Bismillah, Saya Menolak Kurikulum 2013

IMG_1288
Bismillah, saya menolak Kurikulum 2013.

Setelah membaca dokumen kurikulum 2013, mengikuti seminar sosialisasinya di kampus UNJ, dan merenung sedalam-dalamnya, maka saya ucapkan, “Bismillah“, dan memberanikan diri untuk menolak kurikulum 2013. Mengapa saya sebagai seorang guru berani menolak kurikulum baru? Sebab kurikulum baru itu tidak menjawab permasalahan pendidikan yang ada di bumi Indonesia. Baik dari sisi ilmiah maupun alamiah, kurikulum ini harus disempurnakan dulu. Kalaupun dipaksakan kurikulum ini baru akan siap di 2014, dan bukan di 2013. Kurikulum itu memang penting, tapi kesiapan guru jauh lebih penting. Pemerintah berkewajiban melatih guru lebih dulu. Anda boleh tak setuju dengan saya, dan boleh juga sepakat. Mari kita beragumentasi dengan akal sehat.

Rendahnya Kualitas Guru

Masalah rendahnya kualitas guru, seharusnya bukan dijawab dengan pergantian kurikulum baru. Semestinya pemerintah menjawabnya dengan pelatihan-pelatihan guru yang mampu meningkatkan kualitas guru dalam pelatihan kurikulum 2006 atau KTSP. Pendidik kita banyak yang belum mengikuti pelatihan untuk meningkatkan profesionalitasnya. Bahkan ada guru PNS di daerah yang sudah puluhan tahun belum mendapatkan pelatihan guru dari pemerintah. Itulah fakta yang dapat dilihat dengan kasat mata, tanpa harus melakukan penelitian.

Rendahnya nilai anak-anak Indonesia berdasarkan hasil penelitian TIMSS 2011 dan PISA secara internasional belum bisa dijadikan alasan untuk pergantian kurikulum. Sebab rendahnya nilai itu, karena kita belum memiliki guru-guru yang berkualitas. Kalau saja pemerintah fokus dalam pelatihan guru, niscaya nilai-nilai itu akan terangkat dengan sendirinya. Sebab pada dasarnya, anak Indonesia adalah anak-anak yang cerdas. Perlu guru yang cerdas pula untuk mengajari mereka. Cara mengajar guru itu kunci perubahannya.

Mungkin kita ingat. Sudah tidak terhitung banyaknya anak didik Prof. Yohanes Surya yang dimanage secara baik dengan konsep dan juga sistem yang sangat mendukung, berhasil membawa nama harum bangsa Indonesia di kancah Internasional. Guru mampu melatih mridnya dengan pelayanan yang terbaik. Guru mampu bertindak profesional karena memang terlatih dan sudah mengikuti berbagai pelatihan.

Kita tentu maklum kurikulum sudah seringkali berubah, namun ternyata tidak memecahkan masalah. Mengapa kita tak pernah belajar dari sejarah? Selalu melakukan hal yang sama, dan terperosok dalam lubang yang sama? Kasihan para peserta didik kita. Mereka hanya menjadi kelinci percobaan kaum penguasa. Mereka dijadikan “trial and error” dari sebuah penelitian kebijakan yang berbasis “proyek”. Pantas saja pendidikan menjadi mahal di negeri ini. Si miskin menjadi sulit mendapatkan pendidikan yang baik.

Terus terang saya merasa prihatin dengan keadaan ini. Rusak Sudah Bangsa Ini (RSBI) seperti yang pernah dituliskan Yudhistira ANM Massardi. Kita kurang pandai membentuk Rintisan Sekolah Berkarakter Indonesia (RSBI) yang benar-benar RSBI. Sekolah laskar pelangi sudah mulai hilang dari sekolah-sekolah kita. Apalagi sekolah macam negeri 5 menara dengan mottonya yang terkenal, manjadda wajada.

Mendikbud Muhammad Nuh selalu bilang di media, “di Kurikulum baru, guru tak perlu lagi bikin silabus”. Sungguh sebuah pembodohan yang terstrukturisasi. Guru hanya diminta untuk menjadi makhluk penurut dan memenuhi keinginan sang penguasa. Guru tak menjadi lagi orang yang merdeka, dan memiliki kepekaan terhadap lingkungan sekitarnya. Guru tak lagi menjadi seperti mata air yang selalu menghapus dahaga peserta didiknya akan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Guru hanya sekedar menjadi “tukang”, dan bukan lagi arsitek pembelajaran. Lebih celaka lagi matpel TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi), dan beberapa pelajaran lainnya yang disukai siswa justru dihapuskan dalam struktur kurikulum 2013. Padahal peserta didik sangat senang sekali pelajaran TIK, tapi menurut pejabat tim pengembang kurikulum, mata pelajaran ini akan diintegrasikan ke dalam semua mata pelajaran. TIK dianggap hanya sebuah tools, dan bukan lagi sains. Tak jelas bentuk pelatihannya, dan katanya sedang dipikirkan. Bagaimana mungkin sebuah kebijakan dikeluarkan sementara masih dipikirkan? Ini menandakan bahwa pemerintah masih belum siap dengan penerapan kurikulum baru. Akibatnya banyak guru yang akhirnya dirugikan, terutama sertifikasi gurunya.

Tolak Kurikulum 2013

Kini saatnya guru bersatu untuk menolak kurikulum baru. Jangan mau lagi guru dibodohi oleh sang penguasa. Kita harus mampu berpikir kritis, dan bukan hanya memikirkan diri sendiri. Nasib bangsa ini terletak di tangan guru. Bila gurunya kritis, dan mampu berpikir jernih, maka sang penguasa tak akan mampu berbuat apa-apa. Demokrasi terletak ditangan rakyat, dan pendidikan yang baik terletak di tangan guru tangguh berhati cahaya.

Mengapa guru harus menolak kurikulum 2013? Sebab kurikulum ini syarat dengan kepentingan politik. Kurikulum itu tak lagi bernuansa akademik dan terlalu dipaksakan penerapanannya. Padahal kalau mau jujur, kurikulum ini belum tentu mampu menjawab persoalan pendidikan yang ada saat ini. Guru-guru justru malah dibuat bingung dengan kurikulum baru. Seminar dan bedah kurikulum 2013 digelar di berbagai tempat, namun hasilnya belum cukup memuaskan semua pihak.

Bila anda ingin melihat dokumennya, silahkan diunduh di facebook group Ikatan Guru Indonesia (IGI). Draft Kurikulum 2013 pun ditelanjangi di sana-sini. Mereka morat-marit dalam sistem penilaian, dan guru pun akhirnya tak mampu menilai secara deskriptif dan kualitatif.

Sementara itu, dari sisi akademik, kurikulum ini belum sepenuhnya dikaji secara ilmiah. Masih banyak dosen atau guru besar di perguruan tinggi yang menanyakan kajian ilmiahnya. Kompetensi Inti dan Kompetensi dasarnya masih bermasalah, termasuk juga indikatornya. Kesannya, kurikulum ini hanya menggunakan pendekatan kekuasaan saja, dan bukan lagi pendekatan akademik. Berbagai dokumen penting kurikulum sengaja tak dilempar ke publik, sebab mereka takut mendapatkan kritik. Guru dipaksa untuk siap menerima kurikulum yang belum siap implementasinya di lapangan. Guru dipaksa untuk menerimanya dengan bulat-bulat.

Kurikulum 2013 ditelanjangi di Institut Teknologi Bandung (ITB). Sebuah perguruan tinggi bergengsi di Indonesia. Banyak pakar pendidikan bicara, dan pemerintah seperti tuli. Tak mau mendengarkan, dan terlalu memaksakan kehendaknya sendiri. Selama ini begitu banyak masukan dan pertimbangan dari para kritisi, praktisi di lapangan, kaum cendekiawan, dan akademisi menyikapi permasalahan bangsa ini, selalu saja mentok ketika berhadapan dengan politik pengambil kebijakan. Setiap solusi dan terobosan yang bisa terasa langsung di lapangan hampir tak pernah mulus terterima atau bisa diimplementasikan sesegera gagasan itu muncul. Kita menjadi geram dibuatnya.

Pemerintah terlalu yakin kurikulum 2013 adalah obat yang sangat mujarab untuk menyembuhkan penyakit pendidikan kita. Kurikulum 2013 adalah kurikulum berbasis kompetensi (KBK) yang pernah digagas dalam Rintisan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004, tetapi belum terselesaikan karena desakan untuk segera mengimplementasikan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006. Itulah kalimat yang dituliskan pak Nuh dalam artikelnya di Kompas. Lalu pertanyaannya, ada apa dengan KBK? Apakah nantinya kurikulum 2013 akan bernasib sama ketika rezim SBY berakhir?

Saran saya, karena banyaknya penolakan pemberlakuan kurikulum 2013, sebaiknya kurikulum ini ditunda dulu pelaksanaannya. Dari sisi persiapannya saja, masih terlihat tergesa-gesa. Meski pemerintah selalu membantahnya di media, kita bisa melihatnya dari sosialisasi kurikulum 2013. Ingatlah pesan orang bijak! Sesuatu yang tergesa-gesa itu akan berdampak buruk. “al ajalatu minassyaithon”, tergesa-gesa itu sebagian dari kebiasaan syetan. Pikirkanlah yang matang dan mari kita terima masukan dan kritikan dengan lapang dada. Dialog tentang kurikulum baru harus terus dilakukan di berbagai tempat.

Uji publik yang dilakukan oleh pemerintah seharusnya dapat menjawab kegalauan para guru. Namun sayang, uji publik yang digelar itu, hanya mampu dipahami oleh pemerintah sendiri, dan belum dipahami sepenuhnya oleh para guru di sekolah. Lagi-lagi guru hanya sebagai obyek penderita saja. Kapan ya guru menjadi subyek? Guru akan menjadi subjek seharusnya bisa setiap saat, jika ia kreatif mengubah kurikulum di depan murid, menjadi segar dan enak untuk dilahap murid atau peserta didik. Guru sebagai penentu di kelas, dan tentu saja tidak ada hubungannya dengan pemerintah. Guru profesional selalu melihatnya dari sisi akademik, dan bukan politik. Guru yang profesional, pasti akan memperbaiki cara mengajarnya setiap hari kepada peserta didiknya.

Guru Harus Bersatu.

Wahai para guru Indonesia, bersatulah untuk menolak kurikulum baru. Kita tolak kurikulum 2013 bukan karena kita tak ingin menjadi bangsa yang maju. Tapi kita ingin pemerintah melatih terlebih dahulu guru-guru, menjadi tenaga profesional yang mampu memperbaiki cara mengajarnya.  Guru harus berubah, tapi perubahan itu tak harus dengan mengganti kurikulum baru yang mengeluarkan biaya sampai Rp. 2, 49 Trilyun. Lebih baik uang itu digunakan untuk pelatihan dan peningkatan mutu guru di seluruh Indonesia. Kualitas guru kita masih harus ditingkatkan.

Dalam SMS sosialisasi kurikulum 2013 dituliskan, anggaran melekat artinya ada atau tidak ada kurikulum 2013 anggaran itu tiap tahun diusulkan dalam anggaran rutin kemendikbud. Anggaran melekat sebesar Rp. 1,74 Trilyun terdiri atas APBN kemdikbud Rp. 991,8 Miliar dan DAK sebesar Rp. 748, 5 Miliar. Anggaran langsung artinya anggaran murni yang diusulkan dan didedikasikan karena adanya kurikulum 2013.  Anggaran langsung Rp. 751, 4 Miliar untuk persiapan dokumen, penulisan, dan pembuatan buku, uji publik, dan sosialisasi, pengadaan buku, dan pelatihan guru. Besarnya anggaran karena jangkauan dan jumlah sasaran yang hendak diberikan pelayanan terhadap kurikulum 2013 begitu besar.

Membaca serentetan SMS sosialisasi kurikulum di atas itu, saya dibuat geleng-geleng kepala, dan berharap anggota DPR tak serta merta menyetujuinya. Sebab jajaran kemdikbud belum fokus terhadap dana yang ada, namun sudah membuat anggaran baru lagi yang belum jelas manfaatnya untuk kemajuan pendidikan di Indonesia. Dari sisi akademik maupun ilmiah, para pakar pendidikan bisa melakukan debat publik, bahwa pelaksanaan kurikulum 2013 sebaiknya ditunda.

Kita tentu masih ingat buku sekolah elektronik atau BSE. Buku BSE itu sudah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, dan pemerintah telah membeli buku itu dari penulisnya. Kitapun masih ingat bahwa ratusan buku pengayaan yang dituliskan oleh para pemenang naskah buku pengayaan kemendikbud sampai saat ini belum juga diterbitkan. Tak jelas kenapa belum diterbitkan. Kami yang menjadi salah satu pemenangnya jelas saja kecewa. Kini pemerintah akan membuat buku untuk mendukung kurikulum baru, bukankah ini pemborosan biaya?

Kalau mau jujur, kurikulum 2013 bukanlah jawaban dari peningkatan kinerja pendidikan melalui kurikulum, guru, dan lama tinggal di sekolah. SMS yang menyesatkan dari sosialisasi kurikulum 2013 ini jelas dibuat untuk mempengaruhi pola berpikir publik agar tidak kritis dengan kekurangan kurikulum 2013. Anggaran dana sebesar Rp. 2,49 Trilyun untuk kurikulum 2013 terdiri atas anggaran melekat dan anggaran langsung cuma akal-akalan pemerintah agar dana ini dapat dicairkan dengan dalih pendidikan kunci pembangunan yang pernah dituliskan pak Wapres Budiono di koran Kompas beberapa waktu lalu.

Solusi terbaik bangsa ini adalah menolak dengan tegas kurikulum 2013. Biarkan kurikulum lama dievaluasi lebih dulu. Mari kita melihat kelemahan dan kelebihannya. Lalu kemudian lakukan uji publik. Jangan hanya sepihak saja mengatakan bahwa kurikulum 2006 atau KTSP tidak bagus dan harus diganti. Segala sesuatu itu harus dilakukan dengan cara yang benar dan penelitian yang tingkat validitasnya tak diragukan. Transparansi atau keterbukaan harus dikedepankan demi menjunjung nilai kejujuran dan sikap demokratis. Sehingga tak ada omongan lagi, “ganti menteri, ganti kurikulum.”

Mari kita ucapkan “Bismillah” bersama-sama. Yakinlah dan percaya bahwa kurikulum 2013 belum sepenuhnya memecahkan masalah pendidikan. Tetaplah percaya bahwa perubahan itu pasti terjadi. Namun percayalah, perubahan itu bukan harus merubah kurikulum. Perubahan itu seharusnya memperbaiki cara mengajar guru agar mampu menjadi guru yang berkualitas. Guru yang mampu melakukan pembelajaran yang mengundang sehingga siswa asyik dan menyenangkan. Guru yang mampu menjadi mata air bagi peserta didiknya dari kehausan akan ilmu pengetahuan. Guru yang mampu memberikan keteladanan sehingga ikut meningkatkan keimanan dan ketakwaan peserta didiknya. Ingatlah selalu, “Guru yang berkualitas akan melahirkan peserta didik yang berkualitas pula.”

Sejumlah Guru yang tergabung dalam Aliansi Revolusi Pendidikan melakukan aksi teatrikal menolak kurikulum 2013 dan hapus Ujian Nasional (UN) di depan Gedung Kemendikbud, Jakarta, Rabu (27/3). Dalam aksi tersebut mereka meminta Kemendikbud menghentikan proses sosialisasi dan semua proses turunan Kurikulum 2013. (FOTO ANTARA/Reno Esnir)

Sejumlah Guru yang tergabung dalam Aliansi Revolusi Pendidikan melakukan aksi teatrikal menolak kurikulum 2013 dan hapus Ujian Nasional (UN) di depan Gedung Kemendikbud, Jakarta, Rabu (27/3). Dalam aksi tersebut mereka meminta Kemendikbud menghentikan proses sosialisasi dan semua proses turunan Kurikulum 2013. (FOTO ANTARA/Reno Esnir)

Ayo ikuti Petisi Menolak atau Menunda Kurikulum 2013 di sini, dan segera sebarkan kepada publik!

Salam Blogger Persahabatan

Omjay

http://wijayalabs.com

263 Responses to “Bismillah, Saya Menolak Kurikulum 2013”

  1. keke naima says:

    kenapa ya, di kita ini mudah bgt mengganti ini-itu yang dianggap memiliki kekurangan. Padahal kekurangan kan bukan berarti harus diganti tapi bs aja diperbaiki dulu supaya semakin baik. Salah satunya ya ttg kurikulum ini,sebentar2 diganti. Dari dulu sampe skrg spt itu terus, jadi kesannya kayak kelinci percobaan

    1. Wijaya Kusumah says:

      ya betul, kasihan peserta didik kita yang hanya menjadi kelinci percobaan sang penguasa

      1. Siti Fatimah says:

        Bukan kelinci tetapi tikus Pak…

        1. Maka itulah,tolak saja kurikulum 2013.Masih berupa benih,belum jadi tanaman,belum berbuah sudah mau dimakan.Masih belum sempurna sudah dipaksakan untuk dijalankan.Anggaran besar berpotensi dikorupsi,apalagi pejabatnya tinggal setahun lagi.
          Ayo,tolak kurikulum 2013.

      2. Wijaya Kusumah says:

        Yth. Sdr WIJAYA KUSUMAH
        ditempat.

        Disertai salam dan hormat,

        Kami memberitahukan bahwa pada tanggal 21 Maret 2013 Redaksi Kompas telah menerima ARTIKEL Anda berjudul “Bismillah, Saya Menolak Kurikulum 2013”. Terima kasih atas partisipasi dan kepercayaan yang Anda berikan kepada Kompas.

        Setelah membaca dan mempelajari substansi yang diuraikan di dalamnya, akhirnya kami menilai ARTIKEL tersebut tidak dapat dimuat di harian Kompas. Pertimbangan kami,

        √ pengungkapan dan redaksional kurang mendukung
        Harapan kami, Anda masih bersedia menulis lagi untuk melayani masyarakat melalui Kompas, dengan topik atau tema tulisan yang aktual dan relevan dengan persoalan dalam masyarakat, disajikan secara lebih menarik.

        Untuk kelengkapan administrasi, bila mengirimkan tulisan mohon disertakan pas foto (Abaikan bila sudah pernah kirim). Terima kasih.

        Jakarta, 22 Maret 2013
        Hormat kami,

        Sri Hartati Samhadi
        Kepala Desk Opini

        C A T A T A N :
        Kriteria umum untuk ARTIKEL Kompas :
        1. Asli, bukan plagiasi, bukan saduran, bukan terjemahan, bukan sekadar kompilasi, bukan rangkuman pendapat/buku orang lain .
        2. Belum pernah dimuat di media atau penerbitan lain termasuk Blog, dan juga tidak dikirim bersamaan ke media atau penerbitan lain.
        3. Topik yang diuraikan atau dibahas adalah sesuatu yang actual, relevan, dan menjadi persoalan dalam masyarakat.
        4. Substansi yang dibahas menyangkut kepentingan umum, bukan kepentingan komuninas tertentu, karena Kompas adalah media umum dan bukan majalah vak atau jurnal dari disiplin tertentu.
        5. Artikel mengandung hal baru yang belum pernah dikemukakan penulis lain, baik informasinya, pandangan, pencerahan, pendekatan, saran, maupun solusinya.
        6. Uraiannya bisa membuka pemahaman atau pemaknaan baru maupun inspirasi atas suatu masalah atau fenomena.
        7. Penyajian tidak berkepanjangan, dan menggunakan bahasa populer/luwes yang mudah ditangkap oleh pembaca yang awam sekalipun. Panjang tulisan 3,5 halaman kuarto spasi ganda atau 700 kata atau 5000 karakter (dengan spasi) ditulis dengan program Words.
        8. Artikel tidak boleh ditulis berdua atau lebih.
        9. Menyertakan data diri/daftar riwayat hidup singkat (termasuk nomor telepon / HP), nama Bank dan nomor rekening (abaikan bila sudah pernah kirim).
        10. Alamat e-mail opini@kompas.co.id

    2. Yusron Fauzi says:

      Kurikulum 2013 secara tidak langsung sudah mengkebiri siswa dan juga guru.

      Saya sepakat “MENOLAK KURIKULUM 2013”.

      1. asriyal says:

        k 13, belum sempuna dipahami oleh guru, untuk itu cari sulusi yang terbaik, agar guru yang berada di daerah yang terpencil tidak kebinggungan, kalau k 13 belum di pahami guru , tentu jalan keluarnya para guru diberikan diklat, jangan ditolak saja k13 , kita hendaknya berpikir yang jernih, kapan perlu dimana tersedatnya, jamgan dulu dievaluasi itu sangat keliru.terima kasih

  2. daris says:

    Ok stujuuu….. kita tolak Kurikulum 2013!!! KTSP blum di evaluasi sudah main ganti aja!! wahai menteri diktator… hentikanlah ambisimu!!! apa yang kau yakini belum tentu benar.. dengarkanlah nasihat2 pakar pendidikan! jangan menulikan telinga dan memutihkan mata.

    1. Wijaya Kusumah says:

      sepakat

    2. farel sitorus says:

      saya sepakat kurikulum ini sudah sangatlah merugikan negara ini dan anak anak saya jadi mari bersama-sama
      KITA TOLAK KURIKULUM INI

  3. Aghie says:

    jujur saja, sebenarnya saya sangat enjoy dg KTSP, dimana silabus bisa kita buat sendiri menurut peralatan yg tersedia & berdasarkan kebutuhan pasar dunia kerja (untuk SMK). satu pertanyaan yg sering dilontarkan oleh pihak industri sebagai partner kerja SMK, “apakah nantinya di Kurikulum 2013 pihak industri masih bisa memberi kurikulum dari industri..??”
    jujur juga saya masih belum bisa menjawab, karena pemerintah sdh menyediakan silabus….apa masih bisa “nitip” ya pelajaran dari industri…

    1. wijaya says:

      menurut informasi kurikulum smk dan slb blm siap

      1. Nurul says:

        Guru harus berani keluar dari zona nyaman mereka, menuju profesionalisme, demi kemajuan BAngsa Indonesia

  4. Suharno says:

    Ya,saya setuju.Kurikulum 2013 adalah kurikulum yang belum matang,serampangan,dan tidak layak lepas landas.Kurikulum bukanlah produk menteri ataupun Kemendikbud,tetapi merupakan cerminan suatu produk pendidikan dan generasi dari suatu negara.Jadi idealnya seperti negara-negara di Eropa,tidak sering berganti kurikulum,kalaupun harus diganti harus dengan pemikiran matang setidaknya minimal 50 tahun dievaluasi dan digodok dulu.Kasihan anak didik dan guru yang harus memenuhi ambisi Mendikbud ini.Lagipula,jika dibandingkan dengan kurikulum KTSP masih kalah bagus.Apalagi kalau dibandingkan dengan kurikulum RSBI,wah…ibaratnya anak RSBI kalau diharuskan memakai kurikulum 2013 ini seperti memaksakan anak didik yang sudah mampu berlari kencang untuk kembali merangkak.Benar-benar suatu pengekangan,pembonsaian otak dan pembodohan bagi anak didik eks-RSBI.Benar-benar memprihatinkan,kurikulum 2013 masih dijadikan media politik dan media mencari uang anggaran bagi pihak-pihak tertentu.Hal ini merupakan kekerasan pada anak didik kita. Maka itu solusi terbaik adalah TOLAK KURIKULUM 2013.

    1. Betul, perbaikan guru adalah yg pertama dan utama

      Salam
      Omjay

  5. Catcilku says:

    Anak2 Indonesia cerdas2 kok… tapi selalu menjadi korban dari sebuah sistem yg bongkar pasang tdk menentu. Kapan bangsa ini bisa bangkit???

    Setuju agar para guru diberi pelatihan bagaimana cara mengajar yang baik dan benar sehingga menumbuhkan semangat belajar anak didiknya

    1. Wijaya Kusumah says:

      sip, terima kasih dukungannya

      salam
      Omjay

  6. Suharno says:

    Ya,saya setuju.Kurikulum 2013 adalah kurikulum yang belum matang,serampangan,dan tidak layak lepas landas.Kurikulum bukanlah produk menteri ataupun Kemendikbud,tetapi merupakan cerminan suatu produk pendidikan dan generasi dari suatu negara.Jadi idealnya seperti negara-negara di Eropa,tidak sering berganti kurikulum,kalaupun harus diganti harus dengan pemikiran matang setidaknya minimal 50 tahun dievaluasi dan digodok dulu.Kasihan anak didik dan guru yang harus memenuhi ambisi Mendikbud ini.Lagipula,jika dibandingkan dengan kurikulum KTSP masih kalah bagus.Apalagi kalau dibandingkan dengan kurikulum RSBI,wah…ibaratnya anak RSBI kalau diharuskan memakai kurikulum 2013 ini seperti memaksakan anak didik yang sudah mampu berlari kencang untuk kembali merangkak.Benar-benar suatu pengekangan,pembonsaian otak dan pembodohan bagi anak didik eks-RSBI.Benar-benar memprihatinkan,kurikulum 2013 masih dijadikan media politik dan media mencari uang anggaran bagi pihak-pihak tertentu.Hal ini merupakan kekerasan pada anak didik kita. Maka itu solusi terbaik adalah TOLAK KURIKULUM 2013

    1. Wijaya Kusumah says:

      Mari kita tolak kurikulum 2013

      salam
      Omjay

  7. Suharno says:

    Ya,saya setuju.Kurikulum 2013 adalah kurikulum yang belum matang,serampangan,dan tidak layak lepas landas.Kurikulum bukanlah produk menteri ataupun Kemendikbud,tetapi merupakan cerminan suatu produk pendidikan dan generasi dari suatu negara.Jadi idealnya seperti negara-negara di Eropa,tidak sering berganti kurikulum,kalaupun harus diganti harus dengan pemikiran matang setidaknya minimal 50 tahun dievaluasi dan digodok dulu.Kasihan anak didik dan guru yang harus memenuhi ambisi Mendikbud ini.Lagipula,jika dibandingkan dengan kurikulum KTSP masih kalah bagus.Apalagi kalau dibandingkan dengan kurikulum RSBI,wah…ibaratnya anak RSBI kalau diharuskan memakai kurikulum 2013 ini seperti memaksakan anak didik yang sudah mampu berlari kencang untuk kembali merangkak.Benar-benar suatu pengekangan,pembonsaian otak dan pembodohan bagi anak didik eks-RSBI.Benar-benar memprihatinkan,kurikulum 2013 masih dijadikan media politik dan media mencari uang anggaran bagi pihak-pihak tertentu.Hal ini merupakan kekerasan pada anak didik kita. Maka itu solusi terbaik adalah TOLAK KURIKULUM 2013 !!!!!

    1. wahyu says:

      Iya Pak,saya setuju.Seharusnya pemerintah memberikan rasa keadilan,memberikan kurikulum sesuai kemampuan siswa.Artinya siswa yang sudah lebih maju seperti anak eks-RSBI harus diberikan porsi kurikulum yang lebih kompleks,materinya seperti kurikulum RSBI.Kalau anak RSBI hanya diberikan standar minimal seperti ini ya kasihan mereka…

      1. Wijaya Kusumah says:

        nanti kita lihat apa tanggapan pemerintah akan hal ini

        1. Siti Fatimah says:

          Iya Pak Wahyu,anak eks-RSBI adalah anak-anak unggulan.Ibaratnya anak reguler kenyang dengan sepiring nasi,namun anak eks-RSBI baru kenyang setelah makan dua piring nasi.Itulah yang harus diperhatikan oleh pemerintah.Jangan memaksakan kurikulum 2013 terhadap anak eks-RSBI. Berikanlah layanan pendidikan dan kurikulum yang sesuai,perhatikanlah kesinambungan pendidikan.

  8. Fatur Thok says:

    Kurikulum 2013, hanyalah “mencerminkan” sikap egois dari pemerintah. Jajaran kemdikbud sok pinter dengan membuat kurikulum baru. Dengan gagah berani berkeyakinan akan menyelesaiakan masalah pendidikan yang sudah parah.

    Masalah pendidikan yang sudah sangat parah adalah “KETIDAKJUJURAN”. Ketidakjujuran dalam UN, Ketidakjujuran dalam “mengatrol” nilai dan ini sudah berlangsung lama.

    Percuma saja muluk-muluk pembaruan kurikulum dengan memasukkan pendidikan karakter, tapi karakter dasar tentang kejujuran dibiarkan diabaikan

    1. Wijaya Kusumah says:

      sepakat, itulah yg terjadi dalam dunia pendidikan kita

      salam
      Omjay

      1. wahyu says:

        Anak didik melihat apa yang dilakukan orang disekitarnya,anak didik mencari teladan dari orang dewasa.Hati-hatilah dalam berbuat,bersikap,bertutur kata agar tidak merusak generasi muda kita.Apalagi jika kita adalah guru,harus bisa digugu dan ditiru.

  9. Abdullah says:

    PGRI ikut mana ini?

    1. Wijaya Kusumah says:

      saya belum tahu mas

      salam
      Omjay

  10. yulyanto says:

    Saya bukan guru, tapi saya mendukung Omjay!

    Salam Omjay-isme!
    Yulyanto

    Berikut ini bentuk dukungan saya:
    http://bloggerbekasi.com/2013/03/21/dukung-omjay-tolak-kurikulum-2013.html

  11. Ilhammi Gani says:

    Oke Good Work Om Jay…

    Om Jay, hidupkan kembali dong seminar “Guru Tangguh Berhati Cahaya” Insa Allah itu akan membawa berkah dan semangat mengajar ke setiap guru yang mengikuti seminar Om Jay.

    Sukses ya Om Jay…

    Salam

    Ilhammi Gani

    1. Wijaya Kusumah says:

      siap, semoga bisa mengadakan kembali

      salam
      Omjay

  12. Sunyono says:

    Saya sangat setuju dengan Bapak, apa yang dikatakan pak menteri bahwa “guru tidak perlu lagi membuat silabus” adalah pembodohan, saya khawatir jangan-jangan nanti guru cukup mengajar saja tak perlu buat persiapan mengajar seprti RPP atau bahan ajar. Pernyataan pak menteri saya kira tidak patut untuk ditiru bahkan seharusnya tidak terlontar dari ucapan orang No 1 di dunia pendidikan. Pembuatan silabus dan RPP adalah tugas guru, dan disitulah kita bisa mengevaluasi kematangan guru dalam mempersiapkan pembelajaran dan ini menunjukkan kualitas guru yang profesional (katanya). Saya juga berfikir bahwa Kurikulum 2013 ini nampaknya bagus dalam tataran konsep, hanya saja jika silabus sudah dibuat oleh pusat, ini akan menyebabkan guru semakin malas membuat persiapan pembelajaran, bahkan bisa jadi pelaksanaannya pun semakin semau gue. Mesklipun demikian, saya khawatir nasib kurikulum 2013 akan sama dengan kurikulum2 sebelumnya bahkan bisa jadi malah lebih parah…
    Terimaksih…

    1. wahyu says:

      Kurikulum KTSP,guru adalah arsitek,bisa membuat silabus dan RPP.Pada kurikulum 2013 guru hanyalah tukang,atau buruh rendahan,yang hanya dipercaya untuk mengarjakan rancangan orang lain tanpa boleh menyumbangkan pikiran.

      1. Siti Fatimah says:

        Setuju Pak Wahyu.Maka itulah kita tolak kurikulum 2013.Guru bukan sekedar tukang namun lebih dari itu.

        1. asriyal says:

          mohon kepada yang mengambil kebijakan untuk menyusun kurikulum berdasarkan minat anak sejak dini, apa yang digemari anak kesanalah kita arahkannya. terima kasih.

  13. Saya memang belum begitu paham dengan konsep kurikulum, namun saya merasakan implementasinya baik ketika dalam posisi guru maupun posisi mahasiswa.

    Kualitas guru/dosen itu masih rendah, salah satu buktinya seorang mahasiswa jujur tidak lulus-lulus, padahal mahasiswa yang tugas akhirnya banyak dibantu oleh orang lain bisa lulus tuh (mana penghargaan originalitas?). Belum lagi, komunikasi guru/dosen tampaknya belum terasa baik terhadap siswa/mahasiswanya (mereka masih sering tampil bak superman).

    Saya setuju bahwa negeri ini jangan terlalu suka ganti-ganti kurikulum. Konsep di negeri ini relatif sudah bagus-bagus, namun implementasinya yang belum optimal. Saya ingat banyak lembaga-lembaga pendidikan yang sukses dengan kurikulumnya masing-masing, seperti program hapalan Quran satu tahun tamat; program belajar bahasa Inggris satu tahun mahir, dll. Mari bandingkan dengan hasil belajar bahasa Inggris kurikulum sekolah, lebih dari 6 tahun hasilnya masih gelap, karena nilai bagus yang diperoleh adalah hasil nyontek.

    Saya setuju juga pelatihan guru harus ditingkatkan, bukan hanya mengejar sertifikat dan penghabisan anggaran saja.

    Semoga pemerintah tidak terlalu banyak basa-basi, apalagi mempermainkan rakyat.

    1. wahyu says:

      Pak Komarudin,Bahasa Inggris kurikulum sekolah tidaklah sejelek yang Bapak katakan.Di sekolah eks-RSBI sebenarnya kurikulum untuk Bahasa Inggris sudah baik,lebih luas cakupannya dan lebih berat materinya dibanding reguler,namun siswa-siswinya berhasil mendapatkan nilai jauh di atas KKM (di atas 8,5) dan speakingnya bagus…

      1. fafa says:

        saya juga ngajar, dan didaerah saya di malang sekolah yg eks RSBI materinya saja yg lebih berat tanpa melihat kemampuan siswa, dan kebanyakan cm nilai katrolan demi memenuhi standart ISO, jadi saya ragu dgn pernyataan mas WAHYU

        1. Apakah tidak ada seleksi masuk untuk siswa sampai harus mengatrol nilai?Pada umumnya di RSBI berlaku sistem gugur.Siswa tidak bisa mengikuti pelajaran,orangtua diperingatkan secara lisan dan tertulis.Kalau tidak ada perbaikan,biasanya siswa disarankan keluar dari sekolah tsb.

  14. gufrial says:

    saya sangat setuju dengan pendapat dan sikap omjay mengenai kurikulum 2013. semoga pemerintah mau mendengar penolakan dari beragam unsur masyarakat.

    1. Wijaya Kusumah says:

      Amin ya Robbal alamin

      salam
      Omjay

  15. Rianti says:

    Pak Mendikbud,materi kurikulum 2013 terlalu sederhana untuk anak eks-RSBI.Apakah Bapak tidak memikirkan kesinambungan pendidikan bagi siswa?Yang Bapak lakukan adalah pembodohan,bukan memperbaiki,bukan pula meningkatkan pendidikan.Untuk reguler materi IPS dan IPA kelas 4 SD kurikulum 2013 sama dengan materi kurikulum KTSP 2006.Bisakah Bapak bayangkan kalau kurikulum ini diterapkan untuk siswa kelas 4 SD reguler pada tahun ajaran baru ini?Untuk anak eks-RSBI,kurikulum 2013 sama sekali tidak cocok.Anak RSBI sudah terbiasa menghadapi pembelajaran yang ketat,disiplin,dan materi dengan tingkat kesulitan yang tinggi.Kurikulum 2013 akan sangat merusak anak Pak.Kami mohon janganlah Bapak menulikan diri,jangan egois,jangan otoriter,jangan diktator.Sudah banyak yang protes Pak.Tolong dipertimbangkan saran rakyat.

    1. dadang says:

      Oke,saya setuju bahwa ada gap antar kurikulum yang sedemikian besar,antara kurikulum RSBI dengan kurikulum KTSP.Anak eks-RSBI tidak diberikan kebebasan untuk melanjutkan kurikulum RSBI tetapi dipaksakan menelan kurikulum 2013 yang secara materi lebih rendah tingkatannya dengan kurikulum RSBI.

      1. wahyu says:

        Saya setuju dengan Mbak Rianti.Sayapun tahu kemampuan anak eks-RSBI memang jauh lebih baik dibandingkan siswa pada umumnya.Maka itulah kita harus solid, bersatu menolak kurikulum 2013.Guru PNS harus kritis. Jika kurikulum 2013 ini tidak layak pakai marilah kita kritik dan kita tolak pemberlakuannya bagi anak didik.

  16. areximut says:

    sing nduwuran ki gonta-ganti menak wae, sing ngisotan ngene ki keteteran leh ngetutna karep e. hift…..

    1. Wijaya Kusumah says:

      enggeh mas

  17. Dwi Wahyudi says:

    Melihat tulisan Pak Mendikbud di Kompas sih sepertinya akan berat jika Kurikulum 2013 harus dibatalkan, tapi saya tetap mendukung Om Jay untuk menolak Kurikulum 2013 disahkan karena masalah pendidikan kita sebenarnya bukan berada pada kurikulum tetapi pada keseimbangan pendidikan diseluruh penjuru nusantara. Bismillah… 🙂

    1. wahyu says:

      Saya juga heran dengan menteri pendidikan satu ini.Dimanakah logika dan rasionalitas beliau?Sudah beribu penolakan dari mana-mana, tetapi beliau seakan buta,tuli,tidak peduli.ICW dan KPK sudah mengindikasi adanya korupsi anggaran kurikulum 2013.Banyak pihak berkata kalau anggaran kurikulum rawan diselewengkan untuk dana kampanye partai tertentu tahun 2014.Ingat kasus bailout Bank Century,Hambalang,rekening gendut pejabat negara,ternyata semua pelakunya adalah politikus partai maling rezim sekarang.

  18. Chandra Iman says:

    Saya kurang mengerti tentang Kurikulum 2013, tetapi saya sangat setuju dengan diberikannya pelatihan terhadap guru-guru, jika guru-gurunya pintar, murid-muridnya juga sudah pasti pintar.

    Saya juga menyoroti kesejahteraan guru, kadang saya merasa kesal karena pemerintah kurang memperhatikan hal tersebut.

    Pemuda/pemudi adalah tulang punggung bangsa, dan Guru mempunyai peran yang vital untuk menjadikan pemuda/pemudi yang berkualitas

    salam

  19. Nana says:

    Kurikulum mengalami perubahan sudah sewjarnya, namun apabila perubahan tidak didasari dengan suatu kajian mendalam dan terbukti melalui satu percobaan kemungkinan besar merupakan hal yang wajar apabila banyak yang meragukan, apalagi tanpa persiapan yang matang dan sosialisasi yang merata. Suatu kurikulum prodak manapun itu akan dapat diterapkan apabila memang sudah terbukti dan teruji. Sistem pendidikan Indonesia yang dimotori Kementrian Pendidikan, nampaknya tertutup untuk menerima saran dan kritikan dari para ahli dalam praktisi pendidikan yang mumpuni seperti Bapak Arief Rachman,dari dulu semenjak kurikulum KBK dan KTSP, beliau kurang sreg karena sesungguhnya Kurikulum itu hanya bersifat rambu-rambu sedangkan ujung tombaknya adalah guru. Paradigma yang keliru tentang pendidikan akan menghasilkan sistem yang salah begitu pula dengan kurikulum yang kurang pas. Maka benahi dulu paradigma Pendidikan Indonesia agar pendidikan Indonesia makin maju, bukan sebaliknya makin terpuruk. Konon Indonesia menjadi model bagi Malayasia kini berbali 180 derajat. Apalagi Indek Pendidikan Indonesia dalam urutan terbawah.

  20. Etika says:

    Kurikulum 2013 dengan anggaran yang terus membengkak sampai 2,49 trilyun terindikasi korupsi.ICW sudah melaporkan hal ini kepada KPK.Semoga cepat ditindak.

    1. Wijaya Kusumah says:

      sip, semoga KPK bisa bertindak bila ada penyimpangan dana

      1. Setuju dengan pendapat Ibu Etika.Mendikbud begitu ngotot memaksakan pendapat memberlakukan kurikulum 2013 pada Bulan Juli 2013.Sangat mencurigakan,apalagi dengan anggaran yang semakin lama semakin besar dan masa jabatan Mendikbud yang hanya tinggal satu tahun. Marilah kita kritis,jangan bermental yes Man,yes Mendikbud.

        1. Sebagai tambahan,anggaran kurikulum 2013 sudah bertambah lagi hingga menjadi 2,94 trilyun.Ini semua dibayar dengan uang rakyat,marilah kita jaga bersama,jangan sampai disalahgunakan.

          1. Aneh sekali,Presiden,Wapres,parpol semuanya ngotot memberlakukan kurikulum 2013 padahal mereka bukan pemain inti di sekolah.Kalau mau memberlakukan sesuatu yang berhubungan dengan pendidikan minta pertimbangan dulu ke guru,murid,dan orangtua murid dong.Periode akhir masa jabatan seharusnya mawas diri,bukan aji mumpung.Aji mumpung menguras sebanyak-banyaknya dari berbagai sumber,semua dijadikan proyek,semua mau diangkut pergi.

  21. rojali says:

    Kurikulum 2013 tidak membikin anak cerdas malah membuat kemunduran kecerdasan, karena dari isinya saja jelas. orang awam saja membaca malah mengalami kemunduran apalagi para pakar pendidikan…. !! gak jelas dan gak akurat tujuannya…..

    1. Wijaya Kusumah says:

      betul, itulah yg dirasakan oleh para guru dan dosen yg mengkritisi kebijakan ini

      salam
      Omjay

      1. Kurikulum 2013 tematik integrasi ini sulit sekali. Kalau gurunya tidak pintar,wah,bisa-bisa hanya bicara tanpa tujuan,tanpa ujung pangkal yang jelas.

  22. oman says:

    Mendikbud terlalu arogan dan tidak terbuka terhadap kritik dan saran.

    1. dadang says:

      Sepakat dengan Pak Oman.Sikap Mendikbud ini merupakan KEKERASAN TERHADAP ANAK DIDIK,GURU,DAN SELURUH PRAKTISI PENDIDIKAN.Ayolah para guru,kita bersatu,tolak kurikulum 2013.

      1. Wijaya Kusumah says:

        mari kita lakukan perlawan dgn cara yg bijak dan terus memberikan masukan kepada pemerintah

      2. Siti Fatimah says:

        Siapapun yang tidak terganggu kewarasannya,bisa berpikir jernih akan bisa menilai berbagai kejanggalan pada kurikulum 2013.Tolak kurikulum 2013.

  23. sutarsa says:

    evaluasi dulu kurikulum KTSP, dimana letak kesalahannya….

    1. Wijaya Kusumah says:

      itulah yg kita minta

  24. dadang says:

    Segala sesuatu yang bersifat instan tidak akan berhasil.Para guru PNS,tolong Anda lebih kritis tarhadap kurikulum 2013.Jangan bersikap pasrah dan takut.ataupun terpaksa mendukung karena Anda PNS.Jangan bersikap ABMS atau Asal Bapak Menteri Senang…kritis itu perlu demi anak didik.

    1. Wijaya Kusumah says:

      sepakat

  25. Hilman says:

    Perbaikan paling utama adalah rekruitmen guru. Jika pemerintah mampu meciptakan sistem untuk mendapatkan guru-guru berkualitas, saya yakin pendidikan kita akan membaik. Faktanya, untuk menjadi guru saat ini, cukup bermodalkan kedekatan dengan pejabat daerah atau dengan tim sukses penguasa. Masalah kualitas, tidak peduli berijazah apa, soal belakangan…memprihatinkan!

    1. Wijaya Kusumah says:

      ya benar, saya sepakat dengan anda mas Hilman

      salam
      Omjay

      1. wahyu says:

        Kejujuran,kedisiplinan,kerjasama adalah unsur moral yang harus ditanamkan kepada anak didik.Kalau kurikulumnya saja dibuat dengan memaksakan kehendak pihak tertentu dan tidak mau menerima kritik…berarti kurikulum seperti ini perlu ditolak.

  26. yuni says:

    Saya adalah seorang kepala sekolah.Sungguh saya prihatin dengan sepak terjang Mendikbud,seenaknya memaksakan kehendak dengan kurikulum instan dan prematur semacam ini… Apa jadinya dengan dunia pendidikan?Bukankah hal seperti ini berarti mengkomersilkan pendidikan?Pendidikan bukanlah proyek tetapi suatu tanggung jawab,pengabdian,totalitas dan kesungguhan hati…

    1. Wijaya Kusumah says:

      betul bu yuni eh pak haris

  27. saya hanya menyimak saja pak, boleh khan? he he he,,, 🙂

  28. Betul,kurikulum kita diacak-acak dedemit yang telah dibayar pihak asing. Tak usah banyak bertanya lagi,mereka sengaja mengajak kita untuk bodoh dengan dalih yang seolah bisa diterima akal,padahal itu akal bulus dari para begundal USAID dan AUSAID alias kepentingan YAHUDI ZIONISM..
    Saya sepakat dengan semangat setia Indonesia ajakan OMJAYS ini.
    Geruduk terus via Media,demo cerdas kita bukan cuma ke DPR dan Kemdikbud kawan..
    Salam Perjuangan.. Bismillah

    1. Wijaya Kusumah says:

      “KURIKULUM-2013” plintiran n bajakan n jegalan atas KEMANUSIAAN-KEBANGSAAN martabat abad 21 (alfaqirilmi)

      Acta Exteriora Indicant Interiora Secreta

      Kali ini masih tentang polemik kurikulum 2013. Kurikulum yang prosesnya menghadapi tentangan banyak pihak. Kurikulum yang membuat sebagian besar yang peduli dengan pendidikan nasional gerah. Gerah akan tujuan perubahan kurikulum yang setelah ditelaah dokumennya justru memperlihatkan tanda-tanda kita akan memasuki zaman abad kegelapan. Apa pasal? Berikut poin-poin yang sempat saya catat selama acara Seminar Pro-Kontra Kurikulum 2013 yang diselenggarakan oleh Komunitas Filsafat Universitas Indonesia.

      Semestinya perwakilan dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional adalah Dr. Ramon Mohandas, Ph.D, Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemendikbud. Namun, karena berhalangan hadir, yang akhirnya angkat bicara soal kurikulum 2013 adalah Herry Widiastono. Landasan hukum perubahan kurikulum ini adalah Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2010 – 2014 di bidang pendidikan dan Peraturan Presiden nomor 5 tahun 2010. Kurikulum-kurikulum sebelumnya dianggap tidak lagi relevan dengan arah perkembangan zaman, ujarnya. Ibarat pakaian, kurikulum perlu diganti untuk menyesuaikan kebutuhan dan mempersiapkan masa depan.

      Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang memberikan keleluasaan guru-guru di lapangan untuk mendesain silabusnya di tingkat sekolah rupanya gagal dilaksanakan. Indikator kegagalannya adalah ditemukannya praktik salin-tempel (copy-paste) antarguru di berbagai sekolah. Herry Widiastono memaparkan, terdapat guru – guru di sekolah islam yang meng-copy Rencana Pembelajaran Pelajaran (RPP) sekolah lain yang berbeda agama. Selain itu, cd-cd berisi RPP juga beredar luas sehingga mudah ditiru. Hal ini tidak lagi sesuai dengan tujuan awal Kemendikbud yang ingin memberi kewenangan pada para pengajar karena justru berujung pada penyalahgunaan.

      Begitu juga dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang dirancang untuk menjadikan peserta didik memiliki kompetensi untuk mengkonversi materi di sekolah ke kehidupan sehari-sehari yang tidak tercapai. Herry Widiastono menjelaskan lebih lanjut, kompetensi yang dimaksud di sini adalah; kita tahu bahwa lampu lalu lintas kuning artinya hati-hati. Akan tetapi, pada praktiknya sering kali kita malah tancap gas. Kita memiliki pengetahuan tentang disiplin berlalu lintas, tetapi kita tidak kompeten ketika berhadapan dengan situasi yang sebenarnya.

      Merespon kejadian yang terjadi di luar perkiraan, Kemendikbud akhirnya melakukan penataan ulang. Kewenangan pembuatan silabus di Kurikulum 2013 kini berjenjang. Pemerintah pusat menyediakaan buku panduan bagi guru hingga buku paket untuk siswa. Panduan dari pemerintah tersebut kelak boleh diimprovisasi oleh para pengajar. Syaratnya, (poinnya) boleh ditambah, tetapi jangan dikurangi.

      Herry Widiastono juga menjelaskan bahwa selama ini kurikulum kita memuat terlalu banyak aspek kognitif dan kurang menekankan pentingnya domain afektif serta psikomotorik. Akibatnya, tawuran kerap terjadi. Kekerasan merebak. Korupsi marak. Masyarakat mengidap beraneka penyakit sosial menjadi konklusi dari kurikulum nasional yang tidak bekerja. Jalan keluarnya adalah pendidikan berkarakter dengan tiga fokus; Mengurangi jumlah pelajaran, Mengurangi materi, Menambah jam pelajaran. Salah satu materi pelajaran yang dihilangkan adalah Teknologi Informasi dan Komputer (TIK). Alasannya adalah banyak daerah di Indonesia yang belum terjamah listrik. Pemerintah tidak ingin membebani sekolah-sekolah yang belum bisa menyediakan sarana dan prasarana pelajaran TIK. Alhasil, sekolah – sekolah yang mampu memfasilitasi peserta didiknya dengan komputer, LCD, proyektor harap mengintegrasikan mata pelajaryang ada dengan konten teknologi dan yang tidak bisa, ya sudah tidak apa-apa.

      Alasan pengurangan materi adalah ketidaksesuaian usia perkembangan anak dengan beban materi ajar. Materi siswa SD berkurang hingga 40% sedangkan SMP-SMA sekitar 20%. Ajaibnya, dua pengurangan sebelumnya bersanding dengan penambahan: penambahan jam pelajaran. Contohnya, pelajaran bahasa Inggris yang semula dialokasikan empat jam kini menjadi dua jam dan pelajaran agama kini menjadi empat jam.

      Aneh? Menurut saya, iya.

      Mari kita lihat alur berpikir Rocky Gerung, pengajar mata kuliah Metodologi Penelitian di jurusan saya. Rocky mengawali pemaparannya dengan kejeliannya menangkap penjelasan Herry Widiastono yang berkali-kali menekankan “Kurikulum 2013 tidak saja mengenai domain kognitif tetapi juga psikomotorik dan afektif”. Menurut Rocky, seperti ada beban ideologis di penekanan aspek afektif dan psikomotorik. Seolah ada kejengkelan terhadap aspek kognitif, “Ah kebanyakan kognisi, afeksi dan kemampuan psikomotorik tidak tumbuh”. Artinya, berangkat dari pernyataan yang disampaikan Herry Widiastono bahwa aspek kognitif yang mendominasi kurikulum, kita tiba di proposisi logis; Semakin tinggi kurikulum yang menghasilan kemampuan kognitif, semakin tinggi derajat konflik tawuran. Tawuran dan kekerasan di masyarakat dijadikan keterangan empirik bahwa selama ini kita lebih banyak belajar berkelahi daripada belajar berpikir.

      Pengendalian kebrutalan dianggap hanya dapat dilakukan dengan mengurangi aspek kognitif. Apabila diuji secara logis dan empiris, tidak ada hubungan kausal antara otak yang tumbuh dan otot yang berkembang. Kalau hal ini benar, seluruh negara yang beradab, kemampuan kognisinya rendah. Negara yang gagal di domain afeksi dan psikomotorik kemudian membutuhkan booster kognisi dengan belanja mata kuliah, misalnya. Kenyataannya tidak demikian. Peradaban yang tidak lekat dengan kekerasan adalah negara yang mampu menggunakan kognisinya untuk mengelola fenomena konflik. Yang perlu digaris bawahi, jalan keluar dari lingkaran setan kekerasan bukan tutorisasi moral (via jam pelajaran agama yang ditambah), namun kecakapan kalkulasi kognisi.

      Foto di atas adalah kurikulum versi Rocky Gerung. Kertas itu dibagikan kepada peserta seminar sebelum acara mulai. Kata Rocky, kurikulum tersebut ia buat dengan tulisan tangan karena sudah ada sejak 30 tahun lalu. Kalau ia buat 3 jam lalu, tentu hasilnya adalah presentasi yang dibuat dengan komputer (Herry Widiastono memaparkan kurikulum 2013 pakai slide power point, fyi). Semua peserta di ruangan cekikikan menanggapi candaan Rocky Gerung. Herry Widiastono cuma bisa tersenyum kecut.

      Bagi Rocky Gerung, kurikulum adalah DNA kebudayaan. DNA kebudayaan yang fungsinya untuk direplikasikan dan untuk memahami masa depan. Apakah di masa mendatang akan terjadi defisit moral? Perang antaragama? Problem filosofisnya adalah jika kita tidak bisa merumuskan masa depan, kita tidak berhak merumuskan kurikulum. Masa depan menurut Rocky akan mengacu pada empat indikator.

      1) Speed-ism; segala sesuatunya menuntut kecepatan,

      2) High finance capitalism; transaksi ekonomi yang foot-loose,

      3) Bioethics; konflik moral,

      4) Space technology.

      Pertanyaannya, apakah tim 9 yang dibentuk (Anies Baswedan termasuk salah satu anggotanya) untuk merumuskan konten kurikulum memiliki rumusan masa depan yang paling tidak serupa dengan empat indikator di atas? Apakah para profesor yang menolak rancangan kurikulum 2013 memahami masa depan sebagaimana prediksi Rocky? Apakah kurikulum 2013 ini dapat menjadi lahan berkembangnya kapasitas peserta didik untuk menjawab tantangan abad 21 atau justru melumpuhkan? Masa depan kita tidak lagi berada 3000 tahun cahaya dari ilmu pengetahuan, kata Rocky. Masa depan berada 3 cm di depan metodologi.

      Sayangnya, masa depan sedang berada di ujung tanduk. Salah satu kompetensi inti pelajaran Kimia yang tercantum di Kurikulum 2013 berbunyi seperti ini; Menciptakan perilaku disiplin seperti atom yang berputar pada model Rutherford. Di pelajaran bahasa, Mensyukuri bahasa Indonesia sebagai anugerah dari Tuhan. Dalil implisit dari kompetensi inti ini adalah membentuk karakter. Sialnya, karakter ini tidak bisa serta merta beradaptasi dengan masa depan. Masa depan kita dilempar ke belakang. Kita dikembalikan ke kejayaan-kejayaan primordial dimana nosi ‘berakhlak mulia’ mendahului ‘akal kritis’.

      Coba kita telisik lebih lanjut contoh kompetensi inti kimia atom Rutherford. Model atom Rutherford mengacu pada hukum kesetimbangan, kekekalan energi. Sedangkan berperilaku disiplin adalah social order. Social order adalah transaski rasional antar dua orang yang cemas akan kematian, kata Thomes Hobbes. Oleh karena itu, kita bikin social contract. Karakter memang penting, tetapi karakter dibangun oleh lingkungan sekitar individu, ia tidak diinstruksikan melalui kerangka kurikulum.

      Kejelian Rocky muncul lagi. Dia menghitung berapa kali Herry Widiastono mengucap “Kalau tidak puas dengan panduan dari pemerintah, (poinnya) boleh ditambah, tapi jangan dikurangi”. 12 kali, Saudara-saudara. Kalau boleh berasumsi, ini bukti kecemasan Kemendikbud. Acta exteriora indicant interiora secreta, kata Thomas Hobbes. Artinya, yang diperlihatkan dimaksudkan untuk menyembunyikan yang berada di dalam. Ibarat mengupas bawang, sosialisasi kurikulum 2013 ini tidak akan memperlihatkan intinya. Ia akan habis dikupas tanpa kita dapat bijinya. Interior secreta-nya mungkin hanya ada di 2-3 kepala pejabat Kemendikbud. Atau bahkan hanya satu kepala. Semoga saja tidak kosong melompong.

      Kurikulum 2013 adalah domain negara yang bertumpu pada teknikalitas (keterbatasan sekolah, ketiadaan akses listrik) dan perintah undang-undang pendidikan. Undang-undang adalah basisnya. ‘Upaya untuk membentuk akhlak mulia’ adalah bentuk copy-paste dari rencana perombakan undang-undang era 90an. Ditinjau dari political origin-nya, ada ketegangan untuk memasukkan norma politik islam ke dalam undang-undang. Karena tidak tembus, komprominya adalah hidden curriculum. Kepentingan ini alhasil menyabotase kurikulum.

      Wilayah kepentingan privat (baca: agama) yang diselipkan di perangkat kenegaraan adalah masalah mendasar. ‘Akhlak mulia’ yang bernada religius ini menimbulkan sensasi kultural tertentu. Tidak ada salahnya berakhlak mulia, tetapi bukan ini yang seharusnya menjadi landasan. Kita semua tahu jika idealnya suatu sistem dapat membentuk akal kritis yang berjalan beriringan dengan karakter mumpuni. Bukan mengutamakan yang satu, mematikan yang lain. Rocky menceritakan pengalamannya ketika naik taksi dan si supir tidak tahu destinasi yang dituju Rocky. Pak supir kemudian bertanya kepada seorang anak sekitar kelas 1 SD dan si anak menjawab, “Lurus, belok kanan, Pak. Tapi itu rumah orang kafir”. Rocky menepuk dahinya. Saya sendiri pernah mengalaminya. Saat itu saya sedang berjalan di komplek perumahan dan saya mendengar ucapan seorang anak laki-laki 7 tahunan kepada saudaranya menunjuk anak lainnya yang sedang bermain, “ih parah banget itu pakai kalung salib’. Ada lagi cerita dari Bandung. Seorang mahasisiwi ilmu politik bercerita ketika dosennya masuk kelas pertanyaan yang diajukan adalah siapa yang pro syariah islam ke sebela kanan dan yang kontra ke sebelah kiri. Yang kontra, kalian ikut ujian! Yang pro, lulus!

      Miris? Saya iya.

      Tiga cerita di atas adalah interiora secreta yang muncul perlahan. Yang terjadi di sini adalah birokratisasi pikiran melalui doktrin-doktrin primordial yang konservatif. Rocky sendiri mengakhiri pemaparannya dengan mengisahkan cerita Procrustex dari Yunani sebagai padanan pedoman pemerintah, yaitu, boleh ditambah, tapi jangan dikurangi . Procrustex adalah seorang raja kaya raya. Procrustex ini menciptakan kurikulum sosial di negaranya. Ia mengundang rakyatnya untuk tidur di ranjang emas. Setelah diberi makan hingga kenyang, rakyatnya akan tidur di ranjang tersebut. Jika kaki si rakyat terlalu pendek, otot kakinya akan ditarik, namun jika terlalu panjang, kakinya akan dipotong, yang penting ukuran panjang ranjang raja tidak berubah.

  29. Guru tidak perlu membuat silabus,
    sejenak membuat para guru tergiur dengan kurikulum baru 2013.
    Akan tetapi, dengan KTSP yang mana guru haus membuat silabus saja, masih banyak yang tidak menguasai pelajaran dan tidak mengerti metode yang dia pakai.
    Bukan hanya murid yang akan bingung, akan tetapi guru hanya menjadi boneka yang dipajang di depan kelas.
    na’udzubillah

  30. Rahma says:

    Kurikulum 2013 dibuat secara kilat dan instan,anggaran makin meningkat,dan harus diberlakukan sekarang padahal banyak pihak dari kalangan guru,dosen,murid,dan orangtua murid yang memprotes karena isinya hanya pembodohan belaka.
    Ayo,tolak kurikulum 2013.

  31. Mohon maaf kalau di luar pembicaraan, mengenai pendidikan Indonesia.

    Saya sebagai pelajar SMP, ingin bertanya :

    Mengapa sistem pendidikan Indonesia harus mengambil semua pelajaran, seperti harus belajar matematika, ekonomi, geografi, kimia, dll.

    Dan mengapa kita fokus pada satu bidang studi, seperti di Negara maju lainnya seperti hal di Amerika, jika ia suka ini, ya fokus kepada ini. Jika suka itu, ya fokus kepada itu.

    Mungkin ada sedikit penerangan 🙂

  32. Muhammad Zamri says:

    Semboyan Ganti Menteri Ganti Kurikulum ada benar nya…… pertanyaan saya apakah dengan kurikulum baru mutu pendidikan bisa meningkat…. atau sebaliknya ? kerena betapa baiknya kurikulum bila tidak didukung oleh Guru sebagai ujang tombak pelaksanaan kurikulum…. juga tidak ada mamfaat nya bukan ? untuk itu lebih dana untuk membuat kurikulum 2013 dialihkan utnuk meningkatkan pelatihan guru…… kunci guru, Elite Kemendikbud hanya pandai tiory saja, dan tidak melihat fakta dilapangan bagaimana…?

  33. Rahma says:

    Kalau mau membuat kurikulum baru harus mengevaluasi kurikulum sebelumnya dan minta pendapat guru,murid,dan orangtua murid. Jangan semau gue memaksakan pendapat.

  34. Alris says:

    Guru gak perlu bikin silabus??? Suruh aja robot yang ngajar.

  35. Jika kurikulum 2013 dibuat untuk kepentingan politik para koruptor,penuh arogansi,kesombongan,dan tidak mau mendengar pendapat orang lain…jangan berharap pendidikan karakter akan berhasil.Pemerintah tidak bisa memberi contah yang baik kepada rakyat dan anak didik,padahal anak didik perlu teladan.

  36. salmah says:

    ini ambisi wapres yg nanti sehabis 2014 kesandung century dan ambisi mendikbud yg katanya kesandung kasus gelar akademik dg plagiatisme karya ilmiah

  37. Muhammad Pasha Ariobimo says:

    saya juga tidak setuju karena terlalu dipaksakan kurikulum barunya, dan saya tidak ingin pelajaran tik dihapuskan karena nanti di masa depan teknologi sangatlah peting

    1. Mohammad Reihansyah 8E says:

      spikkkk

      1. Muhammad Pasha Ariobimo says:

        Tau aja lo-_-

    2. Widyomukti Wibowo H (40) 8E says:

      saya sepakat dengan bapak, tolak kurikulum 2013 yg dananya memamakai uang rakyat

  38. Muhammad Aslan AlKautsar says:

    Pak,saya menolak karena ini tidak betul karena orang /organisasi yang bilang TIK harus dihapuskan dia adalah orang kampungan yang pengen indonesia jadi negara gaptek yang akan kalah bidang teknologi dimasa yang akan datang.

  39. Mohammad Reihansyah 8E says:

    Saya tidak setuju dengan kelompok orang yang mengatakan bahwa TIK harus dihapuskan,karena jika TIK dihapuskan kita akan kalah dalam bidang teknologi di masa yang akan datang

  40. Widyomukti Wibowo H (40) 8E says:

    Saya menolak akan dihapusnya pelajaran TIK, karena kita akan kalah dalam bidang teknologi dan komunikasi dari negara negara lain dan negara kita akan bodoh. Dan yang bilang TIK harus dihapuskan adalah orang yang tak ingin maju dan kampungan yang benci akan teknologidan komunikasi

  41. saya sangat sangat tidak setuju jika TIK dihapuskan, sebab nantinya di masa depan baklan banyak anak yang gagap teknologi sehingga akan sangat memungkinkan jika nanti banyak informasi atau konten yang tidak seharusnya, anak belum belajar. atau mungkin Indonesia semakin terbelakang dengan negara lain karena Indonesia tidak mengikuti perkembangan teknologi yang berkembang pesat….

  42. Setuju pak, kami selaku murid juga kebanyakan tidak setuju. Terutama kepada penghapusan kurikulum TIK. Karena menurut saya sendiri, TIK adalah salah satu kurikulum favorit saya sendiri, karena pembelajaran kurikulum tsb menggunakan komputer.

  43. Muhammmad Adira A says:

    saya tidak setuju karena pelajaran teknologi dan informasi(TIK)itu pelajaran kesukaan saya dan kurikulum yang memasakan, dan akan membuat Indonesia menjadi tertinggal di bindang teknologi.

  44. muhammad albiasyah.p says:

    Saya agak kurang setuju dengan bapak karena kurikulum 2006 agaknya sudah usang jadi menurut saja perbaharui saja kurikulum indonesia, Tapi pelajaran TIk jangan dihapus karena pelajaran ini penting dan disukai siswa.

  45. Kurikulum 2006 aja udah lantang-luntung, mau diganti. TIK kan ngebantu pengerjaan kita, seperti tes online dan sebagainya. Masa’ mau dihapus? Apa kata dunia?

    Justru pergantian kurikulum bikin rakyat tambah susah kali, banyak orang miskin yang harus beli buku baru, kan kalau KTSPnya sama kan mereka bisa mendapatkan buku sumbangan.

    Pergantian KTSP juga dapat menimbulkan korupsi lagi dalam uang pelaksanaannya.

    Kasihan juga guru-guru,mereka harus mendapatkan training lagi, dan dapat menghapus apa yang mereka telah pelajari dahulu.

    Saya menolak. Menrut saya ini kurang pertimbangan.

    1. Apalagi kalau TIK dihapus, saya menolak tegas.

  46. asha sunita(8E-05) says:

    saya tidak setuju jika TIK dihapuskan, karena kita bisa ketinggalan teknologi yang sedang berkembang. komputer juga sangat dibutuhkan dalam sekolah, pekerjaan dll

  47. Muhammad Naufal Dzaki 8E 27 says:

    saya tidak setuju jika TIK dihapuskan karena jika TIK dihapuskan kita akan sangat turun dalam bidang IT dan juga banyak akan perusahaan dalam bidang IT akan bangkrut

  48. Priscilla Kusumawardhani 8e-32 says:

    sangat tidak setuju pak dengan kurikulum 2013, karena kalau udah ga ada tik gimana perkembangan teknologi di masa depan? kalau ga ada tik, itukan berarti nggak mendukung adanya kemajuan teknologi di Indonesia oleh pemuda-pemudi yang akan datang.

  49. Farah Rahmadini 8E says:

    Saya juga tidak setuju dengan kurikulum 2013, karena TIK akan dihapuskan. Padahal TIK sangat penting bagi masa yang akan datang. Dan tidak akan ada kemajuan teknologi dari masyarakat

  50. devi safira 8e says:

    iya pak! sebaiknya kurikulum 2013 ditolak karena tidak ada TIK. padahal tik kan sangat penting untuk pembelajaran dan bekal untuk masa depan dan teknologi yg akan datang. 😀

  51. fachri aldisyah 8e says:

    tolak, kurikulum ini seharusnya bukan untuk kepentingan politik, tetapi untuk meningkatkan kualitas pendidikan di indonesia

  52. Muhammad ramly N 8e (29) says:

    saya setuju untuk tidak mengganti kurikulumnya, karna terlalu memaksakan sebaiknya kita perbaiki guru2nya dan jika ingin mengganti kurikulumnya lebih baik di matangkan dulu.

  53. Farah Rahmadini 8E/11 says:

    Saya juga tidak setuju dengan kurikulum 2013, karena TIK akan dihapuskan. Padahal TIK sangat penting bagi masa yang akan datang. Dan nanti tidak akan ada kemajuan teknologi dari masyarakat

  54. Amalia Yasmin 8E-2 says:

    Saya juga ngga setuju 🙁 nanti kalo ngga ada TIK kita gabisa belajar microsoft, photoshop, dsb. Trus nanti bangsa kita menjadi tertinggal di bidang teknologi

  55. Saya selaku murid juga tidak setuju dengan pemberlakuan kurikulum baru ini. Dengan misi dan visi nya yaitu memajukan pendidikan di Indonesia, mengganti kurikulum bukan merupakan jawabannya. Apalagi kurikulumnya akan diubah secara besar-besaran, banyak perbedaan dari yang sebelumnya. Susah. Juga dipertimbangkan dari positif dan negatifnya, saya sih gak setuju. Apalagi pelajaran TIK mau dihapuskan, bagaimana nasib Indonesia di bidang kemajuan teknologi?

  56. Hanum W. (8E/15) says:

    Saya senidiri menolak kurikulum baru ini. Pelajaran TIK sangat penting, karena zaman sekarang teknologi merupakan hal yang tak bisa dihindari. Seharusnya murid-murid diajarkan cara membuat program ringan, bukan hanya Microsoft.

    1. Wijaya Kusumah says:

      betul, ini sebuah masukan untuk materi TIK agar lebih baik

    2. anonim says:

      hanum di bales commentnya 😀

  57. Fanindya Dwimartha 8E (10) says:

    saya tidak setuju jika TIK di hapuskan, karena jika tidak ada di TIK di sekolah-sekolah di Indonesia, kita akan tertinggal dengan perkembangan IT di dunia.

    1. Wijaya Kusumah says:

      betul, saya sepakat dengan kamu

  58. Saya juga tidak setuju dengan hilangnya kurikulum TIK di 2013 ini. Seharusnya pemerintah harus lebih hati-hati dalam menentukan kurikulum 2013 ini. Jika tak ada kurikulum TIK di setiap sekolah di Indonesia, maka kita tak akan bisa maju karena semakin berkembangnya IT di dunia. Pemerintah pula harus memikirkan apakah dengan adanya kurikulum baru ini peserta didik dapat mempelajari alternatif lain.

  59. Fifa Indywara Nareswari 8E/12 says:

    saya setuju menolak kurikulum 2013 tentang penghapusan tik. karena menurut saya tik penting agar anak jaman sekarang cangggih dan tidak ketinggalan zaman

  60. Raissa Anindya Azzahra 8E says:

    setuju pak, kurikulum baru memang bukan sepenuhnya jalan keluar, TIK juga tidak perlu dihapuskan karena tekologi masa kini diperlukan. solusi terbaik adalah peningkatan kualitas guru.

  61. Syifa Cantik 8E 39 says:

    kalau tik dihapuskan sangat merugikan banyak kalangan, murid murid indonesia kalah dengan murid luar negri serta guru-guru tik ada yang belum menjadi pns, bagaimana mencari nafkahnya lagi. sedangkan, dari satu sekolah kurang lebih ada 2 guru tik, dikali dengan banyaknya sekolah di indonesia. berapa banyak yang akan menjadi pengangguran. itu juga akan merugikan negara sendiri, angka pengangguran akan naik dan ilmu pengetahuan anak berkurang.

    1. anonim says:

      saya setuju dengan pendapat anda

  62. bella nurhaliza says:

    saya tidak setuju TIK dimusnahkan karna yang tidak mengerti microsoft, photoshop gimana, dan negara kita akan ketinggalan jauh oleh negara-negara yang lain

  63. Putu Kesuma says:

    Saya melihat bahwa negara dan bangsa ini ibarat sebuah badan setengahnya sudah ditelan oleh kekuatan asing(neolib yang bergandengan tangan dengan wahabisme). Semua produk hukum atau undang-undang adalah atas design mereka. Secara physik mereka tidak duduk di institusi2 pemerintah namun orang-orang yang ada di institusi2 pemerintah hampir semuanya sudah menganut idologi neolib dan wahabisme. Jika kita takut melakukan revolusi maka bangsa ini akan mati secara pelan2 karena setengah badannya sudah ditelan. Persoalan kita sekarang adalah bagaimana mengeluarkan badan kita yang sudah tertelan itu agar bisa bergerak bebas. Saya hanya melihat satu jalan yaitu revolusi. Saya paham bahwa revolusi pasti akan memakan anak2nya tapi apa boleh buat dari pada kita hidup tidak mati juga tidak.

  64. Brodeen says:

    Kaum intelektual negara berkembang ada yang CERDAS, PANDIR dan BODOH. Penyusun kurikulum 2013 itu termasuk yang mana ya?

  65. Wijaya Kusumah says:

    Kurikulum 2013, Untuk Siapa?

    alt

    Komunitas Milisi Mural Depok menolak Kurikulum 201
    Nelson Mandela pernah berujar: “Pendidikan adalah senjata terkuat yang bisa Anda gunakan untuk mengubah dunia.” Tapi tidak demikian di Indonesia. Kebijakan pendidikan yang amburadul, selalu mengorbankan dua pelaku penting pendidikan: guru dan murid. Namun sepertinya ini bukan masalah bagi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang dengan asyiknya tengah merancang Kurikulum 2013.

    Di penghujung tahun 2012, pemerintah melalui Kemdikbud membuat keputusan mengagetkan, yaitu mengubah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 dengan Kurikulum 2013 yang dianggap dapat memecahkan masalah pendidikan di Indonesia.

    Pemerintah meyakini Kurikulum 2013 dapat menyiapkan anak didik yang memiliki kompetensi mumpuni, menjawab tantangan zaman, mendorong kreatifitas, meningkatkan kemampuan matematika, mengakrabkan anak didik dengan data, hingga mengajarkan budi pekerti.

    Pemerintah juga kerap mengatakan, rendahnya hasil riset internasional tentang kualitas siwa di Indonesia, membuat Kurikulum 2013 “penting dan genting”. Kemdikbud juga pernah menyatakan bahwa kurikulum 2013 adalah yang terbaik di dunia, dirancang oleh para profesor, jadi tidak mungkin salah. Bagi yang menolak kurikulum 2013, Mendikbud Mohammad Nuh mengatakan, bukanlah pemain inti dalam pendidikan nasional (Kompascom, 30/03). Nuh menegaskan, pemain inti Kurikulum 2013, adalah penyelenggara dan pemilik sekolah. “Yang ramai nolak itu yang enggak punya sekolahan dan bukan pengelola sekolahan,” demikian seperti dilansir media.

    Padahal, Koalisi Tolak Kurikulum 2013 bukan tak pernah mengajak Kemdikbud bicarakan kurikulum 2013. Tapi Kemdikbud tetap ngotot. Koalisi juga selalu siap diajak debat terbuka, bahkan aktif mengajak. Tapi Kemdikbud tidak mau. Bahkan, hari Minggu lalu (7/4), di Universitas Negeri Jakarta, tempat kuliah para calon guru, berlangsung diskusi Kurikulum 2013. Namun Wamendikbud Musliar Kasim tidak hadir.

    Akhirnya, Kurikulum 2013 hanya menjadi satu lagi rancangan tambal sulam di tengah lautan persoalan pendidikan.

    Karena riset internasional

    Kemdikbud selalu mengatakan bahwa alasan perubahan kurikulum karena rendahnya hasil riset internasional yang mengukur kualitas murid, yaitu PISA, TIMSS, dan PIRLS.

    Programme for International Student Assessment atau PISA, adalah evaluasi sistem pendidikan negara-negara di dunia. PISA menilai kemampuan kognitif dan keahlian membaca, matematika dan sains. Pada tahun 2009, PISA memperlihatkan rata-rata siswa Indonesia hanya menguasai pelajaran sampai level 3 dari 6 level. Dalam hal membaca, Indonesia berada di peringkat 57, matematika di peringkat 61, dan sains di peringkat 60, dari 65 negara.

    Kemudian, Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS), studi internasional untuk mengukur prestasi matematika dan sains siswa SMP. TIMSS membagi penilaian dalam empat kategori, yaitu rendah, menengah, tinggi, dan lanjutan. Hasil penelitian TIMSS memperlihatkan 95% siswa Indonesia hanya mampu menyelesaikan soal hingga tingkat menengah atau intermediate.

    Riset berikutnya, Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) adalah studi internasional tentang literasi membaca (melek huruf) untuk siswa Sekolah Dasar. PIRLS diselenggarakan lima tahun sekali. Pada tahun 2011, PIRLS diikuti oleh 45 negara. Hasilnya memperlihatkan bahwa peserta didik Indonesia berada pada peringkat ke 41 dari 45 negara dalam literasi membaca.

    Pemerintah mengartikan hasil ketiga penelitian di atas bahwa kurikulum yang ada sekarang, berbeda dengan tuntutan zaman global. Sehingga obat mujarabnya adalah Kurikulum 2013. Setidaknya ada tiga sisi yang bisa kita gali soal sengkarut Kurikulum 2013, yaitu: menabrak dasar hukum, anggarannya yang meroket, serta isi kurikulum yang membuat geleng-geleng kepala.

    Menabrak dasar hukum

    Dalam merancang program apapun, termasuk kurikulum, pemerintah harus berpatokan pada Undang-undang. Pasal 36 Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas), jelas menyebut bahwa pengembangan kurikulum mengacu pada standar nasional pendidikan.

    Tapi, Kemdikbud tidak mengacu pada standar pendidikan nasional dalam membuat Kurikulum 2013. Yang ada, Kemdikbud membuat Kurikulum 2013 terlebih dahulu duluan, baru kemudian meralat standar nasional pendidikan. Jadi, setelah kurikulum 2013 diganti, baru kemudian Kemdikbud ramai-ramai berusaha merevisi PP tentang Standar Nasional Pendidikan. Dari dasar hukummya saja, Kurikulum 2013 sudah bermasalah. Bukannya memulai dari Undang-undang, Kemdikbud malah menabraknya.

    Kurikulum 2013 juga dibuat tanpa perencanaan matang. Dalam waktu singkat enam bulan, cling! Kurikulum langsung jadi. Masyarakat juga berhak mencatat, Kemdikbud tidak pernah mengevaluasi kurikulum sebelumnya (KTSP 2006). Tanpa evaluasi, Kemdikbud gagah berani tetap merancang Kurikulum 2013. Padahal, KTSP 2006 saja masih belum bisa diterapkan secara menyeluruh. Sekarang, sudah mau ganti lagi.

    UU Sisdiknas pasal 36 ayat (2) juga menyebutkan bahwa kurikulum di semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik. Tapi saat ini, seluruh buku disusun secara terpusat. Buku panduan untuk guru juga dibuat di pusat. Bagaimana mau mengembangkan potensi daerah?

    Kemudian, di PP No. 17 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, yang disebut kurikulum adalah kurikulum tingkat satuan pendidikan. Jadi harusnya, kalau Kemdikbud mau mengubah kurikulum, UU dan PP-nya yang harus dibereskan dahulu, baru mengubah kurikulum. Bukan asal mengubah, tapi menabrak macam-macam peraturan.

    Anggaran yang meroket

    Proses penyusunan Kurikulum 2013 rawan korupsi. Indikasinya terlihat dari proses penganggaran yang tidak terencana dengan baik. Kemdikbud awalnya mengajukan anggaran 684 miliar—yang kemudian disetujui DPR sebesar 631 miliar. Kemudian naik jadi 1,4 triliun. Lalu melesat lagi jadi 2,49 triliun.

    Ketika dana meroket jadi 2,49 triliun, Kemdikbud akan mencomot Dana Alokasi Khusus (DAK) sebesar 748 miliar dan dari APBN 2013 yang relevan seperti pelatihan guru, sebesar 1,1 triliun, untuk menambal kekurangna.

    Mencomot DAK juga bukan perkara gampang. Sebenarnya, DAK dipergunakan untuk membiayai pengadaan sarana, prasarana sekolah, dan buku. Mencomot DAK untuk mendanai Kurikulum 2013, jelas dapat mengganggu perencanaan sekolah yang berbasis kebutuhan riil. Sekolah boleh jadi harus membatalkan kebutuhan riilnya, demi DAK dipakai untuk menalangi biaya Kurikulum 2013.

    Saat ini, yang masih jadi masalah di DPR adalah proses perubahan mata anggaran di APBN 2013 yang mau digunakan untuk Kurikulum 2013. Karena APBN 2013 sudah disahkan, otomatis perubahan mata anggaran tidak bisa dengan mudah dilakukan. Pemerintah tidak bisa seenaknya tergesa mengubah-ubah penggunaan anggaran untuk Kurikulum 2013.

    DPR masih belum menyetujui anggaran Kurikulum 2013 selain yang 631 miliar. Saat ini, DPR punya peranan penting untuk menyetujui atau menolak anggaran ini. Semoga DPR berpikir jernih, dan lagipula DPR harus bertindak sesuai UU No. 17 Tahun 2003 yang mengamanatkan perubahan mata anggaran dalam APBN harus disetujui dahulu oleh DPR.

    Namun, kalau kita tengok, waktu pencairan anggaran dan masa reses DPR yang dimulai sekitar 12 April 2013, merupakan waktu yang sempit. Sedangkan kurikulum 2013 harus diterapkan pada tahun ajaran baru Bulan Juli 2013. Belum lagi masalah buku dan pelatihan guru. Waktu yang sempit ini menimbulkan potensi pengadaan buku dan pelatihan guru yang tidak sesuai aturan. Sirine tanda bahaya harus dinyalakan.

    Kemdikbud, mana dokumen resmi Kurikulum 2013?

    Kemdikbud sampai saat ini juga belum memberikan dokumen resmi Kurikulum 2013. Masyarakat, bahkan Panitia Kerja (Panja) Kurikulum DPR RI juga belum pernah melihat dokumen kurikulum yang resmi dan final. Ibaratnya, kita seperti meributkan barang abstrak yang tak jelas rimbanya. Selama ini, yang beredar di masyarakat hanyalah sekumpulan lembaran (slide) power point berisi Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Kurikulum 2013. Profesor bidang Sosiologi Universitas Indonesia Thamrin Tomagola mengatakan, “Kurikulum 2013 sarat dengan dua muatan dogmatis-ideologis: nasionalisme sempit dan religiusitas artifisial/ kulit.”

