Cara Praktis Menulis dan Menerbitkan Buku

buku-menulis

Cara praktis menulis dan menerbitkan buku adalah komitmen. Ketika anda komitmen untuk menulis setiap hari, maka kemudahan dalam menulis akan anda rasakan. Tulisan anda mengalir deras bagai air yang turun dari atas ke bawah.

Orang bisa menulis karena dia banyak membaca. Dengan banyak membaca akan banyak perbendaharaan kata masuk dalam alam bawah sadar kita. Memori otak kita menyimpan kata-kata penting dan dahsyat sehingga kalimat yang keluar begitu memikat hati pembaca.


Cara praktis ini saya gunakan setiap harinya. Ketika bangun tidur saya komitmen untuk membaca buku minimal 15 menit dan sebelum tidur pun demikian. Budaya literasi atau membaca buku harus ada bagi mereka yang ingin menerbitkan bukunya. Bagaimana mungkin dia akan menjadi seorang penulis buku sementara dia tak banyak membaca buku?

Selain banyak membaca, perhatikan cara orang membuat buku dan menerbitkannya. Lihat bagaimana buku itu begitu menginspirasi pembaca. Pasti ada sesuatu pencerahan baru yang dituliskan oleh penulisnya. Pasti ada sesuatu yang unik dan membuat buku itu laku di pasaran.

Bagi anda para penulis pemula, hal yang paling sulit adalah ketika memulai menulis. Ketika menulis sudah menjadi kebiasaan, maka mulailah merakit, merajut, atau menyusun tulisan-tulisan kita menjadi sebuah buku. Banyak sekali buku yang dituliskan dari kumpulan opini dan artikel di media. Banyak juga yang cuma berasal dari blog pribadi. Misalnya buku terbaru jamil azzaini yang berjudul ON. Kalau anda baca, isi bukunya sama dengan yang ada dalam blog http://jamilazzaini.com.

Kalau anda sudah merasakan enak dan nikmatnya menulis, serta mengetahui seluk beluk menulis buku, maka segeralah mencari penerbit. Bila modal anda kuat, anda bisa menerbitkan sendiri dengan cara indie, tetapi bila modal anda lemah seperti saya, maka mencari penerbit mayor menjadi incarannya. Di sanalah anda akan menemukan kegagalan demi kegagalan. Anda akan merasakan naskah buku anda ditolak penerbit.

Kalau anda ditolak, jangan pergi ke dukun, tetapi segeralah perbaiki naskah buku anda. Bisa jadi buku anda belum memiliki nilai jual di mata penerbit. Di sinilah diperlukan kesabaran tingkat tinggi bila anda ingin menerbitkan buku.

Bila anda belum menjadi siapa-siapa jangan bicara masalah royalti buku dulu atau dibeli putus oleh penerbit. Yakinkan penerbit dulu kalau buku anda layak cetak dan diterbitkan. Dari delapan buku yang saya tuliskan, tak satupun buku yang saya terbitkan secara indie, semua diterbitkan oleh penerbitt mayor dengan jaringan marketingnya yang luas. Itulah mengapa antara sistem royalti dan dibeli putus jangan terlalu anda pikirkan dulu. Anda harus fokus dulu di konten buku, baru kemudian memikirkan hasilnya. Sebab dalam menerbitkan buku ada langkah proses editing atau penyuntingan yang akan dihadapi. Setelah itu anda akan menghadapi juga proses setting (tata letak) buku dan merancang cover atau sampul buku yang menarik. Itu semua biasanya dilakukan oleh penerbit dan disampaikan kepada penulisnya.

Langkah menerbitkan buku memang butuh proses dan disinilah anda butuh seorang editor yang akan membantu anda dalam mengedit tata bahasanya sehingga mudah dipahami pembaca. Anda bisa melihat buku terbaru Ahmad Fuadi yang berjudul “Rantau Muara”. Di buku itu nyaris tak ditemukan kesalahan tata bahasa, karena sudah dilahap habis oleh editor penerbit. Langkah inilah yang sering terlupakan oleh para penulis buku pemula, mereka merasa buku yang dituliskannya layak diterbitkan tanpa melalui prosesediting dan setting. Membuat cover (bagian depan) buku pun perlu waktu, dan biarkan ahli disain grafis bekerja menterjemahkan isi buku kita agar menarik dibaca.

Kalau langkah itu sudah dikerjakan, maka memasarkan buku menjadi kunci sukses buku anda menjadi buku laris. Jangan mengandalkan penerbit untuk memasarkannya. Anda perlu juga menjualnya sendiri. Bila anda punya bakat marketing anda akan dapatkan keuntungan dari penjualan buku secara langsung. Bila buku anda cepat habis, royalti bukupun akan segera anda nikmati. Oleh karena itu, bila anda punya modal kuat dan memiliki jaringan marketing yang luas, sebaiknya anda menerbitkan buku sendiri. Seperti mas Budiman Hakim yang menerbitkan sendiri buku-bukunya seperti judul buku “Si Muka Jelek”. Keuntunganpun berlipat ganda, karena menerbitkan dan menjual buku sendiri sangat menjanjikan keuntungannya. Tetapi bila anda tak mampu menjualnya, maka tinggallah kesedihan yang melanda. Mungkin anda bisa mengobatinya dengan memberikan buku itu kepada orang lain di saat ulang tahun anda.

Cara praktis menulis dan menerbitkan buku sebenarnya mudah saja. Anda cukup melakukan komitmen dan konsisten dengan apa yang anda kerjakan. Setelah tulisan anda selesai dan memiliki nilai jual, segeralah hubungi penerbit. Yakinkan kepada mereka bahwa tulisan anda mencerahkan pembaca. Anda pun senang dan penerbitpun senang. Itulah buah dari mantra ajaib omjay, “Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi” (promosi buku ni ye!)

 

Salam blogger persahabatan
Omjay
http://wijayalabs.com

6 Responses to “Cara Praktis Menulis dan Menerbitkan Buku”

  1. Dennie says:

    Ka makasih y infony, jujur ni saya cita2 pgn jd penulis… tp smpe skr saya lom pnh cba utk nulis, cman ad dlm otak aj, karna saya bingung hrus mengwaliny drimna. trus saya jg gk ska membaca. minta pencerahanny.

  2. VisiPress says:

    Terima kasih untuk informasinya 🙂

    Jika Anda berminat untuk menerbitkan buku rohani, silakan kunjungi website kami di http://visichristianstore.com/?page_id=5854

    Tuhan memberkati …

  3. sofyanto says:

    bagusnya di informasikan juga tips bekerjasama dengan penerbit buku

  4. sagir m. amin says:

    gimana kalau daftar pustaka hanya internetan semua biar tulisan cepat terbit hee,maaf trims

  5. Darma says:

    sangat menginspirasi pak, semakin bersemangat untuk nulis lagi.

  6. ali anshori says:

    Dari dulu kepingin banget buat buku, namun belum kesampaian juga, artikel ini sangat membantu. Terimakasih mampir juga ya http://www.alianshori.com/

Leave a Reply

  • Komentar blog

  • komentar blog

  • Tulisan Wijaya Kusumah di blog Lainnya

  • Yuk Menulis Setiap Hari! Lalu Perhatikan Apa Yang Terjadi