberikan arti bahwa hasil belajar IPA kelompok  siswa berkemampuan penalaran tingkat formal yang belajar dengan teknik kreatif-divergen (Kel.1) sama dengan kelompok siswa berkemampuan penalaran tingkat formal yang belajar dengan teknik aktif-konvergen (Kel. 2).

 Perbedaan hasil belajar IPA antara siswa yang diajar dengan teknik kreatif-divergen dan teknik aktif-konvergen untuk kelompok siswa berpenalaran konkrit.

            Berdasarkan hasil uji lanjut dengan cara Scheffe di atas terlihat bahwa harga F-hitung untuk perbandingan antara kelompok siswa berke-mampuan penalaran operasi konkrit yang belajar IPA dengan teknik pem-belajaran kreatif-divergen dan aktif-konvergen lebih besar dibandingkan F-tabel ( Fo = 28,76 > F’ = 8,84 ). Dengan demikian, Ho ditolak dan menerima H1 yaitu bahwa untuk siswa berpenalaran  konkrit, pengaruh teknik pembelajaran kreativ-divergen lebih tinggi secara signifikan daripada teknik pembelajaran aktif-konvergen. Hal ini memberikan arti bahwa hasil belajar kelompok  siswa berkemam-puan penalaran tingkat kongkrit yang belajar dengan teknik kreatif-divergen   ( Kel. 3), berbeda secara signifikan dengan siswa berkemampuan pena-laran tingkat kongkrit yang belajar dengan teknik aktif-konvergen (Kel.4). Rata-rata hasil belajar kelompok siswa berkemampuan penalaran tingkat kongkrit yang belajar dengan teknik kreatif-divergen (  = 29,39) lebih baik daripada kelompok siswa berkemampuan penalaran tingkat kongkrit yang belajar dengan teknik aktif-konvergen (  = 24,33 ).

Pembahasan

            Hasil-hasil yang diperoleh dari penelitian ini memberikan manfaat bagi pelaksanaan pengembangan pembelajaran IPA untuk menumbuhkembangkan keterampilan proses. Ada beberapa aspek yang dibahas berkaitan dengan hasil penelitian.

            Pertama, perancangan dan pengembangan  pembelajaran  IPA harus sampai pada tingkatan yang dapat menjamin terjadinya proses belajar mengajar yang dapat meningkatkan minat dan kemampuan siswa, sesuai dengan karakteristik siswa. Agar dapat mencapai maksud tersebut proses perancangan harus dilakukan secara berencana dan sistematis. Rancangan pembelajaran IPA yang bertujuan mengembangkan keterampilan proses siswa, harus berorientasi dan dirancang berdasarkan keterampilan berpikir ilmiah. Langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam merancang pembelajaran IPA yang mengembangkan keteram-pilan proses adalah: a) mengidentifikasi sifat-sifat keterampilan proses yang akan diajarkan, b) merencanakan pembelajaran keterampilan proses,  c) menyediakan media atau alat yang dibutuhkan  dan d) mengintegrasikan pembelajaran keterampilan proses dengan materi IPA.

            Dari keempat langkah tersebut di atas, langkah pertama adalah langkah terpenting yang sering terlupakan oleh guru. Kegiatan mengidentifikasikan sifat-sifat keterampilan proses yang akan diajarkan adalah kegiatan yang menentukan langkah selanjutnya, yang pada akhirnya menentukan hasil yang akan diperoleh.

            Kegiatan mengidentifikasikan sifat-sifat keterampilan proses yang akan diajarkan, diawali dengan memilih keterampilan proses yang akan diajarkan,  menentukan apa yang “dibutuhkan” untuk menguasai beberapa keterampilan proses yang akan diajarkan, kemudian melakukan analisis reflektif terhadap sifat-sifat keterampilan proses yang akan diajarkan, dan akhir kegiatan ini menentukan sifat kunci dari keterampilan proses yang akan diajarkan tersebut.

            Temuan yang menunjukkan bahwa terjadi interaksi antara teknik pembelajaran dan kemampuan penalaran siswa membawa implikasi bah-wa dalam pengembangkan pembelajaran IPA, faktor karateristik siswa harus menjadi pijakan pengembangan. Pembelajaran bukan hanya mentransfer konsep. Sejak lahir siswa telah berinteraksi dengan lingkungan dan alam sekitar, sehingga pada dirinya telah terbentuk berbagai persepsi tentang berbagai hal. Pembelajaran IPA harus dimulai dari persepsi siswa menuju kepada pembentukan konsep, prinsip, dan teori yang benar menurut IPA.