    Empat Kompetensi Inti (KI) dalam Kurikulum 2013 adalah: semangat religius; sikap sosial sebagai anggota masyarakat dan sebagai bangsa; ketiga, pengetahuan baik yg faktual, konseptual, prosedural, meta kognitif; dan keempat, aplikasi KI 1 sampai dengan 3 merupakan satu kesatuan. KI 1 dan 2 tidak diajarkan langsung (indirect teaching). Kompetensi Inti mengikat semua Kompetensi Dasar semua mata pelajaran, dan Kompetensi Inti 1 mengutamakan semangat religius.

    Kurikulum 2013 juga akan menghapus Bahasa Inggris dan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Ini tentu bertentangan dengan semangat yang sering diutarakan Kemdikbud, bahwa pendidikan nasional harus mampu berkompetisi di tingkat global. Bagaimana caranya, jika Bahasa Inggris dan TIK dihapus? Bagaimana dengan para guru yang mengajar Bahasa Inggris dan TIK? Mereka akan kehilangan pekerjaan. Apakah ini sudah dipikirkan matang-matang oleh Kemdikbud?

    Selain itu, metode pembelajaran tematik integratif adalah salah satu aspek yang diunggulkan dalam Kurikulum 2013. Padahal, Kurikulum 2006 pun selalu mempromosikan metode tematik integratif. Sehingga, metode ini bukan barang baru lagi yang perlu disanjung-sanjung.

    Untuk kelas 1 sampai 3 Sekolah Dasar, pemerintah mencoba menyatukan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) ke dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Para penyusun kurikulum tampaknya mengambil salah satu kalimat yang ada pada Kompetensi Inti, kemudian dikait-kaitkan dengan materi-materi yang akan diajarkan.

    Dalam dokumen Kompetensi Inti dan Kompetensi yang berhasil kami dapatkan, beginilah contoh penyatuan tersebut dalam mata pelajaran Matematika Kelas X, yaitu: disiplin, konsisten dan jujur dan aturan eksponen dan logaritma. Kedua, perbedaan di dalam masyarakat majemuk dan persamaan dan pertidaksamaan linier. Ketiga, mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan proaktif) dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia. Itulah kompetensi kurikulum yang disebut-sebut terhebat di dunia.

    Kebijakan pendidikan juga seringkali tak pikirkan nasib guru. Sekarang, Kurikulum 2013 hanya kembali akan menjadikan guru sebagai korban. Penyediaan silabus untuk perlengkapan ajar bagi guru juga kerap disebut-sebut pemerintah untuk mencari dukungan masyarakat. Padahal, ini mematikan kreatifitas guru dalam mengajar. Pokoknya mengacu pada buku yang dititahkan pusat.

    Dari data Uji Kompetensi Guru (UKG) yang juga merupakan proyek Kemdikbud, terlihat bahwa mutu guru di Indonesia rendah. Dengan mutu guru yang masih rendah, apakah guru dapat mengajar Kurikulum 2013 dengan baik? Pelatihan juga tidak lantas bisa menjadi obat manjur untuk meningkatkan mutu guru. Mutu guru tak bisa sekonyong-konyong naik dengan pelatihan beberapa hari.

    Akhir Maret lalu, kami juga mendapat kabar bahwa penulisan buku induk (buku yang akan menjadi standar penulisan buku bagi penerbit), belum selesai ditulis. Bahkan buku induk untuk SMA/ SMK sama sekali belum dikerjakan, alias masih nol. Tapi, bagaimana buku induk mau cepat selesai, kalau dokumennya saja masih berganti-ganti mengikuti maunya Kemdikbud?

    Bahkan, Desember 2012 lalu, ketika dokumen kurikulum belum jadi dan uji publik baru akan dijalankan, Kemdikbud sudah pernah mengumpulkan penerbit-penerbit untuk membahas buku. Bagaimana bisa?

    Sekarang, kita sudah memasuki Bulan April, sementara Bulan Juli semua buku harus sudah selesai dan terdistribusi. Apakah sempat?

    Pengadaan, akankah mengada-ada?

    Bukan hanya segi isi buku, proses pengadaan buku juga rawan korupsi. Ini sudah rahasia umum. Tahun 2007, terjadi kasus korupsi di Kemdikbud dalam lelang pencetakan buku keterampilan fungsional. Pelaku korupsinya tak lain adalah pejabat Kemdikbud sebagai panitia lelang dengan modus mark up (penggelembungan). Pengadaan buku Kurikulum 2013 tidak menutup kemungkinan terjadi korupsi. Ingat, anggaran buku Kurikulum 2103 adalah 1,1 triliun rupiah.

    Jangan lupa, 77% kasus korupsi yang ditangani KPK adalah soal pengadaan. Di kurikulum 2013, pengadaan buku dianggarkan 1,1 triliun. Bukan uang kecil. Namun, diskusi yang terjadi di masyarakat, turut menentukan arah keputusan anggaran di DPR. Bersuaralah menolak Kurikulum 2013, mumpung masih bisa.

    Jangan tumbalkan guru dan murid!

    Kurikulum 2013 yang tak matang dan masih dipaksa jalan, sungguh membuat heran. Kurikulum yang compang-camping baik dari segi isi, menabrak aturan hukum, ketiadaan dokumen resmi yang bisa diakses baik masyarakat dan DPR, serta dana yang angkanya tak main-main, membuat banyak pihak khawatir: sebenarnya untuk siapa kurikulum ini dibuat? Kurikulum tak bisa hanya jadi ambisi segelintir pejabat. Yang akan terkena dampaknya, jutaan anak Indonesia, jutaan guru. Sebaiknya Kemdikbud merenungkan itu baik-baik.

    Jangan jadikan masa depan anak Indonesia sebagai tumbal proyek. Andai kurikulum ini baik adanya: direncanakan dengan matang, substansinya mantap, anggaran tak bermasalah, tentu dukungan akan mengalir. Kenyataannya tidak begitu. Kemdikbud perlu berkaca: apakah kurikulum ini sesuai Undang-undang? Baik untuk murid dan guru? Untuk masyarakat?

    Kemdikbud harusnya fokus membenahi kemampuan guru, memperbaiki fasilitas sekolah dan mekanisme penyaluran dana pendidikan yang rawan korupsi. Itu saja dulu.

    Carut marut pendidikan nasional bukan hanya soal uang triliunan, tapi menyandera masa depan generasi pembaharu, yang nantinya harus memotong tradisi korup bangsa ini. Tapi bagaimana generasi ini mau memotong tradisi korup, kalau kurikulum yang akan diajarkan pada mereka saja kacau? Guru juga akan kembali menjadi korban bila kurikulum ini jadi diterapkan.

    Jika kurikulum yang menjadi landasan belajar anak-anak bangsa begitu kacau dan keliru, bagaimana lagi kita mau mengharapkan perubahan kualitas pendidikan?

    Siti Juliantari

    Peneliti Indonesia Corruption Watch

  66. Saya murid eks-RSBI SD kelas tiga di salah satu SD negeri di Indonesia menyayangkan dihapuskannya pelajaran Bahasa Inggris,TIK,Bahasa Daerah dan Kesenian Daerah pada kurikulum baru ini.Bahasa Inggris dan TIK adalah sarana untuk mempelajari ilmu dan berkomunikasi dengan orang lain, sedangkan Bahasa Daerah dan Kesenian Daerah berguna untuk melestarikan budaya nasional dan sebagai jati diri atau identitas bangsa. Saya juga mengamati bahwa kurikulum 2013 terkesan dangkal dalam materi dan tidak selengkap materi kurikulum RSBI.Jika memang pendidikan itu ditujukan untuk semua,pemerintah harus memberikan kurikulum yang sama tingkatannya dengan kurikulum 2013.Kalau belum ada, biarkanlah kami melanjutkan kurikulum RSBI.Biarkanlah kami bebas berlari dengan kemampuan yang kami miliki.Janganlah pemerintah memaksakan kurikulum baru kepada anak eks-RSBI yang akan memundurkan proses belajar kami.Terimakasih.

    1. Berdasarkan hal diatas,saya setuju untuk menolak kurikulum 2013.

    2. Ya Dik Galang,sayapun memahami kegelisahan Adik.Masalah kita sama.Bedanya saya adalah orangtua dengan dua anak kembar yang duduk di eks-RSBI SD.
      Seharusnya pemerintah mengingat dan melaksanakan esensi pesan “Ing ngarsa sung tuladha,ing madya mangun karsa,tut wuri handayani”,yang artinya di depan memberikan contoh,di tengah membangun kehendak,di belakang mengikuti dengan kebaikan.Sehubungan jarang sekali para pejabat yang bisa dicontoh,kita sebagai rakyat tidak bisa menyandarkan kepala atau pasrah kepada pemerintah. Justru sekarang saya dan suami tidak lagi percaya dengan mutu pendidikan di Indonesia dan sedang menimbang beberapa sekolah luar negeri yang memiliki kurikulum yang baik untuk untuk kedua anak kembar saya.Cobalah Anda bayangkan,setelah RSBI dibubarkan,pemerintah tidak kunjung memberikan kurikulum yang sebanding tingkatannya dengan pendidikan RSBI yang telah diterima anak saya.Yang ada malahan digembar-gemborkannya kurikulum 2013 yang merupakan ladang korupsi pejabat dan pembodohan karena secara materi pelajarannya jauh lebih rendah dibanding dengan KTSP dan RSBI.Daripada kedua anak saya dirugikan,lebih baik saya sebagai orang tua bersikap tegas untuk menyekolahkan anak saya di luar negeri.Harta bisa dicari,tetapi umur dan kesempatan tidak mungkin dikejar.Kesempatan anak saya duduk di SD hanya sekarang ini dan tidak bisa diulang lagi. Kalau kurikulum terus berganti tanpa kejelasan,anak tidak bisa fokus mencapai tujuannya.Langkah ini kami ambil karena terbukti pemerintah tidak memperhatikan suara rakyat.Lebih baik kita menciptakan kesempatan secepatnya daripada menunggu kesempatan itu datang,karena barangkali saat kesempatan itu ada sudah terlambat untuk kita.

  67. sonya maysalva says:

    pak kan anak itu belajar sebaiknya dari kecil biar terbiasa, terus nanti pelajaran bahasa inggris dihapus di sd ya pak, org anak sma jaman sekarang aja yang udah belajar bahasa inggris dari kecil belum tentu sekarang sudah lancar bahasa inggrisnya. sudah ada dari sd aja, indonesia masih begini begini aja. kasian murid pak. nanti kalo gaada yang mau sekolah di indonesia lagi gimana dong, saya aja sudah lihat sendiri dari keluarga saya ada yang gak mau sma di indonesia dan akhirnya sma di luar. gaseru nih paak, lama lama orang orang gak minat lagi sekolah di indonesia pak.

  68. Alivia Retra (8c/3) says:

    saya nggak setuju pak. kalo nggak ada kurikulum itu indonesia bisa makin ketinggalan sama negara lain. nanti kualitas orang indonesia turun trus makin terpuruk juga pak.

  69. sonya maysalva says:

    terus yang kemarin yang penghapusan rsbi itu kenapa pak? kasian pak kan biasanya kalo mau masuk negeri yang rsbi biayanya beda pak. nah yang kelas 1 sma nya sudah bayar untuk rsbi, tiba tiba naik kelas 2 sma ga rsbi lagi kasian pak, mendingan dia dari awal gausah bayar rsbi daripada akhirnya sama sama aja…

  70. Filia Khansa 12 8C says:

    Iya pak, sekarang teknologi semakin canggih. nah anak anak harus diajarin tekhnologi supaya gak ketinggalan sama negara lain. Pelajar juga jangan di beri pelajaran yang terlalu berat juga, mereka juga butuh pelajaran yang santai seperti TIK

  71. sonya maysalva says:

    akhir akhir ini saya jadi sering dengar orang disekitar saya mengeluh ingin pindah kewarganegaraan atau sekolah di luar karena di indonesia makin lama makin gak enak pak. murid banyak yang gak setuju pak, ya gimana kalo nyampe beneran ga ada yang mau sekolah di indo lagi….. terus kalo pendidikan di indonesia kayak diluar yang lebih mementingkan minat sama bakatnya anak biar gak terlalu terbebani pelajaran yang bertumpuk jadi perubahan yang lebih baik deh pak mendingan perubahan kayak gitu hehehehe

    1. Ya Dik Sonya,sayapun sedang dalam tahap memilih sekolah di luar negeri untuk kedua anak kembar saya.
      Seharusnya pemerintah memahami dan melaksanakan esensi pesan “Ing ngarsa sung tuladha,ing madya mangun karsa,tut wuri handayani”,yang artinya di depan memberikan contoh,di tengah membangun kehendak,di belakang mengikuti dengan kebaikan.Sehubungan jarang sekali para pejabat yang bisa dicontoh,kita sebagai rakyat tidak bisa menyandarkan kepala atau pasrah kepada pemerintah. Justru sekarang saya dan suami tidak lagi percaya dengan mutu pendidikan di Indonesia dan sedang menimbang beberapa sekolah luar negeri yang memiliki kurikulum yang baik untuk untuk kedua anak kembar saya.Cobalah Anda bayangkan,setelah RSBI dibubarkan,pemerintah tidak kunjung memberikan kurikulum yang sebanding tingkatannya dengan pendidikan RSBI yang telah diterima anak saya.Yang ada malahan digembar-gemborkannya kurikulum 2013 yang merupakan ladang korupsi pejabat dan pembodohan karena secara materi pelajarannya jauh lebih rendah dibanding dengan KTSP dan RSBI.Daripada kedua anak saya dirugikan,lebih baik saya sebagai orang tua bersikap tegas untuk menyekolahkan anak saya di luar negeri.Harta bisa dicari,tetapi umur dan kesempatan tidak mungkin dikejar.Kesempatan anak saya duduk di SD hanya sekarang ini dan tidak bisa diulang lagi. Kalau kurikulum terus berganti tanpa kejelasan,anak tidak bisa fokus mencapai tujuannya.Langkah ini kami ambil karena terbukti pemerintah tidak memperhatikan suara rakyat.Lebih baik kita menciptakan kesempatan secepatnya daripada menunggu kesempatan itu datang,karena barangkali saat kesempatan itu ada sudah terlambat untuk kita.

      1. Bagi yang mampu mungkin bisa belajar di luar Indonesia dan mencari yang terbaik diluar Indonesia.Tetapi bagi yang tidak mampu akan semakin terpuruk dalam kurikulum 2013 yang ngawur ini.Ayo tolak kurikulum 2013 dan selamatkan generasi muda kita.

  72. muhammad afdhalurrahman(8c)(25) says:

    saya setuju pak!!!!!! tolak kurikulum 2013!!!

  73. Naufal Yudanar says:

    JIKA TIK DI HAPUSKAN,MAKA SAMA SAJA NEGERI DIHANCURKAN!!!!!

  74. M.Ravi armanda 8c says:

    saya tidak setuju, jika kurikulum 2013 dihapus akan mengakibatkan kita ketinggalan jaman dan gaptek hehehe

  75. Anasthasia Angelica Christina S (8C/6) says:

    saya sangat tidak setuju dengan kurikulum 2013. ada pelajaran TIK aja di sekolah skrg,anak2 nya masih belom ngerti. apalagi pelajaran TIK dihapus,tmbah gak ngerti dan mungkin menyalakan komputer saja tidak bisa.
    negara tidak akan berkembang.
    nanti semua orang jadi gaptek.
    kualitas pendidikan indonesia akan semakin jelek dan turun.

  76. M. Fadlan-8c-28 says:

    Saya sangat tidak setuju pak, karena jika pelajaran komputer di hapus di Indonesia nanti orang orang akan jadi gaptek dan primitif akan teknologi di masa depan. bagaimana kita bisa maju tanpa teknologi yang mendukung kita!? Tolak kurikulum 2013!!!

  77. khalis kanz dhafin 8c says:

    saya tiddak setuju pak padahal TIK itu mengajarkan teknologi gimana negara kita mau maju kalo teknologinya ketinggalan sama kayak bahasa inggris padahal bahsa inggris itu bahasa international, dan bahasa daerah harusnya generasi muda melestarikannya bukan melupakanny

  78. Sultan Aliandi Prawira 8C/39 says:

    Saya tidak setuju terhadap kurikulum baru tahun 2013, negara ini tidak bakalan bisa maju jika mata pelajaran TIK dan bahasa inggris dihapuskan di sekolah-sekolah karena kedua pejalajarn tersebut penting bagi para siswa

  79. Sultan Aliandi Prawira 8C/39 says:

    saya tidak setuju terhadap kurikulum baru tahun 2013, negara ini tidak bakalan bisa maju jika mata pelajaran TIK dan bahasa inggris dihapuskan di sekolah-sekolah, karena kedua mata pelajaran tersebut penting bagi para siswa

  80. Danardono says:

    Kurikulum 2013 adalah kejahatan dalam dunia pendidikan.Ayo kompak kita tolak bersama-sama.

  81. nabila says:

    betul juga tuh….
    kenapa sebelumnya tidak berpikir harus gunta ganti kurikulum
    kalau dunia pendidikan untuk pelatihan guru masih kurang…

  82. DARMANTO says:

    Kurikulum 2013, mestinya dimatangkan dan di audensikan dulu dengan stakeholders kependidikan, dunia usaha dunia industri dan komponen terkait. Dengan tujuan agar lebih siap. Kurikulum sebelumnya saja masih banyak yang belum optimal apalagi muncul kurikulum baru. Sebaiknya kurikulum jangan ada kepentingan politik. Saya setuju ada muatan pendidikan antikorupsi, pada kompetensi mata pelajaran PPKn.

    1. Danardono says:

      Pak Darmanto,saya sependapat dengan Anda bahwa kurikulum 2013 masih mentah dan tidak layak dipakai.Namun pelajaran anti korupsi pada PPKN sebenarnya sudah ada hanya tidak tertulis anti korupsi.Pada kelas dua SD PPKN bab terakhir PPKN ada NILAI-NILAI KEJUJURAN,DISIPLIN,BEKERJA KERAS. Nah,guru yang kreatif pasti bisa mengembangkan dan mengaitkan bab tersebut dengan anti korupsi.Maka itu kurikulum 2013 yang rawan korupsi ini harus ditolak tegas karena hanya menimbulkan kebodohan,kerugian,dan kemelaratan bangsa ini.

      1. Danardono says:

        Kepada seluruh pembaca
        Dengan hormat,
        Sebagai orangtua murid eks-RSBI SD negeri di Jawa Tengah, izinkanlah kami memberikan masukan agar kurikulum 2013 dibatalkan karena:
        1.Ada kesenjangan yang sangat jauh antara kurikulum 2013 dengan kurikulum RSBI,dan ini sangat merugikan siswa eks-RSBI. Siswa RSBI sudah terbiasa mendapatkan pelajaran dengan materi yang jauh lebih tinggi dan sulit,KKM tinggi.Kalau kurikulum 2013 dipakai sama artinya dengan kemunduran mutu pendidikan. Benar kata Adik Galang,kurikulum 2013 ini sangat dangkal.Pemerintah harus memberikan kurikulum yang sesuai dengan tingkatan pelajaran yang telah didapat oleh anak eks-RSBI.Lebih baik lagi kalau sekolah eks-RSBI tetap diizinkan memakai kurikulum RSBI.
        2.Kurikulum 2013 dibuat tergesa-gesa tanpa riset yang cukup terhadap kurikulum sebelumnya,yaitu KTSP dan outputnya. Tirulah negara Eropa yang tidak mudah mengganti kurikulum. Mereka mengganti kurikulum setelah 50 tahun dan dengan pemikiran yang matang.
        3.Kurikulum bukan sekedar proyek pemerintah,jadi perlu dengar pendapat dalam ruang lingkup yang luas. Guru,murid,praktisi pendidikan,dan orangtua murid perlu dilibatkan dalam pembuatan kurikulum.
        4.Uji publik belum dilakukan tetapi Mendikbud sudah memanggil penerbit buku.Ada apa Pak?Rakyat curiga nih.
        5.Anggaran kurikulum 2013 yang makin membengkak, dikhawatirkan rawan mark up dan korupsi.2,49 trilyun itu jerih payah rakyat jadi jangan dihambur-hamburkan.
        6.Kurikulum 2013 belum jelas kelanjutannya karena Mendikbud tinggal menjabat setahun lagi dan pasti diganti.
        Demikianlah surat saya.Harap menjadikan perhatian dan pertimbangan dalam memutuskan sesuatu agar tidak merugikan rakyat.Sebagai pemimpin contohkanlah demokrasi dan bukan otoriter.Terimakasih.

        Reply

  83. lintang says:

    Mari kita lihat juli 2013, akankah pemerintah akan bersikeras memaksakan implementasi kurikulum 2013–yang notabene masih kontroversi ini.

    1. Wijaya Kusumah says:

      jadi kepengen cepet-cepat nungguin tanggal mainnya

  84. Danardono says:

    Para pembaca,hari ini ada 11 provinsi yang tertunda Ujian Nasional karena soal belum ada dan soal tertukar.Mengurus distribusi soal Ujian Nasional saja tidak becus,mau berlagak merubah kurikulum.Hasilnya sudah bisa ditebak,pasti berantakan.Rasanya saya sudah tidak percaya dengan kinerja para pejabat bangsa sendiri.

  85. dodhie says:

    ayo beramai-rami tolak kurikulum 2013, gmana caranya pak?

    1. Danardono says:

      Pak Dhodhie,Anda bisa menggalang aksi tanda tangan seluruh guru,siswa,komite sekolah,dan orangtua murid yang berada di ruang lingkup sekolah Anda lalu kirimkan ke Kemendikbud.

  86. deddy says:

    Menurut saya, satu hal mendasar selain menolak kurikulum 2013 adalah menuntut pemerintah untuk dapat membuat sebuah Grand Design/Blue Print sistem pendidikan. Bayangkan setelah lebih dari satu dekade bangsa ini merdeka, sudah 10 kali (kalo tidak salah) ganti kurikulum.
    Dengan adanya Grand Design/Blue Print sistem pendidikan, dimana didalamnya ada rencana jangka panjang (misal 30-40 th) ke depan. Artinya perubahan yang ada bukan mengganti kurikulum tapi perubahan mencapai penyempurnaan.
    Menurut saya sistem pendidikan dalam Grand Design/Blue Print harus mengacu pada filosofi pendidikan yang benar. Menurut saya paling tidak ada 4 filosofi dasar yang harus ada dalam filosofi pendidikan :
    – Filosofi pendidikan harus dapat mengakomodir keunikan anak didik.
    – Filosofi pendidikan harus dapat mengakomodir keunikan potensi daerah (kearifan lokal)
    – Filosofi pendidikan harus dapat mengakomodir kekuatan agama
    – Filosofi pendidikan harus dapat mengakomodir budaya bangsa

    http://edukasi.kompasiana.com/2012/11/01/menggugat-sistem-pendidikan-negeri-ini1-505899.html

    http://edukasi.kompasiana.com/2012/11/02/menggugat-sistem-pendidikan-negeri-ini-2-505909.html

    Salam,

  87. Kemendikbud tenang-tenang saja walaupun mendapat kritikan dari seluruh Indonesia,kelihatannya ini untuk meredam konflik.
    Menurut saya kurikulum 2013 sangat dangkal materinya,dan bukan merupakan penyempurnaan dari kurikulum terdahulu. Sebagai orangtua dari dua anak kembar yang masih duduk di tingkat SD, saya mohon saran kepada para pembaca tentang kemungkinan menyekolahkan anak di luar negeri.Di negara manakah yang ada sekolah dasar bermutu dengan kurikulum yang baik?Biaya berapapun tidak masalah demi kebaikan mereka, karena saya dan suami terlanjur tidak percaya dengan pejabat Indonesia,kebanyakan hanya tahu korupsi,makan anggaran proyek negara dan mengorbankan masa depan bangsanya.
    Mohon jawaban lewat blog ini.

    1. Kalau kita hidup di zaman batu kita tidak perlu belajar TIK dan Bahasa Inggris.Sekarang adalah era globalisasi,jadi kedua hal tsb sangat perlu.

  88. Wijaya Kusumah says:

    Henry Alexis Rudolf Tilaar termasuk pihak tidak setuju dengan bakal berlakunya kurikulum 2013. Dia menyebut isi seluruh haluan program pendidikan itu kacar semua.

    “Ini kacau, kacau balau,” kata Tilaar saat ditemui Islahuddin dan Alwan Ridha Ramdani dari merdeka.com di rumahnya di bilangan Patra Kuningan Utara, Jakarta Selatan, Selasa (16/4). Berikut penuturan Tilaar.

    Apa benar Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) akan diganti Kurikulum 2013 tidak berhasil?

    Tidak ada yang tahu, tidak ada evaluasi, malahan KTSP di daerah terpencil tidak ada yang tahu apa itu. Yang dia tahu ujian nasional. Di Yogya ada sekolah menyelenggarakan KTSP baru tahun kemarin. Apalagi di pulau-pulau terpencil, di hutan-hutan pedalaman Kalimantan atau Papua. Ini saya jelaskan saat di rapat-rapat, bagaimana penyusunan suatu kurikulum. Bukan pada kurikulum tetapi bagaimana proses belajarnya. Kalau proses belajar tidak benar tidak ada gunanya.

    Kenapa bangsa kita ini sesudah 68 tahun merdeka masih tetap kemajuannya relatif rendah? Ini disebabkan pendidikan kita mematikan kreativitas. Nah, kreativitas itu hanya bisa dibangkitkan melalui proses pembelajaran membangkitkan semangat, minat, kritis, dan menciptakan sesuatu yang produktif. Inilah proses belajar kreatif. Tapi kalau dia direcoki ujian nasional, hasilnya akan nyaris sama semua, yang berbeda akan mati.

    Tapi soal ujian nasional tahun ini tidak sama, kabarnya ada 20 item?

    Dia hanya ngomong, dia tidak membuktikan di lapangan dia punya konsep itu akan menghasilkan anak-anak kreatif. Dengan ujian nasional ini saja, dia sudah mematikan kreativitas anak-anak kita. Inilah yang menjadi kunci keberhasilan Finlandia, dia bukan membuat kurikulum tetapi dia membuat proses belajar. Anak-anak itu dibuka kemungkinan apa yang ada dalam diri mereka, peluang tiap siswa ada.

    Pertengahan tahun ini KTSP akan diganti Kurikulum 2013 dan ujian nasional tetap dilaksanakan?

    Ini kacau, kacau balau. Saya setuju dengan Pak Utomo dari Universitas Paramadina, pecat saja menterinya. Suatu program itu membutuhkan biaya, jadi apa yang terjadi dengan biaya di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan? Alokasi dana untuk kurikulum itu hanya Rp 64 miliar sudah ada, tetapi dengan pelaksanaan tahap pertama dia janjikan Rp 2,47 triliun, dari mana dana itu diambil? Dia bilang akan diambil dari mana-mana. Ini merusak Rencana Strategis sudah ada dan ini berbahaya.

    Apa anggaran itu karena sudah masuk 20 persen dana pendidikan dari APBN seperti dalam UUD 1945?

    Jangan percaya dengan 20 persen itu. 20 persen itu rencana semula, tidak termasuk gaji guru. Sekarang itu dimasukkan, alasannya kita masih miskin. Tetapi yang korupsi itu banyak. Ini harusnya termasuk APBD bukan APBN, tetapi Anda lihat apa yang terjadi? Program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang bos itu jadi bus, dimakan oleh bupati atau gurunya sendiri. Makan tuh BOS dan bus itu, melayang ke angkasa bukan pada anak.

    Kurikulum diganti tanpa evaluasi, berarti memang pendidikan kita memiliki program jangka panjang?

    Tidak ada, hanya omong kosong. Contohnya lainnya, katanya untuk menaikkan kualitas pendidikan itu adalah guru harus mendapatkan sertifikasi. Tetapi apa yang terjadi, guru bersertifikasi dan yang tidak bersertifikasi sama saja. Yang membedakan adalah motivasi dari para guru. Guru punya pengalaman justru tidak lulus sertifikasi. Pelatihan untuk sertifikasi dilaksanakan selama tujuh hari.

    Nah, apa yang diharapkan dalam tujuh hari sertifikasi? Mana ada efeknya, tidak ada efek. Artinya sekian ratus miliar dari program sertifikasi sama sekali tidak menaikkan mutu pendidikan kita. Dalam waktu dekat akan segera diterbitkan lewat studi Bank Dunia menyatakan program sertifikasi guru tidak berjalan.

    Sudah banyak juga penelitian menyebut itu program gagal. Motifnya hanya uang saja. Bukan menggerakkan malah menggerakkan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) untuk mengadakan program insentif bagi calon guru.

    Sekarang dari tujuh hari tidak ada hasil. Nanti pelatihan untuk Kurikulum 2013 selama lima hari akan ditertawakan lagi. Yang tujuh hari saja nol besar hasilnya, apalagi lima hari.

    Kalau sudah seperti ini, lantas apa harus segera dilakukan?

    Saya kira pimpinan kita harus tegas, tidak boleh plin plan karena itu akan diikuti oleh masyarakat. Lambat dalam mengambil keputusan, hal itu terus merembet ke yang lainnya. Dalam hal ini bisa dicontoh bekas Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew. Kalau ada menteri salah, langsung dicopot.

    Apa fungsi kurikulum itu secara sederhana?

    Kurikulum itu hanya alat. Ini salah dilihat oleh mereka yang menyusun kebijakan pendidikan kita. Dulu sudah saya katakan ke Panja DPR, saat ketuanya Utut Adianto. Dia sarjana matematika. Saya jelaskan ke dia, kurikulum itu hanya lintasan balapan, hanya sarana saja. Yang penting ke mana tujuannya. Bagaimana kudanya, siapa jokinya.

    Secara epistimologi itu untuk proses, tergantung pada jarak, apa ingin dicapai. Sedangkan kudanya, siswa itu sendiri. Kalau dia kegemukan tidak akan bagus. Jadi harus sesuai tujuannya. Kalau untuk 300 meter jangan digunakan 500 meter. Jadi kurikulum itu bukan segalanya, hanya suatu proses saja.

    http://www.merdeka.com/khas/kurikulum-2013-kacau-balau-wawancara-har-tilaar-3.html

  89. Saya kurang setuju dengan kurikulum 2013 karena:
    1.Kurikulum 2013 belum matang karena dibuat secara tergesa-gesa tanpa evaluasi terhadap kurikulum sebelumnya. 2.Kurikulum 2013 terkesan hanya proyek Kemendikbud dengan anggaran yang terus menerus meroket.3.Kurikulum 2013 dibuat dengan menabarak dasar hukum UU Sisdiknas 4.Kurikulum 2013 tidak jelas kelanjutan dan pertanggungjawabannya karena masa jabatan Mendikbud tinggal setahun lagi dan tidak mungkin terpilih kembali.5.Kurikulum 2015 tidak sesuai dengan sekolah eks-RSBI karena materinya jauh lebih rendah dibandingkan dengan kurikulum RSBI. 6.Kurikulum 2013 adalah kekerasan dan hukum rimba dalam dunia pendidikan,bagi anak/pelajar,bagi guru/pengajar dan bagi masyarakat luas. 7.Kurikulum 2013 tidak memperhatikan kesinambungan pendidikan, tetapi hanya menciptakan pembodohan belaka. 8.Kurikulum 2013 adalah proyek yang rawan korupsi.
    TOLAK KURIKULUM 2013.

  90. Tedy Susanto says:

    Yang Terhormat, Bapak Wi dan kawan-kawan semua….
    secara pribadi, kita (sbg pengajar) menolak dapat dipastikan namun secara institusi sangatlah pelik dilakukan, terlebih kawan-kawan yang berada dalam lingkaran (syaiton). hanya menghela panjangnya nafas untuk tetap berkarya untuk ibu pertiwi dan memberikan sesuatu yang bermanfaat untuk anak-anak bangsa, dengan harapan suatu saat mereka jadi pemimpin yang AMANAH, tidak lantas membuat kekacauan terlebih dalam dunia Pendidikan NKRI.
    semoga aspirasi kawan-kawan semua dapat didengar pemangku kebijakan yang ternyata tidak bijak, dan memundurkan pelaksanaan perubahan ini.
    InsyaALLOH.

    1. Wijaya Kusumah says:

      betul mas, saya sepakat dengan anda

  91. Wijaya Kusumah says:

    Pendapat MGB-ITB tentang Rancangan Kurikulum Nasional 2013 Buat halaman ini dlm format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
    Dirumuskan berdasarkan hasil Diskusi Terbuka 13 Maret 2013 dan Sidang Pleno MGB 12 April 2013.

    Pendapat Majelis Guru Besar Institut Teknologi Bandung

    Tentang Rancangan Kurikulum Nasional 2013

    Latar Belakang

    Dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Ps. 1(19), dinyatakan bahwa “kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.” Tersirat bahwa kurikulum adalah menyangkut proses serta upaya yang terdapat dalam kebijakan pendidikan nasional bangsa, yang kemudian mendasari perancangan Kurikulum Nasional 2013 (yang selanjutnya disebut Kurikulum 2013). Karena kebijakan mengenai kurikulum menyangkut hajat hidup orang banyak, posisi budaya, serta martabat bangsa, rancangan Kurikulum 2013 yang digagas oleh Pemerintah telah menarik perhatian masyarakat luas. Berbagai pihak telah ikut terlibat membahasnya dengan caranya masing-masing. Disadari bahwa pada saat ini, bangsa ini memerlukan langkah perbaikan pendidikan dasar dan menengah yang tidak boleh keliru guna menghadapi peluang Demography Window (Jendela Demografi) atau Peluang Emas Indonesia 2045. Apapun model kurikulum baru yang diperkenalkan pada saat ini akan meletakan dasar lompatan budaya bangsa Indonesia menuju budaya masa depan yang sarat dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

    Adalah amat penting untuk difahami betapa bangsa ini tidak boleh lengah menghadapi tantangan lompatan budaya yang disebutkan, menuju cita-cita sebagai Negara Besar pada umur 100 tahun kemerdekaan nanti. Dikatakan sebagai lompatan budaya karena diramalkan pada saat bangsa ini berumur 100 tahun nanti, kemajuan budaya serta peradaban bangsa-bangsa di muka bumi akan sudah sampai pada paradigma yang amat berbeda. Teknologi maju yang telah hadir pada saat ini (teknologi info, teknologi bio, teknologi nano, teknologi neuro) telah dan akan mengubah budaya, lingkungan serta peradaban umat manusia di muka bumi. Banyak diramalkan, bahwa kemajuan teknologi pada saat ini dan nanti telah akan berpengaruh luar biasa pada paradigma berfikir setiap individu manusia. Paradigma berfikir yang membangun logika bernalar atas denyut-denyut informasi yang diterima oleh jutaan sekaligus sensor-sensor indera yang dimiliki manusia, yang secara integral akan pula membangun budaya serta peradaban baru pada jamannya. Dengan demikian, penyusunan dan pelaksanaan kurikulum baru yang memperhatikan paradigma kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi atas kehidupan masa depan menjadi langkah sangat penting bagi penentuan masa depan bangsa. Pada saatnya nanti, bangsa Indonesia akan berada pada lingkungan dan peradaban kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang disebutkan.

    Kurikulum adalah bentuk program dari proses pendidikan, dan ITB adalah salah satu bagian dari proses pendidikan bangsa tersebut. ITB yang menjalankan tugas serta tanggung jawab sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan budaya bangsa – dalam sains, teknologi, seni, dan kemanusiaan yang menjadi identitasnya – ikut bertanggung jawab untuk keberhasilan pendidikan bangsa Indonesia. Karena itulah Majelis Guru Besar ITB (MGB ITB) memandang perlu melakukan diskusi terbuka guna mencari dan menemukan hakikat mengenai Rancangan Kurikulum 2013. Diskusi dengan tajuk “Mempertanyakan Hakikat Pendidikan STEAM dalam Kurikulum 2013 untuk Merekacipta Masa Depan Bangsa” telah dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 13 Maret 2013 di Balai Pertemuan Ilmiah ITB. (STEAM = Science-Technology-Engineering-Art-Mathematics.) Selain untuk tujuan di atas, diskusi dimaksudkan pula guna menyusun dan menyampaikan kepada berbagai pihak mengenai sumbangan pemikiran yang berhubungan dengan desain pendidikan nasional guna menghadapi tantangan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi pada kehidupan masa depan bangsa Indonesia. Khususnya pendidikan dasar yang akan menghantarkan generasi muda bangsa menjadi pelaku perwujudan bangsa Indonesia ke depan.

    Sejalan dengan tujuan ini, untuk acara tersebut telah diundang berbagai unsur pembicara maupun peserta dari kalangan pendidik dan pemerhati pendidikan termasuk Pemerintah, dengan harapan diskusi mampu menghasilkan simpulan-simpulan yang lebih baik. Namun, sekalipun sudah diupayakan, sangat disayangkan pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang dinilai paling mengerti rancangan Kurikulum 2013 tidak dapat menghadiri acara penting ini.

    Rangkuman Hasil Diskusi

    Kehadiran sebuah kurikulum baru dan perlunya perubahan secara kontinu merupakan suatu keniscayaan dalam dunia pendidikan guna membangun budaya serta peradaban bangsa menuju yang lebih baik. Pembaharuan mendasar dan berwawasan ke depan karena pemahaman paradigma masa kini, tidak dapat dihindari demi merangkul masa depan suatu generasi bangsa dalam pertarungannya dengan dunia pikiran yang selalu berubah dalam menghadapi tantangan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bergerak amat cepat. Untuk itu, kurikulum haruslah dirancang dengan proses pematangan yang cermat serta dituntun oleh kaidah akademik yang lebih benar dan baik.

    Berdasarkan hal tersebut, setelah menelaah dokumen Rancangan Kurikulum 2013 yang ada pada waktu itu, peserta Diskusi Terbuka MGB ITB menemukan beberapa catatan sebagai berikut:

    · Hingga pada saat diskusi berlangsung, Rancangan Kurikulum 2013 belum dituliskan ke dalam format dokumen Negara maupun naskah budaya layaknya sebuah dokumen Negara, sebagai perangkat rujukan hukum Negara.

    · Gagasan inti dalam Rancangan Kurikulum 2013 belum tersampaikan dengan lugas, bahkan dalam beberapa hal justru menunjukkan keraguan.

    · Sejumlah istilah yang tidak dikenal secara luas telah digunakan dalam Rancangan Kurikulum 2013, menyebabkan kurikulum ini tidak mudah dipahami pada tataran implementasi, utamanya bila diterapkan oleh para pendidik di lapangan.

    · Rancangan Kurikulum 2013 belum mampu mengungkapkan gagasan intinya dengan bahasan yang lugas dan tanpa mengandung keraguan dan pengertian multitafsir, guna mendudukkan untaian pemikiran yang menjadi tujuan sehingga mudah dipahami oleh para pendidik di lapangan.

    · Rancangan Kurikulum 2013 belum menunjukkan keterkaitan basis filosofi yang digunakan dengan perwujudannya pada tataran teknis, kompetensi inti dan kompetensi dasar.

    · Rancangan Kurikulum 2013 belum mencantumkan sikap dan nilai-nilai luhur kemanusiaan, yang memperhatikan hakikat STEAM, yaitu ciri budaya ilmiah di balik kemajuan ilmu pengetahuan yang diserasikan perkembangannya dengan pembangunan karakter bangsa dalam menghadapi dunia di masa depan.

    Pada akhir acara diskusi, sejumlah peserta diskusi dari berbagai kalangan masyarakat yang hadir cenderung menyatakan bahwa Rancangan Kurikulum 2013 belum layak untuk dilaksanakan pada tahun ajaran yang segera datang. Diperlukan kematangan konsep dan rancangan, serta kesiapan guru yang akan berperan sebagai ujung tombak implementasi dari Kurikulum 2013.

    Dengan mencermati rangkuman hasil diskusi sebagaimana tertulis di atas, MGB ITB memandang perlu menyampaikan pendapat mengenai Rancangan Kurikulum 2013 sebagai berikut.

    Pernyataan Pendapat dan Rekomendasi

    Di dalam proses pendidikan, perubahan kurikulum merupakan suatu keniscayaan. Kurikulum yang ideal harus kontekstual, menyesuaikan sekaligus memberi arah bagi perkembangan ke depan di masyarakat. Karena itu kurikulum harus selalu diperbaiki secara kontinu sesuai dengan perkembangan serta tantangan yang dihadapi. Terkait dengan itu, Kurikulum 2013 akan meletakkan dasar perubahan budaya dan peradaban bangsa Indonesia memasuki peluang Emas Indonesia 2045 (Golden Opportunity Indonesia), yang bertepatan dengan 100 tahun kemerdekaan bangsa Indonesia. Dalam hal ini, kehendak Pemerintah untuk memperkenalkan kurikulum baru, yakni Kurikulum 2013, harus disambut dengan baik. Namun, sebagaimana diisyaratkan oleh pernyataan mengenai kurikulum yang disebutkan di atas (UU Sisdiknas, 2003), selain materi ajar yang perlu diberikan kepada peserta didik, kemampuan dan kapasitas pendidik khususnya dan komitmen semua pelaku pendidikan umumnya, serta proses yang benar adalah amat penting guna mewujudkan tujuan dari pendidikan.

    Dengan latar belakang di atas, perubahan dan penyusunan kurikulum baru harus diupayakan melalui proses yang cermat disertai kajian akademik yang tertib. Kurikulum baru harus lebih baik dari kurikulum sebelumnya mengingat makna kurikulum baru sangat penting bagi pembangunan generasi bangsa Indonesia ke depan. Pada Rancangan Kurikulum 2013, kalaupun telah terdapat upaya tersebut, dinilai belum menampakkan sebagai hasil kajian akademik yang semestinya. Beberapa persoalan mendasar pada rancangan kurikulum ini antara lain sebagai berikut:

    · Rancangan Kurikulum 2013 tidak disertai naskah akademik, yang berisi pemikiran, konsep, tujuan, serta grand design (rancangan besar) pendidikan nasional, sebagai landasan. Rancangan Kurikulum 2013 memang telah mencantumkan sikap dan nilai-nilai luhur kemanusiaan, tetapi dalam beberapa hal kurang memperhatikan hakikat STEAM (Science-Technology-Engineering-Art-Mathematics), yaitu, ciri budaya ilmiah di balik kemajuan ilmu pengetahuan yang diserasikan dengan pembangunan karakter bangsa guna menghadapi tantangan ke depan. Trend (kecenderungan) dewasa ini menunjukkan bahwa posisi peradaban bangsa-bangsa yang akan datang sangat dipengaruhi oleh kemajuan ilmu pengetahuan serta teknologi (teknologi informasi, teknologi bio, teknologi nano, teknologi neuro) yang terus berkembang, yang telah terbukti berpengaruh pada kemajuan budaya, perkembangan cara berfikir, serta daya kreativitas manusia dewasa ini dan ke depan dalam menghadapai tantangannya.

    · Rancangan Kurikulum 2013 belum menunjukkan keterkaitan yang jelas antara basis filosofi yang digunakan dengan perwujudannya pada tataran teknis yang dirancang untuk diimplementasikan. Misalnya, pendekatan interdisiplin dan metode eklektik yang dipilih tidak terwujud dalam model pembelajaran tematik-integratif yang direpresentasikan melalui Kompetensi Inti dan/atau Kompetensi Dasar. Dalam model ini, yang tampak bukanlah interdisiplin, melainkan multidisiplin: beberapa disiplin dimasukkan, bahkan cenderung dipaksakan, dalam sebuah mata pelajaran tanpa basis ontologi dan epistemologi yang mengikatnya.

    · Rancangan Kurikulum 2013 mengambil konsep integratif-tematik yang menunjukkan terdapatnya perubahan mendasar pada struktur kurikulum hingga pola penugasan guru, setidaknya, sejumlah mata pelajaran akan diintegrasikan menjadi satu mata pelajaran. Konsep ini membutuhan guru yang menguasai sejumlah mata pelajaran (yang digabungkan) serta mumpuni dalam mengajar berbasiskan pada tematik (yang telah ditentukan), yang merujuk pada lingkungan sekolah. Untuk terlaksananya konsep ini, pengetahuan dan kapasitas guru yang ada pada saat ini cukup jauh dari memenuhi kebutuhannya. Sementara itu, akan terdapat permasalahan pada tidak sedikit jumlah guru dengan “kompetensi” mata pelajaran yang dikeluarkan dari dalam struktur Kurikulum 2013.

    Berdasarkan hal tersebut, sebelum Rancangan Kurikulum 2013 diberlakukan, MGB ITB menyampaikan rekomendasi sebagai berikut:

    1. Amat perlu dilakukan perbaikan atas Rancangan Kurikulum 2013 semaksimal mungkin melalui kajian yang mendalam dan cermat. Untuk ini diperlukan naskah akademik yang mengemukakan sosok bangsa Indonesia untuk memasuki peluang Emas, yang memuat kajian filosofis mengenai tujuan pendidikan nasional. Kajian tersebut seyogianya mengemukakan pemikiran serta konsep dasar, termasuk di dalamnya perhatian pada pendidikan STEAM, yang kelak menjadi rujukan dalam menyusun Rancangan Kurikulum 2013 beserta implementasinya.

    2. Dokumen Kurikulum 2013 adalah Dokumen Negara dan Dokumen Budaya bangsa yang akan menjadi panduan dalam meletakkan dasar-dasar proses pendidkan ke depan. Untuk itu amat perlu dilakukan pembenahan atas struktur dan tatabahasa di dalam draf dokumen Kurikulum 2013 yang ada sehingga mudah dipahami, terutama oleh kalangan pelaku pendidikan di lapangan, dalam dimensi ruang maupun waktu.

    3. Sebelum diimplementasikan, rancangan sebuah kurikulum perlu diuji dan disosialisasikan secara terbuka di forum akademik, yang juga melibatkan pihak-pihak lain yang memiliki kompetensi serta kapasitas menilai, termasuk di dalamnya adalah kelompok masyarakat pelaku pendidikan. Forum terbuka adalah amat penting, yang mempunyai tujuan selain guna menampung pemikiran yang komprehensif juga untuk membangun pemahaman bersama hingga mengundang komitmen semua komponen masyarakat, khususnya yang akan terlibat langsung di dalam implementasi.

    4. Kurikulum adalah bagian amat penting dari kebijakan nasional yang menyangkut hajat hidup mendasar bagi orang banyak, yang meletakkan dasar-dasar upaya pembangunan budaya serta martabat bangsa. Oleh sebab itu, dalam pelaksanaannya kelak, proses serta prosedurnya harus memperhatikan kepentingan orang banyak itu sendiri sebagai masyarakat madani (civil society). Dalam hal ini Pemerintah perlu mengawalinya dengan membangun komunikasi cerdas dengan masayarakat yang amat luas, di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

    5. Langkah perlu yang harus dilakukan untuk melaksanakan sebuah kurikulum adalah menyiapkan guru, sarana dan prasarana serta infrastruktur pendidikan yang tepat. Menyiapkan guru dalam hal ini bukan sekedar menyiapkan ketrampilan dalam pengetahuan, namun lebih penting adalah menyiapkan sosok guru yang mumpuni, mempunyai sikap (attitude), mempunyai pengetahuan (knowledge), serta mempunyai ketrampilan (skill), yang layaknya dimiliki seorang panutan. Ketiga hal tersebut diperlukan guna membangun karakter peserta didik yang berujung pada tumbuhnya nilai-nilai generasi yang dapat menjadi pelaku budaya serta peradaban bangsa Indonesia 2045. Untuk ini Pemerintah mutlak perlu bekerjasama dengan perguruan tinggi serta unsur-unsur masyarakat pelaku pendidikan yang lainnya yang mumpuni dalam merancang hingga merealisasikan Kurikulum Pendidikan Nasional.

    Penundaan pemberlakukan Kurikulum 2013 menjadi keniscayaan jika hal-hal di atas belum bisa dilaksanakan. Menunda guna melakukan dengan segera persiapan yang lebih baik adalah jauh lebih berarti ketimbang kehilangan kesempatan merebut peluang Emas sebagai akibat menerapkan langkah-langkah pendidikan yang belum dipersiapkan dengan amat baik.♦

    Bandung, 12 April 2013

    Ketua Majelis Guru Besar ITB

    Prof. Harijono A. Tjokronegoro

  92. Muhammad Rasydan Ali Nur Angdhita says:

    Kurikulum 2013? Jangan diberlakukan dulu lah.. Belum matang juga udah aja… pak mentri, lihatnya jauh kedepan lah..

    1. Nienna says:

      Pak Mendikbud tidak berpikir jauh ke depan soalnya beliau hanya berpikir setahun kedepan sepanjang masa jabatannya,lalu bagaimana caranya mendapatkan jatah anggaran.Kalau pejabat mementingkan diri sendiri dan tidak bisa dicontoh,bagaimana menjalankan pendidikan berkarakter?Anak didik perlu contah, bukan hanya teori!!!

  93. Muh Rizky Siddiq says:

    Setuju omjay! Tolak kurikulum 2013 adalah langkah tepat. Jika pelajaran TIK dihapuskan generasi emas calon penerus bangsa ini akan menjadi gaptek dan menjadi negara tertinggal, sementara di pihak “penguasanya” udah kipas2 aja proyeknya mulus, akan tetapi moral bangsa ini menjadi hancur. Masa pendidikan mau diraup buat keuntungan politik juga. Maju terus Omjay pantang mundur!

  94. […] Begitupun dengan kurikulum 2013. Saya menyebutnya kurikulum sim salabim. Sebuah kurikulum yang dipaksa diterapkan tahun 2013, sementara guru sebagai pemain intinya tidak siap. Wajar saja bila media berteriak dan meliputnya. Saya sendiri telah menuliskan di blog pribadi dengan judul, Bismillah saya menolak kurikulum 2013. […]

    1. Nienna says:

      Wajarlah jika banyak yang mempertanyakan tentang kurikulum 2013 karena memang kurikulum ini aneh,banyak keganjilan mulai dari dasar hukum,pembuatan,biaya,maupun isinya.Pantas banyak orangtua yang memindahkan anaknya bersekolah di luar negeri,karena mereka terlanjur tidak percaya dengan mutu pendidikan di Indonesia.

  95. andhika fauzan says:

    saya setuju omjay kalau pelajaran tik dihapus generasi indonesia yang akan datang akan mejadi generasi yang gaptek dan tertinggal dari negara lain

  96. firdha says:

    Kurikulum 2013 memundurkan bangsa Indonesia ke zaman prasejarah dengan dihapuskannya Bahasa Inggris dan TIK, mempercepat proses pembodohan bangsa,tidak memperhatikan proses kesinambungan pendidikan,dan pembuatannya didasarkan atas kepentingan perut suatu golongan.

  97. Khaerudin says:

    Hanya orang-orang bodoh saja yang setuju dengan UN dan kurikulum 2013

    1. Kalau UN saya setuju tetapi kalau kurikulum 2013 tidak setuju.

  98. WARIS says:

    Saya ikut prihatin dengan dipaksakanya kurikulum 2013.
    ditunda saja dan kaji ulang lagi..
    kalo anak SD tidak tahu IPA IPS itu mlh pembodohan.
    kalo TIK ilang lalu bagaimana dia akan bisa TI.
    TI bukan hanya FB dan WEB.
    tapi bagaimana akan mengolah pikiran sehingga akan membuat orang lebih mudah mengerjakanya dengan bantuan TI.

  99. IPS dan IPA adalah serangkaian ilmu dasar yang harus ada sejak tingkat SD.Bahasa Inggris adalah bahasa internasional yang sangat kita butuhkan untuk berkomunikasi dengan bangsa lain di era millenium ini.Hampir semua buku ilmu pengetahuan di tingkat perguruan tinggi jenjang S1,S2,S3 menggunakan Bahasa Inggris.Ini berarti kita harus membiasakan anak sejak awal untuk menguasai Bahasa Inggris (tanpa melupakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah),karena jika tidak dibiasakan akan kurang maksimal.TIK sangat berguna untuk mencari ilmu dan informasi tercepat dan selalu up to date,mencari teman dan berdiskusi,membuat power point,mempermudah pekerjaan kita.Perlu adanya pengarahan dan bimbingan kepada anak untuk penggunaan multimedia yang benar dan sehat.Penguasaan Bahasa Inggris dan TIK adalah tuntutan zaman.Maka itulah,sebaiknya kurikulum 2013 harus dibatalkan atau diganti dengan kurikulum yang setara dengan sekolah RSBI.Itu baru mantap dan benar-benar ada perbaikan mutu pendidikan.

  100. Populer.in says:

    Bismillah, Saya Menolak Kurikulum 2013…

    Setelah membaca dokumen kurikulum 2013, mengikuti seminar sosialisasinya, dan merenung sedalam-dalamnya, maka saya ucapkan, “Bismillah“, dan memberanikan diri untuk menolak kurikulum 2013. Mengapa……

  101. Wijaya Kusumah says:

    JAKARTA – Anggota Komisi X DPR, Reli Malrina menilai Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tidak siap menjalankan memberlakukan kurikulum 2013. Buktinya adalah terjadinya pemangkasan jumlah sasaran sekolah dan pembatalan tender buku untuk kurikulum.

    “Kalau kebijakan mengikuti anggaran, (kurikulum) ini merupakan sebuah pemaksaan,” kata Reni kepada wartawan, Selasa (7/5).

    Politikus PPP ini meminta Kemendikbud untuk mempertimbangkan kembali pelaksanaan kurikulum baru tersebut. Ia khawatir, jika kurikulum dipaksakan maka pertaruhannya adalah nasib jutaan anak bangsa.

    “Yang paling dirugikan adalah peserta didik. Nasib mereka inilah yang kami khawatirkan kalau Kementerian tetap ngotot menyebut pelaksanaan tahun ini sebagai implementasi, bukannya uji coba dulu,” pungkasnya. (fat/jpnn)

    http://www.jpnn.com/read/2013/05/07/170956/DPR-Anggap-Penerapan-Kurikulum-2013-Dipaksakan#

    1. Masa sekolah anak didik tidak bisa diulang.Oleh karena itu marilah kita berusaha yang terbaik untuk anak didik.Kritis itu perlu asalkan pada cara,porsi dan tempat yang tepat.

  102. ikut nimbrung dan menyimak aja pak, he he he he,,,saya juga sepakat dengan om jay “TOLAK KURIKULUM 2013”. tapi setelah menolak, terus kurikulum tetep berjalan, lantas apa yang bisa kita lakukan? hmmmm,,,

    1. Berjuanglah agar jadi Mendikbud tahun 2014 agar suara kita didengar dan dipatuhi.

  103. Amin, semoga mendikbud tahun depan lebih profesional dan lebih baik kinerjanya

    Salam
    Omjay

  104. Sekeras apapun kita menolak,walaupun kualitas kurikulum 2013 memang jelek dan perlu dipertanyakan,tetapi pihak pemerintah yang berkuasa pasti akan menang.Tujuan guru adalah menjaga agar anak didik tidak menjadi korban.Kurikulum 2013 ini adalah kurikulum minimal yang bisa kita tambahkan/kembangkan mata pelajaran yang dibutuhkan sesuai kriteria masing-masing sekolah.Misalnya kita tambahkan IPA,IPS,Bahasa Inggris, TIK, Bahasa Daerah,dan Kesenian Daerah.Selama setahun kita bisa melakukan ini dulu untuk menjaga kualitas pembelajaran agar anak didik tidak dibodohkan sambil menunggu pergantian Mendikbud tahun 2014 nanti,semoga Om Jay yang terpilih.

    1. Wijaya Kusumah says:

      Amin

  105. kemz says:

    dari segi tujuan kurikulum 2013 ditingkat SD bagus. karna penekanan etika dan nasionalis ditekankan. sd saya sudah menerapkan jauh sebelum kurikulum 2013 diterapkan. cuma kita menerapkan tambahan materi seperti pelajaran drawing, dance, sepakbola, tahfidz, cocok tanam masuk dalam jam pelajaran dan menggunakan moving class(bisa belajar di alam, kelas, lab, perpus, taman. y bagaimana pihak sekolah kreatif aja sih dan melihat pendekatan pendekatan yg jauh lebih baik.

    1. Menurut saya di tingkat SD kurang baik.Yang paling baik adalah kurikulum RSBI karena ilmu-ilmu dasar diberikan secara lengkap,ada muatan lokal (seperti Bahasa Daerah dan Kesenian Daerah) dengan tambahan Bahasa Inggris dan TIK yang sangat diperlukan dalam era globalisasi,dan optimalisasi multimedia.

  106. Ahmad says:

    Kurikulum 2013 tetap akan diterapkan pada tahun ajaran depan

    1. Wijaya Kusumah says:

      iya tap hanya ujicoba dan terbatas

      1. Yang terkena ujicoba adalah sekolah eks RSBI/SBI. Terbayang sudah kemerosotan mutu pendidikan Indonesia. Anak eks RSBI/SBI sebetulnya sudah mampu berlari kencang,mampu menerima pelajaran diatas reguler.Kalau yang diterapkan hanya kurikulum 2013,secara materi lebih rendah daripada semua kurikulum di Indonesia ini,buat apa sekolah?Berangkat sekolah tiap hari,belajar setiap hari tetapi materi tidak bertambah,bahkan berkurang.Memang kurikulum 2013 hanyalah menciptakan pembodohan massal di Indonesia. Tidak heran jika semakin banyak kalangan mampu lebih suka menyekolahkan anak-anak mereka di luar negeri.

        1. Wijaya Kusumah says:

          betul

          1. Kalau ingin menciptakan pendidikan yang berkualitas,buatlah kurikulum yang sama dengan kurikulum RSBI/SBI.Itu baru mantap dan sesuai perkembangan zaman.Selain itu perganyak pelatihan,simposium,seminar bagi guru dan orangtua agar bisa memberikan yang terbaik bagi anak.

  107. Kalau ingin menciptakan pendidikan yang berkualitas,buatlah kurikulum yang sama dengan kurikulum RSBI/SBI.Itu baru mantap dan sesuai perkembangan zaman.Selain itu perbanyak pelatihan,simposium,seminar bagi guru dan orangtua agar bisa memberikan yang terbaik bagi anak.

  108. yudi nugraha says:

    panjang kali lebar sama dengan luas, empat tambah embah pasti delapan,,,,,apapun kurikulumnya pasti sama,,,jadi bukan kurikulum yg harus berubah terus,,tapi bagaimana guru mendidik dan mengajar.

    1. Lho,kata siapa kurikulum selalu sama?Pastilah ada perbedaannya,dan yang paling buruk dalam sejarah ya kurikulum 2013,sedangkan yang terbaik dalam sejarah adalah kurikulum yang digunakan RSBI/SBI.

  109. Wijaya Kusumah says:

    KURIKULUM 2013 DAN ROBOTISASI GURU
    Posted on April 10, 2013 by tazgiloz
    1

    by Hartono UNISSULA
    (This article was published by Suara Merdeka daily newspaper Friday, April 5, 2013, slightly edited by the editor)

    Meski ada penolakan atau setidaknya permintaan penundaan pelaksanaan Kurikulum 2013 dari beberapa kalangan (SM, 28/3/13), pemerintah berketetapan untuk menerapkan kurikulum tersebut pada Juli tahun ini. Pemerintah telah mengalokasikan anggaran, menyiapkan silabus dan buku, menyiapkan pelatihan guru, dll., sehingga tidak ada alasan yang cukup berarti untuk membatalkan ataupun menunda Kurikulum 2013. Mendiknas Muhammad Nuh, dalam tanggapannya terhadap kritik masyarakat, bahkan menganggap para pengkritik sebagai kurang memahami konstruksi kompetensi dalam kurikulum sebagaimana digariskan UU Sisdiknas (Kompas, 7/3/2013).

    Sebagai sebuah proses dinamis, perubahan bahkan penggantian kurikulum adalah sebuah keniscayaan. Ini karena kurikulum harus selalu menyesuaikan dengan kebutuhan jamannya. Yang penting untuk diperhatikan sebenarnya bukanlah sekedar apa yang sedang diubah dan ditawarkan oleh kurikulum baru, tetapi pada proses bagaimana perubahan itu diupayakan, yang oleh Popper (1962) disebut sebagai sebuah kontinum dari utopian ke piecemeal.

    Para penganut utopian percaya bahwa cetakbiru kurikulum yang menyepesifikasikan tujuan serta cara pencapaiannya adalah sangat penting, dan begitu ini ditentukan maka tidak ada lagi perubahan mendasar yang bisa dilakukan. Di sisi lain penganut piecemeal berpandangan bahwa meskipun ada cetakbiru, tetapi itu hanyalah sebuah titik awal, perubahan dan penyesuaian dilakukan sedikit demi sedikit. Penganut paham ini berpandangan bahwa perubahan ataupun inovasi kurikulum akan berhasil manakala perubahan itu tidak terlalu jauh dengan apa yang sekarang dipraktekkan atau setidaknya dipikirkan.

    Kurikulum 2013 lebih condong ke arah utopian, dimana perubahan diinisiasi oleh pimpinan puncak pendidikan di negeri ini dalam hal ini Kementerian Pendidikan Nasional. Tujuan kurikulum sebagaimana yang tercakup dalam Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD), bahkan silabus dan buku, telah dipriskripsikan secara terpusat. Praktek seperti ini pada akhirnya hanya akan memosisikan guru sebagai ahli mekanik dengan keterlibatan pasif sebatas penyampai materi pembelajaran. Hal ini perlu diperhatikan secara sungguh-sungguh karena keberhasilan atau kegagalan sebuah perubahan kurikulum akan sangat bergantung pada seberapa besar guru merasa terlibat dalam proses perubahan tersebut. Ketika masih banyak guru yang belum sepenuhnya memahami substansi dan semangat Kurikulum 2006 dihadapkan dengan ‘perkara’ baru yang dalam waktu yang sangat singkat harus dipersiapkan dan diekskusi di kelas, kemungkinan terjadinya disorientasi sangat besar.

    Mengantisipasi hal ini, dan untuk ‘menghibur” guru, pemerintah menyatakan bahwa dengan Kurikulum 2013 pekerjaan guru akan lebih ringan karena guru tidak lagi dituntut untuk mengembangkan silabus dan bahan ajar sebagaimana dituntut oleh Kurikulum 2006/KTSP. Silabus dan buku ajar telah disiapkan oleh pemerintah. Ini adalah berita baik bagi sebagian guru, tetapi adalah berita buruk bagi sebagian yang lain karena ini adalah penegasan betapa peran guru di Kurikulum 2013 adalah peripheral, sebagai robot-robot mekanik yang hanya menjalankan apa yang telah diprogramkan oleh tuannya.

    Sebagai Pembelajar
    Ketika terjadi perubahan kurikulum, kita seyogyanya menempatkan guru sebagai pembelajar dan perubahan kurikulum itu sebagai kegiatan pembelajaran bagi mereka sendiri. Ada 2 prinsip penting yang harus diperhatikan. Yang pertama adalah bahwa guru akan mampu mengoptimalkan kegiatan pembelajaran manakala ada keterlibatan dalam pengembangan tujuan pembelajaran yang sebidang atau kongruen dengan apa yang ada di dalam pikirannya. Guru-guru yang telah bertahun-tahun mengajar mempunyai gambaran yang sangat jelas tentang apa saja yang terjadi di kelasnya, apa penyebabnya dan bagaimana mengatasinya. Kalau tujuan pembelajaran yang dibawa kurikulum baru tidak sama dengan apa yang dipikirkannya, atau karena sosialisasi yang kurang sehingga terjadi distorsi pemahaman terhadap tujuan tersebut, maka kita tidak bisa berharap akan terjadi perubahan secara substansial.

    Kedua, guru bereaksi terhadap pengalaman sebagaimana mereka mempersepsikan pengalaman tersebut, bukan seperti apa yang disampaikan oleh para perumus kurikulum. Ketika guru Bahasa Inggris SMP / MTs membaca butir Kompetensi Inti sebagaimana berbunyi: “Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (toleransi, gotong royong), dst.” maka yang diperolehnya adalah ketidakjelasan peran yang harus dilakukan apakah sebagai guru Bahasa Inggris atau sebagai guru Agama. Butir ini tentu tidak salah, tetapi pemahaman yang dibentuk berdasarkan pengalamannya selama ini menjadikan ini terdengar aneh.

    Jika pemerintah memahami peran penting yang akan dimainkan oleh guru dalam implementasi sebuah kurikulum baru, maka pemerintah harus mengambil tanggung jawab dengan mendengarkan, mendukung dan bertindak atas apa yang menjadi perhatian para guru. Maka tidak ada pilihan yang lebih baik kecuali menunda pelaksanaan Kurikulum 2013. (Hartono, S.S.,M.Pd.; Staf pengajar di Fakultas Bahasa Unissula; bisa dihubungi di hartono@unissula.ac.id.)

    http://colasula.com/?p=819

  110. 3 Alasan Penolakan Kurikulum 2013
    Rabu, 22 Mei 2013 08:20 wibRachmad Faisal Harahap – Okezone
    Ilustrasi. (Foto: Heru Haryono/okezone)

    JAKARTA – Alasan penolakan terhadap kurikulum 2013 tidak hanya datang dari Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), namun juga dari berbagai institusi dan elemen masyarakat.

    Presidium Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Guntur Ismail mengatakan jika dasar penolakan yang sangat substansi tersebut dibagi menjadi tiga hal.

    1. Kurikulum 2013 dilaksanakan tanpa uji coba.

    Sebelum diimplementasikan, rancangan sebuah kurikulum perlu diuji dan disosialisasikan secara terbuka di forum akademik, yang juga melibatkan pihak-pihak lain yang memiliki kompetensi serta kapasitas menilai, termasuk di dalamnya adalah kelompok masyarakat pelaku pendidikan.

    Forum terbuka adalah amat penting, yang mempunyai tujuan selain guna menampung pemikiran yang komprehensif juga untuk membangun pemahaman bersama hingga mengundang komitmen semua komponen masyarakat, khususnya yang akan terlibat langsung di dalam implementasi.

    “Sayangnya pihak Kemendikbud bersikap antikritik dan menganggap bahwa para penentang sebagai pihak yang tak paham. Sikap ini berbeda dengan pemerintah Singapura dan Inggris yang saat ini sedang melakukan perubahan kurikulum juga,” tuturnya, dalam siaran pers yang diterima Okezone, Rabu (22/5/2013).

    Menurutnya, kedua negara ini melakukan uji coba terlebih dahulu selama dua tahun sebelum menerapkan kurikulum barunya. Dokumen kurikulumnya pun dapat diakses publik dengan mudah, bahkan dibuka perdebatan.

    2. Ketidaksiapan Sekolah dan Guru.

    Langkah perlu yang harus dilakukan untuk melaksanakan sebuah kurikulum adalah menyiapkan guru, sarana dan prasarana serta infrastruktur pendidikan yang tepat. Menyiapkan guru dalam hal ini bukan sekedar menyiapkan keterampilan dalam pengetahuan, namun lebih penting adalah menyiapkan sosok guru yang mumpuni.

    “Rancangan Kurikulum 2013 mengambil konsep integratif-tematik yang menunjukkan terdapatnya perubahan mendasar pada struktur kurikulum hingga pola penugasan guru,” jelasnya.

    Setidaknya, sejumlah mata pelajaran akan diintegrasikan menjadi satu mata pelajaran. Konsep ini membutuhan guru yang menguasai sejumlah mata pelajaran (yang digabungkan) serta mumpuni dalam mengajar berbasiskan pada tematik (yang telah ditentukan), yang merujuk pada lingkungan sekolah.

    Untuk terlaksananya konsep ini, pengetahuan dan kapasitas guru yang ada pada saat ini cukup jauh dari memenuhi kebutuhannya. Sementara itu, akan terdapat permasalahan pada tidak sedikit jumlah guru dengan “kompetensi” mata pelajaran yang dikeluarkan dari dalam struktur Kurikulum 2013.

    3. Ketidaksiapan Materi.

    Hingga limit waktu penerapan yang menyisakan waktu sekira 50 hari buku babon untuk guru dan buku siswa belum jadi bahkan belum dicetak. Jika kurikulum harus dilaksanakan pada 15 Juli 2013, maka pelatihan guru harus segera dilaksanakan Mei, namun karena anggaran belum disetujui DPR dan buku babon belum dicetak tentu saja tak mungkin melakukan pelatihan guru.

    “Buku babon dan buku siswa belum selesai dibuat, tender harus diulang, belum lagi distribusi buku juga membutuhkan waktu dan proses yang tidak singkat, jadi ketidaksiapan materi tentu membuat kurikulum 2013 ini layu sebelum berkembang,” pungkasnya. (ade)

  111. Kurikulum 2013 : Guru Hanya Jadi “Tukang”
    Selasa, 21 Mei 2013 07:05 wibMargaret Puspitarini – Okezone
    Ilustrasi : ist.

    JAKARTA – Sebagai salah satu tokoh penting dalam pelaksanaan dan penerapan kurikulum 2013, guru harusnya turut digandeng dalam perencanaan. Ironisnya, peran guru dalam kurikulum baru itu masih sangat minim.

    Pendapat tersebut diungkapkan guru SMA Kolese De Britto Kartono pada Sarasehan Pancasila II “Strategi Implementasi Kurikulum 2013: Tantangan, Hambatan, Gangguan, Ancaman dan Peluangnya Dalam Upaya Penguatan Pancasila.” Menurut Kartono, guru lebih banyak sebagai pengguna atau tukang saja di dalam penerapan kurikulum itu.

    “Sayangnya guru masih sebagai ‘tukang’ atau pelaksana saja. Padahal, nanti dalam implementasinya guru juga akan lebih banyak bertanya berapa jumlah mata pelajaran yang akan diperolehnya,” kata Kartono, seperti dikutip dari laman UGM, Selasa (21/5/2013).

    Dalam dokumen kurikulum 2013 dijelaskan tentang tujuan seorang guru yang harus mampu menerjemahkan ide dan rancangannya menjadi proses pembelajaran yang baik. Apa yang dilakukan oleh guru harus memenuhi kompetensi yang telah ditetapkan pemerintah, yaitu mampu membangun kecerdasan dalam ranah kognitif, sikap, dan psikomotorik.

    “Sehingga pekerjaan pendidikan nasional seolah-olah hanyalah menjadi tanggungjawab guru atau pendidik saja,” tandasnya. (mrg)

  112. Kurikulum 2013 Hilangkan Peran Pancasila
    Selasa, 21 Mei 2013 06:08 wibMargaret Puspitarini – Okezone
    Ilustrasi : ist.

    JAKARTA – Kurikulum pendidikan di Indonesia tidak bisa dibuat dengan main-main karena menyangkut masa depan seluruh anak bangsa. Sayangnya, kurikulum 2013 yang rencananya diterapkan pada tahun ajaran mendatang masih menyisakan banyak tanda tanya.

    Demikian diungkapkan Pengamat Pendidikan Wuryadi pada Sarasehan Pancasila II “Strategi Implementasi Kurikulum 2013: Tantangan, Hambatan, Gangguan, Ancaman dan Peluangnya Dalam Upaya Penguatan Pancasila” di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

    Dia menyebut, salah satu kekurangan yang tampak jelas dari dokumen kurikulum 2013 adalah tidak terlihat semangat ke-Indonesiaan karena mengesampingkan Pancasila sebagai salah satu karakter dasar bangsa Indonesia. “Saya lihat hanya menitikberatkan pada Sisdiknas dan menghilangkan peran Pancasila sebagai salah satu karakter dasar bangsa kita,” kata Wuryadi, seperti dilansir oleh Okezone, Selasa (21/5/2013).

    Selain itu, lanjutnya, kurikulum 2013 dinilai juga tidak melibatkan komponen utama pendidikan, yaitu guru. Guru dan sekolah lebih banyak didudukan sebagai pelaksana dari kurikulum tersebut. Kondisi ini sekaligus menunjukkan kurikulum 2013 masih bersifat sentralistik.

    “Memang tidak sentralistik mutlak. Tapi ini bisa membawa kelemahan dan ketidakefektifan dalam kerangka ke-Bhinekaan,” papar peneliti Pusat Studi Pancasila UGM itu.

    Meski demikian, Wuryadi sepakat adanya dinamisasi kurikulum. Namun, dinamisasi kurikulum tersebut diharapkan memperhatikan kebutuhan dasar bangsa, yaitu kebutuhan bangsa dan budaya, kebutuhan subyek didik, kebutuhan lembaga yang mendidik dan pemerintah serta kebutuhan atas ilmu pengetahuan dan teknologi.

    “Jangan lupa. Pendidikan itu sebagai alat perjuangan dan bukan semata-mata untuk menyiapkan pembentukan tenaga kerja atau juara sebuah kompetisi,” tegas Wuryadi. (ade)

  113. Kurikulum 2013 Belum Layak Dilaksanakan!
    Rabu, 22 Mei 2013 09:46 wibRachmad Faisal Harahap – Okezone
    Guru menolak Kurikulum 2013. (Foto: Rachmad Faisal/Okezone)

    JAKARTA – Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) menganggap kurikulum 2013 belum layak untuk dilaksanakan. Mereka pun mengomentari rapat kerja (raker) Komisi X DPR dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh terkait perubahan anggaran kurikulum 2013 pada 20 Mei.

    Menurut FSGI, Kurikulum 2013 yang dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) masih menuai kontroversi (lagi).

    Rancangan Kurikulum 2013 belum layak untuk dilaksanakan pada tahun ajaran 2013/2014. Sehingga diperlukan kematangan konsep dan rancangan, serta kesiapan guru yang akan berperan sebagai ujung tombak implementasi dari Kurikulum 2013.

    Wakil Sekretaris Jenderal (Sekjen) FSGI Fahriza Tanjung menjelaskan bahwa melaksanakan kurikulum 2013 dengan waktu yang singkat, membuat sebagian besar guru belum siap. Karena guru belum mengerti dan memahami sepenuhnya kurikulum baru.

    “Guru dan rendahnya mutu guru di Indonesia yang tidak siap mengimplementasikan Kurikulum 2013, karena di lapangan kami mendapatkan fakta bahwa guru belum mengerti dan memahami kurikulum 2013, sedangkan waktu untuk rencana implementasi sangat pendek. Kami memandang waktu dua bulan tidak realistis untuk melaksanakan Kurikulum baru,” ungkapnya, dalam siaran pers yang diterima Okezone, Rabu (22/5/2013).

    Menurutnya, penundaan pemberlakuan Kurikulum 2013 menjadi keniscayaan jika hal-hal di atas belum bisa dilaksanakan. Menunda guna melakukan dengan segera persiapan yang lebih baik adalah jauh lebih berarti ketimbang kehilangan kesempatan merebut peluang emas sebagai akibat menerapkan langkah-langkah pendidikan yang belum dipersiapkan dengan amat baik. (ade)

  114. UN & Kurikulum 2013 Kebijakan Kemendikbud Paling Pro Kontra
    Rabu, 22 Mei 2013 07:13 wibRachmad Faisal Harahap – Okezone
    Ilustrasi. (Foto: Heru Haryono/okezone)
    JAKARTA – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) beberapa bulan terakhir ini terus menerus mengalami “prahara”. Berbagai kebijakannya pun senantiasa dikritik banyak pihak. Hujatan atas pelaksanaan program yang amburadul juga terus terjadi, bahkan berbagai kebijakannya diduga sarat kepentingan proyek dan disinyalir berbau korupsi.

    Misalnya saja, kebijakan Ujian Nasional (UN) dan Kurikulum 2013. Pada Senin, 20 Mei, malam Panja Kurikulum DPR kembali menggelar rapat kerja dengan Mendikbud untuk membahas perubahan anggaran kurikulum 2013, khususnya untuk SMA/sederajat.

    Nah, hingga H-55 hari pelaksanaan kurikulum anggaran terus berubah, apa mungkin kurikulum 2013 tetap ngotot akan diterapkan pemerintah pada Juli 2013 ini?

    Presidium Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Guntur Ismail menjelaskan, kebijakan UN dan Kurikulum 2013 adalah contoh kebijakan Kemendikbud yang tak berhenti menyurutkan pro dan kontra.

    Kurikulum 2013 umpamanya, dipaksakan akan diterapkan pada 15 Juli 2013, padahal rancangan Kurikulum 2013 belum dituliskan ke dalam format dokumen Negara maupun naskah budaya layaknya sebuah dokumen Negara, sebagai perangkat rujukan hukum Negara.

    Dokumen kurikulum 2013 sampai detik ini tidak dapat diakses publik melalui website Kemendikbud bahkan para anggota Panja Kurikulum DPR pun sulit mendapatkannya.

    “Sosialisasi kurikulum 2013 hanya berisi jargon-jargon yang disampaikan melalui powerpoint, tidak bicara pada tataran yang lebih teknis yang dibutuhkan para guru. Bahkan banyak guru Jakarta saja belum tahu tentang kurikulum 2013 karena minimnya sosialisasi, apalagi wilayah di luar Jawa,” ucapnya seperti yang diterima Okezone, Rabu (22/5/2013).

    Menurutnya, para pendidik pun kebingungan, karena gagasan inti dalam Rancangan Kurikulum 2013 belum tersampaikan dengan lugas, bahkan dalam beberapa hal justru menunjukkan keraguan.

    Sejumlah istilah yang tidak dikenal secara luas telah digunakan dalam Rancangan Kurikulum 2013, sehingga menyebabkan kurikulum ini tidak mudah dipahami pada tataran implementasi, utamanya bila diterapkan oleh para pendidik di lapangan.

    Sekretaris Jenderal (sekjen) FSGI Retno Listyarti memaparkan, para pejabat Kemendikbud pun dengan penuh rasa percaya diri menyatakan bahwa kurikulum 2013 hanya meliputi lima persen di SD dan tujuh persen di SMP sebagai penerapan bukan ujicoba.

    “Bagaimana mungkin tidak dibilang ujicoba, sementara telah terjadi pengurangan yang begitu drastis, dari semula 132 ribu sekolah menjadi hanya 6.400an dari semula 20 juta siswa menjadi hanya 1.600 siswa. Masa sih para profesor di Kemendikbud masih menganggap ini bukan sampel? Kenapa harus malu dengan ujicoba sehingga ngotot dengan penerapan?” tegasnya. (ade)

  115. PGRI: Sebagian Guru Tak Tahu Kurikulum 2013
    Wednesday, 22 May 2013, 19:10 WIB Komentar : 0

    Kurikulum 2013
    A+ | Reset | A-
    REPUBLIKA.CO.ID,BANDA ACEH–Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Aceh, Ramli Rasyid menilai masih ada sebagian guru di daerahnya tidak tahu tentang Kurikulum 2013.

    “Sebuah keprihatinan ada guru yang tidak tahu tentang Kurikulum baru dan mulai diberlakukan awal tahun ajaran baru,” katanya di Banda Aceh, Rabu.

    PGRI Aceh, kata dia, setuju dengan Kurikulum baru jika pemerintah menyosialisasikan keseluruh stakeholder termasuk guru dan pengawas sekolah.

    “Saya berpendapat untuk kesuksesan penerapan Kurikulum 2013, maka pemerintah harus menyosialisasikan keseluruh stakeholder sehingga melahirkan sebuah pandangan yang sama ditengah-tengah masyarakat,” katanya menambahkan.

    Ramli Rasyid menilai, sosialiasi yang dilakukan pemerintah terkait dengan Kurikulum 2013 itu sebatas pimpinan (kepala dinas) pendidikan provinsi atau kabupaten dan kota serta beberapa sekolah.

    “Artinya tidak menyentuh semua elemen pendidikan, dan diyakini banyak guru di daerah terpencil yang tidak tahu dengan Kurikulum 2013,” kata dia menambahkan.

    Selain itu, ia juga meminta pemerintah menyiapkan alokasi anggaran untuk pelatihan guru terkait dengan penerapan Kurikulum 2013 tersebut.

    Apalagi dengan pemberlakuan Kurikulum 2013 banyak tambahan mata pelajaran sehingga perlu dipersiapkan guru untuk penerapannya di sekolah-sekolah, kata Ramli Rasyid.

    Belum lagi persoalan pengadaan buku yang harus disesuaikan dengan Kurikulum 2013. “Karenanya, saya menilai sebaiknya tidak diberlakukan mulai tahun ini, tapi disosialisasikan sampai benar-benar dimengerti oleh seluruh elemen pendidikan,” katanya menambahkan.
    Redaktur : Taufik Rachman
    Sumber : antara

  116. Ditemukan, 8 Kejanggalan pada Kurikulum 2013
    Penulis : Riana Afifah | Jumat, 15 Februari 2013 | 15:39 WIB

    Share:
    ANDRISumber: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
    TERKAIT:
    • Pemilihan Sekolah Ditentukan Daerah
    • Kurikulum 2013 Diberlakukan secara Bertahap
    • Kurikulum 2013 Mulai Diterapkan di Lebih 100.000 Sekolah
    • Ditetapkan, Kriteria Guru yang Dilatih untuk Kurikulum Baru
    • Wapres RI: Kurikulum 2013 Jangan Molor
    JAKARTA, KOMPAS.com – Koalisi Pendidikan bersama Indonesia Corruption Watch (ICW) menemukan delapan kejanggalan pada kurikulum 2013 yang dijadikan pengganti Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Melihat delapan kejanggalan ini, menunjukkan pemerintah tidak memiliki mekanisme pasti dalam mengubah kurikulum.

