Omjay ada di Televisi

Comments (6)

Peresmian Rumah Belajar Samsung di Makassar

Batu Peresmian Rumah Belajar Samsung di Makassar

Rumah Belajar Samsung (RBS) Makassar merupakan hasil kerjasama antara Samsung, Yayasan Cinta anak Bangsa (YCAB), Unit Pelaksana Teknis (UPTD), dan Pusat Pelayanan Sosial Bina Remaja (PPSBR) Makkareso Maros Sulawesi Selatan yang memberikan solusi edukasi keterampilan lanjutan lebih dari 240 anak putus sekolah di Sulawesi Selatan. Kolaborasi antar lembaga ini memberikan kekuatan dahsyat untuk memajukan dunia pendidikan.

Peserta didik di RBS

RBS merupakan sebuah program corporate citizenship Samsung. Perusahaan elektronik dari Korea Selatan ini benar benar mencari lokasi yang tepat agar programnya tepat sasaran dan memiliki azas manfaat buat orang banyak. Perhatikan wajah-wajah anak muda dalam foto ini. Mereka begitu bersemangat belajar di RBS.

Pemberian Cinderamata bersama Farhan Sekjen YCAB saat peresmian RBS di Medan 28 Okt 2014

Inovasi penting yang dilakukan dalam rumah belajar samsung makassar dilakukan dengan fasilitas smart library dengan tujuan meningkatkan kebiasaan membaca anak-anak Indonesia dan juga mendukung bekal keahlian anak didik dalam budaya digitalisasi di dunia perusahaan. Sekjen YCAB, Farhan sangat senang bisa ikut andil dalam mewujudkan RBS di 4 kota. Sayang saat pembukaan RBS di Makassar beliau berhalangan hadir.

Interaksi antara Instruktur dan peserta didik terjalin akrab

Alhamdulillah, senang sekali omjay, Selasa 27 Januari 2015 bisa menyaksikan langsung peresmian rumah belajar samsung di Bantimurung, Kabupaten Maros Makassar. Omjay bisa hadir karena diundang oleh tim dari Samsung sebagai bloggers. PT. Samsung elektronics Indonesia adalah perusahaan elektronik urutan ke-7 global brand berdasarkan survey interbrand. Sebuah loncatan hebat dari Samsung dalam dunia elektronik.

Mr. Kang Hyun Lee, Vice Presiden Samsung Electronic Indonesia berinteraksi langsung dengan para peserta didik di RBS Makassar

Dengan diresmikannya rumah belajar samsung di Bantimurung, Maros Makassar, maka sudah ada 4 rumah belajar samsung selain di Jakarta, Medan, dan Cikarang. Adanya RBS diharapkan lebih dari 1200 anak didik dapat dilatih menjadi teknisi elektronik handal dan wirausaha dalam setahunnya melalui pelatihan pelatihan yang diberikan di RBS. Adapun lokasi RBS lainnya yang sudah diresmikan ada di Duri Kepa Jakarta Barat, Cikarang Bekasi yang diresmikan tahun 2012 dan kemudian di Tanjung Morawa Medan yang resmi digunakan sejak tanggal 28 oktober 2014.

Yuk Bergabung di RBS!

RBS memberikan kesempatan bagi para pemuda Indonesia untuk mengikuti pelatihan mental, keterampilan elektronik, dan softkill yang terdiri dari interpersonal skill dan intrapersonal skill. Dari pelatihan ini diharapkan ada kemandirian dan jiwa kewirausahaan dari para peserta yang belajar di RBS. Sudah banyak peserta yang berhasil dan sukses dalam karir setelah RBS didirikan.

Kang Hyun Lee, berdialog dengan peserta didik di RBS MAkassar

Rasanya seperti mimpi bisa berada di Makassar dan melihat langsung RBS yang keempat diresmikan. Selasa, 27 Januari 2015 omjay bersama media dan bloggers mendapatkan kesempatan meliput acara peresmian rumah belajar samsung yang sangat luas lokasinya.