            Sesuai dengan perkembangan penalaran dan mental manusia, maka teknik pembelajaran IPA harus beroperasi dan berjenjang. Ada tiga tahapan yang diajukan, yakni tahap fenomenologis pada usia muda, tahap analitis pada usia remaja akhir dan awal dewasa, dan ketiga tahap abstraksi pada usia dewasa.

            Pembelajaran IPA sebaiknya diawali dengan penyajian fenomenologis dari gejala alam yang menimbulkan gairah rasa ingin tahu. Penyajian ini dapat melalui peragaan atau pengamatan kejadian alam seharihari. Kegiatan semacam ini dalam pendidikan ilmu pengetahuan alam sering dinamakan “discrepant events” atau “puzzlers and problems”.

             Berbeda dengan penyajian fenomenologis dimana gejala fisika ditanggapi secara induktif, maka pembelajaran IPA pada tahap analitik menuntut tanggapan yang aktif, kritis, deduktif, dan analitik. Pembelajaran IPA pada tahap analitik misalnya dilaksanakan dengan praktikum-praktikum dengan media lembar kerja siswa (LKS), disamping dengan membahas soal-soal atau pemahaman-pemahaman.

            Tahap ketiga dalam pembela-jaran IPA adalah tahap abstraksi yang berkaitan dengan kemampuan penalaran seseorang. Tahap ini hanya mungkin diterapkan setelah peserta didik mempunyai cukup kemampuan analitik dalam menelaah gejala alam. Dalam tahap abstraksi, orang menciptakan model untuk menerangkan gejala fisis yang dihadapinya, dan selanjutnya model ini diterjemahkan pada konsep abstrak yang diuji kebenarannya dengan suatu eksperimen yang direncanakan secara logis dan sistematis.

            Kedua, peranan guru dalam pembelajaran IPA harus dikembangkan bahkan ada kebiasaan guru yang harus dirubah. Guru hendaknya mengusahakan suatu lingkungan belajar sesuai dengan perkembangan mental dan penalaran siswa. Sehubungan dengan itu guru hendaknya lebih berfungsi sebagai fasilitator belajar daripada sebagai instruktor (pengajar) atau director (pengarah) yang menentukan segalanya.

            Guru harus lebih banyak memberikan tantangan daripada tekanan. Tantangan memberikan siswa kesempatan memperoleh kepercayaan terhadap kemampuan-kemampuannya untuk berpikir, menganalisa, dan bertindak. Cara yang termudah agar siswa merasa tertantang adalah dengan mengajukan pertanyaan. Melalui kegiatan bertanya siswa akan berlatih menyampaikan gagasan, dan memberikan respon yang relevan terhadap suatu masalah yang dimunculkan.

            Guru lebih memperhatikan pro-ses IPA daripada produk IPA. Pembelajar IPA yang utuh adalah pembelajaran IPA yang mencakup tiga hakikat IPA, yaitu produk, proses, dan nilai (sikap). Ketiga aspek IPA itu dikembangkan dengan mempertimbangkan keseimbangan segi-segi teoritis dan praktis. Konsep, teori, dan hukum seharusnya tidak diajarkan pada siswa sebagai suatu pengeta-huan yang sudah jadi, melaikan perlu selalu diusahakan agar para siswa juga belajar bagaimana mendapat pengetahuan itu.

            Guru hendaknya dapat menciptakan suasana di dalam kelas yang menunjang rasa harga diri siswa, sehingga merasa aman dan berani mengambil resiko dalam menentukan pendapat dan keputusannya.

            Ketiga, sistem evaluasi pembe-lajaran IPA. Aspek terpenting yang berkaitan dengan teknik pembelajaran IPA adalah sistem evaluasi yang digunakan. Sistem evaluasi yang dilakukan guru sangat menentukan pola belajar siswa. Jika dalam evaluasi yang ditanyakan hanya hapalan, jangan mengharapkan bahwa siswa akan mempelajari di luar hapalan. Jika guru tak pernah mengevaluasi kemampuan keterampilan proses, wajar mereka enggan atau tak suka mempelajari atau melakukannya. Jika evaluasi pembelajaran IPA selalu berupa soal-soal yang mengutamakan perhitungan matematik, maka wajar mereka tertarik belajar soal-soal dan penyelesaiannya, tanpa belajar memahami konsepnya lebih dulu.