    Peneliti ICW, Siti Juliantari Rachman, mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan investigasi terkait proses perubahan kurikulum pendidikan ini. Dari investigasi terhadap berbagai narasumber ini, ditemukan delapan kejanggalan pada kurikulum 2013 yang menimbulkan berbagai pertanyaan.

    “Perubahan kurikulum ini aneh. Selain tergesa-gesa, ada juga kejanggalan dari penyusunannya, guru, buku bahkan anggaran,” kata Tari saat jumpa pers Kejanggalan Kurikulum 2013 di Kantor ICW, Kalibata, Jakarta, Jumat (15/2/2013).

    Kejanggalan pertama adalah pemerintah menggunakan logika terbalik dalam perubahan kurikulum pendidikan. Pemerintah justru mengubah kurikulum terlebih dahulu baru diikuti dengan revisi Peraturan Menteri dan Peraturan Pemerintah.

    “Harusnya kan pemerintah merevisi PP tentang standar nasional pendidikan dulu baru menyusun kurikulum baru. Ini sekarang standar nasional pendidikan justru mengikuti kurikulum 2013,” jelas Tari.

    Kejanggalan kedua adalah pemerintah tidak konsisten dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Proses perubahan kurikulum ini justru terlihat tidak terencana dan tidak terstruktur. Akibat perubahan kurikulum di luar RPJMN adalah anggaran yang ikut tidak pasti.

    Masalah anggaran ini menjadi kejanggalan ketiga dalam kurikulum 2013 ini. Sudah pernah disebut bahwa anggaran perubahan kurikulum ini tidak pernah sama. Pada paparan pertama kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), pemerintah menyebutkan anggaran kurikulum sebesar Rp 684 miliar. Namun kemudian berubah menjadi Rp 1,4 triliun dan naik kembali menjadi Rp 2,49 triliun.

    Kemudian kejanggalan keempat adalah tidak ada evaluasi komprehensif terhadap KTSP yang dapat menjadi landasan adanya perubahan kurikulum ini. Selanjutnya kejanggalan kelima adalah panduan kurikulum yang malah membelenggu kreativitas dan inovasi guru serta penyeragaman konteks lokal.

    “Semuanya disediakan pusat. Guru jadi terbatas dalam mengembangkan kreativitas dan konteks lokal kan berbeda tidak bisa diseragamkan,” jelas Tari.

    Kejanggalan keenam adalan target training master teacher yang terlalu ambisius. Hal ini mengacu pada durasi pelatihan dan jumlah guru yang akan dilatih cukup besar. Kejanggalan ketujuh adalah bahan perubahan kurikulum yang disampaikan pemerintah berbeda-beda.

    “Tidak ada dokumen pasti. Pemerintah hanya memperlihatkan powerpoint saja yang terus bisa ditambah jika ada kekurangan. Jadinya dokumen berubah terus tidak pasti,” ujar Tari.

    Kejanggalan terakhir adalah persiapan buku yang jauh dari selesai. Buku yang disiapkan untuk siswa dan guru baru selesai 50 persen. Bahkan untuk jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) buku yang siap baru buku Sejarah dan Matematika saja.

    Editor :
    Caroline Damanik
    Opini
    Kurikulum Pendidikan Haruslah Memberi Tantangan bagi Siswa
    Senin, 18 Februari 2013 | 11:52 WIB

    KOMPAS/IWAN SETIYAWAN
    TERKAIT:
    • Ditemukan, 8 Kejanggalan pada Kurikulum 2013
    • Kurikulum 2013 Diberlakukan secara Bertahap
    • Kurikulum 2013, Strategi Tepat untuk Bonus Demografi
    • Kurikulum Tak Lepas dari Aspek Politik
    • “Kenapa Pak Menteri Ngotot dengan Kurikulum Baru?”
    Oleh Suyanto

    KOMPAS.com – Para ilmuwan tanpa mengenal lelah telah meneliti berbagai faktor penting yang berkontribusi pada kesuksesan hidup. Mereka tertarik mencari faktor penentu yang secara signifikan bisa digunakan untuk memprediksi sukses kehidupan.

    Dari penelitian itu ditemukanlah faktor-faktor penting yang ikut menyumbang kesuksesan seseorang. Faktor-faktor penentu sukses itu akhirnya diterjemahkan oleh para ahli pendidikan ke dalam kurikulum dan program pembelajaran.

    Pendek kata, dengan ditemukannya faktor penentu sukses itu, dunia pendidikan juga ikut berlomba-lomba dan berkontemplasi untuk merumuskan filosofi, paradigma, strategi, dan metodologi pembelajaran. Pada gilirannya, rumusan itu digunakan untuk mengonstruksi kurikulum yang mampu memberi bekal ilmu dan pengetahuan kepada peserta didik untuk mendaki kesuksesan hidup.

    Faktor signifikan yang telah mendapat perhatian luas untuk memprediksi sukses seseorang, antara lainintelligence quotient (IQ, kecerdasan otak) dan emotional quotient (EQ, kecerdasan emosional). Kecerdasan yang disebut terakhir, oleh penemunya, Daniel Goleman (1995), diberi nama emotional intelligence, bukan emotional quotient.

    Kelahiran EQ membuat arah baru pendidikan secara luas. Sebab, dalam banyak penelitian terbukti IQ tak lagi menjadi satu-satunya prediktor sukses peserta didik di masa datang.

    Sebelum muncul EQ, IQ-lah yang didewa-dewakan dunia pendidikan untuk mempermudah pekerjaan pembelajaran dalam memberi bekal atau virus sukses peserta didik atau bahkan mahasiswa sekalipun. Implikasinya, pengembangan kurikulum hampir di seluruh dunia pada era jayanya IQ selalu berorientasi pada upaya bagaimana mengemas program pembelajaran yang bisa memberikan kecerdasan otak secara maksimal kepada para peserta didik.

    Setelah EQ ditemukan oleh Goleman, kurikulum serta-merta harus dan mutlak memperhatikan faktor-faktor non-kognitif, seperti kecerdasan sosial, kecerdasan spiritual, pengendalian emosi, dan memahami emosi orang lain. Bahkan, Goleman mengklaim IQ hanya berkontribusi 20 persen terhadap kesuksesan peserta didik setelah mereka hidup dalam masyarakat nantinya. Ternyata 80 persen justru ditentukan oleh faktor lain di luar IQ, di mana EQ masuk di dalamnya secara signifikan.

    Oleh karena itu, jika suatu bangsa ingin membuat kurikulum yang bisa mengantarkan para peserta didik jadi orang sukses, kurikulum itu juga harus memberikan menu belajar yang mencakup aspek lain selain kecerdasan, seperti sikap, perilaku, kepribadian, keberagamaan, budi pekerti, dan kecerdasan otot (muscle memory).

    Bahkan, praksis pendidikan di Jepang memasukkan aspek memori dan kecerdasan otot dalam kurikulumnya sejak kelas I dan II SD melalui aktivitas otot (keterampilan) dalam bentuk kegiatan origami secara intensif. Origami mampu menanamkan kepada para siswa sifat dan sikap kreatif, inovatif, sekaligus membangun kecerdasan/ingatan otot para siswa.

    ”Adversity quotient”

    Sudah lengkapkah prediktor kesuksesan yang bisa dikemas dalam kurikulum setelah adanya penemuan IQ, EQ—juga spiritual intelligent (SQ, kecerdasan spritual), dan kecerdasan otot? Ternyata belum! Dunia ilmu pengetahuan tetap melakukan penelitian untuk membuat prediktor kesuksesan memiliki daya prediksi yang makin robust, semakin kecil kesalahannya sampai mencapai derajat kepercayaan 99 persen. Atau tingkat koefisien alpha 0,01 jika kita meminjam terminologi uji signifikansi statistik inferensial. Prediktor baru itu adalah adversity quotient (AQ).

    Dua tahun setelah Daniel Goleman menemukan EQ, muncullah AQ yang ditemukan oleh Paul Stoltz (1997). Aplikasi AQ dalam proses pendidikan memang belum seluas aplikasi EQ dan SQ. Saat ini, AQ banyak diaplikasikan dalam perusahaan besar untuk kepentingan rekrutmen dan pelatihan pegawainya.

    Dunia pendidikan juga harus memanfaatkan temuan Paul Stoltz ini. Mengapa demikian? Karena AQ pada hakikatnya merupakan kapasitas seseorang untuk menghadapi berbagai bentuk tekanan dan ketidaknyamanan hidup dalam situasi tertentu.

    Orang yang AQ-nya tinggi akan tahan banting, dalam arti fisik, mental, dan kejernihan berpikir. Lebih penting lagi, ia segera bisa kembali ke keadaan normal setelah berhadapan dengan berbagai tekanan dan tantangan. Sebaliknya, orang yang AQ rendah akan selalu menyalahkan lingkungan ketika dia gagal sehingga dia tidak dapat mengambil keputusan untuk menuju sukses. Bidang keilmuan AQ ditopang tiga pilar utama: psychoneuroimmunology, neuropsychology, dan cognitive psychology.

    Orang hidup tak ada yang bebas dari tekanan dan tantangan. Dokter punya tekanan saat di meja operasi, wartawan memiliki tekanan dan tantangan ketika harus menghadapi tenggat berita, menteri dan presiden selalu menghadapi tekanan dari ekspektasi masyarakat. Siswa pun selalu menghadapi tekanan dan tantangan ketika harus belajar materi baru yang jauh lebih sulit, datang dan pulang tepat waktu, dan menyerahkan tugas individu serta kelompok. Kalau semua tekanan itu berhasil dilewati, sukseslah mereka. Kalau gagal, akan reduplah suasana hati dan pikiran saat itu.

    Hidup adalah tantangan

    Oleh sebab itu, kapasitas untuk bisa menghadapi berbagai tekanan harus diajarkan dan dilatih sejak mereka duduk di bangku sekolah. Siswa perlu mengalami sendiri berbagai prosedur serta proses ilmu dan pengetahuan. Kerena itu, kegiatan mengamati, bertanya, menalar, bereksperimentasi, juga pengalaman membangun jejaring perlu diakomodasikan dalam sebuah kurikulum.

    Dengan cara seperti itu, siswa akan bisa merespons berbagai kemungkinan dan tekanan hidupnya kelak setelah hidup dalam masyarakat. Respons positif terhadap tekanan yang dihadapi siswa akan memberi jalan kepada kesuksesan hidup kelak.

    Belajar tidak cukup hanya yang bersifat menyenangkan, tetapi juga harus menantang bagi siswa kita. Mengapa begitu? Karena hidup identik dengan tantangan.

    Kurikulum dan proses pembelajaran perlu memberi tempat yang cukup agar siswa bisa melakukan observasi, analisis, hipotesis, sintesis, dan mencari solusi terhadap tantangan yang dihadapi dalam proses belajarnya. Sebab, pada saatnya nanti, meminjam konsepnya Jerome Brunne, para siswa akan melakukan apa yang disebutnya transfer of learning and principles dalam kehidupan nyata.

    Jadi, belajar tidak cukup dengan pendekatan yang menyenangkan semata. Selebihnya, harus menantang agar siswa bisa berlatih untuk membangun AQ-nya. Semoga begitu.

    Suyanto, Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta

    Sumber :
    Kompas Cetak
    Editor :
    Caroline Damanik
    “Kenapa Pak Menteri Ngotot dengan Kurikulum Baru?”
    Penulis : Riana Afifah | Selasa, 22 Januari 2013 | 13:20 WIB

    KOMPAS/HERU SRI KUMORO
    Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh menjelaskan mengenai Kurikulum 2013 saat berkunjung ke Kantor Redaksi Kompas, Jakarta, Jumat (21/12).
    TERKAIT:
    • Dinas Pendidikan Gresik Siap Awali Kurikulum 2013
    • Kemdikbud dan Kompetensi Ilmiah
    • Pelajaran SD Tematik Integratif, Seperti Apa?
    • DPR: Kurikulum Baru tapi Kok Masih Disebut KTSP?
    • Mendikbud: Kurikulum 2013 Tidak Bisa Ditunda
    JAKARTA, KOMPAS.com – Kontroversi yang membelit proses pembahasan Kurikulum 2013 masih saja terjadi. Kali ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) dituding ngotot mengimplementasikan kurikulum baru pada tahun ini padahal drafnya saja masih dinilai tidak komprehensif.

    Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Wayan Koster, menilai pihak kementerian ngotot untuk segera menerapkan kurikulum baru ini dalam beberapa kali pertemuan dengan anggota legislatif. Padahal, menurut DPR, lanjutnya, ada baiknya kurikulum baru diuji coba terlebih dahulu daripada langsung diterapkan.

    “Saya nggak tahu kenapa menteri ini ngotot sekali ingin kurikulum baru pada tahun ini,” kata Wayan saat Rapat Dengar Pendapat di Ruang Rapat Komisi X, DPR RI, Jakarta, Senin (21/1/2013).

    Hal tersebut diperkuat oleh pernyataan dari Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Mohammad Fakry Gaffar. Setelah menelaah dokumen kurikulum yang dikeluarkan pemerintah, ia menilai bahwa draft kurikulum 2013 yang akan diterapkan tersebut belum lengkap.

    “Berbagai aspek esensial seperti konten kurikulum, panduan implementasi itu belum lengkap. Sedangkan jadwal implementasi terlihat terlalu optimistis jika tetap bertahan pada tahun ini,” ujar Fakry.

    Ia menjelaskan bahwa untuk penerapan kurikulum dengan banyaknya perubahan elemen ini memerlukan persiapan yang cukup lama. Kemudian target di lapangan seperti guru, siswa dan kepala sekolah harus diperhatikan kesiapannya sehingga tidak ada kendala.

    “Guru, siswa dan Kepsek sudah siap atau belum ini sangat penting. Persiapan yang diperlukan harusnya cukup lama,” jelasnya.

    Begitupula dengan Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang (UNM), Supriyono yang menyarankan agar kurikulum ini diuji coba dulu di beberapa daerah. Durasi yang dibutuhkan untuk uji coba ini juga paling lama setahun saja kemudian dievaluasi secara mendalam.

    “Saran saya kalau mau diterapkan pilot project dulu di beberapa wilayah. Paling tidak satu tahun,” jelas Supriyono.

    Berita terkait, baca : KURIKULUM 2013
    Opini
    Kurikulum sebagai Kendaraan
    Rabu, 27 Februari 2013 | 09:42 WIB

    Dibaca: 1377

    Komentar: 3
    |

    Share:

    Kurikulum sebagai Kendaraan
    TERKAIT:
    • Wajib, Pendidikan Kewirausahaan di SMA
    • Buku untuk 3 Mata Pelajaran SMA Dirombak Total
    • Sejauh Ini, Persiapan Kurikulum Diklaim ‘On The Track’
    • Tiap Pekan ke Daerah Demi Kurikulum Baru
    • Kemendikbud: Kurikulum 2013 Dorong Siswa Lebih Kreatif
    Oleh Anita Lie

    KOMPAS.com – Harapan dan antusiasme bercampur dengan kecemasan dan keraguan dalam wacana publik soal rencana pelaksanaan Kurikulum 2013. Berbagai respons dan sikap ini menandakan kepedulian dan rasa memiliki yang besar terhadap pembangunan pendidikan di Indonesia. Kehangatan respons publik, terutama dari masyarakat pendidikan, merupakan prakondisi menggembirakan terhadap strategi pembangunan pendidikan nasional jangka panjang.

    Sikap positif dan dukungan terhadap rencana pemberlakuan Kurikulum 2013 dilandasi pemikiran bahwa memang perubahan kurikulum sudah selayaknya dilakukan untuk merespons transformasi zaman dan kebutuhan abad ke-21. Para pendukung berharap sekolah bisa menyiapkan peserta didik menjadi pribadi berkarakter mulia serta punya pengetahuan dan keterampilan yang relevan untuk bisa berpartisipasi dan berkontribusi di masyarakat abad ke-21.

    Sebaliknya, kecemasan dan keraguan yang melandasi berbagai sikap, mulai dari kritik tajam sampai penolakan, menunjukkan ketidakpercayaan bahwa Kurikulum 2013 merupakan solusi bagi berbagai masalah pendidikan di Indonesia. Perspektif yang tepat mengenai fungsi, peran, dan konteks kurikulum akan membantu para pemangku kepentingan sistem pendidikan nasional (baik pendukung maupun pengkritik) bisa bekerja sama mencapai tujuan bersama bangsa ini melalui pembangunan pendidikan, sambil tetap menghormati ruang untuk bisa ”sepakat untuk berbeda dan tidak sepakat”. Ditinjau dari asal katanya dalam bahasa Latin, currere, kurikulum bisa berarti ’kendaraan’. Jadi, kurikulum bukan merupakan segala sesuatunya dalam suatu sistem pendidikan.

    Kurikulum merupakan alat mencapai suatu tujuan dan membutuhkan keandal- an penggunanya. Sama seperti kendaraan apa pun, banyak ketidaksempurnaan dalam setiap kurikulum. Dalam perspektif kepentingan bangsa dan negara, kendaraan kurikulum ini akan berfungsi dan berperan baik jika para pelaku dan pemerhati punya kejelasan tujuan dan visi bersama, peta jalan yang benar, serta keandalan dalam pemanfaatan kendaraan.

    Visi bersama

    Pembangunan pendidikan perlu visi bersama yang bisa mengikat para pejabat dalam sistem pendidikan pada tingkat nasional maupun daerah untuk menghasilkan dan melaksanakan kebijakan dengan derajat koherensi dan konsistensi yang melebihi masa jabatan. Visi dan misi pendidikan nasional seperti tertuang dalam Pasal 3 dan penjelasannya dalam UU No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional: mengembangkan potensi peserta didik agar jadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkarakter mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta jadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

    Perumusan normatif visi dan misi ini butuh penjelasan, sosialisasi, dan internalisasi lebih lanjut kepada semua pemangku kepentingan agar kesinambungan pembangunan pendidikan nasional bisa melampaui masa jabatan menteri dan jajarannya. Koherensi sistem dan kebijakan pendidikan dengan visi pembangunan pendidikan dan kemajuan bangsa melalui pendidikan mencakup tiga isu sentral: sentralisasi-desentralisasi, komitmen pendidikan untuk semua, dan kejelasan sasaran. Fenomena penyusunan-pengesahan suatu kebijakan pendidikan, pengajuan uji materi, dan pembatalan kebijakan itu akhir-akhir ini menunjukkan kurangnya koherensi antara tujuan, sistem, dan kebijakan. Kita berharap di kemudian hari energi dan sumber daya tidak terbuang sia-sia dalam pertarungan antara pembuat dan penentang kebijakan.

    Peta jalan mengidentifikasi berbagai strategi yang tepat dan berkontribusi terhadap pencapaian-pencapaian yang diharapkan. Kadang kala satu strategi akan berkontribusi terhadap satu pencapaian, tetapi dikhawatirkan akan menghambat pencapaian yang lain. Misalnya, strategi pengadaan buku pedoman kurikulum dan buku teks oleh pemerintah pusat diharapkan bisa menjamin pemerataan mutu materi pembelajaran untuk semua daerah. Terungkapnya contoh beberapa buku teks yang tidak layak pakai bagi peserta didik karena kecerobohan pada tingkat daerah dan satuan pendidikan dalam seleksi buku teks, serta kurangnya komitmen sebagian kepala daerah dalam pembangunan pendidikan, menjustifikasi kembalinya sentralisasi bagi beberapa kepentingan.

    Sebaliknya, sebagian kritikus mencemaskan tergerusnya kebinekaan dalam materi pembelajaran. Maka dari itu pemetaan dan pemilihan strategi pencapaian tujuan pendidikan membutuhkan kejelasan interpretasi visi dan misi pendidikan serta pandangan holistik dan sistemik yang diperkuat oleh basis data.

    Keandalan pengendara

    Kendaraan secanggih Mercedes pun bisa mengakibatkan kematian bagi penumpangnya (ingat kecelakaan Lady Diana) jika penggunaannya tidak benar. Faktor sangat penting dalam keberhasilan (atau kegagalan) dalam pelaksanaan Kurikulum 2013 adalah guru sebagai pengendaranya. Pemerintah sudah berupaya sangat keras untuk meningkatkan kompetensi guru melalui berbagai strategi.

    Salah satunya adalah peningkatan kesejahteraan guru melalui program sertifikasi. Namun, sayangnya, survei Bank Dunia menunjukkan bahwa sertifikasi guru ternyata tidak mengubah perilaku dan praktik mengajar guru serta belum meningkatkan prestasi guru dan siswa secara signifikan (Kompas, 18 Desember 2012).

    Hal itu berarti pemerintah harus lebih bersungguh-sungguh dan berupaya lebih keras lagi—dan cerdas—untuk meningkatkan dedikasi dan kompetensi guru, serta merancang strategi pengembangan profesionalisme guru mulai dari masa prajabatan di lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) sampai dengan pengembangan dalam masa jabatan.

    Salah satu hal positif dalam program sertifikasi guru yang terungkap dalam survei Bank Dunia adalah adanya peningkatan minat kaum muda memilih profesi guru. Dampak sementara ini seharusnya dianggap sebagai momentum emas untuk memperbaiki profesi guru secara menyeluruh. Dua faktor yang menjadi benang merah di antara negara-negara yang mempunyai tingkat keberhasilan tinggi dalam pembangunan pendidikan bukan standar nasional, sentralisasi-desentralisasi, pembiayaan, dan kurikulum, melainkan kultur masyarakat dan kualitas guru.

    Sementara transformasi budaya merupakan prakondisi dan sekaligus capaian jangka panjang yang bisa ditetapkan untuk pembangunan pendidikan, peningkatan kualitas guru merupakan prasyarat penting bagi keberhasilan pelaksanaan Kurikulum 2013 dan kurikulum selanjutnya. Pilihan mendukung, menolak, atau mendukung dengan catatan tentunya membawa konsekuensi masing-masing. Ketika kendaraan sudah dipacu untuk melaju, kepentingan peserta didik dan bangsa seyogianya jadi bahan bakar yang menggerakkan. Kritik terhadap Kurikulum 2013 sebenarnya bisa dipilah menjadi catatan perbaikan substansial dan ketidakpuasan terhadap prosedur (misalnya pelaksanaan uji coba, jadwal, dan sebagainya). Dibutuhkan wawasan, kedewasaan emosional, dan kearifan untuk mengolah berbagai kegaduhan dan mengendalikan diri agar para penumpang di dalam kendaraan tidak menjadi bingung dan tersesat.

    Anita Lie Profesor dan Direktur Program Pascasarjana Universitas Widya Mandala, Surabaya

    Sumber :
    Kompas Cetak
    Editor :
    Caroline Damanik
    > Education > Membongkar Sisi Gelap K..

    • new 20 minutes ago
    kurikulum 2013 icw tolak dikbud +
    Membongkar Sisi Gelap Kurikulum 2013 by @sahabaticw & @taarii

    Membongkar Sisi Gelap Kurikulum 2013 by @sahabaticw & @taarii
    by pratamaarista
    0 fav 75 view

    Fav
    0
    Click here to add to Favorites.
    Chirpstories
    Open Menu

    RT @taarii Huru Hara Kurikulum 2013, AYo di TOLAK http://t.co/g8gGvz6JUD
    sahabatICW 1 day ago

    Karut Marut Kurikulum 2013, AYO TOLAK http://t.co/gTLazMFuzy cc: @TamaSLangkun @abdullah_dahlan
    taarii 9 hours ago

    Sampai saat ini blm ada dokumen fix Kurikulum 2013, TOLAK YUK http://t.co/gTLazMFuzy cc: @sahabatICW @beranijujurnet
    taarii 9 hours ago

    Kur13 tdk akn mengubah keadaan pendidikan, krn kur13 bkn jwbn dr mslh pendidikan http://t.co/vi47a6sGYe cc: @illiandeta @janesandraa
    taarii 9 hours ago

    Apakah #kur13 merupakan jawaban dari rendahnya nilai TIMSS,PISA,dan PIRLS? Tolak Kurikulum 2013 Yuk http://t.co/vi47a6sGYe cc: @FebriHendri
    taarii 9 hours ago

    bagaimana bisa melatih guru kalau dokumen kurikulumnya saja blm jadi #kur13 TOLAK KUR13 http://t.co/vi47a6sGYe
    taarii 9 hours ago

    dokumen kurikulumnya belum jadi, bagaimana mau menulis bukunya? TOLAK #kur13 http://t.co/vi47a6sGYe
    taarii 9 hours ago

    Anggaran #kur13 terus melesat sampai 2,49 T dari 684 M. salah satu fakta perencanaan yg buruk.. Yuk Tolak Kur 2013 http://t.co/vi47a6sGYe
    taarii 8 hours ago

    Sebelum Uji Publik pertengahan Desember 2012, para penerbt buku sudah dikumpulkan. utk apa uji publik? TOLAK #KUR13 http://t.co/vi47a6sGYe
    taarii 8 hours ago

    Dlm UU Sisdiknas disbtkn bhw kur d kembangkn brdsrkn Standar Nasional Pendidikan,tp ini sebaliknya. Tolak #kur13 http://t.co/vi47a6sGYe
    taarii 8 hours ago

    pemerintah juga tdk melakukan evaluasi komprehensif thdp KTSP. tiba2 memutuskan #kur13 , Aneh. Yuk Tolak kur13 http://t.co/vi47a6sGYe
    taarii 8 hours ago

    #kur13 sudah mnyediakan buku panduan & silabus bg guru. mematikan kreatifitas guru & konteks budaya lokal.Tolak kur13 http://t.co/vi47a6sGYe
    taarii 8 hours ago

    slh 1 indikator kbrhsilan #kur13 adalah ketersediaan buku<< proyek basah potensi korupsi. Tolak Kur13 http://t.co/vi47a6sGYe cc @FebriHendri
    taarii 8 hours ago

    Tolak Kurikulum 2013 https://t.co/HRcP8Bwm7L
    taarii 4 hours ago

    Proses perumusan kebijakan yang tidak terencana dan terburu-buru. Tolak #kur13 https://t.co/HRcP8Bwm7L cc @illiandeta
    taarii 4 hours ago

    Pemerintah menggunakan logika terbalik dlm perumusan #kur13 . Yuk Tolak Kur13 https://t.co/HRcP8Bwm7L
    taarii 4 hours ago

    Pemerintah tidak melakukan evaluasi terlebih dahulu terhadap KTSP. Tolak #kur13 https://t.co/HRcP8Bwm7L cc @illiandeta @febridiansyah
    taarii 4 hours ago

    #kur13 cederung mematikan kreatifitas guru&tdk mempertimbangkan konteks budaya lokal https://t.co/HRcP8Bwm7L cc @illiandeta @TamaSLangkun
    taarii 4 hours ago

    Target training master teacher terlalu ambisius, sementara buku untuk guru belum dicetak. Tolak #kur13 cc @illiandeta @donalfariz
    taarii 3 hours ago

    Anggaran kurikulum 2013 mncapai 2,49 T.berpotensi d korupsi. Tolak #Kur13 https://t.co/HRcP8Bwm7L @illiandeta @emerson_yuntho @TamaSLangkun
    taarii 3 hours ago

    Rp 1,3 T,akn dgunakn utk proyek pengadaan buku yg brpotensi di korupsi.Tolak #Kur13 https://t.co/HRcP8Bwm7L cc: @illiandeta @emerson_yuntho
    taarii 3 hours ago

    Pemerintah belum mengeluarkan dokumen kurikulum 2013 resmi sampai saat ini. Tolak #kur13 https://t.co/HRcP8Bwm7L cc: @illiandeta
    taarii 3 hours ago

    bgmn pnyusunan buku dpt d lakukan jk dokumen kur13 smp saat ini blm resmi. Tolak #kur13 https://t.co/HRcP8Bwm7L cc: @febridiansyah
    taarii 3 hours ago

    stiap thn sjk 2008 pem. rajin mbeli hak cipta buku utk BSE,skrg nganggarin buku br lg.Tolak #kur13 https://t.co/HRcP8Bwm7L cc @FebriHendri
    taarii 3 hours ago

    sblm uji publik, pemerintah sudah melakukan pertemuan dgn penerbit2 buku. Tolak #kur13 https://t.co/HRcP8Bwm7L cc @FebriHendri
    • kurikulum 2013 icw tolak dikbud +
    Membongkar Sisi Gelap Kurikulum 2013 by @sahabaticw & @taarii

    Membongkar Sisi Gelap Kurikulum 2013 by @sahabaticw & @taarii
    by pratamaarista
    0 fav 75 view

    Fav
    0
    Click here to add to Favorites.
    Chirpstories
    Open Menu

    RT @taarii Huru Hara Kurikulum 2013, AYo di TOLAK http://t.co/g8gGvz6JUD
    sahabatICW 1 day ago

    Karut Marut Kurikulum 2013, AYO TOLAK http://t.co/gTLazMFuzy cc: @TamaSLangkun @abdullah_dahlan
    taarii 9 hours ago

    Sampai saat ini blm ada dokumen fix Kurikulum 2013, TOLAK YUK http://t.co/gTLazMFuzy cc: @sahabatICW @beranijujurnet
    taarii 9 hours ago

    Kur13 tdk akn mengubah keadaan pendidikan, krn kur13 bkn jwbn dr mslh pendidikan http://t.co/vi47a6sGYe cc: @illiandeta @janesandraa
    taarii 9 hours ago

    Apakah #kur13 merupakan jawaban dari rendahnya nilai TIMSS,PISA,dan PIRLS? Tolak Kurikulum 2013 Yuk http://t.co/vi47a6sGYe cc: @FebriHendri
    taarii 9 hours ago

    bagaimana bisa melatih guru kalau dokumen kurikulumnya saja blm jadi #kur13 TOLAK KUR13 http://t.co/vi47a6sGYe
    taarii 9 hours ago

    dokumen kurikulumnya belum jadi, bagaimana mau menulis bukunya? TOLAK #kur13 http://t.co/vi47a6sGYe
    taarii 9 hours ago

    Anggaran #kur13 terus melesat sampai 2,49 T dari 684 M. salah satu fakta perencanaan yg buruk.. Yuk Tolak Kur 2013 http://t.co/vi47a6sGYe
    taarii 8 hours ago

    Sebelum Uji Publik pertengahan Desember 2012, para penerbt buku sudah dikumpulkan. utk apa uji publik? TOLAK #KUR13 http://t.co/vi47a6sGYe
    taarii 8 hours ago

    Dlm UU Sisdiknas disbtkn bhw kur d kembangkn brdsrkn Standar Nasional Pendidikan,tp ini sebaliknya. Tolak #kur13 http://t.co/vi47a6sGYe
    taarii 8 hours ago

    pemerintah juga tdk melakukan evaluasi komprehensif thdp KTSP. tiba2 memutuskan #kur13 , Aneh. Yuk Tolak kur13 http://t.co/vi47a6sGYe
    taarii 8 hours ago

    #kur13 sudah mnyediakan buku panduan & silabus bg guru. mematikan kreatifitas guru & konteks budaya lokal.Tolak kur13 http://t.co/vi47a6sGYe
    taarii 8 hours ago

    slh 1 indikator kbrhsilan #kur13 adalah ketersediaan buku< http://t.co/lZsYAd46Fo. dan sebarkan.
    sahabatICW 1 hour ago

    Petisi Tolak Perubahan Kurikulum 2013 tidak membatasi hanya sampai 1.500 org. semakin byk yg paraf, makin baik. ini > http://t.co/lZsYAd46Fo
    sahabatICW 1 hour ago

    ubah kurikulum bukan untuk proyek. bukan untuk menguntungkan segelintir orang. kurikulum pendidikan harus mencerdaskan, bukan membodohkan.
    sahabatICW 1 hour ago

    silakan paraf petisi online Tolak Perubahan Kurikulum 2013 di: http://t.co/lZsYAd46Fo. bayangkan adik2 kita yg menderita dpt kurikulum asal.
    sahabatICW 1 hour ago

    jika tweeps ingin berbincang ttg perubahan kurikulum 2013, silakan tweeps ngobrol dg @taarii, slh 1 peneliti ICW yg wakili ICW dlm Koalisi.
    sahabatICW 1 hour ago

    Nelson Mandela pernah berujar, “pendidikan adalah senjata utk keluar dr kemiskinan”. bayangkan kurikulum 2013 ini, sungguh bertolak belakang
    sahabatICW 1 hour ago

    sila paraf petisi tolak perubahan kurikulum pendidikan di http://t.co/lZsYAd46Fo tweeps. sebarkan, krn ini harusnya bisa kita cegah bersama.
    sahabatICW 1 hour ago

    pendidikan hrsnya membebaskan, bukan membodohkan. paraf,sebarkan petisi tolak kurikulum 2013 http://t.co/lZsYAd46Fo. setiap suara, berharga.
    sahabatICW 54 minutes ago

    Petisi Tolak Kurikulum 2013 yg tweeps paraf, besok akan dibawa Koalisi Pendidikan ke Kemendikbud. Ayo, bersama2 ttd 🙂
    sahabatICW 40 minutes ago
    Curhat Kemendikbud Soal Kendala Kurikulum 2013
    Margaret Puspitarini
    Kamis, 14 Maret 2013 14:28 wib

    Ilustrasi: ist.
    JAKARTA – Pergantian kurikulum tentu selalu diwarnai dengan kontroversi. Bahkan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengaku menemui sejumlah kendala dalam perumusan maupun rencana penerapan kurikulum 2013.

    Hal tersebut diungkapkan Kepala Pusat Pengembangan Kurikulum dan Buku (Pusburbuk) Nanik Suwaryani dalam National Launch of the 2012 Education for All (EFA) Global Monitoring Report (GMR), hari ini. Nanik menyebut, dalam rencana implementasi kurikulum baru, ada banyak tantangan yang harus dihadapi.

    Salah satunya, kata Nanik, berkaitan dengan regulasi yang berbenturan dengan kurikulum baru. “Niatnya kurikulum baru akan diterapkan pada 2013, tapi pemerintah masih harus merevisi banyak dokumen,” papar Nanik, di Gedung D Kemendikbud, Senayan, Jakarta Selatan, Kamis (14/3/2013).

    Kendala selanjutnya, adalah perkara menyiapkan para guru untuk mengimplementasikan kurikulum baru tersebut. “Berbicara tentang Indonesia, berarti harus mengadakan pelatihan untuk 2,7 juta guru agar siap menghadapi kurikulum baru,” ungkapnya.

    Nanik menyebut, peran pemerintah daerah dan sekolah dalam membuat dokumen yang sesuai standar pun masih menjadi suatu kendala. Mereka tentu harus dipersiapkan untuk mampu menghasilkan dokumen sesuai ketentuan.

    Selain itu, evaluasi pencapaian siswa yang tertuang dalam Ujian Nasional (UN) pun menjadi kendalapenerapan kurikulum 2013. Sebab, kata Nanik, kurikulum 2013 tidak ingin guru maupun murid berorientasi belajar hanya untuk ujian.

    “Kurikulum 2013 tidak lagi pembelajaran hanya untuk ujian. Maka, untuk menghindari hal tersebut, tengah diusulkan jika UN bukan lagi satu-satunya tolok ukur evaluasi pencapaian siswa,” imbuhnya.(rfa)

    Kurikulum 2013
    Sekolah Boleh Kembangkan Standar Kompetensi
    Margaret Puspitarini
    Kamis, 14 Maret 2013 14:19 wib

    Ilustrasi: Her Campus.
    JAKARTA – Tahun ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan menerapkan kurikulum baru. Menjelang penerapan kurikulum 2013, mari kita menilik kembali kurikulum baru tersebut.

    Kepala Pusat Pengembangan Kurikulum dan Buku (Pusburbuk) Nanik Suwaryani menyatakan, standar kurikulum 2013 ditetapkan oleh kementerian berdasarkan usulan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).

    “Standar kompetensi lulusan dalam kurikulum 2013 memiliki tiga domain, yakni sikap, keterampilan, dan pengetahuan,” ujar Nanik, dalam acara National Launch of the 2012 Education for All (EFA) Global Monitoring Report (GMR), di Gedung D Kemendikbud, Senayan, Jakarta Selatan, Kamis (14/3/2013).

    Dia menjelaskan, dari standar kompetensi lulusan kemudian diturunkan menjadi kompetensi inti (KI) dan kompetensi dasar (KD). Namun, lanjut Nanik, sekolah dapat mengembangkan lebih jauh mengenai kompetensi tersebut.

    “Itu standar minimal. Sekolah bisa mengembangkan lagi tergantung kebutuhan sekolah dan peserta didik. Apakah mau lebih internasional atau justru mau lebih lokal,” urainya.

    Dalam kurikulum baru tersebut, lanjut Nanik, juga akan terjadi perubahan jam belajar. Dia mengungkapkan, hal tersebut dilakukan dengan mengacu terhadap beberapa negara maju yang jumlah jam belajarnya lebih banyak.

    Kemudian, kata Nanik, dengan mengacu pada kegagalan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), maka pada kurikulum baru silabus akan disusun oleh pemerintah pusat.

    “Silabus dikembangkan pemerintah pusat karena setelah beberapa tahun KTSP berjalan masih banyak sekolah yang kesulitan mengembangkan silabus,” jelasnya.(rfa)
    Tunda Implementasi Kurikulum Baru Pada 2014
    Selasa, 12 Maret 2013 15:38 wib

    Foto: dok. Okezone
    JAKARTA – Meski menuai protes, pemerintah pantang mundur menerapkan kurikulum baru pada tahun ajaran baru 2013 ini. Sejumlah suara pun meneriakkan imbauan untuk menunda penerapan kurikulum baru tersebut hingga minimal tahun ajaran 2014.

    Imbauan tersebut salah satunya datang dari anggota Panitia Kerja (Panja) Kurikulum DPR RI Ahmad Zainuddin. Menurut Zainuddin, kurikulum baru sebaiknya tidak diimplementasikan tahun ini mengingat belum siapnya para pemangku kepentingan pendidikan nasional.

    “Pemangku kepentingan pendidikan di daerah belum siap untuk melaksanakan kurikulum baru dalam waktu yang singkat. Maka saya minta agar pemerintah menunda pelaksanaan kurikulum baru nanti minimal hingga tahun ajaran 2014, agar semuanya benar-benar siap,” ujar Zainuddin, seperti dikutip dari siaran persnya kepada Okezone, Selasa (12/3/2013).

    Selain ketidaksiapan pemangku kepentingan pendidikan di daerah, Zainuddin memaparkan, kurikulum 2013 sejatinya belum matang. Dari segi konsep, masih banyak poin yang tidak jelas seperti persyaratan pendidikan budi pekerti dan akhlak mulia belum tercermin dalam proses pembelajaran pada kurikulum 2013. Dari segi anggaran, pemerintah selalu mengajukan alokasi yang berbeda-beda dan terus membengkak. Belum lagi ketidaksiapan dalam pengadaan sarana buku dan manajemen sekolah.

    Dari segi penyiapan SDM guru, masa pelatihan yang sangat singkat akan memengaruhi tingkat penguasaan guru dalam memahami konsep kurikulum maupun metode dan strategi implementasinya di kelas. Mepetnya waktu persiapan penulisan kompetensi dasar juga dikhawatirkan akan menyebabkan tumpang tindih, baik dari segi kesesuaian jenjang dengan materi ajar maupun proses pembangunan konsep seperti yang terjadi pada kurikulum sebelumnya.

    “Jangan rusak masa depan pendidikan generasi bangsa karena ketidaksiapan dan ketergesa-gesaan pemerintah dalam melaksanakan perubahan kurikulum,” imbau politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut. (Rachmad Faisal Harahap/Okezone)(//rfa)
    Aneh, Pemerintah Paksakan Kurikulum 2013
    Selasa, 12 Maret 2013 15:17 wib

    Foto: dok. Okezone
    JAKARTA – Pemerintah masih ngotot menerapkan kurikulum 2013 pada tahun ajaran baru, Juli mendatang. Padahal, kenyataan di lapangan menunjukkan, dunia pendidikan Indonesia belum siap dengan perubahan kurikulum tersebut.

    Menurut Anggota Panitia Kerja (Panja) Kurikulum 2013 Ahmad Zainuddin, ada semacam upaya sistematis untuk memaksakan kurikulum 2013 ini segera dilakukan. Padahal, hasil kunjungan panja kurikulum di daerah menunjukkan, semua pemangku kepentingan pendidikan keberatan dan menolak jika kurikulum baru dilaksanakan tergesa-gesa dan mendadak. Penolakan juga hadir dari para pakar pendidikan.

    “Terkesan aneh jika Kemendikbud memaksakan kurikulum 2013 dilaksanakan pada tahun ajaran baru, sedang kenyataan di lapangan bahwa kesiapan guru, kesiapan sarana buku dan juga kesiapan manajemen sekolah belum optimal. Apalagi pemangku kepentingan pendidikan di daerah menyatakan ketidaksiapan mereka untuk melaksanakan kurikulum baru tersebut,” ujar Zainuddin dalam keterangan tertulisnya kepada Okezone, Selasa (12/3/2013).

    Angggota Komisi X DPR RI dari fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini mendukung pengembangan kurikulum, mengingat hal tersebut mutlak dilakukan. Namun, perlu diingat, belasan kali perubahan kurikulum pendidikan nasional sebelumnya telah melalui proses yang matang dari segi konsep, sumber daya manusia (SDM) dan sarana prasarana pendukung lainnya. Sedangkan pada kurikulum 2013 ini, Kemendikbud tidak menunjukkan kesiapan dalam upaya implementasi kurikulum baru tersebut.

    Ketidaksiapan tersebut, ujar Zainuddin, ditilik dari segi konsep, anggaran, penyiapan SDM guru, dan sarana pendukung lainnya masih dihiasi berbagai kendala teknis. Zainuddin memaparkan, masa pelatihan guru yang sangat singkat akan memengaruhi tingkat penguasaan guru dalam memahami konsep kurikulum maupun metode dan strategi implementasinya di kelas. Mepetnya waktu persiapan penulisan kompetensi dasar juga dikhawatirkan akan menyebabkan tumpang tindih, baik dari segi kesesuaian jenjang dengan materi ajar maupun proses pembangunan konsep seperti yang terjadi pada kurikulum sebelumnya.

    Sementara itu, dari segi konten, kurikulum 2013 juga belum melaksanakan secara utuh amanah UUD 1945 yang mensyaratkan pendidikan budi pekerti dan akhlak mulia harus tercermin dalam proses pembelajaran. “Karakter akhlak harus terintegrasi dalam setiap proses pendidikan di sekolah, hal ini yang belum tergambar jelas dalam kurikulum,” ujar legislator dengan daerah pemilihan Jakarta TImur ini.

    Sementara itu, dari segi anggaran, kerap berubahnya alokasi anggaran kurikulum yang diajukan pemerintah juga menjadi salah satu indikasi ketidaksiapan kemendikbud dalam merancang strategi pengembangan kurikulum yang tepat dan efisien. Apalagi perubahan tersebut menunjukkan kian membengkaknya anggaran kurikulum 2013.

    “Persoalan rencana anggaran kurikulum yang terus berubah dan membengkak, minimnya waktu persiapan guru, dan juga minimnya tingkat penyiapan komponen pendukung kurikulum lainnya ini harus menjadi perhatian serius komisi X, agar tidak terjadi kesalahan dalam persetujuan dan penetapannya,” tutur Zainuddin. (Rachmad Faisal Harahap/Okezone)(//rfa)
    Tunda Kurikulum 2013
    Penulis : Didit Putra Erlangga Rahardjo | Kamis, 14 Maret 2013 | 14:48 WIB

    Dibaca: 2895

    Komentar: 9
    |

    Share:
    Kompas/Didit Putra ErlanggaSuasana diskusi terbuka kurikulum 2013 di Balai Pertemuan Ilmiah Institut Teknologi Bandung, Rabu (13/3/2013).
    TERKAIT:
    • Pelatihan Guru Hanya seperti Tiket Masuk
    • 3 Jenjang Persiapan Guru Jelang Kurikulum 2013
    • Kurikulum 2013 Ditelanjangi di ITB
    • Pendidikan Vs Perombakan Kurikulum
    BANDUNG, KOMPAS – Pemerintah diminta menunda pemberlakuan Kurikulum 2013 karena belum disosialisasikan secara luas serta berbagai kesalahan substantif yang harus segera diperbaiki. Penundaan itu merupakan langkah realistis demi kebaikan pendidikan generasi penerus bangsa.

    Rekomendasi itu disampikan Majelis Guru Besar (MGB) Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam diskusi terbuka yang digelar Rabu (13/3). Diskusi dihadiri, antara lain, Ketua MGB ITB Harijono Tjokronegoro, guru besar emeritus Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Jakarta Henry Alex Rudolf Tilaar, Guru Besar Ilmu Matematika ITB Iwan Pranoto, serta Guru Besar ITB Imam Buchori Zainuddin.

    Diskusi itu menghasilkan rekomendasi yang menyetujui perlunya mengganti kurikulum, tetapi harus dilakukan dengan perancangan yang cermat dan dituntun oleh kaidah ilmiah.

    Masukan yang mereka berikan untuk Kurikulum 2013 seperti perlunya menggunakan tata bahasa yang baik, bisa mengungkapkan gagasan dengan lugas dan sederhana, menunjukkan keterkaitan dasar filosofis dengan pelaksanaan pada tataran teknis, serta mencantumkan sikap dan nilai luhur kemanusiaan demi menghadapi tantangan masa depan. Menurut Harijono, usulan ini akan diajukan dalam rapat pleno majelis guru besar ITB.

    Dinilai terburu-buru

    Anggota Komisi X DPR, Rohmani, yang hadir dalam diskusi, mengatakan, pemberlakuan Kurikulum 2013 oleh pemerintah terbilang terburu-buru dan dipaksakan. Komisi X baru mendapat kabar mengenai Kurikulum 2013 menjelang akhir 2012, tapi baru mendapatkan dokumennya awal Maret 2013. Alokasi anggaran yang diajukan pun melonjak dari Rp 684 miliar menjadi Rp 2,4 triliun.

    Rohmani khawatir, skema persetujuan di akhir masa pembahasan ini bisa mengulangi kasus korupsi di Hambalang. ”Fraksi Keadilan Sejahtera tengah mengupayakan agar partai bisa mengambil sikap untuk meminta penundaan pelaksanaan Kurikulum 2013,” ujar Rohmani.

    Guru Besar ITB Bambang Hidayat menyebut pemerintah tidak pernah menyosialisasikan Kurikulum 2013 sebelumnya. Karena itu, dikhawatirkan pergantian kurikulum ini hanya proyek.

    Tidak terkait

    Imam Buchori menilai, redaksional Kurikulum 2013 menggunakan bahasa yang indah dan ideal, tapi tidak memiliki keterkaitan satu sama lain.

    Tilaar memberi contoh Finlandia yang sukses dalam melakukan revolusi sistem pendidikan, yang dipersiapkan 40 tahun sebelumnya. Finlandia mengubah sistem pendidikan dengan memulainya dari lembaga pelatihan guru agar guru bisa mendidik murid dengan baik.

    Iwan Pranoto menilai begitu banyak kata patuh pada Kurikulum 2013. Ini tidak dijumpai bila dibandingkan dengan kurikulum negara lain, seperti Qatar dan Australia. Padahal, kurikulum adalah dokumen mengenai proyeksi manusia sebuah negara pada masa mendatang. (eld)

    Sumber :
    Kompas Cetak
    Editor :
    Caroline Damanik
    Pendidikan
    Kurikulum Membentuk Siswa “Patuh”
    Penulis : Didit Putra Erlangga Rahardjo | Rabu, 13 Maret 2013 | 21:01 WIB

    Dibaca: 12220

    Komentar: 40
    |

    Share:
    ANDRISumber: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
    TERKAIT:
    • Kurikulum 2013 Ditelanjangi di ITB
    • Pendidikan Vs Perombakan Kurikulum
    • Pendidikan Vs Perombakan Kurikulum
    • 47 Sekolah Sukabumi Dijadikan Percontohan Kurikulum Baru
    • Kurikulum Tidak Dibuat dengan Tergesa-gesa
    BANDUNG, KOMPAS.com — Guru Besar Ilmu Matematika Institut Teknologi Bandung, Iwan Pranoto, menyebut kurikulum adalah dokumen negara serta naskah budaya bangsa. Alasannya, kurikulum berisi proyeksi tentang manusia di masa mendatang yang bakal dibentuk melalui pendidikan.
    Sayangnya, ujar Iwan, yang bisa ditangkap dari Kurikulum 2013 adalah siswa yang patuh, bukan siswa yang mampu berpikir inovatif. Itulah kesimpulan yang didapatkan sewaktu memeriksa dokumen Kurikulum 2013 yang beredar saat ini.
    Dia menunjukkan matrik berisi kompetensi dasar dari pelajaran matematika untuk kelas I hingga VI. Semuanya diawali dengan kalimat “Menunjukkan perilaku patuh pada aturan dalam…” yang berarti perintah agar siswa patuh.
    “Padahal, bukan seperti itu matematika. Biarkan mereka mencari sendiri cara yang terbaik untuk menjawab persoalan,” kata Iwan.
    Dia mengisahkan Sam Ratulangi, pahlawan nasional yang dikenal sebagai tokoh multidimensional. Menurut Iwan, Sam Ratulangi memiliki cara tersendiri dalam penjumlahan, yakni mendahulukan bilangan yang besar kemudian diikuti yang kecil. Meski tidak sama dengan cara penjumlahan yang diajarkan saat itu, cara berpikir Sam Ratulangi harusnya ditiru oleh siswa, bukan malah dikekang.
    Dia pun membandingkan Kurikulum 2013 itu dengan di Massachusetts, Amerika Serikat, yang menggunakan pilihan kata, yakni mendorong pelajar untuk mengembangkan strategi dalam penjumlahan dan pengurangan. Begitu pula dari kurikulum di Qatar yakni “memilih, menggunakan, dan menjelaskan metode penjumlahan dan pengurangan…”
    Pada kelas 12, lanjut Iwan, siswa bahkan diajak untuk membuat dugaan dengan kalimat kemungkinan seperti “bagaimana jika…” dan “bagaimana jika tidak…”
    “Dari sini bisa terlihat, manusia seperti apakah yang ingin dibentuk melalui Kurikulum 2013,” tutur Iwan.
    Kembali lagi ke Indonesia, Iwan justru melihat Kurikulum 2004 justru lebih membebaskan peserta didiknya. Misalnya, penjelasan yang menggunakan bahasa “merancang dan melakukan proses penyelesaian masalah dengan memilih atau menggunakan suatu strategi.”
    Bila ada nilai moral yang diselipkan, bahasanya lebih universal seperti “menunjukkan sikap gigih dan percaya diri dalam menyelesaikan masalah”
    Terkait nilai moral, Iwan mengkhawatirkan bahasa yang digunakan dalam Kurikulum 2013 ini seperti ditemui pada pelajaran ekonomi kelas XI, yakni penjelasan kompetensi dasar 1 berbunyi “melakukan kegiatan akuntansi berdasarkan ajaran agama yang dianut.”
    Editor :
    Robert Adhi Ksp
    Opini
    Pendidikan Vs Perombakan Kurikulum
    Rabu, 13 Maret 2013 | 10:45 WIB

    Dibaca: 5535

    Komentar: 8
    |

    Share:

    TERKAIT:
    • Kurikulum Tidak Dibuat dengan Tergesa-gesa
    • Kurikulum 2013
    • Guru Mbeling
    • Kurikulum Orangtua untuk Anak
    Oleh Hafid Abbas

    KOMPAS.com – Dalam satu dekade terakhir, dunia pendidikan di Tanah Air seakan terus terbelenggu dalam dilema.

    Pada masa Kabinet Indonesia Bersatu Pertama 2004-2009, Wapres Jusuf Kalla gigih melaksanakan pengendalian mutu pendidikan dengan pemberlakuan standar ujian nasional. Tidak ada toleransi kelulusan bagi mereka yang tidak melewati standar minimum dari sejumlah mata pelajaran yang diujikan, Akibatnya, masyarakat seakan mengalami sentakan sosial ketika melihat ada sekolah yang tidak satu pun siswanya lulus karena kelaziman sebelumnya secara nasional kelulusan selalu di kisaran 100 persen atau mendekati 100 persen.

    Alasan Kalla ketika itu sangat sederhana. Jika sekolah selalu meluluskan siswanya 100 persen, siswa merasa tidak perlu belajar, guru tidak termotivasi mengajar sungguh-sungguh, dan orangtua tidak merasa perlu ikut bertanggung jawab atas mutu pendidikan. Cara ini, menurut Kalla, adalah mekanisme peningkatan mutu pendidikan yang paling murah dan mudah dilaksanakan. Dengan demikian, pendidikan kita menjadi tanggung jawab semua pihak (siswa, masyarakat, dan pemerintah) menuju pencapaian mutu yang lebih tinggi. Selanjutnya, bangsa kita tak lagi akan menjadi kuli dari Malaysia.

    Sewaktu menjabat sebagai Menko Kesra pada 2003, Kalla menemukan tingkat kesukaran ujian akhir jenjang SD di Malaysia untuk Bahasa Inggris relatif sebanding dengan kesukaran ujian akhir jenjang SLTA di Indonesia. Tingkat kesukaran IPA dan Matematika jenjang SLTP relatif sama dengan jenjang SLTA. Sementara standar kelulusan nasional Malaysia dengan tingkat kesukaran tersebut pada 2003 adalah 6, sedangkan Indonesia 3. Jika tiap tahun standar kelulusan dinaikkan 0,5, berarti mutu pendidikan Indonesia tertinggal 9-12 tahun dari Malaysia.

    Dengan standar kelulusan itu, dapat dipastikan terdapat peningkatan mutu pendidikan kita secara bertahap dan pada waktunya Indonesia akan berada pada posisi yang sejajar dan bahkan mengungguli Malaysia.

    Kini, keadaannya kembali lagi ke tingkat kelulusan yang mendekati 100 persen. Pada tahun ajaran 2010, untuk jenjang SMA/MA, misalnya, tingkat kelulusan peserta ujian nasional mencapai 99,22 persen. Tingkat kelulusan di jenjang SLTP dan SMK juga relatif sama. Akibatnya, ujian nasional tidak lagi menjadi sarana yang memotivasi siswa, orangtua, dan guru untuk meningkatkan mutu pendidikan.

    Kebijakan yang telah diletakkan Kalla terkesan ditinggalkan begitu saja oleh kabinet baru. Masyarakat seakan disuguhkan satu tontonan drama kekuasaan. Betapa pun kebesaran dan manfaat yang telah diletakkan masa lalu seakan tidak lagi mendapat tempat karena peletaknya tidak lagi di kekuasaan.

    Dilema pendidikan

    Dalam artikel di Kompas, 27 Agustus 2012, Wapres Boediono dengan tegas menyebutkan, sampai saat ini kita belum punya konsepsi yang jelas mengenai substansi pendidikan. Karena tak ada konsepsi yang jelas, timbullah kecenderungan untuk memasukkan apa saja yang dianggap penting ke dalam kurikulum. Akibatnya, terjadilah beban berlebihan pada anak didik. Bahan yang diajarkan terasa ”berat”, tetapi tak jelas apakah anak mendapatkan apa yang seharusnya diperoleh dari pendidikannya.

    Akibat dari kerisauan Wapres itu, tiba-tiba timbullah proyek perombakan kurikulum yang terkesan dipaksakan. Kurikulum 2013 hasil perombakan kurikulum sebelumnya harus segera diberlakukan meski masyarakat luas belum melihat hasil satu penelitian ilmiah yang menyatakan bahwa mutu pendidikan kita terus merosot karena kesalahan kurikulum. Apakah tidak ada faktor lain yang lebih dominan dari kurikulum? Misalnya, sebagaimana telah diungkapkan Mendikbud Mohammad Nuh sendiri di hadapan Komisi X DPR pada 21 Maret 2011, terdapat 88,8 persen sekolah di Indonesia—SD hingga SMA/SMK—belum melewati mutu standar pelayanan minimal. Lalu, mengapa bukan itu yang dibenahi lebih dahulu?

    Perubahan kurikulum dadakan ini cermin ketiadaan kerangka besar arah pembenahan pendidikan nasional. Di tengah berbagai keterbatasan yang ada, keliru besar bila pembenahan pendidikan di semua jenjang, jenis, dan jalur—baik di pusat maupun di tiap kabupaten/kota—dilakukan secara parsial dan tidak menyentuh sistem karena tanpa didasari hasil pengkajian ilmiah.

    Dalam era Orde Baru, misalnya, di berbagai periode kabinet, sejak periode Mashuri, Soemantri Brodjonegoro, Syarief Thayeb, Daoed Joesoef, Nugroho Notosusanto, Fuad Hassan, Wardiman Djojonegoro, Wiranto Arismunandar, hingga kabinet era Reformasi, betapa banyak gagasan inovatif dan strategis. Namun, gagasan-gagasan itu terkesan bersifat temporer, terlaksana sebatas masa jabatan menteri yang bersangkutan. Betapa banyak dana yang telah dihabiskan, tetapi akhirnya upaya tersebut tidak cukup terlihat dampaknya bagi pembenahan masalah pendidikan. Lihatlah, misalnya, pengembangan Sekolah Pembangunan, proyek CBSA, pengajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa, dan pengembangan link and match.

    Bahkan, jika kita membuka lembaran masa lalu, terlihat betapa lebih seabad silam visi besar pendidikan sudah dirumuskan Boedi Oetomo pada 1908. Angkatan ini sudah mengungkapkan dalam anggaran dasarnya yang dirumuskan pada Pasal 3: (1) usaha pendidikan dalam arti seluas-luasnya; (2) peningkatan pertanian, peternakan, dan perdagangan; (3) kemajuan teknik dan kerajinan; (4) menghidupkan kembali kesenian pribumi dan tradisi; (5) menjunjung tinggi cita-cita kemanusiaan; dan (6) hal-hal yang bisa membantu meningkatkan kesejahteraan bangsa. Dalam pembahasan program juga telah dibahas pembangunan perpustakaan rakyat dan pendidikan untuk perempuan.

    Sungguh begitu banyak pemikiran dan langkah besar yang telah dilakukan para pendahulu kita, tetapi hilang begitu saja, tidak diteruskan penerusnya. Jika kita selalu mengedepankan egoisme sektoral dan kepentingan politik pencitraan, kita akan selalu berada dalam cengkeraman dilema.

    Proyek dan pencitraan

    Tidak tertutup kemungkinan apa yang telah dilakukan periode Mohammad Nuh akan diabaikan menteri berikutnya. Akibatnya, kita tidak akan pernah mencapai prestasi besar. Tembok China adalah salah satu wujud mahakarya peradaban umat manusia karena, meski mulai dibangun sebelum periode Dinasti Qin pada 722 SM, dinasti mana pun pada era kekuasaan berikutnya terus memelihara dan meneruskan hingga kini.

    Modus perubahan kurikulum lebih terkesan sebagai ikhtiar dadakan karena tidak didahului persiapan yang lebih matang. Memang, perombakan kurikulum pilihan paling aman. Sebab, jika ikhtiar dadakan itu keliru, kekeliruan itu baru akan terungkap 10-20 tahun kemudian. Lagi pula, jika terdapat perubahan satu lembar kurikulum, dimungkinkan dilahirkan begitu banyak proyek baru yang dapat menyerap anggaran sekian triliun rupiah.

    Semoga pendidikan kita tidak terus-menerus terbelenggu dalam dilema dan berjalan di tempat. Sudah waktunya kenegarawanan lebih dikedepankan dari sekadar pencitraan sesaat.

    Hafid Abbas Guru Besar Universitas Negeri Jakarta

    Khawatir Penerapan Tak Sampai ke Guru di Pelosok
    Perubahan Kurikulum 2013 Dinilai Terlalu Cepat Direalisasikan
    Editor: Andiono Hernawan | Kamis, 14 Maret 2013 11:13 WIB, 5 jam yang lalu

    0Google +000

    Ahmad Jabir, Komisi E DPRD Jatim(Foto: http://www.fpks-jatim.org)

    LENSAINDONESIA.COM: Polemik pendidikan yang ada di Indonesia semakin mendapat berbagai penilaian dari sejumlah elemen masyarakat. Komisi E DPRD Jatim menganggap perubahan kurikulum pendidikan tahun 2013 di Indonesia dinilai masih tergesa-gesa dan merupakan tindakan yang terlalu cepat untuk direalisasikan.
    “Selain itu belum ada sosialisasi pemerintah ke masyarakat khususnya para guru yang ada di Indonesia khususnya Jatim. Apakah tidak perlu ada tahapan pemberlakuan kurikulum ini menjadi lebih baik. Ini kan yang ribet dinas kabupaten/provinsi sampai ke wali murid,” pungkas anggota Komisi E DPRD Jatim, Ahmad Jabir, Kamis (14/3/2013).
    Baca juga: Kurang Sebulan Lagi, Antisipasi Soal UN Bocor dan Ditunggu DPR, Finalisasi Anggaran Kurikulum 2013
    Ia menegaskan, pemerintah sebaiknya harus melakukan sosialisasi terlebih dahulu sebelum menerapkan konsep kurikulum 2013 pengganti kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) 2006. Sebab, dikhawatirkan penerapan ini tidak tersampaikan kepada guru maupun sekolah yang ada di daerah pelosok.
    Apalagi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI tetap akan menerapkannya pada tahun ajaran baru mendatang, Juni 2013 mendatang. Sementara, tahun ajaran baru pendidikan di tingkat SD, SMP maupun SMA, SMK atau yang sederajat sudah dekat. “Karena tidak sedikit masyarakat yang gusar karena penerapan kurikulum baru oleh pemerintah,” pungkasnya. @Panjichuby_666

    Pemerintah Tergesa-gesa Rancang Kurikulum 2013
    Kamis, 14 Maret 2013 | 08:08 WIB

    Ilustrasi—MI/ip
    TERKAIT
    • Generasi Muda ASEAN Cenderung Berpola Barat
    • Di Bantul, Tunggakan Sertifikasi Guru Rp11 miliar
    • Status Sekolah Standar Nasional, tapi Keropos
    • Skandal Contek Massal, Harvard Selidiki Email Dekan
    • Kepala Daerah Jangan Tekan Sekolah Harus Lulus UN 100 Persen

    Metrotvnews.com, Bandung: Budaya bernalar dalam sistem pendidikan nasional dinilai masih kurang dalam rancangan kurikulum 2013 yang akan dilancarkan pemerintah.

    Rancangan kurikulum 2013 dinilai belum layak menjadi sebuah menjadi sebuah dokumen negara dan naskah budaya.

    Pernyataan pendapat tersebut dilontarkan oleh Majelis Guru Besar Intitut Teknologi Bandung (MGB ITB) pada Diskusi Terbuka Mempertanyakan Hakikat Pendidikan Science-Technology-Engineering-Art and Culture-Mathematics dalam Kurikulum 2013 Untuk Merekacipta Masa Depan Bangsa” di Bandung, Rabu (13/3).

    Menurut beberapa Guru besar yang hadir pada acara diskusi tersebut, rancangan kurikulum 2013 dirasa terburu-buru dikeluarkan oleh pemerintah.

    Seperti yang dikatakan oleh Guru Besar Universitas Negeri Jakarta HAR Tilaar yang hadir dan menjadi pembicara pada diskusi tersebut mengatakan, pemerintah terlalu terburu-buru dalam menggulirkan kurikulum baru.

    Pada 2012 baru saja dunia pendidikan Indonesia digegerkan dengan kebijaan pemerintah tentang pendidikan karakter bangsa.

    “Belum selesai kurikulum 2012 pemerintah sudah melancarkan kurikulum 2013”, ungkap Tilaar pada saat pemaparannya di dalam diskusi. Lebih lanjut, Tilaar mengatakan sangat singkatnya persiapan kurikulum 2013 yang disiapkan pemerintah, seakan tergesa-gesa.

    Senada dengan Tilaar, Guru Besar Matematika dari ITB Iwan Pranoto menyebutkan terdapat keanehan pada kurikulum 2013. Dirinya menjelaskan terdapat kata-kata pada isi kurikulum yang kurang dimengerti.

    “Kurikulum merupakan sebuah dikumen naskah negara dan budaya yang akan dibaca oleh anak cucu kita. Di sini terdapat kejanggalan dalam pemakaian kata dan bahasa di kurikulum 2013”, jelas Iwan.

    Dalam diskusi tersebut, Majelis Guru Besar ITB menyampaikan pendapat umum dan mengkritisi rancangan kurikulum 2013 yang dinilai tergesa-gesa dan belum layak untuk menjadi sebuah kurikulum.

    Dalam pernyataan bersama itu disebutkan bahwa Kurikulum 2013 masih perlu disempurnakan dan dibenahi secara seksama.

    Kurikulum baru harus lebih baik daripada kurikulum sebelumnya, tetapi kurikulum 2013 belum mencapai itu. Kurikulum 2013 perlu bahasa yang abaik disertai kosa kata pendidikan dan tata bahasa nasional yang teratur. Dan banyaknya istilah asing yang tidak mudah dipahami.

    Anggota DPR RI komisi X DPR Rohmani yang hadir pada diskusi tersebut juga menyampaikan bahwa DPR tidak diberi waktu yang cukup untuk mempelajari rancangan kurikulum 2013.

    “Kami tidak diberi cukup waktu, sementara kurukulum 2013 tiga bulan lagi sudah akan berjalan”,kata Rohmani.

    Dirinya mengatakan, anggaran pendidikan tidak ingin seperti kasus hambalang yang dana awalnya sedikit, tapi di akhir makin terus menambah. “Dana awal mencapai Rp 684 miliar per 23 Februari.

    Dan yang terakhir mencapai Rp2,4 Triliun per 6 maret kamarin” kata Rohmani.

    Dana-dana tersebut menurut Rohmani untuk anggaran pelatihan dan sertifikasi guru, dan pengadaan buku pegangan guru dan siswa yang diambil dari Dana Alokasi Khusus (DAK).

    Rohmani juga menegaskan bahwa pemerintah tidak siap dan sangat tergesa-gesa dalam merancang kurikulum 2013. “Pemerintah sangat tidak siap dengan dokumen kurikulum yang baru”, tukas Rohmani. (Adhi Muhammad Daryono)

    Editor: Edwin Tirani
    Tunda Kurikulum 2013
    BY
    ADMINGARUTNEWS
    – MARCH 14, 2013POSTED IN: PENDIDIKAN

    Suasana diskusi terbuka kurikulum 2013 di Balai Pertemuan Ilmiah Institut Teknologi Bandung, Rabu (13/3/2013). Kompas/Didit Putra Erlangga
    Garut News, ( Kamis, 14/03 ).
    Pemerintah diminta menunda pemberlakuan Kurikulum 2013 lantaran belum disosialisasikan luas, serta berbagai kesalahan substantif harus segera diperbaiki.
    Penundaan itu merupakan langkah realistis demi kebaikan pendidikan generasi penerus bangsa.
    Rekomendasi itu disampikan Majelis Guru Besar (MGB) Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam diskusi terbuka digelar Rabu (13/3).
    Diskusi dihadiri, antara lain, Ketua MGB ITB Harijono Tjokronegoro, guru besar emeritus Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Jakarta Henry Alex Rudolf Tilaar, Guru Besar Ilmu Matematika ITB Iwan Pranoto, serta Guru Besar ITB Imam Buchori Zainuddin.
    Diskusi itu menghasilkan rekomendasi, menyetujui perlunya mengganti kurikulum, tetapi harus dilakukan dengan perancangan cermat, dan dituntun kaidah ilmiah.
    Masukan mereka berikan untuk Kurikulum 2013 seperti perlunya menggunakan tata bahasa baik, bisa mengungkapkan gagasan dengan lugas dan sederhana, menunjukkan keterkaitan dasar filosofis dengan pelaksanaan pada tataran teknis, serta mencantumkan sikap dan nilai luhur kemanusiaan demi menghadapi tantangan masa depan.
    Menurut Harijono, usulan ini diajukan dalam rapat pleno majelis guru besar ITB.

    Dinilai terburu-buru

    Anggota Komisi X DPR, Rohmani, hadir dalam diskusi, mengatakan, pemberlakuan Kurikulum 2013 oleh pemerintah terbilang terburu-buru dan dipaksakan.
    Komisi X baru mendapat kabar mengenai Kurikulum 2013 menjelang akhir 2012, tetapi baru mendapatkan dokumennya awal Maret 2013.
    Alokasi anggaran diajukan pun melonjak dari Rp684 miliar menjadi Rp2,4 triliun.
    Rohmani khawatir, skema persetujuan di akhir masa pembahasan ini bisa mengulangi kasus korupsi di Hambalang.
    ”Fraksi Keadilan Sejahtera mengupayakan agar partai bisa mengambil sikap meminta penundaan pelaksanaan Kurikulum 2013,” ujar Rohmani.
    Guru Besar ITB Bambang Hidayat menyebut pemerintah tak pernah menyosialisasikan Kurikulum 2013 sebelumnya.
    Karena itu, dikhawatirkan pergantian kurikulum ini hanya proyek.
    Tidak terkait
    Imam Buchori menilai, redaksional Kurikulum 2013 menggunakan bahasa indah dan ideal, tetapi tak memiliki keterkaitan satu sama lain.
    Tilaar memberi contoh Finlandia, sukses dalam melakukan revolusi sistem pendidikan, dipersiapkan 40 tahun sebelumnya.
    Finlandia mengubah sistem pendidikan dengan memulainya dari lembaga pelatihan guru, agar guru bisa mendidik murid dengan baik.
    Iwan Pranoto menilai, begitu banyak kata patuh pada Kurikulum 2013.
    Ini tak dijumpai apabila dibandingkan dengan kurikulum negara lain, seperti Qatar dan Australia.
    Padahal, kurikulum dokumen mengenai proyeksi manusia sebuah negara pada masa mendatang. (eld)
    Sumber : Kompas Cetak
    Editor : Caroline Damanik
    Related Posts:
    • Uji Publik Kurikulum Baru Dimulai
    • Kurikulum Membentuk Siswa “Patuh”
    • Menguji Kurikulum 2013
    • Kurikulum Baru untuk Siapa?
    • Kurikulum 2013 Tidak Realistis Dengan Kompetensi Dasar

    Kurikulum Baru untuk Siapa?
    BY
    ADMINGARUTNEWS
    – DECEMBER 8, 2012POSTED IN: PENDIDIKAN

    Iluastrasi ( Ist ).

    Garut News, ( Sabtu, 08/12 ).
    Meski banyak dihantam penolakan, Kemendikbud tetap melanjutkan proses perubahan kurikulum digunakan pada 2013 mendatang.
    Pihak kementerian merasa, perubahan kurikulum ini berdampak positif pada peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia, katanya.
    Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Retno Listyarti, mengatakan sasaran kurikulum pengganti “Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan” (KTSP) ini tak jelas.
    Lantaran, jika perubahan kurikulum itu, diperuntukkan bagi guru dan murid maka semestinya guru dilibatkan pembahasan dan ada uji coba lapangan bukan sekadar uji publik.
    “Kurikulum ini untuk kepentingan siapa sebenarnya? Guru cenderung dirugikan kurikulum baru ini. Murid juga sama saja,” kata Retno, saat dihubungi, Jumat (7/12/2012).
    Dikemukakan, saat ini banyak guru cemas perubahan kurikulum tersebut.
    Para guru khawatir kehilangan pekerjaan, karena ada mata pelajaran kemudian dilebur dengan mata pelajaran lain.
    Salah satu contohnya, guru Teknologi Informasi dan Komunikasi.
    “Kalau guru SD sistemnya masih guru kelas. Kalau berdiri sendiri seperti guru-guru TIK? Ini mereka mulai was-was nasibnya,” ujar Retno.
    Sedangkan anak-anak didik, penambahan jam pelajaran khususnya anak SD semestinya diikuti penambahan fasilitas seperti jaminan makanan siang.
    Ini mencegah anak-anak mengonsumsi makanan tak bergizi, bisa memengaruhi perkembangan otak.
    “Seperti di Eropa, waktu di sekolah memang lama. Tetapi dari segala aspek termasuk makan itu diperhatikan. Jika Indonesia tak seperti itu, anak-anak ini jajan di luar, jelas tak sehat,” ujar Retno.
    Tak hanya itu, kondisi anak-anak di setiap daerah juga beda.
    Semestinya uji publik dilakukan saat ini menjangkau pula daerah-daerah terpencil.
    Selain uji publik, uji coba juga perlu dilakukan, melihat apakah kurikulum tersebut, sesuai diterapkan di daerah itu.
    “Kondisi daerah ini kan beda. Jangan samakan semua dengan di kota. Anak-anak di daerah, kadang ke sekolah saja harus bertaruh nyawa melewati sungai deras dan sering tak sarapan,” ungkap Retno.
    “Ini jam pelajarannya ditambah dan gurunya tak dibekali persiapan baik. Di daerah, apalagi terpencil belum tentu bisa. Lalu kurikulum ini buat yang di kota dan kaya saja?” tegasnya.
    Ia juga berpendapat, untuk di kota pun, kurikulum ini juga tak bisa begitu saja diterapkan.
    Dalam standar proses, anak-anak diminta mengobservasi ke lapangan langsung terkait tema sedang dibahas saat itu.
    Ini pasti menemui banyak kendala saat implementasi, jika tak dilakukan uji coba.
    Misalnya anak-anak diajak observasi ke pasar.
    Bayangkan perjalanan di Jakarta macet.
    Kemudian ke pasar situasinya ramai dan padat, guru hanya satu mengawasi.
    Ini sulit sekali.
    “Jadi sebenarnya ini buat siapa kurikulum,” tandasnya.
    ***** Kompas.com
    Kurikulum 2013 Tidak Realistis Dengan Kompetensi Dasar
    BY
    ADMINGARUTNEWS
    – NOVEMBER 27, 2012POSTED IN: PENDIDIKAN

    Sony. MS ( Foto : Ist ).
    “Produk Pakar Pendidikan Tak Berdasar, Bisa Menimbulkan Permasalahan Baru”
    Garut News (Selasa 27/11)
    Pelaksanaan uji publik perubahan kurikulum baru 2013, dinilai tidak realistis dengan kompetensi dasar penyelenggara dan kondisi seluruh lembaga pendidikan formal, di negeri Bernama Indonesia.
    Justru kini mendesak segera tuntas dibenahi, di antaranya pemerataan pengadaan serta penempatan guru dan tenaga kependidikan, terwujudnya standar pelayanan minimal, juga mewujudkan sarana dan prasarana memadai.
    Demikian diungkapkan sejumlah praktisi pendidikan, termasuk Pengawas Pendidikan Menengah pada Disdik Kabupaten Garut, Sony. MS kepada Garut News, Selasa.
    Bahkan menurut Sony, sebaiknya disosialisasikan dahulu, jangan justru langsung diuji coba, katanya.
    Produk regulasi itu pun, juga tidak melibatkan guru, sehingga dinilai hanya di“awang-awang”, tidak realisis, ungkapnya, bernada kesal.
    Lantaran, kompetensi dasar penyelenggara dan kondisi sarana prasarana maupun inprastruktur pendidikan di kota-kota besar terutama Jakarta, beda jauh dibandingkan dengan di pedalaman Kabupaten Garut, maupun pedalaman Papua.
    Murid di Kecamatan Talegong Garut, masih untung bahkan patut disyukuri masih mau sekolah, banyak di antara mereka sambil bekerja membantu orangtua di ladang atau sawah, akibat terjerat kesulitan ekonomi.
    Malahan banyak di antaranya, jangankan memiliki laptop atau komputer beserta jaringan internetnya, bisa memenuhi kebutuhan makan setiap hari pun, terbilang masih sangat beruntung, kata Sony. MS.
    Dia berpendapat, produk kurikulum 2013 itu, dikemas para pakar pendidikan yang pintar bicara, tetapi tidak mengetahui kondisi di lapangan secara menyeluruh.
    Sehingga tidak berdasar, bahkan jika tetap dipaksakan bisa berdampak tidak bagus, malahan jelek atau menimbulkan permasalahan baru, beber Sony kepada Garut News.
    Menyusul selama ini pun, masih banyak guru termasuk tenaga kependidikan, belum sepenuhnya paham mengimplemtasikan “Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan”(KTSP), kini muncul kurikulum baru 2013 dengan pendekatan digunakan berbasis sains.
    Padahal, katanya, “Kurikulum Berbasis Kompetensi” KBK pun, dinilai masih relevan jika konsisten dilaksanakan.
    Bahkan pada beberapa negara di Kawasan Asian pun, kini malahan berhasil mengembangkan kompetensi dasar “Membaca, menulis dan Berhitung”(Calistung).
    “Kurikulum itu, bukan hanya untuk coba-coba, lantaran konsep pendidikan menentukan masa depan anak pada 20 mendatang,” tandas Sony, mengingatkan.
    Ia berpendapat, murid itu bisa berinovasi, cerdas bertanya kepada guru di kelas, jika ada ketertarikan kuat terhadap setiap materi pelajaran diperolehnya.
    Sehingga justru penting dikembangkan, mewujudkan ketertarikan murid seperti ketika mereka mendapatkan praktek pelajaran olahraga.
    Didesak pertanyaan Garut News, mengenai produk pendidikan formal selama ini, justru banyak tak berhasil mewujudkan sosok pemimpin berkualitas dan bermoral, Sony. MS katakan keteladanan Pemimpin, ada pada Nabi Muhammad SAW.

  117. Ditemukan, 8 Kejanggalan pada Kurikulum 2013
    Penulis : Riana Afifah | Jumat, 15 Februari 2013 | 15:39 WIB

    Share:
    ANDRISumber: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
    TERKAIT:
    • Pemilihan Sekolah Ditentukan Daerah
    • Kurikulum 2013 Diberlakukan secara Bertahap
    • Kurikulum 2013 Mulai Diterapkan di Lebih 100.000 Sekolah
    • Ditetapkan, Kriteria Guru yang Dilatih untuk Kurikulum Baru
    • Wapres RI: Kurikulum 2013 Jangan Molor
    JAKARTA, KOMPAS.com – Koalisi Pendidikan bersama Indonesia Corruption Watch (ICW) menemukan delapan kejanggalan pada kurikulum 2013 yang dijadikan pengganti Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Melihat delapan kejanggalan ini, menunjukkan pemerintah tidak memiliki mekanisme pasti dalam mengubah kurikulum.

    Peneliti ICW, Siti Juliantari Rachman, mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan investigasi terkait proses perubahan kurikulum pendidikan ini. Dari investigasi terhadap berbagai narasumber ini, ditemukan delapan kejanggalan pada kurikulum 2013 yang menimbulkan berbagai pertanyaan.

    “Perubahan kurikulum ini aneh. Selain tergesa-gesa, ada juga kejanggalan dari penyusunannya, guru, buku bahkan anggaran,” kata Tari saat jumpa pers Kejanggalan Kurikulum 2013 di Kantor ICW, Kalibata, Jakarta, Jumat (15/2/2013).

    Kejanggalan pertama adalah pemerintah menggunakan logika terbalik dalam perubahan kurikulum pendidikan. Pemerintah justru mengubah kurikulum terlebih dahulu baru diikuti dengan revisi Peraturan Menteri dan Peraturan Pemerintah.

    “Harusnya kan pemerintah merevisi PP tentang standar nasional pendidikan dulu baru menyusun kurikulum baru. Ini sekarang standar nasional pendidikan justru mengikuti kurikulum 2013,” jelas Tari.

    Kejanggalan kedua adalah pemerintah tidak konsisten dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Proses perubahan kurikulum ini justru terlihat tidak terencana dan tidak terstruktur. Akibat perubahan kurikulum di luar RPJMN adalah anggaran yang ikut tidak pasti.

    Masalah anggaran ini menjadi kejanggalan ketiga dalam kurikulum 2013 ini. Sudah pernah disebut bahwa anggaran perubahan kurikulum ini tidak pernah sama. Pada paparan pertama kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), pemerintah menyebutkan anggaran kurikulum sebesar Rp 684 miliar. Namun kemudian berubah menjadi Rp 1,4 triliun dan naik kembali menjadi Rp 2,49 triliun.

    Kemudian kejanggalan keempat adalah tidak ada evaluasi komprehensif terhadap KTSP yang dapat menjadi landasan adanya perubahan kurikulum ini. Selanjutnya kejanggalan kelima adalah panduan kurikulum yang malah membelenggu kreativitas dan inovasi guru serta penyeragaman konteks lokal.

