Kisah Sedih Guru TIK

Kisah Sedih Guru TIK.

Semenjak kurikulum 2013 diberlakukan banyak guru TIK menjadi korban. Ada yang di PHK dan ada yang terpaksa pindah ke dunia industri dan jadi guru SMK. Ada juga yang pindah ke jalur birokrasi dan bertahan menjadi guru prakarya. Mata pelajaran baru yang menggusur TIK dalam kurikulum 2013. PP 32 tahun 2013 yg ditandatangani presiden SBY telah mengubur TIK sebagai mata pelajaran.

Sebagian guru PNS pindah ke SMK dan bertahan di SMP dan SMA dengan menjadi guru bimbingan TIK sesuai permendikbud tentang peran guru TIK dalam kurikulum 2013 nomor 45 tahun 2015. Mereka patuh mengikuti aturan birokrasi. Sebagai ASN tidak boleh menolak tugas.

Inilah sebuah kisah nyata dari sebuah kebijakan yang memakan korban. Bukan hanya guru TIK tapi juga anak Indonesia. Mereka tak dapat kesempatan belajar TIK di era pembelajaran abad 21. Mereka tak sempat belajarTIK secara terstuktur dan sistematik. Mereka hanya menjadi pengguna TIK saja. Anak asyik dengan gawainya tanpa pemandu. Banyak anak kehilangan kesempatan belajar TIK di sekolah, karena mata pelajarannya tidak ada.

Wajar saja bila nilai ujian nasional berbasis komputer (UNBK) siswa jenjang SMP menurun drastis. Sebab anak Indonesia tak biasa menggunakan komputer dan internet. Keterampilan TIK dan literasi TIK mereka rendah, karena belum menguasai TIK dengan baik. Hanya anak-anak yang terbiasa dengan komputer dan internet yang mendapatkan nilai tinggi.

Pemerintah bermaksud mengintegrasikan TIK ke semua mata pelajaran. Semua guru wajib menguasai TIK. Tapi sayangnya siswa tidak diwajibkan menguasai TIK. Guru banyak yang belum menguasai TIK sehingga materi TIK tak pernah sampai ke otak siswa. Terjadi kesenjangan antara siswa di kota dengan di desa. Semakin banyak siswa Indonesia yang belum menguasai TIK dengan baik. Apalagi literasi TIK yang sangat diperlukan dalam pembelajaran abad 21.

Inilah anekdot yang terjadi di negeri ini. Bagaimana mungkin guru dan siswa menguasai TIK tanpa mempelajarinya? Kalau menggunakan saja mungkin bisa. Seperti anak balita yang bisa menggunakan ponsel orang tuanya.

Akibatnya bangsa ini tidak mengalami kemandirian di bidang TIK. Kita hanya menjadi bangsa pengguna produk TIK. Kita hanya menjadi konsumen dari produk-produk TIK yang diimport dari luar negeri. Kedaulatan TIK sebagai bangsa terancam dan banyak yang tidak menyadarinya.

Guru TIK harus bangkit dari kesedihan. Guru TIK harus mampu kreatif dan inovatif ketika regulasi tak bersahabat dengannya. Guru TIK tak boleh pasrah dengan keadaan, inilah cobaan yang harus kita buktikan bahwa guru TIK bukan guru biasa.

Beberapa orang guru TIK membentuk komunitas guru TIK. Komunitas ini kemudian bergabung bersama PGRI dengan nama Ikatan Guru TIK PGRI.

Sudah 37 kota lebih mereka kunjungi dalam workshop elearning untuk rakyat bersama pak Onno W. Purbo pembina kami.

Rencana kami akan adakan kembali olimpiade TIK Nasional (OTN) yang ketiga di Denpasar Bali pada bulan oktober 2018 nanti. Kita sedang buatkan juknisnya.

Semoga kisah sedih guru TIK ini segera berlalu. Ada kebijakan baru yang membuat guru TIK bergembira. Tentu kita tak boleh pasrah dengan keadaan. Di dalam kesulitan itu pasti ada jalan.

Ada 33.818 guru TIK yang terdaftar di dapodik kemdikbud menunggu kebijakan baru di tahun ajaran baru. Mereka belum termasuk guru TIK yang terdaftar di simpatika Kemenag. Diperkiranan ada lebih dari 45 ribu guru TIK di semua jenjang.

Dari hasil jajak pendapat kami dapatkan data bahwa TIK sebagai mata pelajaran masih diperlukan oleh publik. Hasilnya 97 % persen publik menginginkan TIK kembali sebagai mata pelajaran. Hanya 3 % saja yang tidak setuju dari 2500 lebih kuesioner yang kami bagikan secara online.

Panitia Workshop Elearning

Panitia Workshop Elearning

Hal itu menunjukkan bahwa keinginan masyakarakat atau publik agar TIK sebagai mata pelajaran faktanya sangat nyata. Hasil survey kami menunjukkan bahwa 97 % masyarakat indonesia ingin TIK kembali sebagai mata pelajaran.

Namun keinginan itu dikubur hidup-hidup oleh kebijakan Kemdikbud yang tetap memaksakan TIK hanya sebagai alat bantu dan bukan sebagai ilmu. Teknologi Informasi dan Komunikasi hanya dianggap sebagai alat bantu. Padahal hasil roadshow kami ke berabagai kota menunjukkan hal sebaliknya. Wirkshop elearning kita gelar sudah mencapai 37 kota di Indonesia.

Inilah kisah sedih TIK di negeri ini. TIK dipisahkan paksa seperti pasangan kekasih hati Romeo dan Yuliet. Cinta mereka tak bertaut karena kemdikbud hanya menganggap TIK sebagai alat bantu pembelajaran saja. Regulasi yang dibuat belum menyentuh isi persoalan dan belum menyelesaikan masalah di sekolah.

Diskusi dan dialog sampai ke tingkat menteri sudah kami lakukan. Namun derita guru TIK tetap berjalan. Kisah sedih guru TIK akan terus berlanjut di saat TIK dianggap penting. Guru TIK dianggap tidak penting dan bahkan ada sekolah yang tidak ada guru TIK-nya. Oh My God.

Semoga bapak presiden jokowi dapat kami temui di istananya. Hanya itu harapan kami satu-satunya. Sebab kami tahu pak Jokowi ingin anak-anak Indonesia diberikan ilmu tentang TIK sejak dini agar mereka memiliki ETIKA bermedia sosial. Sehingga tak ada lagi anak sekolah yang mengancam membunuh presidennya di media sosial.

 

Salam blogger persahabatan.
Omjay
Kunjungi http://wijayalabs.com

4 Responses to “Kisah Sedih Guru TIK”

  1. Abuathar says:

    Berbanding terbalik dengan dunia kerja yaa,, justru saat ini industri kreatif lahir dari kemahiran mengelola bahasa pemrograman dan otak-atik perangkat TIK..

    Sayang sekali pendidikan tidak membekali hal ini

  2. Semoga kebijakan ini di tinjau ulang apalagi sekarang ini dunia digital sudah sangat penting bagi setiap orang.

  3. kisahnya sangat menyentuh hati …
    semoga labschool jaya terus dan om jay bisa terus disini mengajar tik di labschool Jakarta

  4. kisah ini sangat menginspirasi dan sangat menyentuh hati

Leave a Reply

  • Komentar blog

  • komentar blog

  • Tulisan Wijaya Kusumah di blog Lainnya

  • Yuk Menulis Setiap Hari! Lalu Perhatikan Apa Yang Terjadi