            Sistem evaluasi yang ada sekarang perlu dikembangkan sesuai dengan teknik pembelajaran yang selaras dengan tujuan pendidikan IPA itu sendiri. Pengembangan pertama yang terpenting adalah bahwa evaluasi pembelajaran IPA tidak cukup hanya mengevaluasi aspek produk IPA yang berupa pemahaman ter-hadap konsep, prinsip, teori, dan hukum IPA saja. Evaluasi pem-belajaran IPA hendaknya mencakup ketiga aspek yang ada pada IPA yaitu produk, proses, dan sikap.

  SIMPULAN DAN SARAN 

Simpulan

          Berdasarkan perolehan data, pengujian hipotesis, dan pembahasan hasil penelitian, maka dapat disimpulan sebagai berikut: (1) Teknik pembelajaran yang diterapkan dalam proses belajar mengajar IPA di SLTP N 9 Tasikmalaya pada penelitian ini, mempengaruhi hasil belajar yang berupa penguasaan keterampilan proses. Penerapan teknik pembelajaran kreatif-divergen memberikan hasil belajar IPA lebih tinggi, dibandingkan dengan penerapan teknik pembelajaran aktif-konvergen.  (2) Terdapat interaksi antara teknik pembelajaran dan kemampuan penalaran  siswa yang memberikan pengaruh yang berbeda terhadap hasil belajar IPA berupa keterampilan proses. (3) Hasil analisis data menunjukkan bahwa, bagi siswa berpenalaran operasi formal, teknik pembelajaran kreatif-divergen menghasilkan perolehan belajar IPA yang sama dengan teknik pembelajaran aktif-konvergen. (4) Bagi siswa Bagi siswa berpenalaran operasi konkrit, teknik pembelajaran kreatif-divergen menghasilkan perolehan belajar yang lebih baik daripada teknik pembelajaran aktif.

Saran            Berdasarkan hasil temuan, pembahasan, dan keterbatasan yang ada pada penelitian ini, maka dapat dikemukakan beberapa saran sebagai berikut:

            Pertama,  saran pada guru. Para guru SLTP disarankan melakukan pengembangan berpikir kreatif (divergen) bagi siswa-siswanya, baik berupa program khusus yang terpisah dengan mata pelajaran, maupun terintegrasi dengan setiap mata pelajaran.  Program khusus yang terpisah dengan mata pelajaran dapat berupa bagian dari kegiatan ekstrakurikuler yang telah ada, atau merupakan salah satu kegiatan ekstrakurikuler baru yang sengaja diselenggarakan. Program kegiatan pengembangan berpikir kreatif berupa bagian dari kegiatan ekstrakurikurel misalnya menyatu dengan kegiatan pramuka, atau PMR (Palang Merah Remaja).  Pengembangan berpikir kreatif dapat pula berupa kegiatan ekstra-kurikurel tersendiri, misalnya berupa forum diskusi, forum curah pendapat, atau latihan kepemimpinan.  Jika pihak sekolah belum siap untuk melakukan kegiatan pengembangan berpikir kreatif secara terpisah, maka minimum para guru melakukannya pada mata pelajaran yang diampunya masing-masing. Para guru IPA mempunyai kewajiban untuk mempeloporinya.

            Berkaitan dengan tujuan pengembangan berpikir kreatif para guru disarankan mulai melakukan perubahan sikap dan pandangan pada siswa. Guru perlu bertindak sebagai fasilitator daripada sebagai pengarah atau instruktor. Guru perlu memandang siswa sebagai individu yang mempunyai otonomi berpikir sendiri, berhak berpendapat, menyampaikan ide, bahkan menolak ide guru.

            Dalam menunjang berkembangnya berpikir kreatif bentuk evaluasi yang digunakan guru tidak boleh selalu dan hanya bentuk tes pilihan ganda. Bentuk tes harus sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Evaluasi tidak hanya diperlakukan sebagai penilaian, namun harus lebih berfungsi sebagai umpan balik terhadap perbaikan dan penyempurnaan kemampuan sisiwa.