    “Semuanya disediakan pusat. Guru jadi terbatas dalam mengembangkan kreativitas dan konteks lokal kan berbeda tidak bisa diseragamkan,” jelas Tari.

    Kejanggalan keenam adalan target training master teacher yang terlalu ambisius. Hal ini mengacu pada durasi pelatihan dan jumlah guru yang akan dilatih cukup besar. Kejanggalan ketujuh adalah bahan perubahan kurikulum yang disampaikan pemerintah berbeda-beda.

    “Tidak ada dokumen pasti. Pemerintah hanya memperlihatkan powerpoint saja yang terus bisa ditambah jika ada kekurangan. Jadinya dokumen berubah terus tidak pasti,” ujar Tari.

    Kejanggalan terakhir adalah persiapan buku yang jauh dari selesai. Buku yang disiapkan untuk siswa dan guru baru selesai 50 persen. Bahkan untuk jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) buku yang siap baru buku Sejarah dan Matematika saja.

    Editor :
    Caroline Damanik
    Opini
    Kurikulum Pendidikan Haruslah Memberi Tantangan bagi Siswa
    Senin, 18 Februari 2013 | 11:52 WIB

    KOMPAS/IWAN SETIYAWAN
    TERKAIT:
    • Ditemukan, 8 Kejanggalan pada Kurikulum 2013
    • Kurikulum 2013 Diberlakukan secara Bertahap
    • Kurikulum 2013, Strategi Tepat untuk Bonus Demografi
    • Kurikulum Tak Lepas dari Aspek Politik
    • “Kenapa Pak Menteri Ngotot dengan Kurikulum Baru?”
    Oleh Suyanto

    KOMPAS.com – Para ilmuwan tanpa mengenal lelah telah meneliti berbagai faktor penting yang berkontribusi pada kesuksesan hidup. Mereka tertarik mencari faktor penentu yang secara signifikan bisa digunakan untuk memprediksi sukses kehidupan.

    Dari penelitian itu ditemukanlah faktor-faktor penting yang ikut menyumbang kesuksesan seseorang. Faktor-faktor penentu sukses itu akhirnya diterjemahkan oleh para ahli pendidikan ke dalam kurikulum dan program pembelajaran.

    Pendek kata, dengan ditemukannya faktor penentu sukses itu, dunia pendidikan juga ikut berlomba-lomba dan berkontemplasi untuk merumuskan filosofi, paradigma, strategi, dan metodologi pembelajaran. Pada gilirannya, rumusan itu digunakan untuk mengonstruksi kurikulum yang mampu memberi bekal ilmu dan pengetahuan kepada peserta didik untuk mendaki kesuksesan hidup.

    Faktor signifikan yang telah mendapat perhatian luas untuk memprediksi sukses seseorang, antara lainintelligence quotient (IQ, kecerdasan otak) dan emotional quotient (EQ, kecerdasan emosional). Kecerdasan yang disebut terakhir, oleh penemunya, Daniel Goleman (1995), diberi nama emotional intelligence, bukan emotional quotient.

    Kelahiran EQ membuat arah baru pendidikan secara luas. Sebab, dalam banyak penelitian terbukti IQ tak lagi menjadi satu-satunya prediktor sukses peserta didik di masa datang.

    Sebelum muncul EQ, IQ-lah yang didewa-dewakan dunia pendidikan untuk mempermudah pekerjaan pembelajaran dalam memberi bekal atau virus sukses peserta didik atau bahkan mahasiswa sekalipun. Implikasinya, pengembangan kurikulum hampir di seluruh dunia pada era jayanya IQ selalu berorientasi pada upaya bagaimana mengemas program pembelajaran yang bisa memberikan kecerdasan otak secara maksimal kepada para peserta didik.

    Setelah EQ ditemukan oleh Goleman, kurikulum serta-merta harus dan mutlak memperhatikan faktor-faktor non-kognitif, seperti kecerdasan sosial, kecerdasan spiritual, pengendalian emosi, dan memahami emosi orang lain. Bahkan, Goleman mengklaim IQ hanya berkontribusi 20 persen terhadap kesuksesan peserta didik setelah mereka hidup dalam masyarakat nantinya. Ternyata 80 persen justru ditentukan oleh faktor lain di luar IQ, di mana EQ masuk di dalamnya secara signifikan.

    Oleh karena itu, jika suatu bangsa ingin membuat kurikulum yang bisa mengantarkan para peserta didik jadi orang sukses, kurikulum itu juga harus memberikan menu belajar yang mencakup aspek lain selain kecerdasan, seperti sikap, perilaku, kepribadian, keberagamaan, budi pekerti, dan kecerdasan otot (muscle memory).

    Bahkan, praksis pendidikan di Jepang memasukkan aspek memori dan kecerdasan otot dalam kurikulumnya sejak kelas I dan II SD melalui aktivitas otot (keterampilan) dalam bentuk kegiatan origami secara intensif. Origami mampu menanamkan kepada para siswa sifat dan sikap kreatif, inovatif, sekaligus membangun kecerdasan/ingatan otot para siswa.

    ”Adversity quotient”

    Sudah lengkapkah prediktor kesuksesan yang bisa dikemas dalam kurikulum setelah adanya penemuan IQ, EQ—juga spiritual intelligent (SQ, kecerdasan spritual), dan kecerdasan otot? Ternyata belum! Dunia ilmu pengetahuan tetap melakukan penelitian untuk membuat prediktor kesuksesan memiliki daya prediksi yang makin robust, semakin kecil kesalahannya sampai mencapai derajat kepercayaan 99 persen. Atau tingkat koefisien alpha 0,01 jika kita meminjam terminologi uji signifikansi statistik inferensial. Prediktor baru itu adalah adversity quotient (AQ).

    Dua tahun setelah Daniel Goleman menemukan EQ, muncullah AQ yang ditemukan oleh Paul Stoltz (1997). Aplikasi AQ dalam proses pendidikan memang belum seluas aplikasi EQ dan SQ. Saat ini, AQ banyak diaplikasikan dalam perusahaan besar untuk kepentingan rekrutmen dan pelatihan pegawainya.

    Dunia pendidikan juga harus memanfaatkan temuan Paul Stoltz ini. Mengapa demikian? Karena AQ pada hakikatnya merupakan kapasitas seseorang untuk menghadapi berbagai bentuk tekanan dan ketidaknyamanan hidup dalam situasi tertentu.

    Orang yang AQ-nya tinggi akan tahan banting, dalam arti fisik, mental, dan kejernihan berpikir. Lebih penting lagi, ia segera bisa kembali ke keadaan normal setelah berhadapan dengan berbagai tekanan dan tantangan. Sebaliknya, orang yang AQ rendah akan selalu menyalahkan lingkungan ketika dia gagal sehingga dia tidak dapat mengambil keputusan untuk menuju sukses. Bidang keilmuan AQ ditopang tiga pilar utama: psychoneuroimmunology, neuropsychology, dan cognitive psychology.

    Orang hidup tak ada yang bebas dari tekanan dan tantangan. Dokter punya tekanan saat di meja operasi, wartawan memiliki tekanan dan tantangan ketika harus menghadapi tenggat berita, menteri dan presiden selalu menghadapi tekanan dari ekspektasi masyarakat. Siswa pun selalu menghadapi tekanan dan tantangan ketika harus belajar materi baru yang jauh lebih sulit, datang dan pulang tepat waktu, dan menyerahkan tugas individu serta kelompok. Kalau semua tekanan itu berhasil dilewati, sukseslah mereka. Kalau gagal, akan reduplah suasana hati dan pikiran saat itu.

    Hidup adalah tantangan

    Oleh sebab itu, kapasitas untuk bisa menghadapi berbagai tekanan harus diajarkan dan dilatih sejak mereka duduk di bangku sekolah. Siswa perlu mengalami sendiri berbagai prosedur serta proses ilmu dan pengetahuan. Kerena itu, kegiatan mengamati, bertanya, menalar, bereksperimentasi, juga pengalaman membangun jejaring perlu diakomodasikan dalam sebuah kurikulum.

    Dengan cara seperti itu, siswa akan bisa merespons berbagai kemungkinan dan tekanan hidupnya kelak setelah hidup dalam masyarakat. Respons positif terhadap tekanan yang dihadapi siswa akan memberi jalan kepada kesuksesan hidup kelak.

    Belajar tidak cukup hanya yang bersifat menyenangkan, tetapi juga harus menantang bagi siswa kita. Mengapa begitu? Karena hidup identik dengan tantangan.

    Kurikulum dan proses pembelajaran perlu memberi tempat yang cukup agar siswa bisa melakukan observasi, analisis, hipotesis, sintesis, dan mencari solusi terhadap tantangan yang dihadapi dalam proses belajarnya. Sebab, pada saatnya nanti, meminjam konsepnya Jerome Brunne, para siswa akan melakukan apa yang disebutnya transfer of learning and principles dalam kehidupan nyata.

    Jadi, belajar tidak cukup dengan pendekatan yang menyenangkan semata. Selebihnya, harus menantang agar siswa bisa berlatih untuk membangun AQ-nya. Semoga begitu.

    Suyanto, Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta

    Sumber :
    Kompas Cetak
    Editor :
    Caroline Damanik
    “Kenapa Pak Menteri Ngotot dengan Kurikulum Baru?”
    Penulis : Riana Afifah | Selasa, 22 Januari 2013 | 13:20 WIB

    KOMPAS/HERU SRI KUMORO
    Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh menjelaskan mengenai Kurikulum 2013 saat berkunjung ke Kantor Redaksi Kompas, Jakarta, Jumat (21/12).
    TERKAIT:
    • Dinas Pendidikan Gresik Siap Awali Kurikulum 2013
    • Kemdikbud dan Kompetensi Ilmiah
    • Pelajaran SD Tematik Integratif, Seperti Apa?
    • DPR: Kurikulum Baru tapi Kok Masih Disebut KTSP?
    • Mendikbud: Kurikulum 2013 Tidak Bisa Ditunda
    JAKARTA, KOMPAS.com – Kontroversi yang membelit proses pembahasan Kurikulum 2013 masih saja terjadi. Kali ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) dituding ngotot mengimplementasikan kurikulum baru pada tahun ini padahal drafnya saja masih dinilai tidak komprehensif.

    Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Wayan Koster, menilai pihak kementerian ngotot untuk segera menerapkan kurikulum baru ini dalam beberapa kali pertemuan dengan anggota legislatif. Padahal, menurut DPR, lanjutnya, ada baiknya kurikulum baru diuji coba terlebih dahulu daripada langsung diterapkan.

    “Saya nggak tahu kenapa menteri ini ngotot sekali ingin kurikulum baru pada tahun ini,” kata Wayan saat Rapat Dengar Pendapat di Ruang Rapat Komisi X, DPR RI, Jakarta, Senin (21/1/2013).

    Hal tersebut diperkuat oleh pernyataan dari Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Mohammad Fakry Gaffar. Setelah menelaah dokumen kurikulum yang dikeluarkan pemerintah, ia menilai bahwa draft kurikulum 2013 yang akan diterapkan tersebut belum lengkap.

    “Berbagai aspek esensial seperti konten kurikulum, panduan implementasi itu belum lengkap. Sedangkan jadwal implementasi terlihat terlalu optimistis jika tetap bertahan pada tahun ini,” ujar Fakry.

    Ia menjelaskan bahwa untuk penerapan kurikulum dengan banyaknya perubahan elemen ini memerlukan persiapan yang cukup lama. Kemudian target di lapangan seperti guru, siswa dan kepala sekolah harus diperhatikan kesiapannya sehingga tidak ada kendala.

    “Guru, siswa dan Kepsek sudah siap atau belum ini sangat penting. Persiapan yang diperlukan harusnya cukup lama,” jelasnya.

    Begitupula dengan Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang (UNM), Supriyono yang menyarankan agar kurikulum ini diuji coba dulu di beberapa daerah. Durasi yang dibutuhkan untuk uji coba ini juga paling lama setahun saja kemudian dievaluasi secara mendalam.

    “Saran saya kalau mau diterapkan pilot project dulu di beberapa wilayah. Paling tidak satu tahun,” jelas Supriyono.

    Berita terkait, baca : KURIKULUM 2013
    Opini
    Kurikulum sebagai Kendaraan
    Rabu, 27 Februari 2013 | 09:42 WIB

    Dibaca: 1377

    Komentar: 3
    |

    Share:

    Kurikulum sebagai Kendaraan
    TERKAIT:
    • Wajib, Pendidikan Kewirausahaan di SMA
    • Buku untuk 3 Mata Pelajaran SMA Dirombak Total
    • Sejauh Ini, Persiapan Kurikulum Diklaim ‘On The Track’
    • Tiap Pekan ke Daerah Demi Kurikulum Baru
    • Kemendikbud: Kurikulum 2013 Dorong Siswa Lebih Kreatif
    Oleh Anita Lie

    KOMPAS.com – Harapan dan antusiasme bercampur dengan kecemasan dan keraguan dalam wacana publik soal rencana pelaksanaan Kurikulum 2013. Berbagai respons dan sikap ini menandakan kepedulian dan rasa memiliki yang besar terhadap pembangunan pendidikan di Indonesia. Kehangatan respons publik, terutama dari masyarakat pendidikan, merupakan prakondisi menggembirakan terhadap strategi pembangunan pendidikan nasional jangka panjang.

    Sikap positif dan dukungan terhadap rencana pemberlakuan Kurikulum 2013 dilandasi pemikiran bahwa memang perubahan kurikulum sudah selayaknya dilakukan untuk merespons transformasi zaman dan kebutuhan abad ke-21. Para pendukung berharap sekolah bisa menyiapkan peserta didik menjadi pribadi berkarakter mulia serta punya pengetahuan dan keterampilan yang relevan untuk bisa berpartisipasi dan berkontribusi di masyarakat abad ke-21.

    Sebaliknya, kecemasan dan keraguan yang melandasi berbagai sikap, mulai dari kritik tajam sampai penolakan, menunjukkan ketidakpercayaan bahwa Kurikulum 2013 merupakan solusi bagi berbagai masalah pendidikan di Indonesia. Perspektif yang tepat mengenai fungsi, peran, dan konteks kurikulum akan membantu para pemangku kepentingan sistem pendidikan nasional (baik pendukung maupun pengkritik) bisa bekerja sama mencapai tujuan bersama bangsa ini melalui pembangunan pendidikan, sambil tetap menghormati ruang untuk bisa ”sepakat untuk berbeda dan tidak sepakat”. Ditinjau dari asal katanya dalam bahasa Latin, currere, kurikulum bisa berarti ’kendaraan’. Jadi, kurikulum bukan merupakan segala sesuatunya dalam suatu sistem pendidikan.

    Kurikulum merupakan alat mencapai suatu tujuan dan membutuhkan keandal- an penggunanya. Sama seperti kendaraan apa pun, banyak ketidaksempurnaan dalam setiap kurikulum. Dalam perspektif kepentingan bangsa dan negara, kendaraan kurikulum ini akan berfungsi dan berperan baik jika para pelaku dan pemerhati punya kejelasan tujuan dan visi bersama, peta jalan yang benar, serta keandalan dalam pemanfaatan kendaraan.

    Visi bersama

    Pembangunan pendidikan perlu visi bersama yang bisa mengikat para pejabat dalam sistem pendidikan pada tingkat nasional maupun daerah untuk menghasilkan dan melaksanakan kebijakan dengan derajat koherensi dan konsistensi yang melebihi masa jabatan. Visi dan misi pendidikan nasional seperti tertuang dalam Pasal 3 dan penjelasannya dalam UU No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional: mengembangkan potensi peserta didik agar jadi manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkarakter mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta jadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

    Perumusan normatif visi dan misi ini butuh penjelasan, sosialisasi, dan internalisasi lebih lanjut kepada semua pemangku kepentingan agar kesinambungan pembangunan pendidikan nasional bisa melampaui masa jabatan menteri dan jajarannya. Koherensi sistem dan kebijakan pendidikan dengan visi pembangunan pendidikan dan kemajuan bangsa melalui pendidikan mencakup tiga isu sentral: sentralisasi-desentralisasi, komitmen pendidikan untuk semua, dan kejelasan sasaran. Fenomena penyusunan-pengesahan suatu kebijakan pendidikan, pengajuan uji materi, dan pembatalan kebijakan itu akhir-akhir ini menunjukkan kurangnya koherensi antara tujuan, sistem, dan kebijakan. Kita berharap di kemudian hari energi dan sumber daya tidak terbuang sia-sia dalam pertarungan antara pembuat dan penentang kebijakan.

    Peta jalan mengidentifikasi berbagai strategi yang tepat dan berkontribusi terhadap pencapaian-pencapaian yang diharapkan. Kadang kala satu strategi akan berkontribusi terhadap satu pencapaian, tetapi dikhawatirkan akan menghambat pencapaian yang lain. Misalnya, strategi pengadaan buku pedoman kurikulum dan buku teks oleh pemerintah pusat diharapkan bisa menjamin pemerataan mutu materi pembelajaran untuk semua daerah. Terungkapnya contoh beberapa buku teks yang tidak layak pakai bagi peserta didik karena kecerobohan pada tingkat daerah dan satuan pendidikan dalam seleksi buku teks, serta kurangnya komitmen sebagian kepala daerah dalam pembangunan pendidikan, menjustifikasi kembalinya sentralisasi bagi beberapa kepentingan.

    Sebaliknya, sebagian kritikus mencemaskan tergerusnya kebinekaan dalam materi pembelajaran. Maka dari itu pemetaan dan pemilihan strategi pencapaian tujuan pendidikan membutuhkan kejelasan interpretasi visi dan misi pendidikan serta pandangan holistik dan sistemik yang diperkuat oleh basis data.

    Keandalan pengendara

    Kendaraan secanggih Mercedes pun bisa mengakibatkan kematian bagi penumpangnya (ingat kecelakaan Lady Diana) jika penggunaannya tidak benar. Faktor sangat penting dalam keberhasilan (atau kegagalan) dalam pelaksanaan Kurikulum 2013 adalah guru sebagai pengendaranya. Pemerintah sudah berupaya sangat keras untuk meningkatkan kompetensi guru melalui berbagai strategi.

    Salah satunya adalah peningkatan kesejahteraan guru melalui program sertifikasi. Namun, sayangnya, survei Bank Dunia menunjukkan bahwa sertifikasi guru ternyata tidak mengubah perilaku dan praktik mengajar guru serta belum meningkatkan prestasi guru dan siswa secara signifikan (Kompas, 18 Desember 2012).

    Hal itu berarti pemerintah harus lebih bersungguh-sungguh dan berupaya lebih keras lagi—dan cerdas—untuk meningkatkan dedikasi dan kompetensi guru, serta merancang strategi pengembangan profesionalisme guru mulai dari masa prajabatan di lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) sampai dengan pengembangan dalam masa jabatan.

    Salah satu hal positif dalam program sertifikasi guru yang terungkap dalam survei Bank Dunia adalah adanya peningkatan minat kaum muda memilih profesi guru. Dampak sementara ini seharusnya dianggap sebagai momentum emas untuk memperbaiki profesi guru secara menyeluruh. Dua faktor yang menjadi benang merah di antara negara-negara yang mempunyai tingkat keberhasilan tinggi dalam pembangunan pendidikan bukan standar nasional, sentralisasi-desentralisasi, pembiayaan, dan kurikulum, melainkan kultur masyarakat dan kualitas guru.

    Sementara transformasi budaya merupakan prakondisi dan sekaligus capaian jangka panjang yang bisa ditetapkan untuk pembangunan pendidikan, peningkatan kualitas guru merupakan prasyarat penting bagi keberhasilan pelaksanaan Kurikulum 2013 dan kurikulum selanjutnya. Pilihan mendukung, menolak, atau mendukung dengan catatan tentunya membawa konsekuensi masing-masing. Ketika kendaraan sudah dipacu untuk melaju, kepentingan peserta didik dan bangsa seyogianya jadi bahan bakar yang menggerakkan. Kritik terhadap Kurikulum 2013 sebenarnya bisa dipilah menjadi catatan perbaikan substansial dan ketidakpuasan terhadap prosedur (misalnya pelaksanaan uji coba, jadwal, dan sebagainya). Dibutuhkan wawasan, kedewasaan emosional, dan kearifan untuk mengolah berbagai kegaduhan dan mengendalikan diri agar para penumpang di dalam kendaraan tidak menjadi bingung dan tersesat.

    Anita Lie Profesor dan Direktur Program Pascasarjana Universitas Widya Mandala, Surabaya

    Sumber :
    Kompas Cetak
    Editor :
    Caroline Damanik
    > Education > Membongkar Sisi Gelap K..

    • new 20 minutes ago
    kurikulum 2013 icw tolak dikbud +
    Membongkar Sisi Gelap Kurikulum 2013 by @sahabaticw & @taarii

    Membongkar Sisi Gelap Kurikulum 2013 by @sahabaticw & @taarii
    by pratamaarista
    0 fav 75 view

    Fav
    0
    Click here to add to Favorites.
    Chirpstories
    Open Menu

    RT @taarii Huru Hara Kurikulum 2013, AYo di TOLAK http://t.co/g8gGvz6JUD
    sahabatICW 1 day ago

    Karut Marut Kurikulum 2013, AYO TOLAK http://t.co/gTLazMFuzy cc: @TamaSLangkun @abdullah_dahlan
    taarii 9 hours ago

    Sampai saat ini blm ada dokumen fix Kurikulum 2013, TOLAK YUK http://t.co/gTLazMFuzy cc: @sahabatICW @beranijujurnet
    taarii 9 hours ago

    Kur13 tdk akn mengubah keadaan pendidikan, krn kur13 bkn jwbn dr mslh pendidikan http://t.co/vi47a6sGYe cc: @illiandeta @janesandraa
    taarii 9 hours ago

    Apakah #kur13 merupakan jawaban dari rendahnya nilai TIMSS,PISA,dan PIRLS? Tolak Kurikulum 2013 Yuk http://t.co/vi47a6sGYe cc: @FebriHendri
    taarii 9 hours ago

    bagaimana bisa melatih guru kalau dokumen kurikulumnya saja blm jadi #kur13 TOLAK KUR13 http://t.co/vi47a6sGYe
    taarii 9 hours ago

    dokumen kurikulumnya belum jadi, bagaimana mau menulis bukunya? TOLAK #kur13 http://t.co/vi47a6sGYe
    taarii 9 hours ago

    Anggaran #kur13 terus melesat sampai 2,49 T dari 684 M. salah satu fakta perencanaan yg buruk.. Yuk Tolak Kur 2013 http://t.co/vi47a6sGYe
    taarii 8 hours ago

    Sebelum Uji Publik pertengahan Desember 2012, para penerbt buku sudah dikumpulkan. utk apa uji publik? TOLAK #KUR13 http://t.co/vi47a6sGYe
    taarii 8 hours ago

    Dlm UU Sisdiknas disbtkn bhw kur d kembangkn brdsrkn Standar Nasional Pendidikan,tp ini sebaliknya. Tolak #kur13 http://t.co/vi47a6sGYe
    taarii 8 hours ago

    pemerintah juga tdk melakukan evaluasi komprehensif thdp KTSP. tiba2 memutuskan #kur13 , Aneh. Yuk Tolak kur13 http://t.co/vi47a6sGYe
    taarii 8 hours ago

    #kur13 sudah mnyediakan buku panduan & silabus bg guru. mematikan kreatifitas guru & konteks budaya lokal.Tolak kur13 http://t.co/vi47a6sGYe
    taarii 8 hours ago

    slh 1 indikator kbrhsilan #kur13 adalah ketersediaan buku<< proyek basah potensi korupsi. Tolak Kur13 http://t.co/vi47a6sGYe cc @FebriHendri
    taarii 8 hours ago

    Tolak Kurikulum 2013 https://t.co/HRcP8Bwm7L
    taarii 4 hours ago

    Proses perumusan kebijakan yang tidak terencana dan terburu-buru. Tolak #kur13 https://t.co/HRcP8Bwm7L cc @illiandeta
    taarii 4 hours ago

    Pemerintah menggunakan logika terbalik dlm perumusan #kur13 . Yuk Tolak Kur13 https://t.co/HRcP8Bwm7L
    taarii 4 hours ago

    Pemerintah tidak melakukan evaluasi terlebih dahulu terhadap KTSP. Tolak #kur13 https://t.co/HRcP8Bwm7L cc @illiandeta @febridiansyah
    taarii 4 hours ago

    #kur13 cederung mematikan kreatifitas guru&tdk mempertimbangkan konteks budaya lokal https://t.co/HRcP8Bwm7L cc @illiandeta @TamaSLangkun
    taarii 4 hours ago

    Target training master teacher terlalu ambisius, sementara buku untuk guru belum dicetak. Tolak #kur13 cc @illiandeta @donalfariz
    taarii 3 hours ago

    Anggaran kurikulum 2013 mncapai 2,49 T.berpotensi d korupsi. Tolak #Kur13 https://t.co/HRcP8Bwm7L @illiandeta @emerson_yuntho @TamaSLangkun
    taarii 3 hours ago

    Rp 1,3 T,akn dgunakn utk proyek pengadaan buku yg brpotensi di korupsi.Tolak #Kur13 https://t.co/HRcP8Bwm7L cc: @illiandeta @emerson_yuntho
    taarii 3 hours ago

    Pemerintah belum mengeluarkan dokumen kurikulum 2013 resmi sampai saat ini. Tolak #kur13 https://t.co/HRcP8Bwm7L cc: @illiandeta
    taarii 3 hours ago

    bgmn pnyusunan buku dpt d lakukan jk dokumen kur13 smp saat ini blm resmi. Tolak #kur13 https://t.co/HRcP8Bwm7L cc: @febridiansyah
    taarii 3 hours ago

    stiap thn sjk 2008 pem. rajin mbeli hak cipta buku utk BSE,skrg nganggarin buku br lg.Tolak #kur13 https://t.co/HRcP8Bwm7L cc @FebriHendri
    taarii 3 hours ago

    sblm uji publik, pemerintah sudah melakukan pertemuan dgn penerbit2 buku. Tolak #kur13 https://t.co/HRcP8Bwm7L cc @FebriHendri
    • kurikulum 2013 icw tolak dikbud +
    Membongkar Sisi Gelap Kurikulum 2013 by @sahabaticw & @taarii

    Membongkar Sisi Gelap Kurikulum 2013 by @sahabaticw & @taarii
    by pratamaarista
    0 fav 75 view

    Fav
    0
    Click here to add to Favorites.
    Chirpstories
    Open Menu

    RT @taarii Huru Hara Kurikulum 2013, AYo di TOLAK http://t.co/g8gGvz6JUD
    sahabatICW 1 day ago

    Karut Marut Kurikulum 2013, AYO TOLAK http://t.co/gTLazMFuzy cc: @TamaSLangkun @abdullah_dahlan
    taarii 9 hours ago

    Sampai saat ini blm ada dokumen fix Kurikulum 2013, TOLAK YUK http://t.co/gTLazMFuzy cc: @sahabatICW @beranijujurnet
    taarii 9 hours ago

    Kur13 tdk akn mengubah keadaan pendidikan, krn kur13 bkn jwbn dr mslh pendidikan http://t.co/vi47a6sGYe cc: @illiandeta @janesandraa
    taarii 9 hours ago

    Apakah #kur13 merupakan jawaban dari rendahnya nilai TIMSS,PISA,dan PIRLS? Tolak Kurikulum 2013 Yuk http://t.co/vi47a6sGYe cc: @FebriHendri
    taarii 9 hours ago

    bagaimana bisa melatih guru kalau dokumen kurikulumnya saja blm jadi #kur13 TOLAK KUR13 http://t.co/vi47a6sGYe
    taarii 9 hours ago

    dokumen kurikulumnya belum jadi, bagaimana mau menulis bukunya? TOLAK #kur13 http://t.co/vi47a6sGYe
    taarii 9 hours ago

    Anggaran #kur13 terus melesat sampai 2,49 T dari 684 M. salah satu fakta perencanaan yg buruk.. Yuk Tolak Kur 2013 http://t.co/vi47a6sGYe
    taarii 8 hours ago

    Sebelum Uji Publik pertengahan Desember 2012, para penerbt buku sudah dikumpulkan. utk apa uji publik? TOLAK #KUR13 http://t.co/vi47a6sGYe
    taarii 8 hours ago

    Dlm UU Sisdiknas disbtkn bhw kur d kembangkn brdsrkn Standar Nasional Pendidikan,tp ini sebaliknya. Tolak #kur13 http://t.co/vi47a6sGYe
    taarii 8 hours ago

    pemerintah juga tdk melakukan evaluasi komprehensif thdp KTSP. tiba2 memutuskan #kur13 , Aneh. Yuk Tolak kur13 http://t.co/vi47a6sGYe
    taarii 8 hours ago

    #kur13 sudah mnyediakan buku panduan & silabus bg guru. mematikan kreatifitas guru & konteks budaya lokal.Tolak kur13 http://t.co/vi47a6sGYe
    taarii 8 hours ago

    slh 1 indikator kbrhsilan #kur13 adalah ketersediaan buku< http://t.co/lZsYAd46Fo. dan sebarkan.
    sahabatICW 1 hour ago

    Petisi Tolak Perubahan Kurikulum 2013 tidak membatasi hanya sampai 1.500 org. semakin byk yg paraf, makin baik. ini > http://t.co/lZsYAd46Fo
    sahabatICW 1 hour ago

    ubah kurikulum bukan untuk proyek. bukan untuk menguntungkan segelintir orang. kurikulum pendidikan harus mencerdaskan, bukan membodohkan.
    sahabatICW 1 hour ago

    silakan paraf petisi online Tolak Perubahan Kurikulum 2013 di: http://t.co/lZsYAd46Fo. bayangkan adik2 kita yg menderita dpt kurikulum asal.
    sahabatICW 1 hour ago

    jika tweeps ingin berbincang ttg perubahan kurikulum 2013, silakan tweeps ngobrol dg @taarii, slh 1 peneliti ICW yg wakili ICW dlm Koalisi.
    sahabatICW 1 hour ago

    Nelson Mandela pernah berujar, “pendidikan adalah senjata utk keluar dr kemiskinan”. bayangkan kurikulum 2013 ini, sungguh bertolak belakang
    sahabatICW 1 hour ago

    sila paraf petisi tolak perubahan kurikulum pendidikan di http://t.co/lZsYAd46Fo tweeps. sebarkan, krn ini harusnya bisa kita cegah bersama.
    sahabatICW 1 hour ago

    pendidikan hrsnya membebaskan, bukan membodohkan. paraf,sebarkan petisi tolak kurikulum 2013 http://t.co/lZsYAd46Fo. setiap suara, berharga.
    sahabatICW 54 minutes ago

    Petisi Tolak Kurikulum 2013 yg tweeps paraf, besok akan dibawa Koalisi Pendidikan ke Kemendikbud. Ayo, bersama2 ttd 🙂
    sahabatICW 40 minutes ago
    Curhat Kemendikbud Soal Kendala Kurikulum 2013
    Margaret Puspitarini
    Kamis, 14 Maret 2013 14:28 wib

    Ilustrasi: ist.
    JAKARTA – Pergantian kurikulum tentu selalu diwarnai dengan kontroversi. Bahkan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengaku menemui sejumlah kendala dalam perumusan maupun rencana penerapan kurikulum 2013.

    Hal tersebut diungkapkan Kepala Pusat Pengembangan Kurikulum dan Buku (Pusburbuk) Nanik Suwaryani dalam National Launch of the 2012 Education for All (EFA) Global Monitoring Report (GMR), hari ini. Nanik menyebut, dalam rencana implementasi kurikulum baru, ada banyak tantangan yang harus dihadapi.

    Salah satunya, kata Nanik, berkaitan dengan regulasi yang berbenturan dengan kurikulum baru. “Niatnya kurikulum baru akan diterapkan pada 2013, tapi pemerintah masih harus merevisi banyak dokumen,” papar Nanik, di Gedung D Kemendikbud, Senayan, Jakarta Selatan, Kamis (14/3/2013).

    Kendala selanjutnya, adalah perkara menyiapkan para guru untuk mengimplementasikan kurikulum baru tersebut. “Berbicara tentang Indonesia, berarti harus mengadakan pelatihan untuk 2,7 juta guru agar siap menghadapi kurikulum baru,” ungkapnya.

    Nanik menyebut, peran pemerintah daerah dan sekolah dalam membuat dokumen yang sesuai standar pun masih menjadi suatu kendala. Mereka tentu harus dipersiapkan untuk mampu menghasilkan dokumen sesuai ketentuan.

    Selain itu, evaluasi pencapaian siswa yang tertuang dalam Ujian Nasional (UN) pun menjadi kendalapenerapan kurikulum 2013. Sebab, kata Nanik, kurikulum 2013 tidak ingin guru maupun murid berorientasi belajar hanya untuk ujian.

    “Kurikulum 2013 tidak lagi pembelajaran hanya untuk ujian. Maka, untuk menghindari hal tersebut, tengah diusulkan jika UN bukan lagi satu-satunya tolok ukur evaluasi pencapaian siswa,” imbuhnya.(rfa)

    Kurikulum 2013
    Sekolah Boleh Kembangkan Standar Kompetensi
    Margaret Puspitarini
    Kamis, 14 Maret 2013 14:19 wib

    Ilustrasi: Her Campus.
    JAKARTA – Tahun ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan menerapkan kurikulum baru. Menjelang penerapan kurikulum 2013, mari kita menilik kembali kurikulum baru tersebut.

    Kepala Pusat Pengembangan Kurikulum dan Buku (Pusburbuk) Nanik Suwaryani menyatakan, standar kurikulum 2013 ditetapkan oleh kementerian berdasarkan usulan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).

    “Standar kompetensi lulusan dalam kurikulum 2013 memiliki tiga domain, yakni sikap, keterampilan, dan pengetahuan,” ujar Nanik, dalam acara National Launch of the 2012 Education for All (EFA) Global Monitoring Report (GMR), di Gedung D Kemendikbud, Senayan, Jakarta Selatan, Kamis (14/3/2013).

    Dia menjelaskan, dari standar kompetensi lulusan kemudian diturunkan menjadi kompetensi inti (KI) dan kompetensi dasar (KD). Namun, lanjut Nanik, sekolah dapat mengembangkan lebih jauh mengenai kompetensi tersebut.

    “Itu standar minimal. Sekolah bisa mengembangkan lagi tergantung kebutuhan sekolah dan peserta didik. Apakah mau lebih internasional atau justru mau lebih lokal,” urainya.

    Dalam kurikulum baru tersebut, lanjut Nanik, juga akan terjadi perubahan jam belajar. Dia mengungkapkan, hal tersebut dilakukan dengan mengacu terhadap beberapa negara maju yang jumlah jam belajarnya lebih banyak.

    Kemudian, kata Nanik, dengan mengacu pada kegagalan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), maka pada kurikulum baru silabus akan disusun oleh pemerintah pusat.

    “Silabus dikembangkan pemerintah pusat karena setelah beberapa tahun KTSP berjalan masih banyak sekolah yang kesulitan mengembangkan silabus,” jelasnya.(rfa)
    Tunda Implementasi Kurikulum Baru Pada 2014
    Selasa, 12 Maret 2013 15:38 wib

    Foto: dok. Okezone
    JAKARTA – Meski menuai protes, pemerintah pantang mundur menerapkan kurikulum baru pada tahun ajaran baru 2013 ini. Sejumlah suara pun meneriakkan imbauan untuk menunda penerapan kurikulum baru tersebut hingga minimal tahun ajaran 2014.

    Imbauan tersebut salah satunya datang dari anggota Panitia Kerja (Panja) Kurikulum DPR RI Ahmad Zainuddin. Menurut Zainuddin, kurikulum baru sebaiknya tidak diimplementasikan tahun ini mengingat belum siapnya para pemangku kepentingan pendidikan nasional.

    “Pemangku kepentingan pendidikan di daerah belum siap untuk melaksanakan kurikulum baru dalam waktu yang singkat. Maka saya minta agar pemerintah menunda pelaksanaan kurikulum baru nanti minimal hingga tahun ajaran 2014, agar semuanya benar-benar siap,” ujar Zainuddin, seperti dikutip dari siaran persnya kepada Okezone, Selasa (12/3/2013).

    Selain ketidaksiapan pemangku kepentingan pendidikan di daerah, Zainuddin memaparkan, kurikulum 2013 sejatinya belum matang. Dari segi konsep, masih banyak poin yang tidak jelas seperti persyaratan pendidikan budi pekerti dan akhlak mulia belum tercermin dalam proses pembelajaran pada kurikulum 2013. Dari segi anggaran, pemerintah selalu mengajukan alokasi yang berbeda-beda dan terus membengkak. Belum lagi ketidaksiapan dalam pengadaan sarana buku dan manajemen sekolah.

    Dari segi penyiapan SDM guru, masa pelatihan yang sangat singkat akan memengaruhi tingkat penguasaan guru dalam memahami konsep kurikulum maupun metode dan strategi implementasinya di kelas. Mepetnya waktu persiapan penulisan kompetensi dasar juga dikhawatirkan akan menyebabkan tumpang tindih, baik dari segi kesesuaian jenjang dengan materi ajar maupun proses pembangunan konsep seperti yang terjadi pada kurikulum sebelumnya.

    “Jangan rusak masa depan pendidikan generasi bangsa karena ketidaksiapan dan ketergesa-gesaan pemerintah dalam melaksanakan perubahan kurikulum,” imbau politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut. (Rachmad Faisal Harahap/Okezone)(//rfa)
    Aneh, Pemerintah Paksakan Kurikulum 2013
    Selasa, 12 Maret 2013 15:17 wib

    Foto: dok. Okezone
    JAKARTA – Pemerintah masih ngotot menerapkan kurikulum 2013 pada tahun ajaran baru, Juli mendatang. Padahal, kenyataan di lapangan menunjukkan, dunia pendidikan Indonesia belum siap dengan perubahan kurikulum tersebut.

    Menurut Anggota Panitia Kerja (Panja) Kurikulum 2013 Ahmad Zainuddin, ada semacam upaya sistematis untuk memaksakan kurikulum 2013 ini segera dilakukan. Padahal, hasil kunjungan panja kurikulum di daerah menunjukkan, semua pemangku kepentingan pendidikan keberatan dan menolak jika kurikulum baru dilaksanakan tergesa-gesa dan mendadak. Penolakan juga hadir dari para pakar pendidikan.

    “Terkesan aneh jika Kemendikbud memaksakan kurikulum 2013 dilaksanakan pada tahun ajaran baru, sedang kenyataan di lapangan bahwa kesiapan guru, kesiapan sarana buku dan juga kesiapan manajemen sekolah belum optimal. Apalagi pemangku kepentingan pendidikan di daerah menyatakan ketidaksiapan mereka untuk melaksanakan kurikulum baru tersebut,” ujar Zainuddin dalam keterangan tertulisnya kepada Okezone, Selasa (12/3/2013).

    Angggota Komisi X DPR RI dari fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini mendukung pengembangan kurikulum, mengingat hal tersebut mutlak dilakukan. Namun, perlu diingat, belasan kali perubahan kurikulum pendidikan nasional sebelumnya telah melalui proses yang matang dari segi konsep, sumber daya manusia (SDM) dan sarana prasarana pendukung lainnya. Sedangkan pada kurikulum 2013 ini, Kemendikbud tidak menunjukkan kesiapan dalam upaya implementasi kurikulum baru tersebut.

    Ketidaksiapan tersebut, ujar Zainuddin, ditilik dari segi konsep, anggaran, penyiapan SDM guru, dan sarana pendukung lainnya masih dihiasi berbagai kendala teknis. Zainuddin memaparkan, masa pelatihan guru yang sangat singkat akan memengaruhi tingkat penguasaan guru dalam memahami konsep kurikulum maupun metode dan strategi implementasinya di kelas. Mepetnya waktu persiapan penulisan kompetensi dasar juga dikhawatirkan akan menyebabkan tumpang tindih, baik dari segi kesesuaian jenjang dengan materi ajar maupun proses pembangunan konsep seperti yang terjadi pada kurikulum sebelumnya.

    Sementara itu, dari segi konten, kurikulum 2013 juga belum melaksanakan secara utuh amanah UUD 1945 yang mensyaratkan pendidikan budi pekerti dan akhlak mulia harus tercermin dalam proses pembelajaran. “Karakter akhlak harus terintegrasi dalam setiap proses pendidikan di sekolah, hal ini yang belum tergambar jelas dalam kurikulum,” ujar legislator dengan daerah pemilihan Jakarta TImur ini.

    Sementara itu, dari segi anggaran, kerap berubahnya alokasi anggaran kurikulum yang diajukan pemerintah juga menjadi salah satu indikasi ketidaksiapan kemendikbud dalam merancang strategi pengembangan kurikulum yang tepat dan efisien. Apalagi perubahan tersebut menunjukkan kian membengkaknya anggaran kurikulum 2013.

    “Persoalan rencana anggaran kurikulum yang terus berubah dan membengkak, minimnya waktu persiapan guru, dan juga minimnya tingkat penyiapan komponen pendukung kurikulum lainnya ini harus menjadi perhatian serius komisi X, agar tidak terjadi kesalahan dalam persetujuan dan penetapannya,” tutur Zainuddin. (Rachmad Faisal Harahap/Okezone)(//rfa)
    Tunda Kurikulum 2013
    Penulis : Didit Putra Erlangga Rahardjo | Kamis, 14 Maret 2013 | 14:48 WIB

    Dibaca: 2895

    Komentar: 9
    |

    Share:
    Kompas/Didit Putra ErlanggaSuasana diskusi terbuka kurikulum 2013 di Balai Pertemuan Ilmiah Institut Teknologi Bandung, Rabu (13/3/2013).
    TERKAIT:
    • Pelatihan Guru Hanya seperti Tiket Masuk
    • 3 Jenjang Persiapan Guru Jelang Kurikulum 2013
    • Kurikulum 2013 Ditelanjangi di ITB
    • Pendidikan Vs Perombakan Kurikulum
    BANDUNG, KOMPAS – Pemerintah diminta menunda pemberlakuan Kurikulum 2013 karena belum disosialisasikan secara luas serta berbagai kesalahan substantif yang harus segera diperbaiki. Penundaan itu merupakan langkah realistis demi kebaikan pendidikan generasi penerus bangsa.

    Rekomendasi itu disampikan Majelis Guru Besar (MGB) Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam diskusi terbuka yang digelar Rabu (13/3). Diskusi dihadiri, antara lain, Ketua MGB ITB Harijono Tjokronegoro, guru besar emeritus Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Jakarta Henry Alex Rudolf Tilaar, Guru Besar Ilmu Matematika ITB Iwan Pranoto, serta Guru Besar ITB Imam Buchori Zainuddin.

    Diskusi itu menghasilkan rekomendasi yang menyetujui perlunya mengganti kurikulum, tetapi harus dilakukan dengan perancangan yang cermat dan dituntun oleh kaidah ilmiah.

    Masukan yang mereka berikan untuk Kurikulum 2013 seperti perlunya menggunakan tata bahasa yang baik, bisa mengungkapkan gagasan dengan lugas dan sederhana, menunjukkan keterkaitan dasar filosofis dengan pelaksanaan pada tataran teknis, serta mencantumkan sikap dan nilai luhur kemanusiaan demi menghadapi tantangan masa depan. Menurut Harijono, usulan ini akan diajukan dalam rapat pleno majelis guru besar ITB.

    Dinilai terburu-buru

    Anggota Komisi X DPR, Rohmani, yang hadir dalam diskusi, mengatakan, pemberlakuan Kurikulum 2013 oleh pemerintah terbilang terburu-buru dan dipaksakan. Komisi X baru mendapat kabar mengenai Kurikulum 2013 menjelang akhir 2012, tapi baru mendapatkan dokumennya awal Maret 2013. Alokasi anggaran yang diajukan pun melonjak dari Rp 684 miliar menjadi Rp 2,4 triliun.

    Rohmani khawatir, skema persetujuan di akhir masa pembahasan ini bisa mengulangi kasus korupsi di Hambalang. ”Fraksi Keadilan Sejahtera tengah mengupayakan agar partai bisa mengambil sikap untuk meminta penundaan pelaksanaan Kurikulum 2013,” ujar Rohmani.

    Guru Besar ITB Bambang Hidayat menyebut pemerintah tidak pernah menyosialisasikan Kurikulum 2013 sebelumnya. Karena itu, dikhawatirkan pergantian kurikulum ini hanya proyek.

    Tidak terkait

    Imam Buchori menilai, redaksional Kurikulum 2013 menggunakan bahasa yang indah dan ideal, tapi tidak memiliki keterkaitan satu sama lain.

    Tilaar memberi contoh Finlandia yang sukses dalam melakukan revolusi sistem pendidikan, yang dipersiapkan 40 tahun sebelumnya. Finlandia mengubah sistem pendidikan dengan memulainya dari lembaga pelatihan guru agar guru bisa mendidik murid dengan baik.

    Iwan Pranoto menilai begitu banyak kata patuh pada Kurikulum 2013. Ini tidak dijumpai bila dibandingkan dengan kurikulum negara lain, seperti Qatar dan Australia. Padahal, kurikulum adalah dokumen mengenai proyeksi manusia sebuah negara pada masa mendatang. (eld)

    Sumber :
    Kompas Cetak
    Editor :
    Caroline Damanik
    Pendidikan
    Kurikulum Membentuk Siswa “Patuh”
    Penulis : Didit Putra Erlangga Rahardjo | Rabu, 13 Maret 2013 | 21:01 WIB

    Dibaca: 12220

    Komentar: 40
    |

    Share:
    ANDRISumber: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
    TERKAIT:
    • Kurikulum 2013 Ditelanjangi di ITB
    • Pendidikan Vs Perombakan Kurikulum
    • Pendidikan Vs Perombakan Kurikulum
    • 47 Sekolah Sukabumi Dijadikan Percontohan Kurikulum Baru
    • Kurikulum Tidak Dibuat dengan Tergesa-gesa
    BANDUNG, KOMPAS.com — Guru Besar Ilmu Matematika Institut Teknologi Bandung, Iwan Pranoto, menyebut kurikulum adalah dokumen negara serta naskah budaya bangsa. Alasannya, kurikulum berisi proyeksi tentang manusia di masa mendatang yang bakal dibentuk melalui pendidikan.
    Sayangnya, ujar Iwan, yang bisa ditangkap dari Kurikulum 2013 adalah siswa yang patuh, bukan siswa yang mampu berpikir inovatif. Itulah kesimpulan yang didapatkan sewaktu memeriksa dokumen Kurikulum 2013 yang beredar saat ini.
    Dia menunjukkan matrik berisi kompetensi dasar dari pelajaran matematika untuk kelas I hingga VI. Semuanya diawali dengan kalimat “Menunjukkan perilaku patuh pada aturan dalam…” yang berarti perintah agar siswa patuh.
    “Padahal, bukan seperti itu matematika. Biarkan mereka mencari sendiri cara yang terbaik untuk menjawab persoalan,” kata Iwan.
    Dia mengisahkan Sam Ratulangi, pahlawan nasional yang dikenal sebagai tokoh multidimensional. Menurut Iwan, Sam Ratulangi memiliki cara tersendiri dalam penjumlahan, yakni mendahulukan bilangan yang besar kemudian diikuti yang kecil. Meski tidak sama dengan cara penjumlahan yang diajarkan saat itu, cara berpikir Sam Ratulangi harusnya ditiru oleh siswa, bukan malah dikekang.
    Dia pun membandingkan Kurikulum 2013 itu dengan di Massachusetts, Amerika Serikat, yang menggunakan pilihan kata, yakni mendorong pelajar untuk mengembangkan strategi dalam penjumlahan dan pengurangan. Begitu pula dari kurikulum di Qatar yakni “memilih, menggunakan, dan menjelaskan metode penjumlahan dan pengurangan…”
    Pada kelas 12, lanjut Iwan, siswa bahkan diajak untuk membuat dugaan dengan kalimat kemungkinan seperti “bagaimana jika…” dan “bagaimana jika tidak…”
    “Dari sini bisa terlihat, manusia seperti apakah yang ingin dibentuk melalui Kurikulum 2013,” tutur Iwan.
    Kembali lagi ke Indonesia, Iwan justru melihat Kurikulum 2004 justru lebih membebaskan peserta didiknya. Misalnya, penjelasan yang menggunakan bahasa “merancang dan melakukan proses penyelesaian masalah dengan memilih atau menggunakan suatu strategi.”
    Bila ada nilai moral yang diselipkan, bahasanya lebih universal seperti “menunjukkan sikap gigih dan percaya diri dalam menyelesaikan masalah”
    Terkait nilai moral, Iwan mengkhawatirkan bahasa yang digunakan dalam Kurikulum 2013 ini seperti ditemui pada pelajaran ekonomi kelas XI, yakni penjelasan kompetensi dasar 1 berbunyi “melakukan kegiatan akuntansi berdasarkan ajaran agama yang dianut.”
    Editor :
    Robert Adhi Ksp
    Opini
    Pendidikan Vs Perombakan Kurikulum
    Rabu, 13 Maret 2013 | 10:45 WIB

    Dibaca: 5535

    Komentar: 8
    |

    Share:

    TERKAIT:
    • Kurikulum Tidak Dibuat dengan Tergesa-gesa
    • Kurikulum 2013
    • Guru Mbeling
    • Kurikulum Orangtua untuk Anak
    Oleh Hafid Abbas

    KOMPAS.com – Dalam satu dekade terakhir, dunia pendidikan di Tanah Air seakan terus terbelenggu dalam dilema.

    Pada masa Kabinet Indonesia Bersatu Pertama 2004-2009, Wapres Jusuf Kalla gigih melaksanakan pengendalian mutu pendidikan dengan pemberlakuan standar ujian nasional. Tidak ada toleransi kelulusan bagi mereka yang tidak melewati standar minimum dari sejumlah mata pelajaran yang diujikan, Akibatnya, masyarakat seakan mengalami sentakan sosial ketika melihat ada sekolah yang tidak satu pun siswanya lulus karena kelaziman sebelumnya secara nasional kelulusan selalu di kisaran 100 persen atau mendekati 100 persen.

    Alasan Kalla ketika itu sangat sederhana. Jika sekolah selalu meluluskan siswanya 100 persen, siswa merasa tidak perlu belajar, guru tidak termotivasi mengajar sungguh-sungguh, dan orangtua tidak merasa perlu ikut bertanggung jawab atas mutu pendidikan. Cara ini, menurut Kalla, adalah mekanisme peningkatan mutu pendidikan yang paling murah dan mudah dilaksanakan. Dengan demikian, pendidikan kita menjadi tanggung jawab semua pihak (siswa, masyarakat, dan pemerintah) menuju pencapaian mutu yang lebih tinggi. Selanjutnya, bangsa kita tak lagi akan menjadi kuli dari Malaysia.

    Sewaktu menjabat sebagai Menko Kesra pada 2003, Kalla menemukan tingkat kesukaran ujian akhir jenjang SD di Malaysia untuk Bahasa Inggris relatif sebanding dengan kesukaran ujian akhir jenjang SLTA di Indonesia. Tingkat kesukaran IPA dan Matematika jenjang SLTP relatif sama dengan jenjang SLTA. Sementara standar kelulusan nasional Malaysia dengan tingkat kesukaran tersebut pada 2003 adalah 6, sedangkan Indonesia 3. Jika tiap tahun standar kelulusan dinaikkan 0,5, berarti mutu pendidikan Indonesia tertinggal 9-12 tahun dari Malaysia.

    Dengan standar kelulusan itu, dapat dipastikan terdapat peningkatan mutu pendidikan kita secara bertahap dan pada waktunya Indonesia akan berada pada posisi yang sejajar dan bahkan mengungguli Malaysia.

    Kini, keadaannya kembali lagi ke tingkat kelulusan yang mendekati 100 persen. Pada tahun ajaran 2010, untuk jenjang SMA/MA, misalnya, tingkat kelulusan peserta ujian nasional mencapai 99,22 persen. Tingkat kelulusan di jenjang SLTP dan SMK juga relatif sama. Akibatnya, ujian nasional tidak lagi menjadi sarana yang memotivasi siswa, orangtua, dan guru untuk meningkatkan mutu pendidikan.

    Kebijakan yang telah diletakkan Kalla terkesan ditinggalkan begitu saja oleh kabinet baru. Masyarakat seakan disuguhkan satu tontonan drama kekuasaan. Betapa pun kebesaran dan manfaat yang telah diletakkan masa lalu seakan tidak lagi mendapat tempat karena peletaknya tidak lagi di kekuasaan.

    Dilema pendidikan

    Dalam artikel di Kompas, 27 Agustus 2012, Wapres Boediono dengan tegas menyebutkan, sampai saat ini kita belum punya konsepsi yang jelas mengenai substansi pendidikan. Karena tak ada konsepsi yang jelas, timbullah kecenderungan untuk memasukkan apa saja yang dianggap penting ke dalam kurikulum. Akibatnya, terjadilah beban berlebihan pada anak didik. Bahan yang diajarkan terasa ”berat”, tetapi tak jelas apakah anak mendapatkan apa yang seharusnya diperoleh dari pendidikannya.

    Akibat dari kerisauan Wapres itu, tiba-tiba timbullah proyek perombakan kurikulum yang terkesan dipaksakan. Kurikulum 2013 hasil perombakan kurikulum sebelumnya harus segera diberlakukan meski masyarakat luas belum melihat hasil satu penelitian ilmiah yang menyatakan bahwa mutu pendidikan kita terus merosot karena kesalahan kurikulum. Apakah tidak ada faktor lain yang lebih dominan dari kurikulum? Misalnya, sebagaimana telah diungkapkan Mendikbud Mohammad Nuh sendiri di hadapan Komisi X DPR pada 21 Maret 2011, terdapat 88,8 persen sekolah di Indonesia—SD hingga SMA/SMK—belum melewati mutu standar pelayanan minimal. Lalu, mengapa bukan itu yang dibenahi lebih dahulu?

    Perubahan kurikulum dadakan ini cermin ketiadaan kerangka besar arah pembenahan pendidikan nasional. Di tengah berbagai keterbatasan yang ada, keliru besar bila pembenahan pendidikan di semua jenjang, jenis, dan jalur—baik di pusat maupun di tiap kabupaten/kota—dilakukan secara parsial dan tidak menyentuh sistem karena tanpa didasari hasil pengkajian ilmiah.

    Dalam era Orde Baru, misalnya, di berbagai periode kabinet, sejak periode Mashuri, Soemantri Brodjonegoro, Syarief Thayeb, Daoed Joesoef, Nugroho Notosusanto, Fuad Hassan, Wardiman Djojonegoro, Wiranto Arismunandar, hingga kabinet era Reformasi, betapa banyak gagasan inovatif dan strategis. Namun, gagasan-gagasan itu terkesan bersifat temporer, terlaksana sebatas masa jabatan menteri yang bersangkutan. Betapa banyak dana yang telah dihabiskan, tetapi akhirnya upaya tersebut tidak cukup terlihat dampaknya bagi pembenahan masalah pendidikan. Lihatlah, misalnya, pengembangan Sekolah Pembangunan, proyek CBSA, pengajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa, dan pengembangan link and match.

    Bahkan, jika kita membuka lembaran masa lalu, terlihat betapa lebih seabad silam visi besar pendidikan sudah dirumuskan Boedi Oetomo pada 1908. Angkatan ini sudah mengungkapkan dalam anggaran dasarnya yang dirumuskan pada Pasal 3: (1) usaha pendidikan dalam arti seluas-luasnya; (2) peningkatan pertanian, peternakan, dan perdagangan; (3) kemajuan teknik dan kerajinan; (4) menghidupkan kembali kesenian pribumi dan tradisi; (5) menjunjung tinggi cita-cita kemanusiaan; dan (6) hal-hal yang bisa membantu meningkatkan kesejahteraan bangsa. Dalam pembahasan program juga telah dibahas pembangunan perpustakaan rakyat dan pendidikan untuk perempuan.

    Sungguh begitu banyak pemikiran dan langkah besar yang telah dilakukan para pendahulu kita, tetapi hilang begitu saja, tidak diteruskan penerusnya. Jika kita selalu mengedepankan egoisme sektoral dan kepentingan politik pencitraan, kita akan selalu berada dalam cengkeraman dilema.

    Proyek dan pencitraan

    Tidak tertutup kemungkinan apa yang telah dilakukan periode Mohammad Nuh akan diabaikan menteri berikutnya. Akibatnya, kita tidak akan pernah mencapai prestasi besar. Tembok China adalah salah satu wujud mahakarya peradaban umat manusia karena, meski mulai dibangun sebelum periode Dinasti Qin pada 722 SM, dinasti mana pun pada era kekuasaan berikutnya terus memelihara dan meneruskan hingga kini.

    Modus perubahan kurikulum lebih terkesan sebagai ikhtiar dadakan karena tidak didahului persiapan yang lebih matang. Memang, perombakan kurikulum pilihan paling aman. Sebab, jika ikhtiar dadakan itu keliru, kekeliruan itu baru akan terungkap 10-20 tahun kemudian. Lagi pula, jika terdapat perubahan satu lembar kurikulum, dimungkinkan dilahirkan begitu banyak proyek baru yang dapat menyerap anggaran sekian triliun rupiah.

    Semoga pendidikan kita tidak terus-menerus terbelenggu dalam dilema dan berjalan di tempat. Sudah waktunya kenegarawanan lebih dikedepankan dari sekadar pencitraan sesaat.

    Hafid Abbas Guru Besar Universitas Negeri Jakarta

    Khawatir Penerapan Tak Sampai ke Guru di Pelosok
    Perubahan Kurikulum 2013 Dinilai Terlalu Cepat Direalisasikan
    Editor: Andiono Hernawan | Kamis, 14 Maret 2013 11:13 WIB, 5 jam yang lalu

    0Google +000

    Ahmad Jabir, Komisi E DPRD Jatim(Foto: http://www.fpks-jatim.org)

    LENSAINDONESIA.COM: Polemik pendidikan yang ada di Indonesia semakin mendapat berbagai penilaian dari sejumlah elemen masyarakat. Komisi E DPRD Jatim menganggap perubahan kurikulum pendidikan tahun 2013 di Indonesia dinilai masih tergesa-gesa dan merupakan tindakan yang terlalu cepat untuk direalisasikan.
    “Selain itu belum ada sosialisasi pemerintah ke masyarakat khususnya para guru yang ada di Indonesia khususnya Jatim. Apakah tidak perlu ada tahapan pemberlakuan kurikulum ini menjadi lebih baik. Ini kan yang ribet dinas kabupaten/provinsi sampai ke wali murid,” pungkas anggota Komisi E DPRD Jatim, Ahmad Jabir, Kamis (14/3/2013).
    Baca juga: Kurang Sebulan Lagi, Antisipasi Soal UN Bocor dan Ditunggu DPR, Finalisasi Anggaran Kurikulum 2013
    Ia menegaskan, pemerintah sebaiknya harus melakukan sosialisasi terlebih dahulu sebelum menerapkan konsep kurikulum 2013 pengganti kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) 2006. Sebab, dikhawatirkan penerapan ini tidak tersampaikan kepada guru maupun sekolah yang ada di daerah pelosok.
    Apalagi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI tetap akan menerapkannya pada tahun ajaran baru mendatang, Juni 2013 mendatang. Sementara, tahun ajaran baru pendidikan di tingkat SD, SMP maupun SMA, SMK atau yang sederajat sudah dekat. “Karena tidak sedikit masyarakat yang gusar karena penerapan kurikulum baru oleh pemerintah,” pungkasnya. @Panjichuby_666

    Pemerintah Tergesa-gesa Rancang Kurikulum 2013
    Kamis, 14 Maret 2013 | 08:08 WIB

    Ilustrasi—MI/ip
    TERKAIT
    • Generasi Muda ASEAN Cenderung Berpola Barat
    • Di Bantul, Tunggakan Sertifikasi Guru Rp11 miliar
    • Status Sekolah Standar Nasional, tapi Keropos
    • Skandal Contek Massal, Harvard Selidiki Email Dekan
    • Kepala Daerah Jangan Tekan Sekolah Harus Lulus UN 100 Persen

    Metrotvnews.com, Bandung: Budaya bernalar dalam sistem pendidikan nasional dinilai masih kurang dalam rancangan kurikulum 2013 yang akan dilancarkan pemerintah.

    Rancangan kurikulum 2013 dinilai belum layak menjadi sebuah menjadi sebuah dokumen negara dan naskah budaya.

    Pernyataan pendapat tersebut dilontarkan oleh Majelis Guru Besar Intitut Teknologi Bandung (MGB ITB) pada Diskusi Terbuka Mempertanyakan Hakikat Pendidikan Science-Technology-Engineering-Art and Culture-Mathematics dalam Kurikulum 2013 Untuk Merekacipta Masa Depan Bangsa” di Bandung, Rabu (13/3).

    Menurut beberapa Guru besar yang hadir pada acara diskusi tersebut, rancangan kurikulum 2013 dirasa terburu-buru dikeluarkan oleh pemerintah.

    Seperti yang dikatakan oleh Guru Besar Universitas Negeri Jakarta HAR Tilaar yang hadir dan menjadi pembicara pada diskusi tersebut mengatakan, pemerintah terlalu terburu-buru dalam menggulirkan kurikulum baru.

    Pada 2012 baru saja dunia pendidikan Indonesia digegerkan dengan kebijaan pemerintah tentang pendidikan karakter bangsa.

    “Belum selesai kurikulum 2012 pemerintah sudah melancarkan kurikulum 2013”, ungkap Tilaar pada saat pemaparannya di dalam diskusi. Lebih lanjut, Tilaar mengatakan sangat singkatnya persiapan kurikulum 2013 yang disiapkan pemerintah, seakan tergesa-gesa.

    Senada dengan Tilaar, Guru Besar Matematika dari ITB Iwan Pranoto menyebutkan terdapat keanehan pada kurikulum 2013. Dirinya menjelaskan terdapat kata-kata pada isi kurikulum yang kurang dimengerti.

    “Kurikulum merupakan sebuah dikumen naskah negara dan budaya yang akan dibaca oleh anak cucu kita. Di sini terdapat kejanggalan dalam pemakaian kata dan bahasa di kurikulum 2013”, jelas Iwan.

    Dalam diskusi tersebut, Majelis Guru Besar ITB menyampaikan pendapat umum dan mengkritisi rancangan kurikulum 2013 yang dinilai tergesa-gesa dan belum layak untuk menjadi sebuah kurikulum.

    Dalam pernyataan bersama itu disebutkan bahwa Kurikulum 2013 masih perlu disempurnakan dan dibenahi secara seksama.

    Kurikulum baru harus lebih baik daripada kurikulum sebelumnya, tetapi kurikulum 2013 belum mencapai itu. Kurikulum 2013 perlu bahasa yang abaik disertai kosa kata pendidikan dan tata bahasa nasional yang teratur. Dan banyaknya istilah asing yang tidak mudah dipahami.

    Anggota DPR RI komisi X DPR Rohmani yang hadir pada diskusi tersebut juga menyampaikan bahwa DPR tidak diberi waktu yang cukup untuk mempelajari rancangan kurikulum 2013.

    “Kami tidak diberi cukup waktu, sementara kurukulum 2013 tiga bulan lagi sudah akan berjalan”,kata Rohmani.

    Dirinya mengatakan, anggaran pendidikan tidak ingin seperti kasus hambalang yang dana awalnya sedikit, tapi di akhir makin terus menambah. “Dana awal mencapai Rp 684 miliar per 23 Februari.

    Dan yang terakhir mencapai Rp2,4 Triliun per 6 maret kamarin” kata Rohmani.

    Dana-dana tersebut menurut Rohmani untuk anggaran pelatihan dan sertifikasi guru, dan pengadaan buku pegangan guru dan siswa yang diambil dari Dana Alokasi Khusus (DAK).

    Rohmani juga menegaskan bahwa pemerintah tidak siap dan sangat tergesa-gesa dalam merancang kurikulum 2013. “Pemerintah sangat tidak siap dengan dokumen kurikulum yang baru”, tukas Rohmani. (Adhi Muhammad Daryono)

    Editor: Edwin Tirani
    Tunda Kurikulum 2013
    BY
    ADMINGARUTNEWS
    – MARCH 14, 2013POSTED IN: PENDIDIKAN

    Suasana diskusi terbuka kurikulum 2013 di Balai Pertemuan Ilmiah Institut Teknologi Bandung, Rabu (13/3/2013). Kompas/Didit Putra Erlangga
    Garut News, ( Kamis, 14/03 ).
    Pemerintah diminta menunda pemberlakuan Kurikulum 2013 lantaran belum disosialisasikan luas, serta berbagai kesalahan substantif harus segera diperbaiki.
    Penundaan itu merupakan langkah realistis demi kebaikan pendidikan generasi penerus bangsa.
    Rekomendasi itu disampikan Majelis Guru Besar (MGB) Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam diskusi terbuka digelar Rabu (13/3).
    Diskusi dihadiri, antara lain, Ketua MGB ITB Harijono Tjokronegoro, guru besar emeritus Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Jakarta Henry Alex Rudolf Tilaar, Guru Besar Ilmu Matematika ITB Iwan Pranoto, serta Guru Besar ITB Imam Buchori Zainuddin.
    Diskusi itu menghasilkan rekomendasi, menyetujui perlunya mengganti kurikulum, tetapi harus dilakukan dengan perancangan cermat, dan dituntun kaidah ilmiah.
    Masukan mereka berikan untuk Kurikulum 2013 seperti perlunya menggunakan tata bahasa baik, bisa mengungkapkan gagasan dengan lugas dan sederhana, menunjukkan keterkaitan dasar filosofis dengan pelaksanaan pada tataran teknis, serta mencantumkan sikap dan nilai luhur kemanusiaan demi menghadapi tantangan masa depan.
    Menurut Harijono, usulan ini diajukan dalam rapat pleno majelis guru besar ITB.

    Dinilai terburu-buru

    Anggota Komisi X DPR, Rohmani, hadir dalam diskusi, mengatakan, pemberlakuan Kurikulum 2013 oleh pemerintah terbilang terburu-buru dan dipaksakan.
    Komisi X baru mendapat kabar mengenai Kurikulum 2013 menjelang akhir 2012, tetapi baru mendapatkan dokumennya awal Maret 2013.
    Alokasi anggaran diajukan pun melonjak dari Rp684 miliar menjadi Rp2,4 triliun.
    Rohmani khawatir, skema persetujuan di akhir masa pembahasan ini bisa mengulangi kasus korupsi di Hambalang.
    ”Fraksi Keadilan Sejahtera mengupayakan agar partai bisa mengambil sikap meminta penundaan pelaksanaan Kurikulum 2013,” ujar Rohmani.
    Guru Besar ITB Bambang Hidayat menyebut pemerintah tak pernah menyosialisasikan Kurikulum 2013 sebelumnya.
    Karena itu, dikhawatirkan pergantian kurikulum ini hanya proyek.
    Tidak terkait
    Imam Buchori menilai, redaksional Kurikulum 2013 menggunakan bahasa indah dan ideal, tetapi tak memiliki keterkaitan satu sama lain.
    Tilaar memberi contoh Finlandia, sukses dalam melakukan revolusi sistem pendidikan, dipersiapkan 40 tahun sebelumnya.
    Finlandia mengubah sistem pendidikan dengan memulainya dari lembaga pelatihan guru, agar guru bisa mendidik murid dengan baik.
    Iwan Pranoto menilai, begitu banyak kata patuh pada Kurikulum 2013.
    Ini tak dijumpai apabila dibandingkan dengan kurikulum negara lain, seperti Qatar dan Australia.
    Padahal, kurikulum dokumen mengenai proyeksi manusia sebuah negara pada masa mendatang. (eld)
    Sumber : Kompas Cetak
    Editor : Caroline Damanik
    Related Posts:
    • Uji Publik Kurikulum Baru Dimulai
    • Kurikulum Membentuk Siswa “Patuh”
    • Menguji Kurikulum 2013
    • Kurikulum Baru untuk Siapa?
    • Kurikulum 2013 Tidak Realistis Dengan Kompetensi Dasar

    Kurikulum Baru untuk Siapa?
    BY
    ADMINGARUTNEWS
    – DECEMBER 8, 2012POSTED IN: PENDIDIKAN

    Iluastrasi ( Ist ).

    Garut News, ( Sabtu, 08/12 ).
    Meski banyak dihantam penolakan, Kemendikbud tetap melanjutkan proses perubahan kurikulum digunakan pada 2013 mendatang.
    Pihak kementerian merasa, perubahan kurikulum ini berdampak positif pada peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia, katanya.
    Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Retno Listyarti, mengatakan sasaran kurikulum pengganti “Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan” (KTSP) ini tak jelas.
    Lantaran, jika perubahan kurikulum itu, diperuntukkan bagi guru dan murid maka semestinya guru dilibatkan pembahasan dan ada uji coba lapangan bukan sekadar uji publik.
    “Kurikulum ini untuk kepentingan siapa sebenarnya? Guru cenderung dirugikan kurikulum baru ini. Murid juga sama saja,” kata Retno, saat dihubungi, Jumat (7/12/2012).
    Dikemukakan, saat ini banyak guru cemas perubahan kurikulum tersebut.
    Para guru khawatir kehilangan pekerjaan, karena ada mata pelajaran kemudian dilebur dengan mata pelajaran lain.
    Salah satu contohnya, guru Teknologi Informasi dan Komunikasi.
    “Kalau guru SD sistemnya masih guru kelas. Kalau berdiri sendiri seperti guru-guru TIK? Ini mereka mulai was-was nasibnya,” ujar Retno.
    Sedangkan anak-anak didik, penambahan jam pelajaran khususnya anak SD semestinya diikuti penambahan fasilitas seperti jaminan makanan siang.
    Ini mencegah anak-anak mengonsumsi makanan tak bergizi, bisa memengaruhi perkembangan otak.
    “Seperti di Eropa, waktu di sekolah memang lama. Tetapi dari segala aspek termasuk makan itu diperhatikan. Jika Indonesia tak seperti itu, anak-anak ini jajan di luar, jelas tak sehat,” ujar Retno.
    Tak hanya itu, kondisi anak-anak di setiap daerah juga beda.
    Semestinya uji publik dilakukan saat ini menjangkau pula daerah-daerah terpencil.
    Selain uji publik, uji coba juga perlu dilakukan, melihat apakah kurikulum tersebut, sesuai diterapkan di daerah itu.
    “Kondisi daerah ini kan beda. Jangan samakan semua dengan di kota. Anak-anak di daerah, kadang ke sekolah saja harus bertaruh nyawa melewati sungai deras dan sering tak sarapan,” ungkap Retno.
    “Ini jam pelajarannya ditambah dan gurunya tak dibekali persiapan baik. Di daerah, apalagi terpencil belum tentu bisa. Lalu kurikulum ini buat yang di kota dan kaya saja?” tegasnya.
    Ia juga berpendapat, untuk di kota pun, kurikulum ini juga tak bisa begitu saja diterapkan.
    Dalam standar proses, anak-anak diminta mengobservasi ke lapangan langsung terkait tema sedang dibahas saat itu.
    Ini pasti menemui banyak kendala saat implementasi, jika tak dilakukan uji coba.
    Misalnya anak-anak diajak observasi ke pasar.
    Bayangkan perjalanan di Jakarta macet.
    Kemudian ke pasar situasinya ramai dan padat, guru hanya satu mengawasi.
    Ini sulit sekali.
    “Jadi sebenarnya ini buat siapa kurikulum,” tandasnya.
    ***** Kompas.com
    Kurikulum 2013 Tidak Realistis Dengan Kompetensi Dasar
    BY
    ADMINGARUTNEWS
    – NOVEMBER 27, 2012POSTED IN: PENDIDIKAN

    Sony. MS ( Foto : Ist ).
    “Produk Pakar Pendidikan Tak Berdasar, Bisa Menimbulkan Permasalahan Baru”
    Garut News (Selasa 27/11)
    Pelaksanaan uji publik perubahan kurikulum baru 2013, dinilai tidak realistis dengan kompetensi dasar penyelenggara dan kondisi seluruh lembaga pendidikan formal, di negeri Bernama Indonesia.
    Justru kini mendesak segera tuntas dibenahi, di antaranya pemerataan pengadaan serta penempatan guru dan tenaga kependidikan, terwujudnya standar pelayanan minimal, juga mewujudkan sarana dan prasarana memadai.
    Demikian diungkapkan sejumlah praktisi pendidikan, termasuk Pengawas Pendidikan Menengah pada Disdik Kabupaten Garut, Sony. MS kepada Garut News, Selasa.
    Bahkan menurut Sony, sebaiknya disosialisasikan dahulu, jangan justru langsung diuji coba, katanya.
    Produk regulasi itu pun, juga tidak melibatkan guru, sehingga dinilai hanya di“awang-awang”, tidak realisis, ungkapnya, bernada kesal.
    Lantaran, kompetensi dasar penyelenggara dan kondisi sarana prasarana maupun inprastruktur pendidikan di kota-kota besar terutama Jakarta, beda jauh dibandingkan dengan di pedalaman Kabupaten Garut, maupun pedalaman Papua.
    Murid di Kecamatan Talegong Garut, masih untung bahkan patut disyukuri masih mau sekolah, banyak di antara mereka sambil bekerja membantu orangtua di ladang atau sawah, akibat terjerat kesulitan ekonomi.
    Malahan banyak di antaranya, jangankan memiliki laptop atau komputer beserta jaringan internetnya, bisa memenuhi kebutuhan makan setiap hari pun, terbilang masih sangat beruntung, kata Sony. MS.
    Dia berpendapat, produk kurikulum 2013 itu, dikemas para pakar pendidikan yang pintar bicara, tetapi tidak mengetahui kondisi di lapangan secara menyeluruh.
    Sehingga tidak berdasar, bahkan jika tetap dipaksakan bisa berdampak tidak bagus, malahan jelek atau menimbulkan permasalahan baru, beber Sony kepada Garut News.
    Menyusul selama ini pun, masih banyak guru termasuk tenaga kependidikan, belum sepenuhnya paham mengimplemtasikan “Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan”(KTSP), kini muncul kurikulum baru 2013 dengan pendekatan digunakan berbasis sains.
    Padahal, katanya, “Kurikulum Berbasis Kompetensi” KBK pun, dinilai masih relevan jika konsisten dilaksanakan.
    Bahkan pada beberapa negara di Kawasan Asian pun, kini malahan berhasil mengembangkan kompetensi dasar “Membaca, menulis dan Berhitung”(Calistung).
    “Kurikulum itu, bukan hanya untuk coba-coba, lantaran konsep pendidikan menentukan masa depan anak pada 20 mendatang,” tandas Sony, mengingatkan.
    Ia berpendapat, murid itu bisa berinovasi, cerdas bertanya kepada guru di kelas, jika ada ketertarikan kuat terhadap setiap materi pelajaran diperolehnya.
    Sehingga justru penting dikembangkan, mewujudkan ketertarikan murid seperti ketika mereka mendapatkan praktek pelajaran olahraga.
    Didesak pertanyaan Garut News, mengenai produk pendidikan formal selama ini, justru banyak tak berhasil mewujudkan sosok pemimpin berkualitas dan bermoral, Sony. MS katakan keteladanan Pemimpin, ada pada Nabi Muhammad SAW.

  118. Ini Dia Alasan Kurikulum Baru Harus Ditolak

    RELATED NEWS
    ________________________________________
    • ICW Curiga Anggaran Kurikulum Baru Sarat Permainan
    • Petisi Tolak Kurikulum Baru Diteken Ribuan Warga
    • Kekerasan Seksual Meningkat, Bukti Pendidikan Karakter Gagal
    • PTN Tak Boleh Berpolitik Praktis
    • Dilatih 52 Jam, Guru Tak Boleh Banyak Ceramah
    • Buku Kurikulum 2013 Proses Finalisasi

    JAKARTA – Penolakan atas Kurikulum Baru 2013 makin meluas. 1500 orang telah menandatangani petisi tentang penolakan atas konsep perubahan kurikulum yang digagas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

    Petisi itu telah diserakan aktivis Indonesia Corruption Watch (ICW) dan Koalisi Pendidikan kepada Mendikbud Muhammad Nuh, agar dijadikan acuan evaluasi perubahan kurikulum. “Setidaknya ada delapan alasan petisi Tolak Kurikulum 2013 ini,” ujar Koordinator Monitoring Kebijakan Publik ICW, Febri Hendri di Kemdikbud, Jumat (15/3).

    Alasan pertama, proses perumusan kebijakan perubahan kurikulum tidak terencana dan terburu-buru. Kedua, lanjut dia, mekanisme perubahan kurikulum tidak mengacu pada Standar Nasional Pendidikan (SNP). Padahal, Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) dengan jelas telah mengamanatkan pemerintah untuk mengembangkan kurikulum dengan mengacu kepada SNP.

    Ketiga, pemerintah ditengarai tidak melakukan evaluasi terlebih dahulu terhadap Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang telah diterapkan sejak tahun 2006, tapi kini ingin mengubah kurikulum tersebut menjadi Kurikulum 2013.

    Keempat, Kurikulum 2013 cenderung mematikan kreatifitas guru dan tidak mempertimbangkan konteks budaya lokal. Pasalnya, kata Febri, guru telah diberikan buku pegangan dan silabus yang isinya sama sekali tanpa memikirkan konteks lokal.

    “Yang kelima, kami melihat target training master teacher terlalu ambisius, sementara buku untuk guru belum dicetak. Guru yang harus disiapkan itu jumlahnya ratusan ribu,” tegasnya.

    Keenam, anggaran kurikulum 2013 mencapai angka fantastis, yaitu Rp 2,49 triliun. Tapi lebih dari setengahnya atau Rp 1,3 triliun, akan digunakan untuk proyek pengadaan buku yang berpotensi dikorupsi. Sementara, sudah menjadi rahasia umum bahwa pengadaan buku adalah lahan basah.

    “Dari catatan ICW sejak tahun 2004–2011 tercatat ada sekitar enam kasus pengadaan buku yang ditindak dengan jumlah kerugian negara mencapai Rp 54,9 miliar,” sebutnya.

    Alasan ketujuh, pemerintah belum mengeluarkan dokumen kurikulum 2013 resmi. “Hal ini memunculkan pertanyaan, bagaimana penyusunan buku dapat dilakukan jika dokumen kurikulum 2013 saja sampai saat ini belum resmi? Soal buku ini sebenarnya sudah mencuat awal Desember 2012. Pemerintah ketahuan telah mengumpulkan penerbit buku untuk membahas buku-buku kurikulum 2013,” jelas Febri.

    Alasan terakhir, pengadaan buku untuk Kurikulum 2013 merupakan proyek pemborosan. Pasalnya, setiap tahun sejak 2008, pemerintah aktif membeli hak cipta buku untuk menopang penyediaan buku dengan buku sekolah elektronik (BSE).

    Nah, jika memang perubahan kurikulum 2013 sudah direncanakan sejak 2010, seharunya pemerintah tidak melakukan pemborosan. “Pemerintah tinggal tetap membeli hak cipta buku elektronik yang bisa diganti dengan buku Kurikulum 2013,” pungkasnya.(fat/jpnn)

    Kurikulum 2013 Itu…
    Rachmad Faisal Harahap
    Selasa, 19 Maret 2013 08:50 wib

    Ilustrasi: Siswa SMA. (Foto: Dede K/Okezone)
    JAKARTA – Juli mendatang, siswa seluruh Indonesia akan belajar menggunakan kurikulum baru. Apa kata mereka tentang rencana ini?

    Kebanyakan siswa, khususnya tingkat SMA/sederajat, sudah mengetahui rencana penerapankurikulum baru; baik dari guru maupun informasi yang tersebar di jejaring sosial. Meski demikian, mereka belum mendapat sosialisasi secara mendalam tentang kurikulum tersebut.

    Salah satu siswa yang mengetahui perihal kurikulum 2013 ini adalah Minggus Unedo. Siswa SMKN 38, Tanah Abang, Jakarta Pusat ini menilai, kurikulum anyar tersebut cukup bIK.

    “walau misalnya ada perubahan dan itu lebih baik, pastinya memudahkan kita dalam belajar,” kata Minggus ketika berbincang dengan Okezone, Selasa (19/3/2013).

    Pendapat Minggus diamini teman satu sekolahnya, Elsa Sara. Dia mengaku, mengetahui rencana penerapan kurikulum 2013 dari jejaring sosial dan guru. Elsa juga menyambut baik rencana tersebut jika memang akan membawa perubahan ke arah positif.

    “Menambah hal baru, berarti otomatis menambah wawasan. Dengan menambah wawasan, kita jadi lebih banyak tahu,” tutur Elsa.

    Namun, nada pesismistis juga lahir dari kalangan pelajar. Adhan Ramadhan misalnya, merasa kurikulum baru hanya akan menambah beban siswa. Dia mengkritik rencana kurikulum 2013 dari segi pelaksanaan ujian nasional (UN).