Peresmian RBS di Bantimurung, Maros Makasar

Lebih dari 4 hektar dibangun fasilitas gedung dan sarana penunjang lainnya agar mampu mempersiapkan anak muda Indonesia untuk tidak kalah bersaing dengan pemuda dari negara lainnya dalam mencari dan menciptakan pekerjaan sendiri. RBS yang didirikan dalam area seluas 4,8 hektar ini adalah milik UPTD PPSBR Makkareso di Jl. Poros Bantimurung km. 11, Kabupaten Maros. Keberadaannya diharapkan dapat mengatasi pengangguran, pengentasan kemiskinan, dan pemberdayaan masyarakat Sulawesi Selatan.

Omjay di RBS Makassar

Terus terang omjay baru tahu ada rumah belajar samsung. Kalau tidak ada undangan datang kepada omjay, mungkin omjay tidak pernah tahu ada rumah belajar samsung yang kehadirannya sangat bermanfaat buat anak muda Indonesia. Peran swasta dalam peduli pendidikan tentu sangat diharapkan. Di sinilah dahsyatnya bila perusahaan swasta berkolaborasi dengan pemerintah daerah.

Konferensi Pers bersama media dan blogger di RBS

Usai berkeliling Rumah Belajar Samsung, ada konferensi pers dan dialog dari Mr. Kanghyun Lee (Vice President PT. Samsung Electronics Indonesia), Ibu Nurmi Handa, SH, MH (Kepala UPTD Pusat Pelayanan Bina Sosial Remaja Makkareso, Maros), Bapak Dr. Iskandar Irwan Hukom (Board, Advisor Yayasan Cinta Anak Bangsa), dan Bapak Drs. H. Patriot Haruni, Msi (Sekretaris Jenderal Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Selatan, mewakili Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan).

Dialog dengan ipul, salah satu peserta RBS yang sudah sukses

Dalam konferensi pers yang digelar, didapatkan informasi bahwa samsung akan membuka kembali rumah belajar samsung yang kelima. Tempatnya sampai saat ini masih dalam tahap penjajakan. Lalu ada cerita dari siswa rumah belajar yang sudah sukses setelah mengikuti pelatihan di rumah belajar samsung. Saeful Alimi yang biasa dipanggil ipul menjadi saksi hidup tentang bukti nyata peran RBS dalam membina dan melatih anak muda Indonesia dalam keterampilan tambahan. Videonya bisa ditonton di sini.

Interaksi sangat penting dalam sebuah pelatihan

Pengalaman diundang mengikuti peresmian rumah belajar samsung di Makasar bagi omjay memiliki arti tersendiri. Ternyata masih ada perusahaan dari luar negeri yang tidak hanya sekedar mencari keuntungan semata di negeri ini.  Semoga bisa ditiru oleh perusahaan asing lainnya.

Kawan-kawan Media dan Bloggers yang Ikut Meliput ke RBS

Comments (3)

Dialog Guru TIK dan KKPI Bersama Anies Baswedan

anies-dialog

Leave a Comment

Kembalikan Matpel TIK dan KKPI

Aksi Damai

Teman teman yang omjay sayangi dan banggakan. Mohon doanya Senin, 12 Januari 2015 pukul 15.30 WIB, omjay dan kawan kawan komunitas guru TIK, dan KKPI bisa menyampaikan langsung keluhan kawan kawan guru semua kepada pak mentri pendidikan dan kebudayaan, Anies Baswedan. Mata pelajaran teknologi informasi komunikasi (TIK), dan keterampilan komputer pengelolaan informasi (KKPI) harus kembali eksis. Teman teman guru TIK/KKPI yang tidak linier S1-nya, harus tetap jadi guru TIK, dan KKPI, tanpa harus dibatasi 31 Desember 2016.

» Continue reading…

Comments (1)

Guru dan Sekolah Dipaksa Tetap Gunakan Kurikulum 2013

POLEMIK penerapan Kurikulum 2013  semakin memanas. Sejumlah kepala dinas pendidikan di beberapa daerah menolak surat keputusan Mendikbud Anies Baswedan agar sekolah yang baru satu semester menerapkan Kurikulum 2013 kembali menggunakan Kurikulum 2006.

anies-fsgi

”Pembangkangan” sejumlah kepala dinas dan kepala sekolah tak akan terjadi jika Anies berani memutuskan penghentian total Kurikulum 2013 (K-13), termasuk 6.221 sekolah yang sudah lebih dahulu menggunakannya. Pemberlakuan dua kurikulum ini menjadi celah bagi sejumlah kepala dinas pendidikan untuk memaksa sekolah menerapkan K-13 meski tak termasuk 6.221 sekolah tersebut.