            Kedua, saran untuk para ahli dan peneliti pendidikan IPA

            Hasil penelitian yang memberikan indikasi bahwa latihan berpikir divergen mempunyai pengaruh terhadap penguasaan keterampilan proses siswa, dapat dijadikan informasi empirik guna melakukan inovasi baru dalam pengembangan pembelajaran IPA. Para ahli pendidikan IPA disa-rankan mendesain dan mengembangkan pembelajaran IPA yang khusus mengembangkan keterampilan berpikir divergen.

            Berpijak dari hasil penelitian yang diperoleh, dan keterbatasan yang ada pada penelitian ini, maka penelitian lanjut yang disarankan pada peneliti pendidikan IPA adalah dilakukannya reflikasi penelitian dengan subyek penelitian tidak hanya siswa SLTP, tetapi juga dengan siswa SMU. Hal ini dilakukan guna meneliti perbedaan nyata pengaruh kemam-puan penalaran operasi konkrit dan formal terhadap penguasaan keterampilan proses.

   
DAFTAR PUSTAKA Dahar, Ratna Wilis. (1989). Teori belajar.  Jakarta: Erlangga. Nur, Mohamad. (1991). Pengadaptasian Test Of Logical Thinking (TOLT) dalam seting Indonesia. Laporan Penelitian. Pusat Penelitian IKIP Surabaya. 1991.Semiawan, Conny. (1992). Pengembangan kurikulum berdiferensiasi. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana.Semiawan, Conny. (1987). Memupuk bakat dan kreativitas siswa sekolah menengah  Jakarta: PT Gramedia.Semiawan, Conny. (1996). Perspektif pendidikan anak berbakat. Jakarta Dikti Depdikbud, Proyek Pendidikan Tenaga Guru.Sudjana. (1989). Metoda statistika. Bandung: Tarsito.

Sudjana. (1994). Desain dan analisis eksperi-men. Bandung.

  


 

Tentang Omjay

Wijaya Kusumah, S.Pd, M.Pd,

Teacher, Trainer, Writer, Motivator, Blogger, Fotografer, Father, Pembicara Seminar, Simposium, Workshop PTK dan TIK, Edupreneurship, Pendidikan Karakter Bangsa, Konsultan manajemen pendidikan, serta Praktisi ICT. Sering diundang di berbagai Seminar, Simposium, dan Workshop sebagai Pembicara/Narasumber di tingkat Nasional. Dirinya telah berkeliling hampir penjuru nusantara, karena menulis. Semua perjalanan itu ia selalu tuliskan di http://kompasiana.com/wijayalabs.

Omjay bersedia membantu para guru dalam Karya Tulis Ilmiah (KTI) online, dan beberapa Karya Tulis Ilmiah Omjay selalu masuk final di tingkat Nasional, dan berbagai prestasi telah diraihnya.

Untuk melihat foto kegiatannya dapat dilihat dan dibaca di blog http://wijayalabs.wordpress.com

Hubungi via SMS : 0815 915 5515 atau kirimkan email ke wijayalabs@gmail.com atau klik hubungi omjay yg disediakan dalam blog ini, bila anda membutuhkan omjay sebagai pembicara atau Narasumber.

Wijaya Kusumah

Buat Lencana Anda


Jumlah Pengunjung

Flag Counter
free counters


Artikel Terkini


Tulisan Wijaya per bulan


Blog Pendidikan Terkeren di Dunia Maya

Blog ini didedikasikan untuk kemajuan Pendidikan di Indonesia. Blog ini mengajak anda untuk dapat kreatif dalam menulis.

Ciptakan tulisan-tulisan anda yang bermutu dan kirimkan kepada kami untuk ditayangkan di blog ini.

Kirimkan ke wijayalabs@gmail.com atau sms ke 08159155515. Dengan senang hati akan ditampilkan di blog pendidikan ini.

Selamat Membaca!


Jadwal Kegiatan Omjay

Jadwal Kegiatan Omjay: dapat dilihat di Biodata Omjay. Omjay baru bisa mengiasi kegiatan seminar & Workshop hari Sabtu dan Minggu. Hari kerja setelah pukul 16.00 WIB. Kirim ke wa 08159155515


Internet Sehat & Facebook Omjay


Jadwal Kegiatan dapat dilihat di blog http://wijayalabs.com

October 2019
M T W T F S S
« Sep    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  




Komentar blog


komentar blog



Yuk Menulis Setiap Hari! Lalu Perhatikan Apa Yang Terjadi