    “Kurikulum 2013 rencananya pakai 20 paket untuk UN. Sedangkan untuk yang sekarang lima paket aja, tingkat kesulitan soal UN-nya tidak seimbang satu dengan yang lain, apalagi 20 paket. Karena setiap soal berbeda dan kadang-kadang tingkat kesulitannya pun juga berbeda-beda,” ujar Adhan.

    Siswa SMAN 25 Petojo, Jakarta Pusat, itu, berharap, dari segi UN pemerintah dapat menyeimbangkan penggunaan paket soal. Misalnya dengan memaksimalkan sistem lima paket soal. “Lalu, kalau hasilnya sudah bagus, baru dinaikkan jadi 20 paket,” tambahnya.(rfa)
    Dampak Implementasi Kurikulum 2013
    Rachmad Faisal Harahap
    Rabu, 20 Maret 2013 18:11 wib

    Foto: dok. Okezone
    JAKARTA – Ketergesaan pemerintah dalam menerapkan kurikulum 2013 akan berdampak pada berbagai kondisi pendidikan di Indonesia.

    Hal tersebut terungkap dalam Focus Group Discussion Bidang Pendidikan Politik dan Kebudayaan, di kantor DPP Partai NasDem, Jakarta Pusat, hari ini. Menurut guru SMAN 13 Jakarta Retno Listyarti, dampak pertama adalah mutu guru menjadi rendah karena minim persiapan untuk menunjangkurikulum baru.

    “Guru mengajar di dua atau tiga sekolah demi mengejar kekurangan jam agar memperoleh tunjangan sertifikasi. Kadang jarak antarsekolah tempatnya mengajar sangat jauh sehingga para guru sudah kelelahan dan tidak lagi memiliki waktu untuk belajar seperti membaca dan menulis,” kata Retno, Rabu (20/3/2013).

    Kemudian, pengurangan jam mata pelajaran atau penghapusan mata pelajaran akan menyebabkan kelebihan guru. Retno mengilustrasikan, pelajaran Bahasa Inggris di SMA dikurangi jamnya dari 180 menit menjadi hanya 90 menit. Hal ini akan menyebabkan kelebihan guru bahasa Inggris di SMA. Sementara itu, pelajaran olahraga ditambah menjadi tiga jam pelajaran.

    “Ada juga mata pelajaran yang diganti, bukan dihapus. Contohnya, mata pelajaran Tata Boga dan Tata Busana pada jenjang SMP diganti menjadi prakarya, padahal substansinya jelas berbeda,” imbuh Retno.

    Guru Besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Soedijarto memaparkan, postur anggaran cenderung mengutamakan pembangunan fisik, seperti membangun dan memperbaiki sekolah, membeli alat, dan melengkapi sarana/prasarana. Sementara itu, sangat minim anggaran untuk membangun kapasitas guru.

    “Bahkan kadang-kadang tidak diajukan dalam rencana anggaran. Partai-partai elite harus memikirkan pendidikan ini untuk kurikulum baru, perlu ada anggaran dalam APBN dan APBD,” tutur Soedijarto.(rfa)
    Tunda Kurikulum 2013!
    Rachmad Faisal Harahap
    Rabu, 20 Maret 2013 19:30 wib

    Ilustrasi. (Foto: okezone)
    JAKARTA – Pertengahan Juli mendatang, Kurikulum 2013 siap diterapkan ke para siswa. Tapi, ada baiknya kurikulum baru ini ditunda terlebih dahulu.

    Guru Besar Psikologi Pendidikan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Prof. Dr. Conny R Semiawan menyatakan setuju jika masalah kurikulum 2013 ditunda. Karena, bagi dia, butuh solusi untuk memecahkan masalah tersebut.

    “Sosialisasi harus diperbanyak, pelatihan guru waktunya diperpanjang, dan esensi kurikulum 2013 harus dijelaskan atau dipahami masyarakat,” ungkap Conny dalam Focus Group Discussion Bidang Pendidikan Politik dan Kebudayaan, di kantor DPP Partai NasDem, Jakarta Pusat, Rabu (20/3/2013).

    Hal senada juga disampaikan Guru Besar UNJ Soedijarto. “Pertukaran informasi dan pengalaman akan benar-benar bermakna dan berkualitas bila tenaga profesional adalah pribadi yang dalam karier profesionalnya meningkatkan kualitas kinerjanya,” ujarnya.

    Bagi Guru SMAN 13 Jakarta Retno Listyarti, kurikulum 2013 harus ditunda dan harus diterapkan model pendampingan yang cepat. “Karena kepala sekolah dan pengawas sekolah hasil Uji Kompetensi Guru (UKG) lebih rendah dari guru,” tutur Retno.

    Selain itu, ditambahkan Retno, mayoritas kepala sekolah dipilih bukan karena profesionalismenya saja, tapi lebih karena kedekatan dengan pejabat dinas pendidikan atau pemberi upeti.(ade)
    Penerapan Kurikulum 2013 Dipengaruhi Politik
    http://www.inilah.comon

    Ilustrasi
    Oleh: Marlen Sitompul
    nasional – Rabu, 20 Maret 2013 | 22:36 WIB
    Share on facebookShare on twitterShare on emailShare on googleMore Sharing Services
    Berita Terkait
     Gerindra Tuding Heru Lelono Putar Balikan Fakta
     Siapapun Ketumnya, Tak Bisa Selamatkan Demokrat
     Elit PD Merapat Malam Ini, Bahas Nama Calon Ketum?
     Saan & Tri Dianto Maju, Ruhut: Diketawain Kodok
     Marzuki Dinilai Tak Bisa Satukan Demokrat

    INILAH.COM, Jakarta – Setiap kebijakan yang dikeluarkan pemerintah di tahun 2013 dinilai bernuansa politik. Sebab, 2013 sebagai dinilai sebagai tahun politik.

    Penilaian itu disampaikan Ketua DPP Bidang Politik dan Kebudayaan Partai NasDem, S Sonny Soeharso. Menurutnya, penerapan kurikulum 2013 yang terkesan terburu-buru itu bernuansa politik.

    “Kalau dari pengalaman, perubahan kurikulum sangat dipengaruhi ‘political heavy’. Kita tahu tahun ini merupakan tahun politik. Perubahan anggaran begitu drastis dan dilakukan terlalu terburu-buru,” kata Sonny, usai Focus Group Discussion Bidang Pendidikan Politik dan Kebudayaan, di kantor DPP Partai NasDem, Jakarta, Rabu (20/3/2013).

    Untuk itu, dia meminta agar pemerintah lebih berhati-hati dalam memutuskan penerapan kurikulum pendidikan 2013. Khususnya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan diminta menunda penerapan kurikulum tersebut.

    “Harus dilihat untung dan ruginya penerapan kurikulum itu. Harus dievaluasi lagi sistemnya,” tegasnya.

    Sementara, Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FGSI), Retno Listyarti, mengatakan, penerapan kurikulum 2013 itu akan memperburuk kualitas pendidikan di tanah air.

    Selain itu, kualitas pengajar pun akan menjadi buruk. Sebab, guru diperbolehkan untuk mengajar dibeberapa sekolah yang berbeda.

    “Guru mengajar di dua atau tiga sekolah demi mengejar kekurangan jam agar memperoleh tunjangan sertifikasi. Kadang jarak antarsekolah tempatnya mengajar sangat jauh sehingga para guru sudah kelelahan dan tidak lagi memiliki waktu untuk belajar seperti membaca dan menulis,” katanya.

    Selain itu, lanjut Retno, waktu pelatihan guru untuk kurikulum pendidikan yang hanya 52 jam perlu ditambah.

    “Bagaimana bisa materi kurikulum pendidikan 2013 yang sangat kompleks hanya diajarkan dalam waktu 52 jam?” kata Retno.

    Penyakit utama dunia pendidikan Indonesia, kata dia, berada pada kualitas guru, namun pemerintah tidak pernah memberikan pelatihan yang sungguh-sungguh.

    “Jika guru tidak berkualitas, maka siswanya juga tidak akan berkualitas,” katanya. [gus]
    Rekomendasi Untuk Anda
    ________________________________________
    • Prandelli Bingung Tentukan Formasi Lawan Brasil
    • BMW, Pabrikan Mobil Paling Dikagumi di Dunia
    Mempersoalkan Kurikulum 2013
    Posted on March 17, 2013 by Bincang Edukasi
    Oleh: Johannes Sumardianta, Guru SMA Kolese de Britto, Yogyakarta
    Dimuat di Koran Tempo, 14 Maret 2013

    Johannes Sumardianta
    Sejak zaman Orde Baru hingga sekarang, telah terjadi empat kali perubahan kurikulum: kurikulum 1975, kurikulum Cara Belajar Siswa Aktif 1984, kurikulum 1994, Kurikulum Berbasis Kompetensi 2004, dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006. Tahun ini pemerintah berencana menerapkan kurikulum baru 2013. Mengapa kurikulum harus diubah? Mutu murid Indonesia dalam banyak bidang berada di bawah mutu siswa negeri lain. Perbaikan harus diadakan dalam isi dan metode pengajaran. Guru harus ditingkatkan kualitasnya.
    Kurikulum 2013 hendak memanfaatkan momentum yang disebut periode “bonus demografi” (2010-2035) saat penduduk produktif dominan. Pada masa “emas” ini perubahan harus diadakan sebelum terlambat saat tenaga produktif menyusut. Manusia Indonesia dalam Kurikulum 2013 ditekankan dalam hal kompetensi dan kreativitasnya.
    Inilah fakta di lapangan dari empat kali perubahan kurikulum sebelumnya. Praksis kurikulum tergelincir menjadi sekadar urusan tersier jual-beli buku pelajaran, administrasi persekolahan, dan ujian nasional (UN). Pihak yang mengambil manfaat paling besar sesungguhnya para penerbit buku pelajaran dan LKS. Kurikulum baru belum dirilis, para wiraniaga penerbit buku pelajaran sudah bergerilya menawarkan produk sesuai dengan kurikulum 2013. Itulah yang membuat setiap kali ada pembaruan kurikulum, para guru adem ayem. Tidak tampak risau, apalagi greget. Format peranti mengajar, seperti silabus, program semester, dan rencana pembelajaran, disediakan penerbit buku sebagai suplemen. Para guru tinggal mengetik ulang dan memoles sedikit agar sesuai dengan kebutuhan sekolah tempat mengajar. Guru lain tinggalcopy-paste (salin-tempel).
    Sehebat apa pun kurikulum baru, hasilnya bisa ditebak. Mayoritas guru tetap mengajar dengan langgam konvensional. Para murid tetap jenuh total. Kurikulum, mau diubah-ubah seperti apa, ujung-ujungnya tetap UN. Begitulah lingkaran setannya. Kapan ada lingkaran malaikat? Saatnya ujian akhir dikembalikan ke sekolah masing-masing, tidak dimonopoli pemerintah. Ujian sekolah akan membuat sekolah kreatif mengkreasikan kurikulum. UN mengurung pendidikan dalam mekanisme “perangkap pecundang sekolah kandang”.
    Setiap ada pembaruan kurikulum, hasilnya involutif (mungkret) dan kontra-produktif (tidak kena sasaran). Departemen Pendidikan sebaiknya berubah menjadi Departemen Sekolah saja. Pendidikan absen karena berfokus pada kegiatan instruksi guru kepada murid dalam kelas. Pendidikan telah merosot sekadar pelatihan menjadi bodoh. Pendidikan terperangkap materialisme kurikulum.
    Makna pendidikan direduksi sebagai serangkaian aktivitas memindah materi buku ajar. Sibuk mengurusi memori otak pada taraf primitif: menghafal materi pelajaran guna menghadapi UN. Esensi pendidikan sebagai kegiatan menuju kematangan, kedewasaan, dan kepribadian murid dikerjakan sambil lalu. Pengolahan bakat (memori otot) individual seolah hanya menjadi urusan sekolah kejuruan. Siswa berbakat justru sengsara jika studi di sekolah umum.
    Kurikulum, yang terbelenggu pabrikan buku dan ujian nasional, didominasi ranah kognitif sebagai simbol prestasi tertinggi. Bidang studi tetap banyak, standar isi sangat berat, mendewakan matematika-IPA, dan mengabaikan humaniora-sastra. Proses belajar-mengajar di kelas menegangkan, hingga membuat murid mengalami down-shifting. Input murid kualitas santan, output malah bisa jadi ampas. Paradigmanya masih beranggapan ada anak yang bodoh dan tidak punya potensi apa pun.
    Metode mengajar guru akan terus bercorak indoktrinatif. Strategi mengajar didominasi ceramah dengan fokus mengerjakan soal-soal berpikir tingkat rendah guna mempersiapkan UN. Guru mengajar, bukan murid belajar. Mengagungkan ends values (hasil akhir) bersifat ambisius, materialistis, logis, dan individualistis. Guru tak ubahnya gladiator pembunuh minat, bakat, dan kecerdasan majemuk murid. Perkembangan murid direduksi dalam peringkat (ranking). Murid dipertarungkan dengan murid lain.
    Kurikulum yang belum bisa bebas dari kartel industri buku dan UN mereduksi kehidupan siswa yang kompleks dan kaya potensi menjadi kumpulan skor, persentase, dan nilai. Standar misterius mengharuskan sekian persen siswa mengalami kegagalan. Murid digeneralisasi secara seragam. Pembelajarannya ekstrinsik dan berlomba memperoleh skor tertinggi.
    Kurikulum memerangkap para guru menjadi manusia bermental kandang, sehingga kurang kreatif dan malas berinisiatif. Mereka bekerja berdasarkan inisiatif pimpinan. Program sertifikasi guru hanya mengangkat status sosial guru. Guru hanya masuk zona comfortable karena terpenuhi kebutuhan materialnya. Pada umumnya guru bersertifikat pendidik perilakunya masih menunjukkan guru medioker dan superior. Kerja mereka ceramah dan memperagakan kewibawaan. Mayoritas guru bukan guru terpuji yang mudah dipahami. Bukan pula guru inspiratif yang sadar profesi utamanya mendidik, bukan semata mengajar.
    Para guru belum terbiasa melayani murid dengan beragam gaya belajar. Metode mengajar belum multi-strategi. Mereka belum menjadi lentera jiwa yang lebih banyak melayani dan mendengarkan. Mereka suka mengindoktrinasi, menghakimi, dan menjadi agen penerbit buku.
    Pendidikan (bukan persekolahan) mestinya menawarkan pengalaman menarik, aktif, hidup, dan membahagiakan; membangun lingkungan yang memberikan kesempatan sama bagi setiap murid untuk berhasil; memungkinkan guru mengembangkan kurikulum bermakna dan melakukan penilaian dalam konteks program tersebut.
    Penilaiannya didasari proses berkesinambungan, sehingga menghasilkan gambaran akurat tentang prestasi murid; memperlakukan murid sebagai pribadi otentik; mementingkan proses sekaligus hasil akhir. Mencakup kecakapan berpikir tingkat tinggi. Memotivasi pembelajaran sebagai sesuatu yang memang substansial. Membandingkan siswa hanya dengan pencapaian mereka sendiri dari masa sebelumnya.
    Kurikulum esensial mengarah pada inti kecerdasan: problem solving, character building, life-skill, dan pelbagai kegiatan yang membuat murid bahagia belajar. Juga mengutamakan means values (proses nilai) seperti integritas, kejujuran, tanggung jawab, kesetaraan, dan kepedulian. Itu sebabnya, kurikulum 2013 harus dibebaskan dari kartel industri buku pelajaran dan UN.
    • This entry was posted in Berita & Opini, Pendidikan Formal and tagged johannes sumardianta, kurikulum, kurikulum 2013,pendidikan formal, ujian nasional by Bincang Edukasi. Bookmark the permalink.
    Penerapan Kurikulum 2013 Dipengaruhi Politik
    http://www.inilah.comon
    3

    Ilustrasi
    Oleh: Marlen Sitompul
    nasional – Rabu, 20 Maret 2013 | 22:36 WIB
    Share on facebookShare on twitterShare on emailShare on googleMore Sharing Services
    Berita Terkait
     Gerindra Tuding Heru Lelono Putar Balikan Fakta
     Siapapun Ketumnya, Tak Bisa Selamatkan Demokrat
     Elit PD Merapat Malam Ini, Bahas Nama Calon Ketum?
     Saan & Tri Dianto Maju, Ruhut: Diketawain Kodok
     Marzuki Dinilai Tak Bisa Satukan Demokrat

    INILAH.COM, Jakarta – Setiap kebijakan yang dikeluarkan pemerintah di tahun 2013 dinilai bernuansa politik. Sebab, 2013 sebagai dinilai sebagai tahun politik.

    Penilaian itu disampaikan Ketua DPP Bidang Politik dan Kebudayaan Partai NasDem, S Sonny Soeharso. Menurutnya, penerapan kurikulum 2013 yang terkesan terburu-buru itu bernuansa politik.

    “Kalau dari pengalaman, perubahan kurikulum sangat dipengaruhi ‘political heavy’. Kita tahu tahun ini merupakan tahun politik. Perubahan anggaran begitu drastis dan dilakukan terlalu terburu-buru,” kata Sonny, usai Focus Group Discussion Bidang Pendidikan Politik dan Kebudayaan, di kantor DPP Partai NasDem, Jakarta, Rabu (20/3/2013).

    Untuk itu, dia meminta agar pemerintah lebih berhati-hati dalam memutuskan penerapan kurikulum pendidikan 2013. Khususnya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan diminta menunda penerapan kurikulum tersebut.

    “Harus dilihat untung dan ruginya penerapan kurikulum itu. Harus dievaluasi lagi sistemnya,” tegasnya.

    Sementara, Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FGSI), Retno Listyarti, mengatakan, penerapan kurikulum 2013 itu akan memperburuk kualitas pendidikan di tanah air.

    Selain itu, kualitas pengajar pun akan menjadi buruk. Sebab, guru diperbolehkan untuk mengajar dibeberapa sekolah yang berbeda.

    “Guru mengajar di dua atau tiga sekolah demi mengejar kekurangan jam agar memperoleh tunjangan sertifikasi. Kadang jarak antarsekolah tempatnya mengajar sangat jauh sehingga para guru sudah kelelahan dan tidak lagi memiliki waktu untuk belajar seperti membaca dan menulis,” katanya.

    Selain itu, lanjut Retno, waktu pelatihan guru untuk kurikulum pendidikan yang hanya 52 jam perlu ditambah.

    “Bagaimana bisa materi kurikulum pendidikan 2013 yang sangat kompleks hanya diajarkan dalam waktu 52 jam?” kata Retno.

    Penyakit utama dunia pendidikan Indonesia, kata dia, berada pada kualitas guru, namun pemerintah tidak pernah memberikan pelatihan yang sungguh-sungguh.

    “Jika guru tidak berkualitas, maka siswanya juga tidak akan berkualitas,” katanya. [gus]
    Ada Gap Antarkurikulum Pendidikan
    Rachmad Faisal Harahap
    Rabu, 20 Maret 2013 17:50 wib

    Ilustrasi: ist.
    JAKARTA – Pemerintah optimistis kurikulum 2013 akan menjadi solusi atas berbagai persoalan pendidikan di Indonesia. Tetapi, berbagai pihak pesimistis. Pasalnya, kurikulum yang saat ini berlaku saja belum sepenuhnya diterapkan maksimal. Padahal, kurikulum baru yang akan diterapkan Juli mendatang itu digadang-gadang menjadi konsep kurikulum yang ideal.

    Guru Besar Psikologi Pendidikan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Prof. Dr. Conny R Semiawan menyatakan, saat ini dalam kompetensi kurikulum belum sepenuhnya merujuk pada pendidikan karakter. Dengan kata lain, ujar Conny, belum menghasilkan keterampilan sesuai kebutuhan.

    “Akan ada kesenjangan kurikulum antara kurikulum yang saat ini dipakai dengan kurikulum baru. Materi pembelajaran belum relevan kebutuhan, sedangkan proses pembelajaran berorientasi buku teks,” kata Conny, dalam Focus Group Discussion Bidang Pendidikan Politik dan Kebudayaan, di kantor DPP Partai NasDem, Jakarta Pusat, Rabu (20/3/2013).

    Conny menyarankan, sebaiknya penerapan kurikulum 2013 ditunda mengingat belum ada persiapan yang matang. Hal ini bisa mengacu pada ketidaksiapan guru-guru karena proses implementasi kurikulum baru yang terlalu cepat dan tergesa-gesa.

    “Evaluasi dulu dari pembelajaran kurikulum sebelum-sebelumnya. Sesuai pedoman pelaksanaan, butuh beberapa tahun untuk kurikulum baru. Kemudian perbaiki dari suatu konsep akademis, tidak cukup hanya berbulan-bulan supaya mutu guru meningkat,” imbuhnya.(rfa)
    Mempersoalkan Kurikulum 2013
    Posted on March 17, 2013 by Bincang Edukasi
    Oleh: Johannes Sumardianta, Guru SMA Kolese de Britto, Yogyakarta
    Dimuat di Koran Tempo, 14 Maret 2013

    Johannes Sumardianta
    Sejak zaman Orde Baru hingga sekarang, telah terjadi empat kali perubahan kurikulum: kurikulum 1975, kurikulum Cara Belajar Siswa Aktif 1984, kurikulum 1994, Kurikulum Berbasis Kompetensi 2004, dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006. Tahun ini pemerintah berencana menerapkan kurikulum baru 2013. Mengapa kurikulum harus diubah? Mutu murid Indonesia dalam banyak bidang berada di bawah mutu siswa negeri lain. Perbaikan harus diadakan dalam isi dan metode pengajaran. Guru harus ditingkatkan kualitasnya.
    Kurikulum 2013 hendak memanfaatkan momentum yang disebut periode “bonus demografi” (2010-2035) saat penduduk produktif dominan. Pada masa “emas” ini perubahan harus diadakan sebelum terlambat saat tenaga produktif menyusut. Manusia Indonesia dalam Kurikulum 2013 ditekankan dalam hal kompetensi dan kreativitasnya.
    Inilah fakta di lapangan dari empat kali perubahan kurikulum sebelumnya. Praksis kurikulum tergelincir menjadi sekadar urusan tersier jual-beli buku pelajaran, administrasi persekolahan, dan ujian nasional (UN). Pihak yang mengambil manfaat paling besar sesungguhnya para penerbit buku pelajaran dan LKS. Kurikulum baru belum dirilis, para wiraniaga penerbit buku pelajaran sudah bergerilya menawarkan produk sesuai dengan kurikulum 2013. Itulah yang membuat setiap kali ada pembaruan kurikulum, para guru adem ayem. Tidak tampak risau, apalagi greget. Format peranti mengajar, seperti silabus, program semester, dan rencana pembelajaran, disediakan penerbit buku sebagai suplemen. Para guru tinggal mengetik ulang dan memoles sedikit agar sesuai dengan kebutuhan sekolah tempat mengajar. Guru lain tinggalcopy-paste (salin-tempel).
    Sehebat apa pun kurikulum baru, hasilnya bisa ditebak. Mayoritas guru tetap mengajar dengan langgam konvensional. Para murid tetap jenuh total. Kurikulum, mau diubah-ubah seperti apa, ujung-ujungnya tetap UN. Begitulah lingkaran setannya. Kapan ada lingkaran malaikat? Saatnya ujian akhir dikembalikan ke sekolah masing-masing, tidak dimonopoli pemerintah. Ujian sekolah akan membuat sekolah kreatif mengkreasikan kurikulum. UN mengurung pendidikan dalam mekanisme “perangkap pecundang sekolah kandang”.
    Setiap ada pembaruan kurikulum, hasilnya involutif (mungkret) dan kontra-produktif (tidak kena sasaran). Departemen Pendidikan sebaiknya berubah menjadi Departemen Sekolah saja. Pendidikan absen karena berfokus pada kegiatan instruksi guru kepada murid dalam kelas. Pendidikan telah merosot sekadar pelatihan menjadi bodoh. Pendidikan terperangkap materialisme kurikulum.
    Makna pendidikan direduksi sebagai serangkaian aktivitas memindah materi buku ajar. Sibuk mengurusi memori otak pada taraf primitif: menghafal materi pelajaran guna menghadapi UN. Esensi pendidikan sebagai kegiatan menuju kematangan, kedewasaan, dan kepribadian murid dikerjakan sambil lalu. Pengolahan bakat (memori otot) individual seolah hanya menjadi urusan sekolah kejuruan. Siswa berbakat justru sengsara jika studi di sekolah umum.
    Kurikulum, yang terbelenggu pabrikan buku dan ujian nasional, didominasi ranah kognitif sebagai simbol prestasi tertinggi. Bidang studi tetap banyak, standar isi sangat berat, mendewakan matematika-IPA, dan mengabaikan humaniora-sastra. Proses belajar-mengajar di kelas menegangkan, hingga membuat murid mengalami down-shifting. Input murid kualitas santan, output malah bisa jadi ampas. Paradigmanya masih beranggapan ada anak yang bodoh dan tidak punya potensi apa pun.
    Metode mengajar guru akan terus bercorak indoktrinatif. Strategi mengajar didominasi ceramah dengan fokus mengerjakan soal-soal berpikir tingkat rendah guna mempersiapkan UN. Guru mengajar, bukan murid belajar. Mengagungkan ends values (hasil akhir) bersifat ambisius, materialistis, logis, dan individualistis. Guru tak ubahnya gladiator pembunuh minat, bakat, dan kecerdasan majemuk murid. Perkembangan murid direduksi dalam peringkat (ranking). Murid dipertarungkan dengan murid lain.
    Kurikulum yang belum bisa bebas dari kartel industri buku dan UN mereduksi kehidupan siswa yang kompleks dan kaya potensi menjadi kumpulan skor, persentase, dan nilai. Standar misterius mengharuskan sekian persen siswa mengalami kegagalan. Murid digeneralisasi secara seragam. Pembelajarannya ekstrinsik dan berlomba memperoleh skor tertinggi.
    Kurikulum memerangkap para guru menjadi manusia bermental kandang, sehingga kurang kreatif dan malas berinisiatif. Mereka bekerja berdasarkan inisiatif pimpinan. Program sertifikasi guru hanya mengangkat status sosial guru. Guru hanya masuk zona comfortable karena terpenuhi kebutuhan materialnya. Pada umumnya guru bersertifikat pendidik perilakunya masih menunjukkan guru medioker dan superior. Kerja mereka ceramah dan memperagakan kewibawaan. Mayoritas guru bukan guru terpuji yang mudah dipahami. Bukan pula guru inspiratif yang sadar profesi utamanya mendidik, bukan semata mengajar.
    Para guru belum terbiasa melayani murid dengan beragam gaya belajar. Metode mengajar belum multi-strategi. Mereka belum menjadi lentera jiwa yang lebih banyak melayani dan mendengarkan. Mereka suka mengindoktrinasi, menghakimi, dan menjadi agen penerbit buku.
    Pendidikan (bukan persekolahan) mestinya menawarkan pengalaman menarik, aktif, hidup, dan membahagiakan; membangun lingkungan yang memberikan kesempatan sama bagi setiap murid untuk berhasil; memungkinkan guru mengembangkan kurikulum bermakna dan melakukan penilaian dalam konteks program tersebut.
    Penilaiannya didasari proses berkesinambungan, sehingga menghasilkan gambaran akurat tentang prestasi murid; memperlakukan murid sebagai pribadi otentik; mementingkan proses sekaligus hasil akhir. Mencakup kecakapan berpikir tingkat tinggi. Memotivasi pembelajaran sebagai sesuatu yang memang substansial. Membandingkan siswa hanya dengan pencapaian mereka sendiri dari masa sebelumnya.
    Kurikulum esensial mengarah pada inti kecerdasan: problem solving, character building, life-skill, dan pelbagai kegiatan yang membuat murid bahagia belajar. Juga mengutamakan means values (proses nilai) seperti integritas, kejujuran, tanggung jawab, kesetaraan, dan kepedulian. Itu sebabnya, kurikulum 2013 harus dibebaskan dari kartel industri buku pelajaran dan UN.
    Kurikulum 2013: Tergesa-gesa dan Penuh Tanda Tanya
    Posted on February 26, 2013 by Iwan Syahril

    Sumber: salindia uji publik Kurikulum 2013
    Cukup dinamis memang perubahan kurikulum pendidikan di Indonesia. Dalam waktu 10 tahun terakhir saja sudah ada tiga kurikulum: kurikulum berbasis kompetensi, kurikulum tingkat satuan pendidikan, dan kurikulum 2013. Para pengambil kebijakan kita sepertinya percaya bahwa perubahan kurikulum akan berdampak signifikan terhadap perubahan kualitas pengajaran dan pembelajaran. Jadi ketika sistem pendidikan dinilai tidak bekerja dengan baik, maka kurikulum nasional perlu diubah. Namun sudah bermacam kurikulum silih berganti, kenapa kualitas pendidikan nasional masih tak kunjung membaik? Sayangnya, tidak pernah dijelaskan bagaimana evaluasi kurikulum sebelumnya dilakukan dan apa hasilnya. Apa yang sudah berjalan baik, apa yang perlu diubah, dan bagaimana kurikulum baru memfasilitasi perubahan yang diinginkan tersebut? Dan sekarang pun kita masih terjebak pada keyakinan keajaiban sebuah kurikulum. Mudah-mudahan kurikulum 2013 ini memang ada daya magisnya, namun jika keliru tak hanya triliunan rupiah yang melayang, namun kesempatan memanfaatkan bonus demografi pun hilang.
    Saya termasuk pihak yang skeptis dengan kurikulum baru ini. Ada sejumlah alasan. Pertama, berbagai studi sudah membuktikan bahwa perubahan kurikulum tidak serta merta membawa perubahan pada kualitas belajar mengajar. Kurikulum bukanlah faktor penentu peningkatan kualitas pendidikan. Salah satu studi terkini, berjudul The Learning Curve (2012), meneliti faktor-faktor keberhasilan sistem pendidikan di berbagai negara sama sekali tidak menyebutkan kurikulum sebagai faktor utama. Studi tersebut menyimpulkan bahwa kualitas guru dan kualitas budaya pendidikan adalah dua elemen yang paling penting. Untuk menjaga kualitas guru negara-negara seperti Korea Selatan dan Finlandia memiliki sistem rekrutmen, pendidikan, dan kompensasi guru yang sangat baik sehingga profesi guru menjadi salah satu profesi idaman siswa-siswa unggul. Budaya pendidikan yang baik dibentuk dengan menekankan integritas dan profesionalitas seluruh praktisi dan birokrat sistem pendidikan dan dengan komitmen terhadap keadilan sosial. Akses pendidikan berkualitas dijamin untuk seluruh warga negara tanpa kecuali.
    Alasan kedua, seperti sudah banyak disampaikan pengamat lain, saya pun mempertanyakan isi kurikulum 2013 itu sendiri. Misalnya pencampuradukkan kompetensi disiplin ilmu dan kompetensi karakter. Memang dalam setiap mata pelajaran nilai-nilai moral dan karakter dapat diterapkan, namun seharusnya tidak menjadi bagian dari kompetensi disiplin ilmu yang bersangkutan. Kompetensi disiplin ilmu dijelaskan sesuai dengan landasan filosofis dan tradisi keilmuan disiplin yang bersangkutan, tidak asal–asalan menambahkan kompetensi saja. Seharusnya kementerian pendidikan dan kebudayaan mempelajari dengan benar bagaimana pendidikan moral dan karakter dilakukan di negara-negara yang sudah berhasil melakukannya. Apa mereka melakukannya seperti yang dirancang di kurikulum 2013?
    Asumsi bahwa penambahan porsi pendidikan moral dan karakter akan membawa perubahan pada perilaku moral dan karakter peserta didik juga sangat bermasalah. Jika benar demikian, kurikulum 1975, 1984, dan 1994 mungkin sudah sangat berhasil menjadikan Indonesia bangsa yang bebas korupsi karena banyak sekali mata pelajaran yang menekankan nilai-nilai moral dan karakter seperti Pendidikan Moral Pancasila, Pendidikan Agama, Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa, Ilmu Pengetahuan Sosial, dan sejumlah Penataran P-4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) di berbagai level. Jika nilai rapor mata pelajaran Agama dan Pendidikan Moral Pancasila merah, maka siswa tidak boleh baik kelas. Logikanya, rentetan dan tuntutan banyak mata pelajaran dan pelatihan ini seharusnya sudah lebih dari cukup dalam membentuk moral dan karakter yang baik. Namun kenyataannya tidak demikian. Korupsi, kolusi, dan nepotisme masih belum hilang, malah sekarang makin menjadi di era reformasi. Kunci keberhasilan pendidikan moral dan karakter sebenarnya terletak keteladanan dari para pemimpin formal dan informal di masyarakat. Dan keteladanan moral dan karakter saat ini cukup langka bahkan di kalangan guru dan aparat kementrian pendidikan dan kebudayaan. Berbagai cerita kecurangan dalam ujian, termasuk ujian nasional, bisa jadi salah satu contoh keruntuhan nilai moral dan karakter dalam sistem pendidikan nasional. Yang jujur justru yang dikucilkan, disingkirkan dan diberi hukuman sosial. Jika ini masih terjadi percuma saja pendidikan karakter kita apapun bentuknya.
    Kemudian ide peleburan IPA dan IPS ke dalam mata pelajaran lain seperti Bahasa Indonesia cukup mengkhawatirkan pula. Argumen yang sering dikemukakan pemerintah menarik: anak-anak Indonesia terbebani oleh mata pelajaran yang terlalu banyak, jadi perlu pengurangan jumlah mata pelajaran. Saya pada dasarnya sepakat dengan perlunya pengurangan beban pelajaran anak-anak kita. Namun langkah ini tidak bisa dilakukan dengan gegabah. Saat ini tidak jelas kenapa IPA dan IPS yang perlu dihapus dan dlebur ke pelajaran lain, serta bagaimana peleburan tersebut dilakukan dalam tataran praktik. Tidak jelas pula apa landasan keilmuan dan studi komparatif yang digunakan dalam menjelaskan model peleburan tersebut. Jika argumen pemerintah memang benar, bahwa model pembelajaran tematik, integratif dan kontekstual (TIK) yang akan dilakukan dalam peleburan tersebut, maka sesungguhnya tidak ada yang berubah selain kenyataan bahwa IPA dan IPS dihapus dari daftar mata pelajaran. Model pembelajaran TIK seharusnya tidak menghapus kompetensi mata pelajaran yang diintegrasikan. Hitungan sederhananya, jika ada 10 mata pelajaran dan masing-masing memiliki 5 kompetensi (total 50 kompetensi), maka sekarang mata pelajaran dikurangi menjadi 5 mata pelajaran, dan masing-masing memiliki 10 kompetensi (total 50 kompetensi). Jika demikian, apa yang berubah? Yang ada hanya guru menjadi bingung karena peleburan membutuhkan keterampilan mengajar yang lebih kompleks, dan jika guru bingung, siswa pun ikut bingung.
    Alasan ketiga, argumen bahwa kurikulum 2013 meringankan beban guru karena guru tidak perlu membuat silabus sungguh mencengangkan. Sebuah langkah mundur dalam reformasi pendidikan yang bertentangan dengan reformasi peningkatan kualitas guru yang sedang dilakukan. Guru harusnya terus diberdayakan dan dilatih untuk mampu berpikir, berinovasi dan berkreatifitas dalam mengajar. Argumen guru menjadi lebih baik dengan menggunakan silabus yang siap pakai menunjukkan asumsi bahwa guru tidak mampu dan tidak dipercaya sebagai seorang profesional. Paradigma berpikir seperti ini mirip dengan praktik jaman orde baru: guru adalah hamba birokrasi dan hanya menjalankan instruksi saja. Jika memang masih banyak terjadi guru tidak dapat menyusun silabus, yang perlu dilakukan justru meningkatkan kualitas dan kuantitas pelatihan dan pendidikan guru. Sebenarnya kita juga perlu mengevaluasi bagaimana keberhasilan metode pelatihan dan pendidikan guru yang telah terjadi karena sudah banyak inisiatif yang dilakukan sejak UU No.14 tahun 2005 (UU Guru dan Dosen) dilahirkan. Saat ini tidak jelas apa dampak yang dihasilkan pelatihan dan pendidikan guru terhadap kualitas pengajaran dan kualitas pendidikan secara keseluruhan. Sepertinya secara umum cara mengajar guru-guru kita tidak banyak perubahan dan peningkatan. Jika metode pelatihan dan pendidikan guru yang sama yang digunakan dalam menyiapkan guru dalam menjalankan kurikulum 2013, hasilnya akan kembali mengecewakan.
    Alasan keempat, sekolah yang berakreditasi bagus akan didahulukan karena mereka lebih siap. Sebuah langkah yang sebenarnya logis. Sayangnya, langkah ini akan semakin memurukkan sekolah-sekolah yang sudah tertinggal. Jika benar kurikulum 2013 ini bagus, maka sekolah yang sudah maju akan semakin maju karena mereka didahulukan dalam menerapkan kurikulum ini, dan sekolah yang tertinggal akan semakin tertinggal karena mereka tidak menjadi prioritas. Hal ini mirip dengan logika pemilihan sekolah-sekolah RSBI dimana sekolah-sekolah yang sebenarnya sudah unggul terpilih menjadi sekolah RSBI. Sekolah-sekolah ini kemudian mendapat dana RSBI dan boleh menggalang dana tambahan dari orang tua disamping dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah), sementara sekolah-sekolah non RSBI hanya boleh mengandalkan dana BOS, tak boleh ada pungutan. Praktik seperti ini tidak sesuai dengan prinsip keadilan sosial.
    Terakhir, berbagai hal-hal mengindikasikan ketergesa-gesaan pemerintah dalam menerapkan kurikulum 2013 ini. Mulai dari tidak adanya dokumen final resmi kurikulum pada saat sosialisasi mulai dilakukan, anggaran kurikulum yang berubah-ubah, asumsi satuan buku dari 42 ribu per buku kemudian menjadi 8 ribu per buku sesudah mendapat kritik, hingga pelatihan guru masal dalam waktu singkat hanya beberapa bulan sebelum tahun ajaran baru dimulai. Ketergesa-gesaan ini mengisyaratkan ketidakmatangan perencanaan dan penerapan kurikulum 2013.
    Para pengambil kebijakan pendidikan Indonesia berargumen bahwa kurikulum 2013 perlu segera dilaksanakan untuk menggapai masa depan bangsa yang gilang gemilang. Wakil Presiden Boediono dan Menteri Pendidikan Muhammad Nuh menggunakan argumen bahwa di tahun 2010-2035 Indonesia memiliki penduduk usia produktif yang sangat besar dan jika dimodali sikap, keterampilan dan pengetahuan yang baik, maka bonus penduduk ini akan mampu menggerakkan ekonomi nasional dan membawa kesejahteraan bangsa. Tentunya tidak ada yang akan membantah bahwa pendidikan memegang peranan penting dalam menentukan masa depan bangsa. Namun pendidikan seperti apa? Apakah pendidikan seperti diasumsikan oleh kurikulum 2013?
    Kurikulum 2013 adalah kurikulum yang tergesa-gesa dan penuh tanda tanya. Jika kita ingin meningkatkan mutu pendidikan nasional kita seharusnya paham dari berbagai studi dan pengalaman kita sendiri bahwa perubahan kurikulum sebenarnya bukan hal yang terpenting. Banyak elemen lain yang perlu diperbaiki seperti peningkatan kualitas rekrutmen, pendidikan, dan pelatihan guru, perbaikan sarana dan prasarana sekolah terutama sekolah non unggulan yang termaginalkan oleh proyek RSBI, serta pembentukan budaya profesional yang penuh integritas di seluruh jajaran birokrasi dan praktisi pendidikan nasional. Kurikulum 2013 justru makin memundurkan upaya peningkatan profesionalitas guru serta hanya akan memperlebar kesenjangan sekolah unggulan dan marginal. Lalu ketidakjelasan landasan filosofis dan keilmuan berbagai elemen isi, dan strategi implementasi kurikulum 2013 juga patut menjadi kekhawatiran kita karena fondasi yang tidak kuat hanya akan menciptakan keruntuhan dan semuanya pun berantakan. Karena itu, tidak jelas sebenarnya bagaimana kurikulum 2013 dapat menciptakan proses pendidikan yang berkualitas dan mencetak generasi emas seperti yang didengung-dengungkan. Yang ada hanya potensi kebingungan kompleks berbagai pihak dan potensi kemunduran proses reformasi pendidikan nasional. Ujung-ujungnya duit terbuang, kesempatan hilang, dan kualitas pendidikan nasional makin terpuruk. Dan ketika proses pengambilan dan penerapan kebijakan kurikulum ini dilakukan secara tiba-tiba dan tergesa-gesa yang ada hanya tanda tanya. Kenapa tiba-tiba dan tergesa-gesa? Dan siapa yang sebenarnya diuntungkan dengan kurikulum 2013 ini? Guru, siswa, orang tua, penguasa, pendidikan Indonesia, masa depan bangsa, atau hanya pihak-pihak yang mendapat kucuran dana dari proyek kurikulum ini? Mungkin hanya waktu yang bisa menjawabnya seperti halnya proyek RSBI. ***
    “Kurikulum 2013″ oleh Prof. Daniel M. Rosyid
    Posted on November 28, 2012 by Kreshna Aditya
    KURIKULUM 2013: Merencanakan Kegagalan Pendidikan (Lagi)
    Daniel Mohammad Rosyid
    Penasehat Dewan Pendidikan Jawa Timur
    Saat ini Kemendikbud sedang menyusun Kurikulum baru yang bakal digunakan pada tahun 2013. Uji publik juga sudah dimulai. Upaya ini dilakukan sebagian sebagai respons atas tawuran pelajar dan mahasiswa yang marak, dan sinyalemen keras bahwa kurikulum kita saat ini overloaded, terlalu banyak mata pelajaran yang disajikan di sekolah. Kemudian mata pelajaran IPA dan IPS dihapus di SD, dimasukkan secara tematik dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, Agama, atau Kewarganegaraan. Disinyalir jumlah mata pelajaran yang terlalu banyak telah menyebabkan pembelajaran dangkal, bukan mendalam.
    Dalam draftnya, kurikulum baru ini dikembangkan sebagai bagian dari strategi pengembangan pendidikan tiga dimensi. Dimensi pertama adalah peningkatan efektifitas belajar. Kurikulum dan pelaksananya, yaitu guru, menjadi kunci. Dimensi kedua, meningkatkan lama tinggal di sekolah hingga jenjang SMU melalui program Pendidikan Menengah Universal, atau program Wajib Belajar 12 tahun. Yang ketiga adalah menambah jam belajar di sekolah hingga sore hari. Ketiga strategi ini tentu perlu kita apresiasi. Tulisan pendek ini bermaksud memberi catatan kritis atas strategi tersebut.
    Catatan pertama, ketiga dimensi strategi tersebut saling berkaitan, bukan besaran yang berdiri sendiri. Harus dikatakan bahwa dimensi pertama sesungguhnya adalah strategi yang paling menentukan. Dalam banyak kasus, dimensi kedua dan ketiga justru bisa menghambat dimensi yang pertama. Ini telah ditunjukkan oleh Ivan Illich sekitar 40 tahun yang lalu dan bisa kita amati secara empiris di sekitar kita saat ini : semakin banyak sekolah, semakin lama bersekolah, semakin besar anggaran pendidikan, semakin banyak sarjana, tapi masyarakat tampaknya tidak semakin terdidik.
    Kedua, ada asumsi yang kuat bahwa dimensi kedua, yaitu, semakin lama bersekolah (hingga jenjang sekolah menengah) semakin baik. Lalu semakin lama di sekolah (pulang sore) (dimensi ketiga) juga semakin baik. Asumsi ini hanya valid bila dimensi pertama valid, artinya, pembelajaran terjadi secara efektif. Jika asumsi ini tidak valid, semakin lama seorang murid bersekolah dan di sekolah hingga sore hari, justru semakin buruk akibatnya bagi dirinya. Asumsi-asumsi ini sangat dipengaruhi oleh schoolism yang mereduksi pendidikan sebagai persekolahan belaka.
    Strategi dimensi kedua dan ketiga yang lebih bersifat kuantitatif relatif lebih mudah melaksanakannya. Persoalannya hanya ketersediaan anggaran. Semakin besar anggaran, semakin baik. Sementara dimensi pertama yang lebih kualitatif jauh lebih sulit. Untuk dimensi pertama inilah, praktek pendidikan kita selama ini kedodoran. Artinya proses pembelajaran di banyak sekolah kita tidak berlangsung efektif : tidak membangun karakter dan kompetensi-kompetensi kunci yang diperlukan agar hidup sehat dan produktif.
    Kedodoran itu dibuktikan dengan otak-atik kurikulum yang dilakukan selama ini, termasuk upaya pengembangan kurikulum 2013 saat ini. Kedodoran itu diperparah oleh guru yang tidak kompeten dan budaya sekolah yang tidak meritokratik sebagai pelaksana kurikulum yang mengubah kurikulum yang direncanakan menjadi kurikulum yang terlaksana.
    Pada akhirnya pendidikan yang baik tergantung bagaimana murid belajar sebagai sebuah proses memaknai pengalamannya sehari-hari. Proses memaknai pengalaman itu kemudian ditunjukkan oleh perubahan sikap dan praktek kehidupan sehari-hari yang diteladankan guru dan dibudayakan di sekolah. Sesederhana ini sebenarnya apa yang bisa kita harapkan dari pendidikan : memperbaiki praktek kehidupan sehari-hari, bukan untuk menjuarai lomba-lomba sains, atau lulus Ujian Nasional.
    Perbaikan mutu pendidikan ini dengan demikian sesungguhnya tergantung pada kualitas guru dan budaya sekolah di mana murid mengalaminya sebagai bagian dari kehidupannya sehari-hari, bukan sekedar menjelang ujian-ujian. Jika kualitas guru seburuk saat ini, dan budaya sekolah sebirokratis saat ini, lama bersekolah justru semakin menggerogoti kemandirian dan imajinasi, bahkan juga mengasingkan murid dari kehidupan nyata sehari-hari. Sekolah menjadi ladang pembantaian inovasi, tempat yang pengap bagi beragam ekspresi multi-ranah multi-cerdas murid-muridnya.
    Yang kita butuhkan saat ini bukan perubahan kurikulum, tapi perubahan guru dan budaya belajar. Guru harus menjadi sosok yang mandiri dan teladan manusia merdeka yang tidak mudah diintimidasi oleh birokrat.pendidikan dan wali murid. Pembinaannya harus dilakukan oleh organisasi profesi guru, bukan oleh Pemerintah. Guru tidak boleh dipandang lebih sebagai pegawai, tapi sebagai profesional yang bekerja dengan berpedoman pada kode etik guru.
    Budaya belajar dapat dikembangkan dengan sederhana. Mulailah dengan membangun budaya membaca yang sehat. Sediakan layanan perpustakaan yang baik, dengan koleksi buku yang bermutu, serta akses internet yang memadai hingga tingkat kecamatan. Kemudian hargai pengalaman dan praktek murid sehari-hari menjadi bagian dari diskusi kelas. Kembangkan budaya menulis, lalu beri kesempatan luas untuk berbicara. Begitulah budaya belajar di sekolah dibentuk. Jadikan sekolah sebagai tempat murid belajar, bukan sekedar tempat guru mengajar, dan statistik kelulusan ujian diukur untuk kepentingan birokrasi.
    Di abad internet ini, belajar semakin tidak membutuhkan sekolah. Yang dibutuhkan adalah sebuah jejaring belajar (oleh Ivan Illich disebut learning web) yang lentur dan luwes. Murid bisa belajar di mana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja. Kurikulum, melalui guru, harus menyesuaikan murid, bukan sebaliknya. Dalam perspektif ini, kita tidak membutuhkan Kurikulum Nasional. Kita butuh standar nasional yang bersifat generik. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sebenarnya sudah cukup baik, namun tidak terlaksanakan oleh guru yang kompeten yang berani secara kreatif merancang proses pembelajaran yang paling sesuai bagi murid-muridnya. Saya khawatir ikhtiar Kemendikbud kali ini akan sia-sia (lagi) dan Kurikulum 2013 akan menjadi perencanaan kegagalan pendidikan dan kita bakal menuai tagihan demografi, bukan bonus demografi.***
    This entry was posted in Blog and tagged daniel rosyid, kurikulum, kurikulum 2013, pendidikan, ujian nasional by Kreshna Aditya. Bookmark the permalink.

    About Kreshna Aditya
    Kreshna Aditya adalah inisiator Bincang Edukasi. Ia mengajak beberapa rekannya untuk menginisiasi Bincang Edukasi sejak 2011 sebagai wahana jejaring, amplifikasi dan kolaborasi untuk berbagai inisiatif dan gerakan pendidikan di tingkat akar rumput. Kreshna percaya pendidikan Indonesia sedang bangkit, dan kebangkitan itu dimulai dari masyarakat yang mulai sadar bahwa pendidikan adalah urusan semua orang.
    View all posts by Kreshna Aditya →
    41 THOUGHTS ON ““KURIKULUM 2013″ OLEH PROF. DANIEL M. ROSYID”
    41 THOUGHTS ON ““KURIKULUM 2013″ OLEH PROF. DANIEL M. ROSYID”
    1. Budi on December 3, 2012 at 11:24 pm said:
    Pak dalam Latar belakang Pedoman kegiatan Pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB)yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan pada aliena dua di situ dijelaskan “Dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kuat tuntas dan tidak setengah-setengah serta …..maka diharapkan guru terampil membangkitkan minat peserta didik untuk berkembang dan mengarungi dunia ilmu pengetahuan dan teknologi yang cepat berubah sebagai ciri dari masyarakat abad 21…,
    Melihat kutipan diatas saya bertanya dan heran kenapa Mata Pelajaran Teknologi Informasi & Komunikasi di jenjang SMP dihapuskan?
    Reply ↓
    o Firmanon January 11, 2013 at 11:39 am said:
    Sampai saat ini juga belum ada kejelasan tentang mapel TIK bagi siswa masih masuk ke mulok apa memang dihapus juga belum jelas trs maunya pemerintah ( kemendikbud ) main hapus padahal ranah mapel TIK itu buat siswa, sementara KBM menggunakan IT itu pengembangan dari model pembelajaran. Jangan campur aduk antara kebutuhan siswa dengan model PBM berbasis IT.
    Reply ↓
    2. thopan on December 14, 2012 at 9:07 am said:
    Iya memang benar pendidikan kita ini adalah pendidikan proyek para oknum2 pejabat pendidikan.
    Kalau menurut pendapat saya, pendidikan kita menjadi makin terpuruk ketika biaya pendidikan mulai digratiskan. ini mengakibatkan kehancuran moral massal. Mulai dari orang tua tidak mau mengiraukan lagi tentang pendidikan anak, cara mengotak-atik bendahara BOS tentang uang yang cair, dan pemerintahpun ikut andil dalam proses pengurangan pencairan dana BOS….Na’udzubillaah.
    Reply ↓
    3. Bambang Pudjo on December 16, 2012 at 8:06 am said:
    sangat sepakat dengan pendapat Prof., selama ini guru diperlakukan sebagai pegawai pendidikan atau tepatnya “jongos pendidikan”, terbukti pembebanan administratif terhadap para guru terlalu berlebihan dan mengada-ada yang tidak menjurus ke arah profesional dengan dalih sertifikasi dan lain sebagainya.Sehingga waktu guru leboh banyak disedot untuk menyelesaikan puluhan komponen administratif yang sesungguhnya tidak terlalu relevan dengan tugas profesionalnya.
    Reply ↓
    o Dedeon January 2, 2013 at 12:46 pm said:
    alah-alah … katanya kita harus siapkan siswa agar dpt BERSAING & BERKARAKTER dlm era abad baru, tp TIK sbg salah satu mapel pendukung kesiapan siswa malah dihilangkan, agar siswa punya karakter, tp BAHASA DAERAH jg dihilangkan … dan sayangnya banyak komentar miring tp tetap PEDE… entah mau dibawa kemana PENDIDIKAN INDONESIA ini …
    Reply ↓
    4. heri suprapto on December 17, 2012 at 9:56 pm said:
    menurut aku kalau cuma mau memasukkan kepramukaan saja tidak usah merubah kurikulum baru kenapa apa kurang afdhol kalau tidak merubah kurikulum, karena dalam sekolah atau madrasah mati hidupnya suatu lembaga pendidikan harus hidup dulu kurikulumnya, sebab arah penunjang semuanya
    Reply ↓
    5. Wakhida Nurhayati on December 18, 2012 at 7:54 am said:
    Miris mmg dg dunia pendidikan kita. Sy sbg praktisi, mengindera langsung bahwa mmg paradigma para pengambil kbijakn dan guru yg hrs diubah. Mrk adl para agent of change, bukan sosok yg seharusnya gampang disetir sekedar jalankn proyek.
    Reply ↓
    6. arie_0571 on December 18, 2012 at 8:05 am said:
    Saya sepakat dengan Pak Prof tentang dimensi kedua bahwa walaupun siswa berada di sekolah lebih lama namun bila proses belajar yang semestinya tidak berjalan maka tidak akan menjawab permasalahan,bahkan akan membuka peluang untuk terjadinya prilaku yang aneh-aneh dikalangan siswa (mbolos,tawuran, pelecehan seksual dll) menurut saya permasalahan yang patut mendapat perhatian kita bersama mestinya bagaimana meningkatkan kompetensi guru dalam pelaksanaan tugas-tugasnya serta merubah kultur di satuan pendidikan agar lebih fokus kepada proses dan pembentukan karakter(perubahan prilaku kognitif, afektif dan psikomotor) bukan hanya sekedar mengejar output dengan data yang dimanipulasi(hasil UN). Ketika guru sudah memiliki kompetensi yang lengkap maka diupayakan penjaminan terhadap tugas-tugas guru sehingga intimidasi dari orang tua siswa, masyarakat serta para birokrat dapat dihapuskan, sehingga guru betul-betul dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran serta memberi penilaian sesuai rambu-rambu yang ada. Motivasi siswa kembali meningkat dengan memberlakukan “reward dan funishment”. Yang terakhir mengangkat para kepala-kepala sekolah yang betul-betul kompeten bukan hanya sekedar melihat kedekatan hubungan dengan para penguasa. Kami merindukan suasana dunia pendidikan 30 tahun silam dimana “kompetensi” benar-benar diperhitungkan..!
    Reply ↓
    7. Saiman on December 21, 2012 at 10:54 am said:
    IPS dan IPA SD diintegrasikan ke mana (Bahasa ya..) Mulok SMP di integ ke Seni Budaya dan PJOK, Seni Budaya – PJOK dari Kelompok A jadi B. Kaaah ini lagu lama yang berjudul GANTI KULIT proyek.
    Reply ↓
    8. junaedi on December 23, 2012 at 9:30 am said:
    Apapun perubahan kurikulum yang akan diterapkan, keteladanan adalah metode pembelajaran guru yang terbaik, bagaimana yang itu akan terwujud jika umaro’ dan ulamanya saling berebut kekuasaan, ulama cenderung tertarik kepada kekuasaan, bahkan di sinyalir banyak ulama ikut campur tangan dalam kebijakan-kebijakan di salah satu kementerian, sehingga banyak yang terjadi adalah DUK tidak berjalan, tetapi yang berjalan adalah DUK (daftar usulan kyai), ini suatu bukti semakin miskinnya keteladanan, tidak akan maju bangsa ini jika rekuitmen pegawai dan jabatan hanya atas like and dislike. Janganlah hal ini diteruskan karena akan menghancurkan bangsa ini secara pelan dan pasti. Berilah bangsa ini keteladanan maka Insya Allah akan ada perubahan terhadap nasib bangsa ini
    Reply ↓
    9. LA ODE ALFA on December 25, 2012 at 12:12 am said:
    UU No. 20/2003 pasal 1. 19 “Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu”.
    Pendapat saya, kata kuncinya adalah “KURIKULUM SEBAGAI PEDOMAN”.
    Dalam hal ini bahwa sekolah harus memiliki kurikulum (pedoman) yang disusun dengan baik dan seluruh personil pengelola dan pelaksana menguasai/memahami isi kurikulum tersebut dengan baik pula. Fakta dan kondisi nyata saat ini di sebagian daerah banyak sekolah yang kurikulum, silabu, RPP dll-nya sejak disusun pertama hingga saat ini tidak pernah dikembangkan, bahkan ada sekolah yang tidak memiliki kurikulum karena kurikulum yang pertama dibuat sudah tdak ditemukan lagi.
    Di sekolah yang keadaannya seperti ini disebabkan : 1)Kepala sekolah belum memnuhi standar kompetensi yang disyaratkan sehingga manajemen sekolah tidak optimal, kepala sekolah diangkat bukan hasil proses seleksi sesuai Permendiknas No. 13/2007 dan No. 28/2010 melainkan hasil dari peran Pilkada walaupun guru tersebut karirnya tidak jelas, 2)Sebagian guru bersikap apatis karena tidak ada pemberian penghargaan terhadap guru yang kreatif/berprestasi, 3)Tidak adanya pembinaan (diklat/workshop) untuk meningkatkan kompetensi kepala sekolah, guru dan TU yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah, 4)Supervisi oleh pemerintah daerah tidak terlaksana sebagaimana mestinya, dan hasil supervisi pengawas sekolah tidak digunakan untuk bahan dalam menentukan kebijakan pengkatan mutu pendidikan.
    Kesimpulan saya, bahwa sebaik-baiknya kurikulum dibuat, tidak akan menjanjikan atau menjamin tercapainya tujuan pendidikan yang ideal, melainkan: 1) Rekruitmen kepala sekolah harus melalui seleksi dan pelatihan serta uji kompetensi agar kepala sekolah dapat memahami, menguasai dan melaksakan kewajiban serta tanggung jawabnya, 2)Pemerintah daerah dalam menetapkan kebijakan yang berhubungan dengan pendidikan harus mengacu/mempedomani regulasi pemerintah pusat terutama memenuhi kewajiban pemerintah daerah.
    Reply ↓
    10. Lusi Hapsari on December 26, 2012 at 5:51 pm said:
    Membaca tulisan ini saya jadi teringat sebuah tayangan dokumenter tentang pendidikan di Amerika yang banyak diklaim sangat maju namun pada kenyataannya memiliki problematika yang sama yaitu menemukan pendidik yang kompeten dan profesional serta beretika. Menurut saya daripada mengotak-atik kurikulum apa tidak seyogyanya dana sebesar itu digunakan untuk pembenahan kualitas tenaga pendidik dan fasilitas pendidikan yang memadai seperti yang ditulis oleh BApak. Namun harus kita akui bahwa sebagai pendidik seringkali tidak mudah untuk mengubah paradigma yang mana menjadikan pembelajaran sebagai sarana untuk menanamkan nilai dan mengembangkan keahlihan hidup (life skill). Sepertinya dimensi kedua dan ketiga nampak seperti langkah ‘gopoh’ dan reaktif atas maraknya tawuran dan pelecehan nilai di masyarakat. Tidakakah siswa akan menjadi sperti tahanan?
    Reply ↓
    11. nurkholis on December 26, 2012 at 6:32 pm said:
    ada satu pertanyaan dasar…bahwa apakah kurikulum ini sudah menyetuh akar permasalahan pendidikan di Indonesia. Kalau cuma sekedar proyek tentunya kurikulum ini perlu dipertanyakan. Apakah yang membuat kurikulum memang orang yang kompeten dan masuk dalam lingkaran pendidikan selama ini
    Reply ↓
    12. Fachrur Rozi on December 27, 2012 at 5:10 am said:
    Teman-temanku Se Profesi Pendidikan, marilah kita Hijrah dari Kenyamanan yang selama ini mungkin tidak disadari telah membelenggu ketidakberhasilan kita. Mari bersama Evaluasi Diri untuk lebih baik, selalu husnudzon dengan arah kebijakan dan siapkan sumbangsih apa yang bisa kita berikan nantinya untuk mencerdaskan bangsa ini.
    Reply ↓
    13. bakhtiar on December 30, 2012 at 4:47 am said:
    ok prof. permasalahan mendasar adalah sikap profesionalisme guru yang belum profesional. tetapi jika menilik dari hasil UKG online, ternyata rata-rata kompetensi guru yang sudah bersertifikasi seluruh indonesia masih dibawah nilai 5. artinya nilai tersebut belum diatas nilai minimal kelulusan siswanya. hal ini juga terkait dan disebabkan dengan budaya mutu pendidikan yang masih rendah. jika profesionalisme diukur dari pembayaran tunjangan guru,maka mengapa setelah tunjangan ada, prestasi/kompetensi guru semakin rendah. yang meningkat hanya prestise seorang guru yang hidupnya berbeda. peningkatan diri hanya dilihat dari peningkatan kondisi kendaraan yang digunakan, rumah, gaya hidup yang mulai meningkat. tapi peningkatan kompetensi seperti ikut kursus bahasa asing, TIK atau keterampilan lainnya masih kurang. jika disuvei kemana sebagian uang sertifikasi,maka jawabannya masih sama saat belum menerima tunjangan. maka yang harus dirubah adalah budaya mutu dan diawali dari diri sendiri dan dari hal yang kecil. misalnya guru datang paling awal, dan pulang paling akhir di sekolah, selama tidak mengajar coba belajar dan belajar. semoga
    Reply ↓
    14. Rengganis Mipit Asih on January 1, 2013 at 2:25 pm said:
    Saya setuju dengan artikel di atas, alah bahwasannya peningkatan mutu pendidikan, salah satu yang paling urgennya adalah SDMnya baik itu tenaga pendidik ataupun tenaga kependidikan, terkait hal ini tidak menutup kemungkinan pola rekruitmen untuk menjadi tenaga pendidik yang professional dan handal harus melalui tahapan-tahapan yang mengarah kepada sistem eklusifisme seperti halnya di negara-negara yang maju, di mana untuk menjadi seorang guru melalui beberapa prosedur persyaratan, sehingga guru tersebut melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan kelayakan latar belakang pendidikannya yang ia tempuh, karena fakta di lapangan terutama di daerah masih terdapat tumpangtindihnya penerimaan kuota jurusan, akibatnya penumpukkan guru pada mata pelajaran yang sama, ya akhirnya mata pelajaran yang kekurangan gurunya, digantikan dengan guru yang notabene bukan faknya, terjadilah guru tembak.
    Reply ↓
    15. ayun. N on January 1, 2013 at 7:18 pm said:
    kurikulum 2013 menjadikan para pelaku pendidikan,yaitu pendidik dan tenaga kependidikan menjadi ambigu,arah kurikulum baru ini sedikit tidak jelas, ketidak jelasannya karena sedikit tidak seaarh dengan tujuan pendidikan seutuhnya, kalau-kalau kurikulum baru ini hanya sekedar mengakomodir fakta pelajar sebagai fakta sosial yang selama ini membuat kebingaran yang bersifat lokalitas, atau hermiuniotif kegagalan beberapa pihak pemegang kebijakan di negeri ini, lalu kurikulum menjadi berubah, nasip dunia pendidikan memiliki andil dalam fenomenologis dalam segala peristiwa di negeri ini.Bukankah pelajar itu adalah anak-anaknya para orang tua ???, kalau klaim itu diamini, lalu tidak serta merta kuri kulum diubah, dubuat sesuai dengan kebutuhan pihak-pihak tertentu, naip memang kalau perubahan kurikulum sesuai dengan egoisme belaka,tidak dilihat holistic. Kurukulum KBK, KTSP yang selama ini sedan berjalan belum teruji, belum dapat menghasilkan yg refresentatif, masih ada renovasi, yaaa semestinya ini di sempubakan terlebih dahulu, lalu sesudah sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan zaman, lalu kita tunggu/menanti hasil para “umar bakri” beraksi dengan apakah hasilnya memuaskan apa tidak ?.,evaluasi penting, baru dipertimbangkan untuk diganti. Secara peribadi fisimistis akan keberhasilan kurikulum 2013 ini, umar bakri banyak yg kebingungan. Semestinya kuri kulum kita bersifat organik, bukan kurikulum an-organik.trims
    Reply ↓
    16. sam sul on January 3, 2013 at 9:46 pm said:
    Yang jelas, para komentator pendidikan kita , baik yg katanya pakar maupun awam menurutku cuma pada PINTER OMONG thok, pada pintar cari kambing hitam dengan menyalahkn sana-sini; sistemyalah yg salah, gurunya tidak bermutu, sarananya tidak lengkap,dan tetek bengek tudingan yg kadang gak jelas. Buktinya ya sampai sekarang pendidikan kita amburadul terus soalnya semua yang mengaku pemerhati pendidikan terlalu sibuk dengan tudang tuding sana-sini, tidak sempat lagi introspeksi. Sekaranglah saatnya DIAM, lakukan tugas masing-masing dan gak usah banyak cing-cong. INTROSPEKSILAH…
    Reply ↓
    17. tato mintardjo on January 3, 2013 at 11:50 pm said:
    saya tidak sepaham jika dikatakan kurikulum 2013 akan memnyebabkan anak pulang makin sore sehingga belajar akan makin baik dan makin efektif. jam belajar memang benar ditambah dengan akibat tidak lagi bisa belajar hanya 5 hari seperti selama ini, melainkan menjadi 6 hari dan pulang tetap siang.
    saya setuju pada penerapan kurikulum 2013 karena ditekankan pada proses belajar dan tidak lagi melulu hasil belajar. selain itu penilaian tidak bertitik berat pada ulangan dan ujian tetapi portofolio siswa dan terutama sikap siswa yang dituntut dalam kompetensi inti di tiap pelajaran. cara penilaian seperti ini menurut hemat saya lebih baik daripada apa yang diterapkan selama ini di sekolah-sekolah yaitu melulu penilaian dari sisi kognitif saja lewat ulangan dan ujian yang kesemuanya menciptakan mental mencari jalan pintas yaitu mencontek dan curang.
    Reply ↓
    18. bagiasa on January 4, 2013 at 2:38 pm said:
    Masalahnya Ada pada tenaga pendidik Dan kependidikannya sendiri, terlalu banyak kesenjangan untuk sebuah pendidikan negeri. Manajemen yg diterapkan dari sebagian kepsek yg kurang berpengalaman dan menjabat berdasarkan kedekatan dgn penguasa daerah. Hal ini menimbulkan pro-kontra antara kepsek-guru-dan tenaga kependidikan. Begitu juga dgn penyaluran anggaran Dana oprasional sekolah yg kurang transparan Dan bukan berdasarkan kebutuhan di masing-masing mgmp melainkan ditentukan sendiri oleh pemberi keputusan. Akibatnya media yg semestinya menjadi prioritas kebutuhan pembelajaran malah tidak mendapat perhatian Dan proses pembelajaran sendiri berlangsung apa adanya. Untuk kurikulum yg bentuknya bagaimanapun pasti bisa diterapkan asalkan dari segi media maupun Sarana/ prasarana Yang disediakan minimal ADA dan kuota dari ratio antara pendidik dengan jumlah sisiwa sesuai.
    Reply ↓
    19. sabar santoso on January 4, 2013 at 3:20 pm said:
    menanggapi tentang kurikulum 2013, mohon jangan dibumbui dengan politik, maka sebagi orang penggodong kurikulum itu harus benar-benar tahu tentang kependikan. jangan sampai pengurus olah raga tidak tahu tentang olahraga jadinya PSSI bobrok, Mulok bahasa tolong hati-hati yang membuat (baik bahasa dan kalimat) harus sesuai dengan daerahnya, karna buku SD itu tidak sesuai dengan keberadaan lingkungan (aku wong jawa tengah) tu bahasanya orang jawa timur dak bener tuuuu.. tolooooo ….ng
    Reply ↓
    20. sabar santoso on January 4, 2013 at 3:28 pm said:
    sekarang banyaknya SKM tkj, yang bermunculan dengan muatan lokal yang ngeri lebih banyak perkelas ada 7 lokal, setiap lokal ada minim 38 siswa, jadi tingkat kelulusan tinggal dikalikan, hal ini tidak sesuai dengan dalih program keahlian, tolong ditinjau apakah sudah sesuai dengan lapangan pekerjaan, sesuai dengan angan-angan setiap siswa, apakah hal ini tidak sadar sebagai pembuat kebijakan tentang hasil kependidikan yang selama ini anyaknya siswa yang berangan-angan karena tidak adanya penyeimbang dengan kelulusan,,,,, mohon dipikirkan…apakah dengan sekolah kejuruan bangsa kita akan dibawa berandai-andai….
    Reply ↓
    21. rudi on January 4, 2013 at 10:25 pm said:
    gonta ganti kurikulum kalo sistemnya bobrok ya tetep aja ga maju. Coba lihat raport anak sekarang ada ngga nilai 5?ga ada kan? sekolah berlomba-lomba menaikkan KKM, tapi sebenarnya itu hanya semu. hanya untuk gagah-gagahan. Sebenarnya kesalahan utama bukan pada guru, tetapi pada sistem pendidikan kita yang lebih mengutamakan kuantitas dari pada kualitas. Sekolah berlomba-lomba untuk meningkatkan persentase kelulusan, hal ini diperparah dengan paradigma pendidikan dari para penguasa yang salah kaprah. mereka menganggap sekolah yang persentase lulusannya besar itulah sekolah yang baik, sehingga sekolah berusaha meluluskan siswanya dengan menghalalkan segala cara.
    Sebenarnya di negara kita ini banyak orang yang pintar dan paham tentang pendidikan, tapi mereka sendiri yang merusaknya…
    Reply ↓
    22. safrizal on January 7, 2013 at 1:20 pm said:
    seharusnya mapel tik tdk dihilangkan, krena msh byk ank2 didik dinegara ini yg masih buta komputer….
    sy harap ini menjadi bahan masukan
    trima kasih..
    Reply ↓
    23. najib on January 7, 2013 at 2:08 pm said:
    Kurikulum marak diperbincangkan. Ada pro ada yang k

  119. Ini Dia Alasan Kurikulum Baru Harus Ditolak

    RELATED NEWS
    ________________________________________
    • ICW Curiga Anggaran Kurikulum Baru Sarat Permainan
    • Petisi Tolak Kurikulum Baru Diteken Ribuan Warga
    • Kekerasan Seksual Meningkat, Bukti Pendidikan Karakter Gagal
    • PTN Tak Boleh Berpolitik Praktis
    • Dilatih 52 Jam, Guru Tak Boleh Banyak Ceramah
    • Buku Kurikulum 2013 Proses Finalisasi

    JAKARTA – Penolakan atas Kurikulum Baru 2013 makin meluas. 1500 orang telah menandatangani petisi tentang penolakan atas konsep perubahan kurikulum yang digagas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

    Petisi itu telah diserakan aktivis Indonesia Corruption Watch (ICW) dan Koalisi Pendidikan kepada Mendikbud Muhammad Nuh, agar dijadikan acuan evaluasi perubahan kurikulum. “Setidaknya ada delapan alasan petisi Tolak Kurikulum 2013 ini,” ujar Koordinator Monitoring Kebijakan Publik ICW, Febri Hendri di Kemdikbud, Jumat (15/3).

    Alasan pertama, proses perumusan kebijakan perubahan kurikulum tidak terencana dan terburu-buru. Kedua, lanjut dia, mekanisme perubahan kurikulum tidak mengacu pada Standar Nasional Pendidikan (SNP). Padahal, Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) dengan jelas telah mengamanatkan pemerintah untuk mengembangkan kurikulum dengan mengacu kepada SNP.

    Ketiga, pemerintah ditengarai tidak melakukan evaluasi terlebih dahulu terhadap Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang telah diterapkan sejak tahun 2006, tapi kini ingin mengubah kurikulum tersebut menjadi Kurikulum 2013.

    Keempat, Kurikulum 2013 cenderung mematikan kreatifitas guru dan tidak mempertimbangkan konteks budaya lokal. Pasalnya, kata Febri, guru telah diberikan buku pegangan dan silabus yang isinya sama sekali tanpa memikirkan konteks lokal.

    “Yang kelima, kami melihat target training master teacher terlalu ambisius, sementara buku untuk guru belum dicetak. Guru yang harus disiapkan itu jumlahnya ratusan ribu,” tegasnya.

    Keenam, anggaran kurikulum 2013 mencapai angka fantastis, yaitu Rp 2,49 triliun. Tapi lebih dari setengahnya atau Rp 1,3 triliun, akan digunakan untuk proyek pengadaan buku yang berpotensi dikorupsi. Sementara, sudah menjadi rahasia umum bahwa pengadaan buku adalah lahan basah.

    “Dari catatan ICW sejak tahun 2004–2011 tercatat ada sekitar enam kasus pengadaan buku yang ditindak dengan jumlah kerugian negara mencapai Rp 54,9 miliar,” sebutnya.

    Alasan ketujuh, pemerintah belum mengeluarkan dokumen kurikulum 2013 resmi. “Hal ini memunculkan pertanyaan, bagaimana penyusunan buku dapat dilakukan jika dokumen kurikulum 2013 saja sampai saat ini belum resmi? Soal buku ini sebenarnya sudah mencuat awal Desember 2012. Pemerintah ketahuan telah mengumpulkan penerbit buku untuk membahas buku-buku kurikulum 2013,” jelas Febri.

    Alasan terakhir, pengadaan buku untuk Kurikulum 2013 merupakan proyek pemborosan. Pasalnya, setiap tahun sejak 2008, pemerintah aktif membeli hak cipta buku untuk menopang penyediaan buku dengan buku sekolah elektronik (BSE).

    Nah, jika memang perubahan kurikulum 2013 sudah direncanakan sejak 2010, seharunya pemerintah tidak melakukan pemborosan. “Pemerintah tinggal tetap membeli hak cipta buku elektronik yang bisa diganti dengan buku Kurikulum 2013,” pungkasnya.(fat/jpnn)

    Kurikulum 2013 Itu…
    Rachmad Faisal Harahap
    Selasa, 19 Maret 2013 08:50 wib

    Ilustrasi: Siswa SMA. (Foto: Dede K/Okezone)
    JAKARTA – Juli mendatang, siswa seluruh Indonesia akan belajar menggunakan kurikulum baru. Apa kata mereka tentang rencana ini?

    Kebanyakan siswa, khususnya tingkat SMA/sederajat, sudah mengetahui rencana penerapankurikulum baru; baik dari guru maupun informasi yang tersebar di jejaring sosial. Meski demikian, mereka belum mendapat sosialisasi secara mendalam tentang kurikulum tersebut.

    Salah satu siswa yang mengetahui perihal kurikulum 2013 ini adalah Minggus Unedo. Siswa SMKN 38, Tanah Abang, Jakarta Pusat ini menilai, kurikulum anyar tersebut cukup bIK.

    “walau misalnya ada perubahan dan itu lebih baik, pastinya memudahkan kita dalam belajar,” kata Minggus ketika berbincang dengan Okezone, Selasa (19/3/2013).

    Pendapat Minggus diamini teman satu sekolahnya, Elsa Sara. Dia mengaku, mengetahui rencana penerapan kurikulum 2013 dari jejaring sosial dan guru. Elsa juga menyambut baik rencana tersebut jika memang akan membawa perubahan ke arah positif.

    “Menambah hal baru, berarti otomatis menambah wawasan. Dengan menambah wawasan, kita jadi lebih banyak tahu,” tutur Elsa.

    Namun, nada pesismistis juga lahir dari kalangan pelajar. Adhan Ramadhan misalnya, merasa kurikulum baru hanya akan menambah beban siswa. Dia mengkritik rencana kurikulum 2013 dari segi pelaksanaan ujian nasional (UN).

    “Kurikulum 2013 rencananya pakai 20 paket untuk UN. Sedangkan untuk yang sekarang lima paket aja, tingkat kesulitan soal UN-nya tidak seimbang satu dengan yang lain, apalagi 20 paket. Karena setiap soal berbeda dan kadang-kadang tingkat kesulitannya pun juga berbeda-beda,” ujar Adhan.

    Siswa SMAN 25 Petojo, Jakarta Pusat, itu, berharap, dari segi UN pemerintah dapat menyeimbangkan penggunaan paket soal. Misalnya dengan memaksimalkan sistem lima paket soal. “Lalu, kalau hasilnya sudah bagus, baru dinaikkan jadi 20 paket,” tambahnya.(rfa)
    Dampak Implementasi Kurikulum 2013
    Rachmad Faisal Harahap
    Rabu, 20 Maret 2013 18:11 wib

    Foto: dok. Okezone
    JAKARTA – Ketergesaan pemerintah dalam menerapkan kurikulum 2013 akan berdampak pada berbagai kondisi pendidikan di Indonesia.

    Hal tersebut terungkap dalam Focus Group Discussion Bidang Pendidikan Politik dan Kebudayaan, di kantor DPP Partai NasDem, Jakarta Pusat, hari ini. Menurut guru SMAN 13 Jakarta Retno Listyarti, dampak pertama adalah mutu guru menjadi rendah karena minim persiapan untuk menunjangkurikulum baru.

    “Guru mengajar di dua atau tiga sekolah demi mengejar kekurangan jam agar memperoleh tunjangan sertifikasi. Kadang jarak antarsekolah tempatnya mengajar sangat jauh sehingga para guru sudah kelelahan dan tidak lagi memiliki waktu untuk belajar seperti membaca dan menulis,” kata Retno, Rabu (20/3/2013).

    Kemudian, pengurangan jam mata pelajaran atau penghapusan mata pelajaran akan menyebabkan kelebihan guru. Retno mengilustrasikan, pelajaran Bahasa Inggris di SMA dikurangi jamnya dari 180 menit menjadi hanya 90 menit. Hal ini akan menyebabkan kelebihan guru bahasa Inggris di SMA. Sementara itu, pelajaran olahraga ditambah menjadi tiga jam pelajaran.

    “Ada juga mata pelajaran yang diganti, bukan dihapus. Contohnya, mata pelajaran Tata Boga dan Tata Busana pada jenjang SMP diganti menjadi prakarya, padahal substansinya jelas berbeda,” imbuh Retno.

    Guru Besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Soedijarto memaparkan, postur anggaran cenderung mengutamakan pembangunan fisik, seperti membangun dan memperbaiki sekolah, membeli alat, dan melengkapi sarana/prasarana. Sementara itu, sangat minim anggaran untuk membangun kapasitas guru.

    “Bahkan kadang-kadang tidak diajukan dalam rencana anggaran. Partai-partai elite harus memikirkan pendidikan ini untuk kurikulum baru, perlu ada anggaran dalam APBN dan APBD,” tutur Soedijarto.(rfa)
    Tunda Kurikulum 2013!
    Rachmad Faisal Harahap
    Rabu, 20 Maret 2013 19:30 wib

    Ilustrasi. (Foto: okezone)
    JAKARTA – Pertengahan Juli mendatang, Kurikulum 2013 siap diterapkan ke para siswa. Tapi, ada baiknya kurikulum baru ini ditunda terlebih dahulu.

    Guru Besar Psikologi Pendidikan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Prof. Dr. Conny R Semiawan menyatakan setuju jika masalah kurikulum 2013 ditunda. Karena, bagi dia, butuh solusi untuk memecahkan masalah tersebut.

    “Sosialisasi harus diperbanyak, pelatihan guru waktunya diperpanjang, dan esensi kurikulum 2013 harus dijelaskan atau dipahami masyarakat,” ungkap Conny dalam Focus Group Discussion Bidang Pendidikan Politik dan Kebudayaan, di kantor DPP Partai NasDem, Jakarta Pusat, Rabu (20/3/2013).

    Hal senada juga disampaikan Guru Besar UNJ Soedijarto. “Pertukaran informasi dan pengalaman akan benar-benar bermakna dan berkualitas bila tenaga profesional adalah pribadi yang dalam karier profesionalnya meningkatkan kualitas kinerjanya,” ujarnya.

    Bagi Guru SMAN 13 Jakarta Retno Listyarti, kurikulum 2013 harus ditunda dan harus diterapkan model pendampingan yang cepat. “Karena kepala sekolah dan pengawas sekolah hasil Uji Kompetensi Guru (UKG) lebih rendah dari guru,” tutur Retno.

    Selain itu, ditambahkan Retno, mayoritas kepala sekolah dipilih bukan karena profesionalismenya saja, tapi lebih karena kedekatan dengan pejabat dinas pendidikan atau pemberi upeti.(ade)
    Penerapan Kurikulum 2013 Dipengaruhi Politik
    http://www.inilah.comon

    Ilustrasi
    Oleh: Marlen Sitompul
    nasional – Rabu, 20 Maret 2013 | 22:36 WIB
    Share on facebookShare on twitterShare on emailShare on googleMore Sharing Services
    Berita Terkait
     Gerindra Tuding Heru Lelono Putar Balikan Fakta
     Siapapun Ketumnya, Tak Bisa Selamatkan Demokrat
     Elit PD Merapat Malam Ini, Bahas Nama Calon Ketum?
     Saan & Tri Dianto Maju, Ruhut: Diketawain Kodok
     Marzuki Dinilai Tak Bisa Satukan Demokrat

    INILAH.COM, Jakarta – Setiap kebijakan yang dikeluarkan pemerintah di tahun 2013 dinilai bernuansa politik. Sebab, 2013 sebagai dinilai sebagai tahun politik.

