Hari Kesepuluh Belajar di Negara China


Hari kesepuluh berada di negara china.

Alhamdulillah. Akhirnya sampai juga di dormitory.   Tempat menginap kami selama berada di negara china.

Setengah harian jalan-jalan. Pergi ke pusat pembelanjaan. Praktik bahasa mandarin yang kami pelajari selama 2 hari di kampus China University of Mining and Technology (cumt).

Tadinya mau tidur siang. Teman sekamar mengajak jalan-jalan.

Saya putuskan ikutan.

Saya belum tahu tempat jalan-jalan dan belanja selain lotus. Hanya tempat itu yang saya tahu selama berada di china.

Gayung bersambut. Di bagian loby sudah ada pak sony dan pak hamzah. Juga bu susi dan bu maya. Jadilah kami berenam jalan-jalan ke shou market.

Kami naik bus nomor 19. Bayar ongkos bus 2 yuan per orang.

Alhamdulillah dapat tempat duduk. Tubuh yang tambun ini langsung duduk tertidur di dalam bis kota yang penuh.

Entah berapa halte yang sudah terlewat. Info dari pak sony melewati 9 halte. Kami turun di halte kesembilan.

Pak sony tidak ikut bersama kami. Beliau menunggu pak sarno dan pak joko di halte bus. Jadilah kami berlima ke shou market.

Awalnya saya tak minat belanja. Sebab pakaian sudah terlalu banyak di rumah. Saya hanya temani mereka saja belanja. Memang murah-murah harganya.

Sebuah kaos yang bagus dijual hanya 10 yuan. Kalau dirupiahkan hanya duapuluh ribuan saja.

Hampir saja uang yuan keluar dari dompet saya. Tak tahan dengan harga murah seperti ini.

Istri sms. Tak usah beli pakaian. Cukup souvenir saja. Padahal semua teman-teman yang ke pasar ini sudah belanja. Cuma saya yang belum belanja.

Tawar menawar dengan bahasa tarzan saya lihat dengan kasat mata. Ponsel di tangan jadi alat bantu efektif untuk tawar menawar.

Kalau sudah begini terjadi transaksi. Penjual dan pembeli semuanya happy. Hihihi.

Saya sempat pergi ke toilet. Jorok banget toiletnya. Beda banget dengan pasar pagi mangga dua. Bersih dan selalu terjaga kebersihannya.

Setelah semua puas belanja, kita pulang. Sempat mampir di toko topi. Tapi tak ada yang terbeli. Harga topi mahal sekali. Satunya 30 yuan.

Ketika berjalan kaki menuju pulang, ada toko yang menjual barang bagus sekali. Harganya serba 39 yuan. Buat kami ini murah sekali.

Saya beli jaket ukuran 6L. Alhamdulillah cocok di tubuh tambun ini. Ibu susi dan ibu maya merekomendasi. Akhirnya keluar juga uang yuan dari dompet ini.

Pak hartono dan pak hamzah ikut beli juga. Kami bahagia mendapatkan barang dengan harga murah.

Pulang belanja kami naik bus yang sama. Kami dapat duduk kecuali pak hamzah.

Turun di depan kampus langsung berjalan kaki kembali. Jalan mereka cepat sekali. Sementara omjay hanya bisa pelan pelan berjalan.

Untunglah mereka sadar kalau ada orang tua di belakang. Usia jelita ini memang tidak bisa dibohongi.

Jelita adalah kependekan dari jelang lima puluh tahun. Jadi wajarlah kalau berjalan tidak bisa cepat seperti pak hamzah. Juga ibu ibu guru yang masih muda.

Di depan gedung kampus bertemu rombongan lain. Mereka juga habis belanja di belakang mall lotus. Wah banyak juga belanjanya.

Sampai dormitory kami langsung makan. Banyak teman tanya beli apa saja. Saya jawab beli jaket dan tongsis saja buat selfi dan narsis.

Maklumlah awak ini seorang blogger. Harus terus eksis dan narsis.

Makan malam semakin seru. Nafsu makan semakin tinggi. Pak yani beli ikan teri sambal hijau. Mau nambah kami dibuatnya.

Makan malam usai. Kami kembali ke kamar masing masing. Laporan jurnal harian sudah menunggu.

Mau buka laptop malas banget. Saya menulis di hp saja. Wa group pkb dikdas jadi medianya.

Tak usah lagi buka blog keren wijayalabs.com. apalagi buka kompasiana.com/wijayalabs.

