Resensi Buku: Waras Di Zaman Edan Karya Prie GS

Waras di zaman edan itu keharusan. Merenung sambil berhumor atau berhumor sambil merenung? Dua-duanya sama. Corak itulah yang mewarnai buku karya Prie GS yang berjudul “Waras di Zaman Edan”.

IMG02435-20130721-0850

Anda bisa dibuat tersenyum-senyum sendiri dan seolah diajak mengobrol oleh penulisnya. Berbagai macam aneka rupa kehidupan yang terkadang justru dilupakan justru dituliskan dalam buku Sufi “Waras di Zaman Edan”. Saya menyebutnya buku sufi, karena buku ini menyimpan banyak sekali makna kebajikan untuk sesama.

Di dalam buku ini anda akan menemukan banyak humor, kekonyolan, sekaligus hikmah. Pengalaman penulisnya yang unik, mengaharukan, mendebarkan, bahkan kadang menggelikan, disajikan dengan apik di dalam buku yang inspiratif ini. Sang penulis yang memulai karirnya sebagai kartunis ini mampu menggoda pembaca untuk terus berlama-lama membaca kisahnya.

Buku ini memperlihatkan kelebihan Prie GS dalam merangkai kata-kata menjadi cerita yang ringan dan renyah untuk dibaca. Prie GS menegaskan seluruh hal yang telah dituliskan dalam buku ini adalah keasyikannya menangkap aneka peristiwa, sebuah keasyikannya sejak dahulu. Di jejaringan radio Indonesia Smart FM, Prie GS membacakan refleksi-refleksinya.

Selain itu, ia menulis karena ia adalah seorang penulis. Baginya, penulis yang tidak menulis sama saja dengan suami yang tidak mencintai anak-anak dan istrinya sendiri. Hal itulah yang saya baca dalam pengantar bukunya. Lewat twitter @prie_gs anda bisa berinteraksi dengannya.

IMG02436-20130721-0859

Sambil mengawas Ujian Masuk Bersama (UMB) Perguruan Tinggi di Labschool Jakarta, saya membaca, merenung, dan tertawa riang dalam hati dengan senyuman manis di bibir. Buku ini mendampingi saya di saat mengawas.

Saya berusaha mencerap atau menyerap hikmah dan humor di setiap kejadian yang dituliskan oleh Prie GS, yang menurut penuturannya ia pernah kuliah di jurusan seni musik IKIP Semarang, dan inilah satu-satunya ijazah tertinggi yang dimilikinya, dan celakanya belum diambil sampai saat ini. Kalau sempat terambil, bisa kacau. Sebab katanya, dia tak cocok jadi guru karena akan jatuh cinta kepada para muridnya.

Ada 10 bagian penting dalam buku ini yaitu: belum waras, mengenal waras, belajar waras, berlatih waras, mulai sedikit agak nyaris setengah waras, sedikit agak nyaris setengah waras, agak nyaris setengah waras, nyaris setengah waras, setengah waras, dan waras. Buku setebal 236 halaman akan mengajak anda menjadi orang yang waras.

Buku inspiratif ini dimulai dari sebuah pengantar “karena saya seorang penulis” yang dituliskan secara mendalam dan nendang banget buat saya. Dengan membaca bagian pengantarnya saja, pembaca sudah dibuat tak sabar untuk membaca halaman berikutnya yang nantinya kita menjadi tahu secara detail tentang penulisnya. Penasaran khan?

Dalam bagian belum waras, ada berbagai artikel yang menarik pembaca. dimulai dari yang mengotori, yang membersihkan, wabah kesanggupan, virus biasa, undangan iba, transfer kehamilan, tiga masa berebut kepala, dan sudut pandang perempuan.

Anda akan temukan inspirasi dan pengalaman hidup dari Prie GS yang begitu memotivasi kita untuk berubah. Semua itu harus dimulai dari pabrik besar dengan karyawan kecil yang bernama keluarga. Anda bisa membacanya di halaman 8 dengan judul virus biasa, namun berdampak luar biasa. Sebuah keluarga bisa rusak nilai-nilainya cukup dengan membiarkan rutinitas itu menjadi kebosanan.

Dalam halaman 46, kita akan temukan sebuah judul Menyiram Bunga-Bunga. Filosofinya sangat dalam sekali. Seringkali kita terlupa menyirami tanaman, dan bercumbu mesra dengannya. Tanaman yang disirami, serupa dengan jiwa yang sedang ditentramkan, dan seperti keliaran yang sedang dijinakkan. Maka siramilah tanaman karena ia memiliki kekuatan menghentikan sejenak sesuatu yang sedang gaduh berlarian.

Masih banyak kisah-kisah yang dipaparkan secara gamblang oleh Prie GS ini, terutama tentang krisis budi pekerti, koruspi yang merajalela, kolaisi mulut perut dan lain-lain yang begitu memikat untuk dibaca. Semua judul-judul itu seolah menyatu dan membuat kita introspeksi ke dalam diri dan bertanya, “Sudahkah kita menjadi orang yang waras di zaman edan?

fluencies

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

http://wijayalabs.com

One Response to “Resensi Buku: Waras Di Zaman Edan Karya Prie GS”

  1. rani says:

    bagaimana membuat sebuah resensi buku?

Leave a Reply

  • Komentar blog

  • komentar blog

  • Tulisan Wijaya Kusumah di blog Lainnya

  • Yuk Menulis Setiap Hari! Lalu Perhatikan Apa Yang Terjadi