”Ketentuan yang saya keluarkan adalah sekolah yang sudah menjalankan K-13 selama tiga semester tetap melanjutkannya. Adapun sekolah yang baru melaksanakan K-13 selama satu semester stop dulu. Kembali ke Kurikulum 2006. Lalu, jika ada sekolah yang sudah menjalankan K-13 selama tiga semester, tetapi tidak masuk dalam 6.221 sekolah tadi, silakan mengusulkan kepada Kemdikbud. Nanti kami cek apakah benar-benar layak untuk ikut menjadi sekolah pilot project,”  kata Mendikbud Anies Baswedan. Keputusan itu tertuang dalam Permendikbud Nomor 160 Tahun 2014, Pasal 1 dan 4.

Terjadi ”Pembangkangan”

Seorang kawan di  Mataram, Nusa Tenggara Barat, mengirim pesan pendek (SMS) kepada saya, yang kurang lebih isinya menyatakan: telah terjadi pertemuan antara seluruh kepala sekolah dan Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) NTB di Kota Mataram. Isi pertemuan adalah memerintahkan semua kepala sekolah agar tetap mempergunakan K-13 meskipun sarana dan prasarana sekolah di NTB belum memadai dan para guru masih belum paham K-13.

Kalau pertemuan itu benar adanya, maka amat disayangkan. LPMP yang seharusnya mendukung penuh kebijakan Mendikbud—karena bagian struktural dari Kemdikbud sendiri—ternyata justru melakukan tindakan sebaliknya. Kalau pada jajarannya saja keputusan Mendikbud ”dilawan”, apalagi oleh para kepala daerah dan kepala dinas pendidikan. Perlu diingat, kepala dinas dan kepala daerah pasti berani menentang Mendikbud atas nama otonomi daerah.

Sehari sebelum SMS dari kawan di NTB saya terima, juga ada SMS masuk dari Batam, Kepulauan Riau, yang menginformasikan bahwa Dinas Pendidikan Batam mengumpulkan semua kepala sekolah se-Batam. Dalam pertemuan tersebut para kepala sekolah diinstruksikan agar tetap menggunakan K-13. Mereka tidak diperkenankan untuk kembali ke Kurikulum 2006 yang lebih dikenal sebagai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Meski banyak yang tidak sepakat, tak ada kepala sekolah yang berani membantah jajaran dinas pendidikannya.

Ketidakberanian para kepala sekolah membantah dinas pendidikan tentu sangat dimaklumi mengingat para kepala sekolah ini diangkat dan diberhentikan oleh dinas pendidikan setempat. Kalau membangkang perintah dinas pendidikannya, maka kemungkinan dicopot dari jabatan akan terjadi. Psikologis para kepala sekolah ini tampaknya belum dipahami Anies Baswedan. Pada era otonomi daerah sekarang ini, kepala sekolah pasti lebih mematuhi kepala dinasnya daripada menterinya.

Ada juga masuk ke inbox Facebook saya keluhan dari seorang kepala sekolah dari Kecamatan Kanor, Bojonegoro, Jawa Timur. Kepala sekolah ini bersaksi bahwa mayoritas kepala sekolah dan guru ingin kembali dulu ke KTSP karena mereka merasakan dalam implementasi K-13 mengalami kebingungan. Apalagi sekolahnya juga belum memiliki sarana penunjang yang memadai untuk mengimplementasikan K-13 secara mulus. Selain itu, ada ketidaksesuaian antara silabus dan kompetensi dasar dengan buku guru dan buku siswanya sehingga berpotensi  pada ketidakberhasilan dalam proses pembelajaran.

Namun, seperti halnya di daerah lain, para kepala sekolah ini lebih memilih mematuhi dinas pendidikannya ketimbang mematuhi menterinya, meskipun surat keputusan Mendikbud ditujukan kepada kepala sekolah.

Saat menjadi narasumber ”Kontroversi K-13” di salah satu televisi swasta, saya juga mendengar langsung pernyataan seorang bupati yang daerahnya tetap akan melaksanakan K-13. Alasan sang bupati, sekolah di wilayahnya sudah siap dan tidak masalah dalam mengimplementasikan K-13 untuk semua sekolah. Padahal, di media sosial, banyak guru di wilayah ini mengeluhkan implementasi K-13 di sekolah mereka.