    Penilaian itu disampaikan Ketua DPP Bidang Politik dan Kebudayaan Partai NasDem, S Sonny Soeharso. Menurutnya, penerapan kurikulum 2013 yang terkesan terburu-buru itu bernuansa politik.

    “Kalau dari pengalaman, perubahan kurikulum sangat dipengaruhi ‘political heavy’. Kita tahu tahun ini merupakan tahun politik. Perubahan anggaran begitu drastis dan dilakukan terlalu terburu-buru,” kata Sonny, usai Focus Group Discussion Bidang Pendidikan Politik dan Kebudayaan, di kantor DPP Partai NasDem, Jakarta, Rabu (20/3/2013).

    Untuk itu, dia meminta agar pemerintah lebih berhati-hati dalam memutuskan penerapan kurikulum pendidikan 2013. Khususnya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan diminta menunda penerapan kurikulum tersebut.

    “Harus dilihat untung dan ruginya penerapan kurikulum itu. Harus dievaluasi lagi sistemnya,” tegasnya.

    Sementara, Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FGSI), Retno Listyarti, mengatakan, penerapan kurikulum 2013 itu akan memperburuk kualitas pendidikan di tanah air.

    Selain itu, kualitas pengajar pun akan menjadi buruk. Sebab, guru diperbolehkan untuk mengajar dibeberapa sekolah yang berbeda.

    “Guru mengajar di dua atau tiga sekolah demi mengejar kekurangan jam agar memperoleh tunjangan sertifikasi. Kadang jarak antarsekolah tempatnya mengajar sangat jauh sehingga para guru sudah kelelahan dan tidak lagi memiliki waktu untuk belajar seperti membaca dan menulis,” katanya.

    Selain itu, lanjut Retno, waktu pelatihan guru untuk kurikulum pendidikan yang hanya 52 jam perlu ditambah.

    “Bagaimana bisa materi kurikulum pendidikan 2013 yang sangat kompleks hanya diajarkan dalam waktu 52 jam?” kata Retno.

    Penyakit utama dunia pendidikan Indonesia, kata dia, berada pada kualitas guru, namun pemerintah tidak pernah memberikan pelatihan yang sungguh-sungguh.

    “Jika guru tidak berkualitas, maka siswanya juga tidak akan berkualitas,” katanya. [gus]
    Rekomendasi Untuk Anda
    ________________________________________
    • Prandelli Bingung Tentukan Formasi Lawan Brasil
    • BMW, Pabrikan Mobil Paling Dikagumi di Dunia
    Mempersoalkan Kurikulum 2013
    Posted on March 17, 2013 by Bincang Edukasi
    Oleh: Johannes Sumardianta, Guru SMA Kolese de Britto, Yogyakarta
    Dimuat di Koran Tempo, 14 Maret 2013

    Johannes Sumardianta
    Sejak zaman Orde Baru hingga sekarang, telah terjadi empat kali perubahan kurikulum: kurikulum 1975, kurikulum Cara Belajar Siswa Aktif 1984, kurikulum 1994, Kurikulum Berbasis Kompetensi 2004, dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006. Tahun ini pemerintah berencana menerapkan kurikulum baru 2013. Mengapa kurikulum harus diubah? Mutu murid Indonesia dalam banyak bidang berada di bawah mutu siswa negeri lain. Perbaikan harus diadakan dalam isi dan metode pengajaran. Guru harus ditingkatkan kualitasnya.
    Kurikulum 2013 hendak memanfaatkan momentum yang disebut periode “bonus demografi” (2010-2035) saat penduduk produktif dominan. Pada masa “emas” ini perubahan harus diadakan sebelum terlambat saat tenaga produktif menyusut. Manusia Indonesia dalam Kurikulum 2013 ditekankan dalam hal kompetensi dan kreativitasnya.
    Inilah fakta di lapangan dari empat kali perubahan kurikulum sebelumnya. Praksis kurikulum tergelincir menjadi sekadar urusan tersier jual-beli buku pelajaran, administrasi persekolahan, dan ujian nasional (UN). Pihak yang mengambil manfaat paling besar sesungguhnya para penerbit buku pelajaran dan LKS. Kurikulum baru belum dirilis, para wiraniaga penerbit buku pelajaran sudah bergerilya menawarkan produk sesuai dengan kurikulum 2013. Itulah yang membuat setiap kali ada pembaruan kurikulum, para guru adem ayem. Tidak tampak risau, apalagi greget. Format peranti mengajar, seperti silabus, program semester, dan rencana pembelajaran, disediakan penerbit buku sebagai suplemen. Para guru tinggal mengetik ulang dan memoles sedikit agar sesuai dengan kebutuhan sekolah tempat mengajar. Guru lain tinggalcopy-paste (salin-tempel).
    Sehebat apa pun kurikulum baru, hasilnya bisa ditebak. Mayoritas guru tetap mengajar dengan langgam konvensional. Para murid tetap jenuh total. Kurikulum, mau diubah-ubah seperti apa, ujung-ujungnya tetap UN. Begitulah lingkaran setannya. Kapan ada lingkaran malaikat? Saatnya ujian akhir dikembalikan ke sekolah masing-masing, tidak dimonopoli pemerintah. Ujian sekolah akan membuat sekolah kreatif mengkreasikan kurikulum. UN mengurung pendidikan dalam mekanisme “perangkap pecundang sekolah kandang”.
    Setiap ada pembaruan kurikulum, hasilnya involutif (mungkret) dan kontra-produktif (tidak kena sasaran). Departemen Pendidikan sebaiknya berubah menjadi Departemen Sekolah saja. Pendidikan absen karena berfokus pada kegiatan instruksi guru kepada murid dalam kelas. Pendidikan telah merosot sekadar pelatihan menjadi bodoh. Pendidikan terperangkap materialisme kurikulum.
    Makna pendidikan direduksi sebagai serangkaian aktivitas memindah materi buku ajar. Sibuk mengurusi memori otak pada taraf primitif: menghafal materi pelajaran guna menghadapi UN. Esensi pendidikan sebagai kegiatan menuju kematangan, kedewasaan, dan kepribadian murid dikerjakan sambil lalu. Pengolahan bakat (memori otot) individual seolah hanya menjadi urusan sekolah kejuruan. Siswa berbakat justru sengsara jika studi di sekolah umum.
    Kurikulum, yang terbelenggu pabrikan buku dan ujian nasional, didominasi ranah kognitif sebagai simbol prestasi tertinggi. Bidang studi tetap banyak, standar isi sangat berat, mendewakan matematika-IPA, dan mengabaikan humaniora-sastra. Proses belajar-mengajar di kelas menegangkan, hingga membuat murid mengalami down-shifting. Input murid kualitas santan, output malah bisa jadi ampas. Paradigmanya masih beranggapan ada anak yang bodoh dan tidak punya potensi apa pun.
    Metode mengajar guru akan terus bercorak indoktrinatif. Strategi mengajar didominasi ceramah dengan fokus mengerjakan soal-soal berpikir tingkat rendah guna mempersiapkan UN. Guru mengajar, bukan murid belajar. Mengagungkan ends values (hasil akhir) bersifat ambisius, materialistis, logis, dan individualistis. Guru tak ubahnya gladiator pembunuh minat, bakat, dan kecerdasan majemuk murid. Perkembangan murid direduksi dalam peringkat (ranking). Murid dipertarungkan dengan murid lain.
    Kurikulum yang belum bisa bebas dari kartel industri buku dan UN mereduksi kehidupan siswa yang kompleks dan kaya potensi menjadi kumpulan skor, persentase, dan nilai. Standar misterius mengharuskan sekian persen siswa mengalami kegagalan. Murid digeneralisasi secara seragam. Pembelajarannya ekstrinsik dan berlomba memperoleh skor tertinggi.
    Kurikulum memerangkap para guru menjadi manusia bermental kandang, sehingga kurang kreatif dan malas berinisiatif. Mereka bekerja berdasarkan inisiatif pimpinan. Program sertifikasi guru hanya mengangkat status sosial guru. Guru hanya masuk zona comfortable karena terpenuhi kebutuhan materialnya. Pada umumnya guru bersertifikat pendidik perilakunya masih menunjukkan guru medioker dan superior. Kerja mereka ceramah dan memperagakan kewibawaan. Mayoritas guru bukan guru terpuji yang mudah dipahami. Bukan pula guru inspiratif yang sadar profesi utamanya mendidik, bukan semata mengajar.
    Para guru belum terbiasa melayani murid dengan beragam gaya belajar. Metode mengajar belum multi-strategi. Mereka belum menjadi lentera jiwa yang lebih banyak melayani dan mendengarkan. Mereka suka mengindoktrinasi, menghakimi, dan menjadi agen penerbit buku.
    Pendidikan (bukan persekolahan) mestinya menawarkan pengalaman menarik, aktif, hidup, dan membahagiakan; membangun lingkungan yang memberikan kesempatan sama bagi setiap murid untuk berhasil; memungkinkan guru mengembangkan kurikulum bermakna dan melakukan penilaian dalam konteks program tersebut.
    Penilaiannya didasari proses berkesinambungan, sehingga menghasilkan gambaran akurat tentang prestasi murid; memperlakukan murid sebagai pribadi otentik; mementingkan proses sekaligus hasil akhir. Mencakup kecakapan berpikir tingkat tinggi. Memotivasi pembelajaran sebagai sesuatu yang memang substansial. Membandingkan siswa hanya dengan pencapaian mereka sendiri dari masa sebelumnya.
    Kurikulum esensial mengarah pada inti kecerdasan: problem solving, character building, life-skill, dan pelbagai kegiatan yang membuat murid bahagia belajar. Juga mengutamakan means values (proses nilai) seperti integritas, kejujuran, tanggung jawab, kesetaraan, dan kepedulian. Itu sebabnya, kurikulum 2013 harus dibebaskan dari kartel industri buku pelajaran dan UN.
    • This entry was posted in Berita & Opini, Pendidikan Formal and tagged johannes sumardianta, kurikulum, kurikulum 2013,pendidikan formal, ujian nasional by Bincang Edukasi. Bookmark the permalink.
    Penerapan Kurikulum 2013 Dipengaruhi Politik
    http://www.inilah.comon
    3

    Ilustrasi
    Oleh: Marlen Sitompul
    nasional – Rabu, 20 Maret 2013 | 22:36 WIB
    Share on facebookShare on twitterShare on emailShare on googleMore Sharing Services
    Berita Terkait
     Gerindra Tuding Heru Lelono Putar Balikan Fakta
     Siapapun Ketumnya, Tak Bisa Selamatkan Demokrat
     Elit PD Merapat Malam Ini, Bahas Nama Calon Ketum?
     Saan & Tri Dianto Maju, Ruhut: Diketawain Kodok
     Marzuki Dinilai Tak Bisa Satukan Demokrat

    INILAH.COM, Jakarta – Setiap kebijakan yang dikeluarkan pemerintah di tahun 2013 dinilai bernuansa politik. Sebab, 2013 sebagai dinilai sebagai tahun politik.

    Penilaian itu disampaikan Ketua DPP Bidang Politik dan Kebudayaan Partai NasDem, S Sonny Soeharso. Menurutnya, penerapan kurikulum 2013 yang terkesan terburu-buru itu bernuansa politik.

    “Kalau dari pengalaman, perubahan kurikulum sangat dipengaruhi ‘political heavy’. Kita tahu tahun ini merupakan tahun politik. Perubahan anggaran begitu drastis dan dilakukan terlalu terburu-buru,” kata Sonny, usai Focus Group Discussion Bidang Pendidikan Politik dan Kebudayaan, di kantor DPP Partai NasDem, Jakarta, Rabu (20/3/2013).

    Untuk itu, dia meminta agar pemerintah lebih berhati-hati dalam memutuskan penerapan kurikulum pendidikan 2013. Khususnya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan diminta menunda penerapan kurikulum tersebut.

    “Harus dilihat untung dan ruginya penerapan kurikulum itu. Harus dievaluasi lagi sistemnya,” tegasnya.

    Sementara, Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FGSI), Retno Listyarti, mengatakan, penerapan kurikulum 2013 itu akan memperburuk kualitas pendidikan di tanah air.

    Selain itu, kualitas pengajar pun akan menjadi buruk. Sebab, guru diperbolehkan untuk mengajar dibeberapa sekolah yang berbeda.

    “Guru mengajar di dua atau tiga sekolah demi mengejar kekurangan jam agar memperoleh tunjangan sertifikasi. Kadang jarak antarsekolah tempatnya mengajar sangat jauh sehingga para guru sudah kelelahan dan tidak lagi memiliki waktu untuk belajar seperti membaca dan menulis,” katanya.

    Selain itu, lanjut Retno, waktu pelatihan guru untuk kurikulum pendidikan yang hanya 52 jam perlu ditambah.

    “Bagaimana bisa materi kurikulum pendidikan 2013 yang sangat kompleks hanya diajarkan dalam waktu 52 jam?” kata Retno.

    Penyakit utama dunia pendidikan Indonesia, kata dia, berada pada kualitas guru, namun pemerintah tidak pernah memberikan pelatihan yang sungguh-sungguh.

    “Jika guru tidak berkualitas, maka siswanya juga tidak akan berkualitas,” katanya. [gus]
    Ada Gap Antarkurikulum Pendidikan
    Rachmad Faisal Harahap
    Rabu, 20 Maret 2013 17:50 wib

    Ilustrasi: ist.
    JAKARTA – Pemerintah optimistis kurikulum 2013 akan menjadi solusi atas berbagai persoalan pendidikan di Indonesia. Tetapi, berbagai pihak pesimistis. Pasalnya, kurikulum yang saat ini berlaku saja belum sepenuhnya diterapkan maksimal. Padahal, kurikulum baru yang akan diterapkan Juli mendatang itu digadang-gadang menjadi konsep kurikulum yang ideal.

    Guru Besar Psikologi Pendidikan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Prof. Dr. Conny R Semiawan menyatakan, saat ini dalam kompetensi kurikulum belum sepenuhnya merujuk pada pendidikan karakter. Dengan kata lain, ujar Conny, belum menghasilkan keterampilan sesuai kebutuhan.

    “Akan ada kesenjangan kurikulum antara kurikulum yang saat ini dipakai dengan kurikulum baru. Materi pembelajaran belum relevan kebutuhan, sedangkan proses pembelajaran berorientasi buku teks,” kata Conny, dalam Focus Group Discussion Bidang Pendidikan Politik dan Kebudayaan, di kantor DPP Partai NasDem, Jakarta Pusat, Rabu (20/3/2013).

    Conny menyarankan, sebaiknya penerapan kurikulum 2013 ditunda mengingat belum ada persiapan yang matang. Hal ini bisa mengacu pada ketidaksiapan guru-guru karena proses implementasi kurikulum baru yang terlalu cepat dan tergesa-gesa.

    “Evaluasi dulu dari pembelajaran kurikulum sebelum-sebelumnya. Sesuai pedoman pelaksanaan, butuh beberapa tahun untuk kurikulum baru. Kemudian perbaiki dari suatu konsep akademis, tidak cukup hanya berbulan-bulan supaya mutu guru meningkat,” imbuhnya.(rfa)
    Mempersoalkan Kurikulum 2013
    Posted on March 17, 2013 by Bincang Edukasi
    Oleh: Johannes Sumardianta, Guru SMA Kolese de Britto, Yogyakarta
    Dimuat di Koran Tempo, 14 Maret 2013

    Johannes Sumardianta
    Sejak zaman Orde Baru hingga sekarang, telah terjadi empat kali perubahan kurikulum: kurikulum 1975, kurikulum Cara Belajar Siswa Aktif 1984, kurikulum 1994, Kurikulum Berbasis Kompetensi 2004, dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006. Tahun ini pemerintah berencana menerapkan kurikulum baru 2013. Mengapa kurikulum harus diubah? Mutu murid Indonesia dalam banyak bidang berada di bawah mutu siswa negeri lain. Perbaikan harus diadakan dalam isi dan metode pengajaran. Guru harus ditingkatkan kualitasnya.
    Kurikulum 2013 hendak memanfaatkan momentum yang disebut periode “bonus demografi” (2010-2035) saat penduduk produktif dominan. Pada masa “emas” ini perubahan harus diadakan sebelum terlambat saat tenaga produktif menyusut. Manusia Indonesia dalam Kurikulum 2013 ditekankan dalam hal kompetensi dan kreativitasnya.
    Inilah fakta di lapangan dari empat kali perubahan kurikulum sebelumnya. Praksis kurikulum tergelincir menjadi sekadar urusan tersier jual-beli buku pelajaran, administrasi persekolahan, dan ujian nasional (UN). Pihak yang mengambil manfaat paling besar sesungguhnya para penerbit buku pelajaran dan LKS. Kurikulum baru belum dirilis, para wiraniaga penerbit buku pelajaran sudah bergerilya menawarkan produk sesuai dengan kurikulum 2013. Itulah yang membuat setiap kali ada pembaruan kurikulum, para guru adem ayem. Tidak tampak risau, apalagi greget. Format peranti mengajar, seperti silabus, program semester, dan rencana pembelajaran, disediakan penerbit buku sebagai suplemen. Para guru tinggal mengetik ulang dan memoles sedikit agar sesuai dengan kebutuhan sekolah tempat mengajar. Guru lain tinggalcopy-paste (salin-tempel).
    Sehebat apa pun kurikulum baru, hasilnya bisa ditebak. Mayoritas guru tetap mengajar dengan langgam konvensional. Para murid tetap jenuh total. Kurikulum, mau diubah-ubah seperti apa, ujung-ujungnya tetap UN. Begitulah lingkaran setannya. Kapan ada lingkaran malaikat? Saatnya ujian akhir dikembalikan ke sekolah masing-masing, tidak dimonopoli pemerintah. Ujian sekolah akan membuat sekolah kreatif mengkreasikan kurikulum. UN mengurung pendidikan dalam mekanisme “perangkap pecundang sekolah kandang”.
    Setiap ada pembaruan kurikulum, hasilnya involutif (mungkret) dan kontra-produktif (tidak kena sasaran). Departemen Pendidikan sebaiknya berubah menjadi Departemen Sekolah saja. Pendidikan absen karena berfokus pada kegiatan instruksi guru kepada murid dalam kelas. Pendidikan telah merosot sekadar pelatihan menjadi bodoh. Pendidikan terperangkap materialisme kurikulum.
    Makna pendidikan direduksi sebagai serangkaian aktivitas memindah materi buku ajar. Sibuk mengurusi memori otak pada taraf primitif: menghafal materi pelajaran guna menghadapi UN. Esensi pendidikan sebagai kegiatan menuju kematangan, kedewasaan, dan kepribadian murid dikerjakan sambil lalu. Pengolahan bakat (memori otot) individual seolah hanya menjadi urusan sekolah kejuruan. Siswa berbakat justru sengsara jika studi di sekolah umum.
    Kurikulum, yang terbelenggu pabrikan buku dan ujian nasional, didominasi ranah kognitif sebagai simbol prestasi tertinggi. Bidang studi tetap banyak, standar isi sangat berat, mendewakan matematika-IPA, dan mengabaikan humaniora-sastra. Proses belajar-mengajar di kelas menegangkan, hingga membuat murid mengalami down-shifting. Input murid kualitas santan, output malah bisa jadi ampas. Paradigmanya masih beranggapan ada anak yang bodoh dan tidak punya potensi apa pun.
    Metode mengajar guru akan terus bercorak indoktrinatif. Strategi mengajar didominasi ceramah dengan fokus mengerjakan soal-soal berpikir tingkat rendah guna mempersiapkan UN. Guru mengajar, bukan murid belajar. Mengagungkan ends values (hasil akhir) bersifat ambisius, materialistis, logis, dan individualistis. Guru tak ubahnya gladiator pembunuh minat, bakat, dan kecerdasan majemuk murid. Perkembangan murid direduksi dalam peringkat (ranking). Murid dipertarungkan dengan murid lain.
    Kurikulum yang belum bisa bebas dari kartel industri buku dan UN mereduksi kehidupan siswa yang kompleks dan kaya potensi menjadi kumpulan skor, persentase, dan nilai. Standar misterius mengharuskan sekian persen siswa mengalami kegagalan. Murid digeneralisasi secara seragam. Pembelajarannya ekstrinsik dan berlomba memperoleh skor tertinggi.
    Kurikulum memerangkap para guru menjadi manusia bermental kandang, sehingga kurang kreatif dan malas berinisiatif. Mereka bekerja berdasarkan inisiatif pimpinan. Program sertifikasi guru hanya mengangkat status sosial guru. Guru hanya masuk zona comfortable karena terpenuhi kebutuhan materialnya. Pada umumnya guru bersertifikat pendidik perilakunya masih menunjukkan guru medioker dan superior. Kerja mereka ceramah dan memperagakan kewibawaan. Mayoritas guru bukan guru terpuji yang mudah dipahami. Bukan pula guru inspiratif yang sadar profesi utamanya mendidik, bukan semata mengajar.
    Para guru belum terbiasa melayani murid dengan beragam gaya belajar. Metode mengajar belum multi-strategi. Mereka belum menjadi lentera jiwa yang lebih banyak melayani dan mendengarkan. Mereka suka mengindoktrinasi, menghakimi, dan menjadi agen penerbit buku.
    Pendidikan (bukan persekolahan) mestinya menawarkan pengalaman menarik, aktif, hidup, dan membahagiakan; membangun lingkungan yang memberikan kesempatan sama bagi setiap murid untuk berhasil; memungkinkan guru mengembangkan kurikulum bermakna dan melakukan penilaian dalam konteks program tersebut.
    Penilaiannya didasari proses berkesinambungan, sehingga menghasilkan gambaran akurat tentang prestasi murid; memperlakukan murid sebagai pribadi otentik; mementingkan proses sekaligus hasil akhir. Mencakup kecakapan berpikir tingkat tinggi. Memotivasi pembelajaran sebagai sesuatu yang memang substansial. Membandingkan siswa hanya dengan pencapaian mereka sendiri dari masa sebelumnya.
    Kurikulum esensial mengarah pada inti kecerdasan: problem solving, character building, life-skill, dan pelbagai kegiatan yang membuat murid bahagia belajar. Juga mengutamakan means values (proses nilai) seperti integritas, kejujuran, tanggung jawab, kesetaraan, dan kepedulian. Itu sebabnya, kurikulum 2013 harus dibebaskan dari kartel industri buku pelajaran dan UN.
    Kurikulum 2013: Tergesa-gesa dan Penuh Tanda Tanya
    Posted on February 26, 2013 by Iwan Syahril

    Sumber: salindia uji publik Kurikulum 2013
    Cukup dinamis memang perubahan kurikulum pendidikan di Indonesia. Dalam waktu 10 tahun terakhir saja sudah ada tiga kurikulum: kurikulum berbasis kompetensi, kurikulum tingkat satuan pendidikan, dan kurikulum 2013. Para pengambil kebijakan kita sepertinya percaya bahwa perubahan kurikulum akan berdampak signifikan terhadap perubahan kualitas pengajaran dan pembelajaran. Jadi ketika sistem pendidikan dinilai tidak bekerja dengan baik, maka kurikulum nasional perlu diubah. Namun sudah bermacam kurikulum silih berganti, kenapa kualitas pendidikan nasional masih tak kunjung membaik? Sayangnya, tidak pernah dijelaskan bagaimana evaluasi kurikulum sebelumnya dilakukan dan apa hasilnya. Apa yang sudah berjalan baik, apa yang perlu diubah, dan bagaimana kurikulum baru memfasilitasi perubahan yang diinginkan tersebut? Dan sekarang pun kita masih terjebak pada keyakinan keajaiban sebuah kurikulum. Mudah-mudahan kurikulum 2013 ini memang ada daya magisnya, namun jika keliru tak hanya triliunan rupiah yang melayang, namun kesempatan memanfaatkan bonus demografi pun hilang.
    Saya termasuk pihak yang skeptis dengan kurikulum baru ini. Ada sejumlah alasan. Pertama, berbagai studi sudah membuktikan bahwa perubahan kurikulum tidak serta merta membawa perubahan pada kualitas belajar mengajar. Kurikulum bukanlah faktor penentu peningkatan kualitas pendidikan. Salah satu studi terkini, berjudul The Learning Curve (2012), meneliti faktor-faktor keberhasilan sistem pendidikan di berbagai negara sama sekali tidak menyebutkan kurikulum sebagai faktor utama. Studi tersebut menyimpulkan bahwa kualitas guru dan kualitas budaya pendidikan adalah dua elemen yang paling penting. Untuk menjaga kualitas guru negara-negara seperti Korea Selatan dan Finlandia memiliki sistem rekrutmen, pendidikan, dan kompensasi guru yang sangat baik sehingga profesi guru menjadi salah satu profesi idaman siswa-siswa unggul. Budaya pendidikan yang baik dibentuk dengan menekankan integritas dan profesionalitas seluruh praktisi dan birokrat sistem pendidikan dan dengan komitmen terhadap keadilan sosial. Akses pendidikan berkualitas dijamin untuk seluruh warga negara tanpa kecuali.
    Alasan kedua, seperti sudah banyak disampaikan pengamat lain, saya pun mempertanyakan isi kurikulum 2013 itu sendiri. Misalnya pencampuradukkan kompetensi disiplin ilmu dan kompetensi karakter. Memang dalam setiap mata pelajaran nilai-nilai moral dan karakter dapat diterapkan, namun seharusnya tidak menjadi bagian dari kompetensi disiplin ilmu yang bersangkutan. Kompetensi disiplin ilmu dijelaskan sesuai dengan landasan filosofis dan tradisi keilmuan disiplin yang bersangkutan, tidak asal–asalan menambahkan kompetensi saja. Seharusnya kementerian pendidikan dan kebudayaan mempelajari dengan benar bagaimana pendidikan moral dan karakter dilakukan di negara-negara yang sudah berhasil melakukannya. Apa mereka melakukannya seperti yang dirancang di kurikulum 2013?
    Asumsi bahwa penambahan porsi pendidikan moral dan karakter akan membawa perubahan pada perilaku moral dan karakter peserta didik juga sangat bermasalah. Jika benar demikian, kurikulum 1975, 1984, dan 1994 mungkin sudah sangat berhasil menjadikan Indonesia bangsa yang bebas korupsi karena banyak sekali mata pelajaran yang menekankan nilai-nilai moral dan karakter seperti Pendidikan Moral Pancasila, Pendidikan Agama, Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa, Ilmu Pengetahuan Sosial, dan sejumlah Penataran P-4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) di berbagai level. Jika nilai rapor mata pelajaran Agama dan Pendidikan Moral Pancasila merah, maka siswa tidak boleh baik kelas. Logikanya, rentetan dan tuntutan banyak mata pelajaran dan pelatihan ini seharusnya sudah lebih dari cukup dalam membentuk moral dan karakter yang baik. Namun kenyataannya tidak demikian. Korupsi, kolusi, dan nepotisme masih belum hilang, malah sekarang makin menjadi di era reformasi. Kunci keberhasilan pendidikan moral dan karakter sebenarnya terletak keteladanan dari para pemimpin formal dan informal di masyarakat. Dan keteladanan moral dan karakter saat ini cukup langka bahkan di kalangan guru dan aparat kementrian pendidikan dan kebudayaan. Berbagai cerita kecurangan dalam ujian, termasuk ujian nasional, bisa jadi salah satu contoh keruntuhan nilai moral dan karakter dalam sistem pendidikan nasional. Yang jujur justru yang dikucilkan, disingkirkan dan diberi hukuman sosial. Jika ini masih terjadi percuma saja pendidikan karakter kita apapun bentuknya.
    Kemudian ide peleburan IPA dan IPS ke dalam mata pelajaran lain seperti Bahasa Indonesia cukup mengkhawatirkan pula. Argumen yang sering dikemukakan pemerintah menarik: anak-anak Indonesia terbebani oleh mata pelajaran yang terlalu banyak, jadi perlu pengurangan jumlah mata pelajaran. Saya pada dasarnya sepakat dengan perlunya pengurangan beban pelajaran anak-anak kita. Namun langkah ini tidak bisa dilakukan dengan gegabah. Saat ini tidak jelas kenapa IPA dan IPS yang perlu dihapus dan dlebur ke pelajaran lain, serta bagaimana peleburan tersebut dilakukan dalam tataran praktik. Tidak jelas pula apa landasan keilmuan dan studi komparatif yang digunakan dalam menjelaskan model peleburan tersebut. Jika argumen pemerintah memang benar, bahwa model pembelajaran tematik, integratif dan kontekstual (TIK) yang akan dilakukan dalam peleburan tersebut, maka sesungguhnya tidak ada yang berubah selain kenyataan bahwa IPA dan IPS dihapus dari daftar mata pelajaran. Model pembelajaran TIK seharusnya tidak menghapus kompetensi mata pelajaran yang diintegrasikan. Hitungan sederhananya, jika ada 10 mata pelajaran dan masing-masing memiliki 5 kompetensi (total 50 kompetensi), maka sekarang mata pelajaran dikurangi menjadi 5 mata pelajaran, dan masing-masing memiliki 10 kompetensi (total 50 kompetensi). Jika demikian, apa yang berubah? Yang ada hanya guru menjadi bingung karena peleburan membutuhkan keterampilan mengajar yang lebih kompleks, dan jika guru bingung, siswa pun ikut bingung.
    Alasan ketiga, argumen bahwa kurikulum 2013 meringankan beban guru karena guru tidak perlu membuat silabus sungguh mencengangkan. Sebuah langkah mundur dalam reformasi pendidikan yang bertentangan dengan reformasi peningkatan kualitas guru yang sedang dilakukan. Guru harusnya terus diberdayakan dan dilatih untuk mampu berpikir, berinovasi dan berkreatifitas dalam mengajar. Argumen guru menjadi lebih baik dengan menggunakan silabus yang siap pakai menunjukkan asumsi bahwa guru tidak mampu dan tidak dipercaya sebagai seorang profesional. Paradigma berpikir seperti ini mirip dengan praktik jaman orde baru: guru adalah hamba birokrasi dan hanya menjalankan instruksi saja. Jika memang masih banyak terjadi guru tidak dapat menyusun silabus, yang perlu dilakukan justru meningkatkan kualitas dan kuantitas pelatihan dan pendidikan guru. Sebenarnya kita juga perlu mengevaluasi bagaimana keberhasilan metode pelatihan dan pendidikan guru yang telah terjadi karena sudah banyak inisiatif yang dilakukan sejak UU No.14 tahun 2005 (UU Guru dan Dosen) dilahirkan. Saat ini tidak jelas apa dampak yang dihasilkan pelatihan dan pendidikan guru terhadap kualitas pengajaran dan kualitas pendidikan secara keseluruhan. Sepertinya secara umum cara mengajar guru-guru kita tidak banyak perubahan dan peningkatan. Jika metode pelatihan dan pendidikan guru yang sama yang digunakan dalam menyiapkan guru dalam menjalankan kurikulum 2013, hasilnya akan kembali mengecewakan.
    Alasan keempat, sekolah yang berakreditasi bagus akan didahulukan karena mereka lebih siap. Sebuah langkah yang sebenarnya logis. Sayangnya, langkah ini akan semakin memurukkan sekolah-sekolah yang sudah tertinggal. Jika benar kurikulum 2013 ini bagus, maka sekolah yang sudah maju akan semakin maju karena mereka didahulukan dalam menerapkan kurikulum ini, dan sekolah yang tertinggal akan semakin tertinggal karena mereka tidak menjadi prioritas. Hal ini mirip dengan logika pemilihan sekolah-sekolah RSBI dimana sekolah-sekolah yang sebenarnya sudah unggul terpilih menjadi sekolah RSBI. Sekolah-sekolah ini kemudian mendapat dana RSBI dan boleh menggalang dana tambahan dari orang tua disamping dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah), sementara sekolah-sekolah non RSBI hanya boleh mengandalkan dana BOS, tak boleh ada pungutan. Praktik seperti ini tidak sesuai dengan prinsip keadilan sosial.
    Terakhir, berbagai hal-hal mengindikasikan ketergesa-gesaan pemerintah dalam menerapkan kurikulum 2013 ini. Mulai dari tidak adanya dokumen final resmi kurikulum pada saat sosialisasi mulai dilakukan, anggaran kurikulum yang berubah-ubah, asumsi satuan buku dari 42 ribu per buku kemudian menjadi 8 ribu per buku sesudah mendapat kritik, hingga pelatihan guru masal dalam waktu singkat hanya beberapa bulan sebelum tahun ajaran baru dimulai. Ketergesa-gesaan ini mengisyaratkan ketidakmatangan perencanaan dan penerapan kurikulum 2013.
    Para pengambil kebijakan pendidikan Indonesia berargumen bahwa kurikulum 2013 perlu segera dilaksanakan untuk menggapai masa depan bangsa yang gilang gemilang. Wakil Presiden Boediono dan Menteri Pendidikan Muhammad Nuh menggunakan argumen bahwa di tahun 2010-2035 Indonesia memiliki penduduk usia produktif yang sangat besar dan jika dimodali sikap, keterampilan dan pengetahuan yang baik, maka bonus penduduk ini akan mampu menggerakkan ekonomi nasional dan membawa kesejahteraan bangsa. Tentunya tidak ada yang akan membantah bahwa pendidikan memegang peranan penting dalam menentukan masa depan bangsa. Namun pendidikan seperti apa? Apakah pendidikan seperti diasumsikan oleh kurikulum 2013?
    Kurikulum 2013 adalah kurikulum yang tergesa-gesa dan penuh tanda tanya. Jika kita ingin meningkatkan mutu pendidikan nasional kita seharusnya paham dari berbagai studi dan pengalaman kita sendiri bahwa perubahan kurikulum sebenarnya bukan hal yang terpenting. Banyak elemen lain yang perlu diperbaiki seperti peningkatan kualitas rekrutmen, pendidikan, dan pelatihan guru, perbaikan sarana dan prasarana sekolah terutama sekolah non unggulan yang termaginalkan oleh proyek RSBI, serta pembentukan budaya profesional yang penuh integritas di seluruh jajaran birokrasi dan praktisi pendidikan nasional. Kurikulum 2013 justru makin memundurkan upaya peningkatan profesionalitas guru serta hanya akan memperlebar kesenjangan sekolah unggulan dan marginal. Lalu ketidakjelasan landasan filosofis dan keilmuan berbagai elemen isi, dan strategi implementasi kurikulum 2013 juga patut menjadi kekhawatiran kita karena fondasi yang tidak kuat hanya akan menciptakan keruntuhan dan semuanya pun berantakan. Karena itu, tidak jelas sebenarnya bagaimana kurikulum 2013 dapat menciptakan proses pendidikan yang berkualitas dan mencetak generasi emas seperti yang didengung-dengungkan. Yang ada hanya potensi kebingungan kompleks berbagai pihak dan potensi kemunduran proses reformasi pendidikan nasional. Ujung-ujungnya duit terbuang, kesempatan hilang, dan kualitas pendidikan nasional makin terpuruk. Dan ketika proses pengambilan dan penerapan kebijakan kurikulum ini dilakukan secara tiba-tiba dan tergesa-gesa yang ada hanya tanda tanya. Kenapa tiba-tiba dan tergesa-gesa? Dan siapa yang sebenarnya diuntungkan dengan kurikulum 2013 ini? Guru, siswa, orang tua, penguasa, pendidikan Indonesia, masa depan bangsa, atau hanya pihak-pihak yang mendapat kucuran dana dari proyek kurikulum ini? Mungkin hanya waktu yang bisa menjawabnya seperti halnya proyek RSBI. ***
    “Kurikulum 2013″ oleh Prof. Daniel M. Rosyid
    Posted on November 28, 2012 by Kreshna Aditya
    KURIKULUM 2013: Merencanakan Kegagalan Pendidikan (Lagi)
    Daniel Mohammad Rosyid
    Penasehat Dewan Pendidikan Jawa Timur
    Saat ini Kemendikbud sedang menyusun Kurikulum baru yang bakal digunakan pada tahun 2013. Uji publik juga sudah dimulai. Upaya ini dilakukan sebagian sebagai respons atas tawuran pelajar dan mahasiswa yang marak, dan sinyalemen keras bahwa kurikulum kita saat ini overloaded, terlalu banyak mata pelajaran yang disajikan di sekolah. Kemudian mata pelajaran IPA dan IPS dihapus di SD, dimasukkan secara tematik dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, Agama, atau Kewarganegaraan. Disinyalir jumlah mata pelajaran yang terlalu banyak telah menyebabkan pembelajaran dangkal, bukan mendalam.
    Dalam draftnya, kurikulum baru ini dikembangkan sebagai bagian dari strategi pengembangan pendidikan tiga dimensi. Dimensi pertama adalah peningkatan efektifitas belajar. Kurikulum dan pelaksananya, yaitu guru, menjadi kunci. Dimensi kedua, meningkatkan lama tinggal di sekolah hingga jenjang SMU melalui program Pendidikan Menengah Universal, atau program Wajib Belajar 12 tahun. Yang ketiga adalah menambah jam belajar di sekolah hingga sore hari. Ketiga strategi ini tentu perlu kita apresiasi. Tulisan pendek ini bermaksud memberi catatan kritis atas strategi tersebut.
    Catatan pertama, ketiga dimensi strategi tersebut saling berkaitan, bukan besaran yang berdiri sendiri. Harus dikatakan bahwa dimensi pertama sesungguhnya adalah strategi yang paling menentukan. Dalam banyak kasus, dimensi kedua dan ketiga justru bisa menghambat dimensi yang pertama. Ini telah ditunjukkan oleh Ivan Illich sekitar 40 tahun yang lalu dan bisa kita amati secara empiris di sekitar kita saat ini : semakin banyak sekolah, semakin lama bersekolah, semakin besar anggaran pendidikan, semakin banyak sarjana, tapi masyarakat tampaknya tidak semakin terdidik.
    Kedua, ada asumsi yang kuat bahwa dimensi kedua, yaitu, semakin lama bersekolah (hingga jenjang sekolah menengah) semakin baik. Lalu semakin lama di sekolah (pulang sore) (dimensi ketiga) juga semakin baik. Asumsi ini hanya valid bila dimensi pertama valid, artinya, pembelajaran terjadi secara efektif. Jika asumsi ini tidak valid, semakin lama seorang murid bersekolah dan di sekolah hingga sore hari, justru semakin buruk akibatnya bagi dirinya. Asumsi-asumsi ini sangat dipengaruhi oleh schoolism yang mereduksi pendidikan sebagai persekolahan belaka.
    Strategi dimensi kedua dan ketiga yang lebih bersifat kuantitatif relatif lebih mudah melaksanakannya. Persoalannya hanya ketersediaan anggaran. Semakin besar anggaran, semakin baik. Sementara dimensi pertama yang lebih kualitatif jauh lebih sulit. Untuk dimensi pertama inilah, praktek pendidikan kita selama ini kedodoran. Artinya proses pembelajaran di banyak sekolah kita tidak berlangsung efektif : tidak membangun karakter dan kompetensi-kompetensi kunci yang diperlukan agar hidup sehat dan produktif.
    Kedodoran itu dibuktikan dengan otak-atik kurikulum yang dilakukan selama ini, termasuk upaya pengembangan kurikulum 2013 saat ini. Kedodoran itu diperparah oleh guru yang tidak kompeten dan budaya sekolah yang tidak meritokratik sebagai pelaksana kurikulum yang mengubah kurikulum yang direncanakan menjadi kurikulum yang terlaksana.
    Pada akhirnya pendidikan yang baik tergantung bagaimana murid belajar sebagai sebuah proses memaknai pengalamannya sehari-hari. Proses memaknai pengalaman itu kemudian ditunjukkan oleh perubahan sikap dan praktek kehidupan sehari-hari yang diteladankan guru dan dibudayakan di sekolah. Sesederhana ini sebenarnya apa yang bisa kita harapkan dari pendidikan : memperbaiki praktek kehidupan sehari-hari, bukan untuk menjuarai lomba-lomba sains, atau lulus Ujian Nasional.
    Perbaikan mutu pendidikan ini dengan demikian sesungguhnya tergantung pada kualitas guru dan budaya sekolah di mana murid mengalaminya sebagai bagian dari kehidupannya sehari-hari, bukan sekedar menjelang ujian-ujian. Jika kualitas guru seburuk saat ini, dan budaya sekolah sebirokratis saat ini, lama bersekolah justru semakin menggerogoti kemandirian dan imajinasi, bahkan juga mengasingkan murid dari kehidupan nyata sehari-hari. Sekolah menjadi ladang pembantaian inovasi, tempat yang pengap bagi beragam ekspresi multi-ranah multi-cerdas murid-muridnya.
    Yang kita butuhkan saat ini bukan perubahan kurikulum, tapi perubahan guru dan budaya belajar. Guru harus menjadi sosok yang mandiri dan teladan manusia merdeka yang tidak mudah diintimidasi oleh birokrat.pendidikan dan wali murid. Pembinaannya harus dilakukan oleh organisasi profesi guru, bukan oleh Pemerintah. Guru tidak boleh dipandang lebih sebagai pegawai, tapi sebagai profesional yang bekerja dengan berpedoman pada kode etik guru.
    Budaya belajar dapat dikembangkan dengan sederhana. Mulailah dengan membangun budaya membaca yang sehat. Sediakan layanan perpustakaan yang baik, dengan koleksi buku yang bermutu, serta akses internet yang memadai hingga tingkat kecamatan. Kemudian hargai pengalaman dan praktek murid sehari-hari menjadi bagian dari diskusi kelas. Kembangkan budaya menulis, lalu beri kesempatan luas untuk berbicara. Begitulah budaya belajar di sekolah dibentuk. Jadikan sekolah sebagai tempat murid belajar, bukan sekedar tempat guru mengajar, dan statistik kelulusan ujian diukur untuk kepentingan birokrasi.
    Di abad internet ini, belajar semakin tidak membutuhkan sekolah. Yang dibutuhkan adalah sebuah jejaring belajar (oleh Ivan Illich disebut learning web) yang lentur dan luwes. Murid bisa belajar di mana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja. Kurikulum, melalui guru, harus menyesuaikan murid, bukan sebaliknya. Dalam perspektif ini, kita tidak membutuhkan Kurikulum Nasional. Kita butuh standar nasional yang bersifat generik. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sebenarnya sudah cukup baik, namun tidak terlaksanakan oleh guru yang kompeten yang berani secara kreatif merancang proses pembelajaran yang paling sesuai bagi murid-muridnya. Saya khawatir ikhtiar Kemendikbud kali ini akan sia-sia (lagi) dan Kurikulum 2013 akan menjadi perencanaan kegagalan pendidikan dan kita bakal menuai tagihan demografi, bukan bonus demografi.***
    This entry was posted in Blog and tagged daniel rosyid, kurikulum, kurikulum 2013, pendidikan, ujian nasional by Kreshna Aditya. Bookmark the permalink.

    About Kreshna Aditya
    Kreshna Aditya adalah inisiator Bincang Edukasi. Ia mengajak beberapa rekannya untuk menginisiasi Bincang Edukasi sejak 2011 sebagai wahana jejaring, amplifikasi dan kolaborasi untuk berbagai inisiatif dan gerakan pendidikan di tingkat akar rumput. Kreshna percaya pendidikan Indonesia sedang bangkit, dan kebangkitan itu dimulai dari masyarakat yang mulai sadar bahwa pendidikan adalah urusan semua orang.
    View all posts by Kreshna Aditya →
    41 THOUGHTS ON ““KURIKULUM 2013″ OLEH PROF. DANIEL M. ROSYID”
    41 THOUGHTS ON ““KURIKULUM 2013″ OLEH PROF. DANIEL M. ROSYID”
    1. Budi on December 3, 2012 at 11:24 pm said:
    Pak dalam Latar belakang Pedoman kegiatan Pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB)yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan pada aliena dua di situ dijelaskan “Dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kuat tuntas dan tidak setengah-setengah serta …..maka diharapkan guru terampil membangkitkan minat peserta didik untuk berkembang dan mengarungi dunia ilmu pengetahuan dan teknologi yang cepat berubah sebagai ciri dari masyarakat abad 21…,
    Melihat kutipan diatas saya bertanya dan heran kenapa Mata Pelajaran Teknologi Informasi & Komunikasi di jenjang SMP dihapuskan?
    Reply ↓
    o Firmanon January 11, 2013 at 11:39 am said:
    Sampai saat ini juga belum ada kejelasan tentang mapel TIK bagi siswa masih masuk ke mulok apa memang dihapus juga belum jelas trs maunya pemerintah ( kemendikbud ) main hapus padahal ranah mapel TIK itu buat siswa, sementara KBM menggunakan IT itu pengembangan dari model pembelajaran. Jangan campur aduk antara kebutuhan siswa dengan model PBM berbasis IT.
    Reply ↓
    2. thopan on December 14, 2012 at 9:07 am said:
    Iya memang benar pendidikan kita ini adalah pendidikan proyek para oknum2 pejabat pendidikan.
    Kalau menurut pendapat saya, pendidikan kita menjadi makin terpuruk ketika biaya pendidikan mulai digratiskan. ini mengakibatkan kehancuran moral massal. Mulai dari orang tua tidak mau mengiraukan lagi tentang pendidikan anak, cara mengotak-atik bendahara BOS tentang uang yang cair, dan pemerintahpun ikut andil dalam proses pengurangan pencairan dana BOS….Na’udzubillaah.
    Reply ↓
    3. Bambang Pudjo on December 16, 2012 at 8:06 am said:
    sangat sepakat dengan pendapat Prof., selama ini guru diperlakukan sebagai pegawai pendidikan atau tepatnya “jongos pendidikan”, terbukti pembebanan administratif terhadap para guru terlalu berlebihan dan mengada-ada yang tidak menjurus ke arah profesional dengan dalih sertifikasi dan lain sebagainya.Sehingga waktu guru leboh banyak disedot untuk menyelesaikan puluhan komponen administratif yang sesungguhnya tidak terlalu relevan dengan tugas profesionalnya.
    Reply ↓
    o Dedeon January 2, 2013 at 12:46 pm said:
    alah-alah … katanya kita harus siapkan siswa agar dpt BERSAING & BERKARAKTER dlm era abad baru, tp TIK sbg salah satu mapel pendukung kesiapan siswa malah dihilangkan, agar siswa punya karakter, tp BAHASA DAERAH jg dihilangkan … dan sayangnya banyak komentar miring tp tetap PEDE… entah mau dibawa kemana PENDIDIKAN INDONESIA ini …
    Reply ↓
    4. heri suprapto on December 17, 2012 at 9:56 pm said:
    menurut aku kalau cuma mau memasukkan kepramukaan saja tidak usah merubah kurikulum baru kenapa apa kurang afdhol kalau tidak merubah kurikulum, karena dalam sekolah atau madrasah mati hidupnya suatu lembaga pendidikan harus hidup dulu kurikulumnya, sebab arah penunjang semuanya
    Reply ↓
    5. Wakhida Nurhayati on December 18, 2012 at 7:54 am said:
    Miris mmg dg dunia pendidikan kita. Sy sbg praktisi, mengindera langsung bahwa mmg paradigma para pengambil kbijakn dan guru yg hrs diubah. Mrk adl para agent of change, bukan sosok yg seharusnya gampang disetir sekedar jalankn proyek.
    Reply ↓
    6. arie_0571 on December 18, 2012 at 8:05 am said:
    Saya sepakat dengan Pak Prof tentang dimensi kedua bahwa walaupun siswa berada di sekolah lebih lama namun bila proses belajar yang semestinya tidak berjalan maka tidak akan menjawab permasalahan,bahkan akan membuka peluang untuk terjadinya prilaku yang aneh-aneh dikalangan siswa (mbolos,tawuran, pelecehan seksual dll) menurut saya permasalahan yang patut mendapat perhatian kita bersama mestinya bagaimana meningkatkan kompetensi guru dalam pelaksanaan tugas-tugasnya serta merubah kultur di satuan pendidikan agar lebih fokus kepada proses dan pembentukan karakter(perubahan prilaku kognitif, afektif dan psikomotor) bukan hanya sekedar mengejar output dengan data yang dimanipulasi(hasil UN). Ketika guru sudah memiliki kompetensi yang lengkap maka diupayakan penjaminan terhadap tugas-tugas guru sehingga intimidasi dari orang tua siswa, masyarakat serta para birokrat dapat dihapuskan, sehingga guru betul-betul dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran serta memberi penilaian sesuai rambu-rambu yang ada. Motivasi siswa kembali meningkat dengan memberlakukan “reward dan funishment”. Yang terakhir mengangkat para kepala-kepala sekolah yang betul-betul kompeten bukan hanya sekedar melihat kedekatan hubungan dengan para penguasa. Kami merindukan suasana dunia pendidikan 30 tahun silam dimana “kompetensi” benar-benar diperhitungkan..!
    Reply ↓
    7. Saiman on December 21, 2012 at 10:54 am said:
    IPS dan IPA SD diintegrasikan ke mana (Bahasa ya..) Mulok SMP di integ ke Seni Budaya dan PJOK, Seni Budaya – PJOK dari Kelompok A jadi B. Kaaah ini lagu lama yang berjudul GANTI KULIT proyek.
    Reply ↓
    8. junaedi on December 23, 2012 at 9:30 am said:
    Apapun perubahan kurikulum yang akan diterapkan, keteladanan adalah metode pembelajaran guru yang terbaik, bagaimana yang itu akan terwujud jika umaro’ dan ulamanya saling berebut kekuasaan, ulama cenderung tertarik kepada kekuasaan, bahkan di sinyalir banyak ulama ikut campur tangan dalam kebijakan-kebijakan di salah satu kementerian, sehingga banyak yang terjadi adalah DUK tidak berjalan, tetapi yang berjalan adalah DUK (daftar usulan kyai), ini suatu bukti semakin miskinnya keteladanan, tidak akan maju bangsa ini jika rekuitmen pegawai dan jabatan hanya atas like and dislike. Janganlah hal ini diteruskan karena akan menghancurkan bangsa ini secara pelan dan pasti. Berilah bangsa ini keteladanan maka Insya Allah akan ada perubahan terhadap nasib bangsa ini
    Reply ↓
    9. LA ODE ALFA on December 25, 2012 at 12:12 am said:
    UU No. 20/2003 pasal 1. 19 “Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu”.
    Pendapat saya, kata kuncinya adalah “KURIKULUM SEBAGAI PEDOMAN”.
    Dalam hal ini bahwa sekolah harus memiliki kurikulum (pedoman) yang disusun dengan baik dan seluruh personil pengelola dan pelaksana menguasai/memahami isi kurikulum tersebut dengan baik pula. Fakta dan kondisi nyata saat ini di sebagian daerah banyak sekolah yang kurikulum, silabu, RPP dll-nya sejak disusun pertama hingga saat ini tidak pernah dikembangkan, bahkan ada sekolah yang tidak memiliki kurikulum karena kurikulum yang pertama dibuat sudah tdak ditemukan lagi.
    Di sekolah yang keadaannya seperti ini disebabkan : 1)Kepala sekolah belum memnuhi standar kompetensi yang disyaratkan sehingga manajemen sekolah tidak optimal, kepala sekolah diangkat bukan hasil proses seleksi sesuai Permendiknas No. 13/2007 dan No. 28/2010 melainkan hasil dari peran Pilkada walaupun guru tersebut karirnya tidak jelas, 2)Sebagian guru bersikap apatis karena tidak ada pemberian penghargaan terhadap guru yang kreatif/berprestasi, 3)Tidak adanya pembinaan (diklat/workshop) untuk meningkatkan kompetensi kepala sekolah, guru dan TU yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah, 4)Supervisi oleh pemerintah daerah tidak terlaksana sebagaimana mestinya, dan hasil supervisi pengawas sekolah tidak digunakan untuk bahan dalam menentukan kebijakan pengkatan mutu pendidikan.
    Kesimpulan saya, bahwa sebaik-baiknya kurikulum dibuat, tidak akan menjanjikan atau menjamin tercapainya tujuan pendidikan yang ideal, melainkan: 1) Rekruitmen kepala sekolah harus melalui seleksi dan pelatihan serta uji kompetensi agar kepala sekolah dapat memahami, menguasai dan melaksakan kewajiban serta tanggung jawabnya, 2)Pemerintah daerah dalam menetapkan kebijakan yang berhubungan dengan pendidikan harus mengacu/mempedomani regulasi pemerintah pusat terutama memenuhi kewajiban pemerintah daerah.
    Reply ↓
    10. Lusi Hapsari on December 26, 2012 at 5:51 pm said:
    Membaca tulisan ini saya jadi teringat sebuah tayangan dokumenter tentang pendidikan di Amerika yang banyak diklaim sangat maju namun pada kenyataannya memiliki problematika yang sama yaitu menemukan pendidik yang kompeten dan profesional serta beretika. Menurut saya daripada mengotak-atik kurikulum apa tidak seyogyanya dana sebesar itu digunakan untuk pembenahan kualitas tenaga pendidik dan fasilitas pendidikan yang memadai seperti yang ditulis oleh BApak. Namun harus kita akui bahwa sebagai pendidik seringkali tidak mudah untuk mengubah paradigma yang mana menjadikan pembelajaran sebagai sarana untuk menanamkan nilai dan mengembangkan keahlihan hidup (life skill). Sepertinya dimensi kedua dan ketiga nampak seperti langkah ‘gopoh’ dan reaktif atas maraknya tawuran dan pelecehan nilai di masyarakat. Tidakakah siswa akan menjadi sperti tahanan?
    Reply ↓
    11. nurkholis on December 26, 2012 at 6:32 pm said:
    ada satu pertanyaan dasar…bahwa apakah kurikulum ini sudah menyetuh akar permasalahan pendidikan di Indonesia. Kalau cuma sekedar proyek tentunya kurikulum ini perlu dipertanyakan. Apakah yang membuat kurikulum memang orang yang kompeten dan masuk dalam lingkaran pendidikan selama ini
    Reply ↓
    12. Fachrur Rozi on December 27, 2012 at 5:10 am said:
    Teman-temanku Se Profesi Pendidikan, marilah kita Hijrah dari Kenyamanan yang selama ini mungkin tidak disadari telah membelenggu ketidakberhasilan kita. Mari bersama Evaluasi Diri untuk lebih baik, selalu husnudzon dengan arah kebijakan dan siapkan sumbangsih apa yang bisa kita berikan nantinya untuk mencerdaskan bangsa ini.
    Reply ↓
    13. bakhtiar on December 30, 2012 at 4:47 am said:
    ok prof. permasalahan mendasar adalah sikap profesionalisme guru yang belum profesional. tetapi jika menilik dari hasil UKG online, ternyata rata-rata kompetensi guru yang sudah bersertifikasi seluruh indonesia masih dibawah nilai 5. artinya nilai tersebut belum diatas nilai minimal kelulusan siswanya. hal ini juga terkait dan disebabkan dengan budaya mutu pendidikan yang masih rendah. jika profesionalisme diukur dari pembayaran tunjangan guru,maka mengapa setelah tunjangan ada, prestasi/kompetensi guru semakin rendah. yang meningkat hanya prestise seorang guru yang hidupnya berbeda. peningkatan diri hanya dilihat dari peningkatan kondisi kendaraan yang digunakan, rumah, gaya hidup yang mulai meningkat. tapi peningkatan kompetensi seperti ikut kursus bahasa asing, TIK atau keterampilan lainnya masih kurang. jika disuvei kemana sebagian uang sertifikasi,maka jawabannya masih sama saat belum menerima tunjangan. maka yang harus dirubah adalah budaya mutu dan diawali dari diri sendiri dan dari hal yang kecil. misalnya guru datang paling awal, dan pulang paling akhir di sekolah, selama tidak mengajar coba belajar dan belajar. semoga
    Reply ↓
    14. Rengganis Mipit Asih on January 1, 2013 at 2:25 pm said:
    Saya setuju dengan artikel di atas, alah bahwasannya peningkatan mutu pendidikan, salah satu yang paling urgennya adalah SDMnya baik itu tenaga pendidik ataupun tenaga kependidikan, terkait hal ini tidak menutup kemungkinan pola rekruitmen untuk menjadi tenaga pendidik yang professional dan handal harus melalui tahapan-tahapan yang mengarah kepada sistem eklusifisme seperti halnya di negara-negara yang maju, di mana untuk menjadi seorang guru melalui beberapa prosedur persyaratan, sehingga guru tersebut melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan kelayakan latar belakang pendidikannya yang ia tempuh, karena fakta di lapangan terutama di daerah masih terdapat tumpangtindihnya penerimaan kuota jurusan, akibatnya penumpukkan guru pada mata pelajaran yang sama, ya akhirnya mata pelajaran yang kekurangan gurunya, digantikan dengan guru yang notabene bukan faknya, terjadilah guru tembak.
    Reply ↓
    15. ayun. N on January 1, 2013 at 7:18 pm said:
    kurikulum 2013 menjadikan para pelaku pendidikan,yaitu pendidik dan tenaga kependidikan menjadi ambigu,arah kurikulum baru ini sedikit tidak jelas, ketidak jelasannya karena sedikit tidak seaarh dengan tujuan pendidikan seutuhnya, kalau-kalau kurikulum baru ini hanya sekedar mengakomodir fakta pelajar sebagai fakta sosial yang selama ini membuat kebingaran yang bersifat lokalitas, atau hermiuniotif kegagalan beberapa pihak pemegang kebijakan di negeri ini, lalu kurikulum menjadi berubah, nasip dunia pendidikan memiliki andil dalam fenomenologis dalam segala peristiwa di negeri ini.Bukankah pelajar itu adalah anak-anaknya para orang tua ???, kalau klaim itu diamini, lalu tidak serta merta kuri kulum diubah, dubuat sesuai dengan kebutuhan pihak-pihak tertentu, naip memang kalau perubahan kurikulum sesuai dengan egoisme belaka,tidak dilihat holistic. Kurukulum KBK, KTSP yang selama ini sedan berjalan belum teruji, belum dapat menghasilkan yg refresentatif, masih ada renovasi, yaaa semestinya ini di sempubakan terlebih dahulu, lalu sesudah sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan zaman, lalu kita tunggu/menanti hasil para “umar bakri” beraksi dengan apakah hasilnya memuaskan apa tidak ?.,evaluasi penting, baru dipertimbangkan untuk diganti. Secara peribadi fisimistis akan keberhasilan kurikulum 2013 ini, umar bakri banyak yg kebingungan. Semestinya kuri kulum kita bersifat organik, bukan kurikulum an-organik.trims
    Reply ↓
    16. sam sul on January 3, 2013 at 9:46 pm said:
    Yang jelas, para komentator pendidikan kita , baik yg katanya pakar maupun awam menurutku cuma pada PINTER OMONG thok, pada pintar cari kambing hitam dengan menyalahkn sana-sini; sistemyalah yg salah, gurunya tidak bermutu, sarananya tidak lengkap,dan tetek bengek tudingan yg kadang gak jelas. Buktinya ya sampai sekarang pendidikan kita amburadul terus soalnya semua yang mengaku pemerhati pendidikan terlalu sibuk dengan tudang tuding sana-sini, tidak sempat lagi introspeksi. Sekaranglah saatnya DIAM, lakukan tugas masing-masing dan gak usah banyak cing-cong. INTROSPEKSILAH…
    Reply ↓
    17. tato mintardjo on January 3, 2013 at 11:50 pm said:
    saya tidak sepaham jika dikatakan kurikulum 2013 akan memnyebabkan anak pulang makin sore sehingga belajar akan makin baik dan makin efektif. jam belajar memang benar ditambah dengan akibat tidak lagi bisa belajar hanya 5 hari seperti selama ini, melainkan menjadi 6 hari dan pulang tetap siang.
    saya setuju pada penerapan kurikulum 2013 karena ditekankan pada proses belajar dan tidak lagi melulu hasil belajar. selain itu penilaian tidak bertitik berat pada ulangan dan ujian tetapi portofolio siswa dan terutama sikap siswa yang dituntut dalam kompetensi inti di tiap pelajaran. cara penilaian seperti ini menurut hemat saya lebih baik daripada apa yang diterapkan selama ini di sekolah-sekolah yaitu melulu penilaian dari sisi kognitif saja lewat ulangan dan ujian yang kesemuanya menciptakan mental mencari jalan pintas yaitu mencontek dan curang.
    Reply ↓
    18. bagiasa on January 4, 2013 at 2:38 pm said:
    Masalahnya Ada pada tenaga pendidik Dan kependidikannya sendiri, terlalu banyak kesenjangan untuk sebuah pendidikan negeri. Manajemen yg diterapkan dari sebagian kepsek yg kurang berpengalaman dan menjabat berdasarkan kedekatan dgn penguasa daerah. Hal ini menimbulkan pro-kontra antara kepsek-guru-dan tenaga kependidikan. Begitu juga dgn penyaluran anggaran Dana oprasional sekolah yg kurang transparan Dan bukan berdasarkan kebutuhan di masing-masing mgmp melainkan ditentukan sendiri oleh pemberi keputusan. Akibatnya media yg semestinya menjadi prioritas kebutuhan pembelajaran malah tidak mendapat perhatian Dan proses pembelajaran sendiri berlangsung apa adanya. Untuk kurikulum yg bentuknya bagaimanapun pasti bisa diterapkan asalkan dari segi media maupun Sarana/ prasarana Yang disediakan minimal ADA dan kuota dari ratio antara pendidik dengan jumlah sisiwa sesuai.
    Reply ↓
    19. sabar santoso on January 4, 2013 at 3:20 pm said:
    menanggapi tentang kurikulum 2013, mohon jangan dibumbui dengan politik, maka sebagi orang penggodong kurikulum itu harus benar-benar tahu tentang kependikan. jangan sampai pengurus olah raga tidak tahu tentang olahraga jadinya PSSI bobrok, Mulok bahasa tolong hati-hati yang membuat (baik bahasa dan kalimat) harus sesuai dengan daerahnya, karna buku SD itu tidak sesuai dengan keberadaan lingkungan (aku wong jawa tengah) tu bahasanya orang jawa timur dak bener tuuuu.. tolooooo ….ng
    Reply ↓
    20. sabar santoso on January 4, 2013 at 3:28 pm said:
    sekarang banyaknya SKM tkj, yang bermunculan dengan muatan lokal yang ngeri lebih banyak perkelas ada 7 lokal, setiap lokal ada minim 38 siswa, jadi tingkat kelulusan tinggal dikalikan, hal ini tidak sesuai dengan dalih program keahlian, tolong ditinjau apakah sudah sesuai dengan lapangan pekerjaan, sesuai dengan angan-angan setiap siswa, apakah hal ini tidak sadar sebagai pembuat kebijakan tentang hasil kependidikan yang selama ini anyaknya siswa yang berangan-angan karena tidak adanya penyeimbang dengan kelulusan,,,,, mohon dipikirkan…apakah dengan sekolah kejuruan bangsa kita akan dibawa berandai-andai….
    Reply ↓
    21. rudi on January 4, 2013 at 10:25 pm said:
    gonta ganti kurikulum kalo sistemnya bobrok ya tetep aja ga maju. Coba lihat raport anak sekarang ada ngga nilai 5?ga ada kan? sekolah berlomba-lomba menaikkan KKM, tapi sebenarnya itu hanya semu. hanya untuk gagah-gagahan. Sebenarnya kesalahan utama bukan pada guru, tetapi pada sistem pendidikan kita yang lebih mengutamakan kuantitas dari pada kualitas. Sekolah berlomba-lomba untuk meningkatkan persentase kelulusan, hal ini diperparah dengan paradigma pendidikan dari para penguasa yang salah kaprah. mereka menganggap sekolah yang persentase lulusannya besar itulah sekolah yang baik, sehingga sekolah berusaha meluluskan siswanya dengan menghalalkan segala cara.
    Sebenarnya di negara kita ini banyak orang yang pintar dan paham tentang pendidikan, tapi mereka sendiri yang merusaknya…
    Reply ↓
    22. safrizal on January 7, 2013 at 1:20 pm said:
    seharusnya mapel tik tdk dihilangkan, krena msh byk ank2 didik dinegara ini yg masih buta komputer….
    sy harap ini menjadi bahan masukan
    trima kasih..
    Reply ↓
    23. najib on January 7, 2013 at 2:08 pm said:
    Kurikulum marak diperbincangkan. Ada pro ada yang k

  120. Perencanaan Kurikulum 2013 Dituding Gagal
    Rachmad Faisal Harahap
    Rabu, 27 Maret 2013 17:21 wib

    Demo penolakan Kurikulum 2013. (Foto: Rachmad Faisal Harahap/Okezone)
    JAKARTA – Penolakan terhadap sistem Kurikulum 2013 semakin deras. Sudah pasti, guru menjadi orang yang paling dirugikan. Perencanaan dari Kurikulum 2013 pun sudah dinilai gagal.

    Jika diterapkan, Kurikulum 2013 akan membuat ratusan ribu guru kehilangan pekerjaannya alias ada pemutusan hubungan kerja (PHK). Selain itu, guru juga tidak dapat mengembangkan ilmu sesuai dengan bidang studinya. Alhasil, hal ini membuat karir mereka tidak berkembang.

    “Kurikulum ini sangat tidak baik dari segi manapun. Dari perencanaannya saja gagal apalagi pelaksanaannya,” kata Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ihsan Abdan, di Ruang Rapat Kepala PIH, Gedung C lantai 4 Kemendikbud, Jakarta, Rabu (27/3/2013).

    Dia beralasan, ditolaknya Kurikulum 2013 ini karena tidak ingin pendidikan Indonesia gagal. “Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) juga perlu dievaluasi,” tegasnya.

    Sebelumnya, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listyarti memaparkan, 62% guru sekolah dasar (SD) tidak pernah ikut pelatihan sampai menjelang pensiun. Sedangkan 37% guru kota besar hanya mendapat pelatihan satu kali dalam lima tahun.

    “Kurikulum 2013 mengacu pada pemborosan uang rakyat, pembodohan guru. Generasi (e)Mas Nuh bukan generasi emas,” tutur Retno.(ade)
    Kurikulum 2013 Bikin Guru Nggak Kreatif
    Rachmad Faisal Harahap
    Rabu, 27 Maret 2013 19:20 wib

    Ilustrasi. (Foto: okezone)
    JAKARTA – Kurikulum 2013 disebut membuat guru menjadi enggak kreatif. Bahkan, kurikulum ini dianggap sebagai pembodohan secara sistematis terhadap guru.

    “Kami para guru keberatan dengan kebijakan ini karena selama ini guru di Indonesia kekurangan pelatihan. Jadi kalau tidak bisa membuat perangkat pembelajaran, termasuk silabus, seharusnya guru dilatih untuk bisa,” kata Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listyarti, di Ruang Rapat Kepala PIH, Gedung C lantai 4 Kemendikbud, Jakarta, Rabu (27/3/2013).

    Retno menambahkan, pelatihan untuk guru inti dan guru massal yang pertemuannya dilakukan selama 52 jam atau setara dengan lima hari dianggap terlalu singkat.

    Menurutnya, perubahan kurikulum di luar Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tentu akan mengganggu anggaran yang sudah direncanakan.

    “Saat ini belum ada sebuah telaah akademik-evaluatif atas kurikulum yang lama,” pungkasnya.(ade)

    Tolak Kurikulum 2013!
    Rachmad Faisal Harahap
    Rabu, 27 Maret 2013 14:45 wib

    Aksi Tolak Kurikulum 2013 oleh Aliansi Revolusi Pendidikan di depan gedung Kemendikbud. (Foto: Rachmad Faisal/Okezone)
    JAKARTA – Aliansi Revolusi Pendidikan menggelar aksi tolak kurikulum 2013. Mereka juga mengusung isu hentikan ujian nasional (UN) dan hapuskan komersialisasi pendidikan.

    Di halaman gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Rabu (27/3/2013), para orator berorasi tentang betapa loyalitas bukan sekadar membangun kesadaran buta. Hal ini berlaku juga untuk masalah penerapan kurikulum 2013.

    “Jika kurikulum 2013 diterapkan, maka ratusan ribu guru akan di-PHK. Para guru yang terancam kehilangan pekerjaan, terhambat kariernya dan kehilangan kesempatan mengembangkan ilmunya. Apakah dampak ini tidak dipikirkan pihak Kemendikbud?” kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listyarti.

    Dia memaparkan, 62% guru sekolah dasar (SD) tidak pernah ikut pelatihan sampai menjelang pensiun. Sedangkan 37% guru kota besar hanya mendapat pelatihan satu kali dalam lima tahun.

    “Kurikulum 2013 mengacu pada pemborosan uang rakyat, pembodohan guru. Generasi (e)Mas Nuh bukan generasi emas,” imbuhnya.

    Selain Aliansi Revolusi Pendidikan, aksi ini juga diikuti oleh lembaga lainnya seperti Indonesia Corruption Watch (ICW) dan Forum Musyawarah Guru Jakarta (FMGJ).(rfa)
    Kurikulum 2013
    Pendidikan di Indonesia Tak Mengacu Amerika
    Rachmad Faisal Harahap
    Rabu, 27 Maret 2013 18:53 wib

    Ilustrasi. (Foto: shutterstock)
    JAKARTA – Kurikulum 2013 dirumuskan dalam Undang-Undang (UU) Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Oleh karena itu, keberadaannya tidak layak dipermasalahkan.

    “Kita tidak bisa mengacu (pendidikan) pada filosofi di Amerika, kita mengacu pada UU Sisdiknas. Katanya berbasis kompetensi amanat UU, masa harus dilakukan kalau tidak melanggar UU,” tutur Staf Ahli Mendikbud Bidang Sosial dan Ekonomi Pendidikan Prof. Dr. Ir. Abdullah Alkaff, M.Sc., Ph.D, di Ruang Rapat Kepala PIH, Gedung C lantai 4 Kemendikbud, Jakarta (27/3/2013).

    Senada dengan yang diucapkan Abdullah, Kepala BPSDM-PMP Kemendikbud Syawal Gultom juga mengatakan jika rekonstruksi Kurikulum 2013 mengacu pada filosofi pendidikan yang esensial. “Kita rekonstruksi kompetensi mata pelajaran,” tukas Syawal singkat.

    Syawal mencontohkan, dalam selain akan berubah, mata pelajaran dalam Kurikulum 2013 akan disempurnakan.

    “Misalnya, kompetensi Matematika jangan dikaitkan dengan sikap. Kurikulum 2013 pintu masuk untuk mempelajari sistem pendidikan, yang menjadi platformnya seperti IPS mengacu pada mata pelajaran geografi dan IPA mengacu pada biologi karena belajar biologi otomatis belajar pula fisika dan kimia,” jelas Syawal.

    Di sisi lain, Kurikulum 2013 ini dinilai sebagai jalan mengevaluasi guru. “Kami berharap kurikulum ini jalan masuk, sebagai evaluasi perbaikan guru. Pelatihan guru belum dilaksanakan karena butuh kesabaran,” tambah Kabalitbang Kemendikbud Khairil Anwar Notodiputro.(ade)

    ITS Bedah Habis Kurikulum 2013
    Margaret Puspitarini
    Kamis, 28 Maret 2013 15:19 wib

    Foto: dok. ITS.
    JAKARTA – Efektivitas penerapan kurikulum 2013 menjadi pertanyaan sejumlah pihak. Bahkan banyak pihak yang meragukan kontribusi kurikulum baru dalam dunia pendidikan Tanah Air.

    Membahas persoalan tersebut, Pusat Studi Sains Lembaga Penelitian Pengabdian Masyarakat (LPPM) Institut Teknologi Sepuluh Nopember mengundang staf ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Sukemi dan Kepala Pusat Studi Sains dan Teknologi LPPM ITS Surya Rosa untuk memberikan pemaparan terkait kurikulum 2013. Seminar tersebut bertajuk “Menuju Pendidikan Sains, Teknologi, Engineering dan Matematika yang Terintegrasi.”

    Pada kesempatan tersebut Sukemi mengatakan, kurikulum 2013 memuat standar kompetensi yang dirancang khusus agar seorang siswa dapat menghadapi tantangan perubahan zaman. Sebuah kurikulum dibuat dengan memuat sistem penilaian, isi, serta proses metodologi pengajaran.

    Sementara perubahan kurikulum yang terjadi saat ini dilakukan untuk mengantisipasi perubahan kebutuhan, keterampilan, dan sikap. Sehingga, lanjutnya, perubahan sebuah kurikulum pendidikan di suatu negara, termasuk Indonesia adalah hal yang wajar.

    Dia menambahkan, sejak Indonesia merdeka, baru terjadi sembilan kali perubahan kurikulum pendidikan. ”Sebenarnya kurikulum bisa digunakan untuk 20 tahun. Tapi perubahan itu cepat, karena itu kurikulum turut dirubah agar lulusan bisa lebih siap dengan perubahan,” kata Sukemi, seperti dikutip dari ITS Online, Kamis (28/3/2013).

    Metode pendidikan yang dimuat dalam kurikulum 2013 diharapkan dapat membentuk generasi yang memiliki sikap, pengetahuan, keterampilan, dan kreativitas. Bentuk nyata dalam perombakan kurikulum lama menjadi kurikulum 2013 adalah memasukkan kompetensi-kompetensi baru yang dinilai lebih kompetitif di setiap jenjang. ”Ada banyak materi-materi di kurikulum sebelumnya yang penting, tapi ternyata belum tersampaikan di negara kita,” jelasnya.

    Sukemi menyatakan, kurikulum 2013 tidak lagi memberikan tugas perancangan silabus kepada guru karena dirasa terlalu memberatkan. Penghapusan ini bertujuan agar guru bisa fokus menyampaikan materi kepada siswa. ”Silabus itu membuatnya tidak mudah, akibatnya sering muncul kasus copy-paste,” tutur Sukemi.

    Selain itu, lanjutnya, dalam kurikulum 2013 tidak ada istilah penjurusan untuk siswa sekolah menengah. Sebaliknya, sistem penjurusan IPA, IPS, dan Bahasa akan diganti dengan sistem peminatan.

    “Misalnya, siswa yang memiliki minat di bidang IPA tetap mempelajari ilmu sosial dan sejarah, namun porsi jam belajar untuk mata pelajaran IPA ditambah. Jadi, yang sebelumnya cuma belajar fisika tiga jam akan berubah jadi empat jam,” jelasnya.

    Sementara itu, Surya berharap, seminar tersebut dapat menjawab kerisauan akan substansi dari kurikulum 2013. Sehingga dapat memunculkan gagasan membuat sistem integrasi keilmuan di dalam perguruan tinggi yang sesuai dengan kurikulum 2013.

    ”Harus ada sistem yang mampu mengintegrasikan sains, teknologi, engineering, dan matematika untuk mahasiswa,” ungkap Surya.(rfa)

    Dampak Implementasi Kurikulum 2013
    Rachmad Faisal Harahap
    Rabu, 20 Maret 2013 18:11 wib

    Foto: dok. Okezone
    JAKARTA – Ketergesaan pemerintah dalam menerapkan kurikulum 2013 akan berdampak pada berbagai kondisi pendidikan di Indonesia.

    Hal tersebut terungkap dalam Focus Group Discussion Bidang Pendidikan Politik dan Kebudayaan, di kantor DPP Partai NasDem, Jakarta Pusat, hari ini. Menurut guru SMAN 13 Jakarta Retno Listyarti, dampak pertama adalah mutu guru menjadi rendah karena minim persiapan untuk menunjangkurikulum baru.

    “Guru mengajar di dua atau tiga sekolah demi mengejar kekurangan jam agar memperoleh tunjangan sertifikasi. Kadang jarak antarsekolah tempatnya mengajar sangat jauh sehingga para guru sudah kelelahan dan tidak lagi memiliki waktu untuk belajar seperti membaca dan menulis,” kata Retno, Rabu (20/3/2013).

    Kemudian, pengurangan jam mata pelajaran atau penghapusan mata pelajaran akan menyebabkan kelebihan guru. Retno mengilustrasikan, pelajaran Bahasa Inggris di SMA dikurangi jamnya dari 180 menit menjadi hanya 90 menit. Hal ini akan menyebabkan kelebihan guru bahasa Inggris di SMA. Sementara itu, pelajaran olahraga ditambah menjadi tiga jam pelajaran.

    “Ada juga mata pelajaran yang diganti, bukan dihapus. Contohnya, mata pelajaran Tata Boga dan Tata Busana pada jenjang SMP diganti menjadi prakarya, padahal substansinya jelas berbeda,” imbuh Retno.

    Guru Besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Soedijarto memaparkan, postur anggaran cenderung mengutamakan pembangunan fisik, seperti membangun dan memperbaiki sekolah, membeli alat, dan melengkapi sarana/prasarana. Sementara itu, sangat minim anggaran untuk membangun kapasitas guru.

    “Bahkan kadang-kadang tidak diajukan dalam rencana anggaran. Partai-partai elite harus memikirkan pendidikan ini untuk kurikulum baru, perlu ada anggaran dalam APBN dan APBD,” tutur Soedijarto.(rfa)
    Kurikulum 2013 Ditolak
    Jumat, 29 Maret 2013, 00:05 WIB
    Komentar : 0

    Kurikulum 2013
    A+ | Reset | A-
    REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Sejumlah organisasi massa yang tergabung dalam Aliansi Revolusi Pendidikan menolak rencana implementasi Kurikulum 2013 tahun ajaran 2013/2014.

    Aliansi ini terdiri dari Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Federasi Guru Independen Indonesia (FGII), Forum Musyawarah Guru Jakarta (FMGJ), Indonesia Corruption Watch (ICW), Sekolah Tanpa Batas (STB), Front Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI), Koalisi Pendidikan, Solidaritas Anak Jalanan untuk Demokrasi (SALUD), BEM UNJ, Aliansi Orang Tua Murid Peduli Pendidikan (APPI), dan praktisi pendidikan.

    Mereka menyebut Kurikulum 2013 diputuskan secara mendadak dan menelan anggaran hingga Rp 2,49 triliun. “Sampai saat ini DPR juga belum menyetujui anggaran melekat yang diajukan pemerintah untuk dialihkan ke program Kurikulum 2013. Meskipun demikian, Kemendikbud tetap saja menjalankan seluruh proses perubahan kurikulum. Lalu dari mana dana-dana tersebut?” ujar Koordinator Monitoring Pelayanan Publik Indonesia Corruption Watch (ICW) Febri Hendri.

    Selain menyampaikan penolakan kurikulum, aliansi juga mendesak pemerintah menghentikan Ujian Nasional (UN) dan menghapuskan komersialisasi pendidikan.

    Peneliti ICW, Siti Juliantari Rachman, mengatakan, langkah ini diambil agar pihak kementerian mau mendengar aspirasi yang disampaikan dan mempertimbangkan agar Kurikulum 2013 tidak begitu saja diterapkan pertengahan Juli mendatang. “Ini kurikulum instan yang efeknya dikhawatirkan akan merugikan anak bangsa nantinya,” katanya.

    Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Pendidikan Musliar Kasim mengatakan, sulit membatalkan kurikulum yang sudah dipersiapkan pada Juli 2013 itu. Apalagi, saat ini persiapan sedang dalam tahapan percetakan buku dan pelatihan guru.

    Musliar mengungkapkan, sebelum membatalkan kurikulum yang berbasis saintifik-integratif tersebut, pihak yang menolak kurikulum harus lebih dulu mendengar penjelasan dari pemerintah. “Jika perlu dalam debat terbuka,” kata Musliar.

    Pada debat tersebut, Musliar berjanji siap memberikan penjelasan. Tapi, debat harus fair dan mengundang semua pihak. “Jangan hanya menghadirkan yang menolak saja karena kalau dasarnya sudah menolak, dikasih penjelasan seperti apa pun tetap menolak,” tuturnya.

    Terkait anggaran yang dipersoalkan ICW, Musliar menjelaskan, itu telah sesuai dengan RKA/KL Kemendikbud. Soal anggaran yang berubah-ubah, Musliar mengaku, dalam pengajuan anggaran Kurikulum 2013 kementerian memang belum bisa mengajukan anggaran yang pas sejak awal.