Cukup saya bagikan saja di wa group ini. Kalau sudah oke barulah saya posting di kompasiana.com.

Pengalaman belajar paling berkesan adalah melihat anak anak sekolah dasar yang senang belajar. Guru senang muridpun senang. Sekolah menjadi tempat yang menyenangkan.

Kami disambut dengan sukacita. Anak anak berpakaian ala tentara, menyambut kami bahagia. Mereka seperti orang dewasa saja. Memperkenalkan sekolahnya dengan runut dan senyum bahagia.

Sebagai tamu, tentu kami sangat senang sekali. Jarang ada sekolah dasar seperti ini.

Kedatangan kami disambut dengan sangat meriah sekali.

Kami diajak ke ruang aula. Di sana sudah ada guru dan murid siap beraksi. Kepala sekolah memberikan sambutan. Kami pun riang dibuatnya.

Pemandu acara meminta kami untuk memilih. Guru yang suka puisi dan sastra bisa ke lantai 4. Sedangkan guru yang suka kisah kepahlawanan tetap tinggal di dalam ruangan.

Saya dibuat kagum dengan penampilan guru dan murid.

Guru mengajar dengan sangat baik. Murid mendengarkan apa yang disampaikan guru. Terjadi interaksi terus menerus antara guru dan muridnya. Siswa aktif dan gurunya pun aktif. Semuanya aktif dalam pembelajaran di kelas. Metoe pembelajaran inquiry terimplementasi dengan baik.

Meskipun saya belum paham bahasa china, namun saya mengerti apa pesan yang disampaikan.

Guru membuat skenario pembelajaran. Guru menjadi pemain sekaligus sutradaranya. Murid muridnya mendengarkan dengan baik apa yang disampaikan gurunya.

Mereka acungkan tangan ketika mau bertanya. Guru memberikan mereka kesempatan untuk bertanya dan menjawab semua pertanyaan siswa dengan baik dan benar.

Saya menyaksikan aksi mereka. Guru mampu menyampaikan materinya dengan baik walaupun kelasnya diisi oleh 48 orang.

Siswa sangat aktif dalam kelas. Tak ada satupun yang aktif. Proyek based learning atau PBL menjadi  model pembelajarannya.

Tak terasa waktu terus berjalan. Ada dua sesi pembelajaran yang dipamerkan kepada kami. Satu bersama guru yunior dan satunya lagi dengan guru senior yang nampak jauh lebih berpengalaman. Beliau juga sudah menjadi wakil kepala sekolah.

Ketika terjadi tanya jawab, banyak pengalaman baru kami dapatkan. Salah satunya teknik penguasaan kelas dengan berbagai macam multimedia.

Peralatan modern dan canggih turut andil dalam pembelajaran yang ditampilkan.

Nampak sekali guru sudah menguasai ict dengan baik. Murid muridnya pun sudah terbiasa dengan teknologi dan seni.

Pak hartono teman sekamar omjay memutar kembali rekamannya.

Suara anak anak belajar dan guru yang menyampaikan materi terdengar dengan jelas.

Saya ikut menyimaknya pelan pelan. Sambil menulis laporan jurnal harian malam ini.

Kendala kami hari ini hanya masalah komunikasi berbahasa saja. Kami belum menguasai bahasa china. Kalau disampaikan dalam bahasa indonesia mungkin akan cepat ditangkap informasinya.

Teman yang baik hati membuat terjemahannya. Sedikit demi sedikit kami menjadi tahu maksudnya.

Keluar dari ruangan aula kami senang. Foto bersama tak akan pernah lupa. Materi hari ini usai sudah. Banyak teman berebut foto dengan murid murid sd sekolah ini.

Rasanya senang berlama lama berada di sekolah china yang bagus ini.

Kami kembali naik bus kampus cumt. Pulang ke dormitory dan makan siang.

Sepanjang jalan kami diskusi. Semoga semakin banyak sekolah di indonesia seperti ini. Aamiin.

Itulah sedikit cerita hari kesepuluh berada di negara china. Semoga bermanfaat buat para pembaca.

Salam blogger persahabatan
Omjay
Blog http://wijayalabs.com

Leave a Reply

  • Komentar blog

  • komentar blog

  • Tulisan Wijaya Kusumah di blog Lainnya

  • Yuk Menulis Setiap Hari! Lalu Perhatikan Apa Yang Terjadi