Saya sendiri sebagai salah seorang kepala sekolah di Jakarta belum menerima surat Mendikbud tersebut meski sekolah saya dengan Kantor Mendikbud relatif lebih dekat dibandingkan dengan kawan-kawan dari Batam, Mataram, dan Bojonegoro. Namun, Dinas Pendidikan DKI Jakarta sama sekali tidak reaktif dengan mengumpulkan para kepala sekolah untuk memerintahkan tetap melaksanakan K-13 atau kembali ke KTSP, di luar 6.221 sekolah yang ditunjuk.

Menyimak pernyataan-pernyataan Kepala Dinas Provinsi DKI Jakarta Larso Marbun serta Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama di media, besar kemungkinan Jakarta akan mematuhi keputusan Mendikbud. Bahkan, di beberapa media, Larso Marbun mengkritisi dengan cukup tajam K-13. Menurut Larso Marbun, penerapan K-13 adalah kebijakan yang belum siap, berakibat akan mengorbankan guru dan peserta didik. ”Kebijakan yang belum siap sejatinya jangan diterapkan dulu karena pasti akan berpotensi gagal di lapangan. Berpikirlah pada kepentingan peserta didik,” katanya.

Uniknya di Jakarta, meski kepala dinas pendidikannya belum mengumpulkan para kepala sekolah, di media sosial sudah ramai para guru dan siswa menginformasikan sikap  para kepala sekolah di Jakarta. Mayoritas ngotot ingin tetap melaksanakan K-13 sekalipun banyak keluhan dari guru dan peserta didik di sekolahnya.

Alasan mereka umumnya sama. Kalau kembali ke KTSP, maka banyak guru tak mampu memenuhi beban kerja 24 jam, karena K-13 menambah jam belajar siswa. Alasan lain adalah lebih pada unsur ”prestise”.

Faktor penyebab

Pembangkangan yang dilakukan LPMP, kepala daerah, dan kepala dinas pendidikan di beberapa daerah terjadi karena
kebijakan Mendikbud yang ”ambigu”. Pemberlakuan dua kurikulum dalam suatu sistem pendidikan dalam keputusan
tersebut telah memberikan celah untuk memilih salah satunya.

Mungkin awalnya para ”pembisik” Anies memperkirakan kalau keputusan ini dibuat, maka banyak sekolah yang termasuk di antara 6.221 sekolah uji coba awal itu akan memilih mundur. Ternyata perkiraan itu meleset tajam: sekolah yang masuk kelompok 6.221 tetap akan melaksanakan K-13, sementara sekolah di luar itu malah cenderung tetap akan melaksanakan K-13, meski hal tersebut jelas bertentangan dengan Pasal 1 dan 4 Permendikbud No 160/2014.

Anies sangat memahami bahwa terjadi masalah besar di lapangan terkait implementasi K-13. Namun, sayangnya, ia tak berani memilih opsi pertama (menghentikan secara total) saat tim evaluasi K-13 bentukannya bekerja, tetapi lebih memilih opsi kedua. Kenyataan di lapangan justru opsi ketiga yang dipilih para kepala dinas dan kepala sekolah. Alasannya beragam, tetapi sebagian besar karena ”masalah anggaran” dan prestise.

Saya mengapresiasi Menteri Anies yang segera memahami bahwa K-13 dalam implementasinya bermasalah besar. Namun, dengan menerapkan dua kurikulum, ia juga telah ”mengorbankan” siswa di 6.221 sekolah. Meminjam istilah seorang guru besar matematika dan kawan yang sangat saya kagumi, ”Sebagai ayah, kalau anak kita minta makan roti, masak kita tega memberi makan batu.” Saya pikir kejadian ini dapat menjadi bahan pembelajaran berharga bagi Mendikbud yang baru….