    “Kami belum bisa mengajukan anggaran yang pas karena uji publik minta penerapan kurikulum tidak 30 persen,” ujarnya.
    Reporter : Fenny Melisa
    Redaktur : M Irwan Ariefyanto

    Buku Kurikulum 2013 Dicetak 28 April
    Selasa, 26 Maret 2013, 19:59 WIB
    Komentar : 0

    Kurikulum 2013
    A+ | Reset | A-
    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) tidak main-main soal implementasi Kurikulum 2013. Persiapan oleh direktorat atau badan teknis Kemdikbud terus dilakukan.
    Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Pendidikan Musliar Kasim mengatakan buku sebagai salah satu instrumen yang dibutuhkan untuk pelaksanaan kurikulum sudah selesai. Saat ini, kata dia, sedang menunggu hasil penilaian oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).
    “Buku itu akan dicetak sekitar 28 April. Kami masih mengirimkan kepada berbagai pihak untuk memberikan masukan,” kata Musliar dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Kurikulum antara Kemdikbud dengan Panitia Kerja (Panja) Kurikulum Komisi X DPR RI di Jakarta, Senin (25/3) malam.
    Musliar menyebutkan sesuai dengan hasil RDP pada 13 Maret 2013 yang lalu, Kemdikbud diminta menyelesaikan berbagai dokumen antara lain dokumen standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses, dan standar penilaian. Menurutnya, dua dokumen telah selesai disusun, sedangkan dua lainnya dalam proses telaah.
    “Mudah-mudahan tidak lama lagi (selesai), sehingga tidak ada hal yang menghalangi pelaksanaan implementasi kurikulum pada Juli 2013,” ujar Musliar.
    Pada paparannya Musliar menyampaikan, anggaran untuk implementasi Kurikulum 2013 telah ada dalam Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga (RKA K/L) Kemdikbud 2013. Dia menyebutkan, mata anggaran yang menyatakan tentang kurikulum sebanyak Rp 631 miilar, sedangkan dana pendukung sebanyak Rp 1,1 triliun.
    Reporter : Fenny Melisa
    Redaktur : Citra Listya Rini

    Buku Kurikulum 2013 Dicetak 28 April
    Selasa, 26 Maret 2013, 19:59 WIB
    Komentar : 0

    Kurikulum 2013
    A+ | Reset | A-
    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) tidak main-main soal implementasi Kurikulum 2013. Persiapan oleh direktorat atau badan teknis Kemdikbud terus dilakukan.
    Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Pendidikan Musliar Kasim mengatakan buku sebagai salah satu instrumen yang dibutuhkan untuk pelaksanaan kurikulum sudah selesai. Saat ini, kata dia, sedang menunggu hasil penilaian oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).
    “Buku itu akan dicetak sekitar 28 April. Kami masih mengirimkan kepada berbagai pihak untuk memberikan masukan,” kata Musliar dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Kurikulum antara Kemdikbud dengan Panitia Kerja (Panja) Kurikulum Komisi X DPR RI di Jakarta, Senin (25/3) malam.
    Musliar menyebutkan sesuai dengan hasil RDP pada 13 Maret 2013 yang lalu, Kemdikbud diminta menyelesaikan berbagai dokumen antara lain dokumen standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses, dan standar penilaian. Menurutnya, dua dokumen telah selesai disusun, sedangkan dua lainnya dalam proses telaah.
    “Mudah-mudahan tidak lama lagi (selesai), sehingga tidak ada hal yang menghalangi pelaksanaan implementasi kurikulum pada Juli 2013,” ujar Musliar.
    Pada paparannya Musliar menyampaikan, anggaran untuk implementasi Kurikulum 2013 telah ada dalam Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga (RKA K/L) Kemdikbud 2013. Dia menyebutkan, mata anggaran yang menyatakan tentang kurikulum sebanyak Rp 631 miilar, sedangkan dana pendukung sebanyak Rp 1,1 triliun.
    Reporter : Fenny Melisa
    Redaktur : Citra Listya Rini

    Daripada Kurikulum, Tuntaskan dulu Korupsi Pendidikan
    Rachmad Faisal Harahap
    Rabu, 27 Maret 2013 16:00 wib

    Banyaknya sekolah rusak menjadi indikator masih terjadinya korupsi di sektor pendidikan. (Foto: dok. Okezone)
    JAKARTA – Polemik seputar kurikulum 2013 masih bergulir. Salah satu kelompok yang menentang keras penerapan kurikulum baru ini adalah Indonesian Corruption Watch (ICW).

    Ketika mendatangi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) hari ini, ICW dengan juru bicara Febri Hendri menyampaikan pandangan mereka terkait penolakan kurikulum 2013. Menurut ICW, penerapan kurikulum 2013 sebaiknya ditunda atau dihentikan. Mereka juga bersikeras agar Kemendikbud menghapus ujian nasional (UN).

    “Khusus mengenai kurikulum 2013, kami menentang, mengingat kasus korupsi di sektor pendidikan banyak terjadi. Karena sistem belum cukup bebas dari korupsi, kami khawatir ada transaksi lagi antara Kemendikbud dan DPR terkait penerapan kurikulum 2013 ini,” kata Febri, di Gedung Kemendikbud, Jakarta, Rabu (27/3/2013).

    Perwakilan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Ifa, menyampaikan, pendidikan karakter yang diusung kurikulum 2013 kurang tepat. Pasalnya, pendidikan karakter lebih tepat dicanangkan melalui berbagai program pendidikan, bukan pada tataran kurikulum.

    “Dari pengalaman saya, istilahnya bicara moral, sama saja di implementasinya. Critical thinking kita lemah, masih menghafal dan rendah menalar, guru-gurunya dulu yang pintar baru muridnya,” tutur Ifa.

    Sementara itu, Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listyarti mengimbuh, pihaknya sebenarnya mendukung perubahan. Namun, dia melihat, struktur kurikulum anyar ini akan berdampak pada pergantian mata pelajaran dan guru.

    “Guru Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) akan memilih mata pelajaran yang lain yang bukan bidangnya, ini akan menghambat. Apalagi mata pelajaran bahasa asing yang jarang peminatnya, akan dihapus,” ujar Retno.

    Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Musliar Kasim yang menerima kelompok tersebut beserta jajaran Kemendikbud lainnya menyampaikan, Kemendikbud menyusun kurikulum 2013 dengan mengedepankan kompetensi attitude, skill and knowledge. Dia mengklaim, niat baik Kemendikbud untuk memadu pendidikan ini justru dihalang-halangi dan mendapat tantangan dari banyak pihak.

    Musliar menegaskan, model kurikulum yang diterapkan sekolah adalah baik. Belum lagi dari sisi anak didik yang juga luar biasa menyenangkan.

    “Inilah yang kita buat untuk anak bangsa, memberikan kesempatan anak-anak untuk berpikir. Lebih baik, kami meminta, kalau ada yang kurang, takut ada kebocoran anggaran, tolong diawasi. Ini bukan sekadar perubahan, tapi perbaikan,” kata mantan rektor Universitas Andalas (Unand), Padang, itu.(rfa)
    Mendikbud: Kurikulum 2013 Jangan Bikin GuruNgeluh
    Rachmad Faisal Harahap
    Kamis, 28 Maret 2013 18:00 wib

    Mendikbud Mohammad Nuh. (Foto: Dede Kurniawan/Okezone)
    JAKARTA – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh mulai menyosialisasikan Kurikulum 2013 kepada guru-guru di DKI Jakarta. Sosialisasi tersebut bertema Dialog Interaktif Pemantapan Kurikulum 2013.

    “Pemberlakuan atau pelaksanaan Kurikulum 2013 tidak boleh mengakibatkan guru mengeluh. Yang penting mereka tidak boleh di-PHK, urusan nanti ada beberapa guru-guru yang bermasalah akan konsultasi dengan kepala dinas,” imbuh Mendikbud Mohammad Nuh, ketika menyampaikannya kepada guru-guru se-DKI Jakarta, di Balai Sudirman, Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (28/3/2013).

    Oleh karena itu, pihaknya saat ini mulai memberikan sosialisasi dengan memberikan pengumuman, namun belum ada pelatihan. “Mulai Juli akan ada kurikulum baru tapi tidak semua sekolah, tidak semua kelas. Melainkan hanya kelas 1 dan kelas 4 SD,” tambahnya.

    Dia menambahkan, pelatihan secara bertahap ini nantinya hanya untuk guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah. Bagi guru yang sudah siap melakukan perubahan, maka pelatihannya akan dilakukan berjenjang.

    “Jika ada guru yang berkompetensi tolong didaftar atau mendaftarkan diri untuk menjadi instruktur nasional menjadi guru inti,” tegasnya.

    Di sisi lain, Nuh menjelaskan wajibnya ekstrakurikuler pramuka dalam Kurikulum 2013 bagi siswa-siswi berjenjang SMP dan SMA.

    “Kenapa pramuka sangat penting, karena yang kita bangun bukan semata-mata pengetahuan saja tetapi keterampilan dan sikap juga. Pembina pramuka juga dihitung berapa jam untuk memenuhi operasionalnya, jumlah jamnya bisa dihitung lagi mana yang lebih dan yang kurang,” pungkasnya.(ade)
    Kurikulum 2013, Untuk Siapa?
    alt
    Komunitas Milisi Mural Depok menolak Kurikulum 201
    Nelson Mandela pernah berujar: “Pendidikan adalah senjata terkuat yang bisa Anda gunakan untuk mengubah dunia.” Tapi tidak demikian di Indonesia. Kebijakan pendidikan yang amburadul, selalu mengorbankan dua pelaku penting pendidikan: guru dan murid. Namun sepertinya ini bukan masalah bagi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang dengan asyiknya tengah merancang Kurikulum 2013.
    Di penghujung tahun 2012, pemerintah melalui Kemdikbud membuat keputusan mengagetkan, yaitu mengubah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 dengan Kurikulum 2013 yang dianggap dapat memecahkan masalah pendidikan di Indonesia.
    Pemerintah meyakini Kurikulum 2013 dapat menyiapkan anak didik yang memiliki kompetensi mumpuni, menjawab tantangan zaman, mendorong kreatifitas, meningkatkan kemampuan matematika, mengakrabkan anak didik dengan data, hingga mengajarkan budi pekerti.
    Pemerintah juga kerap mengatakan, rendahnya hasil riset internasional tentang kualitas siwa di Indonesia, membuat Kurikulum 2013 “penting dan genting”. Kemdikbud juga pernah menyatakan bahwa kurikulum 2013 adalah yang terbaik di dunia, dirancang oleh para profesor, jadi tidak mungkin salah. Bagi yang menolak kurikulum 2013, Mendikbud Mohammad Nuh mengatakan, bukanlah pemain inti dalam pendidikan nasional (Kompascom, 30/03). Nuh menegaskan, pemain inti Kurikulum 2013, adalah penyelenggara dan pemilik sekolah. “Yang ramai nolak itu yang enggak punya sekolahan dan bukan pengelola sekolahan,” demikian seperti dilansir media.
    Padahal, Koalisi Tolak Kurikulum 2013 bukan tak pernah mengajak Kemdikbud bicarakan kurikulum 2013. Tapi Kemdikbud tetap ngotot. Koalisi juga selalu siap diajak debat terbuka, bahkan aktif mengajak. Tapi Kemdikbud tidak mau. Bahkan, hari Minggu lalu (7/4), di Universitas Negeri Jakarta, tempat kuliah para calon guru, berlangsung diskusi Kurikulum 2013. Namun Wamendikbud Musliar Kasim tidak hadir.
    Akhirnya, Kurikulum 2013 hanya menjadi satu lagi rancangan tambal sulam di tengah lautan persoalan pendidikan.
    Karena riset internasional
    Kemdikbud selalu mengatakan bahwa alasan perubahan kurikulum karena rendahnya hasil riset internasional yang mengukur kualitas murid, yaitu PISA, TIMSS, dan PIRLS.
    Programme for International Student Assessment atau PISA, adalah evaluasi sistem pendidikan negara-negara di dunia. PISA menilai kemampuan kognitif dan keahlian membaca, matematika dan sains. Pada tahun 2009, PISA memperlihatkan rata-rata siswa Indonesia hanya menguasai pelajaran sampai level 3 dari 6 level. Dalam hal membaca, Indonesia berada di peringkat 57, matematika di peringkat 61, dan sains di peringkat 60, dari 65 negara.
    Kemudian, Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS), studi internasional untuk mengukur prestasi matematika dan sains siswa SMP. TIMSS membagi penilaian dalam empat kategori, yaitu rendah, menengah, tinggi, dan lanjutan. Hasil penelitian TIMSS memperlihatkan 95% siswa Indonesia hanya mampu menyelesaikan soal hingga tingkat menengah atau intermediate.
    Riset berikutnya, Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) adalah studi internasional tentang literasi membaca (melek huruf) untuk siswa Sekolah Dasar. PIRLS diselenggarakan lima tahun sekali. Pada tahun 2011, PIRLS diikuti oleh 45 negara. Hasilnya memperlihatkan bahwa peserta didik Indonesia berada pada peringkat ke 41 dari 45 negara dalam literasi membaca.
    Pemerintah mengartikan hasil ketiga penelitian di atas bahwa kurikulum yang ada sekarang, berbeda dengan tuntutan zaman global. Sehingga obat mujarabnya adalah Kurikulum 2013. Setidaknya ada tiga sisi yang bisa kita gali soal sengkarut Kurikulum 2013, yaitu: menabrak dasar hukum, anggarannya yang meroket, serta isi kurikulum yang membuat geleng-geleng kepala.
    Menabrak dasar hukum
    Dalam merancang program apapun, termasuk kurikulum, pemerintah harus berpatokan pada Undang-undang. Pasal 36 Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas), jelas menyebut bahwa pengembangan kurikulum mengacu pada standar nasional pendidikan.
    Tapi, Kemdikbud tidak mengacu pada standar pendidikan nasional dalam membuat Kurikulum 2013. Yang ada, Kemdikbud membuat Kurikulum 2013 terlebih dahulu duluan, baru kemudian meralat standar nasional pendidikan. Jadi, setelah kurikulum 2013 diganti, baru kemudian Kemdikbud ramai-ramai berusaha merevisi PP tentang Standar Nasional Pendidikan. Dari dasar hukummya saja, Kurikulum 2013 sudah bermasalah. Bukannya memulai dari Undang-undang, Kemdikbud malah menabraknya.
    Kurikulum 2013 juga dibuat tanpa perencanaan matang. Dalam waktu singkat enam bulan, cling! Kurikulum langsung jadi. Masyarakat juga berhak mencatat, Kemdikbud tidak pernah mengevaluasi kurikulum sebelumnya (KTSP 2006). Tanpa evaluasi, Kemdikbud gagah berani tetap merancang Kurikulum 2013. Padahal, KTSP 2006 saja masih belum bisa diterapkan secara menyeluruh. Sekarang, sudah mau ganti lagi.
    UU Sisdiknas pasal 36 ayat (2) juga menyebutkan bahwa kurikulum di semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik. Tapi saat ini, seluruh buku disusun secara terpusat. Buku panduan untuk guru juga dibuat di pusat. Bagaimana mau mengembangkan potensi daerah?
    Kemudian, di PP No. 17 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, yang disebut kurikulum adalah kurikulum tingkat satuan pendidikan. Jadi harusnya, kalau Kemdikbud mau mengubah kurikulum, UU dan PP-nya yang harus dibereskan dahulu, baru mengubah kurikulum. Bukan asal mengubah, tapi menabrak macam-macam peraturan.
    Anggaran yang meroket
    Proses penyusunan Kurikulum 2013 rawan korupsi. Indikasinya terlihat dari proses penganggaran yang tidak terencana dengan baik. Kemdikbud awalnya mengajukan anggaran 684 miliar—yang kemudian disetujui DPR sebesar 631 miliar. Kemudian naik jadi 1,4 triliun. Lalu melesat lagi jadi 2,49 triliun.
    Ketika dana meroket jadi 2,49 triliun, Kemdikbud akan mencomot Dana Alokasi Khusus (DAK) sebesar 748 miliar dan dari APBN 2013 yang relevan seperti pelatihan guru, sebesar 1,1 triliun, untuk menambal kekurangna.
    Mencomot DAK juga bukan perkara gampang. Sebenarnya, DAK dipergunakan untuk membiayai pengadaan sarana, prasarana sekolah, dan buku. Mencomot DAK untuk mendanai Kurikulum 2013, jelas dapat mengganggu perencanaan sekolah yang berbasis kebutuhan riil. Sekolah boleh jadi harus membatalkan kebutuhan riilnya, demi DAK dipakai untuk menalangi biaya Kurikulum 2013.
    Saat ini, yang masih jadi masalah di DPR adalah proses perubahan mata anggaran di APBN 2013 yang mau digunakan untuk Kurikulum 2013. Karena APBN 2013 sudah disahkan, otomatis perubahan mata anggaran tidak bisa dengan mudah dilakukan. Pemerintah tidak bisa seenaknya tergesa mengubah-ubah penggunaan anggaran untuk Kurikulum 2013.
    DPR masih belum menyetujui anggaran Kurikulum 2013 selain yang 631 miliar. Saat ini, DPR punya peranan penting untuk menyetujui atau menolak anggaran ini. Semoga DPR berpikir jernih, dan lagipula DPR harus bertindak sesuai UU No. 17 Tahun 2003 yang mengamanatkan perubahan mata anggaran dalam APBN harus disetujui dahulu oleh DPR.
    Namun, kalau kita tengok, waktu pencairan anggaran dan masa reses DPR yang dimulai sekitar 12 April 2013, merupakan waktu yang sempit. Sedangkan kurikulum 2013 harus diterapkan pada tahun ajaran baru Bulan Juli 2013. Belum lagi masalah buku dan pelatihan guru. Waktu yang sempit ini menimbulkan potensi pengadaan buku dan pelatihan guru yang tidak sesuai aturan. Sirine tanda bahaya harus dinyalakan.
    Kemdikbud, mana dokumen resmi Kurikulum 2013?
    Kemdikbud sampai saat ini juga belum memberikan dokumen resmi Kurikulum 2013. Masyarakat, bahkan Panitia Kerja (Panja) Kurikulum DPR RI juga belum pernah melihat dokumen kurikulum yang resmi dan final. Ibaratnya, kita seperti meributkan barang abstrak yang tak jelas rimbanya. Selama ini, yang beredar di masyarakat hanyalah sekumpulan lembaran (slide) power point berisi Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Kurikulum 2013. Profesor bidang Sosiologi Universitas Indonesia Thamrin Tomagola mengatakan, “Kurikulum 2013 sarat dengan dua muatan dogmatis-ideologis: nasionalisme sempit dan religiusitas artifisial/ kulit.”
    Empat Kompetensi Inti (KI) dalam Kurikulum 2013 adalah: semangat religius; sikap sosial sebagai anggota masyarakat dan sebagai bangsa; ketiga, pengetahuan baik yg faktual, konseptual, prosedural, meta kognitif; dan keempat, aplikasi KI 1 sampai dengan 3 merupakan satu kesatuan. KI 1 dan 2 tidak diajarkan langsung (indirect teaching). Kompetensi Inti mengikat semua Kompetensi Dasar semua mata pelajaran, dan Kompetensi Inti 1 mengutamakan semangat religius.
    Kurikulum 2013 juga akan menghapus Bahasa Inggris dan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Ini tentu bertentangan dengan semangat yang sering diutarakan Kemdikbud, bahwa pendidikan nasional harus mampu berkompetisi di tingkat global. Bagaimana caranya, jika Bahasa Inggris dan TIK dihapus? Bagaimana dengan para guru yang mengajar Bahasa Inggris dan TIK? Mereka akan kehilangan pekerjaan. Apakah ini sudah dipikirkan matang-matang oleh Kemdikbud?
    Selain itu, metode pembelajaran tematik integratif adalah salah satu aspek yang diunggulkan dalam Kurikulum 2013. Padahal, Kurikulum 2006 pun selalu mempromosikan metode tematik integratif. Sehingga, metode ini bukan barang baru lagi yang perlu disanjung-sanjung.
    Untuk kelas 1 sampai 3 Sekolah Dasar, pemerintah mencoba menyatukan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) ke dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Para penyusun kurikulum tampaknya mengambil salah satu kalimat yang ada pada Kompetensi Inti, kemudian dikait-kaitkan dengan materi-materi yang akan diajarkan.
    Dalam dokumen Kompetensi Inti dan Kompetensi yang berhasil kami dapatkan, beginilah contoh penyatuan tersebut dalam mata pelajaran Matematika Kelas X, yaitu: disiplin, konsisten dan jujur dan aturan eksponen dan logaritma. Kedua, perbedaan di dalam masyarakat majemuk dan persamaan dan pertidaksamaan linier. Ketiga, mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan proaktif) dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia. Itulah kompetensi kurikulum yang disebut-sebut terhebat di dunia.
    Kebijakan pendidikan juga seringkali tak pikirkan nasib guru. Sekarang, Kurikulum 2013 hanya kembali akan menjadikan guru sebagai korban. Penyediaan silabus untuk perlengkapan ajar bagi guru juga kerap disebut-sebut pemerintah untuk mencari dukungan masyarakat. Padahal, ini mematikan kreatifitas guru dalam mengajar. Pokoknya mengacu pada buku yang dititahkan pusat.
    Dari data Uji Kompetensi Guru (UKG) yang juga merupakan proyek Kemdikbud, terlihat bahwa mutu guru di Indonesia rendah. Dengan mutu guru yang masih rendah, apakah guru dapat mengajar Kurikulum 2013 dengan baik? Pelatihan juga tidak lantas bisa menjadi obat manjur untuk meningkatkan mutu guru. Mutu guru tak bisa sekonyong-konyong naik dengan pelatihan beberapa hari.
    Akhir Maret lalu, kami juga mendapat kabar bahwa penulisan buku induk (buku yang akan menjadi standar penulisan buku bagi penerbit), belum selesai ditulis. Bahkan buku induk untuk SMA/ SMK sama sekali belum dikerjakan, alias masih nol. Tapi, bagaimana buku induk mau cepat selesai, kalau dokumennya saja masih berganti-ganti mengikuti maunya Kemdikbud?
    Bahkan, Desember 2012 lalu, ketika dokumen kurikulum belum jadi dan uji publik baru akan dijalankan, Kemdikbud sudah pernah mengumpulkan penerbit-penerbit untuk membahas buku. Bagaimana bisa?
    Sekarang, kita sudah memasuki Bulan April, sementara Bulan Juli semua buku harus sudah selesai dan terdistribusi. Apakah sempat?
    Pengadaan, akankah mengada-ada?
    Bukan hanya segi isi buku, proses pengadaan buku juga rawan korupsi. Ini sudah rahasia umum. Tahun 2007, terjadi kasus korupsi di Kemdikbud dalam lelang pencetakan buku keterampilan fungsional. Pelaku korupsinya tak lain adalah pejabat Kemdikbud sebagai panitia lelang dengan modus mark up (penggelembungan). Pengadaan buku Kurikulum 2013 tidak menutup kemungkinan terjadi korupsi. Ingat, anggaran buku Kurikulum 2103 adalah 1,1 triliun rupiah.
    Jangan lupa, 77% kasus korupsi yang ditangani KPK adalah soal pengadaan. Di kurikulum 2013, pengadaan buku dianggarkan 1,1 triliun. Bukan uang kecil. Namun, diskusi yang terjadi di masyarakat, turut menentukan arah keputusan anggaran di DPR. Bersuaralah menolak Kurikulum 2013, mumpung masih bisa.
    Jangan tumbalkan guru dan murid!
    Kurikulum 2013 yang tak matang dan masih dipaksa jalan, sungguh membuat heran. Kurikulum yang compang-camping baik dari segi isi, menabrak aturan hukum, ketiadaan dokumen resmi yang bisa diakses baik masyarakat dan DPR, serta dana yang angkanya tak main-main, membuat banyak pihak khawatir: sebenarnya untuk siapa kurikulum ini dibuat? Kurikulum tak bisa hanya jadi ambisi segelintir pejabat. Yang akan terkena dampaknya, jutaan anak Indonesia, jutaan guru. Sebaiknya Kemdikbud merenungkan itu baik-baik.
    Jangan jadikan masa depan anak Indonesia sebagai tumbal proyek. Andai kurikulum ini baik adanya: direncanakan dengan matang, substansinya mantap, anggaran tak bermasalah, tentu dukungan akan mengalir. Kenyataannya tidak begitu. Kemdikbud perlu berkaca: apakah kurikulum ini sesuai Undang-undang? Baik untuk murid dan guru? Untuk masyarakat?
    Kemdikbud harusnya fokus membenahi kemampuan guru, memperbaiki fasilitas sekolah dan mekanisme penyaluran dana pendidikan yang rawan korupsi. Itu saja dulu.
    Carut marut pendidikan nasional bukan hanya soal uang triliunan, tapi menyandera masa depan generasi pembaharu, yang nantinya harus memotong tradisi korup bangsa ini. Tapi bagaimana generasi ini mau memotong tradisi korup, kalau kurikulum yang akan diajarkan pada mereka saja kacau? Guru juga akan kembali menjadi korban bila kurikulum ini jadi diterapkan.
    Jika kurikulum yang menjadi landasan belajar anak-anak bangsa begitu kacau dan keliru, bagaimana lagi kita mau mengharapkan perubahan kualitas pendidikan?
    Siti Juliantari
    Peneliti Indonesia Corruption Watch
    • Kepada seluruh pembaca
    Dengan hormat,
    Sebagai orangtua murid eks-RSBI SD negeri di Jawa Tengah, izinkanlah kami memberikan masukan agar kurikulum 2013 dibatalkan karena:
    1.Ada kesenjangan yang sangat jauh antara kurikulum 2013 dengan kurikulum RSBI,dan ini sangat merugikan siswa eks-RSBI. Siswa RSBI sudah terbiasa mendapatkan pelajaran dengan materi yang jauh lebih tinggi dan sulit,KKM tinggi.Kalau kurikulum 2013 dipakai sama artinya dengan kemunduran mutu pendidikan. Benar kata Adik Galang,kurikulum 2013 ini sangat dangkal.Pemerintah harus memberikan kurikulum yang sesuai dengan tingkatan pelajaran yang telah didapat oleh anak eks-RSBI.Lebih baik lagi kalau sekolah eks-RSBI tetap diizinkan memakai kurikulum RSBI.
    2.Kurikulum 2013 dibuat tergesa-gesa tanpa riset yang cukup terhadap kurikulum sebelumnya,yaitu KTSP dan outputnya. Tirulah negara Eropa yang tidak mudah mengganti kurikulum. Mereka mengganti kurikulum setelah 50 tahun dan dengan pemikiran yang matang.
    3.Kurikulum bukan sekedar proyek pemerintah,jadi perlu dengar pendapat dalam ruang lingkup yang luas. Guru,murid,praktisi pendidikan,dan orangtua murid perlu dilibatkan dalam pembuatan kurikulum.
    4.Uji publik belum dilakukan tetapi Mendikbud sudah memanggil penerbit buku.Ada apa Pak?Rakyat curiga nih.
    5.Anggaran kurikulum 2013 yang makin membengkak, dikhawatirkan rawan mark up dan korupsi.2,49 trilyun itu jerih payah rakyat jadi jangan dihambur-hamburkan.
    6.Kurikulum 2013 belum jelas kelanjutannya karena Mendikbud tinggal menjabat setahun lagi dan pasti diganti.
    Demikianlah surat saya.Harap menjadikan perhatian dan pertimbangan dalam memutuskan sesuatu agar tidak merugikan rakyat.Sebagai pemimpin contohkanlah demokrasi dan bukan otoriter.Terimakasih

  121. Tunda Implementasi Kurikulum Baru Pada 2014
    Selasa, 12 Maret 2013 15:38 wib

    Foto: dok. Okezone
    JAKARTA – Meski menuai protes, pemerintah pantang mundur menerapkan kurikulum baru pada tahun ajaran baru 2013 ini. Sejumlah suara pun meneriakkan imbauan untuk menunda penerapan kurikulum baru tersebut hingga minimal tahun ajaran 2014.

    Imbauan tersebut salah satunya datang dari anggota Panitia Kerja (Panja) Kurikulum DPR RI Ahmad Zainuddin. Menurut Zainuddin, kurikulum baru sebaiknya tidak diimplementasikan tahun ini mengingat belum siapnya para pemangku kepentingan pendidikan nasional.

    “Pemangku kepentingan pendidikan di daerah belum siap untuk melaksanakan kurikulum baru dalam waktu yang singkat. Maka saya minta agar pemerintah menunda pelaksanaan kurikulum baru nanti minimal hingga tahun ajaran 2014, agar semuanya benar-benar siap,” ujar Zainuddin, seperti dikutip dari siaran persnya kepada Okezone, Selasa (12/3/2013).

    Selain ketidaksiapan pemangku kepentingan pendidikan di daerah, Zainuddin memaparkan, kurikulum 2013 sejatinya belum matang. Dari segi konsep, masih banyak poin yang tidak jelas seperti persyaratan pendidikan budi pekerti dan akhlak mulia belum tercermin dalam proses pembelajaran pada kurikulum 2013. Dari segi anggaran, pemerintah selalu mengajukan alokasi yang berbeda-beda dan terus membengkak. Belum lagi ketidaksiapan dalam pengadaan sarana buku dan manajemen sekolah.

    Dari segi penyiapan SDM guru, masa pelatihan yang sangat singkat akan memengaruhi tingkat penguasaan guru dalam memahami konsep kurikulum maupun metode dan strategi implementasinya di kelas. Mepetnya waktu persiapan penulisan kompetensi dasar juga dikhawatirkan akan menyebabkan tumpang tindih, baik dari segi kesesuaian jenjang dengan materi ajar maupun proses pembangunan konsep seperti yang terjadi pada kurikulum sebelumnya.

    “Jangan rusak masa depan pendidikan generasi bangsa karena ketidaksiapan dan ketergesa-gesaan pemerintah dalam melaksanakan perubahan kurikulum,” imbau politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut. (Rachmad Faisal Harahap/Okezone)(//rfa)
    Aneh, Pemerintah Paksakan Kurikulum 2013
    Selasa, 12 Maret 2013 15:17 wib

    Foto: dok. Okezone
    JAKARTA – Pemerintah masih ngotot menerapkan kurikulum 2013 pada tahun ajaran baru, Juli mendatang. Padahal, kenyataan di lapangan menunjukkan, dunia pendidikan Indonesia belum siap dengan perubahan kurikulum tersebut.

    Menurut Anggota Panitia Kerja (Panja) Kurikulum 2013 Ahmad Zainuddin, ada semacam upaya sistematis untuk memaksakan kurikulum 2013 ini segera dilakukan. Padahal, hasil kunjungan panja kurikulum di daerah menunjukkan, semua pemangku kepentingan pendidikan keberatan dan menolak jika kurikulum baru dilaksanakan tergesa-gesa dan mendadak. Penolakan juga hadir dari para pakar pendidikan.

    “Terkesan aneh jika Kemendikbud memaksakan kurikulum 2013 dilaksanakan pada tahun ajaran baru, sedang kenyataan di lapangan bahwa kesiapan guru, kesiapan sarana buku dan juga kesiapan manajemen sekolah belum optimal. Apalagi pemangku kepentingan pendidikan di daerah menyatakan ketidaksiapan mereka untuk melaksanakan kurikulum baru tersebut,” ujar Zainuddin dalam keterangan tertulisnya kepada Okezone, Selasa (12/3/2013).

    Angggota Komisi X DPR RI dari fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini mendukung pengembangan kurikulum, mengingat hal tersebut mutlak dilakukan. Namun, perlu diingat, belasan kali perubahan kurikulum pendidikan nasional sebelumnya telah melalui proses yang matang dari segi konsep, sumber daya manusia (SDM) dan sarana prasarana pendukung lainnya. Sedangkan pada kurikulum 2013 ini, Kemendikbud tidak menunjukkan kesiapan dalam upaya implementasi kurikulum baru tersebut.

    Ketidaksiapan tersebut, ujar Zainuddin, ditilik dari segi konsep, anggaran, penyiapan SDM guru, dan sarana pendukung lainnya masih dihiasi berbagai kendala teknis. Zainuddin memaparkan, masa pelatihan guru yang sangat singkat akan memengaruhi tingkat penguasaan guru dalam memahami konsep kurikulum maupun metode dan strategi implementasinya di kelas. Mepetnya waktu persiapan penulisan kompetensi dasar juga dikhawatirkan akan menyebabkan tumpang tindih, baik dari segi kesesuaian jenjang dengan materi ajar maupun proses pembangunan konsep seperti yang terjadi pada kurikulum sebelumnya.

    Sementara itu, dari segi konten, kurikulum 2013 juga belum melaksanakan secara utuh amanah UUD 1945 yang mensyaratkan pendidikan budi pekerti dan akhlak mulia harus tercermin dalam proses pembelajaran. “Karakter akhlak harus terintegrasi dalam setiap proses pendidikan di sekolah, hal ini yang belum tergambar jelas dalam kurikulum,” ujar legislator dengan daerah pemilihan Jakarta TImur ini.

    Sementara itu, dari segi anggaran, kerap berubahnya alokasi anggaran kurikulum yang diajukan pemerintah juga menjadi salah satu indikasi ketidaksiapan kemendikbud dalam merancang strategi pengembangan kurikulum yang tepat dan efisien. Apalagi perubahan tersebut menunjukkan kian membengkaknya anggaran kurikulum 2013.

    “Persoalan rencana anggaran kurikulum yang terus berubah dan membengkak, minimnya waktu persiapan guru, dan juga minimnya tingkat penyiapan komponen pendukung kurikulum lainnya ini harus menjadi perhatian serius komisi X, agar tidak terjadi kesalahan dalam persetujuan dan penetapannya,” tutur Zainuddin. (Rachmad Faisal Harahap/Okezone)(//rfa)
    Tunda Kurikulum 2013
    Penulis : Didit Putra Erlangga Rahardjo | Kamis, 14 Maret 2013 | 14:48 WIB

    Dibaca: 2895

    Komentar: 9
    |

    Share:
    Kompas/Didit Putra ErlanggaSuasana diskusi terbuka kurikulum 2013 di Balai Pertemuan Ilmiah Institut Teknologi Bandung, Rabu (13/3/2013).
    TERKAIT:
    • Pelatihan Guru Hanya seperti Tiket Masuk
    • 3 Jenjang Persiapan Guru Jelang Kurikulum 2013
    • Kurikulum 2013 Ditelanjangi di ITB
    • Pendidikan Vs Perombakan Kurikulum
    BANDUNG, KOMPAS – Pemerintah diminta menunda pemberlakuan Kurikulum 2013 karena belum disosialisasikan secara luas serta berbagai kesalahan substantif yang harus segera diperbaiki. Penundaan itu merupakan langkah realistis demi kebaikan pendidikan generasi penerus bangsa.

    Rekomendasi itu disampikan Majelis Guru Besar (MGB) Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam diskusi terbuka yang digelar Rabu (13/3). Diskusi dihadiri, antara lain, Ketua MGB ITB Harijono Tjokronegoro, guru besar emeritus Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Jakarta Henry Alex Rudolf Tilaar, Guru Besar Ilmu Matematika ITB Iwan Pranoto, serta Guru Besar ITB Imam Buchori Zainuddin.

    Diskusi itu menghasilkan rekomendasi yang menyetujui perlunya mengganti kurikulum, tetapi harus dilakukan dengan perancangan yang cermat dan dituntun oleh kaidah ilmiah.

    Masukan yang mereka berikan untuk Kurikulum 2013 seperti perlunya menggunakan tata bahasa yang baik, bisa mengungkapkan gagasan dengan lugas dan sederhana, menunjukkan keterkaitan dasar filosofis dengan pelaksanaan pada tataran teknis, serta mencantumkan sikap dan nilai luhur kemanusiaan demi menghadapi tantangan masa depan. Menurut Harijono, usulan ini akan diajukan dalam rapat pleno majelis guru besar ITB.

    Dinilai terburu-buru

    Anggota Komisi X DPR, Rohmani, yang hadir dalam diskusi, mengatakan, pemberlakuan Kurikulum 2013 oleh pemerintah terbilang terburu-buru dan dipaksakan. Komisi X baru mendapat kabar mengenai Kurikulum 2013 menjelang akhir 2012, tapi baru mendapatkan dokumennya awal Maret 2013. Alokasi anggaran yang diajukan pun melonjak dari Rp 684 miliar menjadi Rp 2,4 triliun.

    Rohmani khawatir, skema persetujuan di akhir masa pembahasan ini bisa mengulangi kasus korupsi di Hambalang. ”Fraksi Keadilan Sejahtera tengah mengupayakan agar partai bisa mengambil sikap untuk meminta penundaan pelaksanaan Kurikulum 2013,” ujar Rohmani.

    Guru Besar ITB Bambang Hidayat menyebut pemerintah tidak pernah menyosialisasikan Kurikulum 2013 sebelumnya. Karena itu, dikhawatirkan pergantian kurikulum ini hanya proyek.

    Tidak terkait

    Imam Buchori menilai, redaksional Kurikulum 2013 menggunakan bahasa yang indah dan ideal, tapi tidak memiliki keterkaitan satu sama lain.

    Tilaar memberi contoh Finlandia yang sukses dalam melakukan revolusi sistem pendidikan, yang dipersiapkan 40 tahun sebelumnya. Finlandia mengubah sistem pendidikan dengan memulainya dari lembaga pelatihan guru agar guru bisa mendidik murid dengan baik.

    Iwan Pranoto menilai begitu banyak kata patuh pada Kurikulum 2013. Ini tidak dijumpai bila dibandingkan dengan kurikulum negara lain, seperti Qatar dan Australia. Padahal, kurikulum adalah dokumen mengenai proyeksi manusia sebuah negara pada masa mendatang. (eld)

    Sumber :
    Kompas Cetak
    Editor :
    Caroline Damanik
    Pendidikan
    Kurikulum Membentuk Siswa “Patuh”
    Penulis : Didit Putra Erlangga Rahardjo | Rabu, 13 Maret 2013 | 21:01 WIB

    Dibaca: 12220

    Komentar: 40
    |

    Share:
    ANDRISumber: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
    TERKAIT:
    • Kurikulum 2013 Ditelanjangi di ITB
    • Pendidikan Vs Perombakan Kurikulum
    • Pendidikan Vs Perombakan Kurikulum
    • 47 Sekolah Sukabumi Dijadikan Percontohan Kurikulum Baru
    • Kurikulum Tidak Dibuat dengan Tergesa-gesa
    BANDUNG, KOMPAS.com — Guru Besar Ilmu Matematika Institut Teknologi Bandung, Iwan Pranoto, menyebut kurikulum adalah dokumen negara serta naskah budaya bangsa. Alasannya, kurikulum berisi proyeksi tentang manusia di masa mendatang yang bakal dibentuk melalui pendidikan.
    Sayangnya, ujar Iwan, yang bisa ditangkap dari Kurikulum 2013 adalah siswa yang patuh, bukan siswa yang mampu berpikir inovatif. Itulah kesimpulan yang didapatkan sewaktu memeriksa dokumen Kurikulum 2013 yang beredar saat ini.
    Dia menunjukkan matrik berisi kompetensi dasar dari pelajaran matematika untuk kelas I hingga VI. Semuanya diawali dengan kalimat “Menunjukkan perilaku patuh pada aturan dalam…” yang berarti perintah agar siswa patuh.
    “Padahal, bukan seperti itu matematika. Biarkan mereka mencari sendiri cara yang terbaik untuk menjawab persoalan,” kata Iwan.
    Dia mengisahkan Sam Ratulangi, pahlawan nasional yang dikenal sebagai tokoh multidimensional. Menurut Iwan, Sam Ratulangi memiliki cara tersendiri dalam penjumlahan, yakni mendahulukan bilangan yang besar kemudian diikuti yang kecil. Meski tidak sama dengan cara penjumlahan yang diajarkan saat itu, cara berpikir Sam Ratulangi harusnya ditiru oleh siswa, bukan malah dikekang.
    Dia pun membandingkan Kurikulum 2013 itu dengan di Massachusetts, Amerika Serikat, yang menggunakan pilihan kata, yakni mendorong pelajar untuk mengembangkan strategi dalam penjumlahan dan pengurangan. Begitu pula dari kurikulum di Qatar yakni “memilih, menggunakan, dan menjelaskan metode penjumlahan dan pengurangan…”
    Pada kelas 12, lanjut Iwan, siswa bahkan diajak untuk membuat dugaan dengan kalimat kemungkinan seperti “bagaimana jika…” dan “bagaimana jika tidak…”
    “Dari sini bisa terlihat, manusia seperti apakah yang ingin dibentuk melalui Kurikulum 2013,” tutur Iwan.
    Kembali lagi ke Indonesia, Iwan justru melihat Kurikulum 2004 justru lebih membebaskan peserta didiknya. Misalnya, penjelasan yang menggunakan bahasa “merancang dan melakukan proses penyelesaian masalah dengan memilih atau menggunakan suatu strategi.”
    Bila ada nilai moral yang diselipkan, bahasanya lebih universal seperti “menunjukkan sikap gigih dan percaya diri dalam menyelesaikan masalah”
    Terkait nilai moral, Iwan mengkhawatirkan bahasa yang digunakan dalam Kurikulum 2013 ini seperti ditemui pada pelajaran ekonomi kelas XI, yakni penjelasan kompetensi dasar 1 berbunyi “melakukan kegiatan akuntansi berdasarkan ajaran agama yang dianut.”
    Editor :
    Robert Adhi Ksp
    Opini
    Pendidikan Vs Perombakan Kurikulum
    Rabu, 13 Maret 2013 | 10:45 WIB

    Dibaca: 5535

    Komentar: 8
    |

    Share:

    TERKAIT:
    • Kurikulum Tidak Dibuat dengan Tergesa-gesa
    • Kurikulum 2013
    • Guru Mbeling
    • Kurikulum Orangtua untuk Anak
    Oleh Hafid Abbas

    KOMPAS.com – Dalam satu dekade terakhir, dunia pendidikan di Tanah Air seakan terus terbelenggu dalam dilema.

    Pada masa Kabinet Indonesia Bersatu Pertama 2004-2009, Wapres Jusuf Kalla gigih melaksanakan pengendalian mutu pendidikan dengan pemberlakuan standar ujian nasional. Tidak ada toleransi kelulusan bagi mereka yang tidak melewati standar minimum dari sejumlah mata pelajaran yang diujikan, Akibatnya, masyarakat seakan mengalami sentakan sosial ketika melihat ada sekolah yang tidak satu pun siswanya lulus karena kelaziman sebelumnya secara nasional kelulusan selalu di kisaran 100 persen atau mendekati 100 persen.

    Alasan Kalla ketika itu sangat sederhana. Jika sekolah selalu meluluskan siswanya 100 persen, siswa merasa tidak perlu belajar, guru tidak termotivasi mengajar sungguh-sungguh, dan orangtua tidak merasa perlu ikut bertanggung jawab atas mutu pendidikan. Cara ini, menurut Kalla, adalah mekanisme peningkatan mutu pendidikan yang paling murah dan mudah dilaksanakan. Dengan demikian, pendidikan kita menjadi tanggung jawab semua pihak (siswa, masyarakat, dan pemerintah) menuju pencapaian mutu yang lebih tinggi. Selanjutnya, bangsa kita tak lagi akan menjadi kuli dari Malaysia.

    Sewaktu menjabat sebagai Menko Kesra pada 2003, Kalla menemukan tingkat kesukaran ujian akhir jenjang SD di Malaysia untuk Bahasa Inggris relatif sebanding dengan kesukaran ujian akhir jenjang SLTA di Indonesia. Tingkat kesukaran IPA dan Matematika jenjang SLTP relatif sama dengan jenjang SLTA. Sementara standar kelulusan nasional Malaysia dengan tingkat kesukaran tersebut pada 2003 adalah 6, sedangkan Indonesia 3. Jika tiap tahun standar kelulusan dinaikkan 0,5, berarti mutu pendidikan Indonesia tertinggal 9-12 tahun dari Malaysia.

    Dengan standar kelulusan itu, dapat dipastikan terdapat peningkatan mutu pendidikan kita secara bertahap dan pada waktunya Indonesia akan berada pada posisi yang sejajar dan bahkan mengungguli Malaysia.

    Kini, keadaannya kembali lagi ke tingkat kelulusan yang mendekati 100 persen. Pada tahun ajaran 2010, untuk jenjang SMA/MA, misalnya, tingkat kelulusan peserta ujian nasional mencapai 99,22 persen. Tingkat kelulusan di jenjang SLTP dan SMK juga relatif sama. Akibatnya, ujian nasional tidak lagi menjadi sarana yang memotivasi siswa, orangtua, dan guru untuk meningkatkan mutu pendidikan.

    Kebijakan yang telah diletakkan Kalla terkesan ditinggalkan begitu saja oleh kabinet baru. Masyarakat seakan disuguhkan satu tontonan drama kekuasaan. Betapa pun kebesaran dan manfaat yang telah diletakkan masa lalu seakan tidak lagi mendapat tempat karena peletaknya tidak lagi di kekuasaan.

    Dilema pendidikan

    Dalam artikel di Kompas, 27 Agustus 2012, Wapres Boediono dengan tegas menyebutkan, sampai saat ini kita belum punya konsepsi yang jelas mengenai substansi pendidikan. Karena tak ada konsepsi yang jelas, timbullah kecenderungan untuk memasukkan apa saja yang dianggap penting ke dalam kurikulum. Akibatnya, terjadilah beban berlebihan pada anak didik. Bahan yang diajarkan terasa ”berat”, tetapi tak jelas apakah anak mendapatkan apa yang seharusnya diperoleh dari pendidikannya.

    Akibat dari kerisauan Wapres itu, tiba-tiba timbullah proyek perombakan kurikulum yang terkesan dipaksakan. Kurikulum 2013 hasil perombakan kurikulum sebelumnya harus segera diberlakukan meski masyarakat luas belum melihat hasil satu penelitian ilmiah yang menyatakan bahwa mutu pendidikan kita terus merosot karena kesalahan kurikulum. Apakah tidak ada faktor lain yang lebih dominan dari kurikulum? Misalnya, sebagaimana telah diungkapkan Mendikbud Mohammad Nuh sendiri di hadapan Komisi X DPR pada 21 Maret 2011, terdapat 88,8 persen sekolah di Indonesia—SD hingga SMA/SMK—belum melewati mutu standar pelayanan minimal. Lalu, mengapa bukan itu yang dibenahi lebih dahulu?

    Perubahan kurikulum dadakan ini cermin ketiadaan kerangka besar arah pembenahan pendidikan nasional. Di tengah berbagai keterbatasan yang ada, keliru besar bila pembenahan pendidikan di semua jenjang, jenis, dan jalur—baik di pusat maupun di tiap kabupaten/kota—dilakukan secara parsial dan tidak menyentuh sistem karena tanpa didasari hasil pengkajian ilmiah.

    Dalam era Orde Baru, misalnya, di berbagai periode kabinet, sejak periode Mashuri, Soemantri Brodjonegoro, Syarief Thayeb, Daoed Joesoef, Nugroho Notosusanto, Fuad Hassan, Wardiman Djojonegoro, Wiranto Arismunandar, hingga kabinet era Reformasi, betapa banyak gagasan inovatif dan strategis. Namun, gagasan-gagasan itu terkesan bersifat temporer, terlaksana sebatas masa jabatan menteri yang bersangkutan. Betapa banyak dana yang telah dihabiskan, tetapi akhirnya upaya tersebut tidak cukup terlihat dampaknya bagi pembenahan masalah pendidikan. Lihatlah, misalnya, pengembangan Sekolah Pembangunan, proyek CBSA, pengajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa, dan pengembangan link and match.

    Bahkan, jika kita membuka lembaran masa lalu, terlihat betapa lebih seabad silam visi besar pendidikan sudah dirumuskan Boedi Oetomo pada 1908. Angkatan ini sudah mengungkapkan dalam anggaran dasarnya yang dirumuskan pada Pasal 3: (1) usaha pendidikan dalam arti seluas-luasnya; (2) peningkatan pertanian, peternakan, dan perdagangan; (3) kemajuan teknik dan kerajinan; (4) menghidupkan kembali kesenian pribumi dan tradisi; (5) menjunjung tinggi cita-cita kemanusiaan; dan (6) hal-hal yang bisa membantu meningkatkan kesejahteraan bangsa. Dalam pembahasan program juga telah dibahas pembangunan perpustakaan rakyat dan pendidikan untuk perempuan.

    Sungguh begitu banyak pemikiran dan langkah besar yang telah dilakukan para pendahulu kita, tetapi hilang begitu saja, tidak diteruskan penerusnya. Jika kita selalu mengedepankan egoisme sektoral dan kepentingan politik pencitraan, kita akan selalu berada dalam cengkeraman dilema.

    Proyek dan pencitraan

    Tidak tertutup kemungkinan apa yang telah dilakukan periode Mohammad Nuh akan diabaikan menteri berikutnya. Akibatnya, kita tidak akan pernah mencapai prestasi besar. Tembok China adalah salah satu wujud mahakarya peradaban umat manusia karena, meski mulai dibangun sebelum periode Dinasti Qin pada 722 SM, dinasti mana pun pada era kekuasaan berikutnya terus memelihara dan meneruskan hingga kini.

    Modus perubahan kurikulum lebih terkesan sebagai ikhtiar dadakan karena tidak didahului persiapan yang lebih matang. Memang, perombakan kurikulum pilihan paling aman. Sebab, jika ikhtiar dadakan itu keliru, kekeliruan itu baru akan terungkap 10-20 tahun kemudian. Lagi pula, jika terdapat perubahan satu lembar kurikulum, dimungkinkan dilahirkan begitu banyak proyek baru yang dapat menyerap anggaran sekian triliun rupiah.

    Semoga pendidikan kita tidak terus-menerus terbelenggu dalam dilema dan berjalan di tempat. Sudah waktunya kenegarawanan lebih dikedepankan dari sekadar pencitraan sesaat.

    Hafid Abbas Guru Besar Universitas Negeri Jakarta

    Khawatir Penerapan Tak Sampai ke Guru di Pelosok
    Perubahan Kurikulum 2013 Dinilai Terlalu Cepat Direalisasikan
    Editor: Andiono Hernawan | Kamis, 14 Maret 2013 11:13 WIB, 5 jam yang lalu

    0Google +000

    Ahmad Jabir, Komisi E DPRD Jatim(Foto: http://www.fpks-jatim.org)

    LENSAINDONESIA.COM: Polemik pendidikan yang ada di Indonesia semakin mendapat berbagai penilaian dari sejumlah elemen masyarakat. Komisi E DPRD Jatim menganggap perubahan kurikulum pendidikan tahun 2013 di Indonesia dinilai masih tergesa-gesa dan merupakan tindakan yang terlalu cepat untuk direalisasikan.
    “Selain itu belum ada sosialisasi pemerintah ke masyarakat khususnya para guru yang ada di Indonesia khususnya Jatim. Apakah tidak perlu ada tahapan pemberlakuan kurikulum ini menjadi lebih baik. Ini kan yang ribet dinas kabupaten/provinsi sampai ke wali murid,” pungkas anggota Komisi E DPRD Jatim, Ahmad Jabir, Kamis (14/3/2013).
    Baca juga: Kurang Sebulan Lagi, Antisipasi Soal UN Bocor dan Ditunggu DPR, Finalisasi Anggaran Kurikulum 2013
    Ia menegaskan, pemerintah sebaiknya harus melakukan sosialisasi terlebih dahulu sebelum menerapkan konsep kurikulum 2013 pengganti kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) 2006. Sebab, dikhawatirkan penerapan ini tidak tersampaikan kepada guru maupun sekolah yang ada di daerah pelosok.
    Apalagi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI tetap akan menerapkannya pada tahun ajaran baru mendatang, Juni 2013 mendatang. Sementara, tahun ajaran baru pendidikan di tingkat SD, SMP maupun SMA, SMK atau yang sederajat sudah dekat. “Karena tidak sedikit masyarakat yang gusar karena penerapan kurikulum baru oleh pemerintah,” pungkasnya. @Panjichuby_666

    Pemerintah Tergesa-gesa Rancang Kurikulum 2013
    Kamis, 14 Maret 2013 | 08:08 WIB

    Ilustrasi—MI/ip
    TERKAIT
    • Generasi Muda ASEAN Cenderung Berpola Barat
    • Di Bantul, Tunggakan Sertifikasi Guru Rp11 miliar
    • Status Sekolah Standar Nasional, tapi Keropos
    • Skandal Contek Massal, Harvard Selidiki Email Dekan
    • Kepala Daerah Jangan Tekan Sekolah Harus Lulus UN 100 Persen

    Metrotvnews.com, Bandung: Budaya bernalar dalam sistem pendidikan nasional dinilai masih kurang dalam rancangan kurikulum 2013 yang akan dilancarkan pemerintah.

    Rancangan kurikulum 2013 dinilai belum layak menjadi sebuah menjadi sebuah dokumen negara dan naskah budaya.

    Pernyataan pendapat tersebut dilontarkan oleh Majelis Guru Besar Intitut Teknologi Bandung (MGB ITB) pada Diskusi Terbuka Mempertanyakan Hakikat Pendidikan Science-Technology-Engineering-Art and Culture-Mathematics dalam Kurikulum 2013 Untuk Merekacipta Masa Depan Bangsa” di Bandung, Rabu (13/3).

    Menurut beberapa Guru besar yang hadir pada acara diskusi tersebut, rancangan kurikulum 2013 dirasa terburu-buru dikeluarkan oleh pemerintah.

    Seperti yang dikatakan oleh Guru Besar Universitas Negeri Jakarta HAR Tilaar yang hadir dan menjadi pembicara pada diskusi tersebut mengatakan, pemerintah terlalu terburu-buru dalam menggulirkan kurikulum baru.

    Pada 2012 baru saja dunia pendidikan Indonesia digegerkan dengan kebijaan pemerintah tentang pendidikan karakter bangsa.

    “Belum selesai kurikulum 2012 pemerintah sudah melancarkan kurikulum 2013”, ungkap Tilaar pada saat pemaparannya di dalam diskusi. Lebih lanjut, Tilaar mengatakan sangat singkatnya persiapan kurikulum 2013 yang disiapkan pemerintah, seakan tergesa-gesa.

    Senada dengan Tilaar, Guru Besar Matematika dari ITB Iwan Pranoto menyebutkan terdapat keanehan pada kurikulum 2013. Dirinya menjelaskan terdapat kata-kata pada isi kurikulum yang kurang dimengerti.

    “Kurikulum merupakan sebuah dikumen naskah negara dan budaya yang akan dibaca oleh anak cucu kita. Di sini terdapat kejanggalan dalam pemakaian kata dan bahasa di kurikulum 2013”, jelas Iwan.

    Dalam diskusi tersebut, Majelis Guru Besar ITB menyampaikan pendapat umum dan mengkritisi rancangan kurikulum 2013 yang dinilai tergesa-gesa dan belum layak untuk menjadi sebuah kurikulum.

    Dalam pernyataan bersama itu disebutkan bahwa Kurikulum 2013 masih perlu disempurnakan dan dibenahi secara seksama.

    Kurikulum baru harus lebih baik daripada kurikulum sebelumnya, tetapi kurikulum 2013 belum mencapai itu. Kurikulum 2013 perlu bahasa yang abaik disertai kosa kata pendidikan dan tata bahasa nasional yang teratur. Dan banyaknya istilah asing yang tidak mudah dipahami.

    Anggota DPR RI komisi X DPR Rohmani yang hadir pada diskusi tersebut juga menyampaikan bahwa DPR tidak diberi waktu yang cukup untuk mempelajari rancangan kurikulum 2013.

    “Kami tidak diberi cukup waktu, sementara kurukulum 2013 tiga bulan lagi sudah akan berjalan”,kata Rohmani.

    Dirinya mengatakan, anggaran pendidikan tidak ingin seperti kasus hambalang yang dana awalnya sedikit, tapi di akhir makin terus menambah. “Dana awal mencapai Rp 684 miliar per 23 Februari.

    Dan yang terakhir mencapai Rp2,4 Triliun per 6 maret kamarin” kata Rohmani.

    Dana-dana tersebut menurut Rohmani untuk anggaran pelatihan dan sertifikasi guru, dan pengadaan buku pegangan guru dan siswa yang diambil dari Dana Alokasi Khusus (DAK).

    Rohmani juga menegaskan bahwa pemerintah tidak siap dan sangat tergesa-gesa dalam merancang kurikulum 2013. “Pemerintah sangat tidak siap dengan dokumen kurikulum yang baru”, tukas Rohmani. (Adhi Muhammad Daryono)

    Editor: Edwin Tirani
    Tunda Kurikulum 2013
    BY
    ADMINGARUTNEWS
    – MARCH 14, 2013POSTED IN: PENDIDIKAN

    Suasana diskusi terbuka kurikulum 2013 di Balai Pertemuan Ilmiah Institut Teknologi Bandung, Rabu (13/3/2013). Kompas/Didit Putra Erlangga
    Garut News, ( Kamis, 14/03 ).
    Pemerintah diminta menunda pemberlakuan Kurikulum 2013 lantaran belum disosialisasikan luas, serta berbagai kesalahan substantif harus segera diperbaiki.
    Penundaan itu merupakan langkah realistis demi kebaikan pendidikan generasi penerus bangsa.
    Rekomendasi itu disampikan Majelis Guru Besar (MGB) Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam diskusi terbuka digelar Rabu (13/3).
    Diskusi dihadiri, antara lain, Ketua MGB ITB Harijono Tjokronegoro, guru besar emeritus Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Jakarta Henry Alex Rudolf Tilaar, Guru Besar Ilmu Matematika ITB Iwan Pranoto, serta Guru Besar ITB Imam Buchori Zainuddin.
    Diskusi itu menghasilkan rekomendasi, menyetujui perlunya mengganti kurikulum, tetapi harus dilakukan dengan perancangan cermat, dan dituntun kaidah ilmiah.
    Masukan mereka berikan untuk Kurikulum 2013 seperti perlunya menggunakan tata bahasa baik, bisa mengungkapkan gagasan dengan lugas dan sederhana, menunjukkan keterkaitan dasar filosofis dengan pelaksanaan pada tataran teknis, serta mencantumkan sikap dan nilai luhur kemanusiaan demi menghadapi tantangan masa depan.
    Menurut Harijono, usulan ini diajukan dalam rapat pleno majelis guru besar ITB.

    Dinilai terburu-buru

    Anggota Komisi X DPR, Rohmani, hadir dalam diskusi, mengatakan, pemberlakuan Kurikulum 2013 oleh pemerintah terbilang terburu-buru dan dipaksakan.
    Komisi X baru mendapat kabar mengenai Kurikulum 2013 menjelang akhir 2012, tetapi baru mendapatkan dokumennya awal Maret 2013.
    Alokasi anggaran diajukan pun melonjak dari Rp684 miliar menjadi Rp2,4 triliun.
    Rohmani khawatir, skema persetujuan di akhir masa pembahasan ini bisa mengulangi kasus korupsi di Hambalang.
    ”Fraksi Keadilan Sejahtera mengupayakan agar partai bisa mengambil sikap meminta penundaan pelaksanaan Kurikulum 2013,” ujar Rohmani.
    Guru Besar ITB Bambang Hidayat menyebut pemerintah tak pernah menyosialisasikan Kurikulum 2013 sebelumnya.
    Karena itu, dikhawatirkan pergantian kurikulum ini hanya proyek.
    Tidak terkait
    Imam Buchori menilai, redaksional Kurikulum 2013 menggunakan bahasa indah dan ideal, tetapi tak memiliki keterkaitan satu sama lain.
    Tilaar memberi contoh Finlandia, sukses dalam melakukan revolusi sistem pendidikan, dipersiapkan 40 tahun sebelumnya.
    Finlandia mengubah sistem pendidikan dengan memulainya dari lembaga pelatihan guru, agar guru bisa mendidik murid dengan baik.
    Iwan Pranoto menilai, begitu banyak kata patuh pada Kurikulum 2013.
    Ini tak dijumpai apabila dibandingkan dengan kurikulum negara lain, seperti Qatar dan Australia.
    Padahal, kurikulum dokumen mengenai proyeksi manusia sebuah negara pada masa mendatang. (eld)
    Sumber : Kompas Cetak
    Editor : Caroline Damanik
    Related Posts:
    • Uji Publik Kurikulum Baru Dimulai
    • Kurikulum Membentuk Siswa “Patuh”
    • Menguji Kurikulum 2013
    • Kurikulum Baru untuk Siapa?
    • Kurikulum 2013 Tidak Realistis Dengan Kompetensi Dasar

    Kurikulum Baru untuk Siapa?
    BY
    ADMINGARUTNEWS
    – DECEMBER 8, 2012POSTED IN: PENDIDIKAN

    Iluastrasi ( Ist ).

    Garut News, ( Sabtu, 08/12 ).
    Meski banyak dihantam penolakan, Kemendikbud tetap melanjutkan proses perubahan kurikulum digunakan pada 2013 mendatang.
    Pihak kementerian merasa, perubahan kurikulum ini berdampak positif pada peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia, katanya.
    Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Retno Listyarti, mengatakan sasaran kurikulum pengganti “Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan” (KTSP) ini tak jelas.
    Lantaran, jika perubahan kurikulum itu, diperuntukkan bagi guru dan murid maka semestinya guru dilibatkan pembahasan dan ada uji coba lapangan bukan sekadar uji publik.
    “Kurikulum ini untuk kepentingan siapa sebenarnya? Guru cenderung dirugikan kurikulum baru ini. Murid juga sama saja,” kata Retno, saat dihubungi, Jumat (7/12/2012).
    Dikemukakan, saat ini banyak guru cemas perubahan kurikulum tersebut.
    Para guru khawatir kehilangan pekerjaan, karena ada mata pelajaran kemudian dilebur dengan mata pelajaran lain.
    Salah satu contohnya, guru Teknologi Informasi dan Komunikasi.
    “Kalau guru SD sistemnya masih guru kelas. Kalau berdiri sendiri seperti guru-guru TIK? Ini mereka mulai was-was nasibnya,” ujar Retno.
    Sedangkan anak-anak didik, penambahan jam pelajaran khususnya anak SD semestinya diikuti penambahan fasilitas seperti jaminan makanan siang.
    Ini mencegah anak-anak mengonsumsi makanan tak bergizi, bisa memengaruhi perkembangan otak.
    “Seperti di Eropa, waktu di sekolah memang lama. Tetapi dari segala aspek termasuk makan itu diperhatikan. Jika Indonesia tak seperti itu, anak-anak ini jajan di luar, jelas tak sehat,” ujar Retno.
    Tak hanya itu, kondisi anak-anak di setiap daerah juga beda.
    Semestinya uji publik dilakukan saat ini menjangkau pula daerah-daerah terpencil.
    Selain uji publik, uji coba juga perlu dilakukan, melihat apakah kurikulum tersebut, sesuai diterapkan di daerah itu.
    “Kondisi daerah ini kan beda. Jangan samakan semua dengan di kota. Anak-anak di daerah, kadang ke sekolah saja harus bertaruh nyawa melewati sungai deras dan sering tak sarapan,” ungkap Retno.
    “Ini jam pelajarannya ditambah dan gurunya tak dibekali persiapan baik. Di daerah, apalagi terpencil belum tentu bisa. Lalu kurikulum ini buat yang di kota dan kaya saja?” tegasnya.
    Ia juga berpendapat, untuk di kota pun, kurikulum ini juga tak bisa begitu saja diterapkan.
    Dalam standar proses, anak-anak diminta mengobservasi ke lapangan langsung terkait tema sedang dibahas saat itu.
    Ini pasti menemui banyak kendala saat implementasi, jika tak dilakukan uji coba.
    Misalnya anak-anak diajak observasi ke pasar.
    Bayangkan perjalanan di Jakarta macet.
    Kemudian ke pasar situasinya ramai dan padat, guru hanya satu mengawasi.
    Ini sulit sekali.
    “Jadi sebenarnya ini buat siapa kurikulum,” tandasnya.
    ***** Kompas.com
    Kurikulum 2013 Tidak Realistis Dengan Kompetensi Dasar
    BY
    ADMINGARUTNEWS
    – NOVEMBER 27, 2012POSTED IN: PENDIDIKAN

    Sony. MS ( Foto : Ist ).
    “Produk Pakar Pendidikan Tak Berdasar, Bisa Menimbulkan Permasalahan Baru”
    Garut News (Selasa 27/11)
    Pelaksanaan uji publik perubahan kurikulum baru 2013, dinilai tidak realistis dengan kompetensi dasar penyelenggara dan kondisi seluruh lembaga pendidikan formal, di negeri Bernama Indonesia.
    Justru kini mendesak segera tuntas dibenahi, di antaranya pemerataan pengadaan serta penempatan guru dan tenaga kependidikan, terwujudnya standar pelayanan minimal, juga mewujudkan sarana dan prasarana memadai.
    Demikian diungkapkan sejumlah praktisi pendidikan, termasuk Pengawas Pendidikan Menengah pada Disdik Kabupaten Garut, Sony. MS kepada Garut News, Selasa.
    Bahkan menurut Sony, sebaiknya disosialisasikan dahulu, jangan justru langsung diuji coba, katanya.
    Produk regulasi itu pun, juga tidak melibatkan guru, sehingga dinilai hanya di“awang-awang”, tidak realisis, ungkapnya, bernada kesal.
    Lantaran, kompetensi dasar penyelenggara dan kondisi sarana prasarana maupun inprastruktur pendidikan di kota-kota besar terutama Jakarta, beda jauh dibandingkan dengan di pedalaman Kabupaten Garut, maupun pedalaman Papua.
    Murid di Kecamatan Talegong Garut, masih untung bahkan patut disyukuri masih mau sekolah, banyak di antara mereka sambil bekerja membantu orangtua di ladang atau sawah, akibat terjerat kesulitan ekonomi.
    Malahan banyak di antaranya, jangankan memiliki laptop atau komputer beserta jaringan internetnya, bisa memenuhi kebutuhan makan setiap hari pun, terbilang masih sangat beruntung, kata Sony. MS.
    Dia berpendapat, produk kurikulum 2013 itu, dikemas para pakar pendidikan yang pintar bicara, tetapi tidak mengetahui kondisi di lapangan secara menyeluruh.
    Sehingga tidak berdasar, bahkan jika tetap dipaksakan bisa berdampak tidak bagus, malahan jelek atau menimbulkan permasalahan baru, beber Sony kepada Garut News.
    Menyusul selama ini pun, masih banyak guru termasuk tenaga kependidikan, belum sepenuhnya paham mengimplemtasikan “Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan”(KTSP), kini muncul kurikulum baru 2013 dengan pendekatan digunakan berbasis sains.
    Padahal, katanya, “Kurikulum Berbasis Kompetensi” KBK pun, dinilai masih relevan jika konsisten dilaksanakan.
    Bahkan pada beberapa negara di Kawasan Asian pun, kini malahan berhasil mengembangkan kompetensi dasar “Membaca, menulis dan Berhitung”(Calistung).
    “Kurikulum itu, bukan hanya untuk coba-coba, lantaran konsep pendidikan menentukan masa depan anak pada 20 mendatang,” tandas Sony, mengingatkan.
    Ia berpendapat, murid itu bisa berinovasi, cerdas bertanya kepada guru di kelas, jika ada ketertarikan kuat terhadap setiap materi pelajaran diperolehnya.
    Sehingga justru penting dikembangkan, mewujudkan ketertarikan murid seperti ketika mereka mendapatkan praktek pelajaran olahraga.
    Didesak pertanyaan Garut News, mengenai produk pendidikan formal selama ini, justru banyak tak berhasil mewujudkan sosok pemimpin berkualitas dan bermoral, Sony. MS katakan keteladanan Pemimpin, ada pada Nabi Muhammad SAW.
    Namun Sony pun menepis keras bahkan membantahnya, jika pendidikan di Indonesia dinilai gagal.

    Muhammad Nuh ( Ist ).
    “Dukung Kebijakan Pemerintah”
    Dihubungi terpisah, Kepala UPTD Pendidikan Tarogong Kidul Garut, Drs H. Asep Wiharsa. SW, M.Si mengemukakan dukungannya terhadap kebijakan pemerintah tersebut.
    Meski implementasinya disesuaikan dengan kondisi daerah, masyarakat orangtua murid di wilayahnya selama ini pun mendukung pengadaan sarana pendidikan bagi putra putri mereka, katanya.
    Ada banyak murid SD bawa laptop ke sekolah kemudian mengakses informasi pendidikan melalui jaringan internet di sekolah, katanya pula.
    Di Wilayah Tarogong Kidul terdapat 36 SD negeri serta empat SD Swasta, jumlah keseluruhan muridnya sekitar 12 ribu.
    Sehingga kurikulum baru 2013 bisa berjalan sambil dibenahi, ungkap Asep Wiharsa, yang hanya beberapa hari mendatang mulai memasuki masa pensiun.
    Menteri Pendidikan Muhamad Nuh katakan, kurukulum 2013 yang dirampungkan, pendekatan digunakan berbasis sains, mendorong siswa agar mampu lebih baik melakukan observasi, bertanya, bernalar dan mengomunikasikan.
    Dengan obyek pembelajaran tentang fenomena alam, sosial, seni dan budaya, siswa diharapkan memiliki kompetensi sikap, keterampilan dan pengetahuan lebih baik.
    Mencetak mereka lebih kreatif, inovatif dan produktif, maka syaratnya adanya profesionalisme guru.
    Guru harus memenuhi standar kelayakan.
    Berbagai upaya terus dilakukan Pemerintah melalui uji kompetensi awal (UKA), uji kompetensi guru (UKG), peningkatan kompetensi berkelanjutan, pengukuran kinerja guru dan peningkatan kualitas lembaga penyelenggara keguruan (LPTK).
    Kedepan juga kita sedang menyiapkan kode etik guru sebagai implementasi penentu kelayakan guru dalam menjalankan tugas profesionalismenya.
    “Uji publik siap dilaksanakan dengan semua pemangku kepentingan. Di Jakarta dilaksanakan Kamis atau Jumat pekan ini,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh di Jakarta, Senin (26/11).
    Nuh mengatakan, pemerintah siap dengan kurikulum baru, termasuk menyediakan alternatif implementasi.
    “Penyempurnaan dilakukan lewat uji publik. Mereka pro dan kontra bisa sama-sama memanfaatkan uji publik untuk perbaikan pendidikan generasi masa depan bangsa,” katanya.
    Nuh menegaskan, perubahan kurikulum tidaklah tergesa-gesa.
    Program ini masuk dalam RPJM 2010-2014.
    “Jadi, perubahan kurikulum direncanakan jauh-jauh hari,” tegas Nuh.
    Ketua Umum Pengurus PGRI Sulistiyo menekankan agar uji publik dibuka pemerintah, penyempurnaan kurikulum 2013 bukan hanya formalitas.
    “Perubahan kurikulum memang wajar terjadi. Karena itu, kami meminta guru-guru mengkritisi perubahan kurikulum dan memberikan masukan baik,” kata Sulistiyo.
    Menurut Sulistiyo, dalam penyusunan kurikulum, pemerintah seringkali mengabaikan masukan dan pandangan guru.
    Padahal, para guru pun berhak didengar masukannya dalam penyusunan kebijakan pendidikan.
    ***** ( Berbagai Sumber/ John ).
    Related Posts:
    • Uji Publik Kurikulum Baru Dimulai
    • 12 Guru dan Kepsek Garut, Peroleh Penghargaan
    • Menguji Kurikulum 2013
    • Kurikulum Baru untuk Siapa?
    • Tunda Kurikulum 2013
    Tunda Kurikulum 2013
    BY
    ADMINGARUTNEWS
    – MARCH 14, 2013POSTED IN: PENDIDIKAN

    Suasana diskusi terbuka kurikulum 2013 di Balai Pertemuan Ilmiah Institut Teknologi Bandung, Rabu (13/3/2013). Kompas/Didit Putra Erlangga
    Garut News, ( Kamis, 14/03 ).
    Pemerintah diminta menunda pemberlakuan Kurikulum 2013 lantaran belum disosialisasikan luas, serta berbagai kesalahan substantif harus segera diperbaiki.
    Penundaan itu merupakan langkah realistis demi kebaikan pendidikan generasi penerus bangsa.
    Rekomendasi itu disampikan Majelis Guru Besar (MGB) Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam diskusi terbuka digelar Rabu (13/3).
    Diskusi dihadiri, antara lain, Ketua MGB ITB Harijono Tjokronegoro, guru besar emeritus Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Jakarta Henry Alex Rudolf Tilaar, Guru Besar Ilmu Matematika ITB Iwan Pranoto, serta Guru Besar ITB Imam Buchori Zainuddin.
    Diskusi itu menghasilkan rekomendasi, menyetujui perlunya mengganti kurikulum, tetapi harus dilakukan dengan perancangan cermat, dan dituntun kaidah ilmiah.
    Masukan mereka berikan untuk Kurikulum 2013 seperti perlunya menggunakan tata bahasa baik, bisa mengungkapkan gagasan dengan lugas dan sederhana, menunjukkan keterkaitan dasar filosofis dengan pelaksanaan pada tataran teknis, serta mencantumkan sikap dan nilai luhur kemanusiaan demi menghadapi tantangan masa depan.
    Menurut Harijono, usulan ini diajukan dalam rapat pleno majelis guru besar ITB.

    Dinilai terburu-buru

    Anggota Komisi X DPR, Rohmani, hadir dalam diskusi, mengatakan, pemberlakuan Kurikulum 2013 oleh pemerintah terbilang terburu-buru dan dipaksakan.
    Komisi X baru mendapat kabar mengenai Kurikulum 2013 menjelang akhir 2012, tetapi baru mendapatkan dokumennya awal Maret 2013.
    Alokasi anggaran diajukan pun melonjak dari Rp684 miliar menjadi Rp2,4 triliun.
    Rohmani khawatir, skema persetujuan di akhir masa pembahasan ini bisa mengulangi kasus korupsi di Hambalang.
    ”Fraksi Keadilan Sejahtera mengupayakan agar partai bisa mengambil sikap meminta penundaan pelaksanaan Kurikulum 2013,” ujar Rohmani.
    Guru Besar ITB Bambang Hidayat menyebut pemerintah tak pernah menyosialisasikan Kurikulum 2013 sebelumnya.
    Karena itu, dikhawatirkan pergantian kurikulum ini hanya proyek.
    Tidak terkait
    Imam Buchori menilai, redaksional Kurikulum 2013 menggunakan bahasa indah dan ideal, tetapi tak memiliki keterkaitan satu sama lain.
    Tilaar memberi contoh Finlandia, sukses dalam melakukan revolusi sistem pendidikan, dipersiapkan 40 tahun sebelumnya.
    Finlandia mengubah sistem pendidikan dengan memulainya dari lembaga pelatihan guru, agar guru bisa mendidik murid dengan baik.
    Iwan Pranoto menilai, begitu banyak kata patuh pada Kurikulum 2013.
    Ini tak dijumpai apabila dibandingkan dengan kurikulum negara lain, seperti Qatar dan Australia.
    Padahal, kurikulum dokumen mengenai proyeksi manusia sebuah negara pada masa mendatang. (eld)
    Sumber : Kompas Cetak
    Editor : Caroline Damanik
    Related Posts:
    • Uji Publik Kurikulum Baru Dimulai
    • Kurikulum Membentuk Siswa “Patuh”
    • Menguji Kurikulum 2013
    • Kurikulum Baru untuk Siapa?
    • Kurikulum 2013 Tidak Realistis Dengan Kompetensi Dasar
    Gerakan TOLAK Kurikulum 2013
    14 Desember 2012
    Saat ini Indonesia tidak membutuhkan kurikulum baru. Yang dibutuhkan bangsa Indonesia saat ini adalah peningkatan kualitas pendidikan dan terjangkaunya biaya pendidikan serta pemerataan kesempatan bersekolah.

    Berapa triliun biaya yang diperlukan untuk mengganti kurikulum (Depdikbud menggunakan istilah “Pengembangan Kur
    ikulum” mungkin agar tidak timbul gejolak. Tapi intinya tetap perubahan kurikulum)?

    Apakah ada jaminan keberlanjutan kurikulum ini kelak, mengingat semua kurikulum yang dibuat tidak dilaksanakan dengan tuntas (KBK, KTSP, misalnya)?

    Apakah sudah dilakukan penelitian yang mendalam terhadap hasil kurikulum sebelumnya yang menyatakan kita perlu mengubah kurikulum?

    Apakah sudah dipikirkan pengaruh (effects) dan dampak (impacts) diterapkannya kurikulum baru nanti?

    Saya berpendapat bahwa sekarang ini kita jangan membuang-buang energi (uang, waktu, peralatan, buku, dsb) dengan mengganti kurikulum!

    Kapan bangsa ini konsisten dengan apa yang ditetapkan oleh Pemerintah tentang Kurikulum jika kebijakan lama dianggap tidak baik dan selalu pejabat yang baru mengubah arah kebijakan sebelumnya.

    Kurikulum bagi dunia pendidikan ibarat “Undang Undang Dasar” bagi negara. Jika UUD nya diganti sebelum dilaksanakan dengan tuntas, kapan lagi kita punya peluang untuk meningkatkan kualitas?

    Kelemahan-kelamahan sistem pendidikan yang sekarang ada TIDAK HARUS dengan mengubah kurikulum, melainkan dengan cara memperbaiki praktik di sekolah-sekolah.

    Jangan menyianyiakan amanah rakyat hanya demi opini, argumen, atau pikiran sendiri bahwa kurikulum harus diubah. Alasan-alasan yang digunakan untuk mengubah kurikulum itu pada dasarnya sangat normatif dan tidak substantif padahal kurikulum yang sekarang dapat mengamodasi semua alasan itu untuk diperbaiki.
    1911Suka • Komentari

    Gerakan TOLAK Kurikulum 2013 berbagi tautan.
    1 Maret
    AKIBAT GEGABAH MENGUBAH KURIKULUM ALASAN PUN DICARI-CARI KEMUDIAN

    Semua masalah yg dikemukakan pak Wamendikbud adalah debatable (baca selengkapnya berita terlampir). Mosok harus mengubah kurikulum cuma karena alasan itu?!! Kalau pun itu dianggap masalah, tidak perlu mengubah kurikulum. Kami telah mengkaji draft Kurikulum 2013 dan kurikulum-kurikulum sebelumnya, simpulannya Kurikulum 2013 adalah buang-buang waktu, biaya, dan pikiran karena tidak lebih baik daripada kurikulum sebelumnya.

    Sebetulnya pihak yg mengubah kurikulum itu kurang menyadari sepenuhnya, betapa perlunya bangsa ini beranjak ke peningkatan kualitas, bukan mengubek-ubek kurikulum. Itu seharusnya sudah lewat sekian tahun yang lalu.

    Sosialisasi itu cuma mengajak para guru agar sepaham dengan pengubah kurikulum. Seharusnya biaya dan waktu milik rakyat digunakan untuk (1) peningkatan mutu; (2) pemerataan kesempatan pendidikan, termasuk keterjangkauan biaya pendidikan; dan (3) mendekatkan outcome pendidikan dengan dunia kerja, BUKAN berputar-putar di perubahan kurikulum.

    http://id.berita.yahoo.com/wamendikbud-kurikulum-diubah-karena-memberatkan-siswa-043215877.html

    Wamendikbud: Kurikulum Diubah karena Memberatkan Siswa
    id.berita.yahoo.com
    Samarinda (ANTARA) – Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Wamendikbud) Bidang Pendidikan Musliar Kasim mengatakan pemberlakuan kurikulum baru pada Juli 2013 karena berbagai alasan terkait kompetensi, di antaranya pelajarannya cukup memberatkan siswa. “Kurikulum 2006 yang berlaku hingga saat ini,…

    2Suka • Komentari • Bagikan

    Kronologi Polemik Kurikulum 2013
    Iman Herdiana
    Sabtu, 16 Maret 2013 15:30 wib

    Foto: dok. Okezone
    BANDUNG – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhammad Nuh mengakui banyak pihak yang pro dan kontra terhadap rencana pemberlakuan Kurikulum 2013 Juli nanti. Ada yang menuding Kurikulum 2013 tidak memuat delapan standar nasional pendidikan yang di antaranya meliputi sarana prasarana, standar kompetensi, isi/materi, proses, dan evaluasi.

    Padahal, lanjut Mendikbud, Kurikulum ini justru terdiri dari kompetensi, isi/materi, proises, dan evaluasi. “Ada juga yang mengatakan kurikulum ini dibangun tergesa-gesa,” katanya, dalam sosialisasi Kurikulum 2013: Kreatif Inovatif Karakter di Aula Dinas Pendidikan Jabar, Jalan Radjiman, Bandung, Sabtu (16/3/2013).

    Pada acara yang dihadiri ratusan guru, kepala sekolah, pengawas, dan Gubernur Jabar Ahmad Heryawan itu, M Nuh menuturkan awal terjadinya polemik atau pro kontra kurikulum baru. Sejak 2010, kurikulum baru sudah masuk dalam RPJM pemerintah. Lalu DPR membentuk Panja Kurikulum pada 2011.

    Namun waktu itu pemerintah lebih dulu menyelesaikan RPJM daripada Panja Kurikulum DPR. Maka muncullah polemik. “Ya enggak apa-apa, itu risiko, dinamika,” kata Mantan Rektor Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Surabaya ini.

    Belakangan muncul penolakan terhadap kurikulum anyar. Terlebih dunia pendidikan di Indonesia dikenal dengan istilah ganti menteri ganti kurikulum. Menurut Nuh, kurikulum 2013 dipersiapkan untuk menjawab perubahan dunia.

    “Kalau kurikulum tetap sementara dunia berubah, maka enggak akan menyelesaikan masalah perubahan ini. Kita ikuti perubahan dunia, maka kurikulum yang harus mengantisipasi perubahan-perubahan itu,” terangnya.(rfa)
    Kurikulum 2013
    Sekolah Boleh Kembangkan Standar Kompetensi
    Margaret Puspitarini
    Kamis, 14 Maret 2013 14:19 wib

    Ilustrasi: Her Campus.
    JAKARTA – Tahun ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan menerapkan kurikulum baru. Menjelang penerapan kurikulum 2013, mari kita menilik kembali kurikulum baru tersebut.

    Kepala Pusat Pengembangan Kurikulum dan Buku (Pusburbuk) Nanik Suwaryani menyatakan, standar kurikulum 2013 ditetapkan oleh kementerian berdasarkan usulan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).

    “Standar kompetensi lulusan dalam kurikulum 2013 memiliki tiga domain, yakni sikap, keterampilan, dan pengetahuan,” ujar Nanik, dalam acara National Launch of the 2012 Education for All (EFA) Global Monitoring Report (GMR), di Gedung D Kemendikbud, Senayan, Jakarta Selatan, Kamis (14/3/2013).

    Dia menjelaskan, dari standar kompetensi lulusan kemudian diturunkan menjadi kompetensi inti (KI) dan kompetensi dasar (KD). Namun, lanjut Nanik, sekolah dapat mengembangkan lebih jauh mengenai kompetensi tersebut.

    “Itu standar minimal. Sekolah bisa mengembangkan lagi tergantung kebutuhan sekolah dan peserta didik. Apakah mau lebih internasional atau justru mau lebih lokal,” urainya.

    Dalam kurikulum baru tersebut, lanjut Nanik, juga akan terjadi perubahan jam belajar. Dia mengungkapkan, hal tersebut dilakukan dengan mengacu terhadap beberapa negara maju yang jumlah jam belajarnya lebih banyak.

    Kemudian, kata Nanik, dengan mengacu pada kegagalan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), maka pada kurikulum baru silabus akan disusun oleh pemerintah pusat.

    “Silabus dikembangkan pemerintah pusat karena setelah beberapa tahun KTSP berjalan masih banyak sekolah yang kesulitan mengembangkan silabus,” jelasnya.(rfa)

    Kurikulum Tak Lepas dari Aspek Politik
    Penulis : Riana Afifah | Selasa, 22 Januari 2013 | 16:43 WIB

    Dibaca: 1783

    Komentar: 3
    |

    Share:
    ANDRISumber: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
    TERKAIT:
    • “Kenapa Pak Menteri Ngotot dengan Kurikulum Baru?”
    • Mengkaji Pemajuan Ujian Nasional
    • Kemdikbud dan Kompetensi Ilmiah
    • Wamendikbud: Untuk Bangsa, Jangan Enggan ‘Ngeluarin’ Biaya Besar
    • Mendikbud: Kurikulum 2013 Tidak Bisa Ditunda
    JAKARTA, KOMPAS.com — Perubahan kurikulum yang ada di berbagai negara tidak pernah lepas dari kondisi politik yang sedang berlaku di negara tersebut. Untuk itu, tidak menutup kemungkinan kurikulum akan berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kondisi politik yang memengaruhi negara pada saat itu.

    Hal ini disampaikan oleh Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Hamid Hasan, dalam rapat dengan Panja Kurikulum DPR RI, Rabu (22/1/2013). Hamid mengatakan bahwa fakta ini juga terjadi di beberapa negara besar seperti Amerika dan Jepang yang mengubah kurikulum dalam waktu singkat karena adanya pergolakan politik di negara tersebut.

    “Contoh saja Jepang, baru dua tahun pernah mengubah kurikulum hanya karena aspek politik. Jadi waktu itu terkait penjajahan Jepang, konten dalam pelajaran sejarahnya ada yang dihilangkan dengan maksud agar generasi saat itu tetap memiliki nasionalisme dan kecintaan terhadap negara,” katanya.

    “Jadi, tidak ada satu pun kurikulum bebas dari pengaruh politik. Itu sudah established dalam kurikulum. Begitu power politik itu berubah, akan ada berpengaruh juga pada kurikulum,” tambah pria yang menjabat sebagai Ketua Tim Inti Pengembangan Kurikulum 2013 ini kemudian.

    Anggota Panja Kurikulum DPR RI, Raihan Iskandar, mengatakan, untuk meminimalisasi perubahan kurikulum akibat kondisi politik yang berubah, ada baiknya dibuat Rencana Strategis (Renstra) Pendidikan yang jelas dan kuat. Pasalnya, muncul kekhawatiran kurikulum akan kembali dirombak pada 2014 mendatang.

    “Siapa yang bisa menjamin kurikulum tak diubah lagi setelah 2014. Padahal, penerapannya belum selesai. Tidak menutup kemungkinan kurikulum berubah tiap tahun. Baiknya bikin Renstra Pendidikan yang jelas,” ujar Raihan.

    Berita terkait, baca : KURIKULUM 2013

  122. adverina says:

    lebai lo pemerintah, dan salut buat pak wijaya

  123. yusuf says:

    setelah membaca tulisan omjay, saya jadi kian mantap, kurikulum 2013 memang belum siap.

  124. Audzubillahi min dzalik…
    Inna ilaihi wa inna ilaihi rajiun…
    Demi politik dan demi mendapatkan uang anggaran,masa depan generasi penerus telah dikorbankan dengan diberlakukannya kurikulum 2013 ini.Sungguh suatu kebijakan yang tidak mendidik,bahkan membodohkan siswa.
    Sebanarnya dari hasil pertemuan Mendikbud dengan DPR beberapa waktu yang lalu ada 3 partai politik yang mnolak,yaitu PKS, PPP,Gerindra.Dan 6 partai setuju dengan banyak catatan,
    diantaranya adalah
    1.harus ada pematangan materi dan perbaikan materi karena masih banyak yang keliru
    2.kesiapan sekolah dan guru harus diperhatikan
    3.pelatihan guru sampai benar-banar memahami esensi kurikulum baru
    Sudahkah ketiga poin ini dilaksanakan.Sungguh sulit dan memerlukan waktu lama jika semua ini dilaksanakan.
    Pelatihan guru misalnya.Apakah dengan pelatihan selama 5 hari guru akan paham 100% dengan kurikulum baru? Di luar negeri pelatihan guru terkait perubahan kurikulum memerlukan waktu yang sangat lama,minimal 5-10 tahun.Jika guru tidak paham,bagaimana guru akan melakukan transfer ilmu kepada anak didiknya?
    Dari segi materi,kurikulum 2013 ini sangatlah tidak jelas. Tematik integrasi yang ada di dalam kurikulum 2013 bukanlah metode integrasi yang benar,tetapi sekedar campur-campur materi yang tidak jelas ujung pangkalnya.Banyak tujuan intruksional yang membuat kita mengerutkan kening.Misalnya untuk matematika,tujuan intruksionalnya adalah membuat siswa mematuhi kaidah-kaidah penjumlahan,pengurangan,perkalian dan pembagian.Alangkah ganjilnya.Kita tahu bahwa matematika adalah ilmu logika dan bukan ilmu agama.Secara nalar ilmu logika tidak boleh ada kata mematuhi karena dasarnya logika, mencari kebenaran ilmiah,berdasarkan bukti ilmiah pula.Beda dengan ilmu agama,memang siswa harus beriman,meyakini, mematuhi walaupun tidak bisa melihat ataupun meraba dzat yang dipatuhinya tanpa pembuktian.
    Belum lagi penghilangan beberapa pelajaran,seperti TIK. Apakah generasi muda akan dijadikan tetap bodoh dan gaptek?
    Pelajaran IPS dan IPA di SD baru diberikan di kelas 4,5,6 padahal IPS dan IPA adalah ilmu dasar yang harus diajarkan sejak kelas satu SD.

    1. wijaya kusumah says:

      Beginilah jadinya bila kurikulum diterapkan tdk dgn pendekatan akademik, tapi endekatan politik. Sayang banget uang negara dikeluarkan menjadi tak tepat sasaran

    2. teddy says:

      Bagaimana tidak berantakan?sejak gagasan,penetapan anggaran, penulisan,sosialisasi,pelatihan guru,pelatihan kepsek,dll ditempuh hanya dalam waktu setahun!!!Seperti dikejar setan,semua serba terburu-buru.Indonesia harus malu!!!Kurikulum bukan ajang politik,kurikulum adalah ajang mendidik generasi muda.Tentu saja tidak bisa dibuat instan dan asal-asalan. Contohlah negara lain seperti Inggris,Belanda,AS,Cina, Finlandia,Jepang,Cina, Malaysia,Singapura,dll.Pembuatan kurikulum baru pasti melalui penelitian yang valid dan lama,melalui berbagai pertimbangan…kalau di Indonesia asal ganti menteri pasti ganti kebijakan.Asal mau pemilu pastilah butuh dana,dan usaha untuk mencari dana itu pastilah tidak halal.Bisa dipastikan kurikulum 2013 adalah proyek untuk menarik dana anggaran dari tempat lain untuk biaya pemilu.
      Kurikulum 2013 adalah kurikulum pesanan Wapres Budiono. Kurikulum 2013 ibarat Century jilid dua,Hambalang jilid dua.
      Hayo KPK,tunjukkan taringmu,tangkap pejabat tinggi negara yang merusak generasi muda Indonesia.

  125. Bagaimana dengan RSBI/SBI?Mereka sudah terbiasa menggunakan kurikulum yang jauh lebih sulit tingkat materinya dibanding kurikulum 2013.Jika kurikulum 2013 diberlakukan,bukankah ini kemunduran pendidikan di Indonesia?

  126. Rasanya sebagai guru saya tidak tega mengajar berdasarkan kurikulum 2013 yang hanya membuat murid semakin bodoh…

    1. Wijaya Kusumah says:

      sayapun demikian

      salam
      omjay

  127. Menurut kabar,pelatihan guru akan diadakan tanggal 1-6 Juli 2013 di ibukota propinsi.Apakah dalam waktu satu minggu guru akan memahami kurikulum 2013?Dan apakah kurikulum 2013 sudah sempurna dan layak digunakan sebagai dasar dan acuan dalam mendidik anak-anak?
    Mohon pendapatnya.

  128. Berdasarkan kritikan yang banyak dan bertubi-tubi terhadap kurikulum 2013 kelihatannya kurikulum ini tidak akan bisa bertahan lama.Lihat saja nanti.Tahun 2014 sudah pemilu. Presiden dan staf kabinet akan berganti,otomatis ganti kebijakan baru.Mudah-mudahan kurikulum diganti seperti kurikulum RSBI yang lebih sesuai mengikuti perkembangan zaman.

    1. Di daerah saya,sekolah yang ditunjuk untuk melaksanakan kurikulum 2013 tidak mau melaksanakannya karena tidak yakin akan kelangsungan kurikulum 2013.Pelatihan 5 hari ternyata tidak menjadikan guru memahami kurikulum 2013 secara tuntas.Masa depan siswa bukan untuk uji coba apalagi untuk tumbal korupsi pejabat negara.

  129. Terasa sekali sekolah eks RSBI yang dipaksa memberlakukan kurikulum 2013,siswa mulai jenuh karena pelajarannya terlalu mudah.Banyak siswa yang pindah ke sekolah swasta bermutu atau pindah sekolah ke luar negeri.

  130. Indonesia terlalu mudah dan sering mengganti kurikulumtanpa riset dan perencanaan yang matang.

  131. Workshop kurikulum 2013 di kota kami baru diadakan dua minggu yang lalu namun pemerintah sudah memberlakukan kurikulum 2013 semenjak Juli 2013.Aneh dan sangat ganjil kelihatannya…guru belum memahami esensi kurikulum 2013,workshop baru diadakan Oktober 2013,namun kurikulum sudah diberlakukan Juli 2013. Apakah pemerintah tidak menyadari dampak negatif pemberlakuan kurikulum 2013 yang terkesan tergesa-gesa dan dipaksakan?

    1. Wijaya Kusumah says:

      kok bisa kurikulum diberlakukan sementara gurunya belum dilatih? Tanya kenapa ini bisa terjadi?

      salam
      omjay

      1. yuyun says:

        Negara kita sudah carut marut,korupsi di segala aspek kehidupan,kolusi menjadi kebiasaan,nepotisme menjadi keharusan,segala cara dihalalkan,akhirnya masa depan generasi muda menjadi tumbal kebijakan pemerintah yang ternyata tidak bijaksana.

      2. teddy says:

        Bagaimana tidak berantakan?sejak gagasan,penetapan anggaran, penulisan,sosialisasi,pelatihan guru,pelatihan kepsek,dll ditempuh hanya dalam waktu setahun!!!Seperti dikejar setan,semua serba terburu-buru.Indonesia harus malu!!!Kurikulum bukan ajang politik,kurikulum adalah ajang mendidik generasi muda.Tentu saja tidak bisa dibuat instan dan asal-asalan. Contohlah negara lain seperti Inggris,Belanda,AS,Cina, Finlandia,Jepang,Cina, Malaysia,Singapura,dll.Pembuatan kurikulum baru pasti melalui penelitian yang valid dan lama,melalui berbagai pertimbangan…kalau di Indonesia asal ganti menteri pasti ganti kebijakan.Asal mau pemilu pastilah butuh dana,dan usaha untuk mencari dana itu pastilah tidak halal.Bisa dipastikan kurikulum 2013 adalah proyek untuk menarik dana anggaran dari tempat lain untuk biaya pemilu.
        Kurikulum 2013 adalah kurikulum pesanan Wapres Budiono. Kurikulum 2013 ibarat Century jilid dua,Hambalang jilid dua.
        Hayo KPK,tunjukkan taringmu,tangkap pejabat tinggi negara yang merusak generasi muda Indonesia.

  132. Kepada para pembaca,sudahkah Anda semua mendengar penyadapan telepon terhadap Presiden SBY,Ibu Ani Yudhoyono,dan menteri-menteri kabinet yang dilakukan oleh Badan Intelegen Asing? Hal tersebut dapat terbongkar bukan karena kehebatan Indonesia tetapi karena ada pengkhianatan badan intelegen asing tersebut.Presiden SBY marah sekali,dan peristiwa ini mengakibatkan putusnya hubungan diplomatik antara Indonesia dan Australia.
    Seandainya Indonesia memiliki ahli-ahli TIK,dan mata pelajaran TIK tidak dihapuskan maka penyadapan telepon tersebut tidak akan terjadi.Indonesia dapat melindungi dirinya dari penyalahgunaan Tik dan kehormatan bangsa akan terjaga.Itulah pentingnya menguasai TIK bagi bangsa dan negara.Jadi dapat disimpulkan bahwa mata pelajaran TIK tidak boleh dihapuskan.
    Ini adalah pendapat Bp.Toni Herlambang. Bagus sekali dan cocok dengan situasi saat ini.TIK memang perlu dan harus terus ada seiring perkembangan zaman.

  133. orang tolol says:

    hahahaaa terlalu byk org pintar, bknkah sekrng guru adalh pahlwan dengan tanda jasa “sertifikasi”, jgn hnya ribut minta jtah sertifikasi.. syukuri apa yg di dpt.. spa suruh jd PNS.. i2lah anda hrs berkaca dan berkaca sdhkah anda mengajar sesuai dgn upah yg anda dptkn setiap bulan… hidup sertifikasi.. hidu….

    1. intan says:

      Maaf,komentar Anda tidak tepat berada di dalam blog ini. Topiknya adalah komentar mengenai kurikulum 2013,bukanlah tentang sertifikasi,apalagi hujatan terhadap guru.

  134. Danjau says:

    Sekarang sudah 2014 ko kurikulum 13 masih draf, yang beneeerrr !!!!!

    1. Kemendikbud tidak profesional,mengorbankan generasi muda agar bisa korupsi uang anggaran.Sampai sekarang kurikulum 2013 masih berupa draft,pelatihan guru sangat terlambat (baru dilakukan sekitar Bulan Oktober 2013) sehingga saat tahun ajaran baru Juli 2013 guru belum memahami esensi kurikulum 2013.Fakta menyedihkan dalam dunia pendidikan.

      1. Wijaya Kusumah says:

        semoga ada tim evaluasi independen yg mampu mengevaluasi pelaksanaan kurikulum 2013 di sekolah sasaran

        1. ratnawati says:

          Ya Pak,saya sebagai seorang guru menjadi bingung.Di satu sisi saya ingin menjalankan profesi saya mendidik anak-anak dengan baik dan sepenuh hati namun kenyataan di lapangan berbeda.Kurikulum terlalu cepat berganti dan pelatihan yang sangat terlambat membuat kami para guru tidak siap.Akhirnya,daripada anak-anak bingung,maka sekolah kami membuat kebijakan untuk tetap menerapkan KTSP sampai ada kejelasan mengenai kurikulum 2013.Mungkin itulah langkah yang terbaik saat ini.

          1. Wijaya Kusumah says:

            sebuah keputusan dan kebijakan yg sangat tepat. Wait and see dulu lebih baik.

            salam
            omjay

          2. Di daerah saya,sekolah yang ditunjuk untuk melaksanakan kurikulum 2013 tidak mau melaksanakannya karena tidak yakin akan kelangsungan kurikulum 2013.Pelatihan 5 hari ternyata tidak menjadikan guru memahami kurikulum 2013 secara tuntas.Masa depan siswa bukan untuk uji coba apalagi untuk tumbal korupsi pejabat negara.

          3. teddy says:

            Bagaimana tidak berantakan?sejak gagasan,penetapan anggaran, penulisan,sosialisasi,pelatihan guru,pelatihan kepsek,dll ditempuh hanya dalam waktu setahun!!!Seperti dikejar setan,semua serba terburu-buru.Indonesia harus malu!!!Kurikulum bukan ajang politik,kurikulum adalah ajang mendidik generasi muda.Tentu saja tidak bisa dibuat instan dan asal-asalan. Contohlah negara lain seperti Inggris,Belanda,AS,Cina, Finlandia,Jepang,Cina, Malaysia,Singapura,dll.Pembuatan kurikulum baru pasti melalui penelitian yang valid dan lama,melalui berbagai pertimbangan…kalau di Indonesia asal ganti menteri pasti ganti kebijakan.Asal mau pemilu pastilah butuh dana,dan usaha untuk mencari dana itu pastilah tidak halal.Bisa dipastikan kurikulum 2013 adalah proyek untuk menarik dana anggaran dari tempat lain untuk biaya pemilu.
            Kurikulum 2013 adalah kurikulum pesanan Wapres Budiono. Kurikulum 2013 ibarat Century jilid dua,Hambalang jilid dua.
            Hayo KPK,tunjukkan taringmu,tangkap pejabat tinggi negara yang merusak generasi muda Indonesia.

  135. yuniarti says:

    Indonesia mau jadi apa?Lihat saja program RSBI/SBI yang sudah maju dan bagus malahan dihapuskan dan dikembalikan ke program standar minimal.Lalu kurikulum 2013 ini apalagi,mutunya semakin rendah???Semakin aneh.

  136. shabirin says:

    Indonesia dijajah bangsa sendiri.Para pejabat seenaknya membuat kebijakan yang hanya bermanfaat untuk perut dan kantong pribadinya.

  137. riyanti says:

    Kurikulum yang terbaik menurut pandangan kami sebagai seorang guru adalah kurikulum RSBI/SBI.Kurikulum RSBI/SBI ini sesuai dengan permasalahan di era globalisasi,mengedepankan teknologi,multimedia,bahasa asing sebagai bekal komunikasi dan menjaring informasi namun tidak melupakan budaya lokal di setiap daerah.

  138. Banyak rekan guru yang galau,bingung,kacau melaksanakan kurikulum 2013…Kalau guru saja merasa bingung,bagaimana dengan muridnya ya?

  139. anonim says:

    sejak sekolah saya menerapkan kurikulum 2013, nilai saya jauh menurun 🙁 , karena kurikulum 2013 terlalu memaksa saya untuk belajar setiap waktu…

  140. Aldo Valentine says:

    Pada saat saya kelas 7.pelajaran TIK selalu teori dan enggak pernah praktek,katanya sih pas kelas 8 pelajaran TIK itu lebih banyak prakteknya dari pada teori.setelah saya kenaikkan kelas ada penumuman bahwa mapel TIK dihapus.gimqnq sih dinas pendidikan…saya tolak kirikulum 2013 walaupun saya bukan guru

  141. lestin silvia says:

    anda sebagai guru saja tidak setuju ? apalagi muridnya .. saya sebagai murid baru SMA negeri juga menolak terhadap kurikulum baru ini . menurut saya , kurikulum ini menurunkan SDM di indonesia .. kalau kurikulum ini terus berlanjut, saya pastikan masyarakat indonesia semakin terbelakang . murid itu harusnya mendengar penjelasan guru , bukan menjelaskan kepada guru .. saya berhrap semoga kurikulum ini cepat diganti oleh presiden baru yang terpilih .. aminn ..

    1. Inilah alasan saya tidak menyetujui kurikulum 2013. Kurikulum 2013 dinilai kontroversial sejak awal pembuatannya.Kalau kurikulum sebelumnya dibuat berdasarkan UU Sisdiknas,kurikulum 2013 dibuat terlebih dahulu lalu UU Sisdiknas dirombak untuk disesuaikan dengan kurikulum 2013 (logika terbalik).Masalah anggaran untuk kurikulum 2013 juga sempat diperdebatkan karena terus menerus naik,dari 300 milyar rupiah naik menjadi 684 milyar rupiah dan pada puncaknya mencapai 2,49 triliun rupiah.Masalah evaluasi secara komprehensif terhadap kurikulum sebelumnya (KTSP) belum dilakukan sehingga tidak ada alasan/landasan pasti mengapa harus ada pergantian kurikulum.Negara-negara di Eropa membuat kurikulum baru melalui tahapan penelitian yang panjang,bisa sampai 50 tahun, bahkan 70 tahun sehingga lebih siap dan matang.Masalah penyusunan buku ajar dilakukan sebelum tuntas pembahasan kurikulum 2013.Masalah integrasi yang terkesan aneh dan dipaksakan,contoh: cinta tanah air,menghormati orang lain,bangga menjadi anak Indonesia,sudut,telinga, dll.
      Masalah pelatihan guru yang relatif singkat,dan yang dilatih sedemikian banyak dinilai kurang efektif dan banyak yang tidak siap sebagai akibatnya.Masalah panduan kurikulum dinilai membelenggu kreativitas guru karena guru tidak diperbolehkan membuat silabus, semuanya sudah disediakan oleh pusat.Padahal di setiap daerah terdapat permasalahan yang berbeda,dan gurulah yang mengetahui keadaan di daerah/wilayah,tidak bisa disamakan begitu saja.Masalah penghilangan beberapa pelajaran,yaitu Bahasa Inggris dan TIK juga menimbulkan tanda tanya.Padahal kita semua tahu bahwa Bahasa Inggris dan TIK sangat penting di era globalisasi.Dan terakhir, sejauh ini belum diketahui apakah kurikulum 2013 akan tetap berlaku seiring dengan pergantian kepemimpinan di Indonesia.

      1. Banyak orang tua/wali murid yang kebingungan dengan berlakunya kurikulum 2013 ini.Mereka mengatakan bahwa kurikulum ini membuat siswa menjadi lebih bodoh.

  142. haryanto says:

    kurikulum 2013 sudah diberlakukan juli 2014, namun ada yang perlu saya pertanyakan masalah buku raport siswa, apakah benar sekolah menjual dengan harga Rp. 85.000,- (delapan puluh lima ribu rupiah), ini pemerasan terselubung apalagi ini.

  143. Sabun says:

    sy SUNGGUH tidak suka dengan kurikulum 2013!! sudah 1 bulan lebih berjalan, hasilnya buruk sekali! kembalikan saja ke kurikulum RSBI/SBI, lebih baik! Siapa setuju dengan ini?!

    1. Kurikulum 2013 ini dinilai kontroversial sejak awal pembuatannya.Kalau kurikulum sebelumnya dibuat berdasarkan UU Sisdiknas,kurikulum 2013 dibuat terlebih dahulu lalu UU Sisdiknas dirombak untuk disesuaikan dengan kurikulum 2013 (logika terbalik).Masalah anggaran untuk kurikulum 2013 juga sempat diperdebatkan karena terus menerus naik,dari 300 milyar rupiah naik menjadi 684 milyar rupiah dan pada puncaknya mencapai 2,49 triliun rupiah.Masalah evaluasi secara komprehensif terhadap kurikulum sebelumnya (KTSP) belum dilakukan sehingga tidak ada alasan/landasan pasti mengapa harus ada pergantian kurikulum.Negara-negara di Eropa membuat kurikulum baru melalui tahapan penelitian yang panjang,bisa sampai 50 tahun, bahkan 70 tahun sehingga lebih siap dan matang.Masalah penyusunan buku ajar dilakukan sebelum tuntas pembahasan kurikulum 2013.Masalah integrasi yang terkesan aneh dan dipaksakan,contoh: cinta tanah air,menghormati orang lain,bangga menjadi anak Indonesia,sudut,telinga, dll.
      Masalah pelatihan guru yang relatif singkat,dan yang dilatih sedemikian banyak dinilai kurang efektif dan banyak yang tidak siap sebagai akibatnya.Masalah panduan kurikulum dinilai membelenggu kreativitas guru karena guru tidak diperbolehkan membuat silabus, semuanya sudah disediakan oleh pusat.Padahal di setiap daerah terdapat permasalahan yang berbeda,dan gurulah yang mengetahui keadaan di daerah/wilayah,tidak bisa disamakan begitu saja.Masalah penghilangan beberapa pelajaran,yaitu Bahasa Inggris dan TIK juga menimbulkan tanda tanya.Padahal kita semua tahu bahwa Bahasa Inggris dan TIK sangat penting di era globalisasi.Dan terakhir, sejauh ini belum diketahui apakah kurikulum 2013 akan tetap berlaku seiring dengan pergantian kepemimpinan di Indonesia.
      Namun apapun pendapat kita sebagai rakyat, kurikulum 2013 tetaplah harus dijalankan sehingga kita harus terus berusaha dan beradaptasi agar anak-anak kita mencapai prestasi yang optimal.Guru dan orang tua harus lebih aktif dan bekerja keras untuk mewujudkan harapan ini.

      Ada banyak kendala dari kurikulum 2013, yaitu:
      1.Materi dalam buku tematik hanya berupa garis besar/sub tema.Berbeda dengan kurikulum tahun lalu (menggunakan KTSP) menyajikan semua ilmu dasar yang diperlukan dengan lengkap,terinci,dan sistematis.Buku tematik kurikulum 2013 hanya menyajikan sekilas info,sedikit gambaran materi,dan menitikberatkan pengajaran secara diskusi,penugasan, pengamatan,percobaan,presentasi,dan portofolio.Padahal untuk dapat melakukan semua itu murid harus mengetahui materi secara mendalam.Untuk itulah murid harus mencari semua materi yang diperlukan,dan disinilah peran serta orangtua sangat penting untuk membantu.
      2.Materi dalam buku tematik terlalu luas,dan tidak jelas batasnya.
      3.Materi dalam buku tematik menuntut murid berpikir secara luas,holistik,menyeluruh,dan terintegrasi,tetapi
      ilmu dasar belum diketahui secara mendalam dan daya pikir/daya nalar/daya analisa yang dimiliki murid
      kelas SD masih terbatas.
      4.Materi dalam buku tematik dimaksudkan disusun secara terintegrasi,namun pada kenyataannya ada materi yang tidak bisa digabung/dilebur sehingga terkesan dipaksakan. Contoh:hubungan antara cinta tanah air,menghormati orang
      lain,bangga menjadi anak Indonesia,sudut,telinga,dll.
      5.Materi dalam buku tematik terkesan campur-campur sehingga memusingkan murid.Dahulu satu mata pelajaran ada satu buku paket dan satu LKS (Lembar Kerja Siswa),sekarang satu buku berisi semua mata pelajaran sehingga kurang terfokus.
      Saya lebih setuju dengan kurikulum RSBI/SBI karena jauh lebih baik.

  144. Para pembaca,inilah berita dari Metronews tentang pendapat Musliar Kasim terkait kurikulum 2013.Metrotvnews.com, Jakarta: Terjadinya berbagai kendala dalam penerapan Kurikulum 2013 (K-13) bukan berarti kurikulum itu gagal. Kemendikbud telah bekerja keras menyukseskan berjalannya kurikulum tersebut.

    “Kiranya dapat difahami, dalam implementasinya tahun pertama terkadang memang belum akan mencapai sempurna semuanya.Insya allah pada waktunya akan bagus. Melihat sebagian kecil dari para pengamat itu,terus terang saya merasa sedih, jika ada yang memojokkan dan membangun image K-13 jelek. Berita itu menyesatkan dan dapat dianggap benar bagi orang yang tidak faham,” kata Wamendikbud Bidang Pendidikan Musliar Kasim melalui surat elektroniknya kepada Media Indonesia, menanggapi kritik pengamat pendidikan dan ICW yang menilai K-13 bermasalah serta mendekati kegagalan.

    Sekali lagi, kata Musliar, dia merasa sedih karena ada pemikiran yang mengarah pada pembatalan kurikulum.

    “Dapat saya nyatakan ,kita belum pernah punya kurikulum sebagus ini. K-13 bisa selesai karena kami membuatnya dengan sepenuh hati dengan mengumpulkan para ahli.kami lakukan tak mengenal lelah,seluruh staf Kemenndikbud bekerja siang malam,” ujarnya.

    Lebih lanjut, mantan Rektor Universitas Andalas Padang itu mengatakan, belum pernah ada K-13 yang disiapkan seperti ini sejak dulu. “Andaikata kita cermati apakah Kurikulum yang lama sudah berhasil? Jika berhasil, pasti pendidikan kita sudah maju. Saya menyampaikan ini di akhir masa jabatan saya semoga Allah memberikan yang terbaik bagi bangsa,” tandasnya.

    Dalam kesempatan itu, Musliar menanggapi pernyataan pengamat pendidikan Darmaningtyas yang dimuat di Harian Media Indonesia (Rabu,27/8) yang menyebutkan tematik integratif K-13 sulit diterapkan.

    “Saya kira, itu sumir. Faktanya, contoh guru di daerah pedalaman Kutai Timur justru dapat melakukannya dengan sangat baik,” ungkapnya.

    Ia juga mengomentari pernyataan ICW yang menilai K-13 mengalami kegagalan. “Pertanyaanya, apakah kriteria kegagalan itu hanya ditinjau satu aspek? Bukankah sebuah keberhasilan itu multiaspek. Jika ada kekurangan maka kekurangan itu yang harus segera diperbaiki,” imbuh Musliar.

    Ia mengakui pada implementasi K-13 saat ini memang sebagian buku belum tiba di sekolah namun ia meminta jangan hanya dilihat keterlambatan buku tetapi agar dilihat upaya kontigensinya.

    “Kami sudah mengirimkan cakram (cd) berisi buku teks pelajaran yang dapat digunakan oleh guru untuk mengajar di sekolah,” pungkas Musliar. (Syarief Oebaidillah)

    1. Terbukti Pak Musliar Kasim ini tidak pernah mendengarkan suara guru,tidak mau melihat kenyataan di lapangan.

      Kurikulum ini dinilai kontroversial sejak awal pembuatannya.Kalau kurikulum sebelumnya dibuat berdasarkan UU Sisdiknas,kurikulum 2013 dibuat terlebih dahulu lalu UU Sisdiknas dirombak untuk disesuaikan dengan kurikulum 2013 (logika terbalik).Masalah anggaran untuk kurikulum 2013 juga sempat diperdebatkan karena terus menerus naik,dari 300 milyar rupiah naik menjadi 684 milyar rupiah dan pada puncaknya mencapai 2,49 triliun rupiah.Masalah evaluasi secara komprehensif terhadap kurikulum sebelumnya (KTSP) belum dilakukan sehingga tidak ada alasan/landasan pasti mengapa harus ada pergantian kurikulum.Negara-negara di Eropa membuat kurikulum baru melalui tahapan penelitian yang panjang,bisa sampai 50 tahun, bahkan 70 tahun sehingga lebih siap dan matang.Masalah penyusunan buku ajar dilakukan sebelum tuntas pembahasan kurikulum 2013.Masalah integrasi yang terkesan aneh dan dipaksakan,contoh: cinta tanah air,menghormati orang lain,bangga menjadi anak Indonesia,sudut,telinga, dll.
      Masalah pelatihan guru yang relatif singkat,dan yang dilatih sedemikian banyak dinilai kurang efektif dan banyak yang tidak siap sebagai akibatnya.Masalah panduan kurikulum dinilai membelenggu kreativitas guru karena guru tidak diperbolehkan membuat silabus, semuanya sudah disediakan oleh pusat.Padahal di setiap daerah terdapat permasalahan yang berbeda,dan gurulah yang mengetahui keadaan di daerah/wilayah,tidak bisa disamakan begitu saja.Masalah penghilangan beberapa pelajaran,yaitu Bahasa Inggris dan TIK juga menimbulkan tanda tanya.Padahal kita semua tahu bahwa Bahasa Inggris dan TIK sangat penting di era globalisasi.Dan terakhir, sejauh ini belum diketahui apakah kurikulum 2013 akan tetap berlaku seiring dengan pergantian kepemimpinan di Indonesia.
      Namun apapun pendapat kita sebagai rakyat, kurikulum 2013 tetaplah harus dijalankan sehingga kita harus terus berusaha dan beradaptasi agar anak-anak kita mencapai prestasi yang optimal.Guru dan orang tua harus lebih aktif dan bekerja keras untuk mewujudkan harapan ini.

      Ada banyak kendala dari kurikulum 2013, yaitu:
      1.Materi dalam buku tematik hanya berupa garis besar/sub tema.Berbeda dengan kurikulum tahun lalu (menggunakan KTSP) menyajikan semua ilmu dasar yang diperlukan dengan lengkap,terinci,dan sistematis.Buku tematik kurikulum 2013 hanya menyajikan sekilas info,sedikit gambaran materi,dan menitikberatkan pengajaran secara diskusi,penugasan, pengamatan,percobaan,presentasi,dan portofolio.Padahal untuk dapat melakukan semua itu murid harus mengetahui materi secara mendalam.Untuk itulah murid harus mencari semua materi yang diperlukan,dan disinilah peran serta orangtua sangat penting untuk membantu.
      2.Materi dalam buku tematik terlalu luas,dan tidak jelas batasnya.
      3.Materi dalam buku tematik menuntut murid berpikir secara luas,holistik,menyeluruh,dan terintegrasi,tetapi
      ilmu dasar belum diketahui secara mendalam dan daya pikir/daya nalar/daya analisa yang dimiliki murid
      kelas IV SD masih terbatas.
      4.Materi dalam buku tematik dimaksudkan disusun secara terintegrasi,namun pada kenyataannya ada materi yang tidak bisa digabung/dilebur sehingga terkesan dipaksakan. Contoh:hubungan antara cinta tanah air,menghormati orang
      lain,bangga menjadi anak Indonesia,sudut,telinga,dll.
      5.Materi dalam buku tematik terkesan campur-campur sehingga memusingkan murid.Dahulu satu mata pelajaran ada satu buku paket dan satu LKS (Lembar Kerja Siswa),sekarang satu buku berisi semua mata pelajaran sehingga kurang terfokus.
      Saya lebih setuju dengan kurikulum RSBI/SBI karena jauh lebih baik.

  145. Tanda-Tanda Gagalnya Kurikulum 2013 (Okezone)
    JAKARTA – Kurikulum 2013 dinilai mulai diragukan efektivitasnya. Ada beberapa hal penting yang patut diperhatikan.

    Pertama, guru tidak siap mengajarkan kurikulum ini. Kedua, infrastruktur kurikulum belum tersedia sepenuhnya.

    Hal lain yang berpotensi akan mempengaruhi penerapan kurikulum ini adalah pergantian rezim di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pasca pemilihan presiden (Pilpres) 2014. Kurikulum yang secara serentak diberlakukan mulai tahun ajaran 2014/2015 di semua jenjang sekolah, mulai dasar hingga menengah ini dinilai terlalu dipaksakan untuk diterapkan.

    Berbagai masalah muncul ketika banyak sekolah mengeluh karena belum tersedianya buku paket untuk murid maupun pegangan guru. Masalah lainnya adalah minimnya kesiapan guru dalam menerapkan kurikulum ini karena banyak guru yang belum mendapat pelatihan.

    Seperti dilansir dari keterangan tertulis yang diterima Okezone, Kamis (28/8/2014), Indonesia Corruption Watch (ICW) telah melakukan pemantauan di Jakarta selama tiga minggu pertama sejak kurikulum ini diterapkan.

    Dari pemantauan tersebut, diperoleh beberapa temuan, seperti buku pelajaran siswa belum tersedia seluruhnya terutama di jenjang pendidikan dasar dan menengah (SD dan SMP). Akibatnya, murid dan orangtua murid menggandakan buku melalui fotokopi, membeli di toko buku, atau mengunduh dari internet.

    Selain itu, orangtua dan murid harus mengeluarkan biaya untuk mendapatkan bahan kurikulum 2013. Pihak sekolah tidak bersedia membayar biaya unduh, print, fotokopi atau pembelian buku di toko buku dengan alasan bahwa dana bantuan operasional sekolah (BOS) terbatas dan hanya untuk membayar buku yang telah dipesan oleh sekolah. Pertanyaanya, siapa yang akan menanggung biaya yang terlanjur digunakan oleh orangtua murid untuk pengadaan materi pelajaran kurikulum 2013 tersebut?

    Kemudian, sebagian besar guru belum mendapatkan training kurikulum 2013. Sebagian kecil lainnya sudah mengikuti paling sedikit selama dua hari dan paling banyak satu minggu. Meski yakin bisa mengajarkan materi pelajaran sebagaimana mengajar saat kurikulum sebelumnya, akan tetapi mereka merasa belum cukup mendapatkan materi kurikulum 2013 seutuhnya. Kualitas belajar mengajar di sekolah dikhawatirkan semakin rendah, karena guru tidak menguasai materi kurikulum 2013 sepenuhnya.

    Tidak hanya itu, guru juga mengeluhkan metode penilaian siswa yang dianggap memberatkan. Guru membuat penilaian dibuat dalam bentuk narasi untuk setiap siswa.

    Hal ini bermasalah terutama bagi guru yang mengelola murid dalam jumlah besar seperti di tingkat SMP. Seorang guru harus menilai lebih dari 200 murid secara naratif, padahal mengenal nama mereka saja selama tahun ajaran belum tentu bisa mereka lakukan. Guru hanya mampu mengingat murid yang menonjol dan menarik perhatiannya.

    Lalu, guru belum memiliki buku pegangan guru terkait kurikulum 2013. Akhirnya guru mengajar hanya berdasarkan bahan yang diunduh.

    Sehingga, murid SMA hanya disediakan buku teks untuk mata pelajaran Imapel) wajib, sedangkan untuk penjurusan ditanggung oleh siswa itu sendiri. Dengan demikian, buku kurikulum 2013 tidak gratis sepenuhnya.

    ICW menilai, kekacauan penerapan kurikulum 2013 merupakan bentuk kelalaian pemerintah dalam menunaikan kewajibannya untuk menyediakan pendidikan bermutu. Akibatnya, hak murid dan guru atas pendidikan bermutu tersebut terancam.

    Menyikapi hal itu, maka ICW merekomendasikan untuk menghentikan pelaksanaan kurikulum 2013 dan kembali ke kurikulum 2006 atau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). (fsl) (rhs)

  146. sebastian says:

    saya sebagai seorang siswa yg telah mempunyai sebuah mimpi. Saya sangat MENOLAK KURIKULUM TIGA BELAS

    alasannya
    1. Gila apa murid kesekolah itu buat belajar bukan buat ngajar.
    2. Ngapain sekolah kalo gurunya gak ngajar cuma ngasih tugas?
    3. Memang ada beberapa guru yg menurut saya bagus karena dia masih menerangkan materi (BUKAN MURID YG BERKELOMPOKAN 4-8 orang yg jelasin materi)
    4. KURIKULUM SEKARANG maksa buat murid untuk ngerti materi tanpa dijelasin oleh guru.
    5. dulu ada tugas konyol menurut saya, saya disuruh merangkum materi dari buku paket yg dibagiin kesiswa (lol). alasan gurunya konyol juga, yaitu BIAR DI BACA. (-_-)
    6. Kurikulum sekarang itu bikin si murid sibuk di rumah, bahkan sampe hari liburpun tugas numpuk, padahal saya pengen punya waktu lebih buat hiburan sama keluarga.
    7. ANAK SEKOLAH GADANG SUDAH JADI HAL BIASA padahal si anak itu butuh konsentrasi saat disekolah si anak itu harus sehat.

    KURIKULUM 13 itu BUAT BIKIN SIBUK SI MURID BIAR GAK KENA PERGAULAN BEBAS MABOK ATAU APALAH ITU.
    ANAK ANAK INDONESIA GAK SEMUANYA TUKANG MABOK TUKANG NGEROKOK.

    1. teddy says:

      Bagaimana tidak berantakan?sejak gagasan,penetapan anggaran, penulisan,sosialisasi,pelatihan guru,pelatihan kepsek,dll ditempuh hanya dalam waktu setahun!!!Seperti dikejar setan,semua serba terburu-buru.Indonesia harus malu!!!Kurikulum bukan ajang politik,kurikulum adalah ajang mendidik generasi muda.Tentu saja tidak bisa dibuat instan dan asal-asalan. Contohlah negara lain seperti Inggris,Belanda,AS,Cina, Finlandia,Jepang,Cina, Malaysia,Singapura,dll.Pembuatan kurikulum baru pasti melalui penelitian yang valid dan lama,melalui berbagai pertimbangan…kalau di Indonesia asal ganti menteri pasti ganti kebijakan.Asal mau pemilu pastilah butuh dana,dan usaha untuk mencari dana itu pastilah tidak halal.Bisa dipastikan kurikulum 2013 adalah proyek untuk menarik dana anggaran dari tempat lain untuk biaya pemilu.
      Kurikulum 2013 adalah kurikulum pesanan Wapres Budiono. Kurikulum 2013 ibarat Century jilid dua,Hambalang jilid dua.
      Hayo KPK,tunjukkan taringmu,tangkap pejabat tinggi negara yang merusak generasi muda Indonesia.

      1. Ya Pak Teddy,saya setuju.Program pemerintah berbiaya tinggi sampai trilyunan rupiah,tetapi sangat buruk dalam perencanaan,sosialisasi,maupun penerapannya. Kurikulum 2013 hanyalah proyek pemerintah dan tidak sesuai kebutuhan,kondisi.maupun situasi pendidikan Indonesia.

  147. Pris321 says:

    Saya murid sma kelas X. Menurut saya, cara belajar kurtilas tidak sebanding dengan banyaknya materi yang harus dipelajari. Saya rasa, satu tahun lagi saja saya memakai kurikulum ini, mungkin saya tidak akan kuat.
    Saya termasuk anak yang introvert, dengan kurtilas, saya merasa kesulitan untuk aktif, walaupun sebenarnya saya mampu, saya kurang bisa menunjukan kemampuan saya. Selain itu, murid-murid dibuat kelompok. Seringkali tugas kelompok dilimpahkan kepada saya, tapi karena saya tidak bisa mempresentasikannya dengan baik saya dianggap tidak aktif dalam kelompok. Saya juga sering tidak paham apa yang dijelaskan guru (terutama matematika dan fisika) karena guru hanya menjelaskan awal-awalnya saja (dasarnya saja). Sebenarnya saya bisa mengerti, tapi saya harus belajar sendiri di rumah (mencari tau sendiri, menganalisa sendiri, mempelajari penerapannya juga sendiri) yang membutuhkan waktu yang lama sehingga tidak sebanding dengan materi yang begitu menumpuk. Saat saya sudah paham, ulangan tinggal sebentar lagi sehingga saya tidak sempat mereview materi itu. Akibatnya saya tidak bisa mengerjakan ulangannya. Itu membuat saya frustasi.
    Saya bersekolah di sekolah swasta yang biayanya cukup tinggi, tapi di sekolah saya tidak mendapatkan apa-apa.
    Mau tak mau, saya harus ikut bimbingan belajar di luar sekolah. Artinya saya harus mengeluarkan biaya lagi, dan itu sangat merugikan saya.

  148. Ryu Violeth says:

    Saya bangga pada anda pak.., Tapi Saya benci mendengar ocehan pemerintah yang tidak bijak..,
    jujur aja ini adalah ungkapan terbaik yang pernah ku dengar..,

    Sisa nya [no comment]

    1. Wijaya Kusumah says:

      terima kasih

  149. Nurul says:

    Pak Wijaya, Pada th 2012 saya sudah meneliti pelaksanaan K-2006 tentang pembalajaran tematik di SD yang harus dilaksanakan di kelas 1-3. Hasil penelitian saya menunjukkan bahwa pembelajaran tematik tersebut belum dilaksanakan setelah 7 tahun digulirkannya K-12. Ternyata kendala utamanya adalah guru yang belum memahami pembelajaran tematik. Buku-buku tentang pembelajaran tematikpun tidak sesuai dengan teori pembelajaran tematik.
    Kemudian Pemerintah melaksanakan K-13 dimana di SD pembelajaran tematik harus dilaksanakan sampai kelas 6. SAya memaklumi jika sangat banyak guru yang akan menolak K-13, karena memang latar balakang guru yang belum paham. Namun saya juga sudah mengamati proses pembelajaran di salah satu SD yang baik (dulunya RSBI). Hasil observasi saya adalah pembelajaran tematik K-13 sangat baik dilaksanakan di sekolah tersebut. Ternyata di tangan guru-guru yang profesional, K-13 di tingkat SD bisa berjalan dengan sangat baik. KI1-4 (ini memerlukan kreatifitas guru karena di buku tidak ada), bisa diajarkan sesuai dengan porsinya. K-13 membuat siswa aktif, kritis, dan kreatif. Memang ada sedikit guru yang protes terhadap K-13, setelah saya teliti ternyata guru tersebut memang kemampuannya kurang, dan tidak mau keluar dari zona nyaman mereka/tidak mau belajar.
    Tapi saya belum mengetahui bagaimana di sekolah lain, mungkin banyak kendala ya.

    1. Nurul says:

      Ralat
      Hasil penelitian saya menunjukkan bahwa pembelajaran tematik tersebut belum dilaksanakan setelah 7 tahun digulirkannya K-2006.

  150. Faris Akbar says:

    Alhamdullilah saya kira semua guru setuju dengan kurikulum ternyata yang saya lihat tidak semuanya. yah… penilaiannya (kaya dari sikap di kelas,kedisplinannya,dll) sudah bagus sih.. tapi… yang bikin masalah besar adalah materinya.
    pertama-tama kelas 1 SD saya sudah baca bagaimana kurikulum 2013 di SD (Tapi lupa websitenya :P).Yang saya lihat hasilnya kacau,SEHARUSNYA anak kelas 1 SD (dalam pelajaran mate-matika dan IPA)tidak harus/tidak boleh belajar tentang bangun ruang,dan kerangka kenapa? karena mereka masih anak-anak,ya… sepertinya mentri pendidikan (yang dulu bukan sekarang) gak ngerti apa yang dirasai anak-anak 5,4 atau 6 tahun,sebenarnya mereka belum siap.. karena mereka belum tau cara mengkali dan mengukur bangun ruang yang disuruh,yang kedua.. IPA seharusnya tentang kerangka nanti saja karena anak-anak belum tau bagian bagian tulang jika (pelajaran bangun ruang,dan kerangka)di pelajari sejak kelas 1 SD akan membuat anak-anak kelas 1 SD pusing.. dan mulai membenci sekolah (DAN inilah penyebabnya)Mereka tuh masih kecil toh? masa dipaksain untuk belajar bangun ruang & kerangka? kan kasian mereka,anak-anak itu manusia dan bukan robot!.
    “SEKOLAH HANYA SEBENTAR… HANYA SEBENTAR SAJA”
    iye.. maksud ane.. kurikulum sekarang katanya sekolah hanya akan sebentar.. maksudnya sekitar (SD = 5,5 atau 4 tahun SMP = 2,5 tahun atau 2 tahun SMA = ???) ini kalau gak salah sih.. soalnya UTS & UAS terasa cepat.Materi aja belum dikuasai masa harus cepet cepet sih?! “KACAU BALAU!!”
    “TERLALU BANYAK.. SEKALI EUY.. BANYAK PR KERJAKELOMPOK”
    tau kan maksud saya pak? yah… di Swasta pastinya banyak pr (bukan pr kelompok) berbeda dengan Negeri.. prnya hanya sedikit.. jadi bisa santai.. PRnya sudah dibanyakin di kurikulum sekarang TETAPI yang kebanyakannya tuh.. PRKelompok argh sialan kurikulum sekarang.. dulu PR kelompok biasa biasa saja tetapi gara gara Kurikulum baru (Terkutlah kamu menteri pendidikan yang dipilih SBY)saya jadi merasa malas dan bosan.. pastinya.. kepala saya sampai pusing gimana kerjakelompok dan kapan..

    “IMPIAN SAYA TIDAK TERWUJUD.. GARA GARA KURIKULUM BARU”
    yah yah.. Bapak taukan semua murid punya impian? misalnya kaya bikin Video Flash,gambar,dll.. tapi karena kurikulum sekarang impian sekarang sulit untuk dicapai.. setiap anak memiliki bakat untuk mewujudkan impiannya tetapi karena kurikulum sekarangn waktu terasa sempit sehingga sulit untuk mencapainya….

    “Tidak teknologi lagi…”
    Di luar negeri pelajaran komputer pastinya ada TETAPI kurikulum sekarang menghapus pelajaran Komputer di luar negeri sudah maju tapi kita? saya bagus terhadap komputer tetapi ada beberapa murid yang tidak bisa (meskinpun mempunyai komputer)Sekarang hampir kebanyakan tugas presentasi.Jika sudah dewasa nanti bagaiman bisa jadi karyawan tanpa belajar komputer? “KACAU BALAU” tetapi intinya tidak semua murid mempunyai komputer dan itulah sebabnya

    DIBALIK KURIKULUM 2013:
    -Hampir semua murid merasa bahwa mereka belajar (di kurikulum 2013) terasa bagaikan mesin yang tidak pernah istirahat alias robot saya juga sudah pernah merasa bahwa saya hanyalah robot.
    -Menurut saya kurikulum ini sama seperti kuliah karena jika anak anak sudah dewasa mereka akan bekerja bagaikan mesin INTInya kurikulum sekarang sepertinya mendorong murid untuk merasakan bagaimana rasanya jika sudah kuliah dan sudah bekerja
    -Jaman dulu kata nenek saya PR memang banyak dulu.. tetapi bagaimana menurut bapak sekarang bagaimana?
    -Impian sulit tercapai..
    -Mau log in ke akun (kaya blogspot) aja sulit
    -Tidak ada respond dari SBY (argh.. presiden terburuk)
    -Materinya tidak jelas sama sekali!
    -Menurut saya menteri pendidikan korupsi karena menghabiskan biaya RP.1 + triliun
    -Sudah di bilang kacau balau tetapi kurikulum sekarang tidak diganti/dibatalkan?! sialan kamu menteri pendidikan yang lalu (bukan sekarang)

    Saya benci kurikulum sekarang karena:
    1.Saya punya impian tapi gara gara kurikulum yang sialan ini impian saya tidak terwujud dan saya harus latihan di hari libur untuk mewujudkan impian saya
    2.Terlalu banyak Tugas Kelompok
    3.Materinya TIDAK jelas
    4.Pemberitauan UAS diberitau secara mendadak!
    5.Kelas 1 SD diberi materi yang tidak adil dan saya tidak setuju dengan kurikulum sekarang
    6.KACAU BALAU!

    Mengapa saya tidak suka SBY?:
    1.Saat masyarakat demo SBY pergi ke luar negeri tanpa diketahui
    2.Tugas SBY belum selesai sehingga Jokowi harus menyelesaikan tugasnya
    3.Anaknya korupsi tapi SBY diam saja
    4.Tidak tanggungjawab
    5.Menyiksa rakyatnya sendiri
    6.UUD tentang pemilu diganti (taktik SBY agar terpilih lagi)

    terimakasih.. dan semoga Bapak akan membalas komen saya..
    dan semoga komen saya dibaca oleh semuanya

    -Sekali lagi terimakasih 🙂

  151. Kurikulum mahal namun gagal masih tetap dipakai,inilah Indonesiaku.

    1. Ada berita bahwa kurikulum 2013 akan dicabut karena banyaknya keluhan dari guru,murid,orang tua,maupun praktisi pendidikan lainnya.Sungguh tepat,karena kurikulum 2013 dijalankan tanpa persiapan,dilaksanakan tanpa evaluasi. Sistem pendidikan kita seakan berada di ujung tanduk jika kita terus memakai kurikulum 2013 yang nyata-nyata hanya merupakan proyek dari M.Nuh,menteri pendidikan terdahulu.Alangkah berbahaya jika pemegang kebijakan pendidikan dan pembuat kurikulum merupakan orang parpol yang ahli menyelewengkan anggaran dana pendidikan Indonesia demi kepentingan segelintir orang sekaligus mengorbankan generasi muda Indonesia.Pembuat kurikulum seharusnya adalah badan independen yang tidak berasal dari parpol,tidak ada kaitan dengan parpol,diisi oleh orang profesional (pakar pendidikan,praktisi pendidikan,orang tua yang peduli pendidikan anak,dll),dijamin kurikulum akan lebih baik.

  152. Yusep says:

    Setelah menyimak begitu banyak komentar, saya masih belum memahami letak perbedaan inti antara kurikulym 2006 dan 2013. Mungkun ada yang bisa menjelaskan kepada say? Dan apakah alasan pak anies mengembalikan pendisikan ke kurikulum 2006.

  153. afifatur rofiatul ulya says:

    saya tdk mendukung kurikulum 13 karena blm tentu dpt melatih siswa berpikir kritis daan inovatif.sedangkan ktsp memang lengkap seperti yang ada di lks, ibarat nasi , lauk pauk tinggal makan, tapi siswa rajin membacanya karena jawabannya sudah ada semua.

    1. Sulit Diterapkan Guru dan Siswa
      Anies : Segera Evaluasi Kurikulum 2013

      Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah, Anies Baswedan. Foto: dok.JPNN
      BERITA TERKAIT
      Komisi X DPR Tuding Mendikbud Terburu-buru Hentikan K-13
      K-13 Ibarat Makanan Busuk
      Balik ke KTSP, Beli Buku Mahal
      Surabaya Lanjutkan Kurikulum 2013
      K-13 Dihentikan, Guru Senang
      Daerah Tunggu Surat Resmi Mendikbud soal K-13
      Murid Tertimpa Genting saat Belajar
      Kurikulum 2013 Kembali Dijalankan Terbatas
      Muncul Tiga Opsi Revisi Kurikulum 2013
      Kemendikbud Minta Papan Nama Segera Diganti
      DEPOK – Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah, Anies Baswedan memastikan akan segera mengevaluasi kurikulum 2013 yang digagas oleh menteri sebelumnya (Muhammad Nuh,red) yang diterapkan di sekolah-sekolah di tanah air. Hal itu dikarenakan metode pengajaran dari aturan itu sulit diterapkan guru dan diterima siswa.

      ”Saya akan review kurikulum 2013, bukan dihapus. Evaluasinya karena keluhan dan penerapan di sekolah yang sangat sulit. Observasi sedang kami lakukan agar cepat melakukan evaluasi,” tegasnya kepada INDOPOS (Grup JPNN), seusai inspeksi mendadak di SMP Negeri 1, Kota Depok, kemarin (14/11).

      Anies menjelaskan, akar masalah Kurikulum 2013 berada pada metode pembelajaran. Dimana pembelajaran itu lebih ditekankan pada praktek untuk mengembangkan mata pelajaran yang diberikan.

      Sementara, tugas para guru hanya sebagai pendamping yang tidak terjun langsung pada mata pelajaran. Artinya, kurikulum itu dinilai tidak dapat mengembangkan karekter siswa.

      ”Jika metode baik, guru-guru pun dapat mengajar dengan teknik yang baik. Nah persoalannya, tidak semua guru dan murid bisa menerapkannya di sekolah. Ini kendala yang harus ditangani biar bisa diterapkan,” katanya.

      Namun begitu, lantaran kurikulum 2013 sudah diterapkan, mantan Rektor Universitas Paramadina ini pun tak mau gegabah menghapus atau mengubah materi secara menyeluruh. Karena itu pula, pihaknya akan berfokus pada evaluasi metode kurikulum tersebut.

      ”Nanti akan timbul masalah banyak lagi jika dihapus. Nanti dilihat, apakah dalam tahap evaluasi bisa sambil diterapkan,” ungkap Anies.

      Tak sampai di situ, sambung Anies, dirinya juga mendesak Dinas Pendidikan Kota Depok ikut berperan aktif dalam memantau penerapan kurikulum itu. Sebab, keluhan para siswa, guru dan kepala sekolah pun harus ditampung.

      Apalagi, keberadaan Depok sangat berdekatan dengan ibukota negara yang seharusnya lebih dulu melaporkan kesulitan dalam penerapan kurikulum 2013 itu. ”Saya hanya dengar dari para guru dan murid, untuk dari dinas justru belum ada. Kami butuh pegawai disdik yang aktif bukan yang pasif seperti ini. Ini demi masa depan anak bangsa,” imbuhnya.

      Dari pantauan INDOPOS, kedatangan Anies Baswedan disambut oleh guru dan siswa saat sidak ke SD Negeri Sukmajaya 1, Jalan Tugujaya No. 12, dan SMP Negeri I, Jalan Pemuda, Kecamatan Pancoranmas, Kota Depok. Para siswa itu mengeluh mengenai pelaksanaan Kurikulum 2013, serta metode pengajaran guru kepada peserta didik di tingkat dasar.

      Dikesempatan itu pun Anies pun sempat memperkenalkan namanya kepada siswa di beberapa kelas. Bahkan, mereka sempat menyebut mantan Rektor Universitas Paramadina itu dengan sebutan Mas Menteri.

      Menyikapi itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Depok, Herry Pansila mengklaim, jika pihaknya telah melaporkan adanya kesulitan penerapan Kurikulum 2013 itu ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Terutama mengenai kegiatan belajar mengajar (KBM) yang dilakukan hingga malam hari. Namum, hal itu tidak ditanggapi kementerian tersebut.

      ”Waktu itu kamu sudah kirimkan surat keluhan, tetapi tidak ditanggapi. Sekarang ini jam belajar dari pukul 06.00 hingga 18.00. Ada praktek dan kegiatan lain yang diberikan agar siswa bisa memahami mata pelajaran, ini yang sulit diterapkan,” tuturnya.

      Selain itu juga, sambung Herry, penerapan Kurikulum 2013 yang menggantikan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) itu pun banyak menghilakan beberapa mata pelajaran lain. Salah satunya mata pelajaran ekstrakulikuler bahasa Sunda. Dimana, mata pelajaran itu sangat penting dilakukan mengingat Depok berada dilingkup wilayah Jawa Barat.

      Dan juga melestarikan bahasa daerah yang ada. Dan karena itu pula beberapa guru mata pelajaran Bahasa Sunda itu terpaksa mengurangi jam mengajar untuk mengantikan mata pelajaran lain.

      ”Memang besar sekali keluhan terhadap penerapan ini. Maka dari itu kami harap evaluasi kementerian ini bisa secepatnya dilakukan. Kurikulum Ini kan seharusnya menyesuaikan daerah masing-masing, tidak bisa disamakan,” pungkasnya. (cok)

      1. MEREVISI KURIKULUM 2013
        KOMPAS.com – Hasil revisi Kurikulum 2013 kemungkinan akan segera diumumkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayan Anies Baswedan.

        Jika revisi hanya mengacu persoalan teknis-implementatif, revisi tak akan berguna, sebab pokok persoalan sesungguhnya lebih pada substansi, bukan isi materi atau implementasi. Inilah yang harus direvisi. Revisi harus menyentuh hal-hal yang fundamental yang selama ini jadi persoalan serius dalam Kurikulum 2013.

        Tiga langkah perlu dilakukan. Pertama, merevisi landasan yuridis pelaksanaan Kurikulum 2013, yaitu Peraturan Pemerintah (PP) No 32 Tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan yang merevisi PP No 19 Tahun 2005. Revisi PP No 32 Tahun 2014 akan berdampak pada revisi peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan (permendikbud) yang jadi dasar pelaksanaan Kurikulum Pendidikan.

        Kedua, revisi atas PP No 32 Tahun 2014 akan berdampak pada revisi atas beberapa landasan konseptual filosofis pedagogis Kurikulum 2013 yang selama ini dianggap bermasalah, seperti konsep Kompetensi Inti, Kompetensi Dasar, Silabus, tematik integratif, desain buku ajar, dan sistem evaluasi dan penilaian.

        Ketiga, revisi pendekatan praktis dalam metode pelatihan guru terkait substansi, isi, dan keterampilan yang dibutuhkan.

        Fokus revisi

        Ada 10 fokus revisi yang harus dilakukan tim revisi bentukan Anies. Tanpa menyentuh 10 hal fundamental ini, revisi tak akan bermakna karena hanya akan melanjutkan sebuah implementasi kurikulum yang dasar pijakannya sudah keliru sejak awal. Pertama, revisi konsep Kompetensi Inti. Kompetensi Inti dipahami sebagai ”tingkat kemampuan untuk mencapai Standar Kompetensi Lulusan yang harus dimiliki seorang peserta didik”.

        Kompetensi Inti yang dipahami sekadar menjadi sikap spiritual, sosial, pengetahuan, dan keterampilan sangatlah meredusir kekayaan, hakikat, dan proses belajar itu sendiri. Apalagi jika kompetensi spiritual hanya dipahami sebagai ”menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya”, yang berlaku sama untuk seluruh jenjang dari tingkat dasar sampai menengah, sedangkan sikap hanya mengacu pada perilaku tertentu yang sifatnya sangat terbatas. Kurikulum 2013 telah memasukkan sebuah konsep dasar yang meredusir kekayaan kompleksitas proses belajar yang sesungguhnya.

        Inilah yang perlu direvisi. Revisi terutama justru mengembalikan hakikat proses belajar yang melampaui sekadar pengembangan sikap spiritual, sosial, pengetahuan, dan keterampilan. Kompetensi Inti harus didesain secara utuh dan komprehensif, tak parsial dengan membagi-baginya menjadi komponen-komponen yang akan diselaraskan dalam proses belajar.

        Kedua, pengarusutamaan pada spiritualisme. Kurikulum 2013, dengan memagari proses pembelajaran pada kompetensi inti, terutama pada sikap spiritual, telah menghasilkan spiritualisasi proses pembelajaran. Proses belajar diarahkan semuanya pada praksis “penghayatan dan pengamalan agama yang dianut siswa”. Ini sebuah pendekatan kurikulum yang sangat absurd, memiskinkan kekayaan pengalaman belajar, dan mendiskriminasi siswa yang agamanya tidak resmi diakui oleh pemerintah. Akibatnya, muncul definisi Kompetensi Dasar (KD) yang tak masuk akal, aneh-aneh, dan lucu.

        Pada pelajaran Matematika kelas X, misalnya, definisi kompetensi inti dan dasar ternyata sama, yaitu menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya. Ini pelajaran matematika atau pelajaran agama? Pendekatan spiritualis seperti inilah yang harus direvisi menjadi pendekatan pembelajaran yang lebih rasional, mengedepankan akal budi dan nilai-nilai universal yang bisa dipelajari semua orang.

        Ketiga, pendidikan agama dan budi pekerti. Kurikulum 2013 telah memperkenalkan sebuah konsep yang sangat keliru tentang kaitan antara pendidikan agama dan budi pekerti. Ketatnya jumlah jam belajar telah memaksa pemerintah menggabungkan pendidikan agama dengan budi pekerti. Pemerintah salah memahami seolah-olah agama-agama mengajarkan pendidikan budi pekerti yang berbeda.

        Padahal, agama memiliki domain ajaran yang berbeda dengan pendidikan budi pekerti. Pelajaran agama bersifat eksklusif, dogmatis, ritual, sedangkan pendidikan budi pekerti bersifat inklusif, terbuka, dan mengacu pada praksis kehidupan bersama secara bijak, adil, saling menghormati.

        Apabila pendidikan agama masuk ranah kepercayaan yang sifatnya sangat subyektif, pendidikan budi pekerti berada pada ranah moral yang memiliki kodifikasi nilai universal, berupa nilai-nilai moral kemanusiaan. Mengintegrasikan pendidikan budi pekerti pada pendidikan agama jelas akan kian menyegregasi anak-anak Indonesia berdasarkan kelompok agama dan ini akan mereduksi pengalaman mereka akan keragaman dan kebersamaan.

        Keempat, revisi silabus. Silabus bagian tak terpisahkan dalam penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Silabus harus direvisi karena telah terjadi logika terbalik. Kurikulum 2013 ternyata membuat silabus berdasarkan buku yang sudah dicetak, menyesuaikan dan menambahkan apa yang kurang.

        Permendibud No 57 Tahun 2014 menjelaskan adanya tiga pola format silabus: (1) KD diberi keterangan: KD buku, KD silabus, KD buku dan silabus, KD buku tetapi tidak sesuai permendikbud. (2) KD diberi keterangan: ada di buku, tidak ada di buku. (3) KD Dasar tanpa keterangan. Keterangan ini mengindikasikan bahwa silabus dibuat berdasarkan buku, dan bukan buku berdasarkan silabus. Logika terbalik ini membuat kualitas buku kurikulum dipertanyakan.

        Kelima, pendekatan tematik integratif berubah menjadi materi pelajaran. Kurikulum 2013 untuk sekolah dasar mengubah seluruh proses pembelajaran dalam format tematik integratif. Tematik integratif sesungguhnya sebuah metode belajar, bukan mata pelajaran.

        Fokus pembelajaran semestinya tetap pada pengembangan dasar-dasar ilmu pengetahuan. Fokus ini menjadi hilang dan siswa lebih gemar mempelajari tema. Akibatnya, siswa hanya akan menghafalkan fragmen-fragmen tematis pembelajaran, tanpa mampu mengintegrasikan kaitan antara ilmu yang satu dan yang lain. Situasi ini diperparah dengan tidak adanya peta kompetensi dalam silabus.

        Keenam, peta kompetensi dasar. Silabus dalam Kurikulum 2013 tidak menyertakan peta kompetensi dasar. Yang ada dalam buku kurikulum hanyalah jaringan kompetensi dasar. Akibatnya, beberapa kompetensi diajarkan berulang-ulang dalam tema-tema yang lain, sedangkan kompetensi yang lain sama sekali tidak dibahas. Ini dapat dimaklumi karena pada saat pembuat buku ajar mendesain buku, mereka tidak dilengkapi dengan silabus sehingga kompetensi yang dibuat hanya perkiraan penulis buku saja.

        Tanpa adanya peta kompetensi, kita tak dapat mengetahui sejauh mana proses belajar siswa, dan apakah seluruh kompetensi keilmuan yang dibutuhkan telah terliput dalam keseluruhan tema pembelajaran. Akibat fatal dari absennya peta kompetensi ini adalah rangka-bangun keilmuan siswa sekolah dasar sangat rapuh.

        Ketujuh, indikator pembelajaran. Tim revisi kurikulum harus merevisi silabus dengan menyertakan indikator pembelajaran. Tanpa adanya indikator pembelajaran yang lebih detail, proses pembelajaran tidak dapat dinilai dan dievaluasi.

        Kompetensi dasar yang ada saat ini masih terlalu umum, bahkan kompetensi dasar untuk Matematika kelas X untuk sikap spiritual sama dengan kompetensi dasar. Tanpa adanya indikator pembelajaran, seluruh proses pembelajaran dalam Kurikulum 2013 tidak dapat dievaluasi.

        Evaluasi pembelajaran

        Kedelapan, model evaluasi dan penilaian. Tim revisi kurikulum harus merevisi model evaluasi pembelajaran baik secara mikro maupun makro. Penilaian yang bersifat mikro adalah evaluasi proses pembelajaran dalam kelas, dan yang makro adalah keseluruhan sistem evaluasi pendidikan nasional. Penilaian kompetensi sikap sangat bermasalah dan tidak realistis karena guru hanya akan disibukkan mengamati siswa agar dapat mengisi kolom penilaian.

        Adapun secara makro, spirit pembelajaran dalam Kurikulum 2013 mewajibkan pemerintah menghapus sistem ujian nasional karena bertentangan dengan roh dalam Kurikulum 2013. Tetap mempertahankan ujian nasional merupakan sikap inkonsisten dan keengganan dalam merevolusi mental.

        Kesembilan, model pelatihan guru harus diubah. Guru perlu dilatih untuk memiliki kekayaan dalam berbagai macam strategi dan pendekatan belajar, serta pendekatan dalam proses penilaian, melalui rubrik, portofolio, proyek, dan lain-lain. Fokus pada micro teaching, bukan pada paparan presentasi power point seperti terjadi selama ini.

        Kesepuluh, desain buku pelajaran. Buku-buku pelajaran yang sudah dicetak harus dinyatakan sebagai salah satu referensi sumber pembelajaran saja karena kualitas buku Kurikulum 2013 dipertanyakan dari segi isi dan substansinya.

        Pemerintah perlu mendesain buku pelajaran dengan lebih baik dan menyertakan akademisi lintas ilmu agar dapat mendesain buku pelajaran yang baik dan bermanfaat, bukan menyerahkan kepada para penulis buku amatiran yang sekadar punya pengalaman mengajar.

        Sepuluh hal fundamental di atas haruslah jadi fokus perhatian bagi tim revisi Kurikulum 2013. Kurikulum 2013 bermasalah bukan karena persoalan teknis, seperti pembagian dan cetak buku, melainkan secara substansial dan fundamental bermasalah.

        Jika sepuluh hal di atas tidak masuk dalam kajian dan hasil yang akan dilaporkan oleh tim revisi Kurikulum 2013, saya tidak melihat kesungguhan pemerintah dalam merevisi Kurikulum 2013. Ini berarti membiarkan masa depan anak Indonesia dalam sebuah proses pendidikan yang salah kaprah berkepanjangan.

        Doni Koesoema A
        Alumnus Curriculum and Instruction Faculty, Boston College Lynch School of Education, Boston, AS

        1. ANIES BASWEDAN:ANAK-ANAK KITA BUKAN ALAT UJI COBA
          JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar Menengah Anies Baswedan mengungkapkan, tidak ada satu dokumen pun yang menunjukkan letak kekurangan Kurikulum 2006 hingga harus diganti menjadi Kurikulum 2013. Padahal, dibanding Kurikulum 2013, Kurikulum 2006 lebih “luwes” dalam memberikan ruang sekolah untuk menyusun kurikulumnya sendiri.

          “Tidak ada kajian yang berujung pada kesimpulan bahwa Kurikulum 2006 urgensi pindah ke Kurikulum 2013. Padahal, itu diperlukan. Apa koreksinya? Apa masalah Kurikulum 2006?” ungkap Anies Baswedan kepada Kompas TV dalam wawancara khusus di kantornya, Senin (8/12/2014). Justru yang ditemukan oleh Anies, kementerian era sebelumnya langsung membuatkan kurikulum baru.

          Bahkan, hingga akhir kementerian selesai pada era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, tidak ada uji evaluasi atas Kurikulum 2013 yang telah diterapkan di 3 persen sekolah di Indonesia.

          Menurut pendapat Anies, Kurikulum 2006 justru lebih memberikan peluang kepada sekolah untuk menyusun kurikulumnya sendiri, selain menggunakan kurikulum nasional. “Ada keberagaman dan kebinekaan dalam Kurikulum 2006,” ujarnya.

          Sebaliknya, justru dia menilai Kurikulum 2013 tidak mengakomodasi keberagaman dan kebinekaan. “Semua diatur dalam silabus. Kebinnekaan dan keberagaman tidak terakomodasi di situ (Kurikulum 2013),” kata Anies.

          Penghentian Kurikulum 2013 menjadi perhatian orangtua murid, siswa, guru, dan dunia pendidikan beberapa hari ini. Dengan penghentian ini, sekolah-sekolah akan menggunakan kembali Kurikulum 2006 mulai semester genap nanti.

          Penghentian Kurikulum 2013 ini lantaran pemerintah sekarang menilai pelaksanaannya terlalu tergesa-gesa dan dipaksakan. Baik guru maupun murid, kata Anies, perlu dilatih lebih serius guna mengimplementasikan kurikulum yang akan diubah.

          “Jangan melatih guru sekadar cepat membuat laporan, tetapi melatih guru untuk melakukan perubahan cara mengajar di kelas. Itu perlu serius dan butuh waktu,” kata Anies.

          Anies mencontohkan Inggris saat melakukan perubahan kurikulum. Anies menceritakan, Inggris memerlukan waktu selama tujuh tahun. Persiapan, uji coba, dan evaluasi bertahap dilakukan dalam kurun waktu empat tahun.

          “Di sini tim dibentuk Januari, dilaksanakan Juli. Tidak dievaluasi. Dijalankan selama satu tahun, tahun berikutnya dilaksanakan seluruh sekolah. Oktober baru dilakukan uji pada kurikulum,” paparnya.

          “Saya tidak ingin anak-anak kita untuk alat uji coba. Anak-anak kita harus mendapatkan kurikulum yang sudah matang. Jangan anak-anak kita dan guru-guru kita dipaksa melakukan sesuatu sebelum penyiapan yang baik,” tandas Anies.

          Untuk mengetahui wawancara lengkap dengan Anies Baswedan, saksikan tayangannya di Kompas Petang, Senin (8/12/2014), pukul 16.30-18.30, hanya di Kompas TV. (Kompas TV/Bernada Rurit)

          1. DIKRITIK M.NUH MENGENAI PENGHENTIAN KURIKULUM 2013:INILAH JAWABAN ANIES BASWEDAN
            JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar-Menengah Anies Baswedan menyatakan bahwa keputusannya menghentikan pelaksanaan Kurikulum 2013 dan kembali pada Kurikulum 2006 merupakan langkah tepat bagi pendidikan nasional. Ia menolak jika kebijakannya itu disebut sebagai sebuah kemunduran.

            Anies menjelaskan, penerapan Kurikulum 2013 tidak diimbangi dengan kesiapan pelaksanaan. Ia juga menyebut substansi pelaksanaan kurikulum tersebut tidak jelas dan tidak terdokumentasi dengan baik.

            “Tidak ditemukan penjelasan (mengapa) Kurikulum 2006 diubah dengan Kurikulum 2013. Kajiannya mana? Dokumennya mana? Mana buktinya kalau Kurikulum 2006 lemah sehingga perlu diubah?” kata Anies di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (8/12/2014), ketika dimintai tanggapan mengenai kritik dari mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh.

            Mantan Rektor Universitas Paramadina itu mengaku tidak ingin menyalahkan Kurikulum 2013. Anies hanya menyayangkan karena penerapan kurikulum tersebut sangat tergesa-gesa.

            Anies menuturkan, banyak guru dan siswa yang keberatan akibat ketergesaan menerapkan Kurikulum 2013. Padahal, kata Anies, guru adalah kunci utama untuk menyukseskan penerapan kurikulum tersebut.

            “Kurikulum berubah, tidak otomatis kualitas pendidikan meningkat. Namun, jika kualitas guru meningkat, pendidikan kualitasnya pasti meningkat, itu kuncinya,” ujar Anies.

            Anies sebelumnya menginstruksikan sekolah yang belum menggunakan Kurikulum 2013 selama tiga semester untuk kembali ke Kurikulum 2006. Sementara itu, sekolah yang telah menjalankannya selama tiga semester diminta tetap menggunakan kurikulum tersebut sembari menunggu evaluasi dari pihak berwenang. (Baca: Mulai Semester Genap, Kurikulum 2013 Dihentikan)

            M Nuh menyatakan kecewa terhadap keputusan Anies. Ia menganggap kebijakan menghentikan Kurikulum 2013 merupakan sebuah kemunduran. (Baca: Kritik Anies, M Nuh Nilai Penghentian Kurikulum 2013 Langkah Mundur)

          2. Inilah penyebab Utama Kurikulum 2013 DIHENTIKAN

            Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Menteri Pendidikan yang baru Anies Baswedan telah mengirim surat pemberitahuan kepada seluruh kepala sekolah se Indonesia tentang implementasi kurikulum 2013 yang akan dihentikan bagi sekolah yang baru melaksanakan 1 semester pada tahun ajaran 2014/2015 ini, namun bagi sekolah yang sudah melaksanakan kurikulum 2013 tiga semester yaitu mulai tahun pelajaran 2013/2014 s.d 2014/2015 tetap melaksanakan kurikulum 2013 sambil dievaluasi oleh pemerintah.

            Dari surat yang dikirim Mas Menteri pendidikan ke kepala sekolah, dan beberapa pendapat pribadi saya, berikut beberapa penyebab utama kenapa kurikulum 2013 akan dihentikan implementasinya:
            Penyebab pertama adalah karena Kurikulum 2013 ini diproses sangat cepat dan tampak tergesa-gesa sekali ditetapkan untuk dilaksanakan di seluruh tanah air sebelum kurikulum tersebut dievaluasi secara lengkap dan menyeluruh.
            Peraturan Menteri nomor 159 Tahun 2014 tentang evaluasi Kurikulum 2013 yang dikeluarkan tanggal 14 Oktober 2014, yaitu tiga bulan sesudah Kurikulum 2013 dilaksanakan di seluruh Indonesia, jelas sangat tidak masuk akal ketika evaluasi belum dilaksanakan secara menyeluruh namun implementasi sudah dilaksanakan serentak se Indonesia.
            Penyebab berikutnya adalah karena ketidakselarasan antara ide dengan desain kurikulum hingga soal ketidakselarasan gagasan dengan isi buku teks yang sudah dicetak dan dibagikan kesekolah-sekolah, bahkan banyak sekolah-sekolah yang belum menerima buku-buku kurikulum 2013 secara lengkap.
            Belum merata dan tuntasnya pelatihan guru dan kepala sekolah tentang kurikulum 2013, sehingga kesiapan guru dan kepala sekolah dalam mengimplementasikan kurikulum 2013 sangatlah kurang bahkan banyak yang belum paham sama sekali terkait bagaimana kurikulum 2013 itu.
            Teknik penilaian siswa pada kurikulum 2013 yang rumit dan sangat membebani guru.

  154. juandi says:

    di bse.mahoni.com ada lebih dari 1300 buku kurikulum 2006 semua gratis! paling komplit di indonesia melebihi toko, sekolah, departement dan website manapun. download dan print saja di laser kantor atau inkjet, semoga membantu orang tua dan teman

  155. saiful says:

    k13 seperti proyek yang harus diselesaikan sebelum jatuh tempo tapi tanpa pemikiran yang cerdas,akhirnya proyek ditolak negara merugi milyaran rupiah. Pelatihan k13 berubah ubah peraturan menteri/ permennya menjadi tidak manis lagi untuk diikuti. Bahasa internasional/inggris dipangkas jam pelajarannya dipangkas tinggal 2 jp disaat kita memasuki era pasar bebas asean, mgkn kita didorong untuk menggunakan bahasa isyarat saja untuk berkomunikasi dengan bangsa luar. Bangsa ini kok begini!!!

    1. Seharusnya kurikulum yang digunakan adalah kurikulum RSBI.Menggunakan kurikulum 2006,tetapi dengan penguatan budaya lokal,sains,matematika,multimedia,bahasa inggris dan mental kepribadian bangsa.

  156. […] Saya bersyukur kepada Allah karena diberi hidayah oleh Allah untuk menolak kurikulum 2013. Ketika hampir semua guru menerima kurikulum baru, saya menulis di blog ini dengan sebuah tulisan, Bismillah Saya Menolak Kurikulum 2013. […]

  157. nienna says:

    Kurikulum 2013=Fakta menyedihkan dalam dunia pendidikan.

  158. prasojo says:

    wong hasil dari lulusan terbaik saja pemerintah gak bisa menampung di dlm negeri mana mungkin negara ini akan maju pemerintahnya saja cuek

  159. Jika kurikuluk 2013 tidak bisa memecahkan masalah sebelumnya. Maka hendaklah di sempurnakan…sehingga tidak merugikan guru dan murid.

Leave a Reply

  • Komentar blog

  • komentar blog

  • Tulisan Wijaya Kusumah di blog Lainnya

  • Yuk Menulis Setiap Hari! Lalu Perhatikan Apa Yang Terjadi