Retno Listyarti
Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia dan Kepala SMA Negeri 76 Jakarta

» Continue reading…

Comments (10)

TWC4, Latihan Menulis Guru Hebat Indonesia

Peserta TWC4 di Wisma UNJ Rawamangun Jaktim

Peserta TWC4

Mata ini belum mau terpejam. Saya masih terjaga melihat kawan-kawan guru yang masih aktif menulis. Semangat mereka luar biasa dan anda bisa melihat dari foto-foto yang saya kirimkan melalui facebook. Kegiatan twc4 ini begitu mengasyikkan hingga tak terasa waktu terus berjalan. Gelapnya malam justru tak membuat semangat menulis peserta twc4 di wisma kampus unj rawamangun ini padam. Ibarat api yang terus membakar dirinya dan tak kunjung padam. Meski air telah menyirami dirinya agar api berhenti menyala.

» Continue reading…

Comments (1)

Komunitas Guru TIK dan KKPI Bertemu Pak Anies baswedan

Perwakilan guru TIK/KKPI foto bareng pak Anies baswedan

Perwakilan guru TIK/KKPI foto bareng pak Anies baswedan

Rabu, 24 Desember 2014, Mendikbud RI, Anies Baswedan menerima Aspirasi Perwakilan Guru TIK dan KKPI. Senang rasanya bisa berdialog langsung dengan pak Anies dan pejabat terkait lainnya. Kami diterima dengan sangat bersahaja oleh mereka. Bravo guru TIK dan KKPI seluruh Indonesia, semoga ada solusi terbaik buat mata pelajaran kita yang dihapuskan dalam kurikulum 2013.

Dalam kendaraan pulang (naik Busway) saya membaca berita di facebook kemendikbud RI. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan menerima aspirasi perwakilan guru teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Mendikbud mendorong para guru mata pelajaran (mapel) TIK untuk memiliki pola pikir yang positif dan menjadikan Indonesia sebagai tuan rumah teknologi. terus terang saya sangat setuju sekali.

Pak Anies lalu mengatakan, “Jangan buat Indonesia sebagai negara konsumtif, tetapi jadikan Indonesia pemain dan produktif TIK,” katanya di Kemdikbud, Jakarta, Rabu (24/12/2014).

» Continue reading…

Comments (4)

Ikutilah Acara TWC4 di Wisma Kampus UNJ Rawamangun, 26-28 Desember 2014

jadwal-1 poster-twc-4-okey

jadwal-2jadwal-3

http://edukasi.kompasiana.com/2014/12/23/yuk-ikutan-teacher-writing-camp-4-di-kampus-unj-rawamangun-693273.html

Leave a Comment

MONITORING DAN EVALUASI KURIKULUM 2013 DI KOTA PALANGKARAYA.

tim-monev-kalteng

Alhamdulillah selama 5 hari (10-14 Desember 2014) kami berada di kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Kami berlima mendapatkan tugas dari Pusat Kurikulum Dan Perbukuan untuk mengumpulkan data implementasi kurikulum 2013 atau kurtilas di lapangan.

Tim Monev Palangka Raya (Kiri-kanan pak Suparman, Pak Wijaya Kusumah, Ibu Suci Paresti, Pak Zulfiszan, dan Pak Sardjito)

» Continue reading…

Leave a Comment

Senjakala Kurikulum 2013

SENJAKALA KURIKULUM INSTAN
Oleh: DR. Nusa Putra

Instanisme adalah musuh abadi pendidikan sejati. Keputusan menghentikan Kurikulum 2013 merupakan sikap tegas bahwa keinstanan harus tidak mendapat tempat, bahkan celah dalam pendidikan.

Jika ada alasan lain, anggap saja itu alasan tambahan yang memperkuat. Seorang teman, penggiat lembaga swadaya masyarakat yang berkutat dengan pendidikan yakin, penghentian Kurikulum 2013 lebih dikarenakan namanya yang membawa sial, tiga belas.

» Continue reading…

Comments (4)

Anies Baswedan dan Perjuangan Guru TIK.

Anies Baswedan dan Perjuangan Guru TIK.

Dalam perjalanan pulang dari kota Balikpapan menuju Jakarta saya termenung sambil tersenyum. Apalagi setelah membaca status kawan kawan guru TIK di FB Group AGTIKKNAS yang hari ini bertemu langsung pak Anies Baswedan di UNESA, Surabaya.

» Continue reading…

Comments (4)

  • Komentar blog

  • komentar blog

  • Tulisan Wijaya Kusumah di blog Lainnya

  • Yuk Menulis Setiap Hari! Lalu Perhatikan Apa Yang